I Ketut Gunata
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

Bentuk dan Sebaran Lesi Demodekosis pada Sapi Bali (THE SHAPE AND DISTRIBUTION OF DEMODECOSIS LESIONS ON BALI CATTLE)

Jurnal Veteriner Vol 15, No 3 (2014)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demodicosisis a skin diseasecaused byDemodexsp., that inhabits animal hair folliclesandcandamageskintissue. This study aims to reveal the form and distribution of demodicosis lesions in Bali cattle in thecenter of breeding bali cattle Sobangan. The sample was recorded based on the present of skin lesions.Skin scraps were collected, and examined for Demodex sp. The shape of the lesions was documented byobserving existing lesions on the body of bali cattle. The size of the lesions was measured using calipers.The distribution of the lesions was done by dividing the body area of head, neck, back, and abdomen region.We found that the prevalence of demodicosis was 12.66% (38/300). The shape of demodicosis lesions werenodular, scab, and dollar plaque. Distribution of demodicosis lesions was mostly at the neck (36.8%), atthe back (34.21%), and neck to back (23.68%). In conclusion, the prevalence of demodicosis was mild, andthe greatest distribution was on neck. In order to reduce the incidence rate in bali cattle should be keptproperly and sanitation is carried out at a good standard.

Sistem Pemeliharaan Anjing dan Tingkat Pemahaman Masyarakat terhadap Penyakit Rabies di Kabupaten Badung, Bali

Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 No 5 (2018): Volume 7 (5) 2018
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rabies merupakan penyakit zoonosis yang menyerang sistem saraf pusat dan merupakan salah satu penyakit yang menjadi prioritas secara nasional. Penyakit ini disebarkan oleh hewan tertular rabies dan anjing merupakan pembawa utama yang dapat melangsungkan siklus infeksi penyakit rabies. Adanya kontak antara air liur dengan membrana mukosa atau melalui luka pada tubuh dapat menularkan rabies. Hal tersebut sama halnya dengan akibat gigitan atau cakaran yang juga dapat menularkan infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase dan hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi sistem pemeliharaan dan tingkat pemahaman masyarakat terhadap penyakit rabies di Kabupaten Badung. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 300 kuisioner yang tersebar di 6 kecamatan. Data hasil wawancara dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan dendrogram. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan anjing di Kabupaten Badung berhubungan dengan sistem pemeliharaan anjing (52,3%), memelihara HPR lain (77,0%), status pemeriksaan kesehatan anjing (61,3%), status vaksinasi rabies (83,7%), kondisi fisik anjing peliharaan (83,7%), status pemberian pakan (100%), jumlah pemberian pakan/hari (88,7%), dan sistem pemeliharaan yang buruk dari masyarakat yang memelihara anjing lebih dari 1 ekor (50,3%), kontak anjing (82,7%). Tingkat pemahaman masyarakat di Kabupaten badung berhubungan dengan asal anjing (64,0%), mobilitas anjing (53,3%), pengetahuan mengenai bahaya rabies (93,3%), ciri-ciri rabies (77,3%), dan pemahaman masyarakat yang buruk dari cara memperoleh anjing dari orang lain (65,0%), kurangnya penyuluhan kepada masyarakat (49,0%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sistem pemeliharaan dan tingkat pemahaman masyarakat di Kabupaten Badung tergolong baik.