Herjuno Gularso
Badan Informasi Geospasial

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

TINJAUAN PEMOTRETAN UDARA FORMAT KECIL MENGGUNAKAN PESAWAT MODELSKYWALKER 1680 (STUDI KASUS :AREA SEKITAR KAMPUS UNDIP)

2337-845X Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Jurnal Geodesi Undip

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sampai saat ini, teknologi fotogrametri terus mengalami perkembangan, baik dalam segi pengumpulan data maupun pemrosesannya.Hal ini ditandai dengan adanya teknik pengumpulan data dengan wahana tanpa awak sebagai media pembawa sensor fotogrametri. Keuntungan penggunaan teknologi tersebut adalah efektif dan efisien baik dari segi waktu dan biaya untuk pemetaan pada daerah yang tidak terlalu luas, serta dapat menghasilkan gambar yang lebih jelas, karena tinggi terbang wahana ± 300 meter diatas permukaan laut sehingga pada saat pemotretan tidak mengalami ganguan awan. Dalam perkembangannya perangkat lunak fotogrametri terus mengalami perkembangan, pada awalnya pemrosesan data fotogrametri dilakukan secara manual, saat ini proses dapat dilakukan secara otomatis, salah satunya adalah perangkat lunak Agisoft PhotoScan. Perangkat lunak ini dapat mengidentifikasi titik sekutu, mosaik, dan pembuatan DSM secara otomatis. Proses kaliberasi kamera dan orientasi luar kamera juga dilakukan secara otomatis. Penelitian ini dilaksanakan di daerah sekitar UNDIP ± 40 hektar. Sensor yang digunakan adalah kamera non metric digital (Nikon COOLPIX S3300). Proses pengolahan menggunakan perangkat lunak Agisoft PhotoScan. Proses yang dilakukan pada perangkat lunak yaitu: alignment merupakan proses identifikasi titik sekutu secara otomatis, kalibrasi kamera untuk menentukan orientasi dalam kamera,hitungan  bundle adjustment untuk menentukan orientasi luar kamera, pembuatan model geometri 3 dimensi, dan pemberian tekstur pada model. Setelah tahap pembentukan tekstur dilakukan pada seluruh foto, tahap selanjutnya adalah pemberian titik kontrol hasil pengukuran GPS geodeticHiper GA/GB secara radial. Kata Kunci : Wahana Udara Tanpa Awak, Foto Udara Format Kecil, Agisoft PhotoScan, Pesawat model

PENGGUNAAN FOTO UDARA FORMAT KECIL MENGGUNAKAN WAHANA UDARA NIR-AWAK DALAM PEMETAAN SKALA BESAR

JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.311 KB)

Abstract

Hingga saat ini, teknologi fotogrametri terus berkembang, baik dari segi pengumpulan data dan pengolahan. Hal ini ditandai dengan adanya teknik pengumpulan data dengan wahana udara tak berawak sebagai wahana pembawa sensor fotogrametri. Keuntungan menggunakan teknologi ini adalah efektif dan efisien baik dari segi waktu serta biaya untuk pemetaan di daerah yang tidak terlalu besar. Keuntungan lainnya dapat menghasilkan foto yang lebih jelas, karena tinggi terbang UAV sekitar ± 200 meter di atas permukaan tanah menghasilkan foto dengan resolusi 0,5 cm. Saat ini perangkat lunak fotogrametri telah berkembang pesat, awalnya pengolahan data fotogrametri dilakukan secara manual tetapi saat ini proses pengolahan datanya dapat dilakukan secara otomatis, salah satunya dengan menggunakan perangkat lunakAgisoft PhotoScan. Perangkat lunak ini dapat mengidentifikasi kesesuain pixel antar foto, mosaik dan membangun DSM otomatis. Kalibrasi kamera dan orientasi luar kamera juga dapat dilakukan secara otomatis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan uji akurasi hasil pemotretan dengan UAV format kecil untuk dimanfaatkan pada pemetaan skala besar.Akuisisi data dan uji akurasi berlangsung di sekitar kantor Badan InformasiGeospasial. Kamera yang digunakan adalah kamera digital non-metrik (Sony NEX 7). Proses fotogrametri menggunakan perangkat lunakAgisoft PhotoScan. Untuk membuat stereo model yang nantinya akan digunakan untuk plotting 3D didapatkan dari pembetukan stereomate dari mosaik yang telah terbentuk dan DSM dengan menggunakan perangkat lunak summit evolution. Hasil penelitian didapat bahwa nilai akurasi horizontalsebesar 0,270319 meter dan akurasi vertikal sebesar 0,331021 meter. Berdasarkan NMAS nilai hasil akurasi mozaik dan DSM UAV pada penelitian ini memenuhi toleransi akurasi untuk pemetaan skala besar.Kata kunci: Wahana Udara Nir-awak, model stereo, summit evolution, pemetaan skala besarABSTRACTUntil now, photogrammetry technology continues to grow, both in terms of data collection and processing. It is characterized by the presence of data collection techniques by unmanned aerial vehicle as photogrammetric sensors carrier. The advantages of using the technology is effective and efficient in terms of both time and cost for mapping in not too large area, and can result in a clearer picture, because high of flying the UAV is ± 200 meter above ground level so the image have ground spatial distance 0,5 cm. In the development of photogrammetry software had been developed, initially photogrammetric data processing is done manually, in this time the process can be done automatically, one of them is Agisoft PhotoScan. The software can identify tie points, mosaics, and build DSM automatically. Calibration camera and exterior orientation is also done automatically. Data acquisition and the accuracy test take place in the area of Geospatial Information Agency. The camera used is a non-metric digital camera (Sony NEX7). Photogrametry process using software Agisoft PhotoScan. To make stereo model that will be used for 3D digitization is carried making stereomate from mosaics and DSM of the summit evolution software.The result is that the value of 0,270319 meter horizontal accuracy and vertical accuracy of 0,331021 meters. Based NMAS mosaic accuracy and value of the DSM UAV in this study meets the accuracy tolerances for large-scale mapping.Keywords: UAV, stereo model, summit evolution, large scale mapping

ANALISIS AKURASI PEMETAAN MENGGUNAKAN DIRECT GEOREFERENCING

GEOMATIKA Vol 24, No 2 (2018)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.419 KB)

Abstract

Banyak tantangan yang harus dihadapi ketika melaksanakan survei Ground Control Point (GCP). Salah satu upaya meminimalisir jumlah titik kontrol adalah melakukan pengukuran posisi dan orientasi foto udara tanpa GCP, atau disebut direct georeferencing . Penelitian ini menguji metode direct georeferenci ng terhadap data yang ada di Indonesia, sehingga nantinya dapat mengurangi jumlah penggunaan GCP. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah foto udara Palu yang diakuisisi dengan kamera RCD30, parameter Exterior Orientation (EO), dan titik Independen t Check Point (ICP). Jumlah ICP yang digunakan sebanyak 8 titik. Pengukuran langsung posisi dan orientasi sensor kamera kemudian dilakukan dengan data-data tersebut tanpa menggunakan GCP. Analisis dilakukan dari dua aspek, yaitu ketelitian hasil foto udara dan perbandingan nilai X, Y, Z antar model. Hasil statistik perataan menunjukkan nilai sigma naught = 2,7 mikron, sehingga masih masuk dalam toleransi 1 piksel. Hasil uji akurasi menunjukkan nilai 1,9 m untuk ketelitian horizontal (CE90) dan 3,6 m untuk ketelitian vertikal (LE90), sehingga ketelitian horizontal masuk pada skala 1:5.000 kelas 3 atau skala 1:10.000 kelas 1, dan ketelitian vertikal masuk pada skala 1:10.000 kelas 3 atau skala 1:25.000 kelas 1. Dilihat dari sisi konsistensi antar model stereo, rata-rata perbedaan koordinat dan elevasi pada setiap model stereo berada di bawah 0,5 m, di mana rata-rata ΔX = 0,1173 m, ΔY = 0,2167 m, dan ΔZ = 0,2793 m. Artinya, meski penggunaan metode direct georeferencing dapat mengurangi akurasi absolut, namun hal tersebut tidak berpengaruh terhadap konsistensi antar model stereonya.