I Wayan Gorda
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

PERBANDINGAN EFEK PEMBERIAN ANESTESI XYLAZIN-KETAMIN HIDROKLORIDA DENGAN ANESTESI TILETAMIN-ZOLAZEPAM TERHADAP CAPILLARY REFILL TIME (CRT) DAN WARNA SELAPUT LENDIR PADA ANJING

Buletin Veteriner Udayana Vol 2 No. 1 Pebruari 2010
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study is to determine the effect of xylazine-ketamine hydrochloride combined withtiletamin-zolazepam combination to Capillary Refill Time (CRT), paleneus of mucousmembranes, heart pulse frequency and pulse before anesthesion, when anesthezed andduring anesthetion. The experimental was carried duct on local dog. The experimental design has 2 treatments : dose I (2 mg/kg body weight of xylazinehydrochloride ; 15 mg/kg body weight of ketamine hydrochloride) and dose II (20 mg/kgbody weight of zoletil). Each of treatment use 5 local dogs and total of 10 dogs for all of thetreatments. Data were analyzed by analysis of varience test and the score data analyzed byfriedman test. A results showed the combination of xylazine-ketamine hydrochloride andtiletamin-zolazepam combination could increase to Capillary Refill Time (CRT) andmucous membranes colour.

PERBANDINGAN WAKTU INDUKSI, DURASI DAN PEMULIHAN ANESTESI DENGAN PENAMBAHAN PREMEDIKASI ATROPIN-XYLAZIN DAN ATROPINDIAZEPAM UNTUK ANESTESI UMUM KETAMIN PADA BURUNG MERPATI (COLUMBA LIVIA)

Buletin Veteriner Udayana Vol. 2 No. 2 Agustus 2010
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this study is to determine the comparison of induction, duration and recoverytime of anaesthesia with addition of premedication atropine-xylazine and atropinediazepamfor anaesthesia of ketamine in pigeon (Columba livia).Complete Random Device (RAL) was used to analisis. The total of eight teen of pigeonused for this study. They were divided into three groups i.e. (I) treated with ketamine : 75mg/kg of body weight as a positive control, (II) treated with combination of atropinexylazine-ketamine with dose 0,02 mg/kg of body weight, 4 mg/kg of body weight and 75mg/kg of body weight and (III) treated with combination of atropine-diazepam-ketaminewith dose 0,02 mg/kg of body weight, 2,5 mg/kg of body weight and 75 mg/kg of bodyweight. Data were analized with Analysis of Variance. (Steel and Torrie, 1989). Theresult showed that the anaesthesia of ketamine and the combination of atropine-diazepamketaminewas not resulted the induction and duration time of anaesthesia. That mean,recovery time of anaesthesia ketamine and the combination of atropine-diazepam-ketamineare 114,4 minutes and 138,1 minutes. The combination of atropine-xylazine-ketamine wasresulting the mean of induction 13,4 minutes, duration 82,8 minutes and recovery 139,6minutes. The result showed that no significantly different (P > 0.05) the time of recoverybetween the anaesthesia of ketamine, combination of atropine-xylazine-ketamine andcombination of atropine-diazepam-ketamine.

Perbandingan Anestesi Xylazin-Ketamin Hidroklorida dengan Anestesi Tiletamin- Zolazepam terhadap Frekuensi Denyut Jantung dan Pulsus Anjing Lokal

Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.1 Pebruari 2012
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study to determine the effect of anesthesia xylazine- ketamine hydrochlorida withanesthesia tiletamine-zolazepam administration to heart pulse frequency and pulse duringanesthetion. The experimental was carried duct on local dog. The experimental design usewas a splite in time with 2 treatment : treatment I xylazin-ketamin ( 2 mg/Kg Body weightof xylazine ; 15 ing/Kg Body weight ketarnine) and treatment II tiletamine-zolazepam ( 20mg/Kg Body weight). Each treatment use 5 dogs as refrain so we use 10 dogs for all of thetreatment. Obtain data is analized by various investigated test. Result of this study indicatedthat difference of treatment there were no significance, but time of the observed duringanesthesion showed more highly significance and significant to pulse frequency.

Tepung Tempe Kaya Isoflavon Meningkatkan Kadar Kalsium, Posfor dan Estrogen Plasma Tikus Betina Normal

Jurnal Veteriner Vol 12, No 3 (2011)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aimed to study the effect of isoflavon-riched tempe flour on calcium (Ca, phosphate(P), and estrogen levels in plasma et normal female rats during their growth period. A level oftwenty-five 2 months old female Sprague Dawley rats with an avarage body weight of 200 g wasrandomly divided into into 5 groups: one with control group (KO: without treatment) and fourtreatment groups (K1, K2, K3, K4 : animals were given tempe flour with isoflavon at 1; 2; 4; and 6 mg/200 g/bw, respectively). The treatment was conducted for two months, following this blood plasmawas collected to analyse the level of calcium, phosphor, and estrogen, respectively. The resultshowed that although the plasma level of Ca, P, and estrogen was higher in the treatment groupcompare to the control group, this was not significantly different (P>0,05). The highest plasmalevel of Ca, P, and estrogen was seen in anmal receiving tempe flour with 4 mg/ 200 g bw/dayisoflavon.

Penyebaran Virus Vaksin ND Pada Sekelompok Ayam Pedaging Yang Tidak Divaksinasi dan dipelihara bersama ayam yang divaksinasi

Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.2 Agustus 2012
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui daya sebar vaksin ND aktif galurlentogenik (La Sota) dan respons immune ayam yang tidak divaksin yang dipeliharabersama ayam yang divaksin secara intramuskuler. Penelitian ini menggunakan rancanganacak lengkap pola berjenjang (split time) dengan faktor utama perlakukan vaksinasi (TO:0% divaksin dan 100% tidak divaksin , T1: divaksin 50 % dan 50 tidak divaksin dan T2:divaksin 75% dan 25% tidak divaksin) dengan sembilan kali ulangan. Faktor tambahanadalah waktu pengambilan serum (minggu ke-0, ke-1, ke-2 dan ke-3) sehingga jumlahsampel adalah 3x9x4= 108 sampel serum. Ayam umur 3 hari divaksinasi ND secara tetesmata kemudian dilakukan vaksinasi intramuskuler pada umur 21 hari sesuai perlakuan.Titer antibodi ND pada ayam perlakuan diuji dengan uji hambatanhemaglutinasi/hemagglutination inhibition (HI) satu hari sebelum vaksinasi, serta satuminggu, dua minggu, dan tiga minggu setelah vaksinasi. Data tentang titer antibodi (GMTHI)terhadap ND ditransformasi dengan akar X+1, dianalisis dengan sidik ragam dandilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa titerantibodi terhadap ND pada ayam yang tidak divaksin dipengaruhi oleh persentase ayamyang divaksin. Antibodi HI unit terhadap virus ND pada ayam yang tidak divaksinasimulai teramati pada minggu ke-2 dan ke-3 setelah vaksinasi. Titer antibodi ayam yangtidak divaksinasi pada kelompok ayam yang hanya divaksin 75% mempunyai titer antibodiyang nyata lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok ayam yang divaksin 50% dankontrol (P<0,05). Pada kelompok ayam yang divaksin 50%, titer antibody ND pada ayamyang tidak divaksin secara statistik berbeda tidak nyata dibandingkan dengan kelompokyang divaksin 0% (P>0,05). Pada minggu ke tiga, titer antibody ND ayam yang tidakdivaksinasi pada kelompok ayam yang divaksin 75% nyata lebih tinggi dibandingkandengan pada kelompok ayam yang divaksin 50% (P,0,05). Vaksin ND aktif lentogeik LaSota dapat menyebar dari ayam yang divaksin secara intramuskuler kea yam yang tidakdivaksin

Kadar Glukosa Darah Anjing Kintamani

Buletin Veteriner Udayana Vol. 5 No. 2 Agustus 2013
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penentuan kadar glukosa darah anjing kintamani menggunakan Accu-check Active dilakukan di laboratorium Patologi Klinik Veteriner, Fakultas Kedoktern Hewan Universitas Udayana. Sampel darah diambil dari 50 ekor anjing kintamani untuk menentukan kadar glukosa acak dan 10 ekor untuk mengetahui kadar glukosa darah puasa dan dua jam setelah makan. Sampel darah diambil dari vena chepalica. Anjing yang dipilih sebagai sampel adalah anjing kintamani milik penduduk di daerah Denpasar dan Kintamani. Hasil penelitian ini menunjukkan rerataan kadar glukosa normal darah anjing kintamani secara acak sebesar 86,62 mg/dl  19,09, jantan adalah 84,10 mg/dl  19,11  dan betina 89,81 mg/dl  19,01..  Pada keadaan puasa kadar glukosa darah anjing kintamani adalah 73,4 mg/dl  5,98,   jantan 74 mg/dl  2,82 betina 73 mg/dl  7,69. Kadar glukosa darah anjing kintamani dua jam setelah makan sebesar 75,6 mg/dl  6,13, jantan 76,25 mg/dl  2,36 dan  betina 75,76 mg/dl 7,98. Hasil ini masih berada dalam kisaran normal berdasarkan standar acuan Graham. Dengan demikian Accu-check Active dapat dipakai untuk menentukan kadar glukosa darah anjing kintamani.

Operasi Perbaikan Hernia Umbilicalis pada Anak Babi Landrace dengan Anestesi Kombinasi Xylazine dan Ketamine

Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (1) 2016
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laporan kasus ini bertujuan untuk melaporkan penanganan kasus hernia umbilicalis pada anak babi landrace dengan menggunakan anestesi kombinasi xylazine dan ketamine. Seekor anak babi ras landrace betina berumur 1,5 bulan dengan bobot badan 9 kg menderita hernia umbilicalis berdiameter 7 cm. Telah dilakukan operasi perbaikan hernia dengan metode memotong kantong hernia, mengembalikan isi hernia, debridement dan menutup cincin hernia. Anestesi yang digunakan adalah kombinasi xylazine (0,5–3 mg/kg) dan ketamine (10–20 mg/kg) diinjeksikan secara intramuskular. Selama operasi berlangsung dilakukan pemeriksaan fisik yaitu denyut jantung, pulsus, respirasi, capillary refill time (CRT) dan suhu rektal. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan pada menit ke-50 merupakan titik terendah turunnya denyut jantung (52 ×/menit), respirasi (40 ×/menit) dan suhu rectal (37,6oC). Hasil penghitungan pulsus selama operasi terpantau sangat berfluktuasi tiap 10 menitnya, pulsus terendah (48 ×/menit) terhitung pada menit ke-30. CRT terhitung dari awal hingga akhir operasi adalah 1–2 detik. Pasca operasi, hewan diberikan terapi amoxicillin (15-20 mg/kg IM/SC q48h) dan Novaldon® (methampyrone 250 mg, pyromidone 50 mg dan lidocaine 15 mg). Hasil operasi menunjukkan hewan mengalami kesembuhan pada hari ke sembilan.

GERUSAN DAUN BINAHONG (ANREDERA CORDIFOLIA) MEMPERCEPAT KESEMBUHAN LUKA BAKAR PADA TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS)

Buletin Veteriner Udayana Vol. 11 No. 1 Pebruari 2019
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Luka bakar merupakan kejadian dimana rusaknya jaringan kulit akibat kontak kulit dengan sumber panas seperti listrik, bahan kimiawi, dan api serta radiasi. Penelitian Efek Gerusan Daun Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steenis)   terhadap kecepatan kesembuhan luka bakar derajat II pada tikus putih (Rattus Norvegicus) dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian gerusan daun binahong terhadap kesembuhan luka bakar tikus putih (Rattus norvegicus) yang diukur berdasarkan lama peradangan, kecepatan epitelisasi dan kepadatan kolagenisasi yang dilihat dari gambaran makroskopis dan mikroskopis. Penelitian menggunakan  menggunakan hasil pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis dianalisis secara statistik dengan bantuan piranti SPSS for window 17 The Randomize Postest Control Only Group Design. Tiga puluh dua (32) ekor tikus putih betina dengan berat 150-200 gram dibagi menjadi 2 perlakuan. Hasil penelitian adalah pemberian daun binahong berpengaruh terhadap kesembuhan luka bakar pada tikus putih berdasarkan lama perdangan dan kecepatan epitelisasi. Pemberian gerusan daun binahong mempercepat penyembuhan luka bakar pada tikus putih. Saran, gerusan daun binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steenis) dapat dipergunakan pada penyembuhan luka bakar di daerah-daerah terpencil.

Studi Kasus: Mastektomi Tunggal dengan Drainase Pasif pada Adenoma Glandula Mammae Anjing Dachshund

Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 No 6 (2018): Volume 7 (6) 2018
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumor glandula mammae merupakan neoplasia yang paling sering terjadi pada anjing betina dewasa dan dapat bersifat jinak ataupun ganas. Seekor anjing ras dachshund betina berumur 4 tahun dan berat badan 6,1 kg diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan adanya benjolan pada ambing kiri kedua dan ketiga. Setelah itu dilakukan biopsi dan pemeriksaan histopatologi di Balai Besar Veteriner Denpasar. Berdasarkan pemeriksaan histopatologi, anjing kasus didiagnosis menderita adenoma glandula mammae. Dari anamnesis, pemeriksaan fisik, klinis, dan laboratorium, anjing dalam kondisi stabil untuk dilakukan pembedahan. Penanganan kasus ini dilakukan dengan mastektomi tunggal disertai drainase pasif karena tumor bersifat jinak. Prognosis dari kasus ini adalah fausta karena adenoma glandula mammae adalah tumor jinak dan terlokalisir. Pengobatan pasca pembedahan dilakukan dengan pemberian amoxicillin trihydrate, mefenamic acid serta vitamin B kompleks. Luka pasca mastektomi tunggal kering dan menyatu pada hari ke-14. Jadi, mastektomi tunggal dengan drainase pasif ini merupakan terapi yang dapat digunakan untuk penanganan adenoma glandula mammae dengan hasil yang baik.

Studi Kasus: Hemangioma Kutaneus pada Anjing Lokal

Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 No 2 (2019): Vol 8 No 2 (2019)
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hemangioma kutaneus adalah neoplasma jinak pada pembuluh darah yang sering ditemukan pada kulit. Seekor anjing lokal jantan berumur 11 tahun dengan bobot 18 kg diperiksa dengan keluhan adanya massa menggantung di kaki belakang bagian kanan. Pemeriksaan histopatologi menunjukkan hewan didiagnosis menderita hemangioma kutaneus, karena adanya proliferasi pada endotelnya. Banyak pembuluh darah yang menjadi besar dan rapuh. Hewan ditangani dengan pengangkatan tumor secara menyeluruh. Penanganan pascaoperasi hewan kasus diberikan antibiotik Amoxicilin dan analgesik Asam mefenamat. Hari ke-7 pasca operasi luka sudah mengering dan menyatu secara sempurna.