cover
0.599
P-Index
Sharon Gondodiputro
Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
Articles
5
Documents
PERAN PENYELENGGARA PELAYANAN KESEHATAN PRIMER SWASTA DALAM JAMINAN KESEHATAN DI KABUPATEN BANDUNG

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol 13, No 02 (2010)
Publisher : Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.176 KB)

Abstract

Background: Apart from funding, the role of health careproviders on the health insurance scheme should be takeninto account, because they are one of the components ofhealth insurance scheme and could play as gate keepers.They include private and public health providers. 92.14% ofthe total primary health providers in Bandung District are privatehealth providers, consisted of 561 doctors, 392 midwives and154 private clinics. The objective of the study was to assessthe involvement, mechanism of payment and willingness toparticipate of the private health providers in the health insuranceschemeMethod: A survey with a simple random sampling wasconducted using questionnaire for 207 respondents (153doctors and 54 clinics).Result: Only 23% doctors and 21% clinics that already hadcontracts with 14-20 third payers. The mechanisms of paymentfrom the third payer to the providers were capitation (43%doctors, 50% clinics) and claims (39% doctors, 43% clinics).Among private providers who had not yet contracts with thirdpayer, only 55% doctors and 56% clinics wanted to havecontract. Factors contributed to the refusal were humanresource and facilities, finance, administration and health caredeliveryConclusion: Private health providers should be involved, aspart of the health insurance scheme in Bandung District withdeveloping efforts to gain trust between the providers andthird payers and considering a proper benefit for all.Keywords: Private Health Providers (PPK I), gate keeper,health insurance

Gambaran Rencana Masa Depan Pemilihan Bidang Profesi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Angkatan 2007

Jurnal Sistem Kesehatan Vol 1, No 1 (2015): Volume 1 Nomor 1 September 2015
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.593 KB)

Abstract

Salah satu komponen menjalankan sistem kesehatan nasional secara optimal adalah ketersediaan sumber daya manusia antara lain adalah dokter. Dengan banyaknya pilihan lapangan pekerjaan, menyebabkan tidak semua dokter mau bekerja di sarana pelayanan kesehatan primer. Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran rencana masa depan pemilihan bidang profesi mahasiswa FK Unpad Angkatan 2007 beserta faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Suatu survey deskriptif dilakukan terhadap 182 mahasiswa Program Pendidikan Sarjana Kedokteran FK Unpad Angkatan 2007 dengan menggunakan self-administered questionnaire. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (70,3%) responden berencana langsung bekerja setelah lulus dokter, untuk selanjutnya akan melanjutkan pendidikan (96,9%). Mayoritas responden memilih sarana pelayanan kesehatan primer & sekunder (praktik sendiri dan rumah sakit pemerintah) sebagai rencana kerja. Selanjutnya responden yang berencana langsung melanjutkan pendidikan setelah lulus dokter ialah sebanyak 29,7%. Setelah lulus, mayoritas responden memilih sarana pelayanan kesehatan sekunder yaitu praktik sendiri dan rumah sakit swasta. Dosen/Akademisi  menjadi rencana kerja yang paling banyak dipilih pada bidang kerja non klinisi. Karakteristik pribadi yaitu minat, antusias, dan harapan pada bidang profesi merupakan faktor dominan yang melatarbelakangi rencana masa depan dalam pemilihan bidang profesi. Simpulan penelitian ini adalah sebagian besar responden memilih bekerja di sarana pelayanan primer hanya untuk sementara, sehingga akan berdampak terhadap kesinambungan pelaksanaan sistem kesehatan nasional. Untuk itu, sosialisasi akan pentingnya bekerja di sarana pelayanan primer menjadi kewajiban FK.Kata kunci: Klinisi, non klinisi, pemilihan profesi, pendidikan dokter, SDM kesehatan

ANALISIS KARAKTERISTIK RESPONDEN DALAM MENUNJANG PENGGALIAN POTENSI BERSUMBERDAYA MASYARAKAT DALAM PENDANAAN KESEHATAN MELALUI ASURANSI KESEHATAN DI KOTA BANDUNG

Sosiohumaniora Vol 9, No 3 (2007): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2007
Publisher : Sosiohumaniora

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.057 KB)

Abstract

Pendanaan kesehatan dari Gross Domestic Product tahun 2003 di Indonesia kecil yaitu 3,1%, 64,1% berasal dari masyarakat (74,3% bermekanisme out of pockets payment) dan 35,9% berasal dari pemerintah. Hanya 23,33% penduduk Kota Bandung yang melakukan pendanaan kesehatannya melalui pihak ketiga,sehingga potensi penggalian dana untuk kesehatan masih cukup tinggi. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi karakteristik penduduk yang dapat mendukung pendanaan kesehatan melalui asuransi kesehatan. Penelitian ini merupakan penelitian survey cross-sectional, analisis deskriptif dengan sampel 700 responden, yaitu masyarakat Kota dan belum menjadi peserta asuransi kesehatan. Hasil dan rekomendasi penelitian adalah wanita dapat dijadikan sasaran sosialisasi asuransi kesehatan,sasaran utama pengembangan asuransi kesehatan adalah usia produktif, penyampaian informasi tentang pendanaan kesehatan dilaksanakan dengan cara maupun bahasa yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan SMA ke bawah, penghasilan responden sangat fluktuatif dan tidak menetap sehingga pelaksanaan pengambilan iuran asuransi kesehatan akan menjadi kendala, sebagian besar responden mempunyai tanggungan ≤ 4 orang, semakin banyak jumlah tanggungan sebuah keluarga semakin besar total premi yang harus dibayar, 51,9% responden memiliki rumah sendiri, sehingga dengan terpenuhinya kebutuhan dasar tersebut, maka diasumsikan bahwa seseorang dapat mengalihkan pengeluarannya untuk kebutuhan yang lain termasuk membayar iuran/premi asuransi kesehatan serta 54,6% responden tidak mempunyai kendaraan, sehingga perlu dipikirkan lokasi fasilitas pelayanan kesehatan yang dikontrak oleh badan asuransi serta perhitungan biaya transportasi. Kata Kunci : Pendanaan kesehatan, Asuransi kesehatan, Karakteristik responden

Public Health Orientation Program (PHOP): Persepsi Dokter Internship Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.602 KB)

Abstract

Perubahan paradigma sakit menjadi sehat, kuratif menjadi preventif dan berbasis komunitas menempatkan ilmu kesehatan masyarakat yang dikemas dalam Public Health Oriented Program (PHOP) sebagai materi yang sangat penting di Fakultas Kedokteran Unpad. Persepsi mahasiswa mengenai materi dalam kurikulum pendidikan dapat menggambarkan bagaimana efektivitas kurikulum tersebut. Atas dasar tersebut maka dilakukan penelitian tentang persepsi dokter internship FK Unpad mengenai manfaat PHOP pada saat mereka menjalankan internship. Penelitian deskriptif dilakukan terhadap 97 dokter Fakultas Kedokteran Unpad kelas reguler Angkatan 2007 dan 2008 (respons rate 74,2%), telah atau sedang melakukan program internship periode Juli–November 2014. Kuesioner yang telah diuji coba dan divalidasi, berisi 52 pertanyaan skala Likert, dikelompokkan menjadi 4 kelompok serta, disebarkan kepada responden menggunakan Research Electronic Data Capture (REDCap). Pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Data diolah menggunakan distribusi frekuensi dan narasi. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden menyatakan bahwa materi-materi yang terdapat di PHOP bermanfaat pada waktu internship, namun  beberapa topik kurang aplikatif, peranan mereka sebagai dokter fungsional, tidak diberi kesempatan untuk melakukan fungsi manajemen, preventif dan promotif di masyarakat. Dari hasil ini dapat disimpulkan, perlu ada penyesuaian materi lebih aplikatif, laboratorium khusus untuk PHOP, mendatangkan expert dari lapangan dan  wahana intership melibatkan dokter dalam bidang manajemen, preventif dan promotif di masyarakat. [MKB. 2015;47(2):115–23] Kata kunci: Internship, persepsi, Public Health Oriented Program (PHOP)Public Health Orientation Program (PHOP): Perception of Medical Doctor Internship Program Participants at the Faculty of Medicine, Universitas PadjadjaranAbstractThe shift  from disease paradigm to healthy paradigm, from curative to preventive and community-based medical education has positioned the Public Health Oriented Program (PHOP) as a very important program of the Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran. Students’ perception of  the educational curriculum materials can describe the effectiveness of the curriculum. Based on this situation, the aim of this study was to describe the perception of doctors who participated in the internship program of the Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran on the benefits of PHOP. A descriptive study was carried out on 97 doctors of the Faculty of Medicine class 2007 and 2008 (response rate 74.2%) who had been and was involved in the internship program as participants. A validated questionnaire was used, containing 52 questions in Likert scale, divided into 4 groups of questions that was distributed to the respondents using Redcap (Research Electronic Data Capture). A consecutive sampling was used. The data was analyzed using frequency distribution and narratives.The results showed that most of the respondents stated that the materials in PHOP were very useful  during internship but some topics were  less applicable because the main role they played during internship was the role of a clinician and they were not given the opportunity to perform management, preventive and promotive functions in the community. From these results it can be concluded that there are needs for material adjustment towards more applicable, special laboratory activities for PHOP, inviting public health practitioners/experts to give lecture, and creating opportunities for the students to apply management, preventive and promotive actions during internship. [MKB. 2015;47(2):115–23]Key words: Internship, perception, Public Health Oriented Program (PHOP) DOI: 10.15395/mkb.v47n2.570

Keinginan untuk Membayar Pembiayaan Kesehatan Pemerintah Kota pada Masyarakat Mampu di Kota Bandung

Jurnal Sistem Kesehatan Vol 2, No 4 (2017): Volume 2 Nomor 4 Juni 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.16 KB)

Abstract

Pembiayaan kesehatan diselenggarakan dengan prinsip ekuitas, artinya penduduk yang mampu akan membayar iuran/ premi secara penuh, dan masyarakat miskin dibayarkan oleh pemerintah. Banyak faktor yang memengaruhi keinginan untuk membayar (WTP). Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran keinginan masyarakat mampu membayar pembiayaan kesehatan dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian kuantitatif dilakukan pada Agustus – September 2011 terhadap 303 kepala keluarga yang tergolong  masyarakat mampu di Kota Bandung. Mampu dalam penelitian ini adalah penduduk tinggal di perumahan elite. Kriteria inklusi yaitu kepala keluarga, memiliti KTP Kota Bandung, bersedia diwawancara. Teknik pemilihan sampel menggunakan cluster sampling, dengan klaster adalah perumahan elit di Kota Bandung. Subjek di tiap klaster ditentukan secara proporsional systematic sampling. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi dan regresi logistik. Dari 303 responden, 54,9% yang memiliki asuransi, tidak ingin membayar dan 60% yang belum memiliki, ingin membayar pembiayaan kesehatan Pemkot Bandung. Sebagian besar masyarakat mampu hanya ingin membayar premi kurang dari Rp. 25.000 dengan berharap mendapatkan semua jenis pelayanan kesehatan. Agama dan pendidikan terakhir merupakan faktor yang menentukan secara bermakna keinginan membayar pembiayaan kesehatan. Rendahnya kesadaran responden untuk ikut serta program pembiayaan kesehatan Pemkot Bandung harus dapat diantisipasi pemerintah dengan lebih mendorong masyarakat dari semua golongan status sosial – ekonomi untuk mengikuti program pembiayaan kesehatan.Kata kunci: Keinginan, Kesehatan, Pembiayaan, Masyarakat mampu