Ketut Tono Pasek Gelgel
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Efek Toksisitas Ekstrak Daun Sirih Merah Terhadap Gambaran Mikroskopis Ginjal Tikus Putih Diabetik yang Diinduksi Aloksan

Buletin Veteriner Udayana Vol. 5 No. 2 Agustus 2013
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek toksik dari ekstrak daun sirih merah terhadap gambaran mikroskopis ginjal tikus putih diabetes mellitus yang diinduksi aloksan. Sebanyak 20 ekor tikus putih jantan galur Sprague-dawley umur ± 3 bulan digunakan dalam penelitian ini. Seluruh sampel tersebut dibagi secara acak menjadi lima kelompok perlakuan yaitu: (P0) tikus sehat yang hanya diberikan aquades; (P1) tikus yang diberikan aloksan 120 mg/kg bb/intraperitoneal; (P2) tikus yang diberikan aloksan 120 mg/kg bb/intraperitoneal dan ekstrak daun sirih merah 50 mg/kg bb/peroral; (P3) tikus yang diberikan aloksan 120 mg/kg bb/intraperitoneal dan ekstrak daun sirih merah 100mg/kg bb/peroral; (P4) tikus yang diberikan aloksan 120mg/kg bb/intraperitoneal dan suspensi glibenklamid 1 mg/kgbb/peroral. Perlakuan diberikan selama 30 hari. Pada hari ke-31 semua tikus dieuthanasi dan dinekropsi untuk melihat gambaran mikroskopis ginjal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) dosis 50 mg/kg bb dan 100 mg/kg bb tidak menunjukkan perubahan patologi terhadap gambaran mikroskopis ginjal. Hal ini menunjukkan ekstrak daun sirih merah dosis 50 mg/kgbb dan dosis 100 mg/kgbb tidak toksik terhadap jaringan ginjal tikus putih diabetes mellitus.

Toksisitas Ekstrak Daun Sirih Merah pada Tikus Putih Penderita Diabetes Melitus (TOXICITY OF RED BETEL EXTRACT IN DIABETIC WHITE RAT )

Jurnal Veteriner Vol 14, No 4 (2013)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research was to study the toxicity of red betel  (Piper crocatum) extract in diabeticwhite rat based on ALT and AST activities. This research used 20 male white rats, which randomlydivided into five groups, P1: given only aqua; P2: given alloxan 120mg/kg bw; P3: given alloxan 120 mg/kgbw and red betel leaf extract 50 mg/kg bw; P4: given alloxan 120 mg/kg bw and red betel leaf extract 100mg/kg bw; P5: given alloxan 120 mg/kg bw and glibenclamide suspension 1 mg/kg bw. ALT and ASTactivities were measured by using reflovet plus Machine. The collected data were analyzed by usinganalysis of covariance. The result showed no significant  effect (P>0.05) was observed on giving red betelleaf extract in diabetic white rat for ALT and AST activities.  It can be concluded that red betel leaf extractis potential for diabetic treatment in white rat  and it is not toxic for the rat’s ALT and AST activities.

Uji Kepekaan Bakteri Esherichia coli Asal Ayam Pedaging terhadap Antibiotik Doksisiklin, Gentamisin, dan Tiamfenikol

Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (5) 2013
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pola kepekaan bakteri Escherichia coli penyebab kolibasilosis pada ayam pedaging terhadap pemberian antibiotik gentamisin, doksisiklin, dan tiamfenikol. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah E.coli yang diisolasi dari hati ayam pedaging dari delapan peternakan ayam pedaging di tujuh daerah di Bali yaitu daerah Dalung, Kapal, Penarungan, Singapadu, Ketewel, Payangan, dan Baturiti. Isolat diambil dari hati ayam. Uji kepekaan bakteri E.coli terhadap antibiotik gentamisin, doksisiklin dan tiamfenikol menggunakan metode Kirby-Bauer. Pada uji ini dipergunakan kertas cakram yang mengandung antibiotik Gentamisin, Doksisiklin dan Tiamfenikol. Hasil uji kepekaan bakteri E.coli patogen dengan metode Kirby Bauer ditunjukkan dengan terbentuknya zona bening dari antibiotik doksisiklin, gentamisin, dan tiamfenikol. Bakteri E.coli yang diisolasi dari ayam pedaging resisten terhadap antibiotik doksisiklin, kurang peka (intermediate) terhadap antibiotik gentamisin, dan sensitif terhadap antibiotik tiamfenikol.

Perbedaan Cara Penyebaran Suspensi terhadap Jumlah Bakteri pada Media Eosin Methylene Blue Agar

Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam rangka pengawasan mutu secara biologis dilakukan pengujian laboratorium untuk mengisolasi dan melakukan jumlah penghitungan jumlah bakteri patogen (enumerasi). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan cara penyebaran suspensi dengan menggunakan batang gelas bengkok, mikropipet dan ose terhadap jumlah bakteri yang terhitung pada media Eosin Methylene Blue Agar. Sampel diambil dari air susu kambing yang kemudian dihitung jumlah bakteri-nya dengan tiga kelompok perlakuan yaitu menggunakan batang gelas bengkok, mikropipet dan ose. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan sidik ragam, bila hasilnya berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan. Jumlah bakteri yang terhitung dengan menggunakan batang gelas bengkok, mikropipet dan ose per ml berturut-turut mengandung 9.722.222 cfu, 68.944.444 cfu dan 116.444.444 cfu. Dengan sidik ragam, perlakuan cara penyebaran dengan menggunakan mikropipet dan ose berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap jumlah bakteri yang terhitung dengan menggunakan batang gelas bengkok. Setelah di uji dengan uji Duncan, rata-rata jumlah bakteri yang terhitung dengan menggunakan mikropipet dan ose lebih tinggi sangat nyata (P<0,01) dibandingkan dengan menggunakan batang gelas bengkok, sedangkan rata-rata jumlah bakteri yang terhitung menggunakan ose lebih tinggi sangat nyata (P<0,01) dibandingkan dengan menggunakan mikropipet. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan cara penyebaran suspensi dengan menggunakan batang gelas bengkok,mikropipet dan ose terhadap jumlah bakteri pada media EMBA. Penyebaran bakteri menggunakan ose lebih banyak (P<0,01) dibandingkan mikropipet dan batang gelas bengkok. Sedangkan penyebaran bakteri menggunakan mikropipet lebih banyak (P<0,01) dibandingkan dengan gelas bengkok.

Pola Kepekaan E. coli Yang Diisolasi Dari Feses Burung Kicau Penderita Diare Terhadap Antibiotik Sulfametoksazol, Ampisilin, Dan Oksitetrasiklin (SENSITIVITY PATTERN OF E. coli ISOLATED FROM BIRD CHIRPING WITH DIARRHEA FECES AGAINST ANTIBIOTICS)

Buletin Veteriner Udayana Vol. 7 No. 2 Agustus 2015
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine of Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims were to determine the sensitivity pattern of Escherichia coli bacteria isolatedfrom the feces of birds chirping with diarrhea against antibiotic sulfamethoxazole, ampicillin, andoksitetrasiklin in Satria and Sanglah bird market.The results showed that all 30 isolates from birdfaeces were examined, sulfamethoxazole sensitive 3.3%, intermediate 13.3%, and resistant 83.3%.In oxytetracycline 3.3% sensitive, 40% intermediate, and 56.7% resistant . While sensitive to ampicillin 13.3%, 23.3% intermediate, and 63.3% resistant.

Pola Kepekaan E coli Yang Diisolasi Dari Feses Broiler Penderita Diare Terhadap Sulfametoksazol, Ampisilin Dan Oksitetrasiklin (SENSITIVITY PATTERN OF E. coli ISOLATED FROM PATIENTS WITH DIARRHEA BROILER FAECES AGAINST SULFAMETOKSAZOLE, AMPICILLIN

Buletin Veteriner Udayana Vol. 7 No. 2 Agustus 2015
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine of Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Broiler merupakan jenis ayam yang paling cepat berproduksi dan dagingnya memiliki mutu yang tinggi dibandingkan dengan jenis ayam ras lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuikepekaan bakteri Escherichia coli (E. coli) sebagai penyebab kolibasilosis terhadapsulfametoksazol, ampisilin, dan oksitetrasiklin pada peternakan broiler di Banjar Tangkub, DesaPayangan. Bakteri E. coli diisolasi dari 30 sampel feses broiler penderita diare diuji kepekaanyadengan menggunakan metode Kirby-Bauer dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa sebanyak 25 isolat resisten (83,33%), satu isolat intermediet dan sisanyaempat isolat sensitif terhadap antibiotika oksitetrasiklin. Sedangkan terhadap antibiotika ampisilin,sejumlah 24 isolat (86,67%) menunjukkan resisten dan sisanya yakni empat isolat sensitif terhadapantibiotika tersebut. Terhadap sulfametoksazol, kuman E coli yang diisolasi menunjukkan 29 isolatresisten (96,67%) dan satu isolat sensitif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwapenggunaan sulfametoksazol, ampisilin dan oksitetrasiklin sebaiknya dihindari. 

Dinamika Bisnis Veteriner Peternakan Kambing Perah di Desa Sepang Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng Tahun 2014

Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (2) 2016
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar keuntungan yang diperoleh dari peternakan kambing perah di Desa Sepang Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng. Variabel yang digunakan adalah input (biaya produksi) dan output (hasil produksi). Variabel operasional dari penelitian ini mencakup analisis produksi, ekonomi veteriner, dan peternakan kambing perah. Data dikumpulkan dengan cara wawancara yang dilakukan kepada setiap responden dengan menggunakan kuesioner atau daftar pertanyaan sebagai panduan. Jumlah responden yang diwawancarai adalah sebanyak 21 peternak yang merupakan anggota dari kelompok tani ternak Sumber Rejeki di Desa Sepang Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng. Metode yang digunakan adalah metode analisa deskriptif melalui survei dan observasi. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer yang diperoleh dari hasil wawancara menggunakan kuesioner dengan responden. Disimpulkan bahwa peternakan kambing perah di Desa Sepang Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng pada tahun menghasilkan pendapatan pengelola per ekor per bulan rata-rata Rp 277.500.