Herry Garna
Department of Child Health, Faculty of Medicine, Padjadjaran University, Bandung

Published : 62 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Status Gizi Berdasarkan Subjective Global Assessment Sebagai Faktor yang Mempengaruhi Lama Perawatan Pasien Rawat Inap Anak Meilyana, Fina; Djais, Julistio; Garna, Herry
Sari Pediatri Vol 12, No 3 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.952 KB) | DOI: 10.14238/sp12.3.2010.162-7

Abstract

Latar belakang. Length of stay (LOS) adalah masa rawat seorang pasien di rumah sakit dihitung sejakpasien masuk rumah sakit dan keluar rumah sakit, yang dipengaruhi oleh faktor usia, komorbiditas, hipermetabolisme,dan kegagalan organ serta defisiensi nutrisi. Status gizi merupakan salah satu komponenyang mempengaruhi biaya perawatan, lama hari perawatan, dan kualitas hidup. Salah satu cara penilaianstatus gizi adalah subjective global assessment (SGA) yang terdiri dari anamnesis dan pemeriksaan fisis yangmencerminkan perubahan metabolik dan fungsional.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh status gizi berdasarkan SGA terhadap lama perawatanpasien rawat inap anak.Metode. Penelitian analitik observasional dengan rancangan kohort prospektif dilakukan selama periodeFebruari - Juni 2010 terhadap 311 pasien yang menderita infeksi akut usia 1 bulan 14 tahun yang dirawatdi ruang perawatan anak kelas III RSUP dr. Hasan Sadikin. Penilaian status gizi berdasarkan SGA dikelompokanmenjadi SGA A (gizi baik), SGA B (malnutrisi ringan + sedang, dan SGA C (malnutrisi berat).Hasil. Berdasarkan penilaian status gizi dengan SGA berturut-turut didapatkan SGA A, SGA B, dan SGAC sebesar 114 (36,7%), 98 (31,5%), dan 99 (31,8%). Dengan menggunakan uji chi square, didapatkanperbedaan lama perawatan yang bermakna (p<0,001) pada kelompok subjek SGA C dibandingkan kelompokSGA B dan SGA A. Berdasarkan analisis multivariat regresi logistik, kelompok SGA C berisiko 2,205 kalilebih tinggi untuk menjalani perawatan lebih lama (RR: 2,205; 95% CI: 1,151-4,227).Kesimpulan. Penelitian ini menunjukkan bahwa status gizi yang dinilai dengan SGA terbukti berpengaruhterhadap lama hari perawatan dan dapat dianjurkan untuk digunakan dalam penilaian status gizi.
Bula Hemoragik dengan Komplikasi Perforasi Gaster Sebagai Manifestasi Klinis Purpura Henoch-Schonlein yang Tidak Biasa pada Anak Setiabudiawan, Budi; Ghrahani, Reni; Sapartini, Gartika; Sari, Nur Melani; Garna, Herry
Sari Pediatri Vol 13, No 4 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.4.2011.257-64

Abstract

Purpura Henoch-Schonlein (PHS) merupakan vaskulitis pada pembuluh darah kecil tersering terjadi pada anak. Penyakit ini ditandai dengan purpura palpablenontrombositopenia disertai salah satu gejala nyeri perut, artritis atau atralgia, glomerulonefritis, dan hasil biopsi jaringan berupa gambaran vaskulitis leukositoklastik. Bula hemoragik disertai edema jaringan subkutan merupakan gambaran yang tidak umum pada PHS dan sering terlewatkan. Manifestasi klinis vesikobulosa PHS sering ditemukan pada pasien dewasa, 16%–60% kasus, sedangkan pada anak kurang dari 2% kasus. Walaupun PHS secara tipikal merupakan penyakit selflimiting, tetapi komplikasi serius dapat terjadi. Perforasi gaster sangat jarang dilaporkan sebagai komplikasi PHS. Kami melaporkan 2 kasus PHS dengan manifestasi kulit yang berat, yaitu timbulnya bula hemoragik disertai dengan perforasi gaster. Pada kedua kasus dilakukan tindakan operatif dengan keluaran yang berbeda, pada kasus pertama pasien dipulangkan dalam kondisi baik pascaoperasi setelah dilakukan laparatomi eksplorasi, walaupun masih menderita nefritis. Sedangkan pasien kedua meninggal setelah tindakan diagnostic peritoneal lavagedisebabkan sepsis berat. Simpulan, bula hemoragik dapat dipertimbangkan sebagai prediktor komplikasi perforasi gaster pada PHS yang akan meningkatkan kewaspadaan dalam tata laksana PHS
Perbandingan Status Besi pada Remaja Perempuan Obes dengan Gizi Normal Afrianti, Dessy; Garna, Herry; Idjradinata, Ponpon
Sari Pediatri Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.2.2012.97-103

Abstract

Latar belakang. Prevalensi obesitas pada remaja cenderung meningkat. Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara obesitas dan terjadinya anemia defisiensi besi. Anemia defisiensi besi berhubungan dengan kebutuhan yang meningkat sejalan dengan peningkatan berat badan, serta pola makan yang tidak seimbang pada obesitas. Tujuan.Mengukur dan membandingkan status besi yang dinilai berdasarkan pemeriksaan hemoglobin (Hb),reticulocyte hemoglobin content(CHr), dan feritin serum pada remaja perempuan obes dan gizi normal serta penanggulangan sedini-dininya pada remaja dengan defisiensi besi.Metode. Penelitian studi analitik cross-sectionaldi SMP 14, SMP 34, dan SMA 24 Bandung pada bulan November 2011. Subjek penelitian terdiri atas remaja perempuan sehat yang memiliki status gizi normal dan obes berdasarkan standar WHO reference2007 yang diambil secara acak sebanyak 25 orang tiap kelompok. Analisis data menggunakan uji nonparametrik dengan uji Mann Whitney untuk membandingkan status besi yang dinilai berdasarkan pemeriksaan Hb, CHr,dan feritin serum antara kelompok obes dan gizi normal. Dilakukandietary recalluntuk mengetahui asupan makanan pada kedua kelompok penelitian. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p<0,05.Hasil. Kadar Hb, CHr, dan feritin serum antara kelompok obes dan gizi normal tidak menunjukkan perbedaan (p>0,05). Obesitas lebih banyak terjadi pada remaja dengan status sosioekonomi lebih tinggi (p=0,039). Terdapat perbedaan asupan protein hewani, protein nabati, besi, dan vitamin C antara remaja perempuaan obes dengan gizi normal yang memiliki nilai p berturut-turut p<0,001; p<0,019; p=0,026 dan p=0,032.Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan status besi remaja perempuan obes dengan gizi normal. Asupan makanan mempengaruhi status besi pada remaja obes dan gizi normal.
Perbandingan Penggunaan Pediatric Index of Mortality 2 (PIM2) dan Skor Pediatric Logistic Organ Dysfunction (PELOD), Untuk memprediksi kematian pasien sakit kritis pada anak Marlina, Linda; S, Dadang Hudaya; Garna, Herry
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.551 KB) | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.262-7

Abstract

Latar belakang. Penilaian derajat kesakitan (severity score of illness) telah dikembangkan sejalan dengan meningkatnyaperhatian terhadap evaluasi dan pemantauan pelayanan kesehatan. Skor yang telah dikembangkanuntuk anak adalah pediatric logistic organ dysfunction, pediatric risk of mortality, dan pediatric index ofmortality.Tujuan. Membandingkan ketepatan pediatric index of mortality-2 dengan skor pediatric logistic organdysfunction dalam memprediksi kematian pasien sakit kritis pada anak.Metode. Rancangan observasi longitudinal dengan subjek penelitian anak yang menderita sakit kritis, dirawatdi Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSHS pada bulan Februari-Mei 2008. Dilakukan anamnesis, pemeriksaanfisis, dan laboratorium untuk mendapatkan pediatric index of mortality 2 dan skor pediatric logistic organdysfunction. Analisis statistik dengan menggunakan receiver operating characteristic (ROC) untuk menilaidiskriminasi dan Hosmer-Lemeshow goodness-of-fit untuk menilai kalibrasi.Hasil. Didapatkan 1215 anak berobat ke Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Hasan Sadikin Bandung, 120di antaranya merupakan pasien kritis. Pediatric index of mortality 2 memberikan hasil diskriminasi yanglebih baik (ROC 0,783; 95% CI 0,688–0,878) dibandingkan dengan pediatric logistic organ dysfunction(ROC 0,706; 95% CI 0,592–0,820). Pediatric index of mortality-2 memberikan hasil kalibrasi yang baik(Hosmer-Lemeshow goodness-of-fit test p=0,33; SMR 0,85) dibandingkan pediatric logistic organ dysfunction(p=0,00; SMR 1,37). PIM2 dan skor PELOD mempunyai korelasi positif dihitung dengan menggunakanSpearman’s correlation, r=0,288 (p=0,001).Kesimpulan. Pediatric index of mortality-2 memiliki kemampuan diskriminasi dan kalibrasi lebih baikdibandingkan dengan pediatric logistic organ dysfunction.
Perbandingan Fungsi Kognitif Bayi Usia 6 Bulan yang Mendapat dan yang Tidak Mendapat ASI Eksklusif Novita, Lony; Gurnida, Dida A.; Garna, Herry
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.429-34

Abstract

Latar belakang. Salah satu faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak adalah faktor nutrisi terutamapemberian ASI eksklusif. Hubungan antara ASI eksklusif dan perkembangan kognitif telah diketahui padaanak usia sekolah tetapi pada bayi belum banyak diketahui dan belum ada penelitian yang mengukur IQpada bayi khususnya di Indonesia.Tujuan penelitian. Membandingkan fungsi kognitif bayi berusia 6 bulan yang diberi ASI eksklusi danbukan ASI eksklusif.Metode. Penelitian cohort ini dilakukan pada bulan Mei-Juli 2007. Subjek penelitian bayi usia 4 bulanyang mendapat ASI eksklusif dan noneksklusif yang bertempat tinggal di lingkungan Puskesmas CigondewahBandung diikuti sampai usia 6 bulan. Perkembangan kognitif dinilai dengan skala Griffith dan dikonversikanmenjadi nilai IQ. Dampak ASI eksklusif terhadap perkembangan kognitif dianalisis dengan uji t.Hasil. Dari 86 bayi yang diteliti, 8 bayi drop out, 39 ASI eksklusif dan 39 bayi noneksklusif. Tidak adaperbedaan karakteristik subjek dan karakteristik orangtua subjek. Rata-rata IQ bayi ASI eksklusif 128,3(8,8), rentang IQ bayi ASI eksklusif 112-142 sedangkan bayi ASI noneksklusif rata-rata 114,4 (12,1), rentangIQ 82-137. Kelompok ASI eksklusif IQ di atas rata-rata 32 bayi dan di bawah rata-rata 7 bayi sedangkan ASInoneksklusif IQ di atas rata-rata 19 bayi dan di bawah rata-rata 20 bayi. Pemberian ASI noneksklusif berpeluangterjadinya IQ di bawah rata-rata 1,68 kali lebih besar dibandingkan di atas rata-rata (x2=9,57; p=0,002).Kesimpulan. Dari aspek fungsi kognitif pemberian ASI eksklusif memberikan hasil lebih baik dibandingdengan yang tidak mendapat ASI eksklusif
Perbedaan Status Besi Bayi Normal yang Mendapat Air Susu Ibu Eksklusif dengan Susu Formula Standar Giyantini, Henne; Idjradinata, Ponpon; Garna, Herry
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.127-32

Abstract

Latar Belakang.Anemia defisiensi besi (ADB) pada anak dapat menyebabkan gangguan kognitif, psikomotor, dan tingkah laku menetap meskipun anemia dikoreksi. Pada usia 4−6 bulan, cadangan besi menurun, pertumbuhan cepat dan asupan besi rendah menyebabkan ADB.Tujuan.Menganalisis perbedaan status besi bayi yang mendapat ASI eksklusif dengan susu formula standar (SFS) dan mengetahui waktu pemberian suplemen besi yang tepat. Metode.Penelitian analitik potong-lintang di RSUD Ujungberung dan Cibabat serta RSKIA Astanaanyar Bandung periode Juni−Juli 2012, pada bayi 4, 6 dan 9 bulan, lahir cukup bulan, berat lahir >2.500 g, sehat dan mendapat ASI eksklusif atau SFS. Dilakukan pemeriksaan Hb, MCV, Fe serum, TIBC, dan feritin serum. Uji Mann-Whitney dilakukan untuk mengetahui perbedaan status besi.Hasil.Subjek 60 bayi. Pada kelompok ASI eksklusif dan SFS 4, 6, dan 9 bulan Hb berturut-turut 10,57; 10,86; 9,64 dan 10,77; 11,22; 11,74 g/dL; TIBC 294,3; 265,4; 339 dan 297,5; 268; 317,8 µg/dL; MCV 70,3; 72,9; 62,89 dan 77,57; 72,82; 73,39 fl; serta feritin serum 81,1; 131,7; 26,5 dan 120,2; 56; 45,9 µg/L berbeda bermakna (p=0,017; p=0,049; p<0,001; p<0,001). Fe serum 44,7; 43,1; 26,4 µg/dL dan 33,9; 35,9; 40,8 µg/dL tidak bermakna (p=0,202). Bayi yang mengalami DB dan ADB pada usia 9 bulan lebih banyak terjadi pada bayi yang mendapat ASI eksklusif (p=0,020). Enam dari 10 bayi mengalami DB dan ADB pada usia 4 bulan pada kedua kelompok.Kesimpulan.Status besi bayi normal yang mendapat ASI eksklusif lebih rendah daripada bayi yang mendapat SFS. Rekomendasi pemberian suplemen besi mulai usia 4 bulan, perlu ditinjau ulang.
Hubungan antara Kadar Albumin dan Kalsium Serum pada Sindrom Nefrotik Anak Garniasih, Dina; Djais, Julistio T. B.; Garna, Herry
Sari Pediatri Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.2.2008.100-5

Abstract

Latar belakang. Salah satu komplikasi sindrom nefrotik (SN) adalah gangguan metabolisme mineral, yaitu hipokalsemia, yang dapat menyebabkan tetani, gangguan pembentukkan tulang, dan penyakit tulang metabolik. Penyakit SN merupakan kelainan glomerulus yang ditandai dengan proteinuria, hipoalbuminemia, dan edema. Pada proteinuria, protein-binding berukuran sedang ikut terbuang. Setengah jumlah kalsium total serum berikatan dengan protein (terutama albumin), akibatnya hipoalbuminemia yang terjadi pada anak SN dapat menyebabkan hipokalsemia.Tujuan. Penelitian untuk mengetahui hubungan antara kadar albumin dan kalsium serum pada anak SN.Metode. Penelitian dengan rancangan cross-sectional terhadap 43 anak SN yang memenuhi kriteria inklusi dan diambil secara consecutive admission yang berobat/dirawat di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS dr. Hasan Sadikin Bandung mulai bulan Juli sampai September 2007 kemudian dilakukan pemeriksaan kadar albumin dan kalsium serum. Untuk melihat keeratan hubungan antara kadar albumin dan kalsium serum dilakukan analisis dengan menggunakan uji korelasi Pearson, serta untuk melihat bentuk hubungannya dilakukan analisis regresi linier.Hasil. Subjek terdiri dari 33 (77%) anak laki-laki dan 10 (23%) anak perempuan, berusia rata-rata 6,80 (SB 3,39) tahun. Diperoleh hasil rata-rata kadar albumin serum 1,50 (SB 0,377) g/dL, dan kalsium serum 7,27 (SB 0,772) mg/dL. Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan korelasi (r=0,547) yang sangat bermakna (p=0,000) antara kadar albumin dan kalsium serum. Hasil analisis regresi menunjukkan hubungan linier yang positif antara kadar albumin (x) dan kalsium serum (y), dengan persamaan Ý = 5,59 + 1,12 x.Kesimpulan. Semakin menurun kadar albumin serum pada anak yang menderita sindrom nefrotik, semakin menurun kadar kalsium serum.
Patofisiologi Infeksi Bakteri pada Kulit Garna, Herry
Sari Pediatri Vol 2, No 4 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.4.2001.205-9

Abstract

Kulit merupakan barier penting untuk mencegah mikroorganisme dan agen perusaklain masuk ke dalam jaringan yang lebih dalam. Kelainan kulit yang terjadi dapat langsungdisebabkan mikroorganisme pada kulit, penyebaran toksin spesifik yang dihasilkanmikroorganisme, atau penyakit sistemik berdasarkan proses imunologik. Sistem imunberkembang dengan fungsi yang khusus dan bekerja di kulit. Sel Langerhans, keratinosit,sel endotel, dendrosit dan sel lainnya semua ikut berperan dalam skin associated lymphoidtissue (SALT). Mediator yang berperan antara lain IL-1, IL-2, IL-3, produk sel mast,limfokin dan sitokin lain yang sebagian besar dihasilkan oleh keratinosit.
Kesetaraan Hasil Skrining Risiko Penyimpangan Perkembangan Menurut Cara Kuesioner Praskrining Perkembangan (KPSP) dan Denver II pada Anak Usia 12-14 Bulan dengan Berat Lahir Rendah Kadi, Fiva A; Garna, Herry; Fadlyana, Eddy
Sari Pediatri Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.387 KB) | DOI: 10.14238/sp10.1.2008.29-33

Abstract

Latar belakang. Penilaian perkembangan pada anak penting dilakukan, terutama sampai usia 1 tahununtuk deteksi dini, agar bila ditemukan kecurigaan penyimpangan dapat dilakukan stimulasi dan intervensidini sebelum terjadi kelainan. Depkes RI mengeluarkan revisi buku deteksi dini tumbuh kembang untukidentifikasi dini perkembangan di tingkat kecamatan berupa kuesioner praskrining perkembangan (KPSP)yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan ataupun nonkesehatan terlatih.Tujuan. Penelitian ini membandingkan kesetaraan hasil antara KPSP dan Denver II dalam mendeteksikecurigaan penyimpangan perkembangan.Metode. Penelitian dilakukan dengan metode evaluatif komparatif dan rancangan cross sectional, pada anakusia 12–14 bulan dengan berat lahir rendah di puskesmas Garuda Bandung pada bulan Februari sampaiMaret 2008. Dengan menggunakan metode KPSP skrining dilakukan oleh kader kesehatan terlatih kemudiandibandingkan dengan Denver II oleh dokter, dan dinilai kesetaraan dari dua hasil pemeriksaan tersebutmenggunakan perhitungan coefficient of agreement Kappa.Hasil. Delapan puluh lima subjek penelitian diperiksa status perkembangan oleh 10 orang kader kesehatan(dipilih random dan lolos uji inter dan intra-observer) kemudian oleh 2 dokter. Dari KPSP didapatkansebanyak 82,4% normal dan 17,6% curiga terganggu, menurut Denver II didapatkan sebanyak 77,6%normal dan 22,4% curiga terganggu. Nilai sensitifitas dan spesifisitas untuk KPSP dalam penelitian inimasing-masing adalah 95% dan 63%, dengan nilai Kappa 0,552 dan p<0,0001.Kesimpulan. Pemeriksaan KPSP setara moderate dengan Denver II dan dapat menjadi alat deteksi dini ditingkat Posyandu. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada usia dan tempat yang lebih bervariasi sertadengan jumlah kader yang lebih besar.
Imunogenisitas dan Keamanan vaksin Tetanus Difteri (Td) pada Remaja sebagai salah satu upaya mencegah Reemerging Disease di Indonesia Fadlyana, Eddy; Rusmil, Kusnandi; Garna, Herry; Sumarman, Iwin; Adi, Soenarjati Soedigo; Bachtiar, Novilia Sjafri
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.141-9

Abstract

Latar belakang. Di Indonesia berpotensi terjadi reemerging disease difteri akibat belum ada program imunisasi ulang yang berkesinambungan pada remaja.Tujuan. Menilai imunogenisitas dan keamanan vaksin tetanus difteri (Td) yang diberikan sebagai imunisasi ulang pada remaja.Metode. Uji klinis randomized double-blind controlled dilakukan terhadap 296 pelajar remaja sehat di kota Bandung, usia 10–18 tahun, pada September 2007–September 2008. Didapatkan 296 remaja sebagai subjek penelitian, dibagi dalam 2 kelompok secara acak sederhana. Kelompok I mendapat vaksin Td 0,5 mL intramuskular. Kelompok II mendapat vaksin TT sebagai kontrol. Pemeriksaan kadar antibodi anti difteri dan anti tetanus dilakukan sebelum dan 1 bulan setelah imunisasi menggunakan teknik enzyme-linked immunosorbent assays (ELISAs). Data keamanan dikumpulkan sampai 1 bulan pasca imunisasi menggunakan buku harianHasil. Konsentrasi antibodi seroproteksi (>0,1 IU/mL) terhadap difteri dan tetanus mencapai 93,2% dan 100,0%. The geometric mean titer (GMT) terhadap difteri meningkat dari 0,0618 IU/mL menjadi 0,7583 IU/mL (p<0,001), dan terhadap tetanus meningkat dari 0,4413 IU/mL ke 14,4054 IU/mL (p<0,001). Nyeri pada tempat suntikan terjadi pada 20,3% kelompok Td dan 18,2% pada TT (p=0,028). Demam >37,5°C hanya terjadi pada sedikit subjek dari kedua kelompok (rentang Td: 0,7-4,7%; rentang TT: 3,4–6,7%). Tidak terdapat reaksi kejadian ikutan pasca imunisasi serius dan dapat ditoleransi dengan baik.Kesimpulan. Imunisasi ulang Td meningkatkan kadar antibodi protektif terhadap difteri dan tetanus, serta aman diberikan pada remaja.
Co-Authors Achmad Surjono, Achmad Adjat Sedjati Rasyad Agnes Rengga Indrati Agus Firmansyah Ahmad Suardi, Ahmad Alex Chairulfatah Ani Melani Maskoen Aniceto Cardoso Barreto, Aniceto Cardoso Anita Deborah Anwar Ardini Saptaningsih Raksanagara, Ardini Saptaningsih Ari Indra Susanti, Ari Indra Arief Budiman Aulia Fitri Swity, Aulia Fitri Azhali M. S., Azhali M. Bachti Alisjahbana Budi Setiabudiawan Cissy B. Kartasasmita Dadang Hudaya S, Dadang Hudaya Dany Hilmanto Dedi Rachmadi Dessy Afrianti, Dessy Dida A. Gurnida Dida Akhmad Gurnida Dina Garniasih, Dina Djatnika Setiabudi Dwi Prasetyo Dzulfikar D. Lukmanul Hakim Eddy Fadlyana Endah Pujiastuti, Endah Fina Meilyana Firman F. Wirakusumah Firman Wirakusumah, Firman Fiva A Kadi, Fiva A Gartika Sapartini Harefa, Jernihati Krisniat Harry Iskandar, Harry Heda Melinda D. Nataprawira Henne Giyantini, Henne Herman, Herry Hidayat Wijayanegara Hudaya, Dadang Husin, Farid Ida Parwati Irawan, Gaga Irvan Afriandi Ismawaty, Nenden Iwin Sumarman Iwin Suwarman Julistio Djais, Julistio Julistio T. B. Djais, Julistio T. B. Julistio T.B. Djais, Julistio T.B. Junia, Jujun Kamila, Nurul Auliya Kusnandi Rusmil Laili, Fauzia Leri Septiani Linda Marlina, Linda Lony Novita, Lony M.S. Azhali Maryamah, Aam Meijerink, Hinta Mohamad Yanuar Anggara Nanan Sekarwana Novi, Tania Novila Sjafri Bachtiar Novilia Sjafri Bachtiar Nur Melani Sari, Nur Melani Nurakilah, Heni Okinarum, Giyawati Yulilania Ponpon Idjradinata Ponpon S Idjradinata R.M Ryadi Fadil, R.M Ryadi Rahmat Budi Reinout van Crevel Rengga Indrati, Agnes Reni Ghrahani Retno Saraswati Sitomorang, Ingrid Rita Sjarif Hidajat, Sjarif Soenarjati Soedigo Adi Soepriadi, Myrna Sri Endah Rahayuningsih Sugih, Siti Sunjaya, Deni K. Susiarno, Hadi Susiarno, Hadi Sutisna, Ma'mun Tina Ramayanthi, Tina Tisnasari Hafsah, Tisnasari Titik Respati Tono Djuwantono van der Venn, Andre Widajanti, Endang Wiwin Winiar