Herry Garna
Department of Child Health, Faculty of Medicine, Padjadjaran University, Bandung
Articles
37
Documents
Scoring System for Helicobacter pylori Infection in Children with Recurrent Abdominal Pain

Journal of the Indonesian Medical Association Vol. 62 No. 8 August 2012
Publisher : Journal of the Indonesian Medical Association

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Helicobacter pylori (H. pylori) infection is estimated to strike half the world’s population. However, the diagnostic tool for H. pylori infection remains expensive and scarce. Thus, a simple diagnostic method is required in places with limited resources. This study aims to assess the diagnostic values of scoring system for H. pylori infection in children presenting with recurrent abdominal pain (RAP). Methods: This is a diagnostic study with a cross sectional design on 196 children aged 6-18 years who presented with RAP. This study was conducted in Bandung, January-November 2009. The scoring system was developed based on a questionnaire on complaints related to H. pylori infection. As the gold standard, a non-invasive examination with high accuracy was used, a serological kit BioM pylori (Mataram local antigen).The diagnostic values were assessed by the area under the receiver operating characteristic (ROC) curve. Result: The prevalence of H. pylori infection in children presenting with RAP is 54.6% (95% CI: 47.6 - 61.6%). After performing bivariate and multivariate analyses, 11 questions were used on the final questionnaire. Based on the ROC curve, a cut-off point of score > 30 was obtained, with a  88.5% sensitivity and 88.2% specificity. Conclusion: The scoring system can be used to predict H.pylori infection in children aged 6-18 years who presented with RAP. Key words: Helicobacter pylori, recurrent abdominal pain, scoring system, children

Tricuspid Annular Plane Systolic Excursion pada Bayi Kurang Bulan dan Cukup Bulan

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bayi kurang bulan adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Dibandingkan dengan bayi yang lahir normal, bayi kurang bulan memang cenderung bermasalah. Dengan prematurnya masa gestasi, maka dapat menyebabkan ketidakmatangan pada semua sistem organ, termasuk organ kardiovaskular. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui fungsi ventrikel kanan yang diukur dengan metode tricuspid annular plane systolic excursion (TAPSE) serta fungsi ventrikel kiri dengan metode fraksi ejeksi dan fraksi pemendekan yang dilakukan dengan ekokardiografi pada bayi kurang bulan. Subjek penelitian ini bayi cukup bulan dan kurang bulan yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu bayi sesuai masa kehamilan berusia 3–30 hari. Penelitian merupakan penelitian deskriptif analitik dengan rancangan potong lintang yang dilakukan di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Dr. Hasan Sadikin Bandung, selama Juli–Oktober 2010 dengan analisis statistik menggunakan perhitungan uji t, korelasi rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan antara fungsi ventrikel kanan yang diukur dengan metode TAPSE bayi kurang bulan dan bayi cukup bulan (p=0,006). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara fraksi ejeksi bayi kurang bulan dan cukup bulan (p=0,22) dan fraksi pemendekan rata-rata pada bayi kurang bulan dan bayi cukup (p=0,20). Simpulan penelitian ini, ditemukan perbedaan fungsi ventrikel kanan yang diukur dengan TAPSE pada bayi kurang bulan lebih rendah dibandingkan dengan bayi cukup bulan. [MKB.2011;43(4):178–82].Kata kunci: Bayi cukup bulan, bayi kurang bulan, ekokardiografi, fungsi ventrikel kanan, TAPSETricuspidAnnular Plane Systolic Excursion in Preterm and Term BabiesA preterm infant is a baby born with gestational age less than 37 weeks. Preterm babies tend to have problems compared to normal ones. Premature gestational age might result in immaturity of all organ systems of the body including cardiovascular organs. The aim of this study was to find out the right ventricle function by tricuspid annular plane systolic excursion (TAPSE) and left ventricle by ejection fraction and shortening fraction using echocardiography on preterm babies. The subject of this study were term and preterm babies who fulfilled the inclusion criteria: appropiate gestational age babies 3–30 days old. This was an analytic descriptive study with cross-sectional method held in Department of Child Health Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung during July–October 2010, and statistical analysis using t–test Spearman rank correlation test. The result of the study showed that the right ventricle function examined by TAPSE method was different on preterm compared to term babies(p=0.006). No significant difference was found in the ejection fraction between preterm and term babies (p=0.22) and so did the shortening fraction (p=0.20). It was concluded that there is a difference in the right ventricle function by TAPSE method between preterm (lower) and term babies. [MKB. 2011;43(4):178–82].Key words: Echocardiography, preterm baby, right ventricle function, TAPSE, term baby

Karakteristik Dengue Berat yang Dirawat di Pediatric Intensive Care Unit

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Virus dengue dapat menyebabkan infeksi pada semua kelompok usia dengan manifestasi klinis beragam mulai dari asimtomatik, ringan, sampai berat yang biasanya merupakan kasus fatal. Dengue berat ditandai dengan kebocoran plasma, hemokonsentrasi, dan gangguan hemostasis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita dengue berat yang dirawat di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RS Dr. Hasan Sadikin Bandung sejak Januari 2009 sampai Desember 2010. Penelitian dilakukan secara retrospektif deskriptif berdasarkan data dari rekam medis penderita. Sebanyak 21 penderita dengue berat dirawat selama 2 tahun, 15/21 penderita perempuan dan 6/21 laki-laki, serta 5/21 anak meninggal dunia selama dirawat dengan sebab kematian tersering sindrom syok dengue (SSD) dan kogagulopati intravaskular diseminata (KID). Sebagian besar penderita berusia 1−5 tahun dengan status gizi baik. Hepatomegali ditemukan pada semua penderita dengan hematokrit rata-rata 38%. Pada penelitian ini, manifestasi klinis dengue berat berupa SSD (15/21), KID (11/21), ensefalopati (6/21), efusi pleura (5/21), miokarditis (3/21), serta acute respiratory distress syndrome (3/21). Simpulan, dengue berat lebih banyak didapatkan pada anak perempuan, usia 1–5 tahun, serta status gizi baik. Manifestasi klinis dengue berat yang dominan berupa syok, koagulasi intravaskular diseminata, dan ensefalopati. [MKB. 2012;44(3):147–51].Kata kunci: Dengue berat, karakteristik, pediatric intensive care unitCharacteristic of Severe Dengue Hospitalized in Pediatric Intensive Care UnitDengue viral infections affect all age groups and produce a spectrum of clinical illness that ranges from asymptomatic to severe and occasionally fatal disease. Severe dengue characterized by plasma leakage, hemoconcentration, and hemostatic disorder. The aim of this study was to know the characteristic of severe dengue patients admitted to Pediatric Intensive Care Unit (PICU) Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung during January 2009 to December 2010. This was a retrospective descriptive study based on the data collected from the medical records. Twenty-one severe dengue cases in two years were admitted 15/21 girls and 6/21 boys, and 5/21 of them died during hospitalization because of dengue shock syndrome (DSS) and disseminated intravascular coagulation (DIC). Most of them were 1−5 years old with good nutritional status. Hepatomegaly was found in all cases with mean hematocrit was 38%. In this research, the most manifestation of severe dengue were DSS (15/21), DIC (11/21), encephalopathy (6/21), pleural effusion (5/21), myocarditis (3/21), and acute respiratory distress syndrome (3/21). In conclusions, severe dengue are more common in girls, 1–5 years old, and well-nourished children. The most common clinical manifestation of severe dengue are shock, disseminated intravascular coagulation, and encephalopathy. [MKB. 2012;44(3):147–51]. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n3.85

Musim Hujan sebagai Faktor Risiko Kambuh pada Anak Penderita Sindrom Nefrotik Sensitif Steroid

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 3 (2011)
Publisher : Majalah Kedokteran Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekambuhan pada sindrom nefrotik sensitif steroid (SNSS) cukup sering terjadi. Faktor risiko kambuh antara lain adalah usia serangan pertama, atopi, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) karena virus, dan genetik. Mekanisme kambuh juga berkaitan dengan pelepasan interleukin yang dapat dicetuskan oleh kelembaban tinggi dan suhu rendah seperti yang terjadi pada musim hujan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah musim hujan dapat merupakan faktor risiko kambuh pada anak penderita SNSS. Penelitian dengan rancangan kohort prospektif ini dilakukan selama periode Oktober 2005–September 2006 di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan subjek penelitian penderita SNSS kambuh, berusia 1−14 tahun. Dilakukan wawancara serta dicatat waktu kambuh pada musim hujan (Oktober 2005–Maret 2006) dan kemarau (April–September 2006).Kriteria kambuh berdasarkan International Study of Kidney Disease in Children (ISKDC). Analisis statistik menggunakan uji perubahan McNemar. Faktor risiko kambuh ISPA dan riwayat atopi diuji dengan analisis multivariabel regresi logistik. Besar sampel berdasarkan rumus data berpasangan diperoleh sebesar 35. Terdapat 43 subjek terdiri atas 26 laki-laki dan 17 perempuan. Sebanyak 26 subjek kambuh pada musim hujan dan 7 subjek kambuh pada musim kemarau (X2=9,818; p=0,002; RR=3,71; 95% IK 2,6−9,8). Analisis multivariabel dengan regresi logistik yang mengikutsertakan faktor ISPA dan riwayat atopi tidak menunjukkan perbedaan kejadian kambuh pada musim hujan dan kemarau (p>0,05). Disimpulkan bahwa musim hujan merupakan faktor risiko terjadinya kambuh pada anak yang menderita SNSS. [MKB. 2011;43(3):112–6].Kata kunci: Kambuh, musim hujan, sindrom nefrotik sensitif steroidRainy Season as the Risk Factor of Relapse in Children with Steroid Sensitive Nephrotic SyndromeRelapse were common in children with steroid-sensitive nephrotic syndrome (SSNS). Risks of relapse were age at onset, atopic history, acute viral respiratory tract infection (ARI), and genetic. Releasing of interleukin is associated with relapse mechanism in nephrotic syndrome and may be precipitated by high humidity and low temperature as in rainy season. The aim of this study was to determine rainy season as the risk factor of relapse in SSNS. Other risk factors such as ARI and atopic history were also included. This cohort prospective studywas conducted of relapsing SSNS patients who fulfilled the criteria of International Study of Kidney Diseases in Children (ISKDC), aged 1−14 years. We recorded time of relapse in rainy season (October 2005–March 2006) and dry season (April–September 2006). Statistical analysis by McNemar and for ARI and atopic history by logistic multivariable regression. From statistical calculation minimal samples were 35. A total of 43 subjects (26 boys and 17 girls) fulfilled the inclusions criteria. Of these subjects, 26 relapsed in rainy season and 7 in dry seasons(X2=9.818, p=0.002, RR=3.71, 95% CI 2.6−9.8). Multivariable analysis with logistic regression revealed that ARI and atopic history had no association with relapses in both seasons (p>0.05). We conclude that rainy season is the risk factor for relapse of SSNS. [MKB. 2011;43(3):112–6].Key words: Rainy season, relapse, steroid-sensitive nephrotic syndrome

Laporan Kasus: Penyakit Kawasaki Atipikal

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit Kawasaki merupakan penyebab utama kelainan jantung dapatan yang sering ditemukan pada anak. Di Indonesia, penyakit ini masih sangat jarang didiagnosis karena dianggap masih jarang dan belum diketahui secara luas. Dua laporan kasus berikut merupakan laporan kasus anak perempuan dan laki-laki, masing-masing berusia 17 bulan dan 3 tahun. Keduanya datang dengan demam yang persisten lebih dari 5 hari dan hanya memenuhi 3 kriteria klasik penyakit Kawasaki, yakni mata merah dan disertai dengan perubahan mukosa bibir serta ekstremitas. Penderita kemudian didiagnosis sebagai penyakit Kawasaki atipikal. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan C-reactive protein dan laju endap darah disertai gambaran ekokardiografi yang normal. Kedua anak diberikan imunoglobulin intravena (IGIV) dengan dosis 2 gram/kgBB dosis tunggal dan aspirin dosis 80 mg/kgBB/hari. Penderita mengalami perbaikan setelah 1 hari mendapat terapi kombinasi tersebut. Disimpulkan bahwa pengobatan dengan kombinasi IGIV dan aspirin memberikan respons yang baik pada penyakit Kawasaki atipikal. [MKB. 2011;43(3):146–52].Kata kunci: Aspirin, imunoglobulin intravena, penyakit Kawasaki atipikal Case Reports: Atypical Kawasaki DiseaseKawasaki disease is the most common cause of acquired heart disease in children. In Indonesia the disease is rare to diagnosed, because of difficulty in diagnosis and not widely known. These were 2 case reports about a girl and a boy age 17 months and 3 years, who came with persistent fever more than 5 days and only fulfilled 3 criteria of Kawasaki disease, which are red eyes, changes in lips, mucose of oral and extremities. They were diagnosed as atypical Kawasaki disease. Laboratory examinations showed an increased of C-reactive protein and erythrocyte sedimentation rate with normal echocardiography. The patients were improved after treated with 2 grams per bodyweight of intravenous immunoglobulin (IVIG) and 80 mg per bodyweight of aspirin. The patients were better after one day combination therapy. In conclusion that atypical Kawasaki disease has good response to combination of IVIG and aspirin. [MKB. 2011;43(3):146–52].Key words: Aspirin, atypical Kawasaki disease, intravenous immunoglobulin

Imunogenisitas dan Keamanan Vaksin Tetanus Difteria (Td) pada Remaja sebagai Upaya Mencegah Reemerging Disease di Indonesia

Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia berpotensi terjadi reemerging disease difteria akibat belum adanya program imunisasi ulang yang berkesinambungan pada remaja. Untuk menilai imunogenisitas dan keamanan vaksin tetanus, difteria (Td) yang diberikan sebagai imunisasi ulang pada remaja, dilakukan uji klinis prospective, randomized double-blind controlled terhadap 296 pelajar remaja sehat di kota Bandung, usia 10–18 tahun, pada September 2007–September 2008. Sebanyak 296 remaja sebagi subjek penelitian, dibagi 2 kelompok secara acak sederhana. Kelompok I mendapat dosis suntikan 0,5 mL yang diberikan intramuskular. Kelompok II mendapat vaksin TT sebagai kontrol. Pemeriksaan darah dilakukan sebelum dan 1 bulan setelah imunisasi menggunakan teknik enzyme-linked immunosorbent assays (ELISAs). Data tentang keamanan dikumpulkan sampai 1 bulan sejak imunisasi menggunakan buku harian. Konsentrasi antibodi seroproteksi (0,1 IU/mL) terhadap difteria dan tetanus mencapai  93,2% and 100,0%. The geometric mean titer (GMT) terhadap difteria meningkat bermakna dari 0,0618 IU/mL ke 0,7583 IU/mL (p<0,001), dan terhadap tetanus meningkat bermakna dari 0,4413 IU/mL ke 14,4054 IU/mL (p<0,001). Nyeri pada tempat suntikan terjadi pada 20,3% kelompok Td dan 18,2% pada TT (p=0,028). Demam >37,5°C sedikit terjadi pada kedua kelompok (Rentang Td: 0,7-4,7%; Rentang TT: 3,4–6,7%). Tidak terdapat reaksi serius dan semua penerima vaksin dapat menerimanya dengan baik. Imunisasi ulang Td meningkatkan kadar immunoglobulin spesifik protektif terhadap difteria dan tetanus, serta aman diberikan pada remaja.

Perbedaan Kadar Platelet Activating Factor Plasma antara Penderita Demam Berdarah Dengue dan Demam Dengue

Majalah Kedokteran Bandung Vol 45, No 4 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manifestasi klinis infeksi virus dengue dapat berupa demam dengue atau keadaan yang lebih berat yaitu demam berdarah dengue. Patogenesis yang menerangkan hal tersebut belum jelas. Teori yang sering dikemukakan yaitu pada penyakit dengue berat terjadi peningkatan kadar mediator proinflamasi. Tujuan penelitian ini untuk melihat perbedaan kadar platelet activating factor plasma penderita demam berdarah dengue dengan demam dengue. Penelitian observasional dengan rancangan potong lintang dilakukan pada Januari–Februari 2013. Subjek penelitian adalah penderita dengue usia 1–14 tahun yang dirawat di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, RSUD Kota Bandung (Ujungberung), dan RSUD Kota Cimahi (Cibabat). Diagnosis dengue dikonfirmasi dengan pemeriksaan antigen nonstruktural-1 dan atau pemeriksaan serologis imunoglobulin M dan G. Sampel darah fase demam, kritis dan pemulihan diambil untuk pemeriksaan kadar platelet activating factor plasma menggunakan metode enzymelinked immunosorbent assay. Selama kurun waktu penelitian didapat 26 penderita dengue, terdiri atas 14 kasus demam dengue dan 12 demam berdarah dengue. Kadar platelet activating factor plasma pada fase kritis penderita demam berdarah dengue [541,45 (239,30–2.449,00)] pg/mL lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan penderita demam dengue [289,55 (149,50–961,50)] pg/mL; p=0,007. Simpulan, kadar platelet activating factor plasma pada fase kritis penderita demam berdarah dengue lebih tinggi daripada penderita demam dengue. [MKB. 2013;45(4):251–6]Kata kunci: Demam berdarah dengue, demam dengue, platelet activating factor The Difference of Platelet Activating Factor Plasma Level between Dengue Hemorrhagic Fever and Dengue Fever patientsDengue virus infection can manifest as dengue fever and, more severely, as dengue hemorrhagic fever. Their pathogenesis until now is not fully understood. One of the most favorable theories stated the presence of increasing titer of pro-inflammatory mediator in severe dengue. The aim of this study was to determine the difference of plasma platelet activating factor titer between dengue hemorrhagic fever and dengue fever patients. This observational study with cross sectional design was conducted during January–February 2013. Subjects were dengue patients, 1 to 14 years old, hospitalized at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung District Hospital (Ujungberung), and Cimahi District Hospital (Cibabat). Dengue cases were confirmed based on nonstructural-1 antigen and/or immunoglobulin M and G rapid test. Blood samples from febrile, critical and recovery phase were drawn for the examination of platelet activating factor titer using the enzyme-linked immunosorbent assay method. There were 26 dengue cases (14 as dengue fever and 12 as dengue hemorrhagic fever). Plasma platelet activating factor titer at the critical phase was significantly higher in dengue hemorrhagic fever patients [541.45 (239.30–2,449.00)] pg/mL compared to dengue fever patients [289.55 (149.50–961.50)] pg/mL; p=0.007. In conclusion, plasma platelet activating factor titer at the critical phase is higher in dengue hemorrhagic fever patients than in dengue fever patients. [MKB. 2013;45(4):251–6]Key words: Dengue hemorrhagic fever, dengue fever, platelet activating factor DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v45n4.172

Polimorfisme FokI, BsmI, ApaI, dan TaqI Gen Reseptor Vitamin D pada Kejadian Tuberkulosis Anak

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 4 (2010)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Faktor kuman saja tidak dapat menjadi faktor tunggal dalam kejadian TB. Varian polimorfisme gen reseptor vitamin D (RVD) dianggap penting hubungannya dengan kerentanan dan resistensi terhadap TB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran polimorfisme FokI, BsmI, ApaI, dan TaqI gen RVD terhadap kejadian TB anak. Penelitian observasional analitik dengan rancangan kasus kontrol ini dilakukan di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dan Rumah Sakit Umum Cibabat Cimahi sejak Mei 2008–Maret 2009. Sampel terdiri dari 42 anak TB (kelompok kasus) dan 42 anak non-TB (kelompok kontrol) yang memenuhi kriteria penelitian dan diambil secara consecutive sampling. Dilakukan pemeriksaan polimorfisme FokI, BsmI, ApaI, dan TaqI gen RVD. Analisis dengan uji Chi-kuadrat, uji Mann-Whitney, menghitung rasio Odds (OR) dan 95% CI. Kejadian polimorfisme FokI gen RVD pada kelompok kasus TB 66,7% dan kontrol 40,5% (p=0,016) dengan OR (95% CI): 2,94 (1,21–7,16). Kejadian polimorfisme FokI gen RVD untuk kelompok kasus TB adalah 2,94 kali lebih banyak dibandingkan dengan kontrol. Polimorfisme BsmI, ApaI, dan TaqI gen RVD tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok kasus TB dibandingkan dengan kontrol (p >0,05). Disimpulkan bahwa polimorfisme FokI gen RVD merupakan faktor risiko terjadinya TB anak. [MKB. 2010;42(4):187–94].Kata kunci: Gen reseptor vitamin D, polimorfisme, tuberkulosis anakPolymorphism of FokI, BsmI, ApaI, and TaqI Vitamin D Receptor Gene on Child TuberculosisTuberculosis (TB) is a infection disease caused by Mycobacterium tuberculosis. Mycobacterium tuberculosis itself is not the only factor of TB. Polymorphism of vitamin D receptor (VDR) gene is important on the susceptibility of TB. The aim was to find out the role of FokI, BsmI, ApaI, and TaqI VDR gene polymorphism on child TB. The observational analytic study with case control design was done in RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung and RSU Cibabat Cimahi, May 2008–March 2009. The subjects consisted of 42 children each for case (TB) and control (non TB) group, enrolled by consecutive sampling. The blood was analyzed for polymorphism of FokI, BsmI, ApaI, and TaqI VDR gene. Chi-square test, Mann-Whitney test, to calculate odds ratio (OR) and 95% confidence interval (CI) were used. The incidence of FokI VDR gene polymorphism in TB case group was 66.7% and 40.5% in control group (p=0.016), OR (95% CI): 2.94 (1.21–7.16). The FokI VDR gene polymorphism for TB group was 2.94 times greater than that for control group; while for BsmI, ApaI, and TaqI VDR gene polymorphism, there was no significant difference between TB case and control (p>0.05). It is concluded, FokI VDR gene polymorphism is a risk factor of child TB. [MKB. 2010;42(4):187–94].Key words: Child tuberculosis, polymorphism, vitamin D receptor gene DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n4.35

Kadar D-Dimer Plasma sebagai Prediktor Kematian Penderita Pneumonia Usia 2–59 Bulan

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada pneumonia berat, terjadi koagulasi intravaskular dan intraalveolar yang merupakan respons proses inflamasi lokal dan sistemik infeksi paru. Konsekuensi klinis dari perubahan koagulasi ini yaitu peningkatan kadar D-dimer plasma sebagai petanda aktivitas koagulasi dan fibrinolisis serta meluasnya disfungsi organ bahkan kematian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui validitas kadar D-dimer plasma yang tinggi sebagai prediktor kematian penderita pneumonia usia 2 sampai 59 bulan. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan prospektif yang dilaksanakan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Subjek penelitian anak usia 2 sampai 59 bulan yang didiagnosis sebagai pneumonia dan berobat ke Instalasi Gawat Darurat Anak selama bulan Oktober–November 2009. Pemeriksaan D-dimer plasma dilakukan saat penderita datang dan kemudian dilakukan observasi sampai penderita meninggal atau dipulangkan dari rumah sakit. Empat puluh lima anak ikut serta dalam penelitian ini, 15 (33%) di antaranya meninggal selama observasi. Kadar D-dimer plasma menunjukkan hubungan yang bermakna (p=0,04) terhadap kematian penderita pneumonia dengan median dan rentang sebesar 0,60 mg/L (0,1–5,10 mg/L). Cut-off point D-dimer plasma >0,4 mg/L sebagai prediktor kematian penderita pneumonia memberikan sensitivitas 73,3% (IK 95%; 44,9–92,0) dan spesifisitas 70,0% (IK 95%; 50,6–85,2%) dengan akurasi 71,1%. Simpulan, kadar D-dimer plasma yang tinggi dapat memprediksi kematian penderita pneumonia usia 2 sampai 59 bulan. [MKB. 2012;44(1):57–62].Kata kunci: Kadar D-dimer plasma, koagulasi, pneumonia, prediktor kematianPlasma D-Dimer Level as Predictor of Mortality in 2–59-Month-Old Pneumonia PatientsIntravascular and intraalveolar coagulation can be found in severe pneumonia as a response to local and systemic inflammation process in severe pneumonia. Clinical consequences of this coagulation changes is an increase of plasma D-dimer levels as a marker of coagulation and fibrinolyis activation, the number of organ dysfunction even death. The aim of this study was to understand the validity of high plasma D-dimer levels as a predictor of mortality in 2 to 59-month-old pneumonia patients. This was a prospective observational analytic study which washeld in Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. The subjects of this study were 2 to 59 months old children who were diagnosed as pneumonia and visited Pediatric Emergency Departement during October–November 2009. Plasma D-dimer assay was performed at admission and observed until the patient died or discharged from the hospital. Forty-five children were included in this study, 15 (33%) died during observation. Plasma D-dimer level showed significant correlations (p=0.04) with the mortality in 2 to 59-month-old pneumonia patients with median and range of 0.60 mg/L (0.1–5.10 mg/L). Plasma D-dimer cut-off point of >0.4 mg/L gave 73.3% sensitivity (CI 95%, 44.9–92.0%), and 70.0% specificity (CI 95%, 50.6–85.2%) with 71.1% accuracy for predicting mortality in 2 to 59-month-old pneumonia patients. In conclusions, there were significant correlations between elevated plasma Ddimer levels and mortality in 2 to 59-month-old patients with pneumonia. [MKB. 2012;44(1):57–62].Key words: Coagulation, plasma D-dimer levels, pneumonia, predictor of mortality DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n1.213

Clinical and laboratory features of pediatric Typhoid fever at the Department of Child Health, Hasan Sadikin General Hospital Bandung

Medical Journal of Indonesia Vol 7 (1998): Supplement 1
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

[no abstract available]