Articles

The Use of Female Wing Measurements for Discrimination of Aedes aegypti (L.) (Diptera: Culicidae) Populations from South Kalimantan

HAYATI Journal of Biosciences Vol 15, No 1 (2008): March 2008
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.466 KB)

Abstract

Populations of Aedes aegypti in South Kalimantan, which have been discriminated by their cuticular components, were further studied in search for differences in their wing morphometry. Female mosquitoes were collected from five towns in the province of South Kalimantan, and Cartesian coordinates of terminal and branching points of individual wing were determined. Relative interpoint Euclidean distances were used as variables (characters) in statistical analyses. One-way ANOVA found significantly several different characters (P < 0.01). Stepwise discriminant analysis using these characters selected five discriminators which, by cross validation, could identify female A. aegypti from Barabai and Marabahan with 75 and 77.8% of success rate, respectively. On average, 57.7% of wing specimens were successfully allocated to their original populations. The study revealed differences in wing measurements among populations of A. aegypti in South Kalimantan and confirmed genetic divergence of the species in the province. Key words: Aedes aegypti, wing morphometry, discriminant analysis, identification, discrimination

Peroxidase Activity in Poplar Inoculated with Compatible and Incompetent Isolates of Paxillus involutus

HAYATI Journal of Biosciences Vol 14, No 2 (2007): June 2007
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.444 KB)

Abstract

Peroxidase activity of the hybrid poplar Populus x canescens (Ait.) Sm. (= P. tremula L. x P. alba L.) inoculated with compatible and incompetent isolates of Paxillus involutus (Batsch) Fr. was investigated. Screening of the ectomycorrhizal fungal isolates was initiated with exploration of mycelial growth characteristics and mycorrhizal ability in vitro with poplar. Both traits varied within the fungus although they did not seem to be genetically correlated. While isolates SCO1, NAU, and 031 grew faster than others, only isolates MAJ, SCO1, and 031 were able to form ectomycorrhiza with poplar. Isolates MAJ (compatible) and NAU (incompetent) were subsequently selected for further experiments. Activity of peroxidase, one of the defense-related enzymes, was examined in pure culture and short root components of compatible and incompetent interactions between poplar and P. involutus. Peroxidase activities increased significantly in poplar inoculated with incompetent isolate of the fungus compared to control, while induction of the same enzyme was not detected in compatible associations. Key words: ectomycorrhiza, Paxillus involutus, peroxidase, plant defense, poplar

RESPON DAN EFISIENSI PUPUK FOSFOR (P) PADA BEBERAPA GALUR KEDELAI

Jurnal Teknobiologi Vol 3, No 01 (2012)
Publisher : Jurnal Teknobiologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.708 KB)

Abstract

Soybean is one of the commodity priorities in the agricultural revitalizationprogram, announced by Indonesian government in 2005 to increase soybeanproduction. Fertilization is one of the cultural practices that are expected to giveimportant contribution in increasing soybean production. Phosphor fertilizer isneeded in cultivation of soybean plants to obtain optimal yield. The objective ofthis study are to determine the fertilizer P use efficiency in several strains ofsoybean and it’s their response. The research was conducted in the Balai BenihUtama (BBU), Pasir Pangarayan, Dalu-Dalu Village, District of Rokan Hulu. Theresearch was conducted over four months from September 2009 until Februar y2010. The research was conducted using randomized block design consisting oftwo factors. The first factor is the genotype of soybean (G) ie: line ED 13, 14 DD,19 BE, 25 EC, 11 AB. The second factor is the rate of phosphorus fertilizer infourt, namely: Without Fertilizer P 0 kg / ha, 25 kg TSP / ha (9.2 g P2O5/ plot), 50kg TSP / ha (18.4 g P2O5/ plot), 75 kg TSP / ha (27.6 g P2O5/ plot). The results ofthis study indicated that, in general application of phosphorus fertilizer at all rateswere no significant effect to the growth and yield components of soybean plants. Inaddition line 13 ED, 14 DD, 19 BE, and 25 EC were perfomed good yieldcomponent and was able to give higher number of pods and number of seed perplant than 11 AB. Fertilizer P was not able to be absorbed efficiently all genotypeof soybean.

Analisis Kebutuhan Modal Kerja Pada PT Triwisnna Di Kabupaten Kutai Timur

Publikasi Ilmiah Vol 1, No 1 (2013): Publikasi Ilmiah
Publisher : Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah "Bagaimana kebutuhan modal kerja pada tahun 2013 di PT Triwisnna di Kutai Timur?". Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis sejumlah besar kebutuhan modal kerja PT Triwisnna di Kutai Timur untuk 2013 dan manfaat dari penelitian ini adalah sebagai bahan informasi yang memberikan kontribusi kepada manajemen PT Triwisnna dalam pengambilan keputusan dan kebijakan secara efektif dan efisien, dan  sebagai acuan untuk pembahasan penelitian lebih lanjut terkait dengan analisis kebutuhan modal kerja.Alat analisis yang digunakan untuk menganalisis masalah modal kerja yang ditemukan di perusahaan ini adalah metode perputaran modal kerja dan metode jumlah kuadrat terkecil sebagai perhitungan forecast penjualan. Kebutuhan modal kerja dihitung dari pendapatan usaha pada tahun 2013 (hasil peramalan) yang dibandingkan dengan unsur perputaran total modal kerja (cash, rekening bank) pada tahun 2012, dan diasumsikan bahwa tingkat perputaran modal kerja pada tahun 2012 setara dengan 2013.Berdasarkan penelitian, analisis dan pembahasan yang telah dikatakan, dapat disimpulkan bahwa kebutuhan modal kerja pada tahun 2013 dengan modal kerja berlebih, karena jumlah aktiva lancar pada akhir neraca 2012 menunjukkan jumlah modal kerja yang tersedia untuk Rp33.411.038.132, modal kerja sehingga kelebihan yang ditemukan adalah Rp14.559.999.149. Sehingga modal kerja berlebihan dapat mengakibatkan dana menganggur sehingga tidak efisien dalam penggunaan marjin yang disalurkan untuk pemenuhan kebutuhan modal kerja.

Analisis Laporan Keuangan Dalam Menilai Kinerja Keuangan Pada Primer Koperasi Angkatan Darat (Primkopad) Kartika Benteng Sejahtera Di Balikpapan

Publikasi Ilmiah Vol 1, No 1 (2013): Publikasi Ilmiah
Publisher : Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah kinerja keuangan Primer Koperasi Angkatan Darat (Primkopad) Kartika Benteng Sejahtera di Balikpapan selama periode tahun 2008 hingga tahun 2010 ditinjau dari rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas/rentabilitas, dan rasio aktivitas menunjukkan tingkat yang sehat. Berdasarkan kriteria standar penilaian koperasi berprestasi menurut Kementrian Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia No.06/PER/M.KUKM/V/2006 yang ditinjau dari rasio likuiditas dan rasio profitabilitas/ rentabilitas maka Primer Koperasi Angkatan Darat (Primkopad) Kartika Benteng Sejahtera di Balikpapan dapat dikatakan koperasi yang berprestasi, sedangkan apabila ditinjau dari rasio solvabilitas dan rasio aktivitas maka Primer Koperasi Angkatan Darat (Primkopad) Kartika Benteng Sejahtera di Balikpapan dapat dikatakan koperasi yang tidak berprestasi.

DESAIN INSTALASI PIROLISIS LIMBAH PERTANIAN DALAM RANGKA MINIMALISASI EMISI GAS RUMAH KACA DARI LAHAN BASAH

Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2014): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 5 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lahan basah di Indonesia mencapai 32 juta ha dan ditengarai sebagai sumber emisi gas rumah kaca (GRK) berupa CH4, N2O dan CO2 sehingga perlu usaha-usama minimalisasi emisi gas-gas tersebut ke atmosfir.  Limbah pertanian lahan basah merupakan sumber emisi GRK yang dihasilkan ketika limbah tersebut dibakar dalam rangka pengendalian hama penyakit, produksi abu untuk pemupukan, atau mengalami dekomposisi oleh mikroorganisme pada lahan.  Salah satu teknik yang dipraktekkan oleh industri untuk membakar limbah adalah dengan pirolisis, yaitu membakar pada instalasi dimana suplai oksigen bisa dikurangi sehingga dapat meminimalisasi emisi GRK sambil menghasilkan biochar.  Harga instalasi pirolisis yang tersedia dapat mencapai 50 milyar rupiah, sehingga tidak terjangkau oleh penggilingan padi, koperasi maupun petani secara individu.  Penelitian ini bertujuan mendesain instalasi pirolisis rendah emisi GRK dengan biaya terjangkau oleh pengusaha penggilingan padi dan/atau koperasi (> Rp 5 juta).  Desain yang diuraikan meliputi instalasi ceret, drum tunggal dan drum ganda dengan kelebihan, kekurangannya serta prospek pengembangannya.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa instalasi dengan ceret dapat menghasilkan biochar (1) biaya murah, (2) rendemen rendah,  (3) kapasitas kecil (>500 gr), sedangkan instalasi wajan dan drum tunggal (1) rendement tinggi, (2) biaya murah, (3) asap cair tidak dapat ditampung.  Desain instalasi dengan kombinasi drum-wajan mempunyai (1) rendement tinggi, (2) kapasitas memadai, (3) asap 100% bisa ditampung sehingga berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Hasil pengujian biochar terhadap lahan basah menunjukkan bahwa aplikasi biochar mampu meningkatkan populasi mikroorganisme tanah dengan tanpa peningkatan signifikan pada emisi GRK. Kata Kunci: biochar, gas rumah kaca (GRK), kombinasi drum-wajan, sekam padi, tanah lahan basah

Pengaruh Fraksi Al2o3-Y2o3/Sio2dan Feed Rate Serbuk Terhadap Kekuatan Lekat Danketahanan Termal Lapisan Pada Substrat Hastelloy Dengan Metode Flame Spray Untuk Aplikasi Nosel Roket

Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.312 KB)

Abstract

Nosel roket merupakan bagian roket yang mengatur laju, masa, arah dan tekanan fluida yang keluar dari ruang bakar. Nosel harus dapat menahan energi kinetik dan panas dari  fluida yang berasal dari ruang bakar.Material yang digunakan pada penelitian ini adalah serbuk Al2O3-Y2O3/SiO2 yang memiliki nilai konduktifitas panas rendah. Material tersebut dilapiskan kepada substrat hastelloy® x menggunakan metode flame spray dengan memvariasikan feed rate 6, 12 dan 18 gram/menit. Dengan memvariasikan jumlah komposisi ittria 3, 5 dan 7 % pada Al2O3-Y2O3/SiO2. Lalu dilakukan torch termal pada temperatur 1400 oC dengan waktu maksimal 30 detik agar dapat dilihat ketahanan termal. Dilakukan pengujian termo gravimetrik (TGA) untuk mengalisa  kestabilan material pelapis setelah pemanasan dan dilakukan termal ekspos untuk mengetahui perubahan struktur mikro pada lapisan setelah diberi pembebanan termal secara kontinyu. Untuk  menunjang penelitian ini dilakukan beberapa pengujian yang meliputi pengujian SEM, pengujian XRD, dan pengujian Pull off.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada semua   spesimen yang paling stabil pada temperatur tinggi terjadi pada komposisi 80%Al2O3, 13%SiO2, 7%Y2O3 dan feed rate 18 gram/menit. Nilai kekuatan lekat yang paling optimal adalah 8 MPa didapatkan pada komposisi 80%Al2O3, 13%SiO2, 7%Y2O3 dan feed rate 6 gram/menit. Fasa yang stabil pada saat sebelum dan setelah pemanasan adalah kyanite dan γ-Al2O3 .

MODEL EVALUASI PROGRAM TUTORIAL TATAP MUKA UNIVERSITAS TERBUKA

Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 17, No 2 (2013)
Publisher : Graduate School, Yogyakarta State University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model evaluasi program tutorial tatap muka. Mo-del evaluasi yang dikembangkan dalam penelitian ini menekankan pada evaluasi: perencanaan, pelaksanaan, dan hasil program tutorial sehingga model ini disebut model evaluasi P2HT. Model evaluasi P2HT dikembangkan melalui delapan tahap: (1) kajian awal, (2) pengembangan disain, (3) pengembangan model prototype, (4) uji coba terbatas, (5) revisi, (6) uji coba diperluas, (7) model akhir, dan (8) diseminasi. Model prototype diuji coba di UPBJJ-UT Yogyakarta dalam tiga tahap yaitu uji coba tahap 1, 2, dan 3. Validitas model dan perangkat model ditetapkan melalui uji keter-bacaan, validasi isi dan validasi konstruk. Uji keterbacaan dilakukan oleh 15 ahli, 12 praktisi pendi-dikan jarak jauh, dan 55 mahasiswa. Validitas isi dibuktikan dengan mendiskusikan model dan perangkat model dengan para ahli melalui diskusi secara langsung dengan ahli, pendapat ahli melalui email, dan dikusi melalui forum FGD. Validasi konstruk dibuktikan dengan menggunakan Confirmatory  Factor Analysis dan Exploratory Factor Analysis. Estimasi reliabilitas dilakukan dengan formula Alpha per dimensi. Path analysis digunakan untuk menguji hubungan kausal antar variabel yang ada dalam model evaluasi P2HT. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) model evaluasi P2HT merupakan model yang komprehensif, tepat, praktis, mudah digunakan dan mempunyai tingkat keterbacaan yang tinggi, (2) semua instrumen yang dihasilkan memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas, (3) pengelolaan program, kemandirian mahasiswa dalam belajar, tempat/fasilitas, proses tutorial, dan kepuasan mahasiswa berpengaruh terhadap hasil belajar. Dari kelima variabel tersebut, proses tutorial memberikan pengaruh terbesar terhadap hasil belajar mahasiswa dengan total pengaruh sebesar 58%. Kata kunci: model evaluasi, tutorial tatap muka, instrumen, validitas dan reliabilitas. ______________________________________________________________AN EVALUATION MODEL OF FACE-TO-FACE TUTORIAL PROGRAM OF THE OPEN UNIVERSITY Abstract This study aims at developing an evaluation model of the face-to-face tutorial program implemented by the Open University. The model of evaluation developed in this research focuses on evaluation of:  planning, processing, and results, so the model is called the P2HT evaluation model. The P2HT evaluation model is developed on eight steps: (1) preliminary research, (2) designing model, (3) developing prototype model, (4) trying-out with limited number of samples, (5) revising, (6) trying-out with larger samples, (7) constructing final model, and (8) disseminating. The prototype model was tried-out at Yogyakarta Open University Regional Center in three stages. The readability was tested to 15 experts, 12 practitioners, and 55 students. The content validity was measured by a series of discussion forum involving evaluation experts and distance education experts, in the form of face-to-face meetings, FGDs, as well as emails. The construct validity was analyzed by using Confirmatory Factor Analysis and Exploratory Factor Analysis, while the reliability was analyzed for each dimension employing the Alpha analysis per dimention. The path analysis was used to analyze the causality relationship among variables in the P2HT evaluation model especially in stage 3 try-out. The results of the study indicate that: (1) the P2HT evaluation model is comprehensive, valid, practical, easy to use, and has a high level of readability, (2) all instruments are valid and reliable, (3) the management of program, self-directed learning, place and facilities of tutorial, tutorial process, and students’ satisfaction have an effect on the students’ achievement. Among the five variables, the process of tutorial has given the greatest effect 58%.Keywords: evaluation model, face-to-face tutorial, instrument, validity and reliability

EVALUASI FORMATIF BAHAN SIARAN RADIO PENDIDIKAN PROGRAM PENYETARAAN D II GURU SEKOLAH DASAR DAN DIKLAT SIARAN RADIO PENDIDIKAN (SRP)

Jurnal Cakrawala Pendidikan No 1 (2003): CAKRAWALA PENDIDIKAN EDISI FEBRUARI 2003, TH. XXII, NO. 1
Publisher : LPPMP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article is based on an evaluative research intended todetermine the quality profileof the educational radio programsproduced by PUSTEKKOM DIKBUD, a center for communicationtechnology for education, from the pointof view of instructionalaspects, the popularityof the media, and the listeners level ofunderstanding.Thirty-two pre-recorded educational programsin the format ofaudiocassettes were selected for field evaluation/testing. For thepurposeof the field evaluation, sixty elementary school teachersfrom three provinces (Central Java, Central Kalimantan,and EastNusa Tenggara), with twentyfrom each province, were selected assubjects for the field evaluation. For three days, each group oftwenty teachers were assigned to listen to 10- I2 of the radioprograms. After listeningto each program, they were asked to fill outa questionnaire and interviewedin order that information of theiropinions, impressions, and understandingof the programs could beobtained.The findings show that in general the qualityof the radioprograms from the pointof view of their instructional aspects wasgood enough (that is, the instructional objectives were clearly stated,the contentsofthe lessons were relevant with the achievement oftheobjectives, etc.). From the pointof view of the instructional media, the programs were interesting (the musical background wasinteresting and the presentations were helpful enough for theunderstandingof the contents of the lessons). Only some of theprograms were considered low in quality and in needofrevision.On the basisof the results of the evaluation, it is suggested thatbefore being broadcast nationally, eachof the radio programs shouldbe field testedto get information about its strengths and weaknessesso that the program developer and producer can revise and improvethem

Isolasi dan Penapisan in Vitro Aktinomiset untuk Mengendalikan Xanthomonas

Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 9, No 5 (2013)
Publisher : Jurnal Fitopatologi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.509 KB)

Abstract

Nursery disease frequently found on Acacia crassicarpa seedlings is bacterial leaf blight caused by Xanthomonas sp. Disease symptom starts as a small fleck on the leaf which may then develop to leaf strike or leaf blight if the environmental factors are conducive to disease development. Actinomycetes are soil microorganisms that produce biologically active substances such as enzymes and antibiotics. These compounds could inhibit growth of other microorganisms, particularly bacteria. Thus, Actinomycetes are considered as potential candidates of biocontrol agents for plant pathogens. In the current study Actinomycetes isolated from a wide range of localities were screened for their efficacy against Xanthomonas sp. in vitro. The objective of this study was to obtain Actinomycete isolates effective against Xanthomonas, to mitigate impact of the pathogen on quality of A. crassicarpa seedlings. All Actinomycete collections were isolated from soil by a chain of enrichment isolation procedures. The antibiotic activities were investigated through antimicrobial screening tests using paper discs on assay plates. Of the 75 Actinomycete isolates originally collected and screened, 5 isolates showed good antimicrobial activities against Xanthomonas and are therefore considered as potential biocontrol agent candidates.