Fuadi Fuadi
Prodi Ilmu Aqidah, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh

Published : 16 Documents
Articles

Found 16 Documents
Search

PERAN AKAL MENURUT PANDANGAN AL-GHAZALI Fuadi, Fuadi
Substantia Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Substantia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Intellect is a tool of thought contained in human beings, the human mind is different from other creatures because sense is given only in humans and is not given to other creatures. This difference has made humans superior and smarter in managing their lives. Therefore man with a clear intellect would find God as the final returns from real life. According to al-Ghazali sense a profound effect on the human mind even define perfection the man himself. Al-Ghazali in principle recognize the existence of the senses and the intellect, but both instruments are limited and may not be essential to understand the science. Al-Ghazali argued that scientific truth is not limited to sensory truth, but there is truth behind the truth abstract sense. Al-Ghazali had divided power in some sense be viewed by potential and levels: first, practical sense; sense it serves to move the body and to deliver knowledge-practical knowledge, such as the application of morals in life. Second, Intellect theoretical; theoretical sense is the power of knowledge in human beings or the desire to know that is immaterial and abstract.Kata Kunci : Akal, Kebenaran, Al-Ghazali
MEMAHAMI HAKIKAT KEHIDUPAN SOSIAL KEAGAMAAN SEBAGAI SOLUSI ALTERNATIF MENGHINDARI KONFLIK Fuadi, Fuadi
Substantia Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Substantia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The substance of social life is a man ability to understand that life is to become other people in togetherness based on the universal value of religion by dialogic-theology approach. Developing creative thought concept on social would reduce tension and subjective claim on truths. Developing productive economic system will cover any social conflict from indigent and economically oppressed community.Kata Kunci : Agama, Relasional, Kedamaian
Pemikiran Fazlur Rahman Tentang Konsep Pendidikan Tinggi Islam Di Era Globalisasi Fuadi, Fuadi; Fakhrurrazi, Fakhrurrazi
PASAI Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krisis metodologi tampaknya sangat disadari oleh Fazlur Rahman sebagai penyebab kemunduran pemikiran Islam. Bahwa alternatif metodologi dipandang Fazlur Rahman sebagai titik pusat penyelesaian krisis intelektualisme Islam. Implikasi dari alternatif metodologis ini merupakan proyek besar ummat Islam mengarah pada pembaharuan pemikiran Islam. Fazlur Rahman, bukanlah seorang tokoh parsial dalam aspek pemikiran tertentu, misalnya teologi, filsafat, hukum Islam dan sebagainya, tetapi ia hampir-hampir mengkaji dan menguasai segala aspek pemikiran Islam dalam posisi yang hampir merata. Keseluruhan pemikiran Fazlur Rahman merupakan wujud dan kesadarannya akan krisis yang dihadapi Islam dewasa ini, di mana krisis tersebut sebagian berakar dalam sejarah Islam sendiri, dan sebagian lagi adalah tantangan modernitas. 
Ibn ‘Arabi; Sang Pendukung Kalam Asy’ariyyah Fuadi, Fuadi
PASAI Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gagasan yang diajukan Asin-Palacios dan lain-lain bahwa teori-teori filosofis Ibn ‘Arabi dapat dilacak kembali pada aliran-lairan tertentu dalam tradisi Yunani tidak lagi dipedulikan secara serius oleh para ahli. Yang pasti adalah bahwa sebagian besar dari apa yang dikatakan oleh Ibn ‘Arabi sendiri berakar pada intuisi mistiknya sendiri, atau, menggunakan terminologinya, penyingkapan (kasyf) dan pembukaan (fath, futuh). Dengan demikian, jelaslah bahwa ia sangat akrab dengan sumber-sumber dasar tradisi Islam dan aliran-aliran intelektual zamannya, terutama tradisi hikmah. Dalam beberapa masalah, Ibn ‘Arabi lebih menyukai pandangan teologis dari pada filosofis. Dengan demikian, ia mendukung doktrin Asy’ariyyah bahwa kenabian hanya dapat dicapai oleh penunjukan Tuhan (ikhtishash), bukan karena usaha (iktisab), dan ia memperluas pembahasan ini dengan memasukkan pengetahuan tentang enteleki (aktualitas) jiwa. Karena pengetahuan tentang sifat kebahagian abadi bergantung pada pengetahuan tentang diri Tuhan (nafs al-haqq), tidak seorang manusia pun dapat memperoleh pengetahuan ini apabila Tuhan tidak memberikannya, dan Tuhan memberikan pengetahuan itu hanya melalui para nabi
Quo Vadis Filsafat Bagi Homosapiens? Fuadi, Fuadi
PASAI Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Filsafat terkait erat dengan kehidupan manusia. karena manusia adalah makhluk yang senantiasa berpikir. Jika ia bertindak , ia tahu bahwa ia bertindak, dan jika ia berpikir ia tahu bahwa ia berpikir. Dalam diri manusia terdapat sikap ingin tahu (curiosity), karena itu, manusia selalu berusaha untuk mengetahui. Gejala ingin tahu telah ada sejak manusia masih kecil. Sejak seorang anak mulai dapat berbicara, gejala ini telah nampak. Hal ini terbukti dari pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan dari mulutnya seperti: apa ini, apa itu, mengapa demikian, dari mana datangnya? Makin bertumbuh ia, semakin banyak pertanyaan yang mereka inginkan jawaban, guna memenuhi rasa ingin tahunya itu makin pandai ia, semakin berkembang pula usahanya untuk mengetahui, tidak saja asal tahu, tetapi juga ingin tahu yang benar. Lalu apa hubungannya antara filsafat dengan manusia sebagai makhluk yang berpikir? Dan apakah filsafat mempunyai batasan-batasan tertentu dalam membicarakan kehidupan manusia? Lalu bagaimana strategi efektif dalam mempelajari filsafat bagi pemula? Terakhir, mana bukti kongkrit bahwa filsafat menggariskan arah dan menguasai kehidupan bangsa dan negara kita?
Ibn ‘Arabi Bukan Bermazhab Wahdatul Wujud Fuadi, Fuadi
PASAI Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ibn ‘Arabi sendiri tidak pernah memakai ungkapan wahdah al-wujud, tetapi istilah itu mulai diadopsi secara bertahap oleh para pengikutnya untuk menyatakan pandangannya. Namun, gagasan itu meresapi pemikirannya, dan relevansi filosofisnya tampak jelas dalam kata-katanya. Wujud telah mendominasi perhatian para filosof, dan falsafah sendiri kadang-kadang didefinisikan sebagai studi tentang wujud sebagai wujud. Ibn ‘Arabi sama sekali tidak membuang waktu untuk membahas wujud seperti yang kita duga jika kita hanya melihat literatur terkemudian, yang umumnya mengasosiasikan namanya dengan istilah wahdah al-wujud. Fakta bahwa wujud dipilih untuk menggambarkan fokus utama perhatiannya lebih berkaitan dengan orientasi filosofis tradisi sufi terkemudian dari pada dengan tulisan-tulisan actual Ibn ‘Arabi. Meskipun demikian, jika semua uraian Ibn ‘Arabi tentang istilah itu dikumpulkan dalam satu sampul, tentu akan menjadi sebuah buku besar. 
Kekerasan Atas Nama Aliran Sesat: Studi Tentang Mobilisasi Isu Sesat Dalam Kontestasi Elit Gampoeng Armia, Nirzalin; Nazaruddin, Muhammad; Fuadi, Fuadi
Substantia Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Substantia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Misguided and misleading is the "magic" world that led to the emergence of a mass solidarity to destroy a group that have different religious understanding among people. However, the mass movement against a deviant group was is not actually based on the religious movement to defense of the purity of religious motives. In reality, the mobilization of certain groups motivated and based on protecting of various interests, such as political, economic and cultural image. Based on the study case conducted  in Gampoeng (village) Jambo In the District Plimbang Bireuen,  it demonstrate the complex reality and aspcts behind the violence in the name of religion against groups considered deviant. This qualitative study found that mass anarchism action against groups accused Tengku Aiyub deviant in Gampoeng Jambo In Bireuen not motivated by misguided thinking. This reality prompted by suspicion village government elite towards Tengku Aiyub.  His  critical attitude towards the management of funds threatened the village elite. While, Tengku Aiyub fame as a  martial arts teacher led to   decreasing the number of pupils among other teachers.  Beside, the lack of the ability of government officials to cease and desist early, causing mass anarchism action against Tengku Aiyub and led him and his followers died.  Abstrak: Sesat dan menyesatkan merupakan kata-kata “sakti” yang melatarbelakangi lahirnya soliditas massa untuk membumi-hanguskan suatu kelompok yang dipandang memiliki pemahaman keagamaan berbeda. Namun, gerakan massa yang tersusupi oleh isu kelompok sesat ini tidaklah murni gerakan yang didasari oleh motif pembelaan terhadap kemurnian agama. Realitasnya, mereka bergerak karena mobilisasi kelompok tertentu untuk melindungi kepentingan-kepentingan politik, ekonomi dan citra kulturalnya. Berdasarkan kasus di Gampoeng (desa) Jambo Dalam Kecamatan Plimbang Kabupaten Bireuen, studi  ini hendak menunjukkan realitas kompleks  dibalik terjadinya aksi kekerasan atas nama agama terhadap kelompok yang dituduh  sesat. Penelitian kualitatif ini menemukan bahwa aksi anarkhisme massa terhadap kelompok Teungku Aiyub yang dituduh sesat di gampoeng Jambo Dalam Bireuen  tidak dilatarbelakangi oleh ajaran sesat itu sendiri. Realitas ini dipicu oleh kegelisahan elite pemerintahan gampoeng dan para jagoan silat tradisional terhadap Teungku Aiyub. Sikap kritisnya terhadap pengelolaan dana gampoeng membuat elite gampoeng terancam. Sementara, kemasyhuran Teungku Aiyub sebagai jagoan pedang membuat para guru silat kesulitan menambah jumlah murid. Lemahnya kemampuan cegah dan tangkal dini dari aparatur pemerintahan membuka jalan terhadap terjadinya aksi anarkhisme massa hingga Teungku Aiyub dan beberapa pengikutnya wafat.Keywords: konflik, keagamaan, aliran sesat.
Metode Historis: Suatu Kajian Filsafat Materialisme Karl Marx Fuadi, Fuadi
Substantia Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Substantia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Histories have gone a very long journey throughout the historical journey of mankind and they have been in existence since human beings come to the world. Histories are the human themselves, real human beings who live and fight to do everything possible to own the materials. Histories include the method of thought expressed in the philosophical ideology of Karl Marx to free mankind from dogma and cult. The historical method must start from the basic nature and changes throughout history through human activities and works according to their needs. According to Karl Marx, materials are everything to humans, humans derived from materials, thus they should be in quest for them. Materials are the factor for eternal changes to human beings, and such changes cannot be separated from histories. Therefore, materials cannot be separated from histories themselves as the place for development, formation and perfect human happiness Historis telah menempuh perjalanan amat panjang sepanjang perjalanan historis umat manusia dan telah ada sejak manusia mulai bereksistensi di permukaan bumi ini. Historis adalah manusia itu sendiri, yaitu manusia nyata yang hidup dan berjuang dalam melakukan segala hal untuk memiliki materi. Historis termasuk metode berpikir yang diutarakan dalam pemahaman Filsafat Karl Marx untuk membebaskan manusia dari dogma dan kultus. Metode historis harus dimulai dari dasar alamiah dan perubahan sepanjang sejarah melalui aktivitas dan pekerjaan manusia berdasarkan kebutuhan. Menurut Karl Marx bahwa materi adalah segala sesuatu untuk bagi manusia, manusia berasal dari materi dan manusia harus mencari materi. Materi merupakan faktor untuk perubahan yang hakiki bagi manusia, dan perubahan itu tidak bisa lepas dengan historis, karena itu materi tidak bisa terlepas dengan historis itu sendiri sebagai tempat pengembangan, pembentukan dan kebahagiaan manusia yang sempurna.
Urgensi Pengaturan Zakat: Evaluasi Zakat Sebagai Pengurang Pajak Penghasilan Terhutang ( Taxes-Credit ) dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh Fuadi, Fuadi
Asy-Syirah: Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum Vol 48, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Syariah dan Hukum

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.779 KB)

Abstract

Article 192 of Law No. 11 of 2006 on the government of Aceh states that "zakat as a reduction of income taxes payable (taxes credit)," while article 22 of Law No. 23 of 2011 on the management of zakat states that "zakat as a deduction the amount of taxable income (taxes deductable)." therefore there has been a disharmony of the two provisions, and so far the provisions of zakat as a reduction of income tax payable (taxes credit) in Aceh has not been effective yet. The purpose of this study is to investigate the implementation of the provisions of "zakat as a tax deduction payable in Aceh. and what regulation dispute resolution between Article 192 of Law No. 11 of 2006 on the Aceh government with the income tax law in Aceh." The results of the research indicates that the implementation of zakat as a reduction of income taxes payable have not been effective because the central government represented by the Ministry of finance rejected the provision. As for the solution is a) change/void the article such by the competent institutions that formed it; b)apply for a judicial review to the constitutional court; c) apply the principles of law /legal doctrine "lex specialis derogat legi generalis," The President issued the implementing regulations of Article 192 of Law No. 11 of 2006.
Faktor Risiko Bangkitan Kejang Demam pada Anak Fuadi, Fuadi; Bahtera, Tjipta; Wijayahadi, Noor
Sari Pediatri Vol 12, No 3 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Kejang demam dapat mengakibatkan gangguan tingkah laku, penurunan nilai akademik dansangat mengkhawatirkan orang tua anak. Bila faktor risiko diketahui lebih awal dapat dilakukan pencegahansedini mungkin akan terjadinya bangkitan kejang demam pada anak.Tujuan. Membuktikan dan menganalisis faktor demam, usia, riwayat keluarga, riwayat prenatal (usia ibusaat hamil), dan perinatal (usia kehamilan, asfiksia dan berat lahir rendah) sebagai faktor risiko bangkitankejang demam pada anak.Metode. Studi kasus kontrol pada 164 anak dipilih secara consecutive sampling dari pasien yang berobat diRS. Dr. Kariadi Semarang periode bulan Januari 2008-Maret 2009. Pasien kejang demam sebagai kelompokkasus 82 anak dan demam tanpa kejang sebagai kelompok kontrol 82 anak. Pengambilan data dari catatanmedik dan dilanjutkan wawancara dengan orang tua anak.pada kunjungan rumah. Analisis data dengantes chi square dan uji multivariat regresi logistik.Hasil. Didapatkan hubungan yang bermakna antara faktor risiko dengan terjadinya bangkitan kejang demamyaitu faktor demam lebih dari 39oC dan faktor usia kurang 2 tahun.Kesimpulan. Demam lebih dari 39oC dan usia kurang dari 2 tahun merupakan faktor risiko bangkitankejang demam.