Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Al-Ulum

POSITIVISASI HUKUM ISLAM DALAM PEMBINAAN HUKUM NASIONAL DI INDONESIA Fitriyani, Fitriyani; Laupe, Abd Basir
Al-Ulum Vol 13, No 2 (2013): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.585 KB)

Abstract

Dalam konteks hukum Islam, Piagam Jakarta sebagai salah satu hasil sidang BPUPKI merupakan sumber persuasive. Hukum Islam baru menjadi sumber autoritatif (sumber hukum yang telah mempunyai kekuatan hukum) dalam ketatanegaraan, ketika Dekrit Presiden R.I 5 juli 1959 yang mengakui bahwa Piagam Jakarta menjiwai UUD 1945. Hukum Islam sebagai tatanan hukum yang dipedomani dan ditaati oleh mayoritas penduduk dan masyarakat Indonesia adalah hukum yang telah hidup dalam masyarakat. Demikian pula sudah merupakan bagian dari ajaran dan keyakinan Islam yang eksis dalam kehidupan hukum nasional, serta merupakan bahan dalam pembinaan dan pengembangannya.----------------------------In the context of Islamic law, the Jakarta Charter was seen as one of the result of the trial BPUPKI, a persuasive source. New Islamic Law becomes authoritative sources (sources of law has been legally binding) in the state administration, when the July 5 Presidential Decree 1959 which recognizes that animates the Jakarta Charter 1945. Islamic law as a legal order that guided and adhered to by the majority of the population and the people of Indonesia is both the law that has been living within the community. It has also become the part of the teachings and beliefs of Islam that exists in the national law as well as the source of guidance and development.
ISLAM DAN KEBUDAYAAN Fitriyani, Fitriyani
Al-Ulum Vol 12, No 1 (2012): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.081 KB)

Abstract

Artikel ini mendiskusikan tentang Islam dan kebudayaa. Islam mempunyai dua aspek, yakni segi agama dan segi kebudayaan. Dengan demikian, ada agama Islam dan ada kebudayaan Islam. Dalam pandangan ilmiah, antara keduanya dapat dibedakan, tetapi dalam pandangan Islam sendiri tak mungkin dipisahkan. Antara yang kedua dan yang pertama membentuk integrasi. Demikian eratnya jalinan integrasinya, sehingga sering sukar mendudukkan suatu perkara, apakah agama atau kebudayaan. Misalnya nikah, talak, rujuk, dan waris. Dipandang dari kacamata kebudayaan, perkara-perkara itu masuk kebudayaan. Tetapi ketentuan-ketentuannya berasal dari Tuhan.  --------------------------This paper discusses about Islam and culture. Islam basically has two terms i.e. religious and cultural. There is no distinguishing gap between “religion of Islam” and “Islamic culture”. In the scientific perspective, the two can be differentiated, but in view of Islam itself it cannot be separated. Both form integration. The integration is so tight. Therefore, it is often difficult to distinguish whether the religion or culture; for example, marriage, divorce, reconciliation and inheritance. In the perspective of culture, it makes matters of culture; yet, their provision comes from God.
PLURALISME AGAMA-BUDAYA DALAM PERSPEKTIF ISLAM Fitriyani, Fitriyani
Al-Ulum Vol 11, No 2 (2011): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1211.245 KB)

Abstract

Isu pluralism agama merupaka hal penting untuk diketahui bersama umat beragama. Bahkan menjadi factor utama dalam menyebabkan ketegangan dan konflik agama yang sering menimbulkan kebrutalan, kekejaman, perang, dan pembunuhan bahkan pembersihan etnik. Seiring dengan waktu, pluralism agama (yang awalnya muncul pada abad ke-18) menjadi wacana dan meluas hingga di Eropa. Bahkan pada abad ke-20 telah meluas dengan cepat memasuki wilayah dunia Islam dan menjadi tema dalam begitu banyak diskusi yang memancing perdebatan sengit. Dalam artikel ini, penulis menekankan bahwa pluralism agama harus dipahami dengan jernih karena akan menciptakan pro-kontra di kalangan pemikir dan ahli agama, termasuk tokoh-tokoh Islam. Hal ini penting untuk dipertimbangkan karena dengan pemahaman tentang pluralisme agama akan bersinggungan dengan dotrin agama. ------------------------ The issue of religious pluralism is important to share. Even it becomes primary factor in creating climate of stress or conflict of religion which not rarely come up with cruel colour, ossify, war and murder, even the race sweeping. Along with the time, religious pluralism which initially rose in the 18th century represents a discourse and expands in Europe; yet, in the 20th century it is expanding at full speed enter into Islamic world Mulsim and it became a theme in so many provocating discussion activities. In this article, the writer emphasizes that religious pluralism has to be clearly understood because it generates pros and contra among good thinker and religion figures, including Muslim figures. This matter is important to consider because the understanding of religious pluralism shall be reckoned because it deals with religious doctrine.