Articles

Found 15 Documents
Search

Peran PEG 400 dalam pembuatan lembaran bioplastik polohidroksialkanoat yang dihasilkan oleh Ralstonia eutropha dari Substrat Hidrolisat Pati Sagu Syamsu, Khaswar; Hartoto, Liesbetini; Fauzi, Anas Miftah; Suryani, Ani; Rais, Dede
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of the research was to investigate the effects of PEG 400 addition on the characteristics of bioplastic polyhydroxyalkanoates (PHA). PHA was obtained by cultivating Ralstonia eutropha on hydrolysed sago starch substrate using fed batch method for approximately 96 hours. The biomass concentration obtained was 4 g/L with PHA yield 20-30% of dry cell weight. The bioplastic was formed with solution casting method in which chloroform was used as solvent and PEG 400 was used as plasticizer. The concentrations of PEG 400added were 10, 20, and 30% (w/w), respectively. Bioplastic properties which were tested were tensile strength, elongation to break, density, thermal properties, cristalinity, and functional group. The addition of plastisizer tend to increase tensile strength and elongation to break, but decrease density, cristalinity and melting point. Bioplastic with 30% PEG 400 addition gave the best results. Bioplastic with 30% PEG 400 gave a value of tensile strength of 0.083 MPa; elongation to break of 0.881%; density of 0.7881 g/cm3;  melting point of 158.95 ac; and cristalinity of 44.58%. With these properties, the resulted bioi plastic may be used for surgical strings. Keywords: Bioplastic, Polyhydroxyalkanoates (PHA), Ralstonia eutropha, hidrolysed sago starch, PEG 400
Biodegradation ofEpichiorohydrin Compound by Bacterial Isolate G3 Fauzi, Anas Miftah; Utomo, Amin Priyo; Elfrida, Nitariani; Nilasari, Maya
Jurnal Mikrobiologi Indonesia Vol 5, No 1 (2000): JURNAL MIKROBIOLOGI INDONESIA
Publisher : Jurnal Mikrobiologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biodegradation of epichlorohydrin ECH by strain G3 temporarily identified as Pseudomonas ,zeruginosa wasinvestigated both in suspended cultures and bloflim reactors. Experiment was performed to study biodegradationprofile of thetarget pollutant in the presence of other organic pollutants, i.e. mixture of benzene, toluene, sylene, and heavymetal, i.e. PbNOJ,. The results indicated that the chemicals reduced the specific growth rates of G3 isolate in the suspendedcultures with ECH added as the sole carbon source. These chemicals also slightly reduced dechlorination rate of ECH inthe emuent of bioflim reactor. This study also showed that the magnitude of 2 mg/I ECH degradation decreased with the lowerretention time. 67.6% of degradation was occured during 1.33 mm retention time.
KAJIAN MANFAAT EKONOMIS PENERAPAN KONSEP PRODUKSI BERSIH PADA INDUSTRI KARET REMAH BERBASIS KARET RAKYAT Utomo, Tanto Pratondo; Fauzi, Anas Miftah; Irawadi, Tun Tedja; Romli, Muhammad; Aman, Amril; Honggokusumo, Suharto
Majalah Ilmiah Ekonomi Komputer 2007: Majalah Ilmiah Ekonomi Komputer Edisi Agustus
Publisher : Majalah Ilmiah Ekonomi Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1076.352 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis manfaat ekonomis penerapan konsep produksi bersihberdasarkan altematif terpilih untuk perbalkan proses pada industri karet remah yang dapal meningkatkanefisiensi dan mengurangi resiko pencemaran dan dapat diterapkan pada penyedia bahan baku (petani karet,KUD, dan pedagang pengumpul) dan pengolahan bokar menjadi karet remah (pabrik karet remah). Hasilpenelitian menunjukkan bahwa penerapan konsep produksi bersih pada industri karet remah berbasis karetrakyat yang diterapkan pada tahap penyediaan bahan baku dan pada tahap pengolahan bokar menjadi karetremah menghasilkan keuntungan ekonomis dengan (1) penghematan air sebanyak 18,5 m3110n karet kering;(2) penghematan energi senilai Rp. 7.91011on karet kering; (3) tidak diperlukan investasi untuk peralatanpenghilangan bau (malodour); (4) dihindari terjadinya kerugian akibat proses penggantungan selama 14 harisenilai Rp. 70/kg bokar; dan (5) tahapan proses pengolahan bokar menjadi karet remah lebih singkat dengantidak digunakannya mesin hammer-mills. Dampak ekonomis yang bersifat menambah biaya adalah (1)diperlukan investasi tambahan untuk resirkulasi air; (2) investasi fasilitas penggilingan bokar; dan (3) investasibiaya pengolahan Iimbah berupa serum hasil pengpresan bokar pada tingkat petani karet.Kata kunci: produksi bersih, bokar, karet remah, manfaat ekonomis
Rekayasa Biopolimer Jerami Padi dengan Teknik Kopolimerisasi Cangkok dan Taut Silang Purwaningsih, Henny; Irawadi, Tun Tedja; Mas?ud, Zainal Alim; Fauzi, Anas Miftah
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Valensi Volume 2, No.4, Mei 2012
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Syarif Hidayatullah State Islamic Uni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jkv.v2i4.266

Abstract

Kopolimerisasi cangkok dan taut silang akrilamida (AAm) terhadap jerami padi dilakukan dalam suasana hampa udara menggunakan aliran gas N2 dengan amonium persulfat (APS) sebagai inisiator dan N,N?-metilena-bis-akrilamida (MBAAm). Pencirian dilakukan dengan teknik mikroskopi pemayaran elektron (SEM) untuk melihat morfologi permukaan, teknik spektroskopi FTIR untuk melihat gugus fungsi, dan teknik DTA untuk menganalisis ketahanan produk terhadap suhu. Kajian dilakukan terhadap swelling capacity produk hasil rekayasa. Spektra FTIR dan mikrograf menunjukkan bahwa kopolimerisasi cangkok dan taut silang telah terjadi pada biopolimer selulosa jerami padi. Produk hasil rekayasa memiliki ketahanan termal yang lebih baik dan indeks kristalinitas yang lebih tinggi dari isolat selulosanya. Nisbah dan efisiensi pencangkokan berturut-turut adalah 66,14-78.15% dan 13,23-16.63%. Swelling capacity sebelum proses hidrolisis berkisar antara 8,16- 12,20 g g-1. Proses hidrolisis terhadap produk hasil rekayasa mampu meningkatkan swelling capacity hingga 12,5 kali kapasitas awal. Selulosa adalah polimer alam dengan kelimpahan yang banyak, tidak mahal, tidak beracun, mudah didegradasi, dan termasuk ke dalam sumberdaya alam yang dapat diperbarui. Saat ini, pemanfaatan selulosa sebagai bahan baku alternatif di dalam industri (starting material) cenderung meningkat. Hal ini disebabkan semakin berkurangnya jumlah cadangan bahan baku yang berasal dari sumberdaya alam yang tidak dapat diperbarui seperti minyak dan batu bara. Selain itu, perhatian dunia Internasional akan isu-isu yang terkait dengan masalah lingkungan pun cenderung meningkat. Selain memiliki beberapa keunggulan, selulosa juga memiliki kelemahan jika dibandingkan dengan polimer sintetik, yaitu adanya ikatan hidrogen intra- dan antarmolekul yang kuat pada selulosa sehingga sulit diakses oleh senyawa lain. Modifikasi terhadap selulosa perlu dilakukan untuk memenuhi persyaratan dalam penerapannya di industri. Modifikasi kimia melalui kopolimerisasi cangkok dengan berbagai monomer sintetik diketahui dapat memperbaiki sifat-sifat seperti kemampuan menyerap air, elastisitas, kemampuan tukar ion, ketahanan terhadap termal, dan ketahanan terhadap serangan mikroba (McDowall et al. 1984). Berbagai jenis polimer dapat dicangkok (grafting) ke rantai selulosa melalui gugus hidroksil pada posisi C2, C3, dan C6 (Enomoto- Rogers et al. 2009). Gugus hidroksil pada C2 dan C3 adalah gugus hidroksil yang terikat pada atom karbon sekunder, sedangkan gugus hidroksil pada C6 terikat pada atom karbon primer. Kereaktifan dan kemasaman gugus hidroksil primer dan sekunder ini berbeda. Dengan memilih monomer yang tepat, maka kekuatan mekanik dan stabilitas termal material berbasis selulosa yang dimodifikasi dengan teknik pencangkokan dapat ditingkatkan (Princi 2005). Selain itu, polisakarida yang telah dimodifikasi tersebut dapat menghasilkan produk berstruktur makromolekular seperti gel atau hidrogel, resin polimer, membran atau material komposit yang dapat diaplikasikan sebagai material separator dalam teknologi separasi (Crini 2005). Beberapa kajian polimerisasi cangkok terhadap bahan berbasis selulosa telah banyak dilaporkan. Princi et al. (2005) melakukan modifikasi selulosa melalui kopolimerisasi cangkok menggunakan monomer metil metakrilat dan etil akrilat. Khan et al. (2009) melaporkan telah melakukan modifikasi pada permukaan serat kulit pohon Okra dengan teknik pencangkokan menggunakan monomer akrilonitril, inisiator K2S2O8, dan katalis FeSO4. Rendemen produk teknologi hasil pencangkokan diperoleh sebesar 11.43% pada suhu 70 C selama 90 menit menggunakan 3 x 10-2 mol akrilonitril melalui kopolimerisasi cangkok akrilamida menggunakan irradiasi diikuti dengan hidrolisis menggunakan larutan alkali. Produk akhir yang diperoleh berupa hidrogel yang bersifat superabsorben dengan kemampuan menyerap (swelling capacity) mencapai 10 kali di dalam air destilata dan 3 kali dalam larutan NaCl. Huang et al. (2009) melaporkan telah memodifikasi ampas tebu yang terlebih dahulu diaktivasi secara mekanik, lalu dilanjutkan dengan kopolimerisasi cangkok menggunakan monomer asam akrilat dan pasangan redoks NH2S2O8/Na2SO3 sebagai inisiator. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa aktivasi secara mekanik mempengaruhi sifat produk kopolimerisasi cangkok ampas tebu, dimana rendemen dan efisiensi pencangkokan meningkat dengan meningkatnya waktu aktivasi. Doane et al. (2009) juga melaporkan telah melakukan modifikasi pati yang berasal dari berbagai sumber dengan teknik pencangkokan dilanjutkan dengan taut silang untuk mendapatkan polimer superabsorben dengan kemampuan menyerap yang cukup tinggi. Di Indonesia, jerami padi adalah limbah pertanian yang dihasilkan dalam jumlah cukup banyak setiap tahunnya. Menurut Kim dan Dale (2004), nisbah jerami padi terhadap padi yang dipanen adalah 1.4, artinya untuk menghasilkan 1 ton padi akan menghasilkan 1.4 ton jerami padi. Pada tahun 2011, total produksi padi menurut data BPS mencapai 67.31 juta ton, sehingga jerami padi akan diperoleh sebanyak 94.23 juta ton. Selama ini jerami padi di Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagian besar jerami padi dibakar setelah proses penggabahan selesai. Dari berbagai kajian diketahui bahwa komponen utama dinding sel pada jerami padi adalah selulosa. Kandungan selulosa yang cukup besar ini menjadikan jerami padi sebagai sumber selulosa yang cukup potensial. Menurut Sun et al. (2000), komposisi jerami padi terdiri atas selulosa 36,5%, hemiselulosa 33,8%, lignin 12,3%, bahan ekstraktif 3,8%, abu 13,3%, dan silika 70,8%.Penelitian ini bertujuan mendapatkan (1) produk kopolimerisasi cangkok akrilamida dan taut silang N,N?-metilena-bis-akrilamida sebagai suatu upaya rekayasa biopolimer dari selulosa jerami padi; (2) karakteristik produk hasil rekayasa yang dilakukan melalui analisis gugus fungsi dengan teknik spektroskopi IR (infrared), analisis morfologi permukaan dengan teknik dievaluasi melalui nisbah pencangkokan dan efisiensi pencangkokan.
Rancang Bangun Sistem Peningkatan Kinerja Rantai Pasok Industri Minyak Atsiri Efendi, .; fauzi, Anas Miftah; Machfud, Machfud; Sukardi, Sukardi
Jurnal Manajemen Teknologi Vol 13, No 2 (2014)
Publisher : SBM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12695/jmt.2014.13.2.2

Abstract

Abstract. Competitiveness of Indonesian essential oil industry is still low as efficiency is low. One of production system that has an aim to do efficiency, that are lowering cost, reducing lead time (faster delivery), higher quality is lean production system. The most suitable lean production tool for reducing lead time, also can be applied in all industries is value stream mapping (VSM). VSM has ben applied much in discrete industry, application in essential oil industry, that is process industry, need to be modified. The purposes of this reasearch is to design supply chain performance improvement system in the essential oil industry, using Rother and Shooks value stream mapping model that will be modified according to essential oil industry characteristic. The reserach shows that VSM can be used to design supply chain performance improvement system of essential oil industry. Supply chain performance of essential oil industry can be improved by setting up an essential oil cooperative.Keywords : cooperative, efficiency, lead time, lean production system, value stream mapping.Abstrak. Daya saing industri minyak atsiri Indonesia masih rendah karena efisiensi yang rendah. Salah satu sistem produksi yang mempunyai tujuan untuk melakukan efisiensi, yaitu menurunkan biaya produksi, mengurangi waktu tempuh produksi, serta kualitas yang lebih tinggi adalah sistem produksi ramping. Perangkat produksi ramping yang paling sesuai untuk mengurangi waktu tempuh produksi, juga bisa diterapkan untuk semua jenis industri adalah pemetaan penyebaran nilai. Pemetaan penyebaran nilai telah diterapkan secara luas di industri diskrit, namun penerapan di industri minyak atsiri, yang merupakan industri proses, perlu dilakukan penyesuaian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang bangun sistem peningkatan kinerja rantai pasok di industri minyak atsiri, menggunakan model pemetaan penyebaran nilai dari Rother dan Shook yang disesuaikan dengan karakteristik dari industri minyak atsiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemetaan penyebaran nilai dapat digunakan untuk merancang bangun sistem peningkatan kinerja rantai pasok industri minyak atsiri. Kinerja rantai pasok industri minyak atsiri bisa ditingkatkan dengan membentuk Koperasi di industri minyak atsiri terkait.Kata kunci : efisiensi, koperasi, pemetaan penyebaran nilai, sistem produksi ramping, waktu tempuh.
STRATEGI DISTRIBUSI PRODUK TEH SIAP SAJI Wiedjarnarko, Sally; Fauzi, Anas Miftah; Rusli, Meika Syahbana
Jurnal Manajemen & Agribisnis Vol 12, No 1 (2015): Vol. 12 No. 1, Maret 2015
Publisher : School of Business, Bogor Agricultural University (SB-IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17358/jma.12.1.68

Abstract

Freshbrew Mels Beverages is a small-sized packaged tea beverage company. The brand product is "Mary Tea" which consists of two types of tea beverages. The company uses forwarding channel in delivering its products to the markets in Central Java, Lampung and Bali. The current problems faced by the company include the channel distribution which is not optimum in delivering its total products and costs it has spent. This study was designed to analyze the optimum distribution system and formulate the most cost-effective product delivery strategy.  The methods used were descriptive and quantitative approaches. The descriptive method included a method of benchmarking, and the quantitative approach included analysis of the distribution margin, Data Envelopment Analysis (DEA), Analytic Hierarchy Process (AHP), and financial analysis. The results show that: 1) a forwarder was the only distribution system used by the company, 2) Central Java was ?under-performing group?, whereas Lampung and Bali were in ?effectively managed but sales? group, 3) the critical factor that affected the highest distribution costs was the number of authorized distributors owned by the company, 4) the best alternative strategy was to expand sales locations in the area of production, and 5) the investment for purchasing a container truck in order to minimize cost was feasible with NET B/C of 4.88 for 5 years and 6 months. The recommended strategies for solving the problem include developing markets, selecting transportation and expedition, having authorized distributors, increasing sales, and creating coordinated management system. Keywords: distribution, distribution margin, DEA, AHP, financial analysisABSTRAKFreshbrew Mels Beverages adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang minuman ringan yang memproduksi teh dalam kemasan. Merek produknya adalah ?Mary Tea? yang terdiri dari dua jenis minuman teh. Freshbrew Mels Beverages menggunakan sistem distribusi ?forwarder? dalam mendistribusikan produk ke pasaran yaitu Jawa Tengah, Lampung dan Bali. Permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan adalah saluran distribusi yang tidak optimal dalam jumlah produk yang dikirimkan dan biaya yang dikeluarkan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis sistem distribusi yang digunakan oleh perusahaan dan merumuskan strategi untuk mendistribusikan produk dengan biaya minimum. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Metode deskriptif meliputi benchmarking, sedangkan pendekatan kuantitatif meliputi analisis marjin distribusi,  Data Envelopment Analysis (DEA), Analytic Hierarchy Process (AHP), dan analisis finansial. Hasil penelitian menunjukkan: 1) sistem distribusi ?forwarder? adalah sistem distribusi yang digunakan oleh perusahaan, 2) Jawa Tengah termasuk kelompok ?under-performing?, sedangkan Lampung dan Bali termasuk kelompok ?effectively managed but sales?, 3) faktor kritis yang mempengaruhi tingginya biaya distribusi adalah jumlah distributor resmi yang dimiliki oleh perusahaan, 4) alternatif strategi terbaik adalah memperluas lokasi pemasaran di area produksi, dan 5) biaya investasi untuk membeli satu buah truk kontainer dapat dilakukan dengan Net B/C 4,88 selama lima tahun enam bulan. Strategi yang direkomendasikan adalah melalui pengembangan pasar, pemilihan transportasi dan jasa ekspedisi, kepemilikian distributor resmi, peningkatan penjualan, dan sistem manajemen yang terkoordinasi.Kata kunci: distribusi, marjin distribusi, DEA, AHP, analisis finansial
KAJIAN FINANSIAL ISOLASI CITRONELLAL DAN RHODINOL PADA INDUSTRI BERBASIS SENYAWA TURUNAN MINYAK SEREH WANGI Endah Lestari, Retno Sri; Mangunwidjaja, Djumali; Suryani, Ani; Fauzi, Anas Miftah; Rusli, Meika Syahbana
Jurnal Teknotan Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Jurnal Teknotan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isolasi komponen Citronellal dan Rhodinol pada minyak sereh wangi dapat diterapkan pada industri untuk meningkatkan nilai tambah dan mengembangkan industri intermediate minyak sereh wangi. Untuk mengetahui kelayakan penerapannya, diperlukan analisis finansial terhadap proses isolasi tersebut. Kelayakan investasi pada pendirian industri baru maupun pengembangan industri minyak sereh dilihat NPV, BEP, PBP, Net B/C dan IRR yang dapat menggambarkan apakah proyek masih atraktif untuk direalisasikan. Pada pendirian industri baru, nilai NPV sebesar Rp11,844,269,430.12, IRR sebesar  47 %. Masa pengembalian modal (PBP) tercapai selama periode 2.79 tahun. Nilai Net B/C adalah 2.75 dan titik impas produksi (BEP) diperoleh pada nilai penjualan Rp. 5,217,742,676.09. Sedangkan pada pengembangan industri minyak sereh wangi, NPV dari pengembangan industri tersebut sebesar Rp 12.348.032.363,16. Nilai IRR untuk pengembangan industri dengan  Input 600 kg / proses  adalah 89 %. Masa pengembalian  modal (PBP) pengembangan industri tercapai selama periode 4,41 tahun. Nilai Net B/C yang diperoleh dari pendirian Pabrik Citronellal dan Rhodinol  ini adalah 6,30. Titik impas produksi (BEP) diperoleh pada nilai penjualan Citronellal sebesar Rp 20.912.029.225,35. Hal ini menunjukkan bahwa pendirian industri baru maupun pengembangan industri minyak sereh wangi yang sudah ada, layak untuk direalisasikan. Kata kunci: minyak sereh wangi, Citronellal, Rhodinol, kelayakan finansial, industri
KINERJA AKADEMIK PASCA SERTIFIKASI AUN-QA PADA PROGRAM STUDI DI INSTITUT PERTANIAN BOGOR Adelyna, Adelyna; Fauzi, Anas Miftah; Juanedi, Ahmad
Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen (JABM) Vol 2, No 2 (2016): JABM Vol. 2 No. 2, Mei 2016
Publisher : School of Business, Bogor Agricultural University (SB-IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17358/jabm.2.2.183

Abstract

The aims of the research are to evaluate the academic performance progress of the six study programs of IPB after the certification of AUN-QA. The research was a case study in six study programs that had been certified by AUN-QA until December 2014. This research was conducted with the objectives of defining the relevant indicators of BSC IPB and AUN-QA criteria, analyzing the criteria values of AUN-QA after the AUN-QA certification, analyzing the academic performance based on KPI BSC after the AUN-QA certification, and analyzing the problems in improving academic performance as the basis for the formulation of strategies for improving academic quality. The method used in this research was the balanced scorecard approach (BSC). The results showed that the certification of AUN-QA contains 15 relevant criteria and supports the achievement of BSC IPB. Key performance indicators (KPI) BSC IPB supported by the AUN-QA criteria consist of 21 of the 33 indicators of BSC IPB, and 14 of them are relegated to the BSC department indicators. The AUN-QA criteria values on the study program have increased with the highest criterion value in student quality and the lowest one in support staff quality. The weak criteria required to be improved include support staff quality, student assessment, stakeholder feedback, and program specification.Keywords: AUN-QA certification, academic performance, balanced scorecard
Efek Perlakuan Kimiawi dan Hidrotermolisis pada Biomas Tanaman Jagung (Zea mays L.) Sebagai Substrat Produksi Bioetanol Wagiman, Wagiman; Fauzi, Anas Miftah; Mangunwidjaja, Jumali; Sukardi, Sukardi
Agritech Vol 31, No 2 (2011)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1262.61 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9738

Abstract

The purpose of this research was to obtain a fermentation substrate with a high content of cellulose and hemicellulose, as well as to decrease the cellulose cystalinity. Dried corn stover was crushed to pass 40 mesh, added by Ca(OH) and water, then heated at a certain time. The experimental design was prepared using a four-factor central composite design (CCD). The results of the chemical pretreatment were treated using hydrothermolysis methods for enhancing the lignin removal and decreasing cellulose crystalinity. The suitable process condition for chemical pretreatment was achieved at the loading of 0.075 g Ca(OH) /g corn stover and 6.25 ml water/g corn stover, temperature 74.6 OC at 2 hours. After hydrothermolysis, cellulose and hemicellulose were dissolved at the percentages of 52.40 % and 31.84 % respectively, while the fraction of solid substrate had a composition of cellulose of 42.68 % and hemicellulosa of 34.68 %. The crystalinity of cellulose from the leaves, cobs, and cornhusk decreased significantly. The SEM results indicated that the surface of cell wall of corn stover had been perforated by these pretreatment processes. These pores might increase the enzymatic hydrolysis of the lignocellulosic corn stover.ABSTRAKTujuan penelitian adalah mendapatkan substrat fermentasi dengan kandungan selulosa dan hemiselulosa tinggi serta menurunkan kristalinitas komponen selulosa. Limbah tanaman jagung yang sudah kering dihancurkan hingga lolos 40 mesh, ditambah Ca(OH) dan air, kemudian dipanaskan pada suhu dan waktu tertentu. Rancangan percobaan disusun dengan menggunakan central composite design (CCD) dengan empat faktor. Hasil terbaik tahap ini diberi perlakuan hidrotermolisis untuk meningkatkan penyisihan komponen lignin dan menurunkan kristalinitas selulosa. Hasil pene­ litian menunjukkan bahwa kondisi proses terbaik adalah penambahan 0,075 g Ca(OH) /g biomas dan 6,25 ml air/g biomas, suhu pemanasan 74,6 OC dengan waktu 2 jam. Setelah hidrotermolisis, 52,40 % selulosa dan 31,84 % hemise­lulosa terlarut ke dalam air, sedangkan substrat fraksi padat memiliki komposisi selulosa 42,68 %, hemisellulosa 34,68%. Penurunan kristalinitas selulosa terjadi pada substrat dari daun, tongkol, dan kelobot. Hasil SEM mengindikasikanterbentuknya pori­pori pada substrat padat yang diharapkan dapat meningkatkan efektivitas hidrolisis enzimatik.
Pemilihan Starter Cair Unggul untuk Fermentasi Biji Kakao Misgiyarta, nFN; Fauzi, Anas Miftah; Syamsu, Khaswar; Munarso, S Joni
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v16n1.2019.19-24

Abstract

Kualitas biji kakao fermentasi rendah  karena kualitas starter mikroba untuk fermentasi biji kakao rendah. Seleksi starter mikroba diperlukan untuk mendapatkan starter yang unggul. Ada dua jenis starter, yaitu starter cair dan starter kering. Starter cair banyak digunakan untuk fermentasi biji kakao. Starter yang diuji adalah starter cair, yaitu starter Inoka, starter cair BB-Pasca, dan starter yoghurt. Seleksi starter mikroba dilakukan dengan memfermentasi pulp biji kakao selama 24 jam pada berbagai suhu fermentasi (20oC, 30oC, dan 40oC). Parameter yang diamati adalah jumlah total mikroba, laju pertumbuhan mikroba starter, tingkat konsumsi gula pereduksi oleh mikroba starter, total asam yang diproduksi, tingkat penurunan pH, dan peningkatan suhu fermentasi serta korelasi antara parameter pengamatan penelitian. Starter cair unggul yang terpilih adalah starter cair Inoka. Karakteristik starter Inoka adalah memiliki tingkat laju pertumbuhan μ = 0.470, konsumsi gula pereduksi oleh mikroba starter 12%, peningkatan asam total 7%, penurunan pH 5,2, dan peningkatan suhu fermentasi 1,56oC  serta korelasi antara parameter penelitian di atas 0,61.