Articles

Found 11 Documents
Search

ANALISA DAYA SAING DAN PELUANG EKSPOR WORTEL DI KELOMPOK TANI KATATA, PANGALENGAN, JAWA BARAT Budiman, Arief; Trimo, Lucyana; Suminartika, Eti; Fatimah, Sri
Agricore Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komoditas wortel telah lama menjadi andalan produksi salahsatu kelompok tani Katata yang berada di Pangalengan, Jawa Barat. Produksinya memiliki kualitas dan kuantitas yang tidak hanya baik dalam pemenuhan lokal saja, namun juga terhadap pemenuhan Ekspor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pengatahuan daya saing dan peluang ekspor dari dampak kebijakan pemerintah pada usahatani wortel di Kelompok Tani Katata. Penelitian dilakukan di Kelompok Tani Katata, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Data dianalisis dengan Policy Analysis Matrix (PAM), untuk menghitung keunggulan komparatif, keunggulan kompetitif dan dampak kebijakan pemerintah dengan menggunakan harga aktual dan harga bayangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengusahaan wortel di Kelompok Tani Katata memiliki keunggulan kompetitif karena nilai PCR sebesar 0,062 atau PCR kurang dari satu (PCR < 1). Hal yang sama menunjukkan bahwa wortel memiliki keunggulan komparatif dengan nilai DRC 0,060 atau DRC kurang dari satu (DRC < 1). Kebijakan pemerintah dinilai menghambat ekspor output dan adanya proteksi terhadap input lokal dibuktikan dengan nilai NPCO dan NPCI yang kurang dari satu. Secara keseluruhan kebijakan pemerintah yang berlaku saat ini masih belum mendukung dalam hal pengembangan dan peningkatan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif pengusahaan komoditas wortel di Kelompok Tani Katata.
PERSEPSI DAN PERILAKU PRODUSEN DAN KONSUMEN TERHADAP LABEL ASAL DAERAH PADA MANGGA GEDONG GINCU Deliana, Yosini; Fatimah, Sri; Charina, Anne
Sosiohumaniora Vol 16, No 1 (2014): SOSIOHUMANIORA, MARET 2014
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.12 KB)

Abstract

Mangga gedong gincu (Mangifere indica var.Gedong) banyak diusahakan di Jawa Barat dengansentra produksi Indramayu, Majalengka dan Cirebon. Hasil penelitian lapangan mengungkapkan bahwa manggagedong gincu dari Majalengka dan Cirebon lebih diminati konsumen daripada Gedong gincu dari Indramayu,karena bentuknya lebih bulat, warnanya lebih menarik dan aromanya lebih tajam (Deliana, 2011). Masalahnyaadalah tidak ada jaminan kualitas bahwa mangga tersebut memiliki kematangan tertentu, rasa dan bebas hamaseperti harapan konsumen. Sejak tahun 2005 pedagang besar di Kabupaten Majalengka, Cirebon dan Indramayumencoba menempelkan label pada mangga gedong Gincu, tapi bukan label asal daerah. Label asal daerah hanyadikeluarkan oleh Dinas Pertanian setempat dan hanya digunakan mangga Gedong Gincu pada saat pameranatau sebagai oleh-oleh kepada tamu khusus yang berkunjung ke daerah tersebut. Penelitian dilakukan dari bulanJuli sampai dengan September 2013 di Kecamatan Sedonglor Kabupaten Cirebon karena banyak pelaku pasarsudah menggunakan label. Sampel petani diambil secara acak sebanyak 30 orang, 30 konsumen Cirebon dan200 konsumen Bandung. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa produsen dan konsumen mengganggap pentinglabel asal daerah, akan tetapiprodusen maupun konsumen tidak mengetahui bahwa label asal daerah seharusnyamenunjukkan informasi tanggal petik, informasi letak kebun, informasi asal daerah dan sebagai persyaratanuntuk ekspor. Untuk meningkatkan pemasaran mangga, harus ada program yang terintegrasi dan adanya salingketerkaitan antara konsumen, produsen, pelaku pasar, dan penentu kebijakan. Harapannya ke depan, origin labelingdapat dikembangkan menjadi Country of Origin labeling (COOL) dan menjadi titik awal untuk internasionalisasimangga di pasar globalKata kunci : Persepsi, perilaku, produsen, konsumen dan label asal daerah
Pengembangan Instrumen Assesmen Portofolio pada Pembelajaran Tematik Kelas VI Sekolah Dasar Fatimah, Sri; Sabdaningtyas, Lilik; Surbakti, Arwin
Jurnal Pedagogik Vol 6, No 9 (2017): Jurnal Pedagogi
Publisher : Jurnal Pedagogik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.403 KB)

Abstract

This study was motivated by teachers difficulties in applying portfolio assessment, because the learning so far used the paper assessment and pencil test. This study aimed to develop a feasible, valid and reabel portfolio assessment instrument. The type of study was Research and Development (R & D). The population was teachers and students of class VI Gedongtataan. Sampling was done by cluster sampling technique of 5 teachers and 102 students. Data collection using questionnaires and observation sheets. Place of study was at Elementary School 38, 12, and 6 in Gedongtataan. Data analysis used Product Moment and Kohen Kappa test. The result of study showed the achievement of a decent, valid and reabel portfolio assessment instrument with Kappa value of 0.638 and a significant value of 0,000 indicated good correlation of reability.Penelitian ini dilatarbelakangi adanya kesulitan guru dalam menerapkan assesmen portofolio, karena pembelajaran selama ini menggunakan assesmen paper and pencil test. Penelitian ini bertujuan menggembangkan instrumen assesmen portofolio yang layak, valid, dan reabel. Jenis penelitian Research and Development (R&D). Populasi dalam penelitian ini adalah guru dan siswa kelas VI Gedongtataan. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster sampling sebanyak 5 guru dan 102 siswa. Pengumpulan data menggunakan lembar angket dan lembar observasi.Tempat penelitian di SDN 38, SDN 12, dan SDN 6 Gedongtataan. Analisis data menggunakan product moment dan uji Kohen Kappa. Hasil penelitian menunjukkan terwujudnya instrumen asesmen portofolio yang layak, valid, dan reabel dengan nilai Kappa 0,638 dan nilai Signifikan 0,000 menandakan adanya korelasi reabilitas yang baik.Kata Kunci : assesmen, portofolio, pembelajaran tematik
ANALISIS KOMUNIKASI RISIKO PETANI BAWANG MERAH Harlina, Raesa; Fatimah, Sri; Setiawan, Iwan
Jurnal AGRISEP JURNAL AGRISEP VOL 17 NO 2 2018
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.158 KB)

Abstract

Onion is the third largest horticultural commodity with the production and land area in Indonesia. The growth of onion demand has an increase up to 1.73% annually. This motivates farmers to develop their onion farms. On the other hand, onion is a risky farm that comes from various factors. Farm risk perceptions need to be developed through risk communication. Without risk communication, farmers' awareness of possible risks is low and farming is increasingly at risk. This research uses descriptive method and sociometry to know perception and risk communication of Rindu Alam Farmer Group. There is a wide diversity of farmers' perceptions towards risk. Risk communication is done directly. The type of social network in this group is the whole network. The density of the network is 0.369 with medium strength, number of bond 114. The actor who has the highest degree of closeness, betweenness and centrality is the manager of the group. This group network system forms 12 clicks with a minimum of 3 members. Leaders in this group are joined in more than one clique. The most frequently communicated risk factors that are considered important.Keywords: social network analysis (SNA), risk communication, risk perception, clique, betweenness, closeness, density, the centrality
PERSEPSI DAN PERILAKU PRODUSEN DAN KONSUMEN TERHADAP LABEL ASAL DAERAH PADA MANGGA GEDONG GINCU Deliana, Yosini; Fatimah, Sri; Charina, Anne
Sosiohumaniora Vol 16, No 1 (2014): SOSIOHUMANIORA, MARET 2014
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.12 KB)

Abstract

Mangga gedong gincu (Mangifere indica var.Gedong) banyak diusahakan di Jawa Barat dengansentra produksi Indramayu, Majalengka dan Cirebon. Hasil penelitian lapangan mengungkapkan bahwa manggagedong gincu dari Majalengka dan Cirebon lebih diminati konsumen daripada Gedong gincu dari Indramayu,karena bentuknya lebih bulat, warnanya lebih menarik dan aromanya lebih tajam (Deliana, 2011). Masalahnyaadalah tidak ada jaminan kualitas bahwa mangga tersebut memiliki kematangan tertentu, rasa dan bebas hamaseperti harapan konsumen. Sejak tahun 2005 pedagang besar di Kabupaten Majalengka, Cirebon dan Indramayumencoba menempelkan label pada mangga gedong Gincu, tapi bukan label asal daerah. Label asal daerah hanyadikeluarkan oleh Dinas Pertanian setempat dan hanya digunakan mangga Gedong Gincu pada saat pameranatau sebagai oleh-oleh kepada tamu khusus yang berkunjung ke daerah tersebut. Penelitian dilakukan dari bulanJuli sampai dengan September 2013 di Kecamatan Sedonglor Kabupaten Cirebon karena banyak pelaku pasarsudah menggunakan label. Sampel petani diambil secara acak sebanyak 30 orang, 30 konsumen Cirebon dan200 konsumen Bandung. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa produsen dan konsumen mengganggap pentinglabel asal daerah, akan tetapiprodusen maupun konsumen tidak mengetahui bahwa label asal daerah seharusnyamenunjukkan informasi tanggal petik, informasi letak kebun, informasi asal daerah dan sebagai persyaratanuntuk ekspor. Untuk meningkatkan pemasaran mangga, harus ada program yang terintegrasi dan adanya salingketerkaitan antara konsumen, produsen, pelaku pasar, dan penentu kebijakan. Harapannya ke depan, origin labelingdapat dikembangkan menjadi Country of Origin labeling (COOL) dan menjadi titik awal untuk internasionalisasimangga di pasar globalKata kunci : Persepsi, perilaku, produsen, konsumen dan label asal daerah
Kajian Pengembangan Agroindustri Berbasis Teh Rakyat Trimo, Lucyana; Fatimah, Sri; Djuwendah, Endah
Jurnal Rekayasa Hijau Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.451 KB)

Abstract

ABSTRAKPeluang kelompok tani teh menjadi kelompok bisnis agroindustriteh cukup besar, ini karena tingginya dukungan pemerintah melalui program GPATN serta semakin tingginyapermintaan pasar luar negeri dan dalam negeri dalam bentuk“instant tea” (makanan, minuman, farmasi, kosmetik).Namun, kondisi tersebut belum dapat dimanfaatkan dengan baik oleh petani teh. Hal ini terlihat dari, sebagian besar petani the masih menjual produknya dalam bentuk pucuk basah. Penelitian dilakukan untuk mengkaji kendala yang dihadapi oleh petani teh rakyat dalam pengembangan agro-industri teh. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan studi deskriptif survey. Tempat penelitian yang dipilih adalah Kabupaten: Garut (KecamataCisurupan), Cianjur (Kecamatan Sukanagara) dan Bandung (Kecamatan Pasirjambu), yang merupakan sentra teh di Provinsi Jawa Barat.Data dikumpulkan dengan cara: studi kepustakaan, dan wawancara dengan pihak terkait, yaitu pejabat pada instansi pemerintah, koperasi, pabrikan, asosiasi petani teh, kelompok tani, serta petani teh yang diambil secara acak sederhana dari setiap Kecamatan yang dijadikan sampel. Secara proposional sampel diambil berdasarkan luas wilayah sentra teh, dan setiap kecamatandiambil 30 orang petani teh. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif, dengan pendekatan system thinking. Salah satu alat pendekatan system thinking yang digunakan yaitu dengan causal loop modelling, agar mudah mendeskripsikannya maka digunakan Causal Loop Diagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kendala yang dihadapi dalam mengembangkan agroindustri teh rakyat, yaitu: 1) kurangnya ketersediaan pucuk the sebagai bahan baku agroindustri, 2) kurangnya pengetahuan untuk meningkatkan nilai tambah pucuk teh, 3) kurangnya kemampuan dalam penyediaan modal dan peralatan dalam mengolah pucuk teh, dan 4) masih kurangnya dukungan pemerintah dalam mempromosikan teh olahan rakyat (misal: dalam rapat-rapat atau kegiatan-kegiatan yang berlangsung di pemerintahan sebaiknya memanfaatkan produk olahan the dari petani).Katakunci: agroindustri, kendala, nilai tambah, peluang, teh rakyat, ABSTRACTThe increasing market demand, abroad and domestically in the form of "instant tea" (food, beverage, pharmaceutical, cosmetics), and also support from the higher government through GPATN program makes the oopportunitiesof tea small holder groups into tea agro-industry business is quite huge.But infact, this opportunity cannot be utilized properly bytea small holder. Most of the tea small holders still sell their products in the form of freshflush. This research was conducted toinvestigate the constrain of tea small holder in agroindustry development.The study was conducted using a survey descriptive study approach. Selected location research is located at the center of tea small holder in West Java province, i.e.District of Garut (Subsdistrict of Cisurupan), Cianjur (Subdistrict of Sukanagara) and Bandung (District of Pasirjambu). In this research, the data were collected by study of literature and interviews with relevant parties, i.e. officials at government agencies, cooperatives, manufacturers, associations of tea farmers, tea small holder groups, and tea farmers. Tea farmers are taken randomly from each subdistrict sampled. Proportionally, samples are taken based on the size area of tea central region, and from those each district about 30 tea farmers were taken. Data were analyzed descriptively, with a system thinking approach. One of the tool system thinking approaches used in this research is causal loop modeling, in particularly Causal Loop Diagram. Result of the research showed that the obstacles of tea small holder in developing agro-industrial were : 1) the lack of availability of tea flush as raw material for agro-industry, 2) the lack of knowledge to increase value added of tea flush, 3) the lack of capability in the providing capital and equipment in processing the tea flush, and 4) the lack of government support in promoting the tea small holder’s products (e.g., Doing product promotion fromthe tea small holder in the goverment meetings or activities; such as by using those products in the activities).Keywords: agro-industry, constrain, opportunity, tea small holder, value added 
Masyarakat informasi pada sektor pertanian: Kasus Petani Cabai Desa Genteng, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat Fatimah, Sri
PAX HUMANA Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Yayasan Bina Darma

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.37 KB)

Abstract

Paper ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh label masyarakat infomasi dapat dilekatkan pada pada suatu kelompok tani tanaman cabe di desa Genteng, Sukasari, Tanjungsari, Sumedang, Jawa barat.  Suatu masyarakat informasi antara lain dapat diukur dari kemampuan akses, mengevaluasi, mengorganisasikan dan menggunakan informasi untuk untuk belajar, mengatasi masalah, membuat keputusan dalam berbagai konteks. Dalam paper ini digunakan pendekatan kualitatif untuk mengetahui  derajat tersebut dengan melakukan kajian primer ke kelompok tani tanaman cabe yang berada di desa kasus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat melek informasi petani masih pada level rendah disebabkan kemampuan untuk memperoleh informasi masih kecil. Pendayagunaan informasi juga masih rendah. Hal ini terbukti dari kurangnya kreatifitas dan upaya untuk mengatasi masalah secara mandiri, kenyataanya masih sangat tergantung pada ketua kelompok tani,  penyuluh dan narasumber lain. Melek infomasi masih bersifat asimetris antara tokoh dan pimpinan kelompok dengan anggota.
KAJIAN POTENSI EKOWISATA DALAM MENUNJANG PENGEMBANGAN WILAYAH PADA SUB DAS CIKANDUNG DAN KAWASAN GUNUNG TAMPOMAS KABUPATEN SUMEDANG Djuwendah, Endah; S, Tuhpawana P; D, Yosini; Fatimah, Sri; T, Lucyana
JURNAL AGRIBISNIS TERPADU Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.227 KB)

Abstract

Sumedang is one of the districts in West Java that has the natural beauty of mountains, hills, watersheds and cool air into a tourist attraction. The location is strategic because Sumedang major cities it is surrounded by Indramayu, Majalengka, Garut, Bandung, Subang and Cirebon. This condition is supportive in creating a strong local economy and sustainable based on agribusiness, tourism and industry by empowering local socio-economic potential. This is consistent with the concept of ecotourism development that expected to adjust to the capability, the typology and the ecological function of land that will directly influence the sustainability of land resources, preserve local technology, art and local culture, and increase incomes around tourist sites. The purpose of this study is to identify the potential and constraints of ecotourism developing in sub watershed Cikandung and Tampomas Mountain region of Sumedang district. The study used a qualitative descriptive paradigm case study method. The research location is the District Paseh, Surian, Cimalaka, Tanjung Medar, Tanjung Kerta, Conggeang and Buahdua. Data collected through observation and interviews. The informants are community members and stakeholders at village, sub-district and district. Research results show that the condition of natural resources in subdas Cikandung and Mountain Regions Tampomas potential to be developed as an ecotourism attractions such as camping grounds, hiking, sightseeing springs, waterfall (waterfall) and hot spring. In addition, the fertile rice fields and streams can be used for livestock and fisheries travel. In order to optimize this potential requires the construction of facilities and infrastructure at the site and to tourist sites as well as full public involvement in the planning and management is to fit the needs and culture of the local community.
PERILAKU KEWIRAUSAHAAN PETANI MANGGA DALAM SISTEM AGRIBISNIS DI KABUPATEN MAJALENGKA PROVINSI JAWA BARAT Mukti, Gema Wibawa; Rasmikayati, Elly; Budi Kusumo, Rani Andriani; Fatimah, Sri
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 4, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Faculty of Agriculture, University of Galuh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.398 KB)

Abstract

Indonesia adalah produsen mangga terbesar ke-5 di dunia setelah India, Cina, Kenya dan Thailand. Kabupaten Majalengka, salah satu Kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Barat, merupakan salah satu sentra produksi mangga terbesar di Indonesia. Mangga telah menjadi komoditas unggulan di wilayah ini dan menjadi sumber pendapatan utama sebagian besar petani mangga di kabupaten Majalengka. Permintaan buah mangga di dalam dan luar negeri cenderung mengalami peningkatan seiring dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi buah sebagai produk yang bermanfaat bagi kesehatan. Tuntutan akan kualitas dan juga kontinuitas produk tentunya menjadi peluang sekaligus tantangan bagi petani mangga untuk memenuhi tuntutan tersebut. Fokus penelitian ini adalah untuk melihat perilaku kewirausahaan petani mangga dalam menghadapi permintaan pasar yang semakin berkembang. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan teknik penelitian studi kasus. Lokasi penelitian di Kabupaten Majalengka dengan jumlah responden sebanyak 100 orang yang tersebar di wilayah Majalengka. Responden ditentukan secara purposive, yaitu petani yang menjadikan usahatani mangga sebagai sumber penghasilan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian petani (15 %) menjalankan usaha agribisnis mangga dengan tujuan untuk memperoleh pendapatan dan berorientasi pada pengembangan usaha mereka (Petani sebagai pengusaha), sedangkan sebagian lagi masih berorientasi pada pendapatan (85 %), namun belum berorientasi pada pengembangan usahanya menjadi lebih baik (Petani belum sebagai pengusaha).Kata kunci: Mangga, Perilaku kewirausahaan, Petani, Bisnis, Sistem Agribisnis
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PETANI MANGGA DALAM MENGGUNAKAN TEKNOLOGI OFF SEASON DI KABUPATEN CIREBON Budi Kusumo, Rani Andriani; Rasmikayati, Elly; Mukti, Gema Wibawa; Fatimah, Sri; Saefudin, Bobby Rachmat
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 4, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Faculty of Agriculture, University of Galuh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.149 KB)

Abstract

Kabupaten Cirebon merupakan salah satu sentra penghasil mangga di Provinsi Jawa Barat. Namun berbagai kendala menyebabkan ketidakstabilan produksi mangga di Kabupaten Cirebon, dimana salah satunya disebabkan adopsi teknologi off season yang masih terbilang rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : 1) karakteristik sosial ekonomi petani mangga di Kabupaten Cirebon; 2) Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani mangga dalam menggunakan teknologi off season di Kabupaten Cirebon. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Responden dalam penelitian ini adalah 130 orang petani mangga yang diambil secara acak. Data dianalisis secara deskriptif serta analisis regresi logistic. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden menanam mangga di lahan milik sendiri, dengan jumlah kepemilikan pohon < 100 pohon, Sebagian besar responden menggunakan modal sendiri dalam berusahatani mangga, dan menjual hasil panen kepada perusahaan pemasok buah. Frekuensi kegiatan penyuluhan, kemitraan dalam hal pemasaran, persepsi petani mengenai permintaan dan ketersediaan sarana produksi merupakan faktor – faktor yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan petani dalam menggunakan teknologi off season.  Dukungan berbagai pihak sangat diperlukan untuk mendorong peningkatan kuantitas dan kualitas mangga di Kabupaten Cirebon.Kata kunci: keputusan, mangga, off season, petani, pengaruh