Helmia Farida
Staf Pengajar Bagian Mikrobiologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Published : 37 Documents
Articles

Found 37 Documents
Search

The Sensitivity Pattern of Extended Spectrum Beta Lactamase-Producing Bacteria Against Six Antibiotics that Routinely Used in Clinical Setting Kuntaman, Kuntaman; Santoso, Sanarto; Wahjono, Hendro; Mertaniasih, Ni Made; Lestari, Endang S.; Farida, Helmia; Hapsari, Rebriarina; Firmanti, Stefani Candra; AS, Noorhamdani; Santosaningsih, Dewi; Purwono, Priyo Budi; Kusumaningrum, Deby
Journal of the Indonesian Medical Association Vol. 61 No. 12 December 2011
Publisher : Journal of the Indonesian Medical Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

The validated study of extended-spectrum b-lactamase (ESBL) producing bacteria inIndonesia is scarce. Multi-centre study on susceptibility of ESBLs producers is our point of view. A survey was carried out in three teaching hospitals in Surabaya (Dr. Soetomo), Malang (Dr. Saiful Anwar) and Semarang (Dr. Kariadi). Clinical ESBL-producers were collected in over four months period (January to April 2010) up to 300 strains. The susceptibility against 6antibiotics below were used as a point of view in analysis. As many as 300 isolates were collected, 140 (Surabaya), 85 (Semarang) and 75 (Malang) respectively. The three most prevalent ESBL producers were: E. coli (42.7%), Klebsiella pneumoniae (47.3%) and Enterobacter spp (7%). The other 9 strains were: Citrobacter spp, Klebsiella oxytoca, Proteus mirabilis and Serratia spp. The susceptibility analysis was then performed on the three most prevalent isolates. The sensitivity rate of E. coli, Klebsiella pneumoniae and Enterobacter spp against tested antibiotics were 3%, 4% and 5% for cefotaxim; 91%, 87% and 90% for Amikacin; 27%, 54% and 43% for Ciprofloxacin; 98%, 93% and 100% for Cefoperason-Sulbactam; 100%, 96% and 100% for Meropenem; 95%, 94% and 86% for Fosfomycin. As a conclusion, we found that amikacin, cefoperason-sulbactam, meropenem and fosfomycin, are prospective for emperic therapy in clinical setting of health services where ESBL producing bacteria were prevalent as causative. J Indon Med Assoc. 2011;61:482-6.Keywords: Extended Spectrum Beta Lactamases (ESBL), antibiotic, antimicrobial resistance,sensitivity.
KOLONISASI BAKTERI PATOGEN POTENSIAL PENYEBAB INFEKSI DAERAH OPERASI PADA KULIT PASIEN PRAOPERATIF (Studi Faktor Risiko Usia, Kebiasaan Merokok, Higiene Personal dan Lama Perawatan Praoperatif di RSUP Dr Kariadi Semarang) Wilantri, Gina Dhani; Farida, Helmia
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 4, No 4 (2015): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Backgroud : Surgical Site Infection (SSI) is associated with mortality and morbidity in hospital. The most common pathogen that caused SSI are Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Enterobacter sp, Pseudomonas sp. , and Klebsiella sp. Most SSIs are associated with the endogenous pathogen from patient normal flora, therefore skin colonization by pathogenic organisms a risk factor for SSI.Aim : To determine the prevalence of colonization by potential pathogen causing SSI and to analyze whether age, smoking habit, personal hygiene and pre-operative hospital stay were the risk factors.Methods : Observational analytic study with cross sectional data retrieval. Thirty eight pre-operative patient in the surgical ward of Dr Karidi hospital were taken their skin swab around the incision area within 2 hours before surgery. Patient personal data were taken using a questionnaire. Isolate from the skin swab specimen were identified in microbiology laboratory. The association between risk factors and skin colonization were analyzed using chi square/fischer exact testResult : The prevalence rate for S. aureus, Escherichia coli, Enterobacter sp, Pseudomonas sp. , and Klebsiella sp. skin colonization are 94.7%, 0%, 2.6%, 5.3% and 5.3% respectively. Bivariate analysis resulted that there were no significant value as risk factor for all variables.Conclusion : The prevalence of S. aureus skin colonization was high,that of Gram-negative bacilli was low. Age, smoking habit, personal hygiene and hospital stay were not risk factors for skin colonization by potential pathogenic bacteria causing SSI from pre-operative patien
MODIFICATION OF HUMAN BLOOD HEMATOCRIT LEVEL TO OPTIMIZING Streptococcus pneumoniae GROWTH ON THE HUMAN BLOOD AGAR MEDIA Lestari, Andi Ayu; Farida, Helmia
MEDIA MEDIKA MUDA 2012:MMM VOLUME 1 NUMBER 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Background: S. pneumoniae an important pathogen in humans because it can cause pneumoniae, sinusitis, otitis, bronchitis, bacteremia, meningitis. Sheep blood agar is the standard media for microbiological examination. Difficulties in supply of sheep blood in tropical countries is a constraint culturing S. pneumoniae, whereas the use of human blood that provision is not recommended for culture. This study aims to find an alternative to culture medium of human blood with hematocrit levels of medicationMethods: This study uses experimental design True post test only. Ninestrains of S. pneumoniae grown on media HuBA-St,SBA, and HuBA-Ht then incubated for 24 and 48 hours. Colony diameter, the diameter of hemolysis and colony characteristics are assessed in the incubation media to spike sputum.Results: After incubation 24 and 48 hours showed the colony diameter of S. pneumoniae in HuBA-Ht media is greater than HuBA-St and SBA (p = 0.000) in sputum spike suspension. Characteristics oftypical colonies of S. pneumoniae that in spike into the sputum in the HuBA-St and SBA to the observation of 24 and 48 hours of incubation is not significantly different 24 hours (p = 0.570) and 48 hours (p = 0.347)Conclusion: Media for the modification of human blood hematocrit as a viable alternative to the culture medium of S. pneumoniae in sputum spike can grow S. pneumoniae with characteristics maintained.Keywords: S. pneumoniae, Hematocrit, blood agar, human blood
KUALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DI BANGSAL BEDAH DAN OBSTETRI-GINEKOLOGI SETELAH KAMPANYE PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SECARA BIJAK Marityaningsih, Norma Juwita; Farida, Helmia
MEDIA MEDIKA MUDA 2012:MMM VOLUME 1 NUMBER 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar belakang : Penggunaan antibiotik secara tidak bijak di rumah sakit sering menimbulkan kejadian resistensi terhadap antibiotik. RS Dr.Kariadi telah dilakukan kampanye penggunaan antibiotik secara bijak melalui Pilot-Project- Program Pencegahan Pengendalian Resistensi Antibiotik (PP-PPRA) di Bangsal Bedah dan Obstetri-Ginekologi untuk meningkatkan penggunaan antibiotik secara bijak.Tujuan : Mengukur kualitas penggunaan antibiotik di bangsal Bedah dan Obstetri-GinekologiMetode : Penelitian dengan desain observasional analitik prospektif dilakukan di Bangsal Bedah dan Obstetri-Ginekologi dengan subjek penelitian pasien yang dilakukan operasi. Data yang berkaitan dengan kualitas antibiotik didapat dari catatan medik kemudian dilakukan review untuk menentukan kriteria kualitas antibiotik. Kualitas penggunaan antibiotik dinilai dengan kriteria Gyssens. Kualitas kedua bangsal dibandingkan dengan uji chi-squareHasil : Kualitas penggunaan antibiotik dengan kategori 0 (tepat indikasi, tepat waktu pemberian) dan I (tepat indikasi) di Bangsal Obstetri-Ginekologi sebesar 30,3% dan 3,6% ;Bangsal Bedah sebesar 5,4% dan 7,2%. Penggunaan antibiotik yang termasuk kategori V (tanpa indikasi) di Bangsal Bedah sebesar 56,9% dan di Obstetri-Ginekologi 48,2%.Kesimpulan : Kualitas penggunaan antibiotik di Bangsal Bedah dan Obstetri-Ginekologi masih belum sesuai dengan yang diharapkanKata Kunci : kualitas antibiotik, kriteria Gyssens , bangsal Bedah, bangsal Obsetri Ginekologi
KUANTITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DI BANGSAL BEDAH DAN OBSTETRI-GINEKOLOGI RSUP DR. KARIADI SETELAH KAMPANYE PP-PPRA Laras, Nuzulul Widyadining; Farida, Helmia
MEDIA MEDIKA MUDA 2012:MMM VOLUME 1 NUMBER 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar Belakang : Kampanye Pilot Project-Program Pencegahan Pengendalian Resistensi Antibiotik (PP-PPRA) merupakan cara untuk mempromosikan penggunaan antibiotik secara bijak dalam rangka mencegah terjadinya resistensi antibiotik. Diharapkan setelah kampanye penggunaan antibiotik menjadi lebih bijak, ditandai antara lain dengan kuantitas penggunaan menjadi lebih rendah.Tujuan : Mengukur kuantitas penggunaan antibiotik profilaksis di Bangsal Bedah dan Obstetri-Ginekologi setelah kampanye PP-PPRAMetode : Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan prospektif. Subyek merupakan pasien di Bangsal Bedah dan Obstetri- Ginekologi (Obsgin) yang dilakukan operasi bersih/bersih terkontaminasi dengan ASA I-II pada Januari-Juli 2012. Penggunaan antibiotik tiap subyek di rumah sakit dicatat dari rekam medik. Uji statistik menggunakan uji independent t test atau uji Mann-Whitney.Hasil : DDD/100 pasien hari di Bangsal Bedah (51,8) lebih tinggi daripada di Bangsal Obsgin (46,7). DDD/100 pasien di Bangsal Bedah (4,2) lebih tinggi daripada di Bangsal Obsgin (2,1). Rata-rata DDD total antibiotik/hari di Bangsal Bedah (0,5) lebih tinggi daripada di Bangsal Obsgin (0,4). Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan pedoman penggunaan antibiotik (ceftriaxon) di Bangsal Bedah (36,9 DDD/100 pasien hari) secara signifikan lebih tinggi daripada di Bangsal Obsgin (5,7 DDD/100 pasien hari, p=0,00). Penggunaan antibiotik yang sesuai dengan pedoman penggunaan antibiotik (cefazolin) di Bangsal Obsgin (28,2 DDD/100 pasien hari) secara signifikan lebih tinggi daripada di Bangsal Bedah (4,3 DDD/100 pasien hari, p=0,00).Kesimpulan : Kuantitas penggunaan antibiotik di Bangsal Bedah lebih tinggi daripada di Bangsal Obsgin. Jenis antibiotik yang tidak sesuai dengan pedoman penggunaan antibiotik secara statistik lebih banyak di Bangsal Bedah.Kata Kunci : Kuantitas antibiotik, Bangsal Bedah, Bangsal Obstetri-Ginekologi, Kampanye PP-PPRA.
Optimalisasi Agar Coklat Darah Manusia Sebagai Media Uji Sensitivitas Antibiotik terhadap Haemophilus influenzae: Peran Packed Red Cell Rizka, Anisa; Farida, Helmia
MEDIA MEDIKA MUDA 2012:MMM VOLUME 1 NUMBER 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Background: The standard medium for antimicrobial susceptibility testing of Haemophilus influenzae is Haemophilus Test Medium (HTM). It is difficult to provide and expensive, causing standard routine test for Haemophilus influenzae is very rarely done. In Indonesia the use of human blood as a medium for antimicrobial susceptibility testing of Haemophilus influenzae has not been done.Aim: To compare the agreement of the results of antimicrobial susceptibility testing of H.influenzae in ACD, ACMSt, and ACMH, with HTM to find an alternative medium for antimicrobial susceptibility testing of H.influenzae as HTMMethods: The design study used a True experimental post-test only. Antimicrobial susceptibility test was carried on by disc diffusion method (CLSI 2011) on HTM, ACD, ACMSt, ACMH against 11 strains of H.influenzae. Data were analyzed by Kappa agreement test with the minimum agreement k> 0.80 (very good agreement).Results: For ACD, k> 0.80 were only achieved by 40% antibiotic tested (chloramphenicol and cotrimoxazole). For ACMSt, very good agreement was achieved only by 60% antibiotic tested (chloramphenicol, cotrimoxazole, and tetracycline). For ACMH, very good agreement was achieved by all(100%) of the antibiotics tested (chloramphenicol, co-trimoxazole, tetracycline, amoxicillin-clavulanic acid, and ceftriaxone).Conclusion: ACMH could be used as an alternative medium for antimicrobial susceptibility testing of H.influenzae.Keywords: Haemophilus influenzae, hemoglobin, chocolate agar, human blood, antimicrobial susceptibility testing
OPTIMALISASI AGAR COKLAT DARAH MANUSIA SEBAGAI MEDIA UJI SENSITIVITAS ANTIBIOTIK TERHADAP Haemophilus influenzae : PERAN PENCUCIAN ERITROSIT SEBANYAK EMPAT KALI Indriawan, Duta; Farida, Helmia
MEDIA MEDIKA MUDA 2012:MMM VOLUME 1 NUMBER 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Background : Haemophilus Test Media is a standard medium for susceptibility test for H.influenzae. It is expensive and unavailable in Indonesia, so that susceptibility test of H.influenzae is not considerable to do. The use of human blood as a medium for antibiotic susceptibility testing of Haemophilus influenzae has not been done before.Aim : To compare the results antibiotic susceptibility test on media Haemophilus Test Media (HTM), sheep blood derived chocolate agar (ACD), human blood chocolate agar (ACM), and human blood derived chocolate agar with modifications of intensive erythrocytes washing (ACMC).Methods : This study design was true-experimental designs post test only. Antibiotic susceptibility test was carried out by disc diffusion method (CLSI 2011) on media HTM, ACD, ACM and the ACMC against 11 strains of H.influenzae. Compatibility of the test results with HTM medium was measured using Kappa acceptance of K> 0.80. Result : on ACD media, compatibility (Kappa)> 0.80 achieved by only 40% antibiotic tested (chloramphenicol and cotrimoxazole). On ACM, Kappa values> 0.80 only achieved on 60% antibiotic tested( chloramphenicol, cotrimoxazole, and tetracycline). On ACMC Kappa value> 0.80 only achieved on 80% antibiotic tested (ceftriaxone, chloramphenicol, cotrimoxazole, and tetracycline).Conclusion : ACMC is slightly better than ACD, ACM for antibiotic susceptibility test for H.influenzae, but all of this media were still not feasible for use as an antibiotic susceptibility test of alternative media for H.influenzae. Modification is necessary to find another way to achieve excellent compliance with HTM.Keywords : Haemophilus influenzae, Haemophilus Test Media, Human Blood Chocolate Agar, Antibiotic Susceptibilty Test of Haemophilus influenzae
PERBEDAAN POLA KEPEKAAN TERHADAP ANTIBIOTIK PADA Streptococcus pneumoniae YANG MENGKOLONISASI NASOFARING BALITA Saputro, Addy; Farida, Helmia; Firmanti, Stefani Candra
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 2, No 1 (2013): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar Belakang: S. pneumoniae merupakan salah satu penyebab utama terjadinya pneumonia. Kolonisasi S. pneumoniae terdapat pada saluran pernapasan.­S. pneumoniae di nasofaring banyak dijumpai pada anak. Pemberian antibiotik merupakan salah satu kunci terapi pneumonia. Pengobatan infeksi S. pneumoniae menjadi lebih kompleks sehubungan dengan munculnya resistensi terhadap antibiotik. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan prevalensi dan pola kepekaan terhadap antibiotik pada S. pneumoniae yang mengkolonisasi nasofaring balita di tengah dan pinggiran kota Semarang. Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pengambilan data secara cross sectional. Subyek penelitian adalah balita usia 6 – 60 bulan yang memenuhi kriteria inklusi. Sampel diwawancara dan dilakukan pengambilan swab nasofaring. Hasil swab nasofaring diidentifikasi jenis kumannya dan dilakukan tes kepekaan terhadap antibiotik dengan menggunakan disk diffusion method. Pembacaan sesuai dengan kriteria CLSI 2012. Hasil: Dari 174 subyek diperoleh prevalensi S. pneumoniae 13,2%. Terdapat perbedaan pola kepekaan yang bermakna terhadap antibiotik tetracycline pada S. pneumoniae yang mengkolonisasi nasofaring balita di daerah tengah dan pinggiran kota Semarang (p=0,040). Tidak terdapat perbedaan pola kepekaan yang bermakna terhadap antibiotik penisilin, erythromycin, vankomisin, levofloxacin, trimethoprim-sulfamethoxazole, multidrug resistant (p>0,05). Prevalensi pola kepekaan antibiotik keseluruhan didapatkan tetrasiklin (78,3%), trimethoprim-sulfamethoxazole (52,2%), penisilin (47,8%), erythromycin (17,4), vankomisin (8,7%), levofloxacin (8,7%), MDR (39,1%). Kesimpulan: Terdapat perbedaan bermakna pola kepekaan terhadap antibiotik tetrasiklin pada S. pneumoniae yang mengkolonisasi nasofaring balita yang tinggal di tengah kota lebih tinggi daripada balita yang tinggal di pinggiran kota Semarang. Kata Kunci: Streptococcus pneumoniae, pola kepekaan antibiotik, tetrasiklin
FAKTOR RISIKO KOLONISASI Streptococcus pneumoniae PADA NASOFARING BALITA Meisky, Theresia; Farida, Helmia; Firmanti, Stefani Candra
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 2, No 1 (2013): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar belakang: Pneumonia penyebab kematian terbesar pada balita. Streptococcus pneumoniae adalah kuman penyebab terbesar. Balita merupakan sumber kolonisasi S.pneumoniae pada nasofaring dan merupakan sumber penularan terhadap manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mencari perbedaan faktor risiko kolonisasi S.pneumoniae pada nasofaring balita di pinggiran dan tengah kota Semarang.Metode: Penelitian observasional analitik dengan pengambilan data cross sectional terhadap 174 balita usia 6-60 bulan dari 2 kecamatan di kota Semarang. Data diambil dengan melakukan swab nasofaring dan kuesioner. Kemudian dilakukan isolasi dan inkubasi pada inkubator CO2 5% dengan suhu 37% selama 48 jam pada media agar darah. Identifikasi dilakukan dengan tes optochin dan pengecatan gram. Data diolah dengan menggunakan uji Chi-square dan dilakukan perhitungan rasio prevalensi faktor-faktor risiko kolonisasi nasofaring oleh S.pneumoniae.Hasil: Prevalensi subjek terkolonisasi S.pneumoniae adalah 13.2%. Kecamatan Gayamsari (perkotaan) 24.4% dan kecamatan Gunungpati (pinggiran) 2.3%. Hasil analisis menunjukkan lokasi tempat tinggal menjadi faktor risiko (RP=13.892 CI= 3.144–61.379). Sedangkan, paparan asap rokok, kepadatan hunian dan riwayat penggunaan antibiotik 3 bulan terakhir tidak terdapat hubungan bermakna pada kolonisasi S.pneumoniae nasofaring balita.Simpulan: Lokasi tempat tinggal merupakan faktor risiko kolonisasi S.pneumoniae pada nasofaring balita. Sedangkan paparan asap rokok, kepadatan hunian dan riwayat antibiotik 3 bulan terakhir bukan merupakan faktor risiko kolonisasi S.pneumoniae pada nasofaring balita. 
PERBEDAAN POLA KEPEKAAN TERHADAP ANTIBIOTIK PADA Klebsiella sp. YANG MENGKOLONISASI NASOFARING BALITA (Penelitian belah lintang pada balita yang tinggal di daerah tengah dan pinggiran kota Semarang) Kusuma, Dewi Ayu; Farida, Helmia; Firmanti, Stefani Candra
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 2, No 1 (2013): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar Belakang : Klebsiella sp. merupakan Bakteri Gram Negatif patogen yang berperan menyebabkan pneumonia. Permasalahan resistensi Klebsiella sp. yang mengkolonisasi nasofaring balita terhadap beberapa golongan antibiotik semakin kompleks sedangkan data pola kepekaan Klebsiella sp. pada balita belum ada. Tujuan : Mengetahui perbedaan pola kepekaan terhadap antibiotik pada Klebsiella sp. yang mengkolonisasi nasofaring balita menurut lokasi tempat tinggal dan riwayat balita mengkonsumsi antibiotik 3 bulan terakhirdi daerah tengah dan pinggiran kota Semarang.Metode : Penelitian ini bersifat observasional dan cross sectional. Subyek penelitian adalah balita usia 6 – 60 bulan yang memenuhi kriteria inklusi. Subyek diwawancara dan dilakukan pengambilan swab nasofaring. Hasil kultur dan isolasi swab nasofaring diidentifikasi jenis kumannya dan dilakukan tes kepekaanantibiotik dengan menggunakan disk diffusion method. Pembacaan sesuai dengan kriteria CLSI 2012.Hasil : Dari 174 subyek diperoleh kolonisasi Klebsiella sp. 2,9%. Tidak terdapat perbedaan pola kepekaan yang bermakna terhadap antibiotik amoxicillin-clavulanic acid, cefotaxime, ciprofloxacin, chloramphenicol, cotrimoxasol, gentamicin (p>0,05). Presentasi kepekaan antibiotik keseluruhan didapatkan amoxcilin-clavulanic acid, cefotaxime, multi drug resistant sebesar 100%, trimehropim-sulfamethoxazole 60%, chlorampenicol 40%, gentamicin 40%, ciprofloxacin 20%. Kesimpulan   : Tidak terdapat perbedaan pola kepekaan terhadap antibiotik pada Klebsiella sp. yang mengkolonisasi nasofaring balita menurut lokasi tempat tinggal di daerah tengah dan pinggiran kota Semarang dan riwayat balita mengkonsumsi antibiotik 3 bulan terakhir.