Articles

Found 17 Documents
Search

PERANCANGAN CASING DAN TATA LETAK KOMPONEN OZONIZER PENGAWET MAKANAN MENGGUNAKAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) Fanani, Zainal; Nurkertamanda, Denny; K. Ola, Kristophorus
J@TI (TEKNIK INDUSTRI) Volume 3, No.3, September 2008
Publisher : Departement of Industrial Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.506 KB)

Abstract

Penelitian ini berisi tentang perancangan casing dan tata letak komponen ozonizer pengawet makanan. Proses perancangan produk dilakukan dengan menggunakan metode Quality Function Deployment (QFD) pada fase perencanaan produk (Product Planning) dan fase perencanaan disain (Design Planning). Pada fase perencanaan produk, dilakukan identifikasi kebutuhan konsumen terhadap ozonizer pengawet makanan. Pengumpulan data mengenai kebutuhan konsumen diperoleh dari penyebaran angket (kuisioner) kepada pengguna produk, yaitu rumah makan dan industri makanan. Setelah diperoleh daftar kebutuhan konsumen, kebutuhan-kebutuhan tersebut kemudian diolah menggunakan metode QFD pada fase perencanaan produk hingga diperoleh spestifikasi teknis produk dan House of Quality (HOQ). Spesifikasi teknis produk ini akan digunakan sebagai acuan dalam menyusun fase kedua proses QFD, yaitu fase perencanaan disain. Pada fase perencanaan disain, dihasilkan beberapa sketsa alternatif solusi. Alternatif solusi disain tersebut kemudian dievaluasi dan dilakukan penilaian untuk memilih solusi disain produk ozonizer pengawet makanan. Setelah solusi disain produk ozonizer dipilih, alternatif solusi tersebut kemudian dirancang secara detail, dan kemudian dibuat prototype produk. Prototype produk  yang dibuat adalah prototype visual, yakni gambar disain yang dianimasi untuk melihat proses perakitan, penyusunan tata letak komponen penyusun produk dan penyusunan display dan panel operasi produk. Kata Kunci   :   Kebutuhan konsumen, Quality Function Deployment, Spesifikasi Teknis Produk, Solusi Disain, Prototype Disain Produk     This research contains about casing project and ozonizer component layout of food preservative. The project is practiced using Quality Function Deployment (QFD) method on product planning and design planning phase. In product planning phase, there is identification about consumer needs in ozonizer food preservative. Collecting data about consumer needs are received by spreading questioner to product consumer: restaurants and food industry. After getting list of consumer needs, those needs are then researched with QFD method in product planning phase so that received a specification about technical product and House of Quality (HOQ). This specification of technical product is then used as a model in arranging second process QFD phase: design planning. In design planning produce some sketches of alternative solution. This alternative solution is then evaluated and assessed to choose product design solution of ozonizer food preservative. After it is chosen, that alternative solution is then arranged detail, and then product prototype is created. Product prototype which is created is visual prototype; it is a design drawing which is animated for watching assembly process, arrangement of component supported product layout, and arrangement of display and product panel operation. Key words: consumer needs, Quality Function Deployment, technical product specification, part deployment, design solution, design product prototype.
USULAN SISTEM PEMESANAN UNTUK MENINGKATKAN SERVICE LEVEL PADA SISTEM HEIJUNKA Hartini, Sri; Fanani, Zainal; Rachimi A., Luki
J@TI (TEKNIK INDUSTRI) Volume 3, No.3, September 2008
Publisher : Departement of Industrial Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.652 KB)

Abstract

PT X merupakan distributor  yang melayani permintaan suku cadang untuk wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Salah satu ukuran kepuasan pelanggan adalah service level.Berdasarkan data perusahaan pada bulan Januari – April 2007, service level global untuk keseluruhan item masih berada dibawah target service level yang ditetapkan oleh perusahaan. Pada penelitian ini diberikan usulan perbaikan pada sistem peramalan dan model pemesanan untuk item kritis, yaitu item 90915-TE001 dan 85214-0A010.Untuk mengatasi fluktuasi demand, peneliti mengusulkan adanya safety stock yang ditentukan berdasarkan besarnya fluktuasi  demand dan target service level yang ingin dicapai. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa model peramalan yang sesuai adalah Holt Exponential Smoothing untuk item 90915-TE001, dan Single Exponential Smoothing untuk item 85214-0A010. Selain itu, perhitungan safety stock dan MIP berdasarkan model usulan,  meningkatkan rata – rata aktual service level hingga 99.38% pada sistem heijunka. Kata Kunci: service level, peramalan, pemesanan heijunka     Abstract   PT X, distributor  wich serves the demand of genuine parts in central java and DIY.As a Distributor Company, PT X has two kinds of responsibilities , to customer as the supplier, to always improve the satisfication of customer. One of satisfication of customer is service level. According to company data from january to april 2007, global service level for all items still stay below the service level target which is decided by company.In this research, given correction suggestion in forecasting system and ordering model for critic items, those are item 90915-TE001 and 85214-OA010. For solving the demand fluctuation, researcher suggests for safety stock that is decided by the value of demand fluctuation and service level target will be reached.From the research, obtained that the suitable forecasting model is Holt Exponential Smoothingfor item 90915-TE001, and Single Exponential Smoothing for item 85214-OA010. Beside that, calculation of safety stock and MIP according to suggestion model, improve average actual service level until 99,38% in Heijunka System Keywords: service level, forecasting, order, heijunka
PENGHITUNGAN WAKTU PENGERINGAN KAYU JATI METODE PROGRESIF DENGAN LOGIKA FUZZY (STUDI KASUS CV. DWI TUNGGAL – BAWEN) Fanani, Zainal; Prastawa, Heru; Suswianti, Suswianti
J@TI (TEKNIK INDUSTRI) Volume 1, No.2, Mei 2006
Publisher : Departement of Industrial Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.735 KB)

Abstract

Untuk menyiasati kendala yang dihadapi perusahaan mebel dalam memperoleh bahan baku jati tua, salah satunya adalah menggunakan kayu jati muda dan melakukan metode pengeringan progresif. Selama menggunakan metode pengeringan progresif ini ternyata sering terjadi keterlambatan pemenuhan order. Belum adanya model prediksi waktu proses pengeringan menyebabkan pengambilan keputusan due date order oleh pihak manajemen kurang akurat. Proses pengeringan progresif yang dibahas pada penelitian in adalah pengeringan di udara terbuka (open drying). Waktu pengeringannya ditentukan oleh faktor evaporasi, ketebalan kayu dan kandungan air dalam kayu (MC/ Moisture Content). Untuk mendapatkan waktu pengeringan, faktor-faktor yang mempengaruhinya diinterpolasikan dengan logika inferensi fuzzy sehingga didapatkan hitungan kuantitatif. Input perhitungan adalah data historis dan pengalaman bagian wood center yang biasa melakukan proses pengeringan kayu. Toolbox fuzzy dari Matlab digunakan untuk menguji dan melakukan perhitungan dari model yang telah dibuat. Validasi model dilakukan dengan dua cara, yaitu menguji model fuzzy dengan input-input dengan nilai tertentu dan nilai sembarang untuk menguji make sensenya model serta dengan cara membandingkan hasil perhitungan dari toolbox yang telah diprogram dengan waktu pengeringan yang ada di lapangan. Dari proses validasi yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa model fuzzy yang telah dibangun adalah valid atau sesuai dengan sistem yang ada. Kata kunci      : pengeringan progresif  logika inferensi fuzzy
MODEL SIMULASI PENGALOKASIAN JUMLAH MONTIR PERAWATAN MESIN DI PT. ISTW SEMARANG Saptadi, Singgih; Fanani, Zainal; Kurniawan, Bambang
J@TI (TEKNIK INDUSTRI) Volume 1, No.2, Mei 2006
Publisher : Departement of Industrial Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.81 KB)

Abstract

Untuk meningkatkan performansi sistem produksi maka diperlukan adanya sistem perawatan yang baik untuk mesin-mesin produksi. Sehingga kemungkinan terjadinya kerusakan mesin pada saat proses produksi berlangsung dapat ditekan seminimal mungkin. Perawatan dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu perawatan jenis preventive dan perawatan korektif. Perawatan preventive dilakukan secara berkala untuk memperpanjang umur mesin dan juga untuk mencegah terjadinya breakdown pada mesin produksi pada saat sedang digunakan. Sedangkan perawatan korektif dilakukan hanya pada saat mesin produksi mengalami kerusakan. Dalam kenyataannya, terkadang mesin produksi tetap akan mengalami breakdown pada saat proses produksi berlangsung meskipun telah dilakukan perawatan preventive pada mesin tersebut. Untuk kerusakan seperti itu diperlukan penanganan secepatnya agar proses produksi tidak terhenti terlalu. Peran montir sangat penting untuk menangani breakdown mesin. Dengan adanya sistem perbaikan yang baik maka mesin produksi dapat segera diperbaiki dan kerugian karena kerusakan mesin dapat dikurangi. Penelitian ini menyajikan suatu model simulasi yang menggambarkan beberapa sistem penugasan montir. Cara yang pertama adalah penugasan montir tanpa memperhatikan prioritas kerusakan dan jumlah yang dialokasikan sama untuk setiap kerusakan. cara kedua adalah,penugasan montir dengan memperhatikan prioritas kerusakan dan jumlah alokasi montir sama untuk setiap kerusakan. Cara ketiga adalah penugasan montir dengan memperhatikan prioritas kerusakan dan alokasi montir yang disesuaikan dengan tingkat kerusakan yang akan diperbaiki.Dari analisa output didapatkan hasil bahwa dengan menggunakan cara penugasan  montir yang pertama didapatkan hasil jumlah pipa baja yang dihasilkan adalah 343.308 batang pipa. Dengan cara penugasan yang kedua didapatkan hasil sebanyak 345.614 batang pipa. Dan dengan cara penugasan yang ketiga hasil yang didapatkan adalah 353.263 batang pipa baja. Kata Kunci : breakdown, montir, perawatan korektif, simulasi
Manajemen Montir dalam Perbaikan Mesin berdasarkan Simulasi Discrete-Event (Studi Kasus: PT. ISTW Semarang) Saptadi, Singgih; Fanani, Zainal; Kurniawan, Bambang
J@TI (TEKNIK INDUSTRI) Volume 2, No.2, Mei 2007
Publisher : Departement of Industrial Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.859 KB)

Abstract

Untuk meningkatkan performansi sistem produksi, diperlukan adanya sistem perawatan mesin-mesin produksi yang baik. Perawatan dikelompokkan menjadi preventive maintenance dan corrctive maintenance. Perawatan preventive dilakukan secara berkala untuk memperpanjang umur mesin dan juga untuk mencegah terjadinya kerusakan mesin produksi ketika digunakan. Sedangkan perawatan korektif dilakukan hanya pada saat mesin produksi mengalami kerusakan. Dalam kenyataan, mesin produksi mengalami kerusakan pada saat proses produksi berlangsung meski telah dilakukan perawatan preventive pada mesin tersebut. Untuk kerusakan seperti itu diperlukan corrective maintenance agar proses produksi tidak terhenti terlalu lama. Peran montir sangat penting untuk menangani kerusakan mesin dalam corretive maintenance. Penelitian ini menyajikan suatu model simulasi yang menggambarkan beberapa cara mengelola montir, yatu dalam penugasan montir. Cara yang pertama adalah penugasan montir tanpa memperhatikan prioritas kerusakan dan banyaknya montir yang dialokasikan sama untuk setiap kerusakan. Cara kedua adalah penugasan montir dengan memperhatikan prioritas kerusakan dan banyaknya montir sama untuk setiap kerusakan. Cara ketiga adalah penugasan montir dengan memperhatikan prioritas kerusakan dan alokasi montir yang disesuaikan dengan tingkat kerusakan yang akan diperbaiki. Dari analisa output, cara pertama penugasan  montir memberikan hasil banyaknya pipa baja yang dihasilkan adalah 343.308 batang pipa. Cara penugasan kedua memberikan hasil sebanyak 345.614 batang pipa. Cara penugasan ketiga hasil memberikan hasil sebanyak 353.263 batang pipa baja. Kata Kunci : Kerusakan, Pengugasa Montir, Preventive Maintenance, Corrective Maintenance, Simulasi
REDUKSI WASTE UNTUK MEMINIMASI MANUFACTURING CYCLE TIME MELALUI PERANCANGAN KESEIMBANGAN LINTASAN DAN STASIUN KERJA (Studi Kasus PT.Inti Sukses Garmindo) Pane, Jeffry; Fanani, Zainal; Rinawati, Dyah Ika
Industrial Engineering Online Journal Volume 1, Nomer 3, Tahun 2012
Publisher : Industrial Engineering Online Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT. Inti Sukses Garmindo merupakan perusahaan yang bergerak di bidang garment memproduksi berbagai macam jenis pakainan baik celana maupun baju dengan pangsa pasar dalam negeri dan luar negeri. Fokus penelitian ini adalah produksi celana.     Agar dapat bersaing dengan perusahaan  garment lainnya , perusahaan harus  meningkatkan produktivitasnya  untuk dapat memenuhi permintaan konsumen  tepat waktu. Saat ini masih terdapat banyaknya pemborosan  yang terjadi pada lantai produksi yang berpotensi memperpanjang manufacturing cycle time (MCT) yang bermuara kepada penurunan kapasitas produksi perusahaan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengurangi pemborosan-pemborosan tersebut. Penelitian ini difokuskan pada departemen sewing karena merupakan departemen yang memiliki produktivitas paling rendah. Dengan menggunakan pendekatan lean yaitu process activity mapping (APM) teridentifikasi empat jenis waste yang memiliki bobot persentase terbesar yang diyakini sebagai pemicu rendahnya produktivitas. Yaitu waiting waste sebanyak 42,47%, transportation 33,38%,  underutilize people 12,73 %, dan unnecessary motion 11,43 %. Usulan perbaikan transportation waste dan unnecessary motion melalui perancangan ulang layout dan desain ulang meja mesin jahit diharapkan mampu mereduksi MCT sebesar 362 detik. Sementara usulan untuk perbaikan waiting waste menggunakan metode line balancing, metode yang terpilih adalah metode helgeson dan bernie. Perancangan ulang keseimbangan lintasan dengan metode ini mampu mereduksi waiting waste menjadi 410 detik dari yang semula1191 detik. Sehingga mereduksi MCT menjadi 1768 detik dari semula 2650 detik. Penurunan MCT ini diprediksi mampu meningkatkan kapasitas produksi menjadi 776 celana/hari dari semula hanya 540 celana/hari.
Analisis Pengaruh Pengaturan Strap Gitar dan Tempo/beat TerhadapTingkat Konsumsi Energi dan Tingkat Kesalahan Bermain Rhythm Gitar Pada Pemain Gitar Dengan Metode Pengukuran Kerja fisiologi Abibowo, Adika; Fanani, Zainal
Industrial Engineering Online Journal Volume 1, Nomer 2, Tahun 2012
Publisher : Industrial Engineering Online Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bermain gitar pada kondisi-kondisi tertentu dapat mengakibatkan kelelahan fisik yang tanpa disadari membutuhkan konsumsi energi yang besar. Kelelahan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain pengaturan strap gitar dan beat/tempo. Hal tersebut yang membuat kelelahan terjadi bahkan terkadang timbul kecenderungan melakukan kesalahan saat memainkan gitar. Perhitungan konsumsi energi dan %CVL dilakukan menggunakan metode pengukuran beban kerja fisiologi dengan pengambilan data denyut nadi pada saat responden memainkan gitar dan dikenai dua variabel perlakuan yaitu pengaturan strap dan tempo. Pengaturan strap terdiri dari pengaturan strap tinggi, strap sedang, dan strap normal. Tempo terdiri dari tempo lambat (80bpm), tempo sedang (160bpm), dan tempo cepat (220bpm). Keduanya dikombinasikan menjadi 9 perlakuan. Data yang diambil saat penelitian berupa Denyut Nadi Istirahat (DNI), Denyut Nadi Kerja (DNK), keluhan responden, dan banyaknya kesalahan yang dibuat akibat kombinasiperlakuan tersebut. Secara umum dapat disimpulkan pada aspek konsumsi energi, secara umum variabel pengaturan strap dan tempo mempengaruhi konsumsi energi secara signifikan. Pada aspek %cardiovascular Load, secara umum variabel pengaturan strap dan tempo mempengaruhi %CVL secara signifikan. Pada aspek perhitungan kesalahan bermain gitar, secara keseluruhan jumlah kesalahan terbanyak terjadi pada perlakuan pengaturan strap rendah, sedangkan jumlah kesalahan terkecil terjadi pada perlakuan pengaturan strap sedang. Secara umum variabel pengaturan strap dan tempo mempengaruhi jumlah kesalahan secara signifikan
Preparation And Characterization Of Cr/Activated Carbon Catalyst From Palm Empty Fruit Bunch Fanani, Zainal; Rohendi, Dedi; Dewi, Tri Kurnia; Dzulfikar A, Muhammad
Indonesian Journal of Fundamental and Applied Chemistry Vol 1, No 2 (2016): June 2016
Publisher : Indonesian Journal of Fundamental and Applied Chemistry

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.473 KB)

Abstract

Preparation and characterization of Cr/activated carbon catalyst from palm empty fruit bunch had been done. The research were to determine the effect of carbonization temperature towards adsorption of ammonia, iodine number, metilen blue number, and porosity of activated carbon and Cr/activated carbon catalyst. The determination of porosity include surface area, micropore volume and total pore volume. The results showed the best carbonization temperature activated carbon and Cr/activated carbon catalyst at 700°C. The adsorption ammonia of activated carbon and Cr/activated carbon catalyst as 6.379 mmol/g and 8.1624 mmol/g. The iodine number of activated carbon and Cr/activated carbon catalyst as 1520.16 mg/g and 1535.67 mg/g. The metilen blue number of activated carbon and Cr/activated carbon catalyst as 281.71 mg/g and 319.18 mg/g. The surface area of activated carbon and Cr/activated carbon catalyst as 1527.80 m2/g and 1652.58 m2/g. The micropore volume of activated carbon and Cr/activated carbon catalyst as 0.7460 cm3/g and 0.8670 cm3/g. The total pore volume of activated carbon and Cr/activated carbon catalyst as 0.8243 cm3/g and 0.8970 cm3/g.Keywords : activated carbon, palm empty fruit bunch, porosity, catalyst, chromium
Studi Eksperimen Pengaruh Ukuran Partikel Batubara Pada Swirling Fluidized Bed Dryer Terhadap Karakteristik Pengeringan Batubara Fanani, Zainal; Prabowo, Prabowo
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.572 KB)

Abstract

Desain suatu PLTU salah satunya dibuat berdasarkan kualitas batubara yang akan digunakan sebagai bahan bakar. Pada PLTU batubara dibakar didalam boiler, didalam boiler terdapat pulverizer yang berfungsi untuk menghaluskan batubara dan menambah pasokan batubara kedalam boiler jika batubara didalam boiler memiliki nilai heating value rendah. Dengan menggunakan batubara dengan kualitas rendah maka suplai batubara yang dibutuhkan untuk memanaskan boiler  akan semakin banyak, hal ini bisa mengakibatkan kerja dari pulverizer akan semakin berat. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara penghasil batubara terbersa didunia. Namun hampir 80% batubara yang dihasilkan tergolong batubara rendah dan sedang [1] . Untuk meningkatkan nilai kalor batubara perlu dilakukan pengeringan untuk mengurangi kadar air dalam batubara. Eksperimen dilakukan dengan mengeringkan batubara didalam chamber dengan temperature udara 550C, sudut blade 200 dan massa pengeringan sebanyak 600gram, variasi ukuran partikel batubara 5mm, 10mm, 15mm. Pengambilan data dilakukan dengan menimbang berat batubara setiap satu menit sebanyak 5 kali  , dua menit sebanyak 3 kali, dan lima menit sebanyak 4 kali. Data yang diperoleh berupa relative humidity udara, temperature udara, berat sampel basah dan berat sampel kering. Pengambilan data berat sampel kering dilakukan berdasarkan standart ASTM D5142 dengan pengeringan pada temperatur 1050C selama 3 jam. Dari hasil eksperimen didapat bahwa proses pelepasan massa uap air paling banyak terjadi pada lima menit pertama yang ditandai dengan penurunan moisture content paling besar. Pada partikel batubara ukuran 5mm,10mm,15mm didapat moisture content terendah berturut-turut sebesar  6,48 %, 7,66 %, 7,47 %. Untuk laju pengeringan didapat nilai terendah berturut-turut sebesar 0,062 gram/menit, 0,104 gram/menit, 0,023 gram/menit,  sedangkan selisih humidity ratio ( ɷ2-ɷ1 ) didapat nilai terendah berturut turut sebesar 0,0072gram/kg dry air, 0,0713 gram/kg dry air, 0,1372 gram/kgdry air.
Degradasi Tanah Lahan Suboptimal oleh Bacillus mycoides Indigenous dan Kinetika Reaksinya Fanani, Zainal; Yudhono, Bambang; Situmorang, Veriana Romarito
Jurnal Lahan Suboptimal Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Lahan Suboptimal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.399 KB)

Abstract

Research about degradation soil of suboptimal land from Lilin River PERTAMINA Musi Banyuasin Regency, South Sumatera have been done. The aim of this research is knowing the capability of Bacillus mycoides on degradation petroleum hydrocarbon. The measurement of first sludge TPH was 71.1567%. First TPH was become more liquid than before on 5; 7.5; 10; 12.5 and 15% with fresh soil, bulking agent and Bacillus mycoides was added 10% from medium total weight. Incubation for 14 days gives result decreasing TPH on each medium become 2.3679; 4.5123; 5.9070; 6.0223 and 8.0010% which is first order reaction. Medium 10% on incubation day 14th; 17th; 22nd; 26th and 31st. On continue, decreasing TPH is 5.9070; 4.5970; 4.0463; 3.7230 and 3.29% with constant rate reaction on 0.0361 /day. GC-MS result sample analysis shows that Bacillus mycoides have an ability to degradation C19H40; C21H44; C24H50 and C28H58 with percentage of concentrate decreasing from those compound is 99.32%.