Articles

Found 8 Documents
Search

PEMBANGUNAN EKOWISATA DI KECAMATAN TANJUNG BALAI ASAHAN, SUMATERA UTARA: FAKTOR EKOLOGIS HUTAN MANGROVE Fahriansyah, Fahriansyah; Yoswaty, Dessy
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Kecamatan Tanjungbalai memiliki potensi pariwisata pesisir dan laut dengan karakteristik yang khas yaitu pantai berpasir lumpur dan ditumbuhi oleh vegetasi mangrove. Salah satu cara untuk mempertahankan keberadaan hutan mangrove dari kerusakan atau kepunahan adalah dengan menjadikan Kecamatan Tanjungbalai sebagai kawasan ekowisata mangrove. Tujuan penelitian adalah mengetahui potensi ekologis hutan mangrove untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus-Nopember 2011, dengan menggunakan metode survei. Data primer dapat diperoleh melalui pengamatan langsung di Desa Bagan Asahan, Desa Asahan Mati dan Desa Sungai Apung terhadap struktur komunitas mangrove (nilai kerapatan) dan potensi ekologis. Analisis data untuk indeks kesesuaian wisata berdasarkan Yulianda (2007). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan mangrove di Kecamatan Tanjungbalai memiliki kerapatan yang baik dalam kategori sangat padat (nilai 1778 ind./ha), dengan spesies Bruguiera gymnorrhiza, Xylocarpus granatum, Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata. Indeks kesesuaian wisata di Kecamatan Tanjungbalai yaitu sangat sesuai (S1) untuk pengembangan ekowisata mangrove yang terdiri atas Desa Bagan Asahan (skor 65, IKW 85,53%), Desa Asahan Mati (skor 61, IKW 80,26%) dan Desa Sungai Apung (skor 61, IKW 80,26%). Secara ekologis, hutan mangrove di Kecamatan Asahan berpotensi untuk dijadikan sebagai kawasan ekowisata mangrove.Kata kunci: hutan mangrove, potensi ekologis, pembangunan ekowisata
ECOTOURISM DEVELOPMENT IN TANJUNG BALAI DISTRICT, NORTH SUMATERA: MANGROVE FOREST ECOLOGICAL FACTORS Fahriansyah, Fahriansyah; Yoswaty, Dessy
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 4, No 2 (2012): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

District of Tanjungbalai characterized by mangrove ecosystem with mud and sandy beaches has the potential to be developed for marine ecotourism. One way to maintain the existence of mangrove forests from destruction or extinction is to develop the Tanjungbalai district to be an ecotourism area. The research objective was to determine the potential ecological mangrove forest to be developed as an ecotourism area. The study was conducted in August-November 2011, using survey methods. Primary data were obtained through direct observation in the village of Bagan Asahan, Asahan Mati and Sungai Apung on mangrove community structure (density value) and ecological potential. Data analyses for suitability tourism index were based on Yulianda (2007). The results showed that the mangrove forest in the Tanjungbalai District had a good density in the category of very dense (the value of 1778 ind./Ha), mainly consisting of Bruguiera gymnorrhiza, Xylocarpus granatum, Rhizophora mucronata and Rhizophora apiculata. Suitability tourism index in the Tanjungbalai District was very suitable (S1) for mangrove tourism development including Village of Bagan Asahan (score 65, IKW 85.53%), Asahan Mati (score 61, IKW 80.26%) and Asahan Apung (score of 61, IKW 80.26%). Ecologically, mangrove forests in the district of Tanjungbalai is potential to serve as a mangrove ecotourism area. Keywords: mangrove forest, potential ecological, ecotourism development
Filosofi Dakwah Jama’ah Fahriansyah, Fahriansyah
Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah Vol 15, No 29 (2016): Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.884 KB) | DOI: 10.18592/alhadharah.v15i29.1013

Abstract

Dakwah Jama’ah is a continuation of the da’wah on yourself(nafsiyah) and preaching to others (fardiyah), so that the essence of its existence in the activity of the da’wah Islamiyah occupies an important position in building the foundation of a society that wants ti be built in groups that have a spiritual foundation working together in building a society that is able to be the primary environment for all mankind so that survivors of the world and the hereafter.Keywords: da’wa, human, worshipers, shared purposeDakwah Jamaah merupakan kelanjutan dari dakwah pada diri sendiri (nafsiyah) dan berkhotbah kepada orang lain (fardiyah), sehingga esensi keberadaannya dalam aktivitas dakwah Islamiyah menempati posisi penting dalam membangun fondasi masyarakat yang ingin ti dibangun dalam kelompok-kelompok yang memiliki landasan spiritual bekerja sama dalam membangun masyarakat yang mampu menjadi lingkungan utama untuk seluruh umat manusia sehingga selamat di dunia dan akhirat.Kata kunci: dakwah, manusia, jamaah, tujuan bersama
Filosofi Dakwah Nafsiyah Fahriansyah, Fahriansyah
Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah Vol 14, No 27 (2015)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.08 KB) | DOI: 10.18592/alhadharah.v14i27.1227

Abstract

Dakwah Nafsiyah is the dakwah process that occurs in ones self. Dakwah Nafsiyah has personal dimension and should be discussed in the first place in the topics of dakwah. This paper attempts to perform parallelization and comparison briefly to the basic conception Dakwah Nafsiyah with the opinion of the philosophers, which is expected to add to the literature of dakwah studies. This article concludes that Dakwah Nafsiyah can be done with hierarchical, proportional dan eclectic patterns.Dakwah Nafsiyah adalah proses dakwah yang terjadi dalam diri pribadi seseorang. Dakwah Nafsiyah berdimensi personal dan harus menempati posisi awal dalam pembahasan dakwah Islamiyah. Tulisan ini mencoba melakukan paralelisasi, komparasi secara singkat terhadap konsepsi dasar Dakwah Nafsiyah dengan pendapat para filosuf, yang nantinya diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan dakwah. Artikel ini menyimpulkan bahwa dakwah nafsiyah dapat dilakukan dengan pola hierarki, proporsional dan eklektis.
ECOTOURISM DEVELOPMENT IN TANJUNG BALAI DISTRICT, NORTH SUMATERA: MANGROVE FOREST ECOLOGICAL FACTORS Fahriansyah, Fahriansyah; Yoswaty, Dessy
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 4, No 2 (2012): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v4i2.7798

Abstract

District of Tanjungbalai characterized by mangrove ecosystem with mud and sandy beaches has the potential to be developed for marine ecotourism. One way to maintain the existence of mangrove forests from destruction or extinction is to develop the Tanjungbalai district to be an ecotourism area. The research objective was to determine the potential ecological mangrove forest to be developed as an ecotourism area. The study was conducted in August-November 2011, using survey methods. Primary data were obtained through direct observation in the village of Bagan Asahan, Asahan Mati and Sungai Apung on mangrove community structure (density value) and ecological potential. Data analyses for suitability tourism index were based on Yulianda (2007). The results showed that the mangrove forest in the Tanjungbalai District had a good density in the category of very dense (the value of 1778 ind./Ha), mainly consisting of Bruguiera gymnorrhiza, Xylocarpus granatum, Rhizophora mucronata and Rhizophora apiculata. Suitability tourism index in the Tanjungbalai District was very suitable (S1) for mangrove tourism development including Village of Bagan Asahan (score 65, IKW 85.53%), Asahan Mati (score 61, IKW 80.26%) and Asahan Apung (score of 61, IKW 80.26%). Ecologically, mangrove forests in the district of Tanjungbalai is potential to serve as a mangrove ecotourism area. Keywords: mangrove forest, potential ecological, ecotourism development
PEMETAAN GEOMORFOLOGI TERUMBU KARANG PULAU TUNDA MENGGUNAKAN KLASIFIKASI BERBASIS OBJEK Fahriansyah, Fahriansyah; Gaol, Jonson Lumban; Panjaitan, James P
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 8, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (957.97 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.8.147-156

Abstract

Pemetaan zona geomorfologi terumbu karang di Pulau Tunda ini belum pernah dilakukan khususnya menggunakan klasifikasi citra berbasis objek. Hasil pemetaan ini dapat digunakan sebagai dasar informasi perencanaan dan pengembangan suatu kawasan menuju pemanfaatan yang optimal seperti contoh pemanfaatan sebagai kawasan ekowisata bahari. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan zona geomorfologi terumbu karang Pulau Tunda denganmenggunakan klasifikasi berbasis objek. Bahan analisis menggunakan citra multispektral Worldview-2 dengan akuisisi data tanggal 25 Agustus 2013 dan profil batimetri. Klasifikasi memakai algoritma segmentasi multiresolusi. Klasifikasi dibagi kedalam 2 level klasifikasi. Parameter klasifikasi level 1 menggunakan scale sebesar 200, shape 0.6 dan compactness 0.4. Segmentasi level 2 menggunakan scale 30, shape 0.6 dan compactness 0.4. Klasifikasi segmentasi objek ini mampu menghasilkan peta dengan tingkat akurasi yang tinggi pada setiap level. Akurasi klasifikasi level 1 adalah sebesar 97% dan level 2 sebesar 91%.
FILOSOFIS KOMUNIKASI QAULAN SYAKILA Fahriansyah, Fahriansyah
Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah Vol 17, No 34 (2018)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.325 KB) | DOI: 10.18592/alhadharah.v17i34.2378

Abstract

The principles of comunication in the Qur’an are interesting to examine, even the comunications thinkers have found there are six principles of comunication in al qur’an such as qawlan sadidan, qawlan balighan, qawlan maysura, qawlan layyinan, qawlan kariman and qawlan ma’rufan, but the opinion can be added again one principle that is qawlan tsaqila principle that is a weighted communication, then what and how qawlan tsaqila ?, this paper will explain briefly iti is in addition to the six principles of comunication in al Qur’an put forward by the communications leaders muslim Indonesia.
KARAKTERISTIK LINGKUNGAN PENENTU DISTRIBUSI DAN KEPADATAN FAUNA MAKRO BENTIK SERTA HUBUNGANNYA: STUDI KASUS GASTROPODA DAN KEPITING BRACHYURA DI KAWASAN REBOISASI MANGROVE KEPULAUAN SERIBU Syahrial, Syahrial; Fahriansyah, Fahriansyah; Lilian, Anna; Arbaeyah, Arbaeyah; Tanjung, Cahyani Fitrah; Lubis, Nila Sari
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 15, No 1 (2019): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.916 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.15.1.1-10

Abstract

Hutan mangrove memiliki lingkungan yang sangat kompleks, dimana di dalam dan antar lokasi habitat mangrove saling berbeda. Kajian karakteristik lingkungan penentu distribusi dan kepadatan fauna makro bentik serta hubungannya (studi kasus gastropoda dan kepiting brachyura di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu) telah dilakukan pada bulan Maret 2014. Hal ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor lingkungan yang berperan terhadap distribusi dan kepadatan gastropoda maupun kepiting brachyura serta untuk mengetahui hubungan antara karakteristik lingkungan dengan distribusi dan kepadatan gastropoda maupun kepiting brachyura di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu. Pengukuran karakteristik lingkungan dilakukan dengan cara insitu, sedangkan data gastropoda dan kepiting brachyura dikumpulkan dengan membuat transek garis dan plot yang ditarik dari titik acuan (tegakan mangrove terluar) dan tegak lurus garis pantai sampai ke daratan. Faktor-faktor lingkungan yang menentukan distribusi dan kepadatan gastropoda maupun kepiting brachyura dianalisis menggunakan Principal Component Analysis (PCA), sedangkan hubungannya digunakan analisis regresi linier sederhana. Hasil kajian memperlihatkan bahwa karakteristik lingkungan yang paling menentukan distribusi dan kepadatan gastropoda maupun kepiting brachyura di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu adalah parameter pH. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi konsentrasi pH perairan, maka kepadatan gastropoda maupun kepiting brachyura juga semakin tinggi. Begitu sebaliknya, semakin rendah konsentrasi pH perairan, maka kepadatan gastropoda dan kepiting brachyura juga semakin menurun.Mangrove forests have a very complex environment, where in and between locations mangrove habitats are different. The study of environmental characteristics determining the distribution and density of benthic macrofauna and their relationship (a case study of gastropods and crab brachyurans in the Seribu Islands mangrove reforestation area) was conducted in March 2014. The research aims to determine environmental factors that contribute to the distribution and density of gastropods and brachyurans crabs and to determine the relationship between environmental characteristics and the distribution and density of gastropods and crab brachyurans in the Seribu Islands mangrove reforestation area. Measurements of environmental characteristics were carried out by insitu method, while data on gastropods and crab brachyurans were collected by making line transects and plots drawn from the reference point (outermost mangrove stands) and perpendicular to the coastline to the mainland. Environmental factors that determine the distribution and density of gastropods and crab brachyurans were analyzed using the Principle Component Analysis (PCA), while the relationship used simple linear regression analysis. The results of the study show that the environmental characteristics that most determine the distribution and density of gastropods and crab brachyurans in the mangrove reforestation area of the Seribu Islands are pH parameters. This indicates that the higher the concentration of water pH, the higher the density of gastropods and crab brachyurans. On the contrary, the lower the concentration of water pH, the density of gastropods and crab brachyurans also decreases.