Noer Fadhly
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

TINJAUAN TINGKAT PELAYANAN SIMPANG BERSINYAL DENGAN METODE SHOCKWAVE (STUDI KASUS SP. JAMBO TAPE-BANDA ACEH) Anggraini, Renni; Fadhly, Noer
Jurnal Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2011): Volume 1, Nomor 1, September 2011
Publisher : Department of Civil Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Delay and queue in signalized intersection are often occurred due to the improper setting in the signal cycle, in particular during peak hour. As such, it may influence the level of service (LOS) of the intersection. Shockwave methode is commonly used to estimate delay and queue in intersection along with its LOS. In this research, we identified that particular case in one signalized intersection in Banda Aceh, known as Simpang Jambo Tape. Shock wave estimation was performed at two particular approaches, i.e. Jl. M. Daud Beureueh and Jl. T. Hasan Dek. The results showed that both approaches were stil able to serve traffic flow on a peak hour. Delay at Jl.. M. Daud Beureueh were 40,63 second/pcu and 41,13 second/pcu for  lane I and lane II respectively. Accordingly, delay at Jl.. T. Hasan Dek showed similar results,  40,67 second/pcu and  43,65 second/pcu for lane I and lane II respectively. Based on the delay values, the LOS of both approaches were D.Keywords : signalized intersection, delay, queue, shockwave, level of service (LOS)Abstrak: Tundaan dan antrian yang timbul pada simpang bersinyal sering kali disebabkan oleh pengaturan waktu yang tidak tepat pada siklus lampu lintasnya, terutama pada jam puncak. Hal ini berpengaruh terhadap tingkat pelayanan pada persimpangan. Metode gelombang kejut sering digunakan untuk mengetahui tundaan dan antrian pada persimpangan, juga untuk mengetahui tingkat pelayanannya. Pada penelitian ini, ingin diketahui tundaan dan antrian yang terjadi pada salah satu simpang bersinyal di kota Banda Aceh, yaitu simpang Jambo Tape. Perhitungan gelombang kejut dilakukan pada dua lengan, yaitu pada Jl. M. Daud Beureueh dan Jl. T. Hasan Dek. Hasil yang diperoleh menunjukkan kedua lengan masih mampu melayani arus lalulintas pada jam puncak. Tundaan yang terjadi pada dua lajur Jl. M. Daud Beureueh adalah 40,63 dan 41,13 detik/smp. Hasil yang sama juga ditunjukkan pada kedua lajur Jl. T. Hasan Dek, yaitu 40,67 dan 43,65 detik/smp. Dengan demikian maka tingkat pelayanan pada kedua jalan tersebut adalah berada pada Tingkat Pelayanan D.Kata kunci : simpang bersinyal, tundaan, antrian, gelombang kejut, tingkat pelayanan
MANAJEMEN PENANGANAN KONSTRUKSI JALAN RAYA (STUDI KASUS JALAN SYIAH KUALA BANDA ACEH) Afrizal, Afrizal; Saleh, Sofyan M.; Fadhly, Noer
Jurnal Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2012): Volume 2, Nomor 1, September 2012
Publisher : Department of Civil Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.524 KB)

Abstract

Abstract: The establishment of Lampulo as the fishing industrial area in Banda Aceh spatial improvements in the management of Coastal Fishery Port (PPP) to the Ocean Fishery Port (PPS) affects the growth of traffic volume on Jalan Syiah Kuala. The study was conducted on a segment of the Jalan Syiah Kuala. The research objective is to analyze the performance of road maintenance management, upgrading of roads to assess the feasibility to perform analysis of Vehicle Operating Costs (BOK), the capacity of the road and the IRI (International Rougnhness Index). Analysis based on the guideline calculations in MKJI 1997. The analysis shows that traffic growth is analyzed by the two scenarios, namely the growth of normal (Do Nothing) and the growth development of the area (Do Something). Do Nothing Jalan Syiah Kuala is rising the traffic growth that need to be handled with four alternatives: (1) analysis of the performance of existing road conditions do minimum (2/2 UD) in 2010 to 2014; (2) alternative A handling (2/2 UD) 2015, to 2016, (3) alternative B (4/2 D) in 2017 to 2021 and (4) alternative C (6/2 D) in 2022 to 2024. Jalan Syiah Kuala needs to have a good way of handling to maintain the degree of saturation as the ratio of traffic flow on road capacity remains below 0.75. For the development activity in Lampulo, it needs to be done with four alternatives: 1) analysis of existing road conditions (2/2 UD) of 2010 to 2013; 2) alternative A (4/2 D) 2014, s / d 2019; 3) alternative B (6/2 D) in 2020 to 2021, 4) alternative C (6/2 D) increase the width of the strip in 2022 to 2024. Methods of Syiah Kuala road maintenance carried out by IRI analysis. Routine maintenance of normal growth carried out each year and periodically in 2022, growth in the development of the periodic maintenance performed in 2021. Recommended to the city of Banda Aceh Public Works to manage the handling of Jalan Syiah Kuala future maintenance and reconstruction plans.Keywords : management, street performance, maintenance, financingAbstrak: Penetapan Lampulo sebagai kawasan industri perikanan dalam tata ruang Banda Aceh dengan peningkatan status pengelolaan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) menjadi Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) berdampak terhadap pertumbuhan volume lalu lintas pada Jalan Syiah Kuala. Penelitian dilakukan pada ruas Jalan Syiah Kuala. Tujuan penelitian adalah menganalisis kinerja jalan terhadap manajemen pemeliharaan, peningkatan jalan dengan mengkaji tingkat kelayakan dengan melakukan analisis Biaya Operasional Kendaraan (BOK), kapasitas jalan dan IRI (Internasional Rougnhness Index). Analisa berdasarkan pedoman perhitungan dalam MKJI 1997. Hasil analisis menunjukkan bahwa pertumbuhan lalu lintas dikaji dengan dua scenario yaitu pertumbuhan normal (Do Nothing) dan pertumbuhan pengembangan kawasan (Do Something). Do Nothing Jalan Syiah Kuala pertumbuhan lalu lintas meningkat sehingga perlu penanganan jalan dengan 4 alternatif, yaitu 1) analisa kinerja jalan kondisi existing do mínimum (2/2 UD) pada tahun 2010 s/d 2014; 2) penanganan alternatif A (2/2 UD) tahun 2015 s/d 2016; 3) alternatif B (4/2 D) tahun 2017 s/d 2021 dan 4) alternatif C (6/2 D) tahun 2022 s/d 2024. Penanganan Jalan Syiah Kuala perlu dilakukan untuk mempertahankan derajat kejenuhan sebagai rasio arus lalu lintas terhadap kapasitas jalan tetap dibawah 0,75. Untuk aktivitas pengembangan kawasan Lampulo perlu dilakukan penanganan jalan dengan 4 alternatif, yaitu 1) analisa jalan kondisi existing (2/2 UD) tahun 2010 s/d 2013; 2)  alternatif A (4/2 D) tahun 2014 s/d 2019; 3) alternatif B  (6/2 D) tahun 2020 s/d 2021; 4) alternative C (6/2 D) penambahan lebar lajur tahun 2022 s/d 2024. Metode pemeliharan Jalan Syiah Kuala dilakukan dengan analisa IRI. Pertumbuhan normal dilakukan pemeliharan rutin setiap tahun dan berkala pada tahun 2022, pertumbuhan pengembangan kawasan dilakukan pemeliharan berkala tahun 2021. Disarankan kepada Dinas PU kota Banda Aceh untuk melakukan manajemen penanganan Jalan Syiah Kuala dimasa mendatang pemeliharaan dan rencana rekontruksi.Kata kunci : Manajemen, kinerja jalan, pemeliharaan, pembiayaan
BANGKITAN PERJALANAN RUMAH TANGGA DI KECAMATAN DARUSSALAM KABUPATEN ACEH BESAR Helmi, Sufri; Fadhly, Noer; Darma, Yusria
Jurnal Arsip Rekayasa Sipil dan Perencanaan (Journal of Archive in Civil Engineering and Planning) Vol 2, No 1 (2019): Jurnal Arsip Rekayasa Sipil dan Perencanaan
Publisher : Prodi Magister Teknik Sipil Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.839 KB) | DOI: 10.24815/jarsp.v2i1.13206

Abstract

Darussalam Sub-district is one of the largest sub-districts consisting 29 villages in Aceh Besar Regency. This sub-district serves its function for settlements, offices, trading, and education. As there are many people reside in the area, the trip-generation and traffic rate to the activities centers also increase and it requires adequate road capacity. Therefore, a trip-generation model is to estimate the number of people who travel needed in Darussalam area. This study aims to define the trip-generation pattern from and to home based on the level of education and type of occupation concerning the mandatory activities. Moreover, it aims to determine the vehicles proportion used by the people in the mandatory activities. The sampling technique used in this research is proportionate stratified random sampling. The result of this study shows that factors that influencing trip-generation of people with the education level under High School at the mandatory time are actually the age. While for people with the education background above the high school level, their trip-generation depends on the family structure, the number of family members in the family working, the number of motorcycles in the family, and the number of the family owning the driving license. Moreover, the factors influencing the trip-generation of people who do not work for government at the mandatory activities are age, the number of family members who work, and the number of family members who are still students. At the other hand, the factors influencing the trip-generation of people who work for the government at their mandatory activities are the number of motorcycles in the family, the number of cars in the family, and the number of family members owning driver license. The dominant modes of transport used by the residents of Darussalam Sub-district at all education and working travels for mandatory activities are motorcycles which are 218 modes (72.6%) and cars which are 82 modes (217.33%).
ANALISIS DAMPAK LALU - LINTAS (ANDALALIN) PADA JALAN T.UMAR DITINJAU DARI TATA RUANG KOTA BANDA ACEH Puspita, Ayuza Jria; Irwansyah, Mirza; Fadhly, Noer
Jurnal Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2012): Volume 2, Nomor 1, September 2012
Publisher : Department of Civil Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.838 KB)

Abstract

Abstract: Government regulation of Banda Aceh city the Urban Spatial Planning year  2009-2029 in which the site T.Umar road is earmarked for trade and services regional. T.Umar road area is the center of the Banda Aceh urban which have the heavy traffic condition especially in  the morning and late afternoon, this is due to the limited road capacity, limitations of the road network, intersection arrangements, and limited parking provision. Divided into four zones of the study area and 10 points (A - I). On recapitulation and the  calculations of the rise and the biggest drag on the business day is CD 1692 Smp/hour point and F-G 2511 smp/h, on a Sunday There is also C-D 2901 smp / hour point. While the largest traffic percentage result is 23% on F-G point and I-J point, and Sunday C-D 30% point. On working day, F-G roads a critical degree of saturation at 1,16 Monday morning, it is because of the activities in the morning. Meanwhile, on Monday afternoon at C point to E point  the degree of saturationhas already saturated, that is characterized by the value of DS of 1,09. Troubled zones in C-E point is an area that has a function instead of the trade and services as outlined in the city of Banda Aceh RTRW 2009-2029. The troubled zone due to the occurrence of a mixed land use (mixed use). this is what makes the imbalance development region so that the land use. In this case Spatial planning should follow what is already regulated by Government that do not alter the function of which is included in the Spatial Plan of the City. Active role of the public who pass through T.Umar road is necessary not only to limit and regulate space and community activities, but also provide encouragement and opportunities to community and participate in spatial activities by observing regulations.Keywords : Rise and drag, Spatial, the Spatial City.Abstrak: Peraturan pemerintah Kota Banda Aceh pada Rencana Tata Ruang Kota Banda Aceh Tahun 2009-2029 dimana lokasi Jalan T.Umar ini diperuntukkan untuk kawasan perdagangan dan jasa. Kawasan Jalan T.Umar merupakan pusat Kota Banda Aceh yang memiliki kondisi lalu - lintas yang padat terutama pada pagi & sore hari, hal ini disebabkan oleh kapasitas jalan yang terbatas, keterbatasan jaringan jalan, pengaturan persimpangan, serta keterbatasan penyediaan parkir. Daerah penelitian dibagi 4 zona dan 10 titik (A-I). Pada perhitungan rekapitulasi bangkitan dan tarikan terbesar pada hari kerja adalah titik  C-D 1.692 smp/jam dan  F-G 2.511 smp/jam, pada hari Minggu juga terdapat pada titik C-D 2.901 smp/jam. Sedangkan hasil persentase lalu lintas terbesar 23 % pada titik F-G dan titk I-J, pada hari Minggu titik C-D 30%. Pada hari kerja  ruas jalan F-G derajat kejenuhan kritis pada Senin pagi hari 1,16, hal ini di karenakan aktifitas di pagi hari. Sedangkan pada Senin sore pada titik C ke titik E derajat kejenuhan sudah jenuh ditandai dengan nilai D/S  sebesar 1,09. Zona yang bermasalah pada titik C-E merupakan kawasan yang memiliki fungsi bukan kawasan perdagangan dan jasa seperti yang tertera pada RTRW Kota Banda Aceh 2009-2029. Zona yang bermasalah diakibatkan terjadinya penggunaan lahan yang bercampur (mixed use). Hai ini yang membuat terjadinya ketidakseimbangan perkembangan kawasan tersebut sehingga terjadinya alih fungsi lahan. Dalam hal ini Perencanaan Tata Ruang sebaiknya mengikuti apa yang sudah diatur oleh Pemerintah agar tidak merubah fungsi kawasan yang sudah dicantumkan pada Rencana Tata Ruang Kota. Peran aktif masyarakat yang melewati Jalan T.Umar diperlukan tidak semata-mata membatasi dan mengatur ruang gerak dan kegiatan masyarakat, akan tetapi juga memberi dorongan dan peluang agar masyarakat berpartisipasi pula dalam kegiatan penataan ruang dengan menaati peraturan yang ada.Kata kunci Bangkitan dan tarikan, RTRW, Tata Ruang Kota.
STUDI PENGGUNAAN JALAN ALTERNATIF TERHADAP BIAYA OPERASIONAL KENDARAAN (STUDI KASUS TERUSAN JALAN PANGLIMA NYAK MAKAM MENUJU DESA MEUNASAH MANYANG ACEH BESAR) Saleh, Sofyan M.; Fadhly, Noer; Afriyandi, Miswar
Jurnal Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2011): Volume 1, Nomor 1, September 2011
Publisher : Department of Civil Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.338 KB)

Abstract

Abstrak: Before the Santan Bridge on the T. Panglima Nyak Makam continuation road was completed, the Surabaya bridge on the T. Hasan Dek road is the main route for the movement of the segment between Tgk. Imum Lueng Bata - T. Hasan Dek - T. Iskandar Road in Banda Aceh city. The traffic volume on this road is high, because these segment of roads connecting road users of the area of Lueng Bata - Ingin Jaya and surrounding areas to the education center and offices are located in the city of Banda Aceh. In this study is conducted on the use of alternative road with the assumption that the Santan Bridge has been built and its effect on vehicle operating costs (VOC). Data taken in this study is the data of traffic volume, traffic speed and vehicle cost units. The results of data analysis showed that, the scenarios do nothing has the traffic volume of 1571 passengers car unit per hour (pcu/h), and the capacity of 1427 pcu/h, free flow speed of 50 km/h, the degree of saturation of 1.10, as well as the VOC is Rp. 2,975,114,800, - per year. The scenario do something 1 showed that the traffic volume of 281 pcu/h, the degree of saturation of 0.18, and the savings of VOC of is Rp. 400 103 093, - per year. For scenario do something 2, the traffic volume 530 pcu / h, the degree of saturation is 0.35, and the saving of VOC,is Rp. 756 817 075, - per year. While the capacity and the free flow speed on the scenarios do something 1 and do something 2 respectively for 1520 pcu/h and 54 km/hour. From the comparison of the three scenarios, it can be concluded that the development section of  Jalan T. Panglima Nyak Makam  continuation toward  Meunasah Manyang village reduce traffic volume, the degree of saturation, and VOC on Surabaya Bridges and Surabaya Junction significantly.Keywords: Vehicle Operating Cost, capacity, free flow speed, degree of saturation.Abstrak: Sebelum Jembatan Santan pada terusan jalan T. Panglima Nyak Makam selesai dibangun, maka jembatan Surabaya pada ruas jalan T Hasan Dek merupakan jalur utama untuk pergerakan dari ruas Jalan Tgk. Imum Lueng Bata - T. Hasan Dek - T. Iskandar Banda Aceh. Ruas jalan ini memiliki volume lalu lintas yang tinggi, karena ruas jalan ini menghubungkan pemakai jalan dari kawasan Lueng Bata - Ingin Jaya dan sekitarnya ke pusat pendidikan dan perkantoran yang berada di Kota Banda Aceh. Pada studi ini dilakukan kajian tentang penggunaan jalan alternatif dengan asumsi bahwa jembatan santan telah selesai dibangun dan pengaruhnya terhadap biaya operasional kendaraan (BOK). Data yang diambil pada penelitian ini adalah data volume lalu lintas, kecepatan lalu lintas dan unit-unit biaya kendaraan. Hasil analisis data, pada skenario do nothing diperoleh volume lalu lintas sebesar 1.571 smp/jam, kapasitas 1.427 smp/jam, kecepatan arus bebas 50 km/jam, derajat kejenuhan 1,10, serta BOK sebesar Rp. 2.975.114.800,- per tahun. Volume lalu lintas, derajat kejenuhan, dan penghematan BOK pada skenario do something 1 masing-masing sebesar 281 smp/jam, 0,18, dan Rp. 400.103.093,- per tahun. Volume lalu lintas, derajat kejenuhan, dan BOK pada skenario do something 2 masing-masing sebesar 530 smp/jam, 0,35, dan Rp. 756.817.075,- per  tahun. Sedangkan kapasitas dan kecepatan arus bebas pada skenario do something 1 dan do something 2 masing-masing sebesar 1.520 smp/jam dan 54 km/jam. Dari perbandingan ketiga skenario tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pembangunan ruas Terusan Jalan Panglima Nyak Makam menuju Desa Meunasah Manyang mengurangi volume lalu lintas, derajat kejenuhan, dan BOK pada Jembatan dan Simpang Surabaya.Kata kunci : Biaya Operasi Kendaraan, kapasitas, kecepatan arus, derajat kejenuhan.
ANALISIS KINERJA SIMPANG BERSINYAL DAN BERLENGAN EMPAT (STUDI KASUS SIMPANG BPKP, BANDA ACEH) Saleh, Sofyan M.; Fadhly, Noer; Faisal, Ruhdi
Jurnal Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2012): Volume 1, Nomor 2, Mei 2012
Publisher : Department of Civil Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.791 KB)

Abstract

Abstract: BPKP intersection is located in Banda Aceh City. This intersection was modified from three approaches between T.P. Nyak Makam Street and T. Iskandar Street, to be four approaches intersection.  The new approaches is connected T.P. Nyak Makam Street to B. Aceh – Medan National road after finishing Santan Bridge. The objective of this study is to analyze the performance of four approaches junction with traffic signal. Video Camera was installed in the data collection then analyze with Indonesian Highway Capacity Manual (IHCM, 1997) and the result would be come out in graphs and tables. The result showed that at peak hour and the highest flow are from the North approaceh, South approaches, east approach, and West approache consecutively; 810 pcu/hour, 571 pcu/hour, 797 pcu/hour, and 870 pcu/hour. Meanwhile the capacity for the existing condtion for those four approaches are consecutively; 596 pcu/hr, 766 pcu/hr, 770 pcu/hr, and 557 pcu/hr. From these data of the existing condition then can be found that the average degree of saturation (DS) is 1,18 and average delay is 402,6 sec/pcu, with cyclus time 89 second. After adjusting the geometric of junction, the performance is getting better with increase in capacity all approaches namely; the North approaceh tobe 1093 pcu/hr, South approaches 771 pcu/hr, East approach 1076 pcu/hr, and West approache 1174 pcu/hr. The average DS for all approach become lower to 0,74, and the average delays to be 24,4 sec/pcu. After predicting 5 years later with average traffic grouth of 17,5% per year, so DS will be 1,66, it means that need to be evaluated.Keywords : Flow, capacity, degree of saturation, delay, cyclus time.Abstrak: Simpang BPKP terletak di Kota Banda Aceh, sebelumnya merupakan simpang berlengan tiga antara jalan T. P. Nyak Makam dengan jalan T. Iskandar. Setelah dibangunnya Jembatan Santan yang merupakan terusan jalan T. P. Nyak Makam menuju jalan Nasional B. Aceh – Medan di Desa Meunasah Manyang Aceh Besar, maka Simpang BPKP menjadi simpang berlengan empat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kinerja simpang berlengan empat yang diatur dengan sinyal lalu lintas. Pengumpulan data  dilakukan dengan menggunakan kamera video yang kemudian diolah menggunakan metode MKJI 1997 dan hasil yang didapat dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil perhitungan jam puncak dengan arus tertinggi diperoleh pada lengan Utara, Selatan, Timur dan Barat masing-masing sebesar 810 smp/jam, 571 smp/jam, 797 smp/jam dan 870 smp/jam. Nilai kapasitas kondisi eksisting pada lengan Utara, Selatan, Timur dan Barat masing-masing sebesar 596 smp/jam, 766 smp/jam, 770 smp/jam dan 557 smp/jam. Nilai derajat kejenuhan rata-rata pada kondisi eksisting sebesar 1,18. Nilai tundaan rata-rata sebesar 402,6 det/smp. Waktu siklus eksisting yang disesuaikan sebesar 89 detik. Setelah dilakukan analisis dengan perubahan geometrik, kinerja simpang menjadi lebih baik ditandai dengan nilai kapasitas pada lengan Utara, Selatan, Timur dan Barat masing-masing sebesar 1093 smp/jam, 771 smp/jam, 1076 smp/jam dan 1174 smp/jam. Nilai derajat kejenuhan pada lengan Utara, Selatan, Timur dan Barat masing-masing sebesar 0,74. Nilai tundaan rata-rata sebesar 24,4 det/smp. Apabila diprediksi pertumbuhan kendaraan pertahun 17,5 %, maka untuk 5 tahun mendatang diprediksi simpang dengan perubahan geometrik memiliki nilai DS sebesar 1,66 untuk setiap lengan-lengan simpang.Kata kunci : arus lalu lintas, kapasitas, derajat kejenuhan, tundaan, waktu siklus.