Endang Evacuasiany
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha

Published : 20 Documents
Articles

Found 20 Documents
Search

Ekstrak Biji Pala (Myristica fragans Houtt) dan Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl) sebagai Afrodisiak pada Tikus dan Mencit

Jurnal Kedokteran Maranatha Vol 10, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Libido atau gairah seksual adalah dorongan untuk melakukan hubungan seks. Myristica fragans Houtt (pala) dan Piper retrofractum Vahl (cabe jawa) digunakan oleh masyarakat untuk meningkatkan gairah seksual pria. Tujuan penelitian untuk membuktikan kebenaran pala dan cabe jawa sebagai afrodisiak. Metode penelitian adalah eksperimental sungguhan dengan rancangan acak lengkap. Pengamatan dilakukan dengan menghitung bobot organ reproduksi dan kadar testosteron tikus jantan setelah pemberian bahan uji selama 10 hari, juga jumlah perilaku seksual introducing dan mounting mencit jantan setelah pemberian bahan uji selama 3, 5, 7 hari. Data dianalisis dengan uji ANAVA dilanjutkan Tukey HSD. Hasil perhitungan rata-rata bobot organ reproduksi kelompok tikus dengan pemberian ekstrak biji pala, ekstrak cabe jawa, kelompok negatif dan kelompok testosteron tidak ada perbedaan yang bermakna (p>0.05). Kadar testosteron antara kelompok tikus dengan pemberian ekstrak biji pala 250mg/kgBB dan kelompok negatif terdapat perbedaan bermakna (p<0.05). Hasil pengamatan introducing 15 menit hari ke-3 pada kelompok mencit dengan pemberian ekstrak biji pala 250 mg/kgBB dan 500 mg/kgBB serta pemberian ekstrak cabe jawa 500 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB pada hari ke-5 dan ke-7 terdapat perbedaan sangat bermakna (p<0.001) dibandingkan terhadap kelompok mencit dengan pemberian testosteron. Perhitungan mounting pada hari ke-3 setelah 30 menit pemberian ekstrak biji pala 250 mg/kgBB dan ekstrak biji pala 500 mg/kgBB serta pemberian ekstrak cabe jawa 500 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB tidak berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol negatif (p>0.05). Simpulan ekstrak biji pala dan ekstrak cabe jawa meningkatkan gairah seksual pada tikus dan mencit. Kekuatan peningkatan gairah seksual ekstrak pala lebih besar daripada ekstrak cabe jawa.Kata kunci: ekstrak biji pala, ekstrak cabe jawa, pengenalan dan penunggangan, perilakuseksual.

Karakteristik Pasien Usia Lanjut di Ruang Rawat Intensif Rumah Sakit Immanuel Bandung

Jurnal Kedokteran Maranatha Vol 10, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk berusia lanjut sudah menjadi fenomena global. Usia lanjut diperkirakan berhubungan dengan peningkatan angka mortalitas di ruang rawat intensif (ICU). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan outcome pasien usia lanjut di ICU. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang yang dilakukan di ICU Rumah Sakit Immanuel, Bandung selama periode 1 Agustus 2009 hingga 31 Januari 2010. Penelitian ini mendapatkan karakteristik pasien usia lanjut di ICU: pasien pria lebih banyak (61%), diagnosis penyakit jantung paling banyak didapatkan (34%), dan 59% pasien memiliki hasil rawat membaik. Rata-rata biaya yang dihabiskan dari keseluruhan pasien adalah Rp. 13.856.131,25. Besarnya biaya rawat tidak menjamin hasil rawat yang baik. Faktor-faktor yang berhubungan dengan hasil rawat pasien usia lanjut (60 tahun atau lebih) yang dirawat ICU karena indikasi non bedah diidentifikasi sesuai dengan kuesioner yang telah dibuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 132 pasien, pasien dengan usia ≥80 tahun memiliki hasil rawat memburuk (60,9%) lebih banyak dibandingkan membaik (39,1%). Pasien dengan status fungsional Activities of Daily Living (ADL) <10 yang memiliki hasil rawat memburuk (53,3%) lebih banyak dibandingkan hasil rawat membaik (46,7%). Pasien dengan lama rawat 0-1 hari atau >7 hari yang memiliki hasil rawat memburuk (48,14%) lebih banyak daripada hasil rawat membaik (20,5%). Simpulan penelitian adalah bahwa faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi hasil rawat pasien usia lanjut di ICU adalah usia ≥80 tahun, status fungsional ADL ≤10, dan lama rawat 0-1 hari atau >7 hari.Kata kunci: pasien usia lanjut, ruang rawat intensif, hasil rawat.

Studi Efektivitas Antidiabetik Ekstrak Air dan Ekstrak Etanol Buah Pare (Momordica Charantia Linn) pada Mencit Diabet Aloksan

Jurnal Kedokteran Maranatha Vol 4, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik menahun yang ditandai dengan kadar glukosadarah yang melebihi nilai normal. Untuk mengatasi DM atau kadar glukosa darah yang tinggi pada penderita DM, diperlukan terapi alternatif dengan menggali potensi lokal yaitu tanaman obat.Telah dilakukan uji perbandinganefektivitas antidiabetik ekstrak air dan ekstrak etanol buah pare (Momordica charantia Linn). Uji dilakukan pada mencit jantan normal galur Swiss Webster yang dibuat menjadi diabet dengan induksi aloksan. Ekstrak air dan ekstrak etanol buah pare (Momordica charantia Linn )diberikan secara oral setiap hari selama 21 hari, masing-masing dengan dua variasi dosis yaitu 0.5g/kgBB dan 1g/kgBB.Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan kadar glukosa darah mencit yang diinduksi aloksan. Penurunan tertinggi terlihat pada ekstrak etanol pare dosis 0.5/kgbb (65.98 %), sedangkan ekstrak air pare dosis 1 g/kgbb (65.44 %) dan ekstrak air pare dosis 0,5 g/kgBB (58,44 %) dengan kemaknaan p<0.05.Pada pengamatan secara patologis anatomi pankreas mencit terlihat adanya perbaikan pankreas mencit setelah pemberian kedua ekstrak Momordica charantia Linn.Sebagai simpulan, bahwa keduajenis ekstrak Momordica charantia Linn mempunyai efek sebagai antidiabetik, namun ekstrak etanol Momordica charantia Linn lebih baik dari pada ekstrak air Momordica charantia Linn

Pengaruh Biji Jengkol (Pithecellobium jiringa) terhadap Kadar Glukosa Darah Mencit Galur Balb/c

Jurnal Kedokteran Maranatha Vol 4, No 1 (2004)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes melitus dapat menyebabkan komplikasi menahun yang berakibat fatal seperti penyakit jantung, gangguan fungsi ginjal, kebutaan, pembusukan kaki (gangrene) atau timbulnya impotensi, sehingga diperlukan pencegahan dan pengobatan yang optimal dengan tanaman obat. Pada saat ini salah satu pengobatan dapat dilakukan dengan obat bahan alam yaitu dengan biji jengkol (Pithecellobium jiringa).Metode penelitian yang digunakan adalah uji toleransi glukosa pada mencit yang dibuat hiperglikemia. Hewan coba yang digunakan adalah mencit jantan galur Balb/c berat ± 25 g. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan uji t - Student.Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan rata-rata kadar glukosa darah setelah 1 jam pemberian glukosa yang mana infusa biji jengkol 10%, 25% dan 50%, berturut-turut sebesar 56,35%, 51,68%, dan 28,46%, Setelah 2 jam pemberian glukosa berturut-turut sebesar 79,61%, 73,27%, dan 74,60%. Penurunan kadar glukosa darah pada pengujian infusa biji jengkol 10% dan 25% dibandingkan dengan kontrol ada perbedaan yang bermakna (p<0,05).Infusa biji jengkol (Pithecellobium jiringa) menurunkan kadar glukosa darah mencit yang telah dibuat hiperglikemia. Penurunan kadar glukosa darah mencit bergantung pada dosis yang diberikan.

Efek Anti Hepatotoksik, Anti Inflamasi pada Dermatitis Alergika, dan Uji Toksisitas Akut Herba Jombang (Taraxacum officinale Weber et Wiggers)

Jurnal Kedokteran Maranatha Vol 3, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketidakseimbangan sistem imun dapat menimbulkan beberapa penyakit kronis, seperti hepatitis virus ataupun alergis (asma, rinitis, dan dermatitis), dan yang berperan dalam proses ini adalah IgE. Bila ketidakseimbangan ini dapat diperbaiki, maka penyakit kronis tersebut dapat diatasi. Herba Jombang (Taraxacum officinale Weber et Wiggers) diharapkan dapat memperbaiki ketidakseimbangan imun, karena secara empiris digunakan sebagai obat hepatitis dan reaksi peradangan pada ekzema.Metode yang digunakan adalah pengujian efek anti hepatotoksik Herba Jombang pada mencit yang diinduksi oleh CCl4, sedangkan pengujian efek anti inflamasinya juga dilakukan dengan hewan coba mencit yang diinduksi ovalbumin secara intrakutan untuk menimbulkan dermatitis alergika.Hasil penelitian menunjukkan Herba Jombang dapat memperbaiki aktivitas enzim ALT (29 IU/L), mengurangi kerusakan hati (nekrosis hepatosit: 46), dan mengurangi nilai absorbansi hasil reaksi malondialdehid hati dan asam tiobarbiturat (0,260) pada mencit-mencit yang telah diberi CCl4, bila dibandingkan (p<0,05) dengan kelompok kontrol positif yang diberi CCl4 dosis tunggal. (aktivitas ALT: 61 IU/L; nekrosis hepatosit: 221; nilai absorbansi hasil reaksi malondialdehid hati dan asam tiobarbiturat (0,327). Herba Jombang juga dapat mengurangi lebar peradangan (13,71 mm ) dan jumlah sel-sel radang (59) pada kulit mencit yang telah diinduksi ovalbumin intrakutan, bila dibandingkan (p<0,05) dengan kelompok ovalbumin. (lebar 33,50 mm, sel-sel radang 84).Dengan demikian, Herba Jombang mempunyai efek anti hepatotoksik dan efek anti inflamasi pada dermatitis alergika, yang diindikasikan dapat menimbulkan keseimbangan sistem imun.Uji toksisitas akut Herba Jombang juga telah dilakukan dengan hasil praktis tidak toksik, sehingga penilaian efek Herba Jombang ini dapat dilanjutkan dengan uji klinik di masa datang.

Tumbuhan Obat yang Mempunyai Efek Anti Hepatotoksik

Majalah Komunikasi Maranatha Vol 12, No 10 (2004)
Publisher : Majalah Komunikasi Maranatha

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumbuhan obat mempunyai khasiat yang bervariasi antara lain analgetik antiinflamasi, anti mikroba dan anti hepatotoksik. Sedikitnva 97 jenis tumbuhan obat Indonesia dilaporkan mempunyai kegunaan terhadap gangguan fungsi hati. Efek anti hepatotoksik beberapa tumbuhan obat telah banyak dilakukan pengujian pada hewan percobaan. Hasil penelitian tumbuhan tersebut diluporkan adanya hasil hermakna yang dapat memberikan proteksi terhurlap kerusakan hati pada tikus yang diinduksi dengan karbon tetraklorida, galaktosamin atau senyawa lan. Pada uji klinis juga telah dila­porkan bahwa beberapa diantaranya dapat digunakan untuk mengatasi penyakit yang disebabkan karena gangguan fungsi hati misalnya hepatitis. Dari beberapa hasil penelitian dilaporkan bahwa senyawa yang mempunyai potensi sebagai antihepatotoksik adalah senyawa lignan dan suatu senyawa asiklik. Tumbuhan obat yang telah dilakukan uji klinis dan dilaporkan dapat digunakan untuk pengobatan penyakit hati adalah Curcuma xanthorrhiza Roxb (temu lawak), Cyperus rotundus Linn (akar teki) dan Angelica sinennsis(danggui).

Tumbuhan Obat yang Mempunyai Efek Anti Hepatotoksik

Majalah Komunikasi Maranatha Vol 12, No 10 (2004)
Publisher : Majalah Komunikasi Maranatha

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumbuhan obat mempunyai khasiat yang bervariasi antara lain analgetik antiinflamasi, anti mikroba dan anti hepatotoksik. Sedikitnva 97 jenis tumbuhan obat Indonesia dilaporkan mempunyai kegunaan terhadap gangguan fungsi hati. Efek anti hepatotoksik beberapa tumbuhan obat telah banyak dilakukan pengujian pada hewan percobaan. Hasil penelitian tumbuhan tersebut diluporkan adanya hasil hermakna yang dapat memberikan proteksi terhurlap kerusakan hati pada tikus yang diinduksi dengan karbon tetraklorida, galaktosamin atau senyawa lan. Pada uji klinis juga telah dila­porkan bahwa beberapa diantaranya dapat digunakan untuk mengatasi penyakit yang disebabkan karena gangguan fungsi hati misalnya hepatitis. Dari beberapa hasil penelitian dilaporkan bahwa senyawa yang mempunyai potensi sebagai antihepatotoksik adalah senyawa lignan dan suatu senyawa asiklik. Tumbuhan obat yang telah dilakukan uji klinis dan dilaporkan dapat digunakan untuk pengobatan penyakit hati adalah Curcuma xanthorrhiza Roxb (temu lawak), Cyperus rotundus Linn (akar teki) dan Angelica sinennsis(danggui).

Hypnotic Effect of Ethanol Extract of Swamp Cabbage (Ipomoea Aquatica FORSK.) in Male Swiss Webster Mice Induced by Phenobarbital

Jurnal Medika Planta Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Jurnal Medika Planta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Medicinal plants are often used by community because of all natural, safe and relatively few side effects. Medicinal plants commonly used by Indonesian are swamp cabbage as it potentially generates hypnotic effect and in overcoming the problem of sleep disorders.Objectives: to assess whether the swamp cabbage, have a hypnotic effect with the parameter of time to sleep and sleep duration in the Swiss Webster male mice induced phenobarbital.Methods: This study was based on real experimental using comparatively Completely Randomized Design. Thirty male mice were divided into 5 the group which is given ethanol extract of swamp cabbage 2000 mg /kg bw, 4000 mg /kg bw, 8000 mg /kg bw, comparator (diazepam), and controls (CMC 1% suspension). The measured data is time to sleep and sleep duration in minutes. Analysis of data using one-way test ANOVA followed by Tukey HSD test with α = 0.05, significance based on p ≤ 0.05, using a computer program.Results: The fastest time to sleep is in the group given dose of 8000 mg /kg bw which was 17 minutes followed by the dose of 4000 mg /kg bw and the 2000 mg /kg bw are 24 minutes and 32.3 minutes, respectively. The sleep onset results is in the group given dose of 8000 mg/kg bw and 4000 mg/kg bw are differently significant compared to CMC 1% suspension group with p=0,001 and 0,032, respectively. The longest sleep duration is in the group given dose of 8000 mg /kg bw which is 211.5 minutes followed by the dose of 4000 mg /kg bw and 2000 mg /kg bw are 197 minutes and 157.2 minutes, respectively. The sleep duration results is in the group given dose of 8000 mg/kg bw is differently significant compared to CMC 1% suspension group with p=0,020.Conclusion: Swamp cabbage hasten time to sleep and prolong sleep duration.

The Effect of Kencurs Rhizome Ethanol Extract (Kaempferia galangal L.) Against Gastric Mucosal to Swiss Webster Mice in Induce by Asetosal

Jurnal Medika Planta Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Jurnal Medika Planta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Ulcers may occur in the entire gastrointestinal tract, mostly in gastric and duodenal. In general, patients usually complain of gastric ulcer dyspepsia (collection of symptoms such as nausea, vomiting, bloating, heartburn, belching, feeling of fullness in the gut, burning, and quickly feel full). WHO recommends the use of traditional medicines, including herbal in the maintenance of public health. Kencur is one herb that is often used in the treatment of gastric inflammation.Objectives: This research is to determine the effects of Kencur’s rhizome extract in preventing gastric ulcer by observing the depth of gastric mucosal erosion mice.Methods: The research method used is true experimental design in laboratorium with complete randomized design, which is comparative. Experimental animals used were Swiss Webster male mice, divided into 6 groups (n = 5). Group I,II, and III were given kencur’s rhizome extract with dose 0,52; 1,04; and 1,3 mg/kg of mice. Group IV was given CMC 1 %, group V was given asetosal, and group VI was given omeprazole. The data observed are the depth of gastric mucosa erosion, evaluated by a scoring system. The data is analyzed by using the Kruskal Wallis followed by Mann-Whitney test. Results: The result shows a very significant differences between groups I, II, III compared to group IV. There is very significant differences between groups I, III and group V. The comparison between group II and group V shows a significant result, while the comparison between group I, II, III and group VI shows no significant result.Conclusion:Kencur’s rhizome extract prevent gastric mucosa erosion of mice (gastric ulcer) that is induced by asetosal.

The Analgetic Effect of Kayu Rapat Bark Infusion (Parameria laevigata (Juss.) Moldenke) on Male Mice Treated with Thermal Induction

Jurnal Medika Planta Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Jurnal Medika Planta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Kayu rapat bark has been empirically used to treat many kinds of disease, and was assumed to have analgetic effect because it contains flavonoid and polyphenol in its bark.Objectives: The aim of this experiment is to discover the analgetic effect of kayu rapat (Parameria laevigata (Juss.) Moldenke) bark.Methods: The method used in this experiment was laboratoric experiment. The analgetic property was examined through heat-induced pain using a heating plate equiped with a thermostat of 550C. The experimental animal used were Swiss -Webster 25 male mice weighing ± 28 grams which were then divided into 5 treatment groups (n=5), each group was given a kayu rapat bark infusion (IKKR) of 0.975 g/kgBW, 1.95 g/kgBW , 3.9 g/kgBW, Aquadest (as control) and Sodium diclofenac 17.86 mg/kgBW (drug for comparison). The datas taken were the reaction times of the earliest visible response marked by lifting up or licking the front paws or even jumping of the mice. Data were analyzed using one way ANOVA, followed by mean difference test of Tukey HSD with α = 0.05.Results: The experimental results showed a significant difference for the IKKR of 0.975 g/kgBW (p<0.05). On the other hand, a highly significant difference was observed for th e IKKR of 1.95 g/kgBW and 3.9 g/kgBW (p<0.01). The experimental group that was given the IKKR of 3.9 g/kgBW showed a similar potency as Sodium diclofenac (p>0.05).Conclusion: It is therefore concluded that kayu rapat bark infusion had analgetic effect possesses an an algetic property.