Articles

Found 23 Documents
Search

AKUMULASI LOGAM BERAT DAN PENGARUHNYA TERHADAP SPERMATOGENESIS KERANG HIJAU (Perna viridis)

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 15, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.94 KB)

Abstract

Perairan Teluk Jakarta, Banten, dan Lada telah mengalami pencemaran, terutama tercemar oleh logam berat seperti Pb, Cd, Cr dan Hg. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam tersebut dalam gonad kerang hijau (Perna viridis) dan pengaruh akumulasi logam tersebut pada spermatogenesis kerang hijau. Parameter yang diamati adalah jumlah spermatogenium, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatozoa, total se-sel kelamin, diameter, luas dan volume lumen folikel gonad kerang hijau, pada tingkat IV spermatogenesis. Hasil penelitian menunjukan bahwa gonad kerang hijau yang berasal dari Teluk Jakarta telah terakumulasi logam berat Pb = 359.75±272.41 ppb; Cd = 36.559±21.90 ppb; Cr = 504.21±448.64 ppb dan Hg = 0.0092± 0.0085 ppb. Logam Cd (13.13 ppb) dan Pb (0.077 ppm) ditemukan dalam gonad kerang hijau yang berasal dari Teluk Banten, tetapi tidak terdeteksi logam Cr dan Hg. Namun tidak ditemukan logam berat tersebut dalam gonad kerang hijau berasal dari Teluk Lada. Di Teluk Jakarta ditemukan korelasi antara kandungan logam Cd terhadap perkembangan jumlah sel spermatozoa (r = 0.64), total sel kelamin (r = 0.60, diameter (r = 0.57), luas (r = 0.71) and volume (r = 0.71) lumen folikel gonad. Logam Hg berpengaruh terhadap perkembangan spermatogenium (r = 0.68) dan spermatosit sekunder (r = 0.61), sedangkan logam Cr mempunyai pengaruh terhadap luas (r = 0.75) dan volume (r = 0.75) lumen folikel gonad.Kata kunci: akumulasi, logam berat, spermatogenesis dan kerang hijau.

Morphoanatomy Structure Variation of Digestive Organs in Relation with Feeding Strategy and Food Habits of Deep-Sea Snappers (Family Lutjanidae)

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 16, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.314 KB)

Abstract

The digestive organs of four species deep-sea snappers (subfamily Etelinae, Family Lutjanidae) were investigated and compared including mouth shape as well its mouth gape, teeth structures, stomach morphology, pyloric caeca and intestine in order to investigate the existence of variability in food habits of these carnivorous fishes. The results showed that the mouth gape is an adaptation form of feeding habits, feeding strategy, as well as food size. In addition, the presence of jaw protrusion = may favour to fish feeding success. Based on regression analysis, the mouth gape is fairly correlated with the length of intestine (A. rutilans and P. multidens) and to a lesser extent with the other two species (A. virescens and P. filamentosus), indicating a weaker relationship between mouth gape versus total length than that of intestine versus total length. A generalisation of smaller proportion of the length of intestine to body length in carnivorous fishes is being questioned in this study, as an opposite result was found in P. filamentosus with a support evidence from herbivorous freshwater spotted barb (Puntius binotatus). It is suggested that the larger number in pyloric caeca of P. filamentosus is a compensatory mechanism in food digestion.Key words: variability in food habit, variability in digestive organs, feeding strategy and adaptation,deepsea snappers

HUBUNGAN PERUBAHAN JENIS KELAMIN DAN UKURAN TUBUH IKAN BELUT SAWAH (Monopterus albus)

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 11, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1279.737 KB)

Abstract

Belut (Monopterus albus) bersifat hermaprodit protogini, yang mengalami perubahan jenis kelamin dari betina menjadi jantan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan perubahan jenis kelamin dengan ukuran tubuh ikan belut. Penelitian berlangsung di Desa Kahuripan, Kecamatan Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat dari Juni sampai Juli 2002. Pengambilan contoh dilakukan secara acak sebanyak 11 kali, tiga hari sekali pada pukul 20.00 – 04.00 WIB, di tiga stasiun. Dari hasil penangkapan didapat 162 ekor belut, di stasiun I 67 ekor, stasiun II 65 ekor dan stasiun III 30 ekor. Hasil tangkapan paling banyak berukuran 22.8 - 26.7 cm. Hasil tangkapan stasiun I dan II relatif sama sedangkan pada stasiun III berbeda. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa panjang belut yang berukuran kurang dari atau sama dengan 29 cm berjenis kelamin betina namun yang lebih dari 29 cm berjenis kelamin jantan. Belut yang matang gonad pada stasiun I berukuran 24.9 - 28.8 cm, pada stasiun II, 19.0 - 23.1 cm dan 23.2 - 27.3 cm. Sedangkan di stasiun III tidak ditemukan yang matang gonad. Berdasarkan IKG belut yang diperoleh di ketiga stasiun, IKG terbanyak ada pada selang kelas IKG 0.0124 - 0.0873. Fekunditas 35 - 250 butir dengan ukuran telur 0.0265 - 1.2624 mm, dengan pola pemijahan sebagian (partial spawner).Kata kunci: belut, hermaprodit protogini, jenis kelamin, ukuran, IKG, fekunditas. The research was aimed to study body size and sexual changes relationship in a protoginy hermaphrodite species the eel, monopterus albus. This research were conducted in Kahuripan village, district of Tawang, Tasikmalaya, West Java during June to July 2002. Sampling were done at three stations for eleven time, with 3 days interval between 20.00 pm until 04.00 am. The number of eel collected were consisting of 162, ie 67; 65 and 30 from the first, second and third station respectively. The length of the eel were ranged between 22.8 - 26.7 cm. The results showed that the eel less than or equal to 29 cm in length were female, more than 29 cm were male. The mature eel were found in the first and second stations with body size of 24.9 - 28.8 cm, 19.0 - 23.1 cm, respectively. IKG values were varied between 0.0124 - 0.0873, fecundity between 35 - 250 egg, and egg diameter between 0.0265 - 1.2624 mm. Based on egg diameter, eel is considered as partial spawner.Key words: eel, protoginy hermaphrodite, sexuality, body size, IKG and fecundity.

KONDISI KESEHATAN TERUMBU KARANG BERDASARKAN KELIMPAHAN IKAN HERBIVORA DI KECAMATAN PULAU TIGA KABUPATEN NATUNA

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 17, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.814 KB)

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di perairan Kecamatan Pulau Tiga, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepu-lauan Riau dari bulan April hingga Agustus tahun 2009. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kesehatan terumbu karang dengan kondisi kelimpahan dan komposisi kelompok ikan-ikan herbivora yang secara tidak langsung dapat dijadikan sebagai bioindikator kesehatan ekosistem terumbu karang bila dilihat dari tingkat pemulihannya di Kecamatan Pulau Tiga. Metode yang digunakan adalah transek kuadrat yang dimodifikasi dengan transek garis menyinggung (LIT) untuk menentukan kondisi terumbu karang, pertumbuhan karang muda dan tutupan alga (DCA), sedangkan untuk penentuan struktur komunitas ikan herbivora menggunakan modifikasi transek garis menyinggung (LIT), transek kuadrat dan sensus visual ikan bawah air (UVC). Analisis yang digunakan adalah analisis ekologi standar, uji korelasi, regresi linear, dan analisis multivariate untuk mengetahui hubungan antara kelimpahan ikan herbivora, alga (DCA), dan terumbu karang. Hasilnya menunjukkan bahwa ekosistem terumbu karang di daerah tersebut masih berada dalam kondisi baik dengan rata-rata tutupan karang hidup sebesar 63,17%. Hasil analisis multivariate menunjukkan bahwa semakin tinggi kelimpahan ikan herbivora, maka tutupan karang hidup dan pertumbuhan karang muda meningkat dan menurunnya tutupan alga di ekosistem terumbu karang. Hasil uji korelasi, analisis multivariate, dan regresi linear (uji t-student) menunjukkan bahwa dari 24 spesies ikan herbivora yang terdata, terdapat tiga jenis ikan herbivora yang berperan dalam aktivitas herbivori dalam menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang di Kecamatan Pulau Tiga, antara lain Chlorurus microrhinos, Scarus rivulatus, dan Siganus doliatus.Kata kunci: DCA (karang mati yang ditutupi alga), ikan herbivora, herbivori, kesehatan terumbu karang, pertumbuhan karang muda, Pulau Tiga

Hubungan antara ikan Chaetodontidae dengan bentuk pertumbuhan karang

AGRIKAN Jurnal Agribisnis dan Perikanan Vol 8, No 1 (2015): AGRIKAN Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat keterkaitan antara ikan Chaetodontidae dengan persentase tutupan karang hidup di perairan sidodadi dan pulau tegal provinsi lampung. penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2010 di 6 stasiun. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode sensus visual dan line intercept transect (transek garis) yang ditempatkan sejajar dengan garis pantai. Selama penelitian dijumpai sebanyak 115 jenis ikan Chaetodontidae, mewakili 2 genera; yakni Chaetdon (91 jenis), dan Chelmon (24 jenis). Naik turunnya indeks keanekaragaman, keragaman dan dominansi dapt menjadi indikator kualitas terumbu karang. Keanekaragaman (H’) berkisar antara 0.28-1.38 dan persentase tutupan karang hidup antara 47,94% sampai 67,14%. Korelasi antara persentase karang hidup dengan ikan Chaetodontidae bersifat positif, dimana koefisien determinan (R) setiap spesies lebih dari 80 %. Keanekaragaman jenis rendah yang diikuti oleh dominansi individu dari satu jenis Chaetodontidae mencerminkan adanya kerusakan atau degradasi terumbu karang. Analisis makanan menunjukkan kesukaan ikan Chaetodontidae terhadap karang hidup sangat tinggi, dari semua spesies yang dianalisis kehadiran zooxanthelae sangat tinggi  dibandingkan  dengan dengan plankton, detritus dan alga. Hal ini menunjukkan bahwa ikan Chaetodontidae sangat tergantung pada karang hidup sebagai makanan utamanya. C. trifasialis merupakan spesies yang paling baik digunakan sebagai spesies indikator untuk menggambarkan kondisi terumbu karang dibandingkan dengan 3 spesies lainnya.

Pengaruh Laju Eksploitasi Terhadap Keragaan Reproduktif Ikan Tembang (Sardinella gibbosa) di Perairan Pesisir Jawa Barat

JURNAL BIOLOGI INDONESIA Vol 6, No 3 (2010): JURNAL BIOLOGI INDONESIA
Publisher : Perhimpunan Biologi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.394 KB)

Abstract

ABSTRACTEffect of Exploitation Rate on Reproductive Performance in Goldstripe Sardinella (Sardinellagibbosa) in West Java Coastal Waters. The research objective was to explore the effect ofexploitation rate on reproductive performance of goldstripe sardinella (Sardinella gibbosa).Three sites located in West Java coasts were selected representing coastal areas adjacent tothe Indian Ocean (Palabuhan Ratu), Java Sea (Blanakan), and Sunda Strait (Labuan), for fishcollection during May-July 2009. Fish samples were collected and the length was measuredprior to sex determination, observation on gonad morphology as well as gonad maturitydetermination, examination on fecundity and eggs diameter, and protein content analysis.Estimation on exploitation rate (E) was calculated based on length data performance fromwhich the result was correlated with reproductive parameters including the length at firstmaturity, fecundity, eggs distribution and diameter, and protein content analysis. By sitesbasis, variation in E was consistently shown only by eggs protein content in which the lowerthe E estimation the higher the protein contents. However, in response to E, there wereinconsistencies shown by the length at first maturity, fecundity, and eggs diameter. Suchinconsistencies are thought to be associated with population structure of matured female, andvariability in the habitat conditions which determines the magnitude of fish stock.Key words: Sardinella gibbosa, exploitation rate, reproductive performance

KERAGAMAN IKTIOFAUNA MUARA SUNGAI CIMANUK, INDRAMAYU, JAWA BARAT [Ichthyofaunal Diversity of Cimanuk Estuary, Indramayu, West Java]

BERITA BIOLOGI Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4115.623 KB)

Abstract

Cimanuk river, which the estuary formed a delta, is a habitat for many fishes that occupied the water in northern coast of Ja va. The estuary is essential for supporting the fish life cycle. The aim of this study was to asscess the diversity of ichthyo fauna in Cima nuk River estuary. The fishes were collected in three months from July to September 2013 at three locations: Pagirikan, Pabean Ilir and Song. Total fish collected were 1,826 individuals, consisted of 103 species from 41 families and 14 orders. Most of them were from Family Ambassidae,Leiognathidae, Scianidae, Gobiidae, and Ariidae.

HUBUNGAN PERUBAHAN JENIS KELAMIN DAN UKURAN TUBUH IKAN BELUT SAWAH (Monopterus albus)

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 11, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1279.737 KB)

Abstract

Belut (Monopterus albus) bersifat hermaprodit protogini, yang mengalami perubahan jenis kelamin dari betina menjadi jantan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan perubahan jenis kelamin dengan ukuran tubuh ikan belut. Penelitian berlangsung di Desa Kahuripan, Kecamatan Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat dari Juni sampai Juli 2002. Pengambilan contoh dilakukan secara acak sebanyak 11 kali, tiga hari sekali pada pukul 20.00 – 04.00 WIB, di tiga stasiun. Dari hasil penangkapan didapat 162 ekor belut, di stasiun I 67 ekor, stasiun II 65 ekor dan stasiun III 30 ekor. Hasil tangkapan paling banyak berukuran 22.8 - 26.7 cm. Hasil tangkapan stasiun I dan II relatif sama sedangkan pada stasiun III berbeda. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa panjang belut yang berukuran kurang dari atau sama dengan 29 cm berjenis kelamin betina namun yang lebih dari 29 cm berjenis kelamin jantan. Belut yang matang gonad pada stasiun I berukuran 24.9 - 28.8 cm, pada stasiun II, 19.0 - 23.1 cm dan 23.2 - 27.3 cm. Sedangkan di stasiun III tidak ditemukan yang matang gonad. Berdasarkan IKG belut yang diperoleh di ketiga stasiun, IKG terbanyak ada pada selang kelas IKG 0.0124 - 0.0873. Fekunditas 35 - 250 butir dengan ukuran telur 0.0265 - 1.2624 mm, dengan pola pemijahan sebagian (partial spawner).Kata kunci: belut, hermaprodit protogini, jenis kelamin, ukuran, IKG, fekunditas. The research was aimed to study body size and sexual changes relationship in a protoginy hermaphrodite species the eel, monopterus albus. This research were conducted in Kahuripan village, district of Tawang, Tasikmalaya, West Java during June to July 2002. Sampling were done at three stations for eleven time, with 3 days interval between 20.00 pm until 04.00 am. The number of eel collected were consisting of 162, ie 67; 65 and 30 from the first, second and third station respectively. The length of the eel were ranged between 22.8 - 26.7 cm. The results showed that the eel less than or equal to 29 cm in length were female, more than 29 cm were male. The mature eel were found in the first and second stations with body size of 24.9 - 28.8 cm, 19.0 - 23.1 cm, respectively. IKG values were varied between 0.0124 - 0.0873, fecundity between 35 - 250 egg, and egg diameter between 0.0265 - 1.2624 mm. Based on egg diameter, eel is considered as partial spawner.Key words: eel, protoginy hermaphrodite, sexuality, body size, IKG and fecundity.

Morphoanatomy Structure Variation of Digestive Organs in Relation with Feeding Strategy and Food Habits of Deep-Sea Snappers (Family Lutjanidae)

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 16, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.314 KB)

Abstract

The digestive organs of four species deep-sea snappers (subfamily Etelinae, Family Lutjanidae) were investigated and compared including mouth shape as well its mouth gape, teeth structures, stomach morphology, pyloric caeca and intestine in order to investigate the existence of variability in food habits of these carnivorous fishes. The results showed that the mouth gape is an adaptation form of feeding habits, feeding strategy, as well as food size. In addition, the presence of jaw protrusion = may favour to fish feeding success. Based on regression analysis, the mouth gape is fairly correlated with the length of intestine (A. rutilans and P. multidens) and to a lesser extent with the other two species (A. virescens and P. filamentosus), indicating a weaker relationship between mouth gape versus total length than that of intestine versus total length. A generalisation of smaller proportion of the length of intestine to body length in carnivorous fishes is being questioned in this study, as an opposite result was found in P. filamentosus with a support evidence from herbivorous freshwater spotted barb (Puntius binotatus). It is suggested that the larger number in pyloric caeca of P. filamentosus is a compensatory mechanism in food digestion.Key words: variability in food habit, variability in digestive organs, feeding strategy and adaptation,deepsea snappers

AKUMULASI LOGAM BERAT DAN PENGARUHNYA TERHADAP SPERMATOGENESIS KERANG HIJAU (Perna viridis)

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 15, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.94 KB)

Abstract

Perairan Teluk Jakarta, Banten, dan Lada telah mengalami pencemaran, terutama tercemar oleh logam berat seperti Pb, Cd, Cr dan Hg. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam tersebut dalam gonad kerang hijau (Perna viridis) dan pengaruh akumulasi logam tersebut pada spermatogenesis kerang hijau. Parameter yang diamati adalah jumlah spermatogenium, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatozoa, total se-sel kelamin, diameter, luas dan volume lumen folikel gonad kerang hijau, pada tingkat IV spermatogenesis. Hasil penelitian menunjukan bahwa gonad kerang hijau yang berasal dari Teluk Jakarta telah terakumulasi logam berat Pb = 359.75±272.41 ppb; Cd = 36.559±21.90 ppb; Cr = 504.21±448.64 ppb dan Hg = 0.0092± 0.0085 ppb. Logam Cd (13.13 ppb) dan Pb (0.077 ppm) ditemukan dalam gonad kerang hijau yang berasal dari Teluk Banten, tetapi tidak terdeteksi logam Cr dan Hg. Namun tidak ditemukan logam berat tersebut dalam gonad kerang hijau berasal dari Teluk Lada. Di Teluk Jakarta ditemukan korelasi antara kandungan logam Cd terhadap perkembangan jumlah sel spermatozoa (r = 0.64), total sel kelamin (r = 0.60, diameter (r = 0.57), luas (r = 0.71) and volume (r = 0.71) lumen folikel gonad. Logam Hg berpengaruh terhadap perkembangan spermatogenium (r = 0.68) dan spermatosit sekunder (r = 0.61), sedangkan logam Cr mempunyai pengaruh terhadap luas (r = 0.75) dan volume (r = 0.75) lumen folikel gonad.Kata kunci: akumulasi, logam berat, spermatogenesis dan kerang hijau.