Articles

Found 16 Documents
Search

Peran Lem Fibrin Otologus pada Penempelan Tandur Konjungtiva Bulbi Mata Kelinci terhadap Ekspresi Gen Fibronektin dan Integrin

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenempelan jaringan dan penyembuhan luka pada cangkok konjungtiva lebih cepat pada teknik lem fibrin otologus (LFO) dibandingkan dengan teknik jahitan. Kedua proses tersebut memerlukan interaksi fibronektin (FN) dan integrin α5 yang mengaktivasi alur persinyalan intraselular. Tujuan penelitian untuk menentukan kekuatan ekspresi gen FN serta integrin α5 pada kelompok teknik LFO dan jahitan. Uji eksperimental hewan pada kelinci New Zealand White yang terbagi kelompok teknik LFO dan jahitan masing-masing 8 kelinci bertempat di Laboratorium Sentral (Biologi Molekuler) FK Unpad Bandung, periode Mei–Oktober 2008. Sampel jaringan untuk pemeriksaan reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) diambil dari eksterpasi satu hari sesudah jaringan cangkok konjungtiva bulbi. Analisis data untuk uji hipotesis dengan Mann Whitney for small sample. Ekspresi gen messenger ribonucleic acid (mRNA) FN secara bermakna lebih kuat pada teknik LFO dibandingkan dengan teknik jahitan (1,9 vs 1,0; p=0,014). Tidak terdapat perbedaan bermakna ekspresi gen (mRNA) integrin α5 antara teknik LFO dan teknik jahitan (1,2 vs 1,0; p=0,235). Sebagai simpulan ekspresi gen FN lebih kuat pada teknik LFO dibandingkan dengan jahitan, sedangkan ekspresi gen integrin α5 pada teknik LFO lebih kuat dibandingkan dengan teknik jahitan namun secara statistik tidak bermakna satu hari pascabedah. [MKB. 2011;43(4):183–8].Kata kunci: Fibronektin, integrin α5, lem fibrin otologus, RT-PCRThe Role of Autologous Fibrin Glue on Attachment Rabbit Conjungtival Graft Based on Fibronectin and Integrin Gene ExpressionThe tissue attachment and wound healing in conjunctional transplantation was more rapid with autologous fibrin glue (AFG) than suture techniques. Both tissue attachment and wound healing process need interaction between fibronectin (FN) dan integrin α5 activating the intra cellular signal transduction pathway. The aim of this study was to evaluate the gene expression, i.e. FN and integrin in conjunctival transplantation, comparing between AFG and suturing techniques. Animal experimental study was done in New Zealand White rabbits, which divided into AFG and suturing technique at Laboratorium Sentral (Biologi Molekuler) FK Unpad Bandung during May–October 2008, each 8 rabbits, respectively. The tissue sample for reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) examination was taken from the tissue excision one day after conjunctival bulbi transplantation. Data analysis was tested using Mann Whitney for small sample. The FN gene expression power of messenger ribonucleic acid (mRNA) in the AFG technique was stronger than that in suturing technique (1.9 vs 1.0, p=0.014). There was no significant difference in integrin α5 gene expression of mRNA between AFG and suturing techniques (1.2 vs 1.0, p=0.235). In conclusions, FN gene expression in AFG technique is stronger than suturing technique. There is no difference in integrin α5 gene expression between two techniques, however there is a tendency of increased integrin α5 gene expression one day after surgery. [MKB. 2011;43(4):183–8].Key words: Autologous fibrin glue, fibronectin, integrin α5, RT-PCR

Penurunan Tekanan Intraokular Pascabedah Katarak pada Kelompok Sudut Bilik Mata Depan Tertutup dan Terbuka

Majalah Kedokteran Bandung Vol 45, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penebalan lensa kristalina pada katarak senilis mengakibatkan hambatan pada jalur aliran akuos. Pascabedah katarak terjadi peningkatan kedalaman bilik mata depan (BMD) yang memiliki korelasi positif dengan pelebaran sudut BMD serta penurunan tekanan intraokular (TIO). Tujuan penelitian untuk menganalisis perbedaan penurunan TIO pascabedah katarak pada kelompok sudut BMD tertutup dan terbuka. Penelitian ini menggunakan desain pre-post test, untuk membandingkan penurunan TIO pascabedah katarak fakoemulsifikasi pada 26 mata dari 26 orang penderita, yang dibagi menjadi kelompok sudut BMD tertutup dan terbuka masing-masing berjumlah 13 mata. Tempat penelitian Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung periode Maret–Juni 2012. Pengambilan data berdasarkan urutan datang penderita yang direncanakan operasi katarak fakoemulsifikasi. Penilaian sudut bilik mata depan prabedah dilakukan menggunakan lensa gonio Sussman 4-mirror. Tekanan intraokular pascabedah diukur saat pemantauan minggu ketiga pascabedah. Penilaian TIO pra dan pascabedah dilakukan menggunakan alat ukur tonometri aplanasi Goldmann. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji t. Hasil menunjukkan perbedaan penurunan TIO secara bermakna lebih besar pada kelompok sudut BMD tertutup (19,6%) dibandingkan dengan kelompok sudut BMD terbuka (11,3%) dengan nilai p=0,022. Simpulan, perbedaan penurunan TIO pascabedah katarak fakoemulsifikasi lebih besar pada kelompok sudut BMD tertutup dibandingkan dengan kelompok sudut BMD terbuka. [MKB. 2013;45(1):56–61]Kata kunci: Gonioskopi, katarak senilis, pascabedah fakoemulsifikasi, sudut bilik mata depan, tekanan intraokularIntraocular Pressure Reduction after Cataract Surgery between Groups with Angle-Closure and Open-Angle Anterior ChamberIncreased crystalline lens thickness in senile cataract causing resistance to aqueous humor outflow. Increased anterior chamber depth had a positive correlation with the widening of the anterior chamber angle and decreased of intraocular pressure (IOP) after cataract extraction. The purpose of this study was to compare IOP reduction after cataract surgery between angle-closure and open-angle group. This pre-post test design study was to compare IOP after phacoemulsification cataract surgery in 26 eyes of 26 patients divided into angle-closure and open-angle groups consisting of 13 eyes each. The study was conducted in Cicendo Eye Hospital Bandung in period of March until June 2012. Patients who planned to have phacoemulsification cataract surgery were recruited consecutively. The anterior chamber angle was measured before surgery using Sussman 4-mirror goniolens. The intraocular pressure were measured before and three weeks after surgery using Goldmann aplanation tonometer. Statistical analysis was done using t test. The results indicated that IOP reduction was statistically significant greater in the angle-closure group (19.6%) compared with open-angle group (11.3%) with p=0.022. In conclusion, IOP reduction after phacoemulsification cataract surgery was greater in the angle-closure group compared with open-angle group. [MKB. 2013;45(1):56–61]Key words: Anterior chamber angle, gonioscopy, intraocular pressure, phacoemulsification surgery, senile cataract DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v45n1.204

Codon Optimization and Chaperone Assisted Solubilization of Recombinant Human Prethrombin-2 Expressed in Escherichia coli

Microbiology Indonesia Vol 8, No 4 (2014): December 2014
Publisher : Indonesian Society for microbiology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prethrombin-2 (PT2) is a thrombin precursor, which plays a role in the conversion of fibrinogen into fibrin during blood clotting process. Previous study reported that the expression of human prothrombin-2 (rhPT2) in Escherichia coli formed inclusion bodies. The aim of this study was to establish a strategy to express a soluble rhPT2 in E. coli. This study was animed to design and codon optimize human prethrombin-2 gene as well as to optimize the expression condition using four strains of E. coli. The codon adaptation index (CAI) of the unoptimized hpt2 gene was 0.336, with 56.8% GC content. After optimization, the CAI of optimized hpt2 became 1.000 with 53.1% GC content. The optimized gene was successfully cloned into pTWIN1 expression vector. Expression analysis indicated that only E. coli ArcticExpress strain could successfully express a soluble recombinant rhPT2 protein, with only part of rhPT2 being expressed in insoluble form. However, the rest of the E. coli strains used in the experiments failed to express the rhPT2 in soluble form. We are deducing that the success in achieving soluble expression was not only due to the availability of chaperonins Cpn60/Cpn10, which played a crucial role in the protein folding in E. coli ArcticExpress strain, but also due to the codon optimization of hpt2 gene.

Perbandingan Derajat Hiperemis Pascabedah Pterigium Inflamasi antara Teknik Lem Fibrin Otologus dan Teknik Jahitan

Majalah Kedokteran Bandung Vol 45, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tandur konjungtiva bulbi merupakan baku emas pada pembedahan pterigium yang secara umum metode penempelannya dengan menggunakan jahitan, namun memiliki beberapa kekurangan, di antaranya waktu pembedahan cukup lama, menimbulkan reaksi inflamasi, dan kemungkinan komplikasi. Saat ini dikembangkan penggunaan lem fibrin untuk penempelan tandur konjungtiva bulbi sebagai alternatif prosedur pengganti jahitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui derajat hiperemis pascabedah pterigium inflamasi antara teknik lem fibrin otologus (LFO) dan teknik jahitan. Penelitian ini merupakan uji klinis acak terkontrol tersamar tunggal yang dilaksanakan di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung dari bulan Oktober−Desember 2010. Subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok secara acak dan hasilnya terdapat 12 penderita kelompok LFO dan 14 penderita kelompok jahitan. Pemantauan dilakukan pada minggu pertama, kedua, dan keempat pascabedah serta dilakukan pengambilan foto lampu celah biomikroskop digital. Benang jahitan disamarkan menggunakan perangkat lunak penyunting foto dan satu orang pengamat menilai secara objektif derajat hiperemis pada foto digital. Analisis statistik dilakukan menggunakan Uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat hiperemis secara bermakna lebih kecil pada minggu pertama, kedua, dan keempat pada kelompok teknik LFO (derajat hiperemis 2,5; 2; dan 1,5) dibandingkan dengan kelompok teknik jahitan (derajat hiperemis 4; 3; dan 2) (p<0,05). Simpulan, penggunaan LFO untuk melekatkan tandur konjungtiva bulbi pada pembedahan pterigium inflamasi menghasilkan derajat hiperemis yang lebih kecil dibandingkan dengan penggunaan jahitan. [MKB. 2013;45(3):174–9]Kata kunci: Lem fibrin otologus, pterigium inflamasi Comparison of Hyperemia Degree between Autologous Fibrin Glue and Suture Technique Post Inflammed Pterygium SurgeryConjunctival autograft is the gold standard in pterygium surgery which is regularly secured with suture, butthis method has few drawbacks of prolonged operating time, provoke ocular inflammation and potential risk for suture related complication. The use of fibrin glue has become an alternative procedure in conjuntival graft transplantation. The aim of this study was to compare hyperemia degree post inflamed pterygium surgery between autologous fibrin glue (AFG) and suture technique. This was a randomized, controlled, single blind clinical trial that conducted in National Eye Center, Cicendo Eye Hospital Bandung from October−December 2010. Subjects were randomly assigned to two groups and as result 12 patients belong to AFG group and 14 belong to suture group. Digital slit-lamp photographs were taken at 1st week, 2nd week and 4th week postoperatively for observation. Sutures were masked using photo-editing software and one masked observers objectively graded the digital photograph for degree of hyperemia. Statistical analysis was performed using Mann Whitney Test. The results of this study showed that the degree of hyperemia was significantly lower in AFG group (hyperemia degree 2.5, 2 and 1.5) than in suture group (hyperemia degree 4, 3 and 2) at 1st week, 2nd week and 4th week post operatively (p<0.05). In conclusion, the use of AFG for graft fixation in inflamed pterygium surgery produced significantly lower hyperemia degree. [MKB. 2013;45(3):174–9]Key words: Autologous fibrin glue, inflammed pterygium DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v45n3.148

Albumin Telur Sebagai Lem pada Operasi Cangkok Konjungtiva

Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cangkok konjungtiva sudah lama digunakan pada bidang oftalmologi. Metode yang digunakan saat ini untuk menempelkan cangkok konjungtiva adalah menggunakan teknik jahitan dan lem fibrin. Pada penelitian ini dilakukan uji coba menggunakan lem albumin pada cangkok konjungtiva kelinci sebagai alternatif lain selain menggunakan teknik jahitan dalam penempelan cangkok konjungtiva. Tujuan penelitian adalah membandingkan penyembuhan luka cangkok konjungtiva bulbi antara teknik lem albumin dan jahitan pada mata kelinci. Dilakukan animalexperimental study pada 32 mata (16 ekor kelinci) di PT. Bio Farma (Persero) dan laboratorium Histologi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dari bulan Maret 2014–Juli 2014, terbagi kelompok teknik lem albumin dan teknik jahitan. Dilakukan pemeriksaan meliputi perbandingan derajat perlekatan cangkok konjungtiva bulbi pada teknik lem albumin dan teknik jahitan yang diamati hari-1 pascabedah serta dilakukan pemeriksaan histologis secara mikroskopik untuk mendapatkan data celah luka yang diamati 10 menit dan hari-7 pascabedah. Analisis data dilakukan dengan Mann-Whitney test for small sample. Hasil penelitian memperlihatkan perlekatan cangkok konjungtiva bulbi secara bermakna lebih kuat pada teknik lem albumin (derajat 4) dibanding dengan teknik jahitan (derajat 2 dan 3) pada hari-1 pascabedah dengan nilai p=0,000 serta terdapat perbedaan celah luka (wound gap) bermakna antara teknik lem albumin (0–0,33 µm) dan jahitan (5,33–14 µm) (p=0,0005)pada cangkok konjungtiva dilihat sepuluh menit pascabedah dan pada hari-7 pascabedah untuk teknik lem albumin (0 µm) dan teknik jahitan (0,33–4 µm) dengan nilai p=0,0005. Simpulan penelitian ini adalah derajat perlekatan jaringan cangkok pada teknik lem albumin lebih baik dibanding dengan jahitan hari-1 pascabedah, sedangkan celah luka lebih kecil pada teknik lem albumin dibanding dengan teknik jahitan pada pengamatan 10 menit dan hari-7 pascabedah. [MKB. 2016;48(4):241–8]Kata kunci: Jahitan, lem albumin, penyembuhan luka konjungtivaEgg Albumin as Adhesive in Conjunctival Graft SurgeryCConjunctival graft has been frequently used in the field of ophthalmology. The frequently used methods to attach a conjunctival graft are suture technique and the use of fibrin glue. This study was to investigate albumin glue as an alternative to suture technique in attaching conjunctival grafts in rabbits. The aim of this study was to compare the conjunctival wound healing between albumin glue and suture technique in rabbit eye as a model. This was an experimental animal study that included 32 eyes (16 rabbits) conducted at PT. Bio Farma (Persero) and the Histology Laboratory, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran from March 2014 to July 2104. The subjects in this study were divided into albumin glue group and suture technique group. The examinations were comparison of conjunctival graft attachment and histologic microscopic examination to assess the wound gap. Data analysis was performed statistically using Mann-Whitney test for small sample. The statistical analysis results showed that the graft attachment was significantly better when using albumin glue (grade 4) compared to suture (grade 2–3) on day-1 after surgery (p=0.000). The wound gap was smaller using albumin glue (0-0,33 µm versus 5,33-14 µm; p0.0005) 10 minutes after surgery and 0 µm versus 0.33–4 µm, p 0,0005, on day-7 after surgery. In conclusion, graft attachment using albumi n glue is better and the wound gap is smaller when using albumin glue compared to the suture technique. [MKB. 2016;48(4):241–8]Key words: Albumin glue, conjunctival wound healing, suture

STABILISASI VITAMIN A (RETINOL) PADA SERUM OTOLOGUS SEDIAAN SERBUK KERING MENGGUNAKAN LIOPROTEKTAN SUKROSA

Chimica et Natura Acta Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.655 KB)

Abstract

Peran vitamin A pada siklus penglihatan. Selain itu  vitamin A punya peranan penting termasuk metoblisme, pembentukan tulang, diferensiasi epithel, embriogenesis, dan immunokompeten. Vitamin A mempromosikan diferensiasi sel konjungtiva. Pada kasus dry eye faktor epilotropik berkurang, kerusakan  permukaan okuler  menyebabkan kerusakan kornea dan konjungtiva yang parah. Serum otologus mengandung komponen vitamin A yang cukup banyak. Penelitian ini dilakukan stabilisasi serum otologus dengan proses liofilisasi dan menggunakan lioprotektan sukrosa dan ditentukan kadar sediaan serum serbuk kering. Tujuan penelitian ini menentukan kadar vitamin A dengan metode HPLC pada serum otologus dalam sediaan serbuk kering dengan sukrosa pada variasi suhu (suhu ruang, suhu 4◦C dan suhu -20◦C) serta  variasi waktu penyimpanan (1 bulan, 3 bulan , dan 6 bulan). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa vitamin A (retinol) pada serum serbuk kering dengan sukrosa tidak bertahan selama waktu penyimpanan. Uji one way Anova dengan Minitab menunjukkan tidak ada perbedaan antara serum dalam bentuk

Ekspresi Prethrombin-2 Manusia Recombinan dalamPichia pastoris dan Optimasi Kondisi Ekspresinya

Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.296 KB)

Abstract

Pretrombin merupakan prekursor dari trombin yang memiliki aktivitas proteolitik. Trombin merubah fibrinogen menjadi benang fibrin yang salah satu aplikasinya adalah dapat digunakan sebagai lem untuk menggantikan teknik jahitan pasca bedah. Aplikasi trombin untuk pembuatan lem fibrin menuntut diproduksinya trombin rekombinan. Tujuan dari penelitian ini adalah ekspresi gen pretrombin-2 (PT2) manusia rekombinan menggunakan sistem ekspresi Pichia pastoris. Gen pengode PT2 dirancang sesuaidengan kodon preferensi P. pastoris. Fragmen PT2 diamplifikasi dengan metoda PCR dengan penambahan sisi restriksi EcoR1 pada ujung 5’ dan sisi restriksi SacII pada ujung 3’. Produk PCR yang berukuran 924 pb diligasi dengan vektor ekspresi pPICZaB untuk P. pastoris dan disubkloning dalam inang Escherichia coli. Urutan nukleotida dikonfirmasi dengan metoda dideoxy Sanger. Plasmid rekombinan pPICZaB-PT2 kemudian digunakan untuk mentransformasi P. pastoris SMD1168 defisien protease dengan metoda elektroporasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen PT2 berhasil diamplifikasi dan dikloning dalam E. coli. Analisis restriksi dan penentuan urutan DNA menunjukkan bahwa PT2 rekombinan 100% homologi dengan hasil rancangan. Hasil ekspresi PT2 oleh P. pastoris menggunakan metanol sebagai inducer memperlihatkan bahwa PT2 dengan berat molekul 35 kDa berhasil diekspresikan. Optimasi kondisi ekspresi melalui variasi konsentrasi metanol sebagai inducer dan sorbitol sebagai sumber karbon tambahan menunjukkan bahwa metanol 2% dan sorbitol 2% merupakan kondisi optimum ekspresi PT2.

Cloning, Expression, and Functional Characterization of Autoactivated Human Prethrombin-2 Synthetic Gene by Using Pichia pastoris SMD1168 As a Host

Microbiology Indonesia Vol 10, No 2 (2016): June 2016
Publisher : Indonesian Society for microbiology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4368.912 KB)

Abstract

Prethrombin-2 is a thrombin precursor that has important role in blood coagulation. It is the smallest precursor which is activated into thrombin by FXa prior to coagulation process. However, as a commercial theurapetic protein in fibrin sealant component, prethrombin-2 must be activated by ecarin before used. Thus, the production process of this protein needs further purification. In order to eliminate ecarin activation step and to increase production efficiency, we designed, cloned and expressed the recombinant autoactivated human prethrombin-2 in Pichia pastoris SMD1168. The variant was designed with 4 mutations, E40A, D47A, G48P, and E52A, following the result of a previous study. The synthetic variant gene was first optimized to conform with P. pastoris codon preference. The optimized synthetic gene was cloned in pD912 plasmid using XhoI and SacII restriction enzymes. The transformed P. pastoris was selected on agar plate supplemented with 1,000 µg.mL-1 Zeocin as a selection marker. This study showed that autoactivated prethrombin-2 was succesfully expressed extracellularly by P. pastoris SMD1168. The activity of recombinant autoactivated prethrombin-2 using a chromogenic substrate S-2238 was 0.540 unit/mg. Taken together, these results demonstrated that autoactivated human prethrombin-2 was successfully produced extracellularly in P. pastoris.

Kajian Ekspresi Gen Pretrombin-2 Manusia Sintetik pada Escherichia coli Secara In Silico Untuk Produksi Trombin Sebagai Komponen Lem Fibrin

Jurnal Pendidikan Kimia (JPKim) Vol 8, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Jurnal Pendidikan Kimia (JPKim)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Pretrombin-2 merupakan prekursor trombin dan dapat berperan sebagai komponen lem fibrin (LF). LF merupakan biomaterial perekat yang dapat diaplikasikan sebagai pengganti teknik jahitan pasca operasi. Biomaterial ini terdiri dari trombin, fibrinogen dan faktor XIII sebagai komponen utamanya. Dalam LF, trombin rekombinan berperan sebagai enzim yang mengubah fibrinogen menjadi fibrin untuk membentuk benang-benang fibrin sehingga luka tertutup. Kajian ini bertujuan untuk memprediksi ekspresi gen pretrombin-2 (PT2) manusia sintetik pada Escherichia coli secara in silico. Urutan asam amino pretrombin-2 manusia yang diperoleh dari data GeneBank dirubah ke dalam bentuk wild type urutan nukleotida menggunakan software OPTIMIZER sesuai dengan kodon preferensi E. coli K12, Selanjutnya dianalisis dengan Graphical Codon Usage Analyzer dan dioptimasi secara menual berdasarkan preferensi kodon E. coli dari data Codon Usage Database. Untuk memprediksi tingkat ekspresinya pada inang E. coli, dipelajari kajian ekspresi PT2 secara in silico menggunakan perangkat lunak dalam jaringan OptimumGeneTM. Hasil analisis secara in silico urutan nukleotida PT2 hasil optimasi dan wild type terhadap kodon preferensi E. coli menunjukkan bahwa, persentase rata-rata kandungan GC hasil optimasi sebesar 54,71% sedangkan wild type 52,56%, PT2 hasil optimasi memiliki 100% kodon dengan frekuensi tinggi, sedangkan wild type hanya 67%, dan PT2 hasil optimasi memiliki nilai Codon Adaptasi Index  satu, sedangkan wild type hanya 0,89. Dengan demikian dapat diprediksi bahwa gen pretrombin-2 manusia sintetik kemungkinan akan diekspresikan tinggi di inang E. coli. Kata kunci: pretrombin-2, trombin, kodon preferensi, kajian ekspresi, E. coli

Purification of Recombinant Human Pretrombin-2 in Escherichia coli for Thrombin Production as Fibrin Glue Components

Jurnal Pendidikan Kimia (JPKim) Vol 9, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Jurnal Pendidikan Kimia (JPKim)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Pretrombin-2 (PT2) is a thrombin precursor that plays a role in converting fibrinogen to fibrin for the process of wound recovery. This material can be applied instead of eye surgery suture technique. The intein-mediated refining system to purify the protein is attractive to be developed, since the protein is obtained by one purification step, capable of self-splicing, the protein can be diffused in to the N-terminal (PT2 cutting of the intein induced marker changes in pH and temperature) and on the C-terminal (cutting PT2 from the intein-induced marker of the thiol reagent). In this study, we purified the PT2 fusion of the expression of E. coli BL21 (DE3) Arctic Express in the intein-mediated chitin matrix column. PT2 was fused with a tag at its N-terminal position, containing the sequence of intein codes SspDnaB followed by chitin binder domain (CBD). Furthermore, the PT 2 fusion was expressed on the E. coli host, then purified in the chitin matrix column. The PT2 cutting process of the intein marker induced changes in the pH and temperature in the column. PT2 fusion was successfully purified in the intein-mediated chitin matrix. The PT2 fusion cut from the induced intein buffer marker at pH 6.5 and incubation at the temperature of 25 oC for 48 hours.Keywords: E. coli, expression, intein mediated purification, pH and temperature changes, PT2