Wesman Endom
Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan Jl. Gunung BatunNo. 5, Bogor 16610, Tlp. 0251-8633378, Fax. 251-8633413

Published : 61 Documents
Articles

PRODUKTIVITAS DAN BIAYA ALAT HASIL REKAYASA DALAM PENGELUARAN KAYU JATI DI DAERAH CURAM Endom, Wesman
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 1 (2013):
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada studi ini dikaji pengeluaran kayu balak pada medan sulit dengan sistem kabel layang menggunakan mesin kecil yarder prototipe alat Expo generasi-II yang bertenaga 5,5 PK. Kayu balak ditarik dari petak tebang ke pinggir jalan angkutan yang berada di atas lereng pada jarak sejauh 50 m. Produktivitas yarder baru tercapai rata-rata 0,6363 m3/jam berarti masih di bawah target kisaran 2,5 -5 m3/jam. Biaya investasi Rp 72.000.000 atau sebesar Rp 102.986/jam atau Rp 156.351/m3. Analisis finansial menggunakan data aktual kinerja alat dan pada harga sewa alat sama dengan biaya pengeluaran kayu diperoleh nilai NPV dan IRR negatif. NPV dan IRR positif saat harga sewa lebih besar yaitu Rp 185.000/m3.
METODE PENDEKATAN PENILAIAN GANTI RUGI LAHAN HUTAN Endom, Wesman; Subarudi, Subrudi
ISSN 0216-0897
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan status dan fungsi hutan untuk penggunaan lain di luar sektor kehutanan dimungkinkan sebagaimana diatur dalam UU No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Kemudian dilanjutkan dengan peraturan pelaksanaannya melalui PP No 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan. Namun demikian hingga saat ini belum dibahas lebih lanjut tentang pendekatan yang dipakai untuk penetapan nilai/harga ganti rugi suatu lahan hutan dikaitkan dengan semakin besarnya tekanan terhadap hutan untuk penggunaan lahan di luar kehutanan seperti untuk perluasan usaha perkebunan dan atau pertambangan. Oleh karena itu perlu ditetapkan suatu metode penilaian lahan hutan agar harga ganti rugi lahan hutan untuk kepentingan lainnya dapat lebih wajar dan rasional, dengan dua pertimbangan mendasar yakni nilai yang terukur langsung (tangible) dan tidak terukur langsung (intangible). Di dalam nilai intangible tersebut terkandung indeks untuk berbagai parameter seperti luas, bentuk dan sebaran, letak/ lokasi, aksesibilitas, kesuburan unit lahan dan kemungkinan potensi produksi termasuk nilai manfaat konservasi (air, satwa dan hasil hutan bukan kayu). Tulisan ini mencoba menawarkan teknik-teknik perhitungan dalam penetapan nilai ganti rugi lahan hutan.
UJI COBA MESIN KABEL LAYANG EXPO-2000 GENERASI-II DENGAN KONSTRUKSI DUA GIGI EKSENTRIK TERPISAH UNTUK EKSTRAKSI KAYU Endom, Wesman
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian pengeluaran kayu di daerah curam menggunakan teknologi kabel layang prototipe Expo-2000 Generation II bermesin 13 HP telah dilakukan pada bentangan kabel sekitar 400 m dengan kemiringan lapangan sekitar 50%. Dolok kayu rasamala dengan panjang 2-4 m dan diameter antara 20-40 cm dikumpulkan ke dekat tiang (tower) Mesin yang dipakai untuk pengeluaran kayu dipasang di bukit yang berada di tengah dua bentangan kabel. Bentangan pertama untuk menarik ke atas dan bentangan kedua untuk menurunkan ke bawah. Biaya investasi sekitar Rp 110 juta, biaya pemilikan dan pengoperasian alat adalah Rp 111.975/jam, dengan produktivitas pengumpulan kayu sebanyak 0,59 m /jam, maka biaya untuk setiapm adalah sebesar Rp 189.788.
FAKTOR EKSPLOITASI PADA HUTAN PRODUKSI TERBATAS DI IUPHHK-HA PT KEMAKMURAN BERKAH TIMBER Soenarno, Soenarno -; Dulsalam, Dulsalam; Endom, Wesman
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 2 (2013):
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam pemanenan kayu, faktor eksploitasi digunakan sebagai salah satu parameter untukmenetapkan jatah produksi tahunan pada hutan alam produksi. Pada saat ini nilai faktor eksploitasi yangditetapkan Kementerian Kehutanan untuk semua kondisi kawasan hutan produksi alam adalah sebesar0,70. Padahal, kondisi lapangan pada hutan produksi terbatas pada umumnya mempunyai variasitopografi beragam dan cenderung lebih berat dibandingkan dengan baik hutan produksi tetap maupunhutan produksi yang dapat dikonversi. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan nilai faktor eksploitasiselama pemanenan kayu. Rata-rata nilai faktor eksploitasi di IUPHHK-HA PT Kemakmuran BerkahTimber adalah 0,92, dimana pada topografi datar (0º-8º) adalah 0,93; dan pada topografi landai (9º-15º),agak curam (16º-25º) dan curam (25º-40º) masing-masing adalah 0,92.
PRODUKTIVITAS DAN BIAYA REKAYASA MESIN PEMBUAT SERPIH KAYU YANG MUDAH DIPINDAH Endom, Wesman
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 4 (2013):
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah alat pencacah kayu mudah pindah telah dibangun dengan tujuan untuk  membuat serpih dari limbah tebangan berdiameter di bawah 20 cm.  Pengujian prototipe alat dilakukan Kampung Cipari, BKPH Sukanegara Selatan, KPH Cianjur dan di BKPH Sadang Purwakarta.  Kinerja alat pencacah prototipe yang baru mampu merubah seluruh limbah menjadi serpih dengan hasil rata-rata sebanyak 582 kg/jam. Biaya pemilikan dan operasi pembuatan serpih secara keseluruhan berjumlah  Rp 62.929/jam, maka biaya untuk pembuatan serpih adalah Rp 108/kg.  Pada prototipe pembuat serpih Tipe-1 biaya pemilikan dan operasi adalah sebesar Rp 247/kg, oleh karena itu prototipe pembuat serpih ke dua semakin lebih baik dan biaya pembuatan serpihnya lebih murah.  Dengan biaya sewa alat sebesar Rp 125/kg diperoleh  NPV sebesar Rp 13.209.928 dengan IRR sebesar 30%.  
REKAYASA DAN UJI COBA ALAT KABEL LAYANG Expo-2000 GENERASI-3 DALAM PENGELUARAN KAYU PADA LERENG CURAM Endom, Wesman; Soenarno, Soenarno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rekayasa dan uji coba rekayasa alat pengeluaran kayu sistem kabel layang prototipe Expo-2000 Generasi-3 dilakukan pada areal curam di Cibatu, BKPH Tanggeng, KPH Cianjur, Perum Perhutani Unit III Jawa Barat.  Penelitian ini bertujuan menguji kinerja alat tersebut untuk mengeluarkan kayu, khususnya dari aspek produktivitas kerja dan biaya. Hasil uji coba menunjukkan bahwa produktivitas alat prototipe Expo-2000 Generasi-3 adalah sebesar 1,72 m3/jam dengan biaya operasi  Rp 138.587,39/jam atau  Rp 80.346,45/m3. 
STUDI CACAT BATANG PADA PRODUKSI KAYU JATI Endom, Wesman
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 1 (2012):
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi akibat pengaruh keberadaan cacat pada batang hasil produksi kayu jati, terdiri dari gerowong total (GT), gerowong sebagian (GS) maupun cacat kecil (CK). Penelitian dilakukan di Cepu yaitu di TPK Batokan, TPK Pasar Sore, dan TPK Cabak. Rata-rata persentase gerowong dan AK volume aktual campuran kayu bundar jati GT pada tiga lokasi tersebut, berturut-turut 18.28% (0.01-46.52%) dan 0.82 (0.54-0.99). Berarti untuk setiap 1 m3 campuran kayu bundar jati gerowong tembus memiliki VG = 0.18 m3 (0.01-0.47 m3), dengan AK volume aktual = 0.82 (0.54-0.99 m3) per m3. Untuk campuran kayu bundar jati GS, nilai VG dan AK berturut-turut 6.65% (0.01-23.82%) dan 0.94 (0.76-0.99) sehingga setiap 1 m3 campuran kayu bundar jati gerowong tersebut memiliki GS sebesar 0.06 m3 (0.0001-0.24 m3), dan AK untuk setiap 1 m3 terdapat volume aktual = 0.94 (0.76-0.99 m3). Untuk campuran kayu bundar jati CK berturut-turut 1.77% (0.06-14.86%) dan 0.98 (0.85-0.99), yang berarti untuk setiap 1 m3 campuran kayu bundar jati gerowong tersebut memiliki GS 0.02 m3 (0.0006-0.15 m3), dengan AK untuk setiap 1 m3 terdapat volume aktual = 0.98 (0.85-0.99 m3).
PERCOBAAN PENGGUNAAN HASIL MODIFIKASI ALAT UKUR DOLOK DI AIR Endom, Wesman
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 1 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1998.16.1.17-26

Abstract

Hingga saat ini tongkat ukur rnasih dipergunakan untuk mengukur diameter dolok. Dengan bantuan pengait di ujung tongkat, diameter dolok diketahui dalam satuan cm inelalui pengukuran di ujung dan pangkal batang. Pada kenyataannya, alat ukur ini menjadi kurang praktis terutama bila pengukuran itu dilakukan pada rakitan dolok yang sistem pengikatannya hanya dilakukan di salah satu bagian ujungnya saja. Cara pembuatan rakit seperti ini banyak ditemukan di daerah Kalimantan Tengah. Dengan cara pengukuran seperti itu, di samping cukup memakan waktu, juga berisiko tinggi, karena sering munculnya gelombang akibat tingginya kegiatan transportasi sungai, seperti speed boat, perahu besar maupun kecil.Dalam penelitian ini dikaji penggunaan modifkasi alat ukur tongkat, yang dipergunakan dengan memakai prinsip cukup kuat, ringan. mudah dibawa serta memiliki ketelitian tinggi. Dari percohaan diperoleh gambaran bahwa untuk menghitung volume dolok di air dibanding hasil pengukuran di darat yang dipandang sebagai yang paling telili perlu faktor koreksi (FK). Untuk jenis kayu ramin FK diameter besamya 1,0143 dan FK volumenya sebesar 1,0308. Untuk jenis kayu hutan tanah kering, FK diameter sebesar 1,0155 dan FK untuk volumenya sebesar 1,0272. Berdasarkan uji keragaman, dengan hasil pengukuran di darat (M4) sebagai kontrol, temyata tidak berbeda terhadap 2 cara pengukuran di air yakni mengukur pada jarak sekitar 1 meter dari kedua ujung batang (M1) dan mengukur diameter pada sekitar pertenguhan setiap panjang batang (M2). Sedangkan pengukuran dengan cara acak (M3) berbeda nyata dengan ketiga cara pengukuran itu. Berdasarkan hal itu alat ukur ini cukup praktis dan teliti untuk dipakai para petugas di lapangan.
POTENSI PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DARI LIMBAH KAYU PEMANENAN DI HUTAN ALAM DAN HUTAN TANAMAN Satria, Astana; Soenarno, Soenarno; Endom, Wesman
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan hutan produksi log menekan perolehan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor kehutanan. Untuk mengantisipasi penurunan PNBP, pemerintah berusaha untuk menaikkan tarif PSDH (provisi sumber daya hutan) dan DR (Dana Reboisasi). Antisipasi melalui kenaikan tarif  akan mempengaruhi kinerja pengelolaan hutan karena dampaknya terhadap biaya dan keuntungan. Malah, limbah kayu dari penebangan di hutan alam dan tanaman belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pemanfaatan potensi limbah kayu dari penebangan di hutan, dan (2) penerimaan negara bukan pajak potensial yang dihasilkan dari pemanfaatan limbah kayu. Data dikumpulkan melalui wawancara dan pengukuran. Wawancara dilakukan dengan petugas dinas kehutanan dan manajer perusahaan, sedangkan pengukuran limbah kayu dilakukan di perusahaan hutan alam dan hutan tanaman industri perusahaan, di Kalimantan Tengah. Data yang terkumpul dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jika limbah kayu dari penebangan hutan alam yang dipungut royalti oleh USD2 / m3 dan pemanenan hutan tanaman oleh IDR284 / m3, pemanfaatan limbah kayu ini akan meningkatkan PNBP IDR49,6 miliar per tahun. Sebuah metode implementasi kebijakan pohon panjang logging partularly di pemanenan hutan alam, dianjurkan.
UJI COBA PENGGUNAAN MESIN EXP0-2000 MODIFIKASI UNTUK PENGELUARAN KAYU PINUS DI GUNUNG GADOG, NYALINDUNG, SUKABUMI Endom, Wesman
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2009.27.1.21-37

Abstract

Pada tahun 2007 mesin Expo-2000 dirnodifikasi menjadi lebih sederhana, berukuran kecil dan tenaga setara. Modifikasi ini diperlukan untuk mengantisipasi kondisi lapangan yang aksesibilitasnya rendah. Uji coba dilakukan pada tegakan pinus yang saat ini masih disadap getahnya, berada di Gunung Gadog, Desa Bojongkalong, Kecamatan yalindung, Sukabumi. Hasil uji coba memperlihatkan kinerja mesin cukup baik dengan produktivitas pengeluaran kayu rata-rata 8,38 m.hm/jam. Namun demikian diperlukan beberapa perbaikan teknis yaim (1) Kereta kabel layang untuk mengangkut kayu dengan sistem pengunci kito model gunting, (2) Penyiapan tiang-tiang dan pemindah kereta angkut kabel layang dari jalur kabel yang satu ke kabel yang lain serta (3) Penyangga kabel layang yang mudah dipasang-bongkar. Analisis finansial dengan biaya investasi sekitar Rp 40 juta dan biaya sewa Rp 9.000/ m.hm mendapatkan nilai NPV dan IRR berturut-turut Rp 40.409.449 dan 26,52%.