Articles

Found 28 Documents
Search

INTERAKSI PASIEN, KELUARGA DAN PETUGAS KESEHATAN DALAM PERAWATAN AKHIR-HIDUP PASIEN SAKIT TERMINAL Emaliyawati, Etika
Majalah Keperawatan Unpad Vol 12, No 2 (2011): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Meningkatnya jumlah klien dengan penyakit yang belum dapat disembuhkan baik pada dewasa dan anak seperti penyakit kanker, penyakit degeneratif, penyakit paru obstruktif kronis, cystic fibrosis, stroke, Parkinson, gagal jantung/heart failure, penyakit genetika dan penyakit infeksi seperti HIV/AIDS memerlukan perawatan dan pelayanan kesehatan paliatif. Ketika seorang klien divonis menderita suatu penyakit yang tidak bisa disembuhkan, seketika itu pula kematian sudah berada di pelupuk mata. Literature review ini membahas hasil-hasil penelitian yang telah dipublikasikan mengenai perawatan akhir-hidup (end of life care) dan proses kematian (dying) dari pasien yang menderita sakit terminal dalam berbagai kondisi baik dari segi kesehatan fisik, psikologis, sosial ekonomi dan spiritual. Dibahas pula mengenai peran dari berbagai stakeholder yang terlibat dalam layanan perawatan akhir-hidup, termasuk pasien yang bersangkutan, keluarga dekat pasien dan pengambil keputusan, serta petugas kesehatan (dokter, perawat, dan petugas kesehatan lainnya). Tujuan penulisan literatur review ini untuk memberikan tambahan wawasan mengenai perawatan pasien  terminal yang akan menghadapi akhir hidup, harapan keluarga terhadap pelayanan kesehatan dan bagaimana perspektif petugas kesehatan terhadap masalah ini. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dengan melakukan wawancara mendalam, dan pengamatan. Informan terdiri dari pasien, keluarga, dan petugas kesehatan. Setting dari perawatan akhir hidup yaitu di lingkungan panti perawatan dan rumah sakit terhadap komunitas pasien lansia dalam lingkup perawatan paliatif. Terdapat 3 tema yang didapatkan yaitu pasien yang akan menghadapi akhir hidup, keluarga pasien dengan penyakit terminal dan petugas kesehatan dalam memberikan perawatan pada pasien dengan penyakit terminal. Perlu kiranya untuk meningkatkan kualitas perawatan paliatif khususnya pada proses kematian dan akhir kehidupan di berbagai setting/tempat perawatan. Kata Kunci: Akhir-hidup, Lansia, Perawatan paliatif, Proses kematian, Sakit terminal ABSTRACT The increasing of clients with diseases that can not be cured in both adults and children such as cancer, degenerative diseases, chronic obstructive pulmonary disease, cystic fibrosis, stroke, Parkinson´s, heart failure / heart failure, genetic diseases and infectious diseases such as HIV / AIDS need care and the palliative health services. This review paper discussed published findings from studies on the role and interaction among patients, their families and health workers in End-of-Life (EOL) care and dying of terminally ill patients with various physical health conditions, mental, environment and background. This paper discussed the roles of various stakeholders involved in end-of-life care, including the patients, close relatives and decision makers, and health workers including physicians, nurses, and other health related workers. The purpose of this literature review to provide additional insight into the treatment of terminal patients who face end of life, the family hopes to health care and how health perspective on the issue. The method used is descriptive qualitative. Data collection by conducting in-depth interviews, and observations. Informants consisted of patients, families, and health workers. Setting of the end of life care in a nursing home environment and community hospitals for elderly patients in the palliative care setting. There are three themes that will be found that patients facing end of life, families of patients with terminal illness and health workers in providing care to patients with terminal illness. It is important to improve the quality of the palliative care, especially in the process of death and the end of life in various settings of care. Keywords: End of life, Elderly, Dying, Terminally ill, Nursing home
Pengalaman Pasien yang Pernah Terpasang Ventilator Bastian, Yani AF; Suryani, Suryani; Emaliyawati, Etika
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 4, No 1 (2016): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (746.579 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v4i1.141

Abstract

Jumlah pasien kritis yang terpasang ventilator menempati dua per tiga dari seluruh pasien ICU di Indonesia. Kondisi kritis dengan terpasang ventilator akan menimbulkan masalah fisik, psikososial dan spiritual. Tenaga kesehatan terutama perawat perlu memberikan asuhan keperawatan terhadap pasien ICU yang terpasang ventilator secara menyeluruh. Penelitian kualitatif terhadap pasien yang terpasang ventilator sangat diperlukan sebagai upaya untuk menggali secara mendalam pengalaman hidup pasien selama terpasang ventilator dan menemukan new insight (pemahaman baru) tentang pengalaman mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data didapatkan dengan wawancara mendalam terhadap 6 partisipan yang terdiri dari 2 laki-laki dan 4 perempuan, usia antara 27–54 tahun, yang terpasang ventilator antara 4 sampai 27 hari dan mendapatkan sedasi yang minimal. Analisis data menggunakan metode Colaizzi. Ada 8 tema yang didapatkan dari pengalaman hidup pasien selama terpasang ventilator yaitu (1) hilangnya harapan dalam menjalani hidup, (2) merasa telah diambang kematian, (3) prosedur suction yang dilematis –antara nyaman dan tidaknyaman, (4) kehadiran orang terkasih sebagai spirit dalam melanjutkan hidup, (5) memandang penyakit sebagai rencana dari Tuhan, (6) memandang rendah citra diri, (7) pentingnya fasilitator dalam menjalani ritual keagamaan dan (8) keinginan untuk dirawat oleh tenaga kesehatan yang terampil. Individu yang hidup selama terpasang ventilator mengalami dilemma dengan prosedur suction, memiliki citra diri yang rendah, membutuhkan fasilitator dalam pemenuhan kebutuhan spiritual serta keinginan untuk dirawat oleh tenaga kesehatan yang terampil. Berkaitan dengan hal tersebut, pasien yang terpasang ventilator membutuhkan dukungan, pendampingan dan kemampuan yang terampil dari petugas kesehatan terutama dari perawat.Kata kunci: Pasien kritis, pengalaman hidup, ventilator. The Experience of Patients after using VentilatorAbstractThe number of critically ill patients with mechanical ventilation occupies almost two-thirds of all ICU patients in Indonesia. The critical condition with mechanical ventilation will be followed by many human responses such as physical, psychosocial and spiritual problems. Health care providers, especially nurses are demanded to provide holistic care to the patients with mechanical ventilation. Qualitative study can be used to explore the life experience of the patients with mechanical ventilation to gain new insights of their experience. This study is a qualitative study using phenomenological approach. The data was obtained by in-depth interviews to six participants consisting of two men and four women with age range from 27 to 54 years. The length of time with mechanical ventilation was between 4 to 27 days and they received a minimal sedation. The data was analyzed by Colaizzi method of analysis. There were eight themes found from this study: hopelessness in life, feel closer to dying, the suction procedure dilemma between comfortable and uncomfortable, the presence of loved ones as a spirit for continuing live, the assumption of disease as God planning, perceived low self-image, the importance of the facilitator in religious rituals as well as the desire to be treated by skilled health care personnel. Patients with mechanical ventilation who experienced suction procedure dilemma have low self-image. They need a facilitator for meeting their spiritual needs, and caring from skilled health care provider especially from nurses.Keywords: Life experience, mechanical ventilation, the critical Ill patient.
INTERVENSI TERAPI MUSIK RELAKSASI DAN SUARA ALAM (NATURE SOUND) TERHADAP TINGKAT NYERI DAN KECEMASAN PASIEN (LITERATURE REVIEW) Setyawan, Dody; Susilaningsih, F. Sri; Emaliyawati, Etika
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 5, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1934.85 KB)

Abstract

Penatalaksanaan nyeri dan kecemasan yang dialami oleh pasien dapat dilakukan dengan pendekatan farmakologis dan non-farmakologis. Pemberian analgetik dan sedatif tidak bisa langsung menghilangkan nyeri dan kecemasan pasien bahkan jika berlebihan bisa menimbulkan depresi pernapasan dan ketidakstabilan kardiovaskuler sehingga perlu dilengkapi dengan pendekatan non-farmakologis seperti penggunaan terapi musik relaksasi dan suara alam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana efektifitas musik relaksasi, suara alam dan kombinasi keduanya terhadap nyeri dan kecemasan pasien. Metode yang digunakan adalah literature review dengan studi kepustakaan dan pencarian elektronik yang menggunakan search engine EBSCOhost (MEDLINE), GALE (infotract.galegroup) dan google dengan kata kunci yang digunakan yaitu patients, anxiety, pain, relaxation, music, dan nature. Kriteria pemilihan sumber antara lain artikel, karya ilmiah atau buku yang membahas tentang teknik relaksasi, terapi musik, dan suara alam yang difokuskan pada nyeri dan kecemasan serta dipublikasikan tahun 2002-2012 dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Hasil dari pencarian didapatkan 20 artikel penelitian (dua di antaranya systematic review) yang memenuhi kriteria. Hasil review dari beberapa artikel penelitian tersebut menunjukkan bahwa 76% perawatan standar ruangan yang dikombinasikan dengan terapi musik lebih efektif menurunkan tingkat kecemasan dan 76,2% efektif menurunkan tingkat nyeri pada pasien dibandingkan tanpa terapi musik. Tujuh piluh lima persen (75%) perawatan standar yang dikombinasikan dengan terapi suara alam lebih efektif menurunkan kecemasan dan 100% efektif menurunkan tingkat nyeri pasien dibandingkan tanpa terapi suara alam. Perawatan standar yang dikombinasikan dengan gabungan antara terapi musik relaksasi dan suara alam menunjukkan bahwa 100% efektif menurunkan nyeri dan kecemasan pasien. Intervensi keperawatan non-farmakologis seperti terapi musik, suara alam dan kombinasi keduanya bukan bersifat menggantikan fungsi manajemen nyeri dan kecemasan pasien namun sebagai pelengkap intervensi farmakologi dalam tatanan klinik.Kata Kunci: kecemasan, musik relaksasi, nyeri, suara alam
Pelatihan Manajemen Bencana Bagi Anggota Padjadjaran Nursing Corps (PNC) Anna, Anastasia; Prawesti, Ayu; Emaliyawati, Etika; Mirwanti, Ristina
BAGIMU NEGERI : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : BAGIMU NEGERI : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26638/jbn.415.8651

Abstract

The high and varied disasters occur in Indonesia, requiring the government and the whole community to be ready for disaster. In the Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran (Unpad), there is a group of students who do extracurricular activities to provide health aid called PNC. Training needs to be done to enhance the role of PNC as well as increasing the participation of students in the disaster relief program. This training resulted in increased knowledge and attitudes of PNC members on disaster management, and also increased the knowledge and attitude related to the role and function of students in disaster management effort. In addition, other additional results related to the effectiveness of training methods for PNC members successfully obtained. The methods compared were lecture and discussion (LD) compared with LD plus simulation and FGD methods. It is measured by using the quasi experimental method with pretest-posttest control group design. Data analysis used Mann Whitney test. The result showed that there was no difference in knowledge and attitude (p = 1,000) in both treatment groups (p = 0,424). Which means that there was no difference between LD method and LD plus simulation and FGD method.Keywords: Training, Disaster Management, Padjadjaran Nursing Corps (PNC)
Pemberdayaan pada Kelompok Remaja melalui Pendekatan Contingency Planning dalam Meningkatkan Kesiapsiagaan terhadap Ancaman Kematian Akibat Bencana Salasa, Sehabudin; Murni, Tri Wahyu; Emaliyawati, Etika
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 2 (2017): Vol 3, No.2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i2.9421

Abstract

ABSTRAK Angka kematian kelompok rentan akibat bencana masih sangat tinggi, seperti kejadian banjir bandang Garut dari 34 orang korban jiwa 35,4% diantaranya berusia 55-80 tahun dan 29%  merupakan anak-anak usia 0-14 tahun. Upaya pengurangan resiko harus dilakukan dengan memberdayakan masyarakat sehingga proses penanggulangan lebih efektif dengan respon yang cepat. Usia remaja merupakan kelompok yang sangat potensial karena memiliki angka resiliensi yang sangat baik. Selain itu pertumbuhan jumlah remaja sangat pesat dari kelompok umur lainnya, sehingga pemberdayaan kelompok remaja dengan perencanaan kontinjensi diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap ancaman kematian sehingga dapat melakukan pendampingan terhadap kelompok rentan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberdayaan (empowering) kelompok remaja akhir melalui pendekatan perencanaan kontinjensi dalam meningkatkan kesiapsiagaan remaja terhadap ancaman kematian akibat bencana. Penelitian menggunakan metoda quasi-experimental design dengan pendekatan rancangan one group pre-post test design. Populasi penelitian merupakan pelajar SMK diwilayah yang memiliki ancaman bencana. Jumlah sampel sebanyak 33 responden dengan teknik proporsional random sampling diambil dari empat sekolah yang berada di zona merah. Data diolah menggunakan analisis univariat menggunakan tendensi sentral, t-test dependent dengan tingkat kepercayaan 95% untuk melihat pengaruh dari intervensi, serta uji regresi linier ganda untuk menganalisis faktor mana yang paling berpengaruh terhadap kesiapsiagaan.Terdapat pengaruh pemberdayaan melalui pendekatan perencanaan kontinjensi dapat meningkatkan upaya kesiapsiagaan dengan nilai α (0.000). Peningkatan rerata (36,67%) didapatkan pada faktor yang mengawali kesiapsiagaan, diantaranya dilihat dari persepsi terhadap resiko, kewaspadaan terhadap ancaman, serta penurunan kecemasan. Faktor tersebut menstimulasi terbentuknya niat melakukan kesiapsiagaan dengan peningkatan (43,33%), bahkan meningkatkan upaya perencanaan kesiapsiagaan bencana sebesar (42,00%) sebelum dan setelah intervensi. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan dan faktor pembentukan niat melakukan kesiapsiagaan menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesiapsiagaan dengan nilai β (0,531). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pemberdayaan melalui pendekatan perencanaan kontinjensi mampu meningkatkan kesiapsiagaan remaja terhadap ancaman kematian akibat bencana, sehingga dapat direkomendasikan bagi seluruh penggiat kebencanaan untuk memberdayakan remaja dengan perencanaan kontinjensi dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan terhadap ancaman kematian.  ABSTRACT The mortality rate of vulnerable groups due to the disaster is still very high, such as the incidence of flash floods at Garut,  of the 34 deaths among them  35.4% are 55-80 years old and 29% of children aged 0-14 years. Risk reduction efforts should be undertaken by empowering communities so that the countermeasures are more effective with rapid response. Adolescence is very potent because it has a very good resilience rate. In addition, the growth of adolescents is very rapidly from other age groups, so empowerment of adolescent groups with contingency planning is expected to increase preparedness against death threats so as to provide assistance to vulnerable groups. The purpose of this study was to determine the influence of empowering the late adolescent group through contingency planning approach in the effort of preparedness against the threat of death due to the disaster.This study used quasi-experimental design method with one group pre-post test design approach. The study population was a vocational school student in the region that has disaster threats. The number of samples was 33 respondents with proportional random sampling technique from 4 schools in the red zone. Data were tested for data were analyzed by a central tendency for univariate analysis, t-test dependent with 95% confidence level to see the effect of the intervention, and determination of the most influential factor, the researcher used multiple linear regression tests.  Results of the study showed there is the influence of empowerment through contingency planning approach can improve preparedness efforts with α value (0.000). Percentages before and after the intervention can significantly improve the precursor factor increase (36.67%), intention formation (43.33%), and preparation (42.00%). In addition, intention formation factor is the most influential factor in preparedness efforts with β value (0,531). This study concluded that the empowerment through contingency planning approach can improve preparedness efforts of adolescence group to the threat of death from disaster. So it is recommended for all disaster activists to empower adolescents with contingency planning in an effort to increase preparedness against death threats Keywords: adolescent preparedness, contingency planning, disaster preparedness
PENGALAMAN PSIKOLOGIS PASIEN INFARK MIOKARD AKUT SELAMA DIRAWAT DI RUANG INTENSIF Emaliyawati, Etika; Sutini, Titin; Ibrahim, Kusman; Trisyani, Yanny; Prawesti, Ayu
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 1 (2017): Vol 3, No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i1.7477

Abstract

Infark Miokard merupakan salah satu penyakit terminal yang memerlukan perawatan intensif. Perawataan intensif yang diperlukan harus holistik, mencakup bio psiko sosial dan spiritual. Psikologis infark miokard harus selalu diperhatikan, karena salah satu penyebab infark miokard adalah dari psikologis atau dikenal dengan stress. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengalaman pasien infark miokard akut yang menjalani perawatan di ruang intensif. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan phenomenology yang dilakukan di salah satu rumah sakit di Bandung periode Juni-Juli 2013. Jumlah informan 10 orang pasien infrak miokard akut yang pada saat dilakukan wawancara sudah dalam perbaikan killip I dan II yang diambil secara purposive sampling, dirawat di ruang intensif dan kondisinya telah stabil. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam kemudian dianalisa menggunakan content analysis dari Hancoch. Hasil penelitian didapatkan 3 tema penelitan yaitu seluruh responden merasa tidak berdaya, 9 responden mengalami ketidakpastian menghadapi masa depan dan 10 responden menyatakan ketakutannya akan kematian. Seluruh pasien infrak miokard mengalami masalah psikologis, oleh karena itu hasil penelitian ini dapat menjadi rekomendasi dalam memberikan layanan kesehatan bagi pasien kondisi terminal; infark miokard akut yang sedang menjalani perawatan intensif. Penting kiranya untuk dapat mengelola dan mengintegrasikan pelayanan perawatan pada pasien infark miokard akut yang sedang dirawat di unit intensif secara holistik meliputi fisik psikologis sosial dan spiritual. ABSTRACTCommunication is a very important process in human relationship. In providing nursing care, nurses should have a good knowledge and communication skill as the beginning of a good relationship between nurses, patients, and their families. Nurses with good communication skill had an easier opportunity to make a good relationship with the patient and their families. This study aimed to identify effective communication barriers among nurses in developing communication with patients’ family according to nurses’ perspective in Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Al Islam Bandung. This descriptive explorative study involved 10 nurses were taken with accidental sampling. Data were gathered using interview and observation. Data analyzed with the content analysis. Result showed that there were at least five topic of effective communication barriers among nurses in developing communication with patients’ family according to nurses’ perspective in Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Al Islam Bandung; role conflict, family demographic factors, misunderstanding, environment and situation in the ICU, and family psychological condition. So, training related to communication between nurses and patients’ family were necessary to undertake in order to improve the ability of nurses such as foreign language skills and patience in dealing with the situation in the ICU especially in relation to the patients family. This is because nurses are the spearhead of health care service in hospital.
HAMBATAN KOMUNIKASI EFEKTIF PERAWAT DENGAN KELUARGA PASIEN DALAM PERSPEKTIF PERAWAT Arumsari, Dinda Piranti; Emaliyawati, Etika; Sriati, Aat
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 2, No 2 (2016): Vol 2, No.2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v2i2.4745

Abstract

ABSTRAK Komunikasi merupakan sebuah proses yang sangat penting dalam hubungan antar manusia. Di dalam memberikan pelayanan keperawatan, perawat harus memiliki pengetahuan dan kemampuan berkomunikasi yang baik sebagai awal terciptanya sebuah hubungan perawat dengan pasien dan keluarga. perawat yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang baik dalam berkomunikasi akan mudah menjalin hubungan dengan pasien maupun keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hambatan komunikasi efektif perawat dengan keluarga pasien dalam perspektif perawat di Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Al Islam Bandung. Penelitian deskriptif exploratif ini melibatkan 10 orang perawat yang diambil menggunakan accidental sampling. Data diambil dengan melakukan wawancara dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan content analysis. Hasil penelitian menujukkan bahwa terdapat lima tema yang menjadi hambatan komunikasi efektif perawat dengan keluarga pasien dalam perspektif perawat di Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Al Islam Bandung yaitu konflik peran, faktor demografi keluarga, kesalahpahaman, lingkungan dan situasi di ICU, dan kondisi psikologis keluarga.  Dengan demikian, pelatihan terkait komunikasi perawat dengan keluarga pasien menjadi penting untuk dilaksanakan dalam upaya meningkatkan kemampuan perawat seperti kemampuan berbahasa asing dan kesabaran dalam menghadapi situasi dan kondisi di ICU khususnya berhubungan dengan keluarga pasien. Hal ini dikarenakan perawat adalah ujung tombak dalam pemberian pelayanan di Rumah Sakit. Kata Kunci : Hambatan, ICU, Keluarga pasien, Komunikasi efektif & Perawat  ABSTRACT Communication is a very important process in human relationship. In providing nursing care, nurses should have a good knowledge and communication skill as the beginning of a good relationship between nurses, patients, and their families. Nurses with good communication skill had an easier opportunity to make a good relationship with the patient and their families. This study aimed to identify effective communication barriers among nurses in developing communication with patients’ family according to nurses’ perspective in Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Al Islam Bandung. This descriptive explorative study involved 10 nurses were taken with accidental sampling. Data were gathered using interview and observation. Data analyzed with the content analysis. Result showed that there were at least five topic of effective communication barriers among nurses in developing communication with patients’ family according to nurses’ perspective in Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Al Islam Bandung; role conflict, family demographic factors, misunderstanding, environment and situation in the ICU, and family psychological condition.  So, training related to communication between nurses and patients’ family were necessary to undertake in order to improve the ability of nurses such as foreign language skills and patience in dealing with the situation in the ICU especially in relation to the patients family. This is because nurses are the spearhead of health care service in hospital. Keywords: Barriers, ICU, the patient’s family, effective communication, & nurse
Pengaruh Terapi Musik Lullaby terhadap Heart Rate, Respiration Rate, Saturasi Oksigen pada Bayi Prematur Emaliyawati, Etika; Fatimah, Sari; Lidya, Lidya
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 5, No 3 (2017): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1527.213 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v5i3.648

Abstract

Bayi prematur yang terpasang alat bantu napas harus dalam kondisi tenang sehingga ada sinkronisasi antara napas bayi dengan alat bantu napas yang dimanifestasikan dengan perubahan heart rate, respiration rate dan saturasi oksigen. Salah satu cara membuat bayi tenang selama penggunaan alat bantu napas adalah pemberian terapi musik lullaby. Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh terapi musik lullaby terhadap heart rate, respiration rate dan saturasi oksigen pada bayi prematur yang terpasang alat bantu napas. Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment design with pre-post test without control group terhadap 22 bayi prematur yang dipilih secara non probability sampling melalui pendekatan purposive dengan kriteria bayi dipasang alat bantu napas, usia gestasi 24-36 minggu, tidak mengalami ensepalofati hipoksik iskemik. Pengumpulan data dilakukan pengukuran heart rate, respiration rate dan saturasi oksigen sebelum terapi musik lullaby diberikan dan setelah musik lullaby diberikan selama 3 hari. Analisa data yang digunakan adalah uji t dependen. Hasil menunjukan adanya perbedaan rata-rata heart rate, respiration rate dan saturasi oksigen pada hari pertama sebelum terapi musik lullaby diberikan dibandingkan dengan hari ketiga setelah terapi musik lullaby diberikan dengan nilai p value <0,05 untuk heart rate, p value <0,05 untuk respiration rate dan p value <0,05 untuk saturasi oksigen. Pemberian musik lullaby terbukti mampu membuat bayi prematur tenang dan dapat dilakukan di tempat perawatan bayi prematur lainnya yang terpasang alat bantu napas sebagai salah satu upaya mempertahankan ketenangan pada bayi prematur.Kata kunci: Bayi prematur, heart rate, respiration rate, saturasi oksigen, terapi musik lullaby Effect of  Lullaby Music Therapy on Heart Rate, Respiration Rate, Oxygen Saturation on Prematur InfantAbstractPremature infants assisted with breathing apparatus should be in calm condition so that there is synchronization between the baby’s breath and the breathing apparatus manifested by changes in heart rate, respiration rate and oxygen saturation. One way to make babies calm during the use of breathing aids is the provision of lullaby music therapy. The purpose of this study was to find out the effect of lullaby music therapy on heart rate, respiration rate and oxygen saturation in premature infants with breathing apparatus. This study used quasi experiment design with pre-post test without control group to 22 preterm babies selected by nonprobability sampling technique via purposive approach with criteria of infant with breathing apparatus, gestational age 24-36 weeks, and no ischemic hypoxic ensepalofati. Samples taken were heart rate measurement, respiration rate, and oxygen saturation before and afterlullaby music therapy was given for 3 days. Data analysis used was t test dependent. The statistical results showed the difference in heart rate, respiration rate and oxygen saturation on the first day before lullaby music therapy was administered compared to the third day after lullaby music therapy was administered with a pvalue value <0.05 for heart rate, pvalue <0.05 for respiration rate, and pvalue <0.05 for oxygen saturation. The provision of lullaby music was proven to make premature babies at peace and could be provided in other baby care unit with breathing support as an effort to sustain peace for premature babies.Keywords: Heart rate, lullaby music therapy, premature infants, respiration rate, oxygen saturation.
Emotional Freedom Techniques dan Tingkat Kecemasan Pasien yang akan Menjalani Percutaneous Coronary Intervention Shari, Weni Widya; S, Suryani; Emaliyawati, Etika
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.728 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v2i3.83

Abstract

Kecemasan yang terjadi pada pasien yang akan dilakukan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) dapat memperparah kondisi penyakit, memengaruhi status hemodinamik, gangguan imunitas dan gangguan metabolisme yang mengakibatkan suplai oksigen dan perfusi jaringan semakin terganggu. Emotional Freedom Techniques (EFT) merupakan salah satu intervensi pilihan, karena berdasarkan beberapa literatur, EFT dapat menurunkan kecemasan, mengatasi kecemasan langsung di bagian korteks serebri serta mengatasi kecemasan berdasarkan akar permasalahannya. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi pengaruh intervensi EFT terhadap tingkat kecemasan pasien yang akan menjalani PCI di RS. X. Peneliti menggunakan metode quasi experimentaldengan rancangan one group pretest dan postest. Jumlah sampel 30 orang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol dengan menggunakan teknik concecutive sampling. Kelompok intervensi diberikan EFT selama 15 menit. Sebelum dan sesudah intervensi diukur tingkat kecemasannya dengan menggunakan kuesioner state trait anxiety inventory(STAI-S). Data dianalisis dengan uji t. Hasil menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara tingkat kecemasan sebelum dan sesudah intervensi EFT (p<0.05) dan terdapat perbedaan yang bermakna intensitas kecemasan sesudah intervensi antara kelompok intervensi dan kontrol (p<0.05) . Kesimpulan penelitian yaitu EFT dapat menurunkan tingkat kecemasan pada pasien yang akan menjalani PCI. Penggunaan EFT dalam mengatasi kecemasan pasien di ranah kritis merupakan sesuatu yang perlu dipertimbangkan karena berdasarkan bukti empiris, memberikan manfaat, menggunakan teknik yang sederhana, mudah digunakan oleh siapapun, serta tanpa efek samping.Kata kunci: Emotional Freedom Techniques, kecemasan, komplementer, Intervensi Koroner Perkutan AbstractAnxiety that happen before Percutaneous Coronary Intervention (PCI) can aggravate the condition of disease, affecting hemodynamic status, immune disorders and metabolic disorders that result in tissue perfusion and oxygen supply disruption, if. Emotional Freedom Techniques (EFT) is one of the preferred interventions, because based on some literature, EFT can reduce anxiety, overcoming anxiety directly on the cerebral cortex and also address the root causes of anxiety based. The objective of research to determine the effect of EFT intervention on level anxiety of patients undergoing PCI in Hospital X. The research using quasi experimental method to design one group pretest and posttest. 30 people were divided into intervention and control groups by using a concecutive sampling technique. The intervention group received EFT for 15 minutes. Anxiety level is measured before and after intervention using State Trait Anxiety Inventory questionnaire (STAI-S). Data were analyzed by t test. The result showed there were significant differences between anxiety levels before and after the EFT intervention (p<0.05) and significant difference intensity of anxiety after intervention between intervention and control groups (p<0.05). The Conclusion of research is EFT can reduce anxiety levels on patients undergoing PCI. EFT is something that needs to be considered as based on empirical evidence, provide benefits, easy and without side effects. Key words:Emotional Freedom Techniques, anxiety, complementary, Percutaneous Coronary Intervention
Manajemen Mitigasi Bencana dengan Teknologi Informasi di Kabupaten Ciamis Emaliyawati, Etika; Prawesti, Ayu; Yosep, Iyus; Ibrahim, Kusman
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 4, No 1 (2016): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (934.972 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v4i1.139

Abstract

Jawa Barat merupakan wilayah rentan kejadian bencana. Kabupaten Ciamis merupakan daerah yang mempunyai tingkat kerawanan cukup tinggi terhadap kejadian bencana alam tanah longsor dan banjir berdasarkan pemetaan secara global 2012-2029. Namun demikian, penanganan bencana belum tertangani secara optimal. Penanganan korban pada kondisi bencana belum tertangani dengan baik karena minimnya koordinasi, data layanan kesehatan yang tidak memadai sehingga menyebabkan tidak tertanganinya korban akibat bencana. Penggunaan sistem informasi dalam penanganan bencana sangat diperlukan khususnya untuk aspek layanan kesehatan. Tujuan penelitian ini terbentuknya sistem informasi kesehatan khususnya dalam penanganan bencana di Kabupaten Ciamis untuk memudahkan dalam koordinasi penanganan korban dimulai dari lokasi bencana, evakuasi dan transportasi korban ke tempat layanan kesehatan yang sangat tergantung dari kondisi korban, sarana dan prasarana fasilitas kesehatan, logistik yang dibutuhkan, jarak dan waktu tempuh ke tempat layanan kesehatan, serta sumber daya manusia di tempat layanan kesehatan. Penelitian menggunakan metode riset terapan, menggunakan sistem informasi geografis (SIG) dengan perangkat lunak arcgis. Hasil penelitian ini yaitu terbentuknya prototipe sistem informasi kesehatan di Kabupaten Ciamis yang diberi nama “Sistem Informasi Bencana Padjadjaran (SIMBARAN)” berisi elemen kesehatan yang diperlukan selama bencana meliputi layanan kesehatan terdekat di sekitar kejadian, sumber daya manusia yang tersedia, saranan prasarana, penanggung jawab program dan sistem rujukan sehingga memudahkan dalam koordinasi penanganan korban yang nantinya diharapkan dapat menurunkan angka kematian korban akibat bencana ataupun kejadian kecelakaan lainnya. Direkomendasikan agar setiap kabupaten di wilayah Jawa Barat memiliki model Sistem Informasi Bencana karena wilayah Jawa Barat yang rentan terhadap kejadian bencana.Kata kunci: Aspek kesehatan, mitigasi, sistem informasi, “simbaran”. Disaster Mitigation Management use Information Technology in CiamisAbstractWest Java is one of region with susceptible disaster. Ciamis is an area that has a fairly high level of vulnerability to natural disasters as landslides and floods based mapping globally from 2012 to 2029. However, disaster management has not handled optimally. Handling of victims in the disaster condition is not handled properly due to lack of coordination, health services data is inadequate, causing no casualties from the disaster Settlement. Using of information systems in disaster management is indispensable, especially for health services aspects. The study purpose is establishment of health information systems, especially in disaster management in Ciamis to facilitate the coordination of the handling of victims starting from the disaster site, evacuation and transportation of victims to the health service that is highly depend on the condition of the victim, facilities and infrastructure of health facilities, logistics required, distance and time to the health service, and human resources in the health service. The research method applied research, using a geographic information system (GIS) software ArcGIS. The results of this study is the formation of a prototype health information system in Ciamis, named “Information System Disaster Padjadjaran (SIMBARAN)” contains the elements necessary health during disasters include the nearest health service in the vicinity of the incident, the human resources available, the proposition infrastructure, responsible program and a referral system to facilitate the coordination of the handling of victims who might be expected to decrease the death toll from the disaster or other accident scene. This study being recommended for each district in West Java has a Disaster Information System model because West Java region that is susceptible to disaster events.Keywords: Information systems, health aspects, mitigation, “simbaran”.