Articles

Found 23 Documents
Search

The Study of Gas Emission on Natural Gas Leak Localization Elma, Muthia
INFO-TEKNIK Vol 9, No 2 (2008): INFOTEKNIK VOL. 9 NO. 2 2008
Publisher : Engineering Department, Lambung Mangkurat University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Abstract - The aim of this study is to measure gas emission (CH4 and CO2) coming from natural gas leak localization in the soil. Natural gas is injected into soil in different depths and then analyzed by gas detector and micro gas chromatography to know the values CH4, C2H6, C3H8, C4H10, C5H12, O2, N2 and CO2 which is spread out into soil. When there are leaks in the soil, methane (CH4) will spread out underground. Methanotropic bacteria will use this natural gas as an energy source and transform it into carbon dioxide. The micro gas chromatography data was found that the pipes injected from 20 cm leak are 77.16% CH4 loss in 70cm depth, 73.15% in 50cm depth and 14.08% in 20cm depth. And the pipes injected from 30 cm leak are 20.27% in 30 cm depth and 65.13% in 60 cm depth. Then, the pipes injected from 50 cm leak are 23.40% in 30 cm depth and 47.40% in 60 cm depth. The leak source is in 80 cm depth.
KARAKTERISASI TANAH LEMPUNG GAMBUT KALIMANTAN SELATAN SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN MEMBRANE SUPPORT Elma, Muthia; Syauqiah, Isna; Aldina, Nor; Kesumadewi, Hesti
Jurnal Teknoin Vol 22, No 6 (2016)
Publisher : Jurnal Teknoin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/.v22i6.7721

Abstract

Inorganic materials (such as silica and alumina) is a material that is very important and the most desirable in the field of membrane technology. This is due to the physical characteristics and permeation properties owned by the two materials is much better when compared to other polymerbased material. Alumina, for example, this material mostly can be found in clay, and the price is much cheaper as well as easy to find if compared to silica material. The use of peat clay as raw material to produce alumina as membranes support from natural materials would save production costs. This material is also easy to find in South Kalimantan especially around the wetland areas. The aim of this study is to characterize the peat clay as raw material to fabricate membranes module (membranes support). The method is by drying the clay material in uniform particle size (monosize). The raw material powder is then mixed with the organic additives. This organic content provide the hydrophilicity and prorosity agent. Furthermore, it then was calcined and characterized to determine the functional group of the material weather it is more hydrophilicity and porosity. The result shows that the addition of H2O and starch content of functional groups affect the content of the Si-O-Si and Si-O-Al groups on clay material. The content of Si-O-Si and Si-O-Al decreases if content of H2O and starch is higher. It is shown that the streching the Si-OH groups that are more hydrophilic transform into Si-O-Si and Si-O-Al groups that are more hydrophobic. Therefore, the calcined material will be more hydrophobic and more porous.
PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR DARI SAMPAH ORGANIK RUMAH TANGGA DENGAN BIOAKTIVATOR EM4 (Effective Microorganisms) Nur, Thoyib; Noor, Ahmad Rizali; Elma, Muthia
Konversi Vol 5, No 2 (2016): Oktober 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v5i2.4766

Abstract

Abstrak- Pembuatan pupuk organik cair khususnya dari sampah organik rumah tangga dengan penambahan bioaktivator EM4 (Effective Microorganisms) bertujuan untuk menentukan pengaruh waktu pembuatan terhadap kandungan N, P, K, dan C dalam pupuk organik cair, serta menentukan pengaruh bioaktivator EM4 terhadap kandungan N, P, K, dan C dalam pupuk organik cair. Metode pembuatan pupuk organik cair ini yaitu sampah organik rumah tangga seperti sisa sayuran, kulit buah, dan lainnya dipisahkan dari sampah anorganik. Kemudian bioaktivator EM4 disiapkan didalam sprayer. Sampah organik dirajang dan dimasukkan ke dalam komposter, larutan bioaktivator EM4  kemudian disemprotkan ke dalam komposter secara merata. Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan variasi waktu 11 hari, 14 hari dan 17 hari serta variasi penambahan jumlah bioaktivator sebanyak 5 mL, 10 mL, dan 15 mL. Parameter yang diuji adalah nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), dan karbon (C). Hasil peneltian menunjukkan bahwa proses pembuatan pupuk organik cair dengan variasi waktu dan variasi penambahan volume EM4  efektif dalam meningkatkan kadar N, P, dan C. Di mana nilai kandungan N, P terbesar masing-masing pada hari ke 17 sebesar 0,205 %, dan 0,0074 %, sedangkan kadar C terbesar pada hari ke 14 sebesar 0,336 % . Sedangkan pada penambahan volume EM4 kandungan N, P, C terbesarnya  terdapat pada penambahan volume EM4 sebesar 15 mL masing-masing senilai 0,191 %, 0,128 % dan 0,382 %. Semakin lama proses pengomposan dan semakin besar penambahan volume EM4 cenderung menurunkan kadar K. Kata kunci:  pupuk organik cair, effective microrganisms, komposter. Abstract- Manufacture of liquid organic fertilizer especially from organic garbage of household with addition of Bioactivator EM4 (Effective Microorganisms) aims to determine the influence of duration of the process of making a liquid organic fertilizer to the content of N, P, K, and C in a liquid organic fertilizer, and determine the influence of the addition of bioactivator EM4 in the process of making a liquid organic fertilizer to the content of N, P, K, and C in a liquid organic fertilizer. The organic garbage of household is separated from inorganic garbage. Then prepared  bioaktivator EM4 in  sprayer. Organic garbage is cutted entered into composter, then biocktivator sollution sprayed into composter. Intake of sample done pursuant to time variable 11, 14 and 17 days and also variation of addition of amount of bioactivator counted 5 mL, 10 mL, and 15 mL. Parameter which in test are nitrogen (N), phospor (P), kalium (K), and carbon (C). The results indicate that the process of making a liquid organic fertilizer with time variation and addition variation of EM4 effective in increasing the content of N, P, and C. Where the largest value of the content of N, P on day 17th of 0.205% and 0.0074% respectively, while the largest content of C at day 14th of 0.336%. While the addition of volume EM4, the largest content of N, P, C is on addition of volume EM4 of 15 mL at 0.191%, 0.128% and 0.382% respectively. The longer process of composting and the greater addition of volume EM4 tends to reduce the content of K. Keywords: liquid organic fertilizer, effective microrganisms, composter.
PROSES PEMBUATAN BIODIESEL DARI CAMPURAN MINYAK KELAPA DAN MINYAK JELANTAH Elma, Muthia; Suhendra, Satria Anugerah; Wahyuddin, Wahyuddin
Konversi Vol 5, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v5i1.4772

Abstract

Abstrak-Indonesia memiliki hasil produksi buah kelapa yang hanya dimanfaatkan untuk memasak. Minyak jelantah merupakan hasil dari sisa penggorengan rumah tangga yang setelah penggunaanya menjadi limbah dan dapat mencemari lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi biodiesel dengan memanfaatkan campuran antara minyak kelapa dan minyak jelantah terhadap efek penambahan metanol dan waktu reaksi optimum dari pembuatan biodiesel. Proses produksi biodiesel dari campuran kedua bahan baku menggunakan proses dimana minyak kelapa dan minyak jelantah dicampurkan berdasarkan %-v/v dari 200 mL dengan perbandingan minyak jelantah (MJ) dan minyak kelapa (MK) yaitu 100MJ:0MK; 75MJ:25MK; 50MJ:50MK; 25MJ:75MK; dan 0MJ:100MK dengan komposisi metanol serta esterifikasi 38%; 30%; 28%; 19% serta untuk trasesterifikasi 19%; 20%; 21%; 25%. Pada reaksi esterifikasi menggunakan komposisi katalis H2SO4 0,5%, dan transesterifikasi menggunakan katalis KOH 0,9%. Yield yang dihasilkan dari penelitian ini adalah: 100MJ:0MK 92,15%; 93,65%, 75MJ:25MK (96,65%), 50MJ:50MK (95,11%), 25MJ:25MK (96,65%) dan 100MK:0MJ (82,65%). Analisa gliserol total yang didapat pada penelitian ini adalah 100MJ:0M (0,19%), 75MJ:25MK (0,21%), 50MJ:50MK (0,23%) 25MJ:25MK (0,22%) dan 100MK:0MJ (0,26%). Dari hasil analisa gliserol total tersebut didapat sampel yang terbaik yakni 50MJ:50MK dengan nilai glirserol total 0,23% dengan waktu 60 menit untuk esterifikasi dan 70 menit untuk transesterifikasi, dengan analisa angka asam yang didapatkan sebesar 0,2117, angka penyabunan 198,41; ester content  yang didapat sebesar 98,163% water content untuk sebesar 0,56 ppm. Keseluruhan dari hasil analisa biodiesel tersebut memenuhi standar EN 14214.  Kata kunci: minyak kelapa, minyak jelantah, biodiesel, FFA, trigliserida, gliserol total.  Abstract-Coconut oil is normally produced as cooking oil in some areas in Indonesia. However, palm oil mostly produced by industries as vegetable/cooking oil.Waste cooking oil from palm oil becomes a big problem in the environment, and creates pollution. This research aims to use waste cooking oil to produce biodiesel by mixing waste cooking oil and coconut oil. Those mixed oils become raw materials for this proces. The composition of the mixtures are  100MJ: 0MK; 75MJ: 25MK; 50MJ: 50MK; 25MJ: 75MK; and 0MJ: 100MK (% v / v of waste cooking oil (MJ) and coconut oil (MK)).The total of 200 mL oil mixtures was used for the esterification process with methanol composition were 38%; 30%; 28%; and trans-esterification were 19%; 20%; 21%; 23%. Esterification reaction was using the 0,5% H2SO4 as a catalyst, while transesterification was using 0.9% KOH as catalyst. The yield of biodiesel this reaserch were: 100MJ: 0MK (92.15%), 75MJ: 25MK (96.65%), 50MJ: 50MK (95.11%), 25MJ: 25MK (96.65%) and 100MK: 0MJ (82.65%). Furthermore, the total glycerol values were 100MJ:0MK (0.19%), 75MJ: 25MK (0.21%), 50MJ:50MK (0.23%) 25MJ: 25MK (0.22%) and 100MK: 0MJ (0.26%). EN14214 standard shows that the best composition of mixtured oils was 50MJ:50MK. Then, the total glycerol was 0.23% (60-70 minutes for the esterification and transesterification reaction). Acid number value was 0.2117, saponification number was 198.41; ester content was 98.163% and water content was 0.56 ppm.  Keywords: coconut oil, waste cooking oil, biodiesel, FFA, triglyceride, total glycerol.
PENURUNAN KOLESTEROL PADA SUSU SINGKONG TERMODIFIKASI DENGAN PENAMBAHAN BIJI PEPAYA YANG DIAPLIKASIKAN PADA TIKUS DISLIPIDEMIA Rahman, Sazila K.; Albana, Muhammad Hasan; Putra, Rian Nugraha; Elma, Muthia
QUANTUM: Jurnal Inovasi Pendidikan Sains Vol 8, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Cassava has a low selling value because it contains cyanide acid (HCN) which is deadly, while papaya seeds contain flavonoids, tannins and saponins are beneficial to health. How to increase the selling value of cassava and papaya seeds by processing modified cassava milk with the initial method, ie cleaned cassava, soaked 72 hours with 4% w / v NaHCO3, soaked 1 hour with 15% w / v salt, soaked 24 hours with 0,1% w / w starter Bimo-Cf, then stirred at 75-80 oC and fermented for 3 days using Fermipan (Saccharomyces cerevisiae) and Raprima (Rhizopus oryzae). The fermentation results were added aquadest and papaya seeds (20 and 40% w / w) stirred at 70-75 oC. Then dried to produce modified cassava milk. Modified cassava milk was intervened in mice for 28 days with dysplinemic treatment. The results showed the greatest decrease in HCN content in modified cassava milk with addition of 40% w / w of papaya seeds at Saccharomyces cerevisiae (2.052 ppm) and Rhizopus oryzae (2,160 ppm). The best increase in protein content was obtained by addition of 40% w / w of papaya seeds in Rhizopus oryzae (4.06%) and Saccharomyces cerevisiae (3.30%). The decrease of total cholesterol total of the best dysplinemic rats was obtained from modified cassava milk of R. Oryzaae variation with the addition of 20% papaya seeds by 60.45% and 40% papaya seeds by 40.63%..Keywords: papaya seed, cholesterol, Rhizopus oryzae, Saccharomyces cerevisiae, cassava.
PEMBUATAN SILICA THIN FILM SEBAGAI PELAPIS MEMBRAN DARI PREKURSOR TEOS (TETRA ETHYL ORTOSILICATE) Elma, Muthia
QUANTUM: Jurnal Inovasi Pendidikan Sains Vol 8, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Membrane layer ia a semipermeable material that serves as a separator based on its physical properties. One type of this material is a silica-based membrane that offers higher selectivity in the desalination process of water. However, this membrane also has a weakness in hydro-stability that will ultimately affect the final desalination water results. The aim of this research is to know silica gel fabrication using sol-gel process and under various pH from 1 to 9. The precursorused was TEOS which is then applied as a layer on top of membrane support for water desalination process. The method was employed TEOS as a precursor, ethanol, HNO3 and NH3 with a two-step acid-base catalysed sol gel process method at 500C for 3 hours. In order to characterize this thinnfilm, the silica sil was dried at 600C for 2 hours and characterized using FTIR. It was found that there are several peaks at wavelength 1084, 962 and 800 cm-1 on sol-gel with pH 6. Siloxane groups can be seen at wavelengths 1084 cm-1 and 800 cm-1 while silanol group at peak 962 cm-1. Thus, the silica thin film membrane pH 6 shows a tendency to form a good micro and mesoporous material applied in separating salt content in the feed solution compared to the other sols.Keywords: membrane, silica sol, TEOS, xerogel
KOEFISIEN PERPINDAHAN MASSA DALAM EKSTRAKTOR TANGKI BERPENGADUK Elma, Muthia
INFO-TEKNIK Vol 6, No 2 (2005): INFOTEKNIK VOL. 6 NO. 2 2005
Publisher : Engineering Department, Lambung Mangkurat University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

liquid-liquid extraction in a mixer tank was widely used to reach a certain mass transfer rate. Mass transfer rate in a mixer tank extractor is declared as mass transfer coefficient. This research intends to learn how mass transfer coefficient does in a mixer tank extractor and variables that influence mass transfer coefficient.  Determination of mass transfer coefficient in a mixer tank extractor is a function of mixer rate and characteristic of physical system.  This system study about water – acetic acid – methyl acetic between CMC as a phase concentration in a solvent.  The influences of  variable to mass transfer coefficient in a equation of non-dimention group is; Sh=7396.05 Re0.82 Sch -0.35.For whirlmixer, rate is between 1 to 4 circle/s and solvent viscosity is between 1 to 6.18 cP, and for whirlReynold, rate is between 2500 to 1000 and whirlSchmidt is between 689.655 to 4262.07.
TEKNOLOGI MEMBRAN ORGANO-SILICA UNTUK DESALINASI AIR ASAM TAMBANG Elma, Muthia; Sari, Norlian Ledyana; Pratomo, Dhimas Ari
Konversi Vol 8, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v8i1.6508

Abstract

Abstrak- Pengolahan air asam tambang merupakan pengolahan air yang sangat dibutuhkan untuk membantu ketersediaan air bersih. Teknologi pengolahan air ini salah satunya adalah menggunakan teknologi membran (membran organo-silica) secara teknik desalinasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan performansi organo silica membrane menggunakan katalis organik. Untuk membuat thin film sebagai pelapis membran digunakan metode sol-gel dengan precursor tetra ethyl orthosilicate (TEOS). Thin film ini selanjutnya di dipcoating ke membrane support sebanyak 4 layer dan dikalsinasi pada suhu 200, 250 dan 600 oC. Teknik desalinasi yang digunakan adalah berupa proses pervaporasi dengan menggunakan artificial brine water (5%, 7,5%, 10% dan 15%) sebagai air umpan. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai water flux adalah sebesar 0.39; 0.44 dan 0.82 kg m-2 h-1  (untuk thin film membran yang menggunakan suhu 50oC) dengan nilai salt rejection sebesar ~100 % untuk setiap membran. Nilai water flux ini berturut-turut untuk membran yang dikalsinasi pada suhu 200, 250 dan 600 oC). Dari hasil water flux dan salt rejection diketahui bawa membran yang dikalsinasi pada suhu 600oC memberikan nilai water flux tertinggi walaupun semua membrane memberikan nilai salt rejection yang mendekati 100%). Jenis membrane ini berkemungkinan memberikan ukuran pori-pori yang agak besar karena kandungan carbon yang sudah terikat pada struktur silika sudah terdekomposisi sempurna pada suhu tinggi, sehingga menambah besar ukuran pori-pori dari struktur silika. Ukuran pori-pori ini menyebabkan nilai water flux menjadi lebih tinggi. Kata kunci: brine water, flux, reflux, salt rejection, pervaporasi
Penyisihan Bahan Organik Alami pada Desalinasi Air Rawa Asin Menggunakan Proses Koagulasi-Pervaporasi Rahma, Aulia; Elma, Muthia; Mahmud, Mahmud; Irawan, Chairul; Pratiwi, Amalia Enggar; Rampun, Erdina Lulu Atika
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 22, No 3 (2019): Volume 22 Issue 3 Year 2019
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3199.527 KB) | DOI: 10.14710/jksa.22.3.85-92

Abstract

Kandungan bahan organik alami dalam air yang tinggi menyebabkan air rawa berwarna coklat dan tidak layak untuk digunakan. Selain itu, intrusi air laut yang terjadi saat pasang maksimum ke dalam aquifer rawa menyebabkan air rawa menjadi asin yang disebut sebagai air rawa asin. Koagulasi merupakan salah satu metode yang efektif digunakan untuk menyisihkan kandungan bahan organik. Namun, metode tersebut tidak mampu menyisihkan salinitas pada air rawa asin. Oleh karena itu, kombinasi proses koagulasi dan pervaporasi merupakan metode yang menjanjikan untuk digunakan dalam mereduksi baik parameter bahan organik (UV254) maupun salinitas (konduktivitas) pada air rawa asin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menginvestigasi dosis optimum koagulan untuk menyisihkan UV254 pada proses koagulasi sebagai pra-perlakuan pervaporasi dan untuk menganalisis performa koagulasi-pervaporasi membran silika-pektin untuk mereduksi bahan organik dan salinitas air rawa asin. Koagulan yang digunakan pada proses koagulasi ini adalah aluminium sulfat dengan variasi dosis 10-60 mg L-1. Proses pervaporasi menggunakan membran yang terbuat dari silika-pektin pada suhu umpan operasi ~25°C (suhu ruang). Kondisi optimum pra-perlakuan koagulasi didapatkan pada dosis alum 30 mg L-1 dengan efisiensi penyisihan tertinggi sebesar 81,8% (UV254) dan 5,4% (konduktivitas). Kombinasi koagulasi-pervaporasi membran silika-pektin menunjukkan nilai rejeksi yang sangat tinggi yaitu 99,9% (NaCl) dan 88,8% (UV254). Selain itu pervaporasi membran silika-pektin menghasilkan water flux 17,7% lebih tinggi daripada water flux umpan air rawa asin tanpa pra-perlakuan koagulasi yaitu 5,4 kg.m-2.h-1. Kombinasi proses koagulasi dan pervaporasi membran silika-pektin dalam penelitian ini efektif untuk menyisihkan parameter UV254 dan NaCl air rawa asin hanya dengan operasi pada suhu ruang.
Interlayer-free Membran Silika Pektin untuk Pervaporasi Air Rawa Asin Rampun, Erdina Lulu Atika; Elma, Muthia; Syauqiah, Isna; Putra, Meilana Dharma; Rahma, Aulia; Pratiwi, Amalia Enggar
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 22, No 3 (2019): Volume 22 Issue 3 Year 2019
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2387.455 KB) | DOI: 10.14710/jksa.22.3.99-104

Abstract

Air rawa di Kalimantan Selatan merupakan air permukaan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber air bersih. Namun, adanya instrusi air laut ke dalam air rawa menyebabkan air menjadi tidak layak digunakan. Salah satu teknologi yang dapat menghilangkan garam tersebut adalah membran silika-pektin. Performa membran interlayer-free silika pektin ini diuji dengan proses pervaporasi pada suhu ruang (~25 °C). Pada pervaporasi, air umpan masuk melalui membran, selanjutnya proses pemisahan akan terjadi dalam bentuk uap dengan bantuan pompa vakum. Permeat akan dikumpulkan ke dalam cold trap dengan cara kondensasi menggunakan nitrogen cair. Tujuan penelitian ini adalah menginvestigasi performa membran interlayer-free silika pektin menggunakan air rawa asin. Hasil Performa membran yang divariasikan konsentrasi pektin dengan suhu kalsinasi 300 dan 400 °C berturut-turut adalah 0,35 dan 0,19 kg.m-2 h-1 (tanpa pektin); 0,23 dan 0,16 kg.m-2 h-1 (pektin 0,1%wt); 0,58 dan 3,63 kg.m-2 h-1 (pektin 0,5%wt); 3,40 dan 0,12 kg.m-2 h-1 (pektin 2,5%wt). Namun, bahan organik alami (BOA) dan kandungan garam dalam air rawa asin mengakibatkan penurunan fluks (~98%). Meskipun demikian, rejeksi garam seluruh membran mencapai >99,9%. Penelitian ini menemukan bahwa kalsinasi rendah akan berpengaruh lebih signifikan bila ditambahkan konsentrasi pektin lebih tinggi. Sebaliknya penambahan konsentrasi pektin menjadi terbatas pada suhu kalsinasi tinggi.