Articles

EFISIENSI FAKTOR PRODUKSI DAN PENDAPATAN PADI SAWAH DI DESA MASANI KECAMATAN POSO PESISIR KABUPATEN POSO

AGROLAND Vol 17, No 3 (2010)
Publisher : AGROLAND

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.005 KB)

Abstract

This research aimed to identify the use efficiency of production factors and the income level of wetland rice farm at Masani Village of Poso Pesisir Sub district of Poso Regency. This Location was purposively determined. Respondents were determined using a simple random sampling method.  The number of samples was 63 people taken from population of 167 people. The Cobb-Douglas production function was used to analyze the use efficiency of wetland rice farm production factors and the level of income was descriptively analyzed. Results of the research showed that (1) factors such as farm area size, seed, fertilizer and labor were not efficiently used in the wetland rice farm at Masani Village of Poso Pesisir Sub district, so increasing these factors are required to reach maximal production and income, and (2) the income of the wetland rice farmers at Masani Village of Poso Pesisir Sub district can be divided into three levels included low income equal             to 30.16%, medium 38.10%, and high 31.74%.

Analisis kemiripan komunitas artropoda predator hama padi penghuni permukaan tanah sawah rawa lebak dengan lahan pinggir di sekitarnya

Jurnal Entomologi Indonesia Vol 10, No 2 (2013): September
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.758 KB)

Abstract

There are approximately 1.4 million hectares of swampy area in South Sumatera, but only 12% of those are being used as farm and plantation.   The purpose of this research was to investigate the similarity of arthropod community inhabiting swampy rice field and its surrounding area. This research was conducted in South Sumatera Province covering regency of Musi Banyuasin and Palembang. Four types of swampy area were selected from each location, i.e. rice field, thicket, bush, and swampy land inhabited by broad-leaf weeds. Pitfall trap used to collect arthropod and it installed at five different times. i.e. 15 days before rice planting, one month, two months, and three months after planting, and 15 days after harvest time. The result showed that relative abundance of predatory arthropod dwelling soil in rice field was 95.03%, and habitat surrounding rice field was 95.12–97.21%. The level of similarity of arthropod species between rice field ecosystem and its surrounding area ranged from 0.73 to 0.84.   Thus, the surrounding area of rice field probably can be used as catchment area of predatory arthropod and other pests during planting season.

ANALISIS PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP BUAH APEL LOKAL DAN APEL IMPOR PADA BUMI NYIUR SWALAYAN DI KOTA PALU

AGROTEKBIS Vol 6, No 6 (2018)
Publisher : AGROTEKBIS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this research is to know the characteristics and preferences of consumers in buying local apples and import apples at Bumi Nyiur Swalayan. This research was carried out at Bumi Nyiur Supermarket that located in S. Parman street Palu City. The location determination is done deliberately (Purposive) with a total of 50 respondents were by technical of Accidental Random Sampling. The analysis used the analysis chi square and analysis multiatribut fishbein. The analysis show that attribute into preferences of consumers of local apples at a price Rp. 30,000 - Rp. 39,999/kilogram, has a sweet taste slightly acid, greenish yellow colour, medium size, crunchy texture watery. On an import apples, attribute into preferences of consumers is a price > Rp. 50.000/ kilogram, sweet taste, reddish yellow colour, big size, crunchy texture watery. The attribute that most consumers consider the purchase decision-making of local apples in a row from the highest to the lowest is price, size, texture, taste and colour. Unlike the import apples which the value attitudes toward the attributes that most consumer consider in a row from the highest to the lowest is taste, size, price, and colour.

KARAKTERISTIK PETANI KAKAO DAN PRODUKSINYA DI KABUPATEN PARIGI MOUTONG

AGRISAINS Vol 10, No 1 (2009)
Publisher : AGRISAINS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.704 KB)

Abstract

ABSTRACT The research aim was to identify the characteristics of cacao farmers and factors influencing cocoa production in Parigi Moutong Regency.The research location was determined based on a Purposive method. The method to select farmers as respondents was a Simple Random Sampling. The sample size for the research was 49 respondents of 493 cocoa farmer populations. Tool analysis used to investigate factors influencing cocoa production in the research was the Cobb-Douglas production function analysis. Based on the data analysis, it can be concluded that land area, use of side grafting seedlings, fertilization, sarungisasi technology, herbicide and the farmers’ experience significantly influenced the cocoa production, whereas extension intensity had no effect on the cacao production.

Analisis kemiripan komunitas artropoda predator hama padi penghuni permukaan tanah sawah rawa lebak dengan lahan pinggir di sekitarnya

Jurnal Entomologi Indonesia Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.758 KB)

Abstract

There are approximately 1.4 million hectares of swampy area in South Sumatera, but only 12% of those are being used as farm and plantation. The purpose of this research was to investigate the similarity of arthropod community inhabiting swampy rice field and its surrounding area. This research was conducted in South Sumatera Province covering regency of Musi Banyuasin and Palembang. Four types of swampy area were selected from each location, i.e. rice field, thicket, bush, and swampy land inhabited by broad-leaf weeds. Pitfall trap used to collect arthropod and it installed at five different times. i.e. 15 days before rice planting, one month, two months, and three months after planting, and 15 days after harvest time. The result showed that relative abundance of predatory arthropod dwelling soil in rice field was 95.03%, and habitat surrounding rice field was 95.12–97.21%. The level of similarity of arthropod species between rice field ecosystem and its surrounding area ranged from 0.73 to 0.84. Thus, the surrounding area of rice field probably can be used as catchment area of predatory arthropod and other pests during planting season.Key words: rice, rice field, biological control

DISAIN SALURAN IRIGASI

PILAR Vol 7, No 2 (2012): PILAR 07092012
Publisher : PILAR

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.521 KB)

Abstract

Air merupakan benda yang sangat dibutuhkan oleh semua mahluk hidup di permukaan bumi ini. Oleh manusia, air digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti untuk memasak dan minum, mencuci, pembersihan, pengairan dan irigasi, industri, sarana transportasi dan lain-lain. Oleh karena itu perlu pengelolaan sumber daya air, agar bermanfaat yang sebesar besarnya serta tidak membawa dampak yang merugikan bagi kepentingan mahluk hidup lainnya. Salah satu bentuk pengelolaan sumber daya air adalah pemanfaatannya secara teknis untuk keperluan pengairan atau irigasi, yaitu dengan suatu usaha untuk mendatangkan air dengan membuat bangunan-bangunan dan saluran-saluran untuk mengalirkan air guna keperluan pertanian, membagi-bagi air ke sawah-sawah atau ladang-ladang dengan cara teratur dan jumlah yang cukup, kemudian membuang air yang tidak diperlukan lagi. Pekerjaan yang harus dilakukan untuk usaha tersebut di atas adalah perencanaan saluran irigasi yang meliputi perencanaan saluran induk atau saluran primer, saluran sekunder, saluran tersier dan saluran kuarter. Perencanaan saluran yang dimaksud antara lain untuk mendimensi saluran dan kemiringan dasar saluran dengan model pendekatan-pendekatan. Dalam tulisan ini, untuk merencanakan saluran yang dimaksud digunakan standar dari Direktorat Jenderal Pengairan Kementerian Pekerjaan Umum dalam buku Pedoman Kriteria Perencanaan Teknik Irigasi, Edisi Agustus 1980.

DRAINASE UNTUK MENINGKATKAN KESUBURAN LAHAN RAWA

PILAR Vol 6, No 2 (2011): PILAR 06092011
Publisher : PILAR

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.588 KB)

Abstract

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki lahan rawa yang cukup luas, diperkirakan sekitar 39,4 juta hektar rawa potensial yang tersebar di beberapa pulau, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Lahan rawa merupakan suatu ekosistem yang masih menyimpan banyak misteri yang belum terungkap, sehingga dalam berbagai tulisan mengenai rawa, dikatakan memiliki opsi masa depan. Di sisi lain lahan rawa merupakan pilihan akhir setelah yang lainnya tidak memungkinkan lagi untuk dieksploitasi. Belakangan,  sumberdaya yang tersimpan di daerah rawa mulai terungkap dan opsi untuk berbagai kegiatan telah dijatuhkan ke daerah rawa. Sebagai contoh, reklamasi rawa dan pembukaan lahan dilakukan sebagai suatu upaya untuk meningkatkan fungsi dan untuk kepentingan masyarakat luas, terutama yang bermukim di daerah sekitar. Usaha ini dilakukan dengan maksud untuk meningkatkan produksi pangan, meratakan penyebaran penduduk, mempercepat pembangunan di daerah dan ketahanan nasional. Produksi pangan akan meningkat, jika lahan rawa yang ada diberdayakan dengan usaha-usaha untuk meningkatkan kesuburan tanahnya. Keberhasilan program peningkatan produksi pangan melalui pemberdayaan lahan rawa sangat dipengaruhi oleh sistim drainase yang ada. Drainase secara umum dapat mempengaruhi kondisi tanah pertanian, yaitu terhadap aerasi tanah, kelembaban tanah, transportasi dan keefektifan nutrien dan pestisida, temperatur atau suhu tanah, bahan-bahan racun dan hama penyakit, erosi tanah dan banjir, kesuburan tanaman dan hasil tanaman. Kesemua pengaruh adalah positif dari perspektif pertanian dan menggambarkan nilai teknologi drainase untuk produksi pertanian. Agar pengaruh positif dari perspektif pertanian tersebut muncul, maka ada 2 konsep sistem drainase yang dilakukan yaitu dengan pencucian lahan (leaching) dan pembuatan saluran drainase dangkal. Pencucian lahan (leaching) dimaksudkan agar air di lahan tidak asam, yaitu dengan membuang bahan beracun (toxi) yang ada di lahan rawa dengan proses drainase, tanah yang dicuci adalah tanah pada zona perakaran. Sementara pembuatan saluran drainase dangkal dimaksudkan untuk membuang bahan beracun (toxi) dengan oksidasi dari drainase zona perakaran. Elevasi muka air tanah dijaga pada kedalaman 0.40 – 0.60 m dari muka tanah melalui pembuatan saluran parit dangkal.

KARAKTERISASI BENTONIT TEKNIS SEBAGAI ADSORBEN INDIGO BIRU

Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 19, No 3 (2012)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter Bentonit teknis yang dapat digunakan untuk menyerap sisa-sisa Indigo bim di lingkungan. Penelitian eksperimental laboratoris dilakukan melalui dua tahap, yaitu karakterisasi Bentonit teknis menggunakan SEM-Edx, Spektrofotometer IR, Gas Sorption Analyzer, dan proses adsorpsi Indigo bim oleh Bentonit teknis pada pH sistem 1, 5, 7, dan 9. Hasil penelitian menggunakan SEM-Edx menunjukkan bahwa Bentonit teknis mengandung senyawa Na20:2,64%, Ah03: 20,75%, Si02: 57,55%, dan FeO : 13,73%. Melalui spektrofotometer IR diketahui bahwa Bentonit teknis mengandung senyawa kimia yang merniliki vibrasi H-O-H, ikatan CO2, deformasi H-O-H, regang Si-O, vibrasi AI-OH atau deformasi OH-kation, deformasi SiO. Menggunakan Gas Sorption Analyzer diketahui bahwa luas permukaan Bentonit teknis : 51,935 m2/g, volume pori total: 1,302 x 10-1 cc/g dengan radius pori: <1013,9 A. Kemampuan adsorpsi Bentonit teknis terhadap 56,761 ppm Indigo bim pada pH 1, 5, 7, dan 9 berturut-tumt : 5,78; 7,89; 8,84; dan 9,64%

KEMAMPUAN SPASIAL DAN KAITANNYA DENGAN PEMAHAMAN MAHASISWA TERHADAP MATERI SIMETRI

Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol 2, No 12: Desember 2017
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.388 KB)

Abstract

Students’ achievement in mastering symmetry is estimated being influenced by their spatial ability. The objectives of study are to: (1) describe students’ spatial ability, (2) describe students’ mastering of symmetry, and (3) find out the correlation between students’ spatial ability and their mastering of symmetry. This research is a quantitative descriptive and correlational research. Research data were analyzed using Pearson product moment correlation. Findings revealed that: (1) 40% of students have spatial ability in low category, (2) students’ mastering of symmetry included in the good category, and (3) students’ spatial ability is influenced their mastering of symmetry.Kesuksesan mahasiswa dalam memahami materi Simetri diduga dipengaruhi oleh kemampuan spasial yang mereka miliki. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan kemampuan spasial mahasiswa jurusan kimia dan (2) mendeskripsikan pemahaman mahasiswa terhadap materi Simetri, serta (3) menguji korelasi kemampuan spasial dan pemahaman mahasiswa terhadap materi Simetri. Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif deskriptif dan korelasional. Analisis korelasi kemampuan spasial dan pemahaman mahasiswa terhadap materi Simetri dilakukan melalui analisis parametrik Pearson product moment correlation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) sebanyak 40% mahasiswa masih memiliki kemampuan spasial rendah; (2) pemahaman mahasiswa terhadap materi Simetri termasuk dalam kategori baik; (3) kemampuan spasial memengaruhi kesuksesan mahasiswa dalam memahami materi Simetri.

PERBEDAAN PENGETAHUAN METAKOGNITIF SISWA PADA MATERI REAKSI REDUKSI OKSIDASI MENGGUNAKAN PROCESS ORIENTED GUIDED INQUIRY LEARNING DENGAN PEMBELAJARAN VERIFIKASI YANG DIOPTIMALKAN

Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol 2, No 11: November 2017
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.693 KB)

Abstract

The aim of the study to determine the metacognitive knowledge of students that include declarative knowledge, procedural knowledge, and conditional knowledge, on oxidation reduction reaction material for class X SMA Negeri 10 Malang. This research is a quasy experiment. The instruments used were metacognitive knowledge tests adapted from tests belonging to Rompayom et al. This test is a double-piecewise test and a description. The results showed that the students metacognitive knowledge on the oxidation reduction reaction material with verification learning is higher than POGIL.Penelitian ini bertujuan mengetahui pengetahuan metakognitif siswa yang meliputi pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan kondisional pada materi reaksi reduksi oksidasi kelas X di SMA Negeri 10 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian quasy experiment. Instrumen yang digunakan yaitu tes pengetahuan metakognitif yang mengadaptasi dari tes milik Rompayom dkk. Tes ini berupa tes pilihan ganda dan uraian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan metakognitif siswa pada materi reaksi reduksi oksidasi dengan pembelajaran verifikasi lebih tinggi dibandingkan pembelajaran POGIL.