I Made Dwinata
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana
Articles
23
Documents
STRONGYLOIDOSIS PADA ANAK BABI PRA-SAPIH

Buletin Veteriner Udayana Vol. 3 No.2 Agustus 2011
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Research was conducted to determine the contribution Strongyloides ransomi againstdiarrhea in piglets on pig farms inBali. The number of sample 501 piglets feces fromBadung, Tabanan and Gianyar. The examination of worm eggs with Sodium AceticFoemaldehid method (SAF). The data obtained were analyzed statistically with Fischer test/ Chi Qwadrat Test.The results was obtained the prevalence of Strongyloides ransomi in piglets of 7.4%. Theresults was found a significant relationship between infection Strongyloides ransomi withdiarrhea, where the infected piglets Strongyloides ransomi higher risk ( OR=6 ) than ofpiglets uninfected.

Seroprevalensi Infeksi Toxoplasma gondii pada Babi di Lembah Baliem dan Pegunungan Arfak Papua

Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the presence of Toxoplasma gondii in pigs at the Baliem Valley and at the Mountains of Arfak Papua. Using the Indirect test Haemaglutination Asay, Primary Cellognost * Toxoplasmosis ? H (IHA reagent Toxoplasmosis), Reagent Buffer, Buffer Serum, Toxoplasmosis Control Serum, positive (IgG), Toxoplasmosis Control Serum, negative, and Pig Serum. The results showed the presence of Toxoplasma gondii in pigs at the Baliem Valley is (75.9%) and at the Mountains of Papua Arfak amounts (25%),

AKURASI METODE RITCHIE DALAM MENDETEKSI INFEKSI CACING SALURAN PENCERNAAN PADA BABI

Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (5) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit cacing merupakan salah satu jenis penyakit parasit yang dapat menginfeksi. Cara mendiagnosa infeksi cacing selain dengan melalui gejala klinis dan pemeriksaan post mortem dapat juga dilakukan dengan pemeriksaan feses. Salah satu metode untuk pemeriksaan feses adalah dengan metode Ritchie. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui akurasi metode Ritchie pada pemeriksaan feses babi untuk mendeteksi infeksi cacing pada saluran pencernaan. Bahan-bahan yang dipakai dalam penelitian ini adalah sampel feses dan isi saluran gastrointestinal babi yang diambil dari Pegunungan Arfak dan Lembah Baliem dengan jumlah sebanyak 22 sampel. Pemeriksaan cacing dilakukan dengan pemeriksaan post mortem sedangkan pemeriksaan feses dilakukan dengan metode Ritchie kemudian dihitung nilai sensitifitas dan spesifisitas. Berdasarkan hasil yang diperoleh pada pemeriksaan post mortem dan pemeriksaan feses maka didapat nilai spesifisitas dan sensitifitas untuk masing-masing jenis cacing pada pemeriksaan feses dengan metode Ritchie secara keseluruhan nilai sensitifitas antara 0%-72% dan spesifisitas 9,09%-72%. Hasil pemeriksaan dengan metode Ritchie pada penelitian ini mempunyai tingkat sensitifitas yang tidak tinggi. Dari hasil yang didapatkan maka dapat disimpulkan untuk jenis cacing telur type Strongyl didapat sensitifitas 72,72% dan spesifisitas 9,09%, untuk cacing Macracanthorhyncus didapat sensitifitas 0% dan spesifisitas 75%, untuk cacing Strongyloides didapat sensitifitas 44,44 % dan spesifisitas 100%, Ascaris didapat sensitifitas 40% dan spesifisitas 64,71% untuk cacing Trichuris didapat sensitifitas 63,62% dan spesifisitas 63,63%.

Bioassay Toxoplasma Gondii pada Kucing

Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (1) 2013
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Toxoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii. Toxoplasma gondii adalah parasit intraseluler dari golongan protozoa dan bersifat parasit obligat dengan hospes definitif adalah kucing dan family felidae lainnya, sedangkan hospes intermediernya adalah semua hewan berdarah panas seperti ayam, sapi, kambing, babi, domba dan belakangan ini diketahui dapat menginfeksi burung, rodensia, ikan paus dan juga bisa menginfeksi manusia. Kebanyakan kasus Toxoplasmosis disebabkan karena mengkonsumsi daging yang mengandung kista (berisi bradizoit), takizoit (bentuk proliferatif) yang proses pemasakannya kurang sempurna atau daging mentah. Selain itu kontak langsung dengan tanah, air atau makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh feses kucing yang mengandung ookista infektif. Penelitian ini dilakukan untuk menegakkan diagnosa Toxoplasma gondii pada ayam dengan cara bioassay, pada kucing melalui pemeriksaan ookista pada fesesnya. Diperiksa 5 ekor kucing yang bebas dari infeksi Toxoplasmosis masing – masing kucing selanjutnya diberikan organ ( hati, jantung, paru – paru, otak ) 25 ekor ayam kampung yang diperoleh dari Kabupaten Badung, Tabanan, Buleleng, Gianyar dan Karangasem. Penelitian dilakukan di Laboratorium Central For Studies on Animal Disease Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dengan menggunakan metode pengapungan. Dalam penelitian ini, hasil pemeriksaan feses 5 ekor kucing yang diberikan makan 25 organ ayam berupa hati, jantung, paru – paru, otak yang berasal dari Kabupaten Badung, Tabanan, Buleleng, Gianyar, dan Karangasem, hanya yang berasal dari Kabupaten Badung dan Gianyar didalamnya ditemukan ookista. Ookista dikeluarkan oleh kucing mulai hari ke 6 sampai hari ke 11 dengan kisaran 200 butir/gram sampai 4350 butir/gram.

Seroprevalensi Infeksi Toxoplasma gondii Pada Kambing yang Dipotong Di Kampung Jawa, Denpasar

Buletin Veteriner Udayana Vol. 5 No.1 Pebruari 2013
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi infeksi T. gondii secara serologis pada kambing yang dipotong di Kampung Jawa, Denpasar. Sebanyak 300 sampel serum kambing dilakukan uji serologis dengan Indirect Haemoglutination Assay Test (IHA) untuk menentukan seroprevalensi toksoplasmosis. Titer serum positif terinfeksi T. gondii diukur untuk mengetahui tingkat infeksi yang terjadi. Hasil penelitian diperoleh jumlah sampel serum positif mengandung antibodi T. gondii adalah sebanyak 45, jadi seroprevalensi infeksi T. gondii adalah sebesar 15% dengan titer 1:32 sampai 1:4096.

Prevalensi Protozoa Saluran Pencernaan pada Babi di Lembah Baliem dan Pegunungan Arfak Papua

Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (2) 2013
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis protozoa yang menginfeksi saluran pencernaan babi di Lembah Baliem dan Pegunungan Arfak Papua, dan juga untuk mengetahui besarnya prevalensi infeksi protozoa saluran pencernaan pada babi di lembah Baliem dan pegunungan Arfak Papua. Penelitian ini menggunakan 22 sampel feses babi yang terdiri dari 10 sampel diambil dari Lembah Baliem dan 12 sampel dari Pegunungan Arfak Papua. Pengambilan sampel feses dilakukan setelah babi di nekropsi, feses diambil pada bagian rektum, kemudian ditampung pada larutan SAF. Pemeriksaan sampel menggunakan Metode Formol Ether (RITCHIE). Pemeriksaan laboratorium di Laboratorium Parasitologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Hasil pemeriksaan terhadap 22 sampel feses didapatkan 72,7% babi yang diambil dari Lembah Baliem dan Pegunungan Arfak Papua terinfeksi Eimeria, Isospora, Entamoeba, dan Balantidium.

Prevalensi Infeksi Cacing Toxocara cati pada Kucing Lokal di Wilayah Denpasar

Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (4) 2013
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to determine of the prevalence of Toxocara cati in local cat (Felis catus) in Denpasar and to know the ratio of prevalence T. cati between cat that are kept by the stray in Denpasar. Samples used in this study were taken from feces of 80 cats. Feces collected in the form of pots and stored in formaldehyde 4% for samples stored for a long time. Inspection feces by the floating method and data obtained from this study are presented descriptively and analyzed with Chi-square test. It found 39 positive cats infected of T. cati or prevalence is 48,8%. Based maintenance system, which cat that are kept was found infected with 13 positive of 40 samples (32,5%) while the stray cat was found infected with 26 positive of 40 samples (65%). The difference prevalence og infection found a very significant (P<0,01) between cats that are kept by the stray. The prevalence of infection T. cati on the local cats in Denpasar showed higher in feral cats than in domestic cats.

Seroprevalensi dan Isolasi Toxoplasma gondii pada Ayam Kampung di Bali (SEROPREVALENCE AND ISOLATION OF TOXOPLASMA GONDII AMONG FREE-RANGE CHICKENS IN BALI)

Jurnal Veteriner Vol 13, No 4 (2012)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The prevalence of Toxoplasma gondii in free range chickens is a good indicator of the prevalence of T.gondii oocysts in the environment and the meat of chicken is considered one of the sources of the humaninfection. A study to determine the seroprevalence of T.gondii in free ranging chickens in eight regency inBali have been undertaken. More over, attempt to isolate T gondii was also performed from the copropositivesample. Seroprevalence was detected using modified agglutination test (MAT) and isolation of T.gondiiwere performed from organs (heart and brain) using pepsin-HCl digestion method. Further the pathogenicityof the isolate was determined by bioassay using mice. The result showed that the seroprevalence was24.8% (31 out of 125 chickens examined). T.gondii was found in 17 of the 31 seropositive chickens (55%)more over all isolates were a vitulent to the mice.

Protein Spesifik Cairan Kista Cysticercus bovis pada Sapi Bali yang Diinfeksi dengan Taenia saginata (SPECIFIC PROTEIN OF CYSTICERCUS BOVIS CYST FLUID ON BALI CATTLE EXPERIMENTALLY INFECTED WITH TAENIA SAGINATA)

Jurnal Veteriner Vol 14, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cysticercus bovis is the larval stage of Taenia saginata, the bovine tapeworm. The infection of thislarval in cattle musculature causes Bovine cysticercosis or Cysticercosis bovis.  Bovine cysticercosis is foundworldwide, but mostly in developing countries, where unhygienic conditions, poor cattle managementpractices, and the absence of meat inspection are common.  The adult Taenia infection in man is referredto as taeniasis.  Taenia saginata taeniasis is also found almost all over the world.  The prevalence ofTaenia saginata taeniasis has reported up to 27.5% in Gianyar Bali. In order to control the diseases,vaccination against the larvae stages in cattle of Taenia saginata may play an important role in controllingthe disease in the endemic regions.  The aims of the present study were to prepare and to investigate theimmunogenic protein as vaccine candidate for controlling  Cysticercus bovis infection in in Bali cattle.Cysticercus protein from the cyst fluid was firstly used to immunize mice and the mice sera were thencollected. Cysticercus proteins then analyzed using sodium dodecyl sulfate-gel electrophoresis (SDS-PAGE).All cysticercus proteins were then visualized by Commasie blue staining. The proteins were also transferredonto nitrocellulose membrane and the immunogenic proteins were visualized by Western Blotting usingimmune sera raised in mice.  By Commasie blue staining, a total of 17 proteins were detected with themolecular weight of 14,86 kDa -122,40 kDa from the smallest to the largest. As many as 7 immunogenicproteins with the molecular weights of 16.81 kDa; 19.22 kDa; 20.98 kDa; 27.41 kDa; 34.02 kDa; 38.31 kDa;and 54.94kDa were detected.

Total Eritrosit, Hemoglobin, Pack Cell Volume, dan Indeks Eritrosit Sapi Bali yang Terinfeksi Cysticercus Bovis

Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (3) 2014
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatahui total eritrosit, hemoglobin, PCV dan indeks eritrosit Sapi Bali yang terinfeksi Cysticercus bovis secara eksperimental. Sampel yang digunakan adalah tiga Sapi Bali betina yang berumur 5-7 bulan. Satu ekor digunakan sebagai kontrol dan dua ekor lainnya sebagai perlakuan. Infeksi eksperimental dilakukan dengan cara menginfeksikan 500.000 telur Taenia saginata per oral. Sampel darah diambil sebanyak lima kali setiap dua minggu. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian, menunjukkan total eritrosit, hemoglobin, PCV dan indeks eritrosit Sapi Bali yang diinfeksi 500.000 telur T. saginata adalah: eritrosit (7,23 x 106/?L); hemoglobin (10,01 g/dL); PCV (32,07%); MCV (43,4 fL); MCH (13,74 pg); dan MCHC (31,33 g/dL). Nilai tersebut masih berada pada rentang normal komponen eritrosit sapi dan tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan parameter yang sama pada sapi kontrol. Simpulannya sel darah merah Sapi Bali yang terinfeksi Cysticercus bovis hingga minggu ke-9 tidak berbeda nyata dengan sapi kontrol.