Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Jurnal Kedokteran Hewan

POTENSI TRANSDIFERENSIASI SEL FIBROBLAS MENJADI SEL SARAF SECARA IN VITRO (Transdifferentiation Potency of Fibroblast Cell to Neuron Cell in Vitro)

Jurnal Kedokteran Hewan Vol 10, No 1 (2016): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.133 KB)

Abstract

The aim of this study was to examine the potency of fibroblast cells transdifferentiated to neuron cells in vitro. Newborn rat neuron conditioned medium (NBRN CM) was collected from neuron cells cultured with mDMEM without serum for 48 hours. Fibroblast cells were collected from fetal rat muscle treated with trypsin. Fibroblast cells were culture with 3 kind of culture medium: mDMEM + 0.01 mM          β-mercaptoethanol; mDMEM + 50% NBRN-CM and  mDMEM + 0.01 mM β-mercaptoethanol + 50% NBRN CM . As control, cells was cultured with mDMEM +10% newborn calf serum (NBCS). The addition of NBRN CM into culture medium resulted in 12.97% newborn cells in fibroblast culture medium passage I. Newborn rat neuron conditioned medium in fibroblast culture medium resulted 12.97% neuron cells at passage 1. The percentage was increased (14.60%) when β- mercaptoethanol added into medium. The same result was found at passage 3 (12.67%; 13.17%). It showed that fibroblast cells has potency to transdifferentiated into neuron cells when cultured with NBRN CM. Further research is needed to know the fibroblast transdifferentiation potency. Key words: fibroblast, transdifferentiation, conditioned medium, neuron cells, in vitro

PROLIFERASI DAN DIFERENSIASI SEL TULANG TIKUS DALAM MEDIUM KULTUR IN VITRO YANG MENGANDUNG EKSTRAK BATANG Cissus quadrangula Salisb. (SIPATAH-PATAH)

Jurnal Kedokteran Hewan Vol 6, No 2 (2012): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.789 KB)

Abstract

Penelitian mengenai pengaruh ekstrak batang Cissus quadrangula Salisb. (sipatah-patah) terhadap tingkat proliferasi dan diferensiasi sel-sel tulang tikus (Sprague Dawley) prepuber umur empat minggu menggunakan sistem kultur in vitro. Sel-sel tulang dikultur dalam medium dulbecco’s modified eagle’s medium (DMEM) yang diberi tambahan newborn calf serum (NBCS) 10%, non essential amino acid (NEAA) 10%, NaHCO3, ITS 1 µl/ml (mengandung insulin 5 μg/ml, transferin 10 μg/ml, selenium 5 μg/ml; Sigma St Louis USA), dan 50 µg/ml gentamisin (mDMEM), dengan dan tanpa ekstrak Cissus quadrangula (CQ). Penelitian terdiri atas lima perlakuan yakni kontrol positif (mDMEM + deksametason 10-8 M), kontrol negatif (mDMEM), dan tiga konsentrasi CQ: mDMEM + CQ 0,3 mg/ml; mDMEM + CQ 0,6 mg/ml; dan mDMEM + CQ 1,2 mg/ml. Kultur dilakukan dalam inkubator CO2 5%, pada suhu 37° C selama tujuh hari. Parameter yang diamati adalah konsentrasi sel, komposisi, diameter osteoblas, dan diameter osteosit. Konsentrasi sel dihitung menggunakan hemositometer Newbauer. Komposisi osteoblas dan osteosit ditentukan berdasarkan pengamatan morfologi di bawah mikroskop cahaya. Diameter sel diukur menggunakan eyepiece micrometer. Data dianalisis menggunakan analisis varians dan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak Cissus quadrangula Salisb. pada konsentrasi 0,3 mg/ml; 0,6 mg/ml; dan 1,2 mg/ml secara signifikan dapat meningkatkan proliferasi sel tulang; dan pada konsentrasi 0,6 mg/ml mampu menginduksi diferensiasi osteoblas menjadi osteosit (P<0,05). Disimpulkan bahwa pemberian ekstrak Cissus quadrangula pada konsentrasi 0,6 mg/ml ke dalam medium kultur dapat meningkatkan proliferasi dan diferensiasi osteoblas.

KONSENTRASI, KEMURNIAN, DAN VIABILITAS SEL LEYDIG HASIL PURIFIKASI DENGAN GRADIEN NYCODENZ DAN KULTUR IN VITRO

Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 1 (2013): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.108 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan isolasi dan purifikasi sel Leydig dengan menggunakan gradien Nycodenz untuk meningkatkan jumlah perolehan sel Leydig yang hidup setelah purifikasi dan kultur. Isolasi dan purifikasi sel Leydig dilakukan dengan perlakuan gradien Nycodenz 3 kolom (5, 10, dan 15% sebagai Nycodenz I) dan 5 kolom (4, 8, 10, 12, dan 15% sebagai Nycodenz II) serta gradien Percoll 5 kolom (21, 26, 34, 40 dan 60%) sebagai kontrol. Parameter yang diamati adalah konsentrasi, kemurnian, dan viabilitas sel Leydig setelah isolasi dan purifikasi serta kultur in vitro. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa isolasi dan purifikasi sel Leydig dengan gradien Nycodenz (I dan II) secara nyata (P<0,01) menghasilkan konsentrasi sel yang lebih rendah dibandingkan dengan gradien Percoll. Namun penggunaan gradien Nycodenz II c enderung menghasilkan kemurnian sel yang lebih tinggi (91,40%) dibandingkan dengan Nycodenz I (85,53%). Hasil tersebut tidak berbeda nyata dibandingkan dengan gradien Percoll (92,20%). Viabilitas sel Leydig pada semua perlakuan hampir sama yaitu 98%. Namun demikia n, setelah dikultur selama 3 hari, konsentrasi sel Leydig pada perlakuan Percoll (2,44x106 sel/ml) dan Nycodenz I (3,21x106 sel/ml) secara statistik (P<0,05) lebih rendah dan dibandingkan dengan Nycodenz II (3,88x10 6 sel/ml), sedangkan viabilitas sel Leydig setelah dikultur pada gradien Nycodenz I (90,00%) dan Nycodenz II (91,17%) secara sangat nyata (P<0,01) menghasilkan viabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan gradien Percoll (82,30%). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan gradien Nycodenz II efektif untuk mempurifikasi sel Leydig dan setelah dikultur menghasilkan konsentrasi dan viabilitas sel yang lebih tinggi dibandingkan dengan gradien Percoll.

SEBARAN GLYCOCONJUGATE PADA SEL EPITEL OVIDUK KANCIL (Tragulus javanicus)

Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 2 (2014): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.597 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui distribusi glycoconjugate yang terekspresi pada sel epitelium oviduk kancil (Tragulus javanicus). Dalam penelitian ini digunakan satu oviduk kancil yang berasal dari satu ekor kancil b etina dewasa berumur lebih dari satu tahun. Sampel difiksasi dengan larutan Bouin dan diproses menurut standar histologi sampai menjadi blok parafin dan dipotong dengan ketebalan 5 µm. Jenis lektin yang digunakan adalah biotinylated (Con A, PNA, RCA, UEA I, dan WGA) dengan dosis masing-masing sebanyak 15 µg/ml. Hasil penelitian diketahui bahwa glycoconjugate dengan residu gula galaktosa, glukosa, manosa, N-asetilgalaktosamin, N-asetilglukosamin, fukosa, dan asam sialat ditemukan pada bagian apikal sel epitel dan di dalam sitoplasma. Glycoconjugate dengan residu gula N-asetilgalaktosamin merupakan glycoconjugate yang paling banyak ditemukan di bagian apikal sel epitel dan di dalam sitoplasma dibandingkan dengan glycoconjugate dengan residu gula lainnya.

RESPONS SEL EPITEL USUS (CMT-93) TERHADAP NUTRASETIKAL GALOHGOR

Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 2 (2015): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.665 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan membandingkan pengaruh nutrasetikal galohgor dalam bentuk serbuk (GS) dan ekstrak (GE) terhadap proliferasi, morfologi, dan ekspresi gen Aldh1a2 pada sel epitel usus (CMT-93). Galohgor serbuk (GS) dibuat dengan menghancurkan semua bahan dandikeringkan menggunakan drum-dryer sedangkan GE dibuat dengan mengeringkan semua bahan dengan oven, digiling, dan dimaserasi dengan etanol selama 3x24 jam. Perlakuan didasarkan pada konsentrasi akhir β-karoten yang berasal dari GS dan GE masing-masing sebesar 0,5; 1,5; dan 5,0 µM dalam larutan medium Dulbeccos Modified Eagles medium (DMEM) yang dilengkapi serum (10%). Analisis proliferasimenggunakan asai 3-(4,5-dimethylthiazol-2-yl)-2,5-diphenyltetrazolium bromide (MTT), dan ekspresi gen dianalisis dengan reverse transcriptasepolymerase chain reaction (RT-PCR). Hasil penelitian meunjukkan bahwa GE pada konsentrasi tinggi (5,0 μM) secara signifikan (P<0,05) dapatmenekan proliferasi dan memengaruhi morfologi sel CMT-93. Beta-karoten dalam GE dan GS memengaruhi ekspresi gen Aldh1a2 pada sel epitel usus CMT-93

PRODUKSI EMBRIO KUCING SECARA IN VITRO DARI SPERMATOZOA HASIL PRESERVASI MELALUI FERTILISASI MIKRO

Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 1 (2013): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.831 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui motilitas dan kemampuan memfertilisasi sperma kucing yang berasal dari epididimis yang disimpan pada suhu 4° C. Epididimis disimpan dalam media phosphate buffer saline (PBS) pada suhu 4 C selama 1, 3, dan 6 hari. Viabilitas spermatozoa diamati dengan pewarnaan hoechst-propidium iodine. Fungsi biologis spermatozoa dievaluasi melalui teknik kultur in vitro dengan fertilisasi mikro dan perkembangan embrio di dalam media kultur CR1aa. Hasil penelitian menunjukkan persentase spermatozoa hidup pada hari ke-1, 3, dan 6 penyimpanan masing-masing adalah 81,0; 71,7; dan 70,7% (duktus deferens), 84,0; 81,2; dan 63,2% (kauda epididimis), 84,0%; 75,0; dan 74,7% (korpus epididimis). Persentase pronukleus (PN) yang didapat dengan teknik intra cytoplasmic sperm injection (ICSI) menggunakan spermatozoa epididimis pada hari ke-1, 3, dan 6 hari penyimpanan masing-masing adalah 8,0; 10,0; dan 5,9%. Preservasi epididimis pada suhu 4 C dalam PBS dapat digunakan untuk fertilisasi dan menghasilkan embrio kucing secara in vitro.