Ika Dharmayanti
Pusat Teknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Ten-Year Trend of Acute Respiratory Infection (ARI) and Diarrheal Diseases Based on Healthy Houses in Indonesia Hapsari, Dwi; Dharmayanti, Ika; ., Supraptini
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 16, No 4 Okt (2013)
Publisher : Buletin Penelitian Sistem Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Housing is a basic human need that can affect health. To achieve a decent standard of living, peopleshould live in an adequate housing, so that its occupants have a safe and healthy environment. Condition of the houseis part of the quality of the environment. One of the environment-related diseases is ARI and diarrhea. Objectives: Thisstudy determines trends of ARI and diarrheal diseases and their relation to healthy houses in Indonesia in the last tenyears. Methods: This analysis combines two data sources that are Riskesdas 2007–2010 and Susenas 2001–2010. Thedesign of Riskesdas and Susenas is descriptive cross sectional. Research area for this analysis covers the entire provincein Indonesia. The limitation of this analysis is only eight variables that can be used from data sources every year, beside 14 indicators of healthy houses. Results: This study indicates that: 1. Trends of ARI and diarrheal disease against healthy houses are similar. If percentage of healthy houses are high then the percentage of ARI and diarrheal disease are low, andvice versa. Therefore, there is a correlation among healthy houses with ARI and diarrhea; 2. In low-income groups with similar healthy houses conditions, the percentage of ARI and diarrheal disease is higher than high-income groups. The role of economic status is an important point to reduce the percentage of ARI and diarrheal diseases; 3. During 2007, it shows a rise in ARI and diarrhea rate along with a decrease percentage of healthy houses. Conclusion: This study concludes that if the percentage of healthy houses is low then the percentage of ARI and diarrhea will increase, and vice versa. Socioeconomic factors have a role in the rise of healthy houses and a reduction in the percentage of ARI and diarrhealdiseases. Recommendation: the population needs to increase awareness of the environmental and healthy behaviors toform a Healthy Household.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP RISIKO KEHAMILAN “4 TERLALU (4-T)” PADA WANITA USIA 10-59 TAHUN (ANALISIS RISKESDAS 2010) H, Puti Sari; Hapsari, Dwi; Dharmayanti, Ika; Kusumawardani, Nunik
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 3 Sep (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan penulisan ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor tidak langsung yang dapat mempengaruhi risiko kehamilan. Desain penelitian cross sectional. Data yang dianalisis merupakan data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 yang telah dilaksanakan oleh Badan Litbangkes. Unit analisis adalah ibu atau wanita usia subur (WUS) yang pernah melahirkan minimal 1 anak dalam kurun waktu 5 tahun terakhir sampai dengan saat wawancara. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode logistik regresi untuk mengetahui faktor yang paling dominan. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa variabel yang paling dominan dalam hubungan antara faktor tidak langsung dengan kejadian fisiko kehamilan 4-T (terlalu tua, terlalu muda, terlalu banyak dan terlalu dekat) adalah variabel tempat tinggal  (desa/kota),  tingkat  pendidikan,  status  ekonomi,  dan  keinginan  hamil.  Ibu  yang  tinggal  di perdesaan berpeluang 1,1 kali berisiko kehamilan 4T, sementara ibu yang berpendidikan rendah (SD ke bawah) berpeluang 1,4 kali untuk mengalami risiko kehamilan. Ibu dari keluarga miskin berpeluang 1,3 kali mengalami risiko kehamilan, sedangkan ibu yang sulit akses ke pelayanan kesehatan berpeluang 1,9 kali berisiko hamil dengan kondisi 4-T, dan ibu yang tidak/belum ingin hamil berpeluang 4,9 kali mengalami risiko kehamilan. Masalah risiko kehamilan lebih mungkin terjadi pada kelompok ibu yang tinggal di perdesaan, dengan tingkat pendidikan dan ekonomi rendah, dan kesulitan akses ke fasilitas kesehatan serta belum atau tidak menginginkan kehamilannya. Oleh sebab itu diperlukan pemerataan program jamkesmas agar keluarga tidak mampu dan yang tinggal di perdesaan semakin mudah untuk mendapat  pelayanan  kesehatan.  Selain  itu  memprioritaskan  pembangunan  fasilitas  kesehatan  dan penyediaan tenaga kesehatan di perdesaan, dan juga penyuluhan tentang cara mengatur kehamilan yang sehat.Kata kunci : risiko kehamilan, WUS, 4-TAbstract The purpose of this paper is to identify factors that may indirectly affect the risk of pregnancy. Crosssectional study design. The data is from the Basic Health Research (Riskesdas) in 2010 which has been implemented by the National Health Research, Ministry of Health. The unit of analysis is the mothers or women of childbearing age (WUS) who had delivered at least one child within a period of 5 years up to the time of the interview. The analysis was performed by using logistic regression to determine the most dominant factor. Based on the analysis found the most dominant variable in the relationship between the indirect factors associated with the incidence of pregnancy risk 4-T (too old, too young, too many and too often) is variable residency (rural/urban), level of education, economic status, access to health facility and desire of pregnancy. Mothers who live in rural areas are likely 1.1 times have the chance of pregnancy risk, while mothers with low education (elementary school and below) 1.4 times as likely to experience a pregnancy risk. Then, mothers of poor families having a chance to experience 1.3 times the risk of pregnancy, whereas mothers who have difficult access to health services were likely 1.9 times at risk of pregnancy with 4-T conditions, and women who did not want to get pregnant were likely to experience 4.9 times the risk of pregnancy. Risk of pregnancy problems is more likely to occur in the group of women who live in rural areas, with low levels of education and the economy, and the difficulty of access to health facilities and does not want her pregnancy. Therefore, it requires health insurance or “jamkesmas”in order to provide an equal health services for poor people and those who living in rural areas. In addition to prioritize the provision of health facilities and health workers in rural areas, as well as counseling on how to manage a healthy pregnancy.Keywords : risk of pregnancy, fertility.
Asma pada Anak di Indonesia : Penyebab dan Pencetusnya Dharmayanti, Ika; Hapsari, Dwi; Azhar, Khadijah
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 9 No. 3 Februari 2015
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakAsma merupakan penyakit kronis yang dapat mengganggu kualitas hidup. Hingga saat ini, jumlah penderita asma semakin meningkat termasuk di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asma dan pencetus asma pada anak usia 6 - 14 tahun di Indonesia. Metode yang digunakan adalah potong lintang dengan menggunakan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 di 33 provinsi di Indonesia. Variabel bebas adalah karakteristik responden, faktor lingkungan dan perilaku merokok anak dan orangtua. Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki, kondisi sosial ekonomi rendah, riwayat asma pada orangtua, anak yang merokok atau pernah merokok, dan orangtua yang merokok atau pernah merokok adalah faktor risiko yang berhubungan secara signifikan dengan tinggi kejadian asma pada anak (p < 0,05). Sedangkan variabel yang tidak berhubungan secara bermakna (p > 0,05) adalah usia, kepadatan hunian, bahan bakar memasak, penerangan dalam rumah, dan penanganan sampah. Lima pencetus utama asma pada anak adalah udara dingin, flu dan infeksi, kelelahan, debu, dan asap rokok. Oleh karena itu, orangtua harus mendorong anak untuk bergaya hidup sehat agar anak terhindar dari serangan asma. AbstractAsthma is a chronic disease that can interfere the quality of life. Up to now, the prevalence of asthma is increasing including in Indonesia. This study aimed to identify factors related to the incidence and triggers of asthma in children aged 6 - 14 years in Indonesia. The method used was cross section using 2013 Basic Health Research (Riskesdas) data in 33 provinces over Indonesia. The independent variables are the characteristics of respondents, environmental factors and smoking behavior of children and parents. The analysis result shows that male sex, low socio-economic status, parental asthma record, children and parental smoking are the risk factors significantly related to the increasing prevalence of asthma incidence in children (p < 0,05); meanwhile, age, housing density, cooking fuel, home lighting and waste handling are the other variables significantly not related (p > 0,05). Five potential triggers of asthma in children are cold weather, flu and infections, fatigue, dust and tobacco smoke. Therefore, parents have to encourage their children to get a healthy lifestyle in order to prevent them from asthma attack.
Asma pada anak Indonesia: Penyebab dan Pencetus Dharmayanti, Ika; Hapsari, Dwi; Azhar, Khadijah
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 9 No. 4 Mei 2015
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.798 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v9i4.738

Abstract

AbstrakAsma merupakan penyakit kronis yang dapat mengganggu kualitas hidup.Hingga saat ini, jumlah penderita asma semakin meningkat termasuk diIndonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asma dan pencetus asma pada anak usia 6 - 14 tahun di Indonesia. Metode penelitian adalah desain potong lintang dengan menggunakan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 di 33 provinsi di Indonesia. Variabel bebas adalah karakteristik responden, faktor lingkungan, dan perilaku merokok anak dan orangtua. Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki, kondisi sosial ekonomi rendah, riwayat asma pada orangtua, anak yang merokok atau pernah merokok, dan orangtua yang merokok atau pernah merokok adalah faktor risiko yang berhubungan secara signifikan dengan tinggi kejadian asma pada anak (nilai p < 0,05). Sedangkan variabel yang tidak berhubungan secara bermakna (nilai p > 0,05) adalah usia, kepadatan hunian, bahan bakar memasak, penerangan dalam rumah, dan penanganan sampah. Lima pencetus utama asma pada anak adalah udara dingin, flu dan infeksi, kelelahan, debu, dan asap rokok. Oleh karena itu, orangtua harus mendorong anak untuk bergaya hidup sehat agar anak terhindar dari serangan asma.AbstractAsthma is a chronic disease that can disrupt quality of life. Up to now, thenumber of asthma is more increasing including in Indonesia. This studyaimed to identify factors related to the incidence and triggers of asthmaamong 6 - 14 year-old children in Indonesia. Method of study was cross sectional design using 2013 Basic Health Research data in 33 provinces over Indonesia. Independent variables were characteristics of respondents, environmental factors and smoking behavior of children and parents.Theanalysis result showed that male sex, low socio-economic status, parentalasthma record, children and parental smoking were the risk factors significantly related to the increasing prevalence of asthma incidence among children (p value < 0.05). Meanwhile, age, housing density, cooking fuel, home lighting and waste handling were the other variables significantly not related (p value > 0.05). Five potential triggers of asthma in children are cold weather, flu and infections, fatigue, dust and tobacco smoke. Therefore, parents should encourage their children to get a healthy lifestyle in order to prevent them from asthma attack.
Kadar Debu Partikulat (PM2,5) dalam Rumah dan Kejadian ISPA pada Balita di Kelurahan Kayuringin Jaya, Kota Bekasi Tahun 2014 Azhar, Khadijah; Dharmayanti, Ika; Mufida, Ida
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 1 Mar (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakInfeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah penyebab utama kematian balita di Indonesia danberkaitan erat dengan polusi udara. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran kadar debupartikulat (PM2,5) dan hubungannya dengan ISPA pada balita. Survei menggunakan kuesioner terstrukturdilakukan terhadap 106 balita di Kelurahan Kayuringin Bekasi pada bulan Maret hingga Oktober 2014.Data yang dikumpulkan berupa gejala ISPA, pengukuran antropometri, riwayat imunisasi balita, kondisirumah, dan hasil pengamatan terhadap kondisi jalan terdekat. Pengukuran kadar PM2,5 dilakukan diruang keluarga, kamar tidur balita menggunakan alat Haz-Dust EPAM 5000 selama 12 jam. Desainpenelitian adalah potong lintang dan dianalisis secara deskriptif maupun analitik. Hasil yang diperolehsebanyak 69,9% balita dengan gejala ISPA tinggal di rumah berventilasi kurang dan 74,2% balita tinggaldi rumah dengan dapur menyatu dengan ruangan lain. Kadar rata-rata PM2,5 dalam rumah 70 μg/m3.Ada perbedaan bermakna antara kadar rerata PM2,5 dalam rumah di wilayah yang ramai lalu lintasdengan wilayah yang tidak ramai (p=0,02). Kesimpulan yang didapat kadar rerata PM2,5 udara dalamrumah mencapai dua kali lipat dari baku mutu.Kata Kunci : PM2,5, infeksi saluran pernafasan akut, balitaAbstractAcute Respiratory Infection (ARI) is the leading cause of death for children under five years old inIndonesia and have been associated with air pollution. The objective of the study was to identify indoorfine particles (PM2,5) concentration and its relationship with ARI among children under five years. Aquestionnaire-based survey of 106 children was conducted in Kayuringin village, Bekasi city from Marchto October 2014. Data collected were ARI related symptoms, anthropometry, immunization, housing andtraffic density. Assessment of 12-hour PM2,5 level was done using Haz-Dust EPAM 5000 in living roomor children’s room. This research was a cross-sectional study using univariate and bivariate analysis.Most of children had ARI related symptoms during 3 months before study. Most of children with ARI(69,9%) lived in poor ventilated houses. More over, the houses had family room that fully integrated withthe kitchen (74,2%). The indoor average level of PM2,5 was 70 μg/m3 among 46 households. Statistically,there was a significant difference in PM2,5 average level indoor between houses in high and low trafficdensity area (p=0,02). The indoor average level of PM2,5 was two times higher than EPA’s standard level(35 μg/m3).Keywords: PM2,5, ARI, children under five years old
Asma pada anak Indonesia: Penyebab dan Pencetus Dharmayanti, Ika; Hapsari, Dwi; Azhar, Khadijah
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 9 No. 4 Mei 2015
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.798 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v9i4.738

Abstract

AbstrakAsma merupakan penyakit kronis yang dapat mengganggu kualitas hidup. Hingga saat ini, jumlah penderita asma semakin meningkat termasuk di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asma dan pencetus asma pada anak usia 6 - 14 tahun di Indonesia. Metode penelitian adalah desain potong lintang dengan menggunakan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 di 33 provinsi di Indonesia. Variabel bebas adalah karakteristik responden, faktor lingkungan, dan perilaku merokok anak dan orangtua. Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki, kondisi sosial ekonomi rendah, riwayat asma pada orangtua, anak yang merokok atau pernah merokok, dan orangtua yang merokok atau pernah merokok adalah faktor risiko yang berhubungan secara signifikan dengan tinggi kejadian asma pada anak (nilai p < 0,05). Sedangkan variabel yang tidak berhubungan secara bermakna (nilai p > 0,05) adalah usia, kepadatan hunian, bahan bakar memasak, penerangan dalam rumah, dan penanganan sampah. Lima pencetus utama asma pada anak adalah udara dingin, flu dan infeksi, kelelahan, debu, dan asap rokok. Oleh karena itu, orangtua harus mendorong anak untuk bergaya hidup sehat agar anak terhindar dari serangan asma.AbstractAsthma is a chronic disease that can disrupt quality of life. Up to now, the number of asthma is more increasing including in Indonesia. This study aimed to identify factors related to the incidence and triggers of asthma among 6 - 14 year-old children in Indonesia. Method of study was cross sectional design using 2013 Basic Health Research data in 33 provinces over Indonesia. Independent variables were characteristics of respondents, environmental factors and smoking behavior of children and parents.The analysis result showed that male sex, low socio-economic status, parental asthma record, children and parental smoking were the risk factors significantly related to the increasing prevalence of asthma incidence among children (p value < 0.05). Meanwhile, age, housing density, cooking fuel, home lighting and waste handling were the other variables significantly not related (p value > 0.05). Five potential triggers of asthma in children are cold weather, flu and infections, fatigue, dust and tobacco smoke. Therefore, parents should encourage their children to get a healthy lifestyle in order to prevent them from asthma attack.
Identifikasi Indikator dalam Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) untuk Meningkatkan Nilai Sub-Indeks Penyakit Menular Dharmayanti, Ika; Tjandararini, Dwi Hapsari
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 5, No 3 (2017): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1480.808 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v5i3.647

Abstract

Sejak tahun 2009, Kementerian Kesehatan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan telah merumuskan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) untuk menggambarkan kesehatan masyarakat Indonesia. Tahun 2013, IPKM dijabarkan dalam tujuh subindeks yaitu kesehatan balita, kesehatan reproduksi, pelayanan kesehatan, perilaku kesehatan, penyakit tidak menular, penyakit menular, dan kesehatan lingkungan. Penyakit diare dan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pada balita serta pneumonia merupakan penyakit infeksi yang digunakan dalam perhitungan subindeks penyakit menular dalam IPKM 2013. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi indikator-indikator dalam IPKM yang dapat meningkatkan nilai subindeks penyakit menular. IPKM merupakan komposit dari 30 indikator kesehatan utama yang dihitung dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. Disain Riskesdas 2013 merupakan survei potong lintang dengan jumlah sampel yaitu seluruh rumah tangga di 33 provinsi dan 497 kabupaten/kota di Indonesia. Analisis data menggunakan regresi linier. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa indikator cakupan akses sanitasi (p = 0,000), cakupan air bersih (p = 0,027), serta cakupan perilaku masyarakat dalam bercuci tangan dengan benar (p = 0,001) memiliki peran penting dalam meningkatkan nilai subindeks penyakit menular. Sehingga diharapkan dengan adanya peningkatan cakupan tiga indikator diatas, maka nilai tiga subindeks (penyakit menular, kesehatan lingkungan, dan perilaku kesehatan) akan turut meningkat. Oleh karena itu, apabila kabupaten/kota ingin meningkatkan nilai subindeks penyakit menular, yang perlu diperhatikan yaitu intervensi terhadap lingkungan dan perilaku manusia. Dengan demikian, nilai IPKM kabupaten/kota juga akan meningkat.Kata kunci: Lingkungan, penyakit menular, perilaku.Identification of Public Health Development Index (PHDI) Indicators to Increase the Value of Sub-Index of Communicable DiseaseAbstractSince 2009, Ministry of Health through Indonesia Agency fro Health Research and Development has formulated Public Health Dvelopment Index (PHDI) to describe public health status in Indonesia. In 2013, PHDI grouped into seven sub indices, namely health status of children under five, reproductive health, health service, health beaviour, non-communicable disease, communicable disease, and environmental health. Diarrhea and acute respiratory infection (ARI) on children under five and pneumonia are infectious diseases used in the calculation of subindex of communicable diseases in PHDI 2013. The aim of this research was to identify indicator in PHDI that could improve the subindex of communicable disease. PHDI is a composite of 30 major health indicators calculated from Basic Health Research (Riskesdas) 2013. The Riskesdas 2013 design was cross sectional survey with total sample of all households in 33 provinces and 497 district/cities in Indonesia. The data was analyzed by linier regression test. The result showed that indicator of access to sanitation (p=0.000), access to clean water (p=0.027) and people’s behavior in proper hand washing (p=0.001) had an important role in imporving the score of sub-index of communicable disease. It is expected that with the increase of the three indicators above, the value of three subindices (communicable disease, environmental health, and health behaviour) will also increase. Therefore, if the district/city wants to increase the value of sub index of communicable disease, the intervention to the environment and human behavior is needed. Thus, the PHDI score in district/city will also increase.Keywords: Behavior, communicable disease, environment.