Nyoman Sadra Dharmawan
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bali
Articles
29
Documents
Serodeteksi Brucella abortus pada Sapi Bali di Timor Leste

Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (5) 2013
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Brucellosis adalah penyakit bakterial yang bersifat zoonosis berupa ganguan pada fungsi reproduksi hewan. Brucellosis disebabkan oleh Brucella abortus pada sapi, B. melitensis atau B. ovis pada ruminansia kecil, B. suis pada babi dan B. canis pada anjing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian Brucellosis pada sapi bali di Timor Leste dengan cara pemeriksaan serologis. Metode pengujian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Rose Bengal Plate Test (RBPT) yang bertindak sebagai uji skrining. Jika hasilnya positif, penelitian dilanjutkan dengan uji Complement Fixation Test (CFT) sebagai uji penegak. Dari hasil pemeriksaan 60 serum sapi bali yang berasal dari distrik Dili, Suai, Maliana dan Lospalos ditemukan tujuh sampel positif, ketujuh sampel tersebut adalah Maliana (1), Suai (1) dan Lospalos (5), sedangkan sampel yang berasal dari distrik Dili negative. Masing-masing sampel yang positif menunjukkan hasil positif (++). Sampel yang positif RBPT selanjutnya diuji dengan uji Complement Fixation Test (CFT). Hasilnya adalah berupa rataan titer antibody untuk sampel Maliana, Lospalos, dan Suai berturut-turut adalah 128±0; 56±48; dan 16±0. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut bahwa status dari distrik Lospalos terinfeksi berat Brucellosis dan distrik Maliana dan Suai terinfeksi sedang. Dapat disimpulkan bahwa Brucellosis ditemukan di Timor Leste.

Total Eritrosit, Hemoglobin, Pack Cell Volume, dan Indeks Eritrosit Sapi Bali yang Terinfeksi Cysticercus Bovis

Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (3) 2014
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatahui total eritrosit, hemoglobin, PCV dan indeks eritrosit Sapi Bali yang terinfeksi Cysticercus bovis secara eksperimental. Sampel yang digunakan adalah tiga Sapi Bali betina yang berumur 5-7 bulan. Satu ekor digunakan sebagai kontrol dan dua ekor lainnya sebagai perlakuan. Infeksi eksperimental dilakukan dengan cara menginfeksikan 500.000 telur Taenia saginata per oral. Sampel darah diambil sebanyak lima kali setiap dua minggu. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian, menunjukkan total eritrosit, hemoglobin, PCV dan indeks eritrosit Sapi Bali yang diinfeksi 500.000 telur T. saginata adalah: eritrosit (7,23 x 106/?L); hemoglobin (10,01 g/dL); PCV (32,07%); MCV (43,4 fL); MCH (13,74 pg); dan MCHC (31,33 g/dL). Nilai tersebut masih berada pada rentang normal komponen eritrosit sapi dan tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan parameter yang sama pada sapi kontrol. Simpulannya sel darah merah Sapi Bali yang terinfeksi Cysticercus bovis hingga minggu ke-9 tidak berbeda nyata dengan sapi kontrol.

Total dan Diferensial Leukosit Sapi Bali yang Terinfeksi Cysticercus Bovis Secara Eksperimental

Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (3) 2014
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui total dan diferensial leukosit sapi bali yang terinfeksi Cysticercus bovis secara eksperimental. Penelitian ini menggunakan tiga sapi bali betina, usia enam bulan. Satu sapi sebagai kontrol dan dua lainnya diinfeksi dengan 500.000 telur Taenia saginata (isolat Bali). Sampel darah diambil lima kali setiap dua minggu selama dua bulan. Data dianalisis dengan menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata total leukosit sapi bali yang diinfeksi telur Taenia saginata secara eksperimental (6.92 x 103/?l) lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan kontrol (5,4 x 103/?l), tetapi masih dalam rentang nilai normal. Rata-rata semua diferensial leukosit juga masih dalam rentang nilai normal, tetapi untuk eosinofil pada sapi yang diinfeksi dengan telur T saginata (3,6%), secara statistik menunjukkan lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan kontrol (2,0%). Simpulan yang dapat ditarik adalah infeksi Cysticercus bovis menyebabkan peningkatan leukosit terutama eosinofil.

Gambaran Histopatologi Jantung Sapi Bali yang Terinfeksi Cysticercus bovis

Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (5) 2014
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran histopatologi jantung sapi bali yang terinfeksi Cystisercus bovis. Penelitian ini menggunakan jantung sapi bali yang diinfeksi C. bovis. Metode yang digunakan dalam pemeriksaan histopatologi ini adalah clearing, blocking, sectioning, staining, dan mounting. Pada pengamatan histopatologi, infiltrasi sel-sel radang tampak relatif banyak menginfiltrasi jaringan jantung dan meluas sampai ke sela-sela serat otot jantung. Perubahan histopatologi lain, berupa infiltrasi jaringan ikat dan kolagen, serta adanya granuloma yang disertai sel radang di sekitar kapsul C. bovis juga teramati. Sel radang yang ditemukan di serat otot jantung maupun dekat dengan posisi C. bovis tersebar merata mengelilingi kapsul C. bovis. Berdasarkan hasil penelitian, tipe sel radang yang dominan menginfiltrasi yaitu sel-sel radang tipe monomorfonuklear dan sel-sel radang tipe granulosit.

Distribusi dan Jumlah Cysticercus bovis pada Sapi Bali yang Diinfeksi Telur Taenia saginata Empat Bulan Pasca Infeksi

Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (5) 2014
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengamati distribusi dan jumlah Cysticercus bovis pada sapi bali. Penelitian ini menggunakan seekor sapi bali betina berumur enam bulan yang bebas dari infeksi Taenia saginata dan telah diberi antelmintik (mebendazol) sebelum perlakuan. Proglotid gravid T. saginata diperoleh dari pasien taeniasis. Sapi percobaan diinfeksi dengan 500.000 telur dengan dua kali pemberian dan untuk mengamati perkembangan C. bovis, sapi dikorbankan nyawanya dan dinekropsi empat bulan (131 hari) pasca infeksi. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan C. bovis pada sapi bali empat bulan pasca infeksi tersebar pada otot dan beberapa organ, dengan ukuran rata-rata 5 x 4 mm.  Total jumlah C. bovis yang diperoleh adalah 2.249 dengan kondisi hidup dan tidak ada yang mengalami degenerasi maupun kalsifikasi. Penelitian ini menunjukkan lokasi penyebaran C. bovis pada sapi bali adalah pada jantung, diafragma, lidah, otot skeletal di bagian anterior, otot skeletal di bagian posterior, dan daerah kepala dengan jumlah C. bovis pada organ jantung (354), diafragma (346), lidah (17), otot skeletal anterior (793), otot skeletal posterior (448), dan daerah kepala (291).

Prevalensi Infeksi Trichuris Suis pada Babi yang Dipotong di Rumah Potong Hewan Denpasar

Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019)
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi infeksi cacing Trichuris suis pada babi yang dipotong di Rumah Potong Hewan (RPH) Denpasar.  Sebanyak 100 sampel feses babi yang diperoleh dari babi-babi yang dipotong di RPH Denpasar diperiksa dengan metode konsentrasi pengapungan menggunakan NaCl jenuh.  Hasil pemeriksaan menunjukkan 5 sampel (5%) terinfeksi cacing T. suis. Prevalensi T. suis berdasarkan asal sampel ditemukan dari Kota Denpasar 3,34%(1/24), Kabupaten Bangli 8,82%(3/34), dan Kabupaten Karangasem 4,34%(1/23). Mengingat masih ditemukannya infeksi T. suis pada babi yang dipotong di RPH Denpasar yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi, maka disarankan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan menejemen pemeliharaan babi yang baik serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar kandang.