Meita Dhamayanti
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung
Articles
26
Documents
Controversy of Immunization on Adolescents

Journal of the Indonesian Medical Association Vol. 59 No. 6 June 2009
Publisher : Journal of the Indonesian Medical Association

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adolescence are group individual in transition from childhood to adulthood. They constitutes a fifth of the general population, rendering problems is also found in adolescence among other problems such as behavior, accident, etc. Immunization for adolescence has often become a controversy. In one hand, it is imperative for any delayed or overlooked immunization schedule during childhood, reemerging diseases and change in adolescence immune status. However, on the other hand, parents perception, provider’s attitude, and infrastructure toward health services for adolescence are adequate other than lack of finding. These situations generate problems in immunization for adolescence. Doctors play an important roles in health services for adolescence. Therefore, a complete and thorough immunization schedule from birth to end of adolescence period should be established.Keywords: adolescent, immunization, schedule

Respon Imun terhadap Vaksin Influenza pada Remaja

Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Influenza merupakan penyakit yang mudah menular dengan mortalitas dan morbiditas tinggi serta sering menimbulkan kejadian  luar biasa, epidemi, dan pandemi. Pada anak  sekolah,  influenza menyebabkan  tingginya angka absensi dan remaja merupakan  sumber  penularan  terbesar .  Penelitian  dilakukan  untuk menilai  respons  imun    terhadap  vaksin influenza pada kelompok remaja 12–18 tahunpada bulan Juni–September 2008, di Puskesmas Garuda Bandung. Desain dilakukan dengan  intervensional,  longitudinal, acak sederhana, dan tersamar tunggal. Vaksin  influenza yang mengandung 3 jenis virus A/H1N1, A/H3N2 dan B, disuntikkan intramuskular. Pengambilan darah dilakukan pra dan pasca vaksinasi. Pemeriksaan kadar antibodi dilakukan dengan metode hemaglutinasi inhibisi (HI). Respons imun dinilai berdasarkan nilai serokonversi, dan peningkatan geometric mean titer (GMT). Subjek dibagi 2 kelompok, 69 (52,7%) remaja pertengahan (12–15  tahun) dan 62  (47,3%)  remaja akhir  (16–18  tahun). Semua  subjek  telah mempunyai kadar antibodi protektif HI>1:40 pascavaksinasi. Nilai serokonversi kedua kelompok berbeda bermakna pada pra  (p=0,02) dan pascavaksinasi (p=0,02). Serokonversi  terhadap virus A/H3N2 antara remaja pertengahan dan akhir berbeda bermakna pada pravaksinasi (p=0,02). Pada pra dan pascavaksinasi  terdapat peningkatan GMT bermakna  terhadap ketiga  jenis virus  influenza  (Zw 9,73; 9,19; 9,59 dan p=0,00). Simpulan, vaksinasi influenza pada remaja menghasilkan kadar protektif. Respons imun remaja pertengahan dan akhir  tidak berbeda, namun  remaja pertengahan  tampak   lebih  responsif.Kata Kunci: Influenza,  remaja,  responsimun, vaksin

Association of stature and mental problems among adolescents in Jatinangor District, West Java

Medical Journal of Indonesia Vol 27, No 3 (2018): September
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.998 KB)

Abstract

Background: The prevalence of short stature during adolescence in Indonesia remains high. Adolescents are very concerned about their stature. Most adolescent health problems are related to psychosocial issues. The prevalence of mental disorders among adolescents in Indonesia is 6.0%, and West Java is 9.3%. The aim of this study was to analyze the association between stature and mental problems during middle adolescence.Methods: This analytical cross-sectional study was performed at three high schools in Jatinangor, West Java, Indonesia. The subjects were students, age of 16–17 years old without physical abnormalities other than short stature and weight problems. Mental problems were screened using a self-report Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ). Data were analyzed using the chi-square test with prevalence risk.Results: Of the 150 respondents, 116 subjects met the inclusion and exclusion criteria. The prevalence of short stature was 55 cases (47.4%) and more predominant in females. Among the behavioral and emotional problems assessed, the emotional symptom was associated significantly with short stature; prevalence ratio 1.87 (95% CI=1.14; 3.08). There was no significant association of short stature with other attributes such as conduct, hyperactivity, peer problems, and total difficulties (p>0.05).Conclusion: Stature in adolescence is associated with emotional problems.

Wabah Difteri di Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Indonesia

Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang.Sejak tahun 1986 tidak ditemukan lagi kasus difteri yang dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Jawa Barat. Namun, wabah difteri selalu terjadi di beberapa kabupaten di Jawa Barat seperti yang dilaporkan sejak tahun 1993 sampai tahun 2010. Kementerian Kesehatan juga melaporkan peningkatan kasus difteri di beberapa provinsi di Indonesia tahun 2010. Suatu penelitian saat wabah di Kecamatan Cikalong Wetan Kabupaten Cianjur tahun 2001 sebagai gambaran kejadian wabah di salah satu kabupaten di Jawa Barat.Tujuan. Menggambarkan kejadian wabah difteri, mengetahui tingkat kekebalan dengan mengukur kadar antibodi difteri dan untuk menemukan kemungkinan adanya kuman C. difteriaeberedar di masyarakat di daerah wabah.Metode. Data kejadian penyakit dan kematian diperoleh dari Puskesmas Cikalong Wetan RS Cianjur dan Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur. Data kadar antibodi diperoleh dengan mengukur kadar anti bodi terhadap difteri pada 698 subyek, yang dibagi menurut kelompok usia. Titer antibodi diukur dengan menggunakan teknik ELISA ganda.Hasil.Selama wabah terdapat 25 kasus yang dilaporkan dari Puskesmas Cikalong Wetan dengan angka kematian/crude fatality rate(CFR) 28%. Diduga kuat bahwa kasus pertama berasal dari kecamatan yang berdekatan dengan Kecamatan Cikalong Wetan. Beberapa bulan sebelumnya dijumpai kasus rawat inap 21 pasien, 55% di antaranya balita, dengan angka kematian 35% terutama disebabkan oleh miokarditis. Walaupun cakupan imunisasi difteri pertusis tetanus (DPT) tinggi pada anak kurang dari 1 tahun di Kecamatan Cikalong Wetan, hanya 19,3% anak usia 1 tahun memiliki tingkat kekebalan protektif yang memadai. Titer antibodi terus berkurang sesuai dengan meningkatnya usia anak, bahkan tidak ada subjek yang memiliki kadar protektif yang memadai pada kelompok usia 5 – 6 tahun. Enam dari 324 biakan apus tenggorokan pada masyarakat tumbuh strain toxigenic C. difteriae gravis.Kesimpulan.Wabah yang terjadi di Kecamatan Cikalong Wetan Kabupaten Cianjur disebabkan oleh karena rendahnya kadar antibodi terhadap toxigenic C.difteriaepada masyarakat.

Skrining Gangguan Kognitif dan Bahasa dengan MenggunakanCapute Scales (Cognitive Adaptive Test/Clinical Linguistic & Auditory Milestone Scale-Cat/Clams)

Sari Pediatri Vol 11, No 3 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan kognitif terdiri dari bahasa dan visual-motor. Bahasa merupakan salah satu indikatorperkembangan keseluruhan dari kemampuan kognitif anak. Keterlambatan perkembangan awal kemampuanbahasa dapat mempengaruhi berbagai fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Selain mempengaruhi kehidupanpersonal sosial, juga akan menimbulkan kesulitan belajar, bahkan hambatan saat terjun dalam dunia pekerjaankelak. Identifikasi dan intervensi secara dini dapat mencegah terjadinya gangguan fungsi kognitif danbahasa. Capute scales merupakan alat skrining yang dapat menilai secara akurat aspek-aspek perkembanganutama termasuk komponen bahasa dan visual-motor. Keberhasilannya dalam pengukuran secara cepat danmudah dari aspek-aspek perkembangan akan membantu menegakkan diagnosis banding dari sebagian besarkategori utama gangguan perkembangan (delayed, deviasi, dan disosiasi) pada masa bayi dan kanak-kanakdini, sehingga dapat segera dilakukan intervensi dini untuk memberikan hasil yang terbaik.

Kuesioner Praskrining Perkembangan (KPSP) Anak

Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Masalah perkembangan anak seperti gangguan berbahasa, perilaku,autisme, saat ini makin meningkat dan sebagai upaya untuk menurunkan angkakejadiannya diperlukan deteksi dini. Skrining merupakan cara deteksi dini yang efektif,namun hal ini masih jarang dilakukan oleh dokter mungkin karena keterbatasan waktudan biaya.Tujuan. Untuk mengetahui efektivitas KPSP sebagai alat praskrining perkembangananak.Metoda. Merupakan penelitian cross sectional yang dilakukan pada Desember 2003sampai Februari 2004 terhadap orang tua yang mempunyai anak umur 15-18 bulan didaerah kumuh wilayah kerja Puskesmas Padasuka, Kiaracondong dan Garuda KotaBandung. Kuesioner yang digunakan adalah KPSP dan Denver II, yang dilakukan olehtenaga terlatih.Hasil. Diantara 494 anak, diduga mengalami gangguan perkembangan 73 anak (15%)menurut KPSP dan 57 anak (12%) menurut Denver II. Sensitivitas dan spesifisitasKPSP masing-masing 60% dan 92%.Kesimpulan. Penggunaan KPSP dapat menimbulkan underdetection. Sebaiknyadilakukan revisi terhadap KPSP yang disesuaikan dengan Parent DevelopmentalQuestions (PDQ) II yang merupakan pengembangan Denver II. Penelitian sebaiknyadilakukan tidak hanya di daerah kumuh.

Imunogenitas dan Keamanan Vaksin DPT Setelah Imunisasi Dasar

Sari Pediatri Vol 4, No 3 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Imunisasi difteria, pertusis dan tetanus (DPT) telah lama masuk ke dalam programimunisasi nasional di Indonesia dan telah terbukti menurunkan angka kejadian maupunkematian yang disebabkan penyakit difteria, pertusis dan tetanus. Tujuan penelitian iniuntuk melakukan evaluasi status kekebalan dan faktor keamanan terhadap penyakitdifteria dan tetanus pada bayi yang mendapat imunisasi dasar DPT. Seratus enam puluhsubjek bayi sehat yang dipilih secara random, dilakukan imunisasi secara intramuskulardengan dosis 0,5 ml sebanyak 3 kali pada umur 2, 3 dan 4 bulan, menggunakan vaksinDPT buatan PT. Bio-Farma Bandung. Penentuan titer antibodi difteria dan tetanusdilakukan sebelum dilakukan imunisasi dan 1 bulan setelah imunisasi ke-1, 2 dan 3,menggunakan metode ELISA. Apabila hasilnya < 0,01 IU/ml disebut kelompok rentandan bila > 0,1 IU/ml disebut mempunyai kekebalan lengkap. Kejadian reaksi lokal(nyeri, kemerahan, bengkak, penebalan) dan sistemik (demam, iritabilitas) pasca imunisasidicatat dalam buku catatan harian ibu. Hasil penelitian menunjukkan sebelum dilakukanimunisasi 57% subjek sudah tidak mempunyai perlindungan terhadap difteri dan 6%sudah tidak mempunyai perlindungan terhadap tetanus. Terhadap difteria, rata-ratageometrik titer (GMT) sebelum dan setelah mendapat imunisasi ke-1, 2 dan 3,memberikan hasil berturut-turut 0,008; 0,005; 0,038; dan 0,217 IU/ml; sedang jumlahsubjek yang mempunyai titer > 0,01 IU/ml berturut-turut adalah 44, 28, 44 dan 80%.Terhadap tetanus, rata-rata geometrik titer (GMT) sebelum dan setelah mendapatimunisasi ke-1, 2 dan 3, memberikan hasil berturut-turut: 0,420; 0,273; 0,213; dan0,758 IU/ml; jumlah subjek yang mempunyai titer > 0,01 IU/ml berturtut-turut adalah94; 91; 100 dan 100%. Selama periode penelitian tidak ditemukan adanya reaksi vaksinberat. Reaksi lokal (nyeri, kemerahan, bengkak dan penebalan) dan reaksi sistemik(iritabilitas dan panas) sebagian besar dengan derajat ringan yang selanjutnya menghilangtanpa gejala sisa. Walaupun imunisasi DPT memberikan hasil kekebalan yang tinggidan aman diberikan, namun pada kelompok yang masih rentan perlu mendapat perhatian.

Deteksi Dini Pengalaman Kekerasan Pada Anak Di Tingkat Keluarga Di Kecamatan Jatinangor

Jurnal Sistem Kesehatan Vol 2, No 3 (2017): Volume 2 Nomor 3 Maret 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.064 KB)

Abstract

Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2014, menyatakan setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Kejadian  terbanyak  kekerasan  pada  anak  terjadi  di  tingkat  keluarga.  Penelitian dilakukan untuk mengetahui gambaran dan karakteristik kekerasan pada anak di tingkat keluarga di Kecamatan Jatinangor sebagai deteksi dini terhadap kekerasan. Penelitian ini dilakukan menggunakan studi desain deskriptif kuantitatif dengan rentang waktu pengambilan data September sampai November 2016 secara satu kali potong lintang pada siswa/i Sekolah Menengah Pertama (SMP) aktif berusia 13-15 tahun di Kecamatan Jatinangor, Kab. Sumedang dengan sampel valid diambil sebanyak 98 orang. Ditinjau dengan kejadian terbanyak berdasarkan pengalaman kekerasan di rumah dan lingkungan yaitu pernah melihat orang dewasa di rumah meneriaki dan berteriak yang membuat takut (37.8%), serta berdasarkan jenis pengalaman disiplin dan mendapatkan tindak kekerasan   yaitu   memberi   sesuatu   istimewa   atau   uang   (90.82%).   Berdasarkan pengalaman  pola  asuh  yaitu  terluka/jatuh  karena  tidak  ada  orang  dewasa  yang mengawasi (27.6%), berdasarkan pengalaman kejadian menakutkan yaitu seseorang masuk ke rumah untuk mencuri sesuatu (16.34%), dan berdasarkan pengalaman kekerasan  seksual  yaitu  menyuruh  melihat  organ  vital/pribadinya  atau  sebaliknya (8.2%). Sebagian besar anak pernah mengalami kekerasan di rumah dan sekitarnya.Kata Kunci: kekerasan pada anak, keluarga, pengalaman

Preterm and low birth weight as risk factors for infant delayed development

Paediatrica Indonesiana Vol 48, No 1 (2008): January 2008
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background In developed countries, birth weight of less than1,500 g contributes in infant delayed development. It might bedifferent in developing countries.Objective This study aimed to determine whether preterm infantswith birth weight of 1,500 to 2,499 g are risk factors for delayeddevelopment at 7-10 months of age.Methods We analyzed singleton infants at 7-10 months ofcorrected age, born with birth weight of 1,500 to 2,499 grams,preterm-appropriate for gestational age (or LBW group), and at7-10 months of chronological age, born with birth weight >2,500g-term-appropriate for gestational (non-LBW group) in a hospital-based retrospective cohort study. Data were taken from medicalrecords in Hasan Sadikin Hospital, Bandung, from September2003 to May 2004. We excluded infants with major congenitalanomalies, hyaline membrane disease, assisted ventilation, orexchange transfusion. Multiple regression logistic analysis wasperformed for data analysis.Results The percentage of delayed development in LBW groupwas higher than in non-LBW group (17.1% vs. 1.6%). Logisticregression analysis revealed that low birth weight was a risk factorfor delayed development (RR=5.13, 95%Cl 1.55;16.96, P=0.007).Other biological risk factors for delayed development arehyperbilirubinemia (RR=3.32, 95%Cl 1.29;8.54, P=0.013) andsepsis (RR=2.74, 95%Cl 1.15;6.52, P=0.023).Conclusions Preterm-appropriate for gestational age with birthweight of 1,500 to 2,499 g are risk factors for infant delayeddevelopment after being adjusted to other biological risk factors.

Relationship between Drugs Use and Sexual Risk Behaviors among Senior High School Students

Althea Medical Journal Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Drugs use and risky sexual behavior among teenager are some of crucial problems arising in Indonesia. Statistic showed that there is an increasing prevalence in drugs use and risky sexual behavior among teenagers. This study was conducted to analyze the relationship between drugs use and risky sexual behaviors among high school students. Methods: An analytic study involving 432 students in 5 state high schools located in Kerees region Bandung, West Java, Indonesia, was carried out in 2013. The region was chosen due the high prevalence of  substance abuse. The inclusion criteria were every high school students in the Karees region. The exclusion criteria were the students who refused to participate in the study, did not come when the sample was taken, and did not fill the questionnaire completely. The instruments used for the study were questionnaires with cross-sectional technique. Furthermore, the questionnaire used for analyzing drugs use was Addiction Severity Index-Lite Version (ASI-lite) questionnaire; with additional questionnaire to analyze risky sexual behaviors.Results: Out of 432 students, 23.8% students already engaged to one or more risky sexual behavior. Among all respondents, the prevalence of students who had already done kissing was 22.7%, necking 9.3%, petting 7.2% and sexual intercourse 1.2%. Illegal drugs had been used at least once by 21.8% students. According to Chi-square test, drugs use and risky sexual behavior were related.Conclusions:The prevalence of both drugs use and risky sexual behaviors are high and students who use drugs are more prone to do risky sexual behavior. [AMJ.2017;4(1):125–8] DOI: 10.15850/amj.v4n1.1032