Kresna Tri Dewi
Unknown Affiliation

Published : 27 Documents
Articles

Found 27 Documents
Search

ABNORMAL MICROFAUNAL SHELLS AS EARLY WARNING INDICATOR OF ENVIRONMENTAL CHANGES SURROUNDING BERAU DELTA, EAST KALIMANTAN Dewi, Kresna Tri; Priohandono, Yusuf Adam
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 26, No 1 (2011)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.917 KB) | DOI: 10.32693/bomg.26.1.2011.32

Abstract

A total of 25 sediment samples from surrounding Berau Delta, East Kalimantan have been used for microfaunal study. It is found some abnormal shells of ostracoda, foraminifera and other forms with darkish shells (black, dark green and dark brown). These forms were analyzed using SEM-Energy Dispersive X-ray spectroscopy (EDX or EDS) to know their chemical composition. The result shows that these abnormal forms composed of CaO, SiO2, C, FeO, Al2O3, K2O, and small amount of Na2O and Cl. They may derive from different sources: CaO and MgO from neutralized component during the environmental management to handle the Acid Mine Drainage (AMD). The other components may derive from coal ash during combustion process or other activities. From this result, the small amount (less than 5%) of abnormal shells may be used as early warning indicator of environmental changes in the study area. Keywords: abnormal microfaunal shells, chemical composition, Berau Delta. Sebanyak 25 sampel sedimen dari sekitar Delta Berau, Kalimantan Timur telah digunakan untuk studi mikrofauna. Ditemukan cangkang abnormal dari ostracoda, foraminifera dan spesimen bentuk lain dengan cangkang kegelapan (hitam, hijau tua dan coklat tua) Bentuk-bentuk ini kemudian dianalisa menggunakan SEM-Energy Dispersive X-ray spectroscopy (EDX or EDS) untuk mengetahui komposisi kimiawinya. Hasilnya menunjukkan bahwa cangkang-cangkang mikrofauna yang abnormal ini mengandung CaO, SiO2, C, FeO, Al2O3, K2O, dan sedikit kandungan Na2O dan Cl. Komponen ini kemungkinan mempunyai sumber yang berbeda: CaO dan MgO mungkin berasal dari bahan penetral selama pengelolaan lingkungan untuk mengatasi air asam tambang (AMD). Komponen lain berasal dari abu batubara saat proses pembakaran atau aktivitas lain. Jumlah cangkang abnormal yang sedikit (kurang dari 5%) ini kemungkinan dapat digunakan sebagai indikator peringatan dini adanya perubahan lingkungan di daerah penelitian. Kata kunci: cangkang mikrofauna abnormal, komposisi kimiawi, Delta Berau
PALEOENVIRONMENTAL RECONSTRUCTION FROM BENTHIC FORAMINIFERAL ASSEMBLAGES OF EARLY HOLOCENE, SHALLOW MARINE DEPOSITS IN GOMBONG, CENTRAL JAVA Gustiantini, Luli; Dewi, Kresna Tri; Muller, Anne; Praptisih, Praptisih
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 22, No 1 (2007)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1236.234 KB) | DOI: 10.32693/bomg.22.1.2007.2

Abstract

A 30m-long sediment core covering the Holocene period was taken from the area of Gombong in the southern part of Central Java. The sediments were deposited in a shallow marine to lagoonal environment that was confirmed by the dominance of Ammonia beccarii along the core intervals. In addition, the species Quinqueloculina poeyana, Miliolinella lakemacquariensis, and Miliolinella subrotunda were also found in the sediments that are typical of normal shallow marine conditions. The decrease and increase in the abundance of these species throughout the core is an expression of sea level change in the area, which results the environmental changes. Low sea level is expressed by the dominance of Ammonia beccarii, and the low abundances or absence of the other three species. In contrast, high sea level stands are reflected by the presence of all four species. The high sea level would imply favorable conditions for benthic foraminifera because it would result in normal shallow marine conditions in the area. Finally, from this benthic assemblages study, it can be assumed that the environmental transformation from the originally shallow marine environment into land was occurred at level 5.5m depths of the sediment core, when all benthic foraminifera were terminated, including Ammonia beccarii. These new results from the shallow marine deposits in the Gombong area are a new contribution to the understanding of paleoenvironmental change in the region, which in turn is important for understanding sea level change as well as climate change in the region. Keywords: Benthic foraminifera, Holocene, paleoenvironmental changes, sea level changes Southcoast of Central Java Sebuah percontoh sedimen bor sepanjang 30m yang berumur Holosen diambil dari daerah Gombong, bagian selatan Jawa Tengah. Percontoh sedimen diendapkan pada lingkungan laut dangkal –laguna, berdasarkan kelimpahan foraminifera bentik Ammonia beccarii di sepanjang sedimen bor. Selain itu ditemukan juga spesies-spesies Quinqueloculina poeyana, Miliolinella lakemacquariensis, dan Miliolinella subrotunda, yang merupakan penciri lingkungan laut dangkal dengan kondisi normal. Penurunan dan kenaikan dari kelimpahan masing-masing spesies foraminifera bentik di atas, dapat mencerminkan perubahan permukaan air laut daerah studi, yang menghasilkan terjadinya perubahan lingkungan. Penurunan muka air laut dapat dicirikan dengan hadirnya Ammonia beccarii yang sangat dominan, sementara spesies lainnya cenderung berkurang bahkan hampir tidak ada. Sebaliknya ketika muka air laut naik, maka keempat spesies foraminifera tersebut cenderung hadir dengan jumlah yang seimbang satu sama lainnya. Kenaikan muka air laut akan menghasilkan lingkungan laut normal yang merupakan kondisi ideal bagi foraminifera. Akhirnya, dari kajian perubahan kelimpahan foraminifera bentik ini, dapat diperkirakan bahwa pada level kedalaman bor 5,5m, terjadi perubahan lingkungan dari lingkungan laut dangkal-laguna menjadi daratan, yang ditandai dengan musnahnya semua jenis foraminifera bentik, termasuk Ammonia beccarii. HAsil kajian ini merupakan kontribusi baru untuk mempelajari perubahan lingkungan pada lokasi penelitian, terutama penting untuk lebih mengerti mengenai perubahan muka air laut dan perubahan iklim. Keywords: Benthic foraminifera, Holocene, paleoenvironmental changes, sea level changes
LAND-SEA INTERACTIONS IN COASTAL WATERS OFF NE KALIMANTAN: EVIDENCE FROM MICROFAUNAL COMMUNITIES Dewi, Kresna Tri; Aryanto, Noor C.D.; Noviadi, Yogi
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 22, No 1 (2007)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2687.123 KB) | DOI: 10.32693/bomg.22.1.2007.1

Abstract

Microfauna (ostracoda and foraminifera) as component of sediments has been used to detect the dynamics of sea floor condition in NE Kalimantan, particularly off Nunukan and Sebatik Islands. In general, the microfaunal components tend to increase (both number of species and specimens) from near shore to the open sea. The microfauna occur rarely at locations surrounding the islands due to high content of plant remains from the land. The marine origin of microfaunas occurs very abundantly in the inner part of the study area between Tinabasan and Nunukan Islands. This finding is interested due to their occurrence as unusual forms: brownish shells, broken and articulated ostracod carapaces. Additional interested findings are: the incidence of abraded test of Elphidium, the occurrence of dominant species of both ostracoda and foraminifera at some stations; various morphological forms of foraminiferal genus, Asterorotalia that reaches about 1% and distributed in the open sea. The various unusual forms may relate to the dynamics of local environmental changes such as postdepositional accumulation in the sediment, biological activities, and drift currents from open sea to landward. Keywords: Ostracoda, Foraminifera, North East Kalimantan, land-sea interaction Mikrofauna (ostracoda dan foraminifera), sebagai komponen sedimen dapat digunakan untuk mendeteksi dinamika kondisi dasar laut di Kalimantan Timur, tepatnya di sekitar Pulau Nunukan dan Sebatik. Secara umum, komponen mikrofauna cenderung bertambah (baik dalam jumlah spesies maupun spesimen) dari perairan sekitar pantai ke arah laut lepas. Mikrofauna yang ditemukan sangat jarang di lokasi sekitar pulau-pulau disebabkan oleh keterdapatan sisa-sisa tanaman dari daratan. Mikrofauna asal lautan ditemukan sangat melimpah di bagian dalam daerah penelitian antara Pulau Tinabasan dan Nunukan. Temuan ini sangat menarik karena adanya bentukan abnormal: cangkang berwarna kecoklatan, rusak dan cangkang ostracoda berbentuk tangkupan. Temuan tambahan yang juga menarik adalah: keterdapatan cangkang Elphidum yang rusak, keterdapatan beberapa spesies ostracoda dan foraminifera secara dominan di titik lokasi tertentu, dan kenampakan morfologi yang bervariasi dari genus foraminifera, Asterorotalia, yang mencapai 1% dan tersebar di laut lepas. Berbagai bentukan abnormal tersebut kemungkinan berkaitan dengan dinamika kondisi lingkungan setempat seperti akumulasi setelah pengendapan dalam sedimen, aktivitas biologis dan alur arus dari laut terbuka kearah daratan. Kata kunci: ostracoda, foraminifera, Kalimantan Timur, interaksi daratan-lautan
ANALISIS PENTARIKHAN RADIOKARBON UNTUK PENENTUAN FLUKTUASI MUKA LAUT DI SEBELAH UTARA PULAU BANGKA Siregar, Darwin; Dewi, Kresna Tri
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.283 KB)

Abstract

Salah satu metode penentuan umur absolut batuan, fosil, sedimen atau artefak adalah menggunakan pentarikhan radiokarbon (C14) dari material organik. Data umur tersebut dapat berguna untuk menunjang berbagai penelitian terkait dengan sejarah bumi dan kehidupan manusia. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk melacak fluktuasi muka laut berdasarkan data umur sedimen bawah dasar laut di sebelah utara Pulau Bangka. Hasil analisis pentarikhan radiokarbon terhadap tiga sampel sedimen menunjukkan dua umur yang berbeda. Sedimen dari bagian bawah (70-80 cm) dibawah dasar laut telah diperoleh umur 15.050± 60 SM dan 15.250 ±850 SM. Rentang waktu ini termasuk dalam segmen 2 pada saat laut naik sedang dari kedalaman -114 ke -96 m dari muka laut saat ini. Sedimen dari bagian atas (30 cm) telah diperoleh umur 6.500 ± 360 SM pada saat muka laut mendekati posisi sekarang. Studi ini memperlihatkan fluktuasi muka laut di wilayah lokal di sekitar Pulau Bangka. Katakunci: pentarikhan karbon, muka laut, Pulau Bangka One method for absolute dating of rocks, fossils, sediments or artefacts is by using radiocarbon dating (14C dating) of organic materials. This age data can be useful for supporting various researches related to the history of earth and human being. The purpose of this paper is to trace the sea level fluctuation based on subsurface sediments from northern part of Bangka Island. The radiocarbon dating from three sediment samples has resulted two different age. Sediments at the bottom part of the core (70-80 cm) below seafloor have been dated at 15.050 ± 60 BP and 15.250± 850 BP. It belongs to segment 2 when sea rose moderately from -114 to-96 m of the present-day sea level. The sediment at the upper part (30 cm) has been dated at 6.500 ± 360 BP when sea level as close as present-day position. This study shows sea level fluctuation in the local area off Bangka Island. Keywords: radiocarbon dating, sea level, Bangka Island
SEBARAN SPASIAL FORAMINIFERA DALAM KAITANNYA DENGAN KEDALAMAN LAUT DAN JENIS SEDIMEN DI TELUK BONE, SULAWESI SELATAN Dewi, Kresna Tri; Saputro, Eko
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 3 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1994.44 KB)

Abstract

Sebanyak 25 sampel sedimen dasar laut dari Teluk Bone bagian utara, Sulawesi Selatan telah digunakan untuk analisis foraminifera dalam kaitannya dengan jenis sedimen dan kedalaman. Hasil analisis diperoleh 97 spesies foraminifera bentik dan beberapa genera diantaranya mendominasi titik lokasi tertentu, seperti Amphistegina, Operculina, Heterolepa, Brizalina, Elphidium dan Quinqueloculina.Setiap genus mempunyai distribusi spasial tertentu sesuai habitatnya dengan beberapa anomali. Kisaran kedalaman daerah penelitian antara 23 dan 85 m dicirikan oleh kehadiran Amphistegina, Cibicides, Rotalia, Cavarotalia. Dalam kaitannya dengan kedalaman, sebaran foraminifera cenderung terakumulasi di sebelah timur daerah penelitian. Setiap satuan sedimen dicirikan oleh genus foraminifera tertentu. Kata kunci: foraminifera, distribusi spasial, kedalaman laut, jenis sedimen, Teluk Bone, Sulawesi Selatan A total of twenty five surface sediment samples from the northern part of Bone Bay, South Sulawesi were selected for foraminiferal study. The purpose of this study is to recognize spatial distribution foraminifera in relation with water depth and sediment types. There are 97 identified species, some ot them are dominant at certain sites, such as Amphistegina, Operculina, Heterolepa, Brizalina, Elphidium and Quinqueloculina. Each genus has certain spatial distribution as its habitat with some anomalies. The range of water depth is between 23 and 85 m that characterized by Amphistegina, Cibicides, Rotalia, Cavarotalia. In relation to water depth, the distribution of foraminifera tends to accumulate in the eastern part of the study area. Sediment unit is characterized by certain foraminifera genus. Keywords : Foraminifera, spatial distribution, water depth, sediment type, Bone Bay, South Sulawesi.
OSTRACODA SEBAGAI INDIKATOR PERUBAHAN LINGKUNGAN PERAIRAN SEKITAR PLTU TARAHAN, TELUK LAMPUNG, SUMATERA Dewi, Kresna Tri; Adhirana, Indra; Priohandono, Yusuf Adam; Gustiantini, Luli
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 14, No 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.054 KB)

Abstract

Teluk Lampung terletak di bagian selatan Pulau Sumatera yang berhadapan dengan Selat Sunda.  Kualitas ingkungan perairan ini secara perlahan menurun sebagai akibat pertumbuhan berbagai aktifitas manusia di kawasan pesisir.  Tujuan dari studi ini adalah untuk memahami  struktur komunitas ostracoda sebagai komponen sedimen laut terkait dengan perubahan lingkungan perairan ini. Studi ini menggunakan  22 sub-sampel sedimen dari 4 titik lokasi di lepas pantai sekitar PLTU Tarahan dan beberapa sampel sedimen permukaan yang mewakili kondisi lingkungan saat ini. Kemudian sampel sedimen ini dicuci dalam ayakan berbukaan 0.063 mm, dikeringkan dan digunakan untuk studi ostracoda dengan bantuan mikroskop binokuler. Hasilnya menunjukkan bahwa secara vertikal kelimpahan ostracoda menurun atau tidak hadir di beberapa lapisan bawah dasar laut. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan erupsi Gunung Krakatau tahun 1883 yang ditunjang oleh keterdapatan material batu apung di lapisan-lapisan sedimen ini. Secara horizontal, ostracoda dari sampel permukaan atau dasar laut cukup bervariasi dan melimpah namun juga menemukan spesimen abnormal seperti rusak dan terisi atau tertutup oleh material berwarna gelap yang mengandung Al2O3 (17,54%) and SiO2 (37,52%). Hal ini kemungkinan berkaitan dengan menurunnya kondisi lingkungan daerah penelitian yang berpengaruh pada habitat ostracoda.Katakunci: ostracoda, spesimen abnormal, perubahan lingkungan, Teluk Lampung Lampung Bay is located in the southern part of Sumatera island that facing to the Sunda Strait. This bay is gradually degradation environment as a result of growing various human activities in the coastal area.  The purpose of this study is to understand the community structure of ostracoda as component of marine sediments related to environmental changes of this area.  This study used 22 sediment sub-samples from four sites in the offshore area of Tarahan power plant and several surface sediment samples represented the present environmental condition. These samples were then washed through 0.063 mm sieve, dried and used for  ostracod study under a binocular microscope. The result shows that,  the ostracoda assemblages, vertically, are decrease or disappear at certain layers below seafloor. It may related to the eruption of Krakatau Volcano in 1883 that was supported by finding of pumice materials in these layers. Horizontally,  ostracod from surface sediments is quite diverse and abundant but we also found abnormal specimens such as abraded and filled or covered by Al2O3 (17,54%) and SiO2 (37,52%).  It may related to decline environment in the study area that likely affect the habitat of ostracoda. Keywords: ostracoda, abnormal specimens, Tarahan power plant.
FORAMINIFERA BENTONIK KAITANNYA DENGAN KUALITAS PERAIRAN DI WILAYAH BARAT DAYA PULAU MOROTAI, MALUKU UTARA Sidiq, Amir; Hadisusanto, Suwarno; Dewi, Kresna Tri
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 14, No 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1119.179 KB)

Abstract

Pulau Morotai, Maluku Utara merupakan salah satu pulau yang terletak di kawasan segitiga terumbu karang  sebagai pusat kenakeragaman biota laut global. Kesehatan ekosistem terumbu karang dapat dipantau dengan menggunakan komposisi foraminifera bentonik. Maksud dan tujuan studi ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas foraminifera bentoni terkait dengan kualitas perairan sebelah barat daya Pulau Morotai. Studi ini menggunakan enam sampel sedimen dasar laut dengan tiga kali perulangan yang diambil pada  kedalaman antara 16 dan 36 m. Hasilnya menunjukkan ada 28 spesies foraminifera bentonik, dicirikan oleh kehadiran Amphistegina dan Operculina dalam jumlah sangat melimpah. Amphistegina radiata merupakan spesies dengan densitas tertinggi di stasiun dekat pantai. Nilai indeks keanekaragaman foraminifera antara 1,49 dan 2,31 yang tergolong dalam kondisidengan tingkat keanekaragaman sedang. Indeks keseragaman umumnya lebih besar dari 0,6 yang menunjukkan lingkungan stabil. Nilai indeks FORAM (FI) berkisar dari 6,32 hingga 9,16 yang memperlihatkan  kondisi lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan terumbu karang. Kata kunci: struktur komunitas, foraminifera bentonik, terumbu karang, MorotaiMorotai Island, North Molucca is one of islands that is located in the Coral triangle region as the global centre of marine biodiversity.  The health of this coral ecosystem could be monitored by using benthonic foraminferal composition. The purpose of this study are re recognized community structure of benthic foraminifera related to water quality off southwest Morotai, Island. This study used six marine sediments samples with three times of replication that collected from 16 -36 m water depth. The result shows that there are 28 spesies of benthonic foraminifera characterized by occurences of Amphistegina and Operculina abundantly. Amphistegina radiata is a highest density species that is found in the near shore station. The diversity index is between 1,49 and 2,31 as moderate diversity;  evenness index generally is more than 0,6 that indicates stable environment. FORAM index (FI) is more than 4 (6,32 to 9,16) that shows of  condusif environmental condition for reef growth.Keywords: community structure, benthonic foraminifera, coral reef, Morotai
RESPON MIKROFAUNA (OSTRACODA) TERHADAP KONDISI LINGKUNGAN SEKITAR PULAU BANGKA, SULAWESI UTARA Dewi, Kresna Tri; Latuputty, Godwin; Priohandono, Yusuf Adam; Purwanto, Catur
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1471.564 KB)

Abstract

Ostracoda merupakan kelompok mikro-organisme yang dapat terawetkan dalam sedimen dasar laut, termasuk dasar perairan sekitar Pulau Bangka, Sulawesi Utara. Pulau ini terkenal akan keindahan alam bawah laut dan penambangan bijih besi di kawasan pesisir. Perubahan lingkungan di pesisir tersebut secara tidak langsung berpengaruh terhadap kondisi dasar perairan laut sebagai habitat biota. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui respon ostracoda terhadap perubahan lingkungan perairan tersebut. Studi ini menggunakan 10 sampel sedimen dasar laut hasil cucian dilanjutkan dengan analisa mikropaleontologi (tahap penjentikan, identifikasi spesies, penghitungan spesimen dari setiap spesies, pengolahan data, dokumentasi spesimen) dan analisa sedimentologi (SEM-EDX). Keterdapatan Bairdopillata, Neonesidea, Paranesidea dan Quadracythere (BL16-010) yang hidup berasosiasi dengan kondisi terumbu karang mencerminkan suatu perairan dalam kondisi cukup bagus. Di titik lokasi lain (BL16-015 dan BL16-030) ditemukan mikrofauna dengan cangkang abnormal (rusak, kehitaman) yang mengandung C (59-86%), Al2O3(2%), SiO2 (1-7%), dan MnO (2%). Dijumpainya cangkang abnormal merupakan salah satu respon mikrofauna terhadap perubahan lingkungan di daerah penelitian.Kata Kunci: ostracoda, cangkang abnormal, SEM-EDX, Pulau Bangka, Sulawesi Utara Ostracoda is a group of micro-organism that could be preserved in marine sediments, including on the seafloor of Bangka Island, North Sulawesi. This island is famous as beautiful underwater place and iron mining in the coastal area. The environmental changes in the coastal area indirectly influence the seafloor condition as biotic habitats. The purpose of this study is to know the response of ostracoda to this coastal environmental change. This study used ten washed residue of surface sediment samples followed by micropaleontological analysis (picking, identification of species, specimen calculation every species, data processing, specimen documentation), and sedimentological analysis (SEM-EDX). The occurrences of Bairdopillata, Neonesidea, Paranesidea dan Quadracythere (BL16-010) that associated with coral reef communities reflect a good marine condition. In another sampling location (BL16-015 and BL16-030), it is found abnormal microfaunas (broken, blackish) that composed of C (59-86%), Al2O3 (2%), SiO2 (1-7%), and MnO (2%). The finding of these abnormal shells is one of the microfaunal response to environmental changes in the study area. Keywords : ostracoda, abnormal shell, SEM-EDX,Bangka Island, North Sulawesi
FORAMINIFERA DI TELUK SEPI - BLONGAS, LOMBOK SELATAN, NUSA TENGGARA BARAT DAN KAITANNYA DENGAN FAKTOR LINGKUNGAN Auliaherliaty, Auliaherliaty; Dewi, Kresna Tri; Priohandono, Yusuf Adam
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 3 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.091 KB)

Abstract

Dua puluh satu contoh sedimen dasar perairan Teluk Sepi - Blongas, Lombok Selatan, Propinsi Nusa Tenggara Barat telah digunakan untuk studi foraminifera bentik dalam kaitannya dengan faktor lingkungan. Foraminifera bentik yang ditemukan di daerah penelitian sebanyak 133 spesies yang termasuk dalam 60 genera. Spesies yang mempunyai persentase tertinggi adalah Ammonia beccarii, kemudian diikuti oleh Ammonia sp., Elphidium crispum, Pattelina corrugata, Amphistegina lessonii, Amphistegina sp.1, Calcarina sp.1, Pyrgo lucernula dan Quinqueloculina seminulum. Calcarina dengan pengawetan cangkang yang baik merupakan genus penciri utama daerah penelitian. Genus ini terdiri dari 15 species dengan perkiraan 11 spesies diantaranya merupakan spesies baru dan diperlukan penelitian khusus di masa yang akan datang. Foraminifera bentik tidak terdistribusikan secara merata di setiap lokasi pengambilan percontoh. Hal ini berkaitan dengan faktor lingkungan seperti jenis sedimen, pola arus, nutrisi dan kondisi lingkungan setempat seperti wilayah bakau dan budidaya mutiara. Twenty-one seafloor sediment samples of the Sepi-Blongas Bay, South Lombok Island, West Nusa Tenggara Province, have been used for foraminiferal study in relation to environmental factors. A total of 133 foraminiferal species belongs to 60 genera have been found in the study area. The largest percentage species is Ammonia beccarii, followed by Ammonia sp., Elphidium crispum, Pattelina corrugata, Amphistegina lessonii, Amphistegina sp.1, Calcarina sp.1, Pyrgo lucernula and Quinqueloculina seminulum. Calcarina, which is preserved in good condition, is a main genus dominated the study area. This genus comprises 15 species, in which 11 among them, are probably new and it needs particular research in the future. The benthic foraminifera in this study area are not distributed widely at every sample location. This depends on the ecological factors: sediment types, current pattern, nutrients and local environmental conditions such as mangrove area and pearl cultivation area.
FORAMINIFERA DI PERAIRAN SEKITAR BAKAUHENI, LAMPUNG (SELAT SUNDA BAGIAN UTARA) Gustiantini, Luli; Dewi, Kresna Tri; Usman, Ediar
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 3, No 1 (2005)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.032 KB)

Abstract

Penelitian foraminifera bentik dari 15 percontoh sedimen dasar laut di bagian utara Selat Sunda, Perairan Bakauheni, Lampung telah dilakukan secara kuantitatif. Keterdapatan foraminifera bentik di daerah penelitian sangat melimpah dan bervariasi yaitu terdiri dari 142 spesies (65 genera) yang diidentifikasi dari 7.799 spesimen. Berdasarkan penelitian ini diperoleh bahwa kelimpahan dan komposisi spesies foraminifera di bagian timur (sekitar Bakauheni) cenderung lebih tinggi (rata-rata 6,24%) dibandingkan dengan bagian barat (rata-rata 4,7%) daerah penelitian. Hal ini kemungkinan dapat dikaitkan dengan arah pergerakan arus dasar laut yang bekerja di daerah penelitian. Keanekaragaman foraminifera bentik tertinggi terdapat pada titik lokasi BHL-36 yang terletak di bagian barat daerah penelitian dan terdiri dari 104 spesies. Kelimpahan tertinggi (10,07%) terdapat pada titik lokasi BHL-25 yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Bakauheni dan didominasi oleh spesies tertentu yang dapat bertahan hidup. Subordo Rotaliina merupakan kelompok utama di daerah penelitian yang dicirikan oleh genera Asterorotalia, Operculina, dan Elphidium. Benthic foraminifera from fifteen surface sediment samples in the northern part of Sunda Strait, Bakauheni Waters, Lampung have been analysed quantitatively. The occurrences of benthic foraminifera in the study area are very abundance and varied, it comprises of 142 species (65 genera), which is identified from 7,799 specimens. Based on this research, it is resulted that the abundance and diversity of foraminifera in the east (around Bakauheni) are higher (average of 6.24%) than in the west (average of 4,7%) of the study area. It may relate to bottom current pattern that work in the study area. The highest diversity of benthic foraminifera occurs at site BHL-36, which lies in west part of the study area and it comprises of 104 species. The highest number of individu (10.07%) occurs at the site of BHL-25, which is close to Bakauheni Harbour and it is dominated by certain survived species. Subordo Rotaliina is the main group found in the study area that is characterized by genera of Asterorotalia, Operculina, and Elphidium.