Articles

Found 4 Documents
Search

THE BAFFLE V AND ERECT INFLUENCE ON THE DISTILATION SIEVE PLATE TOWARD MIXING SYSTEM AIR-WATER dewati, Retno
Teknik Kimia Vol 5, No 1 (2010): JURNAL TEKNIK KIMIA
Publisher : jurusan teknik kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1949.054 KB)

Abstract

The baffle influence to the degree of liquid mixing in the plate and the pressure drop on the plate has beenstudied in this research. The operational pressure in this research is limited in the atmospheric pressure .Thedistillation column that used in the research has 0.2m diameter and 1.4 m height with the distance betweentrays is 0.4 m. The research was carried out by to flows water into the column with the flow rate of water are105 l/h, 149 l/h, 189 l/h and to flows air into the lower of the column with superficial speed from 0 to 0.3 m/s.After steady state is required the dry plate pressure and the pressure drop because the difference between theheight of clear liquid and the height of foam is measured. The mixing degree is determined by stimulusresponse method, i.e flows air into the system, then give a tracer (i.e. NaCl saturated 20 CC) as a stimulatorthat injected into the fuild to the basin. This experiment will give the data off the concentrations and the time.The conclusion of this research is the pressure drop by dry plate can provide the correlation hD = 8.34926( )( ) Lh GgUρρ22. The value of residual pressure drop at the column of sieve plate without baffle and with use abaffle in this study almost constant, i.e. 1-2 mm H2O. The relation among the Peclet number, the F factor andthe flow rate of water can expresse in empirical equation are : for without baffle Pe = 0.3837 F0.9254 Q-0.05229;Baffle V, Pe = 0.00005306 F-2.341 Q-1.005; vertical Baffle Pe = 0.004989 F-1.775 Q-0.4848. The presentation of thedifference of the clear liquid’s height in the condition without use a baffle are 86,88% for the V baffle,53,55% for the vertical baffle (105 l/h); 73,5% for V baffle, 50,64% for the vertical baffle (149 l/h); 84,34 forV baffle, 65,58% for vertical baffle (189 l/h). The value of EMV / EOG for the experiment without use a baffle isgreater than the value of EMV / EOG fot the experiment use a baffle.
Koreksi gigitan terbalik posterior dan anterior dengan alat cekat rapid maxillary expansion dan elastik intermaksila Dewati, Retno; Wibowo, Teguh Budi; Masyithah, Masyithah
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 47, No 2 (2014): (June 2014)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v47.i2.p98-102

Abstract

Background: Children with anterior and posterior crossbite usually have a complaint in aesthetic and masticatory function. It could caused by bad habits and hereditary factors which made worse condition. Purpose: The purpose of this case report was to report the use of orthodontic appliance rapid maxillary expansion (RPE) and intermaxillary elastic to correct posterior and anterior crossbite in teenage patient. Case: A fourteen years-old teenage female patient came to Dental Hospital Dentistry Universitas Airlangga with case of anterior posterior cross bite and unerupted permanent teeth. Case management: The case was treated using orthodontic fixed appliance rapid maxillary expansion (RPE) and followed by intermaxillary elastics. The posterior cross bite treatment took 4 weeks used of orthodontic fixed appliance RPE, while, treatment of anterior cross bite which used intermaxillary elactic was done within three month to achieved normal occlusion. Conclusion: This case report showed that the orthodontic appliance rapid maxillary expansion (RPE) and intermaxillary elastic could be used to correct posterior and anterior crossbite.Latar belakang: Anak dengan gigitan terbalik anterior dan posterior pada umumnya mempunyai keluhan dalam hal estetik dan fungsi pengunyahan. Kondisi gigitan terbalik biasanya disebabkan oleh adanya kebiasaan buruk dan faktor keturunan yang semakin memperparah keadaan tersebut. Tujuan: Laporan kasus ini melaporkan pemakaian alat cekat rapid maxillary expansion (RPE) dan elastik intermaksila untuk mengkoreksi gigitan terbalik posterior dan anterior pada anak remaja. Kasus: Pasien remaja perempuan berusia 14 tahun datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga Surabaya dengan kasus gigitan terbalik anterior posterior dan terdapat gigi permanen yang tidak tumbuh. Tatalaksana kasus: Perawatan yang dilakukan adalah koreksi gigitan terbalik dengan menggunakan alat ortodonsia cekat rapid maxillary expansion (RPE) dan dilanjutkan dengan pemasangan elastik intermaksila. Perawatan koreksi gigitan terbalik posterior memerlukan waktu 4 minggu menggunakan alat ortodonti cekat RPE, sedangkan koreksi gigitan terbalik anterior dilakukan dalam 3 bulan untuk mencapai oklusi normal. Simpulan: Laporan kasus ini menunjukkan bahwa pemakaian alat cekat rapid maxillary expansion (RPE) dan elastik intermaksila dapat mengkoreksi gigitan terbalik posterior dan anterior.
GARAM INDUSTRI BERBAHAN BAKU GARAM KROSOK DENGAN METODE PENCUCIAN DAN EVAPORASI Sumada, Ketut; Dewati, Retno; Suprihatin, Suprihatin
Teknik Kimia Vol 11, No 1 (2016): JURNAL TEKNIK KIMIA
Publisher : jurusan teknik kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.856 KB)

Abstract

Garam krosok atau disebut “Crude Solar Salt” merupakan garam yang dihasilkan melalui proses evaporasi dan kristalisasi air laut. Beberapa garam krosok yang dihasilkan khususnya di Jawa Timur mempunyai kualitas yang berbeda-beda hal ini dipengaruhi oleh kualitas air laut sebagai bahan baku, fasilitas produksi yang tersedia dan penanganan pasca panen. Empat contoh garam krosok yang diperoleh dari berbagai sentra garam di Jawa Timur mempunyai kadar natrium klorida yang berbeda-beda yaitu : 89.25% ; 82.32% ; 83.65% dan 88,34 % (dry base), sisanya adalah bahan pengotor seperti ion magnesium (Mg), kalsium (Ca), sulfat (SO4) dan lainnya. Garam krosok yang dihasilkan memiliki kualitas rendah karena kandungan natrium klorida (NaCl) hanya berkisar antara 80-90 %, kualitas ini masih berada dibawah dari standar nasional Indonesia (SNI) yaitu kadar NaCl minimal 94,7 % untuk garam konsumsi dan diatas 98 % untuk garam industri. Dalam rangka memenuhi standar nasional Indonesia (SNI) untuk garam konsumsi maupun garam industry, perlu dilakukan pengolahan terhadap garam krosok yang tersedia, proses yang dilakukan meliputi proses PENCUCIAN dengan larutan garam mendekati jenuh (300 gram/liter air) yang bertujuan untuk menghilangkan kandungan bahan pengotor “tidak terlarut” seperti tanah, debu dan pasir, serta bahan pengotor “terlarut” seperti ion magnesium (Mg), kalsium (Ca), sulfat (SO4) dan kalium (K). Proses EVAPORASI sering disebut rekristalisasi dilakukan setelah proses pencucian, meliputi proses pelarutan garam dan evaporasi, evaporasi dilakukan secara bertahap dan evaporasi total dan partial.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas garam krosok yang dihasilkan setiap daerah berbeda-beda dengan kisaran kandungan NaCl : 82.32% - 89.25%, proses pencucian dengan larutan garam mendekati jenuh menghasilkan garam dengan kadar NaCl: 94,85 % - 98,14 %, proses evaporasi tahap pertama menghasilkan garam dengan kadar NaCl : 97,75 % - 99,21 %, proses evaporasi tahap kedua dengan evaporasi total menghasilkan garam dengan kadar NaCl : 98,67 % - 99,43 % dan dengan evaporasi partial menghasilkan garam dengan kadar NaCl : 99,34 % - 99,73 %. Proses pencucian dapat menghasilkan garam yang memenuhi standar garam konsumsi, dan proses evaporasi tahap kedua secara total maupun partial dapat menghasilkan garam yang memenuhi standar garam industri.
Peningkatan Motivasi dan Prestasi Belajar IPS dengan Model Pembelajaran Tipe Think Pair Share pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Takeran Magetan Dewati, Retno
Gulawentah:Jurnal Studi Sosial Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.372 KB) | DOI: 10.25273/gulawentah.v3i1.2225

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar IPS dengan menggunakan model picture and picture berbantuan metode menyanyi. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Saradan. Teknik pengumpulan data penelitian ini adlah observasi, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model picture and picture berbantuan metode menyanyi dalam pembelajaran IPS dalam materi kondisi geografis dan penduduk dapat meningkatkan prestasi belajar Siswa kelas VII A di SMP Negeri 2 Saradan Madiun.Hal ini ditunjukkan pada siklus I sebanyak 46% tinggi, 36% sedang dan 18% rendah pada siklus II meningkat menjadi 22,72% sangat tinggi, 72,78% tinggi dan 4,5% sedang. Peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari siklus I 77,95% menjadi 82,05% pada siklus ke II. Pada aspek afektif pada siklus I sebanyak 78,75% menjadi 83,12% pada siklus II.