Articles

Found 28 Documents
Search

ANALISIS PENDAPATAN USAHA PETERNAKAN AYAM BURAS (Studi Kasus di Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan) Dewanti, Ratih; Sihombing, Ginda
Buletin Peternakan Vol 36, No 1 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (1) Februari 2012
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.527 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui besarnya pendapatan yang diperoleh peternak ayam buras dan pengaruh faktor-faktor produksi terhadap pendapatan usaha peternakan ayam buras di Kecamatan Tegalombo Kabupaten Pacitan. Penelitian dilaksanakan di Desa Kemuning, Desa Tegalombo dan Desa Tahunan mulai tanggal 3 Januari sampai 4 Februari 2011. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survei dengan wawancara langsung kepada 30 peternak dan pengambilan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive sampling). Data yang dikumpulkan ditabulasi kemudian dianalisis untuk mengetahui pendapatan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan fungsi keuntungan dengan teknik Unit Output Price Cobb-Douglas Profit Function (OUP-CDPF) melalui analisis regresi berganda (alat bantu software Econometric Views/Eviews) dan dilanjutkan dengan uji F dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan bersih dari penjualan ayam buras 89 ekor, feses dan telur yaitu Rp. 1.383.358,10 per tahun/peternak. Berdasarkan analisis regresi linear berganda diperoleh persamaan Ŷ = 20,947+0,620X1+0,003X2-0,996X3-0,869X4-0,015X5+0,845X6. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,646 berarti pendapatan ayam buras mampu dijelaskan oleh biaya pembelian ayam, jagung, dedak, obat/vitamin, tenaga kerja, listrik sebesar 64,6% sedangkan sisanya sebesar 35,4% dipengaruhi oleh variabel-variabel di luar yang diteliti. Pada uji F, variabel independen (biaya pembelian ayam,  jagung, dedak, obat/vitamin, tenaga kerja, dan listrik) berpengaruh secara bersama terhadap variabel dependen dengan tingkat signifikan 0,05, berdasarkan uji t faktor biaya pendapatan dipengaruhi oleh pembelian ayam dan biaya listrik sedangkan biaya lainnya (biaya jagung, obat/vitamin, dan tenaga kerja) tidak berpengaruh terhadap pendapatan usaha peternakan ayam buras di Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan. (Kata kunci: Analisis pendapatan, Ayam buras, Regresi berganda)
Pengaruh Pejantan dan Pakan terhadap Pertumbuhan Itik Turi sampai Umur delapan Minggu (The Effect of Sires and Diets on the Growth of Turi Duck Until the Age of 8 Weeks) Dewanti, Ratih; Sidadolog, Jafendi Hasoloan Purba; (Zuprizal), Zuprizal
Buletin Peternakan Vol 33, No 2 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (2) Juni 2009
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.586 KB)

Abstract

The experiment was carried out to observe the effect of sires and diets on the growth traits of Turi duck up to the age of eight weeks. There were five sires and 25 dams which produced 151 offspring used in the experiment. Three diets with equal nutrient balance but different concentration P1: {CP:EM= 1:145,EM 2482 kcal/kg:protein 17%}; P2 {CP:EM= 1:146 EM 2628 kcal/kg:protein 18%}; dan P3 {CP:EM= 1:144 (EM 2774 kcal/kg: protein 19%} were then applied. Phenotypic datasets on body weight, body weight gain, feed consumption and feed conversion parameters were collected. The result showed that sire had no effect on body weight, body weight gain and feed conversions of the offspring. Different diets, on the other hand affected feed consumption (lowest P3:822.37 g/head/weeks). Interactions between sires x age were then found to be significantly affected feed consumption.(Key words: Sires, Diets, Growth, and Turi duck)
PENGARUH PENGGUNAAN ENCENG GONDOK (Eichornia crassipes) TERFERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP PERSENTASE KARKAS, NON-KARKAS, DAN LEMAK ABDOMINAL ITIK LOKAL JANTAN UMUR DELAPAN MINGGU Dewanti, Ratih; Irham, Muhammad; (Sudiyono), Sudiyono
Buletin Peternakan Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.59 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan enceng gondok terfermentasi terhadap bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, non-karkas, dan lemak abdominal. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah. Perlakuan meliputi: P0 (ransum basal); P1 (ransum basal + 2,5% enceng gondok terfermentasi); P2 (ransum basal + 5% enceng gondok terfermentasi); P3 (ransum basal + 7,5% enceng gondok terfermentasi); dan P4 (ransum basal + 10% enceng gondok terfermentasi). Hasil penelitian dari kelima perlakuan diperoleh nilai rerata bobot potong 1261,97 g; persentase karkas 53,22%; persentase sayap 16,03%; paha 28,68%; dada 20,58%, dan punggung 24,71%. Rerata persentase non-karkas berturut – turut adalah kepala 15,22%; kaki 2,68%; hati 2,21%; jantung 0,72%; empedal 4,74%; dan lemak abdominal 0,63%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enceng gondok terfermentasi dalam ransum sampai tingkat 10% tidak berpengaruh terhadap bobot potong, persentase karkas, non-karkas, dan lemak abdominal itik lokal jantan umur delapan minggu.(Kata kunci: Itik lokal jantan, Enceng gondok terfermentasi, Karkas, Non-karkas, Lemak abdominal)
INVESTIGASI INDEKS KERUSAKAN PADA STRUKTUR BAJA 4 TINGKAT DENGAN MENGGUNAKAN ANALISA RIWAYAT WAKTU Dewanti, Ratih
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 2, No 2 (2013): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 2 NO 2 TAHUN 2013
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.691 KB)

Abstract

ABSTRAK Drift maupun drift antar lantai telah banyak digunakan sebagai kriteria untuk evaluasi kinerja struktur dibawah pengaruh gempa. Namun, beberapa peneliti percaya bahwa komulatif siklik deformasi plastis lebih berpengaruh daripada drift yang digunakan untuk mendapatkan tingkat kerusakan struktur. Pada penulisan ini, pengukuran kinerja seismik struktur berdasarkan konsep energi dan indeks kerusakan disajikan. Indeks kerusakan Park- Ang digunakan untuk mengukur kinerja seismik struktur. Nilai Dpa sama dengan nol berarti tidak terjadi kerusakan, Dpa≥1 menandakan keruntuhan total atau kerusakan total, dan 0<Dpa<1 menunjukkan tingkat kerusakan. Metode analisis dilakukan pada empat lantai, tiga bentang pada bangunan rangka baja. Analisa riwayat waktu non-linier dinamis dilakukan pada 4 rekaman percepatan tanah, yang disesuaikan dengan desain respon spektrum gempa Padang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apa yang akan dilakukan selanjutnya pada bangunan sehingga dapat diperbaiki atau diruntuhkan. Hasilnya, kinerja seismik bangunan dari indeks kerusakan akan disajikan dalam tabel dan grafik. Kata kunci :, deformasi plastis, respon spektrum, indeks kerusakan Park-Ang
PENGARUH BOBOT DAN FREKUENSI PEMUTARAN TELUR TERHADAP FERTILITAS, DAYA TETAS, DAN BOBOT TETAS ITIK LOKAL Dewanti, Ratih; (Yuhan), Yuhan; (Sudiyono), Sudiyono
Buletin Peternakan Vol 38, No 1 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (1) FEBRUARI 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.66 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bobot dan frekuensi pemutaran telur terhadap fertilitas, daya tetas, dan bobot day old ducks (DOD) itik lokal. Penelitian ini menggunakan 351 butir telur itik lokal dengan rasio induk jantan dan betina 1:10. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 3x3. Perlakuan terdiri dari 3 kelompok dengan 3 ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 13 butir telur. Bobot telur adalah 53-60 g (B1), 61-68 g (B2) dan 69-76 g (B3) dan pemutaran telur 4 kali, 6 kali, dan 8 kali dalam sehari. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan tidak mempengaruhi fertilitas dan daya tetas, tetapi berpengaruh terhadap bobot DOD. Bobot tetas tertinggi terdapat pada telur dengan bobot besar (B3) yaitu sebesar 46,44 g. Tidak terdapat interaksi antara bobot dan frekuensi pemutaran telur terhadap fertilitas, daya tetas, dan bobot tetas DOD. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu bobot dan frekuensi pemutaran telur tidak mempengaruhi fertilitas dan daya tetas tetapi bobot telur mempengaruhi bobot tetas.(Kata kunci: Bobot dan frekuensi pemutaran telur, Fertilitas, Daya tetas, Bobot tetas)
Pengaruh Penambahan Klobat Jagung Segar dalam Pakan terhadap Performa Kelinci Peranakan New Zealand White Jantan Utami, Anindita Dwi; Dewanti, Ratih; (Sudiyono), Sudiyono
Buletin Peternakan Vol 38, No 2 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (2) JUNI 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (951.26 KB)

Abstract

Artikel dalam bentuk PDF
PENGARUH PENGGUNAAN KLOBOT JAGUNG SEGAR DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK SERTA PRODUKSI KARKAS KELINCI PERANAKAN NEW ZEALAND WHITE JANTAN Wardhana, Risang Pramudyo; Satrya, Fernandy Dwi; (Sudiyono), Sudiyono; Dewanti, Ratih
Buletin Peternakan Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.676 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penggunaan klobot jagung sebagai pengganti sebagian kangkung dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik serta produksi karkas kelinci Peranakan New Zealand White jantan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus 2013 di Balai Pembibitan dan Budidaya Ternak Non Ruminansia (BPBTNR) Surakarta. Penelitian ini menggunakan 16 ekor kelinci New Zealand White jantan berumur ±2 bulan dengan bobot badan awal 1301,69±155,01 g. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola searah dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Ransum basal disusun dari dedak halus, BR1 dan kangkung (Ipomoea aquatica). Keempat level perlakuan pakan tersebut adalah dedak halus 55% + BR1 25% + kangkung 20% + klobot jagung 0% (P0); dedak halus 55% + BR1 25% + kangkung 17,5% + klobot jagung 2,5% (P1); dedak halus 55% + BR1 25% + kangkung 15% + klobot jagung 5% (P2) dan dedak halus 55% + BR1 25% + kangkung 12,5% + klobot jagung 7,5% (P3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan klobot jagung sampai level 7,5% dari total ransum tidak berpengaruh terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik serta karkas kelinci Peranakan New Zealand White jantan.(Kata kunci: Kelinci, Klobot jagung, Kecernaan bahan kering, Kecernaan bahan organik, Karkas)
PENGARUH PENGGUNAAN AMPAS KECAP DALAM PAKAN TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT BADAN HARIAN, KONVERSI PAKAN, RASIO EFISIENSI PROTEIN, DAN PRODUKSI KARKAS ITIK LOKAL JANTAN UMUR DELAPAN MINGGU Herdiana, Rengga Murvie; Marshal, Yugi; Dewanti, Ratih; (Sudiyono), Sudiyono
Buletin Peternakan Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.909 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ampas kecap yang direndam dalam larutan asam asetat dalam pakan terhadap pertambahan bobot badan harian (PBBH), konversi pakan, rasio efisiensi protein (REP), bobot potong, dan bobot karkas itik lokal jantan umur delapan minggu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni–Agustus 2013. Pakan yang digunakan mengandung energi termetabolis 2800 kcal/kg dan protein kasar 18%. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola searah dengan 4 perlakuan pakan, 5 ulangan, dan 5 ekor itik per perlakuan. Pakan perlakuan meliputi: pakan basal tanpa suplementasi ampas kecap (pakan kontrol), pakan basal dengan suplementasi ampas kecap 5%, pakan basal dengan suplementasi ampas kecap 10%, dan pakan basal dengan suplementasi ampas kecap 15%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ampas kecap dalam pakan hingga 15% tidak berpengaruh terhadap PBBH, konversi pakan, rasio efisiensi protein, bobot potong, dan bobot karkas itik jantan umur 8 minggu. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan ampas kecap dalam pakan sampai level 15% belum mampu meningkatkan performa dan produksi karkas itik lokal jantan.(Kata kunci: Ampas kecap, Itik lokal, Performa pertumbuhan)
DETECTION OF FOREST FIRE, SMOKE SOURCE LOCATIONS IN KALIMANTAN DURING THE DRY SEASON FOR THE YEAR 2015 USING LANDSAT 8 FROM THE THRESHOLD OF BRIGHTNESS TEMPERATURE ALGORITHM Kustiyo, .; Dewanti, Ratih; Lolitasari, Inggit
International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences (IJReSES) Vol 12, No 2 (2015)
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space of Indonesia (LAPAN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.87 KB)

Abstract

Almost every dry season, there are large forest/land fires in several regions in Indonesia, especially in Kalimantan and Sumatra in the dry season of August to September 2015 a forest fire in 6 provinces namely West Kalimantan, Central Kalimantan, South Kalimantan, Riau, Jambi, and South Sumatra. Even some parties proposed that the Government of Indonesia declares them as a national disaster. The low-resolution remote sensing data have been widely used for monitoring the occurrence of forest/land fires (hotspots), and mapping of  burnt scars. The hotspot detection was done by utilizing the data of NOAA-AVHRR and MODIS data which have a lower spatial resolution (1 km). In order to increase the level of detail and accuracy of product information, this research is done by using Landsat 8 TIRS (Thermal Infrared Sensor) band which has a greater spatial resolution of 100 m. The purpose of this research is to find and to determine the threshold value of the brightness temperature of the TIRS data to identify the source of fire smoke. The data used is the Landsat 8 of several parts of Borneo during the period of 24 August to 18 September 2015 recorded by the LAPAN's receiving station. Landsat - 8 TIRS band was converted into brightness temperature in degrees Celsius, then dots in a region that is considered the source of the smoke if the temperature of each pixel in the region > 43oC, and given the attributes with the highest temperatures of the pixels in the region. The source of the smoke was obtained through visual interpretation of the objects in the multispectral Natural Color Composite (NCC) and True Color Composite (TCC) images. Analysis of errors (commission error) is obtained by comparing the temperature detected by TIRS band with a visual appearance of the source of the smoke. The result of the experiment showed that there were detected 9 scenes with high temperatures over 43oC from the 27 scenes Kalimantan Landsat 8 data, which include 153 sites. The accuracy (commission error) of identification results using temperature ≥ 51°C is 0%, temperature ≥ 47°C is 10%, and temperature ≥ 43°C is 30.5%.
A TWO-STEPS RADIOMETRIC CORRECTION OF SPOT-4 MULTISPECTRAL AND MULTITEMPORAL FOR SEAMLESS MOSAIC IN CENTRAL KALIMANTAN Kustiyo, .; Dewanti, Ratih; Sari, Inggit Lolita
International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences (IJReSES) Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space of Indonesia (LAPAN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (996.393 KB)

Abstract

This research analyzed the radiometric correction method using SPOT-4 imageries to produce the same reflectance for the same land cover. Top of Atmosphere (TOA) method was applied in previous radiometric correction approach, this TOA approach was upgraded with the reflectance effect from difference satellite viewing angle. The 250 scene of Central Kalimantan SPOT-4 imageries from 2006 until 2012 with varies viewing angle was used. This research applied two-step approaches, the first step is TOA correction, and the second step is normalization using a linear function of reflectance and satellite viewing angle. Gain and offset coefficient of this linear function was calculated using an iterative approach to producing the same reflectance in the forest area. The target of iterative processed is to minimize the standard deviation of a digital number from a forest area in the selected region. The result shows that the standard deviation of a digital number from a forest area in the two steps approach are 8.6, 16.5, and 16.8 for band 1, band 3 and band 4. These values are smaller compared with the standard deviation of digital number result from TOA approach are 15.0, 28,3 and 34.7 for band 1, band 3 and band 4.  Decreasing the standard deviation shows the homogeneity of forest reflectance that could be seen in the seamless result. This algorithm can be applied for making seamless SPOT-4 mosaic whole of Indonesia.