Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences

Pengaruh Dosis Terhadap Efektifitas Vaksin POM Vibrio alginolyticus 74 kDa pada Ikan Kerapu Macan Epinephelus fuscoguttatus Desrina, Desrina; Taslihan, Arief; Ambariyanto, Ambariyanto; Jati, Budhi Kuncoro
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 2 (2011): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.635 KB)

Abstract

Vibrio alginolyticus adalah bakteri patogen penyebab penyakit vibriosis pada ikan kerapu budidaya di Indonesia. Vaksin Protein Outer Membran (POM) V. alginolyticus telah terbukti imunogenik pada ikan kerapu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh dosis vaksin  terhadap kemampuan POM V. alginolyticus 74 kDa dalam merangsang kerja sistem kekebalan spesifik ikan dan menentukan efek dosis terhadap perlindungan yang dihasilkan. POM(74 kDa) diisolasi dengan metoda sonikasi dan SDS-PAGE, dan dimurnikan dengan metoda elektroelusi. Vaksin diberikan dengan metoda suntik intraperitoneal ke ikan kerapu ukuran 8-10 cm (berat 1013 g) dengan dosis 0 (kontrol), 5, 10 dan 15 µg/0, 1 ml PBS/ 10 g ikan (n= 30 ekor/dosis).  Ikan kontrol disuntik dengan 0,1 ml PBS steril. Satu minggu kemudian ikan disuntik booster dengan cara dan dosis yang sama.  Dua  minggu  setelah  booster  dilakukan  uji  tantang  dengan  dengan  menyuntikkan  bakteri  Vibrio alginolyticus 8 secara intramuskular dengan dosis 0,1 ml X 109 sel/ml, dan ikan dipelihara selama 2 minggu. Jumlah ikan yang mati selama masa uji tantang dihitung untuk menentukan Relative Percentage Survival (RPS). Titer antibodi diukur sebelum percobaan dan setiap minggu selama penelitian. Ke 3 dosis yang diberikan efektif dalam merangsang respon kekebalan humoral ikan kerapu dan menghasilkan kekebalan yang melindungi yang hampir sama yang terlihat dari nilai RPS untuk dosis 5, 10 dan 15 µg masing masing 72, 87 dan 72%. Kata kunci: vaksin POM,  kerapu, dosis  Vibrio alginolyticus is a causative agent of  vibriosis of cultured grouper in Indonesia.  It has been reported  that the Outer Membrane Protein (OMP) of V. alginolyticus vaccine was immunogenic on grouper.  Vaccine dose is important in determining the ability of vaccine to conferred protective immunity. The objectives of the present research was to determine effect of vaccine doses on (1)  the specific immune response of grouper and (2) conferring protective immunity of grouper. OMP V. alginolyticus (74 kDa) was isolated by sonication and SDSPAGE, and purified by mean  electroelution. Vaccine was delivered by intraperitoneal injection to grouper juvenile (8 - 10 cm long  and  weigh10 - 13 g) in three doses;  0 (kontrol), 5, 10 dan 15 µg/0, 1 ml PBS/ fish (n= 30 fish/ dose).  Control fish were injected with 0,1 ml sterile PBS steril. One week later, booster  was given in the same manner as the primary vaccination. Two weeks following booster (week 4), fish were challenge with  V. alginolyticus 8 by intramuscular injection (0,1 ml X 109 sel/ml) and fish were maintained for two weeks. Fish mortality pos challenge test was counted to calcualte the Relative Percentage Survival (RPS). Antibodi titer was measured before vaccination and weekly for 4 week. All three doses tested were effective to  trigger the specific immune response of grouper dan conferred protective immunity with similar degree as shown by the RPS for dose 5, 10 dan 15 µg were 72, 87 dan 72% respectively. Key words: vaccine, OMP, grouper, dose.
Uji Keganasan Bakteri Vibrio pada Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) Desrina, Desrina; Taslihan, Arief; Ambariyanto, Ambariyanto; Susiani, Suryaningrum
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.702 KB)

Abstract

Tiga belas isolat bakteri Vibrio yang terdiri atas 6 spesies diuji keganasannya pada ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) sehat yang berukuran panjang 9 – 13 cm dan berat 20 – 30 g. Ke enam spesiesbakteri Vibrio yang diuji adalah Vibrio alginolyticus (6 isolat), V. vulnificus (2 isolat), V. ordalii (2 isolat) V. fluvialis, V. anguillarum dan V. mectnikovii masing masing 1 isolat. Bakteri Vibrio ini berasal dari ikan Kerapu sakit dan air tambak dari berbagai tempat di Indonesia. Uji keganasan dilakukan dengan menyuntikkan suspensi bakteri sebanyak 0,5 ml x 109 CFU/ml secara intramuskular di bagian dorsolateral. Jumlah ikan yang disuntik adalah 5 ekor/isolat. Ikan kontrol (5 ekor) disuntik dengan 0,5 ml PBS steril. Ikan dipelihara selama 2 minggu didalam akuarium (vol air 40 L) yang dilengkapi dengan aerator. Jumlah ikan yang mati, waktu kematian serta gejala klinis yang terlihat dicatat. Untuk memastikan sebab kematian dan mengkonfirmasikan keberadaanbakteri vibrio yang disuntikkan, ikan yang mati dibedah dan bakteri diisolasi dari ginjal dan luka pada tubuh. Pada akhir penelitian semua ikan yang masih hidup dibunuh dan bakteri diisolasi dari ginjal. Bakteri hasil uji keganasan diidentifikasi dengan metoda biokimia. Semua isolat menyebabkan kematian pada ikan uji kecuali V.metchinovkii dan tidak ada ikan kontrol yang mati. Kultur murni isolat yang disuntikkan direisolasi dari semua ikan yang mati. Berdasarkan jumlah ikan uji yang mati dan waktu kematian isolat terdapat 4 isolat yang ganas yaitu V.anguillarum, V. ordalii (S) dan V. fluvialis (S) dan V. alginolyticus 8 (J). Gejala klinis ikan yang sakit sama yaitu nafsu makan berkurang, berenang miring dan lemah, ginjal pucat warna tubuh gelap. Beberapaisolat menyebabkan luka di punggung yang berkembang jadi borok.Kata kunci: keganasan, Vibrio, Kerapu, ikan, penyakit.Thirteen isolates of Vibrio which consists of 6 spesies were tested its virulency on healthy fishes, Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) with size 9 – 13 cm (tota length) and 20 – 30 g (weight). Those sixspecies of Vibrio were Vibrio alginolyticus (6 isolate), V. vulnificus (2 isolate), V. ordalii (2 isolate) V. fluvialis (1 isolate), V. anguillarum (1 isolate) and V. mectnikovii (1 isolate). These Vibrio were isolated from sick Kerapu and water pond from various places in Indonesia. The test was done by intramuscular injection of bacteria suspension i.e. 0,5 ml x 109 CFU/ml on the dorsolateral of the fish. The number of injected fish were 5 fish/isolate, while control fishes were injected with 0,5 ml of sterile PBS. The fishes were grown for 2 weeks on 40 L aerated aquariums. Mortality of the fish, time as well as clinical simptoms were recorded. The occurence of injected bacteria was confirmed by isolating the bacteria from the kidney and wound of the dead fishes At the end of the experiment all the live fishes were killed and bacteria on its kidney were isolated. All thebacteria were identified by using biochemical method. The results showed that all isolates have caused mortality on the fish except V. metchinovkii as well as control fishes. Four other isolates were found to be virulence. Clinical simptoms of sick fishes were the same i.e. lack of feeding activity, abnormal swimming activity and weak, pale kidney, and dark colouration of the skin. Several isolates have caused wound on the back of the fish as well.Key words: virulency, Vibrio, Kerapu, fish, diseases.
Cacing Endoparasit Ikan Jeruk (Abalistes stellatus) dari Panfai Pekalongan Desrina, Desrina
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.807 KB)

Abstract

 Informasi cacing endoparasit ikan di Indonesia masih sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profll cacing endoparasit ikan jeruk (Abalistes atellatus), salah satu jenis ikan konsumsi yang banyak ditangkap di perairan Pekalongan. Penelitian dilakukan dari bulan April sampai dengan Agustus 2001. Jumlah ikan jeruk yang diperiksa adalah 30 ekor, yang merupakan hasil tangkapan nelayan tradisional dan dipasarkan dalam keadaan segar di Tempat Pelelangan Ikan Batang dan Pekalongan. Pengamatan dilakukan dengan memeriksa organ organ dalam dan mata ikan satu persatu dibawah mikroskop. Parasityang ditemukan diawetkan dalam alkohol 70%. Parasit diidentirikasi pada waktu masih hidup dan setelah diawetkan. Semua ikan yang diperiksa terinfeksi cacing endoparasit. Cacing yang ditemukan terdiri atas 12 spesies Nematoda yaitu Anisakis simplex, Anisakis sp, Porrocaecum sp, Pseudoanisakis sp, Raphidascaris sp, Contracaecum sp, Camallanus sp, Procamallanus sp, Cucullanus sp, Philometra sanguinea, Philometra sp, Gnathostoma hispidium, dan I spesies Acanthocephala Acanthocephalus lucii. Parasit cacing paling banyak jenisnya ditemukan pada saluran pencernaan, diikuti oleh mesenteri dan rongga tubuh, hati, gonad dan dalam rongga mata. Prevalensi infeksi parasit yang tertinggi adalah Anisakis sp yaitu 80%. Intensitas per spesies cacing yang ditemukan relatif rendah berkisar 0,1- 5,85 ekor/ikan. Infeksi cacing tidak mempengaruhi berat gonad (r=-0,064, p<0,01) dan faktor kondisi ikan jeruk (r=0,0354, p<O,OI). jumlah cacing cendrung meningkat dengan bertambahnya berat ikan (r=0,476, p<0,05).Kata kuncl: cacing, endoparasit, ikan jeruk Information on endoparasitic helminths offish in Indonesia is very scanty. The objective of this research was to determine endoparasitic helminthes of trigger fish (Abalistes stellatus) from Pekalongan coast. A total of 30 trigger fish were examined during period April to August 2001. Fresh fish caught by traditional fishermen were obtained from Pekalongan and Batang fish auction. Each of internal organs and eyes cavity were examined for its worm under microscope. Worms found were preserved in 70% alcohol and identified alive as well as after being preserved. All offish examined were infected by worm. Parasites found consisted of 12 species of nematodes namely Anisakis simplex, Anisakis sp, Pseudoaniakis sp Porrocaecum sp, Raphidascaris sp, Contracaecum sp, Camallanus sp, Procamallanus sp, Cucullanus sp, Philometra sanguinea, Philometra sp, Gnathostoma hispidium, and I species Acanthocephala Acanthocephalus lucii. The most infected organs is alimentary tracts, followed by mesentery and body cavity, liver, gonad and eye cavity. Anisakis sp had the highest prevalence (80%). Intensity of each worm species was relatively low, range from 0,1- 5,85 worms/ fish. Worm infection did not affect the gonad weight (r=-0,064, p<0,0) and fish condition factor (r=0,0354, p<0,01). The number of worms that infects trigger fish tended to increase as the fish weight increase (r=0,476, p<0,05). Key words : helminths, endoprasites, trigger fish