Articles

Found 10 Documents
Search

Pengaruh Dosis Terhadap Efektifitas Vaksin POM Vibrio alginolyticus 74 kDa pada Ikan Kerapu Macan Epinephelus fuscoguttatus

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 2 (2011): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.635 KB)

Abstract

Vibrio alginolyticus adalah bakteri patogen penyebab penyakit vibriosis pada ikan kerapu budidaya di Indonesia. Vaksin Protein Outer Membran (POM) V. alginolyticus telah terbukti imunogenik pada ikan kerapu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh dosis vaksin  terhadap kemampuan POM V. alginolyticus 74 kDa dalam merangsang kerja sistem kekebalan spesifik ikan dan menentukan efek dosis terhadap perlindungan yang dihasilkan. POM(74 kDa) diisolasi dengan metoda sonikasi dan SDS-PAGE, dan dimurnikan dengan metoda elektroelusi. Vaksin diberikan dengan metoda suntik intraperitoneal ke ikan kerapu ukuran 8-10 cm (berat 1013 g) dengan dosis 0 (kontrol), 5, 10 dan 15 µg/0, 1 ml PBS/ 10 g ikan (n= 30 ekor/dosis).  Ikan kontrol disuntik dengan 0,1 ml PBS steril. Satu minggu kemudian ikan disuntik booster dengan cara dan dosis yang sama.  Dua  minggu  setelah  booster  dilakukan  uji  tantang  dengan  dengan  menyuntikkan  bakteri  Vibrio alginolyticus 8 secara intramuskular dengan dosis 0,1 ml X 109 sel/ml, dan ikan dipelihara selama 2 minggu. Jumlah ikan yang mati selama masa uji tantang dihitung untuk menentukan Relative Percentage Survival (RPS). Titer antibodi diukur sebelum percobaan dan setiap minggu selama penelitian. Ke 3 dosis yang diberikan efektif dalam merangsang respon kekebalan humoral ikan kerapu dan menghasilkan kekebalan yang melindungi yang hampir sama yang terlihat dari nilai RPS untuk dosis 5, 10 dan 15 µg masing masing 72, 87 dan 72%. Kata kunci: vaksin POM,  kerapu, dosis  Vibrio alginolyticus is a causative agent of  vibriosis of cultured grouper in Indonesia.  It has been reported  that the Outer Membrane Protein (OMP) of V. alginolyticus vaccine was immunogenic on grouper.  Vaccine dose is important in determining the ability of vaccine to conferred protective immunity. The objectives of the present research was to determine effect of vaccine doses on (1)  the specific immune response of grouper and (2) conferring protective immunity of grouper. OMP V. alginolyticus (74 kDa) was isolated by sonication and SDSPAGE, and purified by mean  electroelution. Vaccine was delivered by intraperitoneal injection to grouper juvenile (8 - 10 cm long  and  weigh10 - 13 g) in three doses;  0 (kontrol), 5, 10 dan 15 µg/0, 1 ml PBS/ fish (n= 30 fish/ dose).  Control fish were injected with 0,1 ml sterile PBS steril. One week later, booster  was given in the same manner as the primary vaccination. Two weeks following booster (week 4), fish were challenge with  V. alginolyticus 8 by intramuscular injection (0,1 ml X 109 sel/ml) and fish were maintained for two weeks. Fish mortality pos challenge test was counted to calcualte the Relative Percentage Survival (RPS). Antibodi titer was measured before vaccination and weekly for 4 week. All three doses tested were effective to  trigger the specific immune response of grouper dan conferred protective immunity with similar degree as shown by the RPS for dose 5, 10 dan 15 µg were 72, 87 dan 72% respectively. Key words: vaccine, OMP, grouper, dose.

Uji Keganasan Bakteri Vibrio pada Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus)

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.702 KB)

Abstract

Tiga belas isolat bakteri Vibrio yang terdiri atas 6 spesies diuji keganasannya pada ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) sehat yang berukuran panjang 9 – 13 cm dan berat 20 – 30 g. Ke enam spesiesbakteri Vibrio yang diuji adalah Vibrio alginolyticus (6 isolat), V. vulnificus (2 isolat), V. ordalii (2 isolat) V. fluvialis, V. anguillarum dan V. mectnikovii masing masing 1 isolat. Bakteri Vibrio ini berasal dari ikan Kerapu sakit dan air tambak dari berbagai tempat di Indonesia. Uji keganasan dilakukan dengan menyuntikkan suspensi bakteri sebanyak 0,5 ml x 109 CFU/ml secara intramuskular di bagian dorsolateral. Jumlah ikan yang disuntik adalah 5 ekor/isolat. Ikan kontrol (5 ekor) disuntik dengan 0,5 ml PBS steril. Ikan dipelihara selama 2 minggu didalam akuarium (vol air 40 L) yang dilengkapi dengan aerator. Jumlah ikan yang mati, waktu kematian serta gejala klinis yang terlihat dicatat. Untuk memastikan sebab kematian dan mengkonfirmasikan keberadaanbakteri vibrio yang disuntikkan, ikan yang mati dibedah dan bakteri diisolasi dari ginjal dan luka pada tubuh. Pada akhir penelitian semua ikan yang masih hidup dibunuh dan bakteri diisolasi dari ginjal. Bakteri hasil uji keganasan diidentifikasi dengan metoda biokimia. Semua isolat menyebabkan kematian pada ikan uji kecuali V.metchinovkii dan tidak ada ikan kontrol yang mati. Kultur murni isolat yang disuntikkan direisolasi dari semua ikan yang mati. Berdasarkan jumlah ikan uji yang mati dan waktu kematian isolat terdapat 4 isolat yang ganas yaitu V.anguillarum, V. ordalii (S) dan V. fluvialis (S) dan V. alginolyticus 8 (J). Gejala klinis ikan yang sakit sama yaitu nafsu makan berkurang, berenang miring dan lemah, ginjal pucat warna tubuh gelap. Beberapaisolat menyebabkan luka di punggung yang berkembang jadi borok.Kata kunci: keganasan, Vibrio, Kerapu, ikan, penyakit.Thirteen isolates of Vibrio which consists of 6 spesies were tested its virulency on healthy fishes, Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) with size 9 – 13 cm (tota length) and 20 – 30 g (weight). Those sixspecies of Vibrio were Vibrio alginolyticus (6 isolate), V. vulnificus (2 isolate), V. ordalii (2 isolate) V. fluvialis (1 isolate), V. anguillarum (1 isolate) and V. mectnikovii (1 isolate). These Vibrio were isolated from sick Kerapu and water pond from various places in Indonesia. The test was done by intramuscular injection of bacteria suspension i.e. 0,5 ml x 109 CFU/ml on the dorsolateral of the fish. The number of injected fish were 5 fish/isolate, while control fishes were injected with 0,5 ml of sterile PBS. The fishes were grown for 2 weeks on 40 L aerated aquariums. Mortality of the fish, time as well as clinical simptoms were recorded. The occurence of injected bacteria was confirmed by isolating the bacteria from the kidney and wound of the dead fishes At the end of the experiment all the live fishes were killed and bacteria on its kidney were isolated. All thebacteria were identified by using biochemical method. The results showed that all isolates have caused mortality on the fish except V. metchinovkii as well as control fishes. Four other isolates were found to be virulence. Clinical simptoms of sick fishes were the same i.e. lack of feeding activity, abnormal swimming activity and weak, pale kidney, and dark colouration of the skin. Several isolates have caused wound on the back of the fish as well.Key words: virulency, Vibrio, Kerapu, fish, diseases.

Cacing Endoparasit Ikan Jeruk (Abalistes stellatus) dari Panfai Pekalongan

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.807 KB)

Abstract

 Informasi cacing endoparasit ikan di Indonesia masih sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profll cacing endoparasit ikan jeruk (Abalistes atellatus), salah satu jenis ikan konsumsi yang banyak ditangkap di perairan Pekalongan. Penelitian dilakukan dari bulan April sampai dengan Agustus 2001. Jumlah ikan jeruk yang diperiksa adalah 30 ekor, yang merupakan hasil tangkapan nelayan tradisional dan dipasarkan dalam keadaan segar di Tempat Pelelangan Ikan Batang dan Pekalongan. Pengamatan dilakukan dengan memeriksa organ organ dalam dan mata ikan satu persatu dibawah mikroskop. Parasityang ditemukan diawetkan dalam alkohol 70%. Parasit diidentirikasi pada waktu masih hidup dan setelah diawetkan. Semua ikan yang diperiksa terinfeksi cacing endoparasit. Cacing yang ditemukan terdiri atas 12 spesies Nematoda yaitu Anisakis simplex, Anisakis sp, Porrocaecum sp, Pseudoanisakis sp, Raphidascaris sp, Contracaecum sp, Camallanus sp, Procamallanus sp, Cucullanus sp, Philometra sanguinea, Philometra sp, Gnathostoma hispidium, dan I spesies Acanthocephala Acanthocephalus lucii. Parasit cacing paling banyak jenisnya ditemukan pada saluran pencernaan, diikuti oleh mesenteri dan rongga tubuh, hati, gonad dan dalam rongga mata. Prevalensi infeksi parasit yang tertinggi adalah Anisakis sp yaitu 80%. Intensitas per spesies cacing yang ditemukan relatif rendah berkisar 0,1- 5,85 ekor/ikan. Infeksi cacing tidak mempengaruhi berat gonad (r=-0,064, p<0,01) dan faktor kondisi ikan jeruk (r=0,0354, p<O,OI). jumlah cacing cendrung meningkat dengan bertambahnya berat ikan (r=0,476, p<0,05).Kata kuncl: cacing, endoparasit, ikan jeruk Information on endoparasitic helminths offish in Indonesia is very scanty. The objective of this research was to determine endoparasitic helminthes of trigger fish (Abalistes stellatus) from Pekalongan coast. A total of 30 trigger fish were examined during period April to August 2001. Fresh fish caught by traditional fishermen were obtained from Pekalongan and Batang fish auction. Each of internal organs and eyes cavity were examined for its worm under microscope. Worms found were preserved in 70% alcohol and identified alive as well as after being preserved. All offish examined were infected by worm. Parasites found consisted of 12 species of nematodes namely Anisakis simplex, Anisakis sp, Pseudoaniakis sp Porrocaecum sp, Raphidascaris sp, Contracaecum sp, Camallanus sp, Procamallanus sp, Cucullanus sp, Philometra sanguinea, Philometra sp, Gnathostoma hispidium, and I species Acanthocephala Acanthocephalus lucii. The most infected organs is alimentary tracts, followed by mesentery and body cavity, liver, gonad and eye cavity. Anisakis sp had the highest prevalence (80%). Intensity of each worm species was relatively low, range from 0,1- 5,85 worms/ fish. Worm infection did not affect the gonad weight (r=-0,064, p<0,0) and fish condition factor (r=0,0354, p<0,01). The number of worms that infects trigger fish tended to increase as the fish weight increase (r=0,476, p<0,05). Key words : helminths, endoprasites, trigger fish

KARAKTERISTIK BIODIESEL HASIL TRANSESTERIFIKASI MINYAK JELANTAH MENGGUNAKAN TEKNIK KAVITASI HIDRODINAMIK

Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia Vol 4, No 2 (2012): Vol.(4) No.2, June 2012
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.208 KB)

Abstract

This study undertakes the transesterification process of used cooking oils that have undergone a process of esterification. The transesterification process carried out by reacting methanol and esterified used cooking oil using KOH as catalyst. Stirring technique used is based on hydrodynamic cavitation. This research aims to study the characteristics of biodiesel that made from transesterified used cooking oil with different concentrations of methanol. The concentration of methanol used consists of 5 (five) level are: 99.9%, 95%, 90%, 80%, and 70%. The transesterification process using hydrodynamic cavitation technique with a 99.9% concentration of methanol result in biodiesel with characteristics consistent by Indonesian National Standard (SNI). In this condition, biodiesel produced 92.93% of the yield which has characteristics of acid number 0.80 mg KOH / g, total glycerol 0.045%, alkyl ester 99.45%, iodine number 14.92 g I2/100 g,  viscosity 2,35 mm2 / s , density 0.87745 g/cm3  and pH value 4.885. Based on research, the concentration of methanol lower than 99.9% not yet can produce biodiesel from used cooking oil that have characteristics according to Indonesian National Standard (SNI).  

The Diversity of Causative Agent Associated With Bacterial Diseases on Catfish (Clarias gariepinus) with Molecular Based from Demak, Indonesia

Journal Omni-Akuatika Omni-Akuatika Special Issue 2nd Kripik SCiFiMaS
Publisher : Fisheries and Marine Science Faculty - Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.723 KB)

Abstract

Bacterial diseases is frequently occur in catfish culture. The aim of this research was to find out the diversity of causative agent associated with bacterial diseases in catfish based on 16S rDNA gene sequences. The combination between exploratory in the field and experiment, method were applied. Seventeen isolates (D01–D17) were gained from kidney and external wound of moribound catfish with NA and GSP medium that were collected from fish pond of Demak Regency, Indonesia. Based on the postulat results showed that four isolates (D07, D10, D11 and  D14) that  were  caused  10–55% of fishes get sick  and  0–30%  fishes mortal.  On the other hand, there were 13 isolates do not cause both sick and mortality of fish.  On the basis of sequence 16S rDNA analysis, the result showed that D07, D10, D11 and D14 were closely related to Aeromonas caviae (96%), Aeromonas veronii (97%.), Plesiomonas shigelloides (97%) and Pseudomonas putida (96%) respectively. The sensitivity test result indicated that these causative agents have not sensitively to some fish drugs test.

Isolasi, Purifikasi dan Immunogenitas Protein Outer Membran Vibrio Alginolyticus pada Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus)

Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The main objectives of this research were to isolate, purify and determine the immunogenicity of the outer membrane protein of V. alginolyticus. The outer membrane protein was isolated by sonication, sodium dodecyl sulphate-polyacrylamide agarose gel electrophoresis (SDS-PAGE) and purified by electroelusion method. Four outer membrane proteins were obtained: namely 32.0; 37.83; 64.13 and 73.43 kDa. Its immunogenicity in grouper Epinephelus fuscoguttatus was compared to that of bacterin of the same isolate. The immunogenicity test was conducted by intra peritoneal injection method. Each protein was dissolved in sterile Phospate Buffer Saline (PBS) and Freund’s Complete Adjuvant (FCA) (1:1) and injected 5 µg/ fish (fish weight 10-15 g). Bacterin (106, 107 and 108 cells/ml) was prepared in the same manner and injected at dosage of 0,2 ml/fish. Control fish were injected with 0.2 ml sterile PBS (pH 7.2). Booster was done a week later by injecting protein or bacterin with the Freund’s Incomplete Adjuvant (FIA). The agglutination test of antibody produced recognized cell surface protein of the whole cell of V. alginolyticus. Outer membrane protein 73.43 kDa was more immunogenic than the rest of proteins and bacterin, based on agglutinating antibodi titer.

PENGARUH SALINITAS TERHADAP EFEKTIFITAS EKSTRAK DAUN API-API (Avicennia marina) DALAM MENGOBATI INFEKSI Vibrio harveyi PADA KEPITING BAKAU (Scylla sp.)

Sains Akuakultur Tropis Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepiting bakau (Scylla sp.) salah satu komoditas yang memiliki ekonomis tinggi. Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan produksi kepiting adalah penyakit. Penyakit yang sering menyerang kepiting bakau adalah Vibriosis. Salah satu upaya dalam pengobatan dapat menggunakan bahan alami yaitu ekstrak daun api-api (A. marina) akan dilakukan pada salinitas yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh salinitas terhadap efektifitas perendaman ekstrak daun api-api (A. marina) dilihat dari kelulushidupan, salinitas terbaik didalam perendaman ekstrak daun api-api (A. marina) kepiting bakau yang diinfeksi bakteri V. harveyi, dan gejala klinis kepiting bakau (Scylla sp.). Kepiting bakau yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 48 ekor dengan bobot 46-56 g. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (4 perlakuan 3 kali ulangan). Kepiting seluruhnya disuntik bakteri V. harveyi dengan kepadatan 0,1 x 107 CFU/ml pada bagian pangkal kaki renang. Pasca munculnya gejala klinis, kepiting bakau direndam menggunakan ekstrak daun api-api (A. marina) dengan perlakuan A (perendaman dalam salinitas 15 ppt), B (perendaman dalam salinitas 20 ppt), C (perendaman dalam salinitas 25 ppt), dan D (perendaman dalam salinitas 30 ppt). Kepiting yang digunakan adalah kepiting bakau, dengan kepadatan adalah 4 ekor/akuarium selama 14 hari. Data yang dianalisis adalah gejala klinis, kelulushidupan, histopatologi hepatopankreas dan kualitas air. Data yang telah didapatkan kemudian dianalisis seluruhnya secara deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan salinitas tidak berpengaruh terhadap kelulushidupan kepiting bakau (Scylla sp.) yang di infeksi V. harveyi yang direndam ekstrak daun api-api pada berbegai salinitas, namun diperoleh nilai tertinggi pada salinitas 30 ppt (58%) dan terendah pada salinitas 15 ppt (50%). Salinitas terbaik untuk pengobatan menggunakan ekstrak daun api-api (A. marina) pada kepiting bakau (Scylla sp.) yang di infeksi bakteri V. harveyi adalah 30 ppt. Gejala klinis yang diperoleh dari hasil penelitian adalah perubahan morfologis dan perubahan tingkah laku. Hasil pengamatan histologi hepatopankreas ditemukan adanya kerusakan jaringan pada seluruh perlakuan yaitu berupa nekrosis, vakuolisis, dan degradasi lumen. Kualitas air pada media pemeliharaan berada dalam kisaran yang layak untuk kehidupan kepiting bakau.

Perbandingan Daya Ingat Anak Pada Sekolah Dasar Negeri Dan Sekolah Dasar Islam Terpadu

Jurnal Ilmu Keperawatan Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Ilmu Keperawatan (JIK)
Publisher : Jurnal Ilmu Keperawatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.391 KB)

Abstract

Kualitas  bangsa  di  masa  depan  ditentukan  oleh  kualitas  anak-anak  saat  ini.  Agar  memperoleh  pertumbuhan  dan perkembangan  anak  usia  sekolah  yang  optimal  maka  perlu  diperhatikan  asupan  nutrisi  baik  secara  kualitas  maupun kuantitas.  Dalam  masa  pertumbuhan  dan  perkembangan  tersebut  pemberian  nutrisi  atau  asupan  makanan  pada  anak tidak  selalu  dilakukan  dengan  sempurna.  Desain  penelitian  ini  adalah  kuantitatif  dengan  metode  komparatif.  Populasi dalam  penelitian  ini  adalah  anak  sekolah  dasar.  Teknik  pengambilan  sampel yang  digunakan quota  sampling berjumlah20  orang.  Hasil  uji  daya  ingat  anak  dari  ketiga  uji  daya  ingat  yang  dilakukan  pada  10  anak  SD  Negeri  tidak  ada  yangmemilki  skor  yang  tinggi,  sedangkan  untuk  SD  IT  dari  10  anak  yang  di  uji  daya  ingat  terdapat  anak  yang  memiliki  skortinggi,  pada  media  angka  terdapat  6  orang  (60%),  3  orang  (30%)  dan  1  orang  (10%)  pada  game  gadget.  Hasil  uji perbedaan diatas diketahui kolom T-Tes for Equality of Means pada variabel faktor individu, lingkungan dan daya ingat memiliki nilai  signifikan <  0,05 (p <  0,05),  faktor individu sebesar  0.007,  faktor lingkungan 0,026 dan daya ingat sebesar 0.015  dimana semua  nilai  variabel  <  0,05,  berarti  terdapat  perbedaan.  Sedangkan  untuk  faktor  objek  nilai  signifikan sebesar 0.717 (P>0.05) yang artinya tidak terdapat perbedaan antara faktor objek SD Negeri dengan SD IT.Kata Kunci : Perbandingan, daya ingat, sekolah negeri dan sekolah swasta.AbstractThe nation quality in the future is determined by the quality of the kids on this period. In order to achieve optimal growth of the kids at the school age, it is needed to  focus on the  nutrition on the kids which is probably cannot well given.  The design  of  this  study  is  quantitative  with  comparative  methods.  The  population  is  the  elementary  scho ol  students.  The sampling  technique  used  by  quota  sampling  was  20  people.  The  results  of  the  students's  memory  test  from  the  three memory tests were carried out on 10 public elementary school students, none of whom had a high score, while for the SD IT of 10 students who were tested for memory there were children who had a high score, in the media figures there were 6 students (60%), 3 students (30%) and 1 student (10%) in the gadget game. The results of the difference test above note that  the  T-Test  for  Equality  of  Means  column  on  the  variables  of  individual,  environmental  and  memory  factors  has  a significant value <0.05 (p <0.05), individual factors are 0.007, environmental factors are 0.026 and memory is 0.015 where all  variable  values are  <0.05,  meaning  there  are  differences.  Whereas  for  the  object  factor  significant  value  is  0.717  (P>0.05)  which  means  there  is  no  difference  between  the  object  factors  of  islamic  school  and  basic  school  of  elementary school.Keywords: Comparison,Memory, Public Schools and Private Schools

Penelitian Limbah Lumpur Minyak Kegiatan Pengolahan Minyak melalui Uji TCLP

Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol 43, No 3 (2009)
Publisher : Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.419 KB)

Abstract

Sesuai ketentuan yang termuat di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, PP 18/ 1999 jo PP 85/1999, beberapa limbah dari kegiatan pengolahan migas dikategorikan sebagai limbah B-3 yang dimasukkan di dalam daftar limbah B-3 yang spesifik. Di dalam PP 85/1999 Pasal 7 ayat (5) dicantumkan kalimat yang berbunyi: “Limbah D220, D221, D222 & D223 dapat dinyatakan limbah B-3 setelah dilakukan uji karakteristik dan atau uji toksikologi”. Ayat ini merupakan revisi dari PP 18/1999 Pasal 7 Ayat 2 yang berbunyi: Daftar limbah dengan kode limbah D220, D221, D222, dan D223 dapat dinyatakan limbah B-3 setelah dilakukan uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) dan/atau uji karakteristik. Terdapat perbedaan mendasar antara uji toksikologi dan uji TCLP. Uji toksikologi sebagaimana dimandatkan di dalam PP 85/1999 tersebut jelas menyebutkan penentuan nilai LD-50 secara oral. Masalahnya adalah bagaimana mungkin untuk limbah-limbah tersebut diberlakukan pengujian LD-50 secara oral. Mengingat bahwa limbah-limbah tersebut, karena jumlahnya, pada umumnya disimpan atau ditimbun pada tempat khusus. Kemungkinan besar sangat aman bagi manusia dan makluk hidup lainnya. Di sisi lain, kemungkinan pencemaran lingkungan adalah melalui air lindinya. Dipandang perlu untuk dilakukan kajian terhadap limbah-limbah pengolahan migas yang telah ditetapkan sebagai limbah B-3 mengingat ketetapan ini sebenarnya lebih kepada ketetapan dari aspek hukum. Kajian ini tidak saja berguna untuk dipakai mengevaluasi kembali daftar limbahlimbah B-3 yang telah ditetapkan tersebut, tetapi juga berguna sebagai masukan bagi pemerintah dan industri migas tentang tata cara pengklasifikasian limbah B-3 dari kegiatan migas yang mungkin tidak harus sepenuhnya mengikuti ketetapan yang berlaku.

Meningkatkan Proses dan hasil Belajar Siswa pada tema Selamatkan Makhluk Hidup dengan Metode Ekplorasi Lingkungan Sekitar pada Siswa Kelas VI

JPGI (Jurnal Penelitian Guru Indonesia) Vol 4, No 1 (2019): JPGI
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (IICET)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.135 KB)

Abstract

The background of this research is that science learning has been theoretical without students knowing how the application of learning in everyday life and learning Science does not encourage students to care about the environment so students cannot know the process of a natural event in living things, such as plants. the author wants students to be closer to nature and at the same time can increase the process and learning outcomes, especially those related to science. The approach used is a qualitative approach. The research data was obtained from the results of the assessment of learning implementation plan (RPP), the results of the observation sheet on the implementation of learning with the Approach to Environmental Exploration Approach from the aspects of teachers, students and evaluation. The data source is the process of implementing the Neighborhood Exploration approach to the theme of Saving Sentient Beings in class VI of SD Negeri 23 Painan Utara. The results of the study are the learning of Science with the Approach to the Environmental Environment Exploration will lead to an attitude of student concern for the environment, motivating students to learn. This is evidenced by the increase in student learning outcomes, namely cycle I completeness of students 61% with an average value of 73 and cycle II completeness of students 83% with an average value of 84. Based on the results of the study, it is suggested to the following parties (1) for teachers The Neighborhood Exploration approach in learning Science because it can cause students to care about the environment and improve student learning outcomes, (2) the reader should be able to add knowledge to the reader.