Articles

Found 24 Documents
Search

Keragaan Mutan Putatif Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) dari Benih Diiradiasi Sinar Gamma pada Tiga Ketinggian Tempat Wahyu, Yudiwanti; Darwati, Ireng; Rosita, ,; Pulungan, Muhammad Yusuf; Roostika, Ika
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol 41, No 1 (2013): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.307 KB)

Abstract

Pruatjan (Pimpinella pruatjan Molk.) is Indonesian endangered medicinal plant which grows endemically at mountainousarea. To broaden its planting area, an effort to develop low-altitude tolerant genotype of pruatjan had been conductedsince May 2007. Pruatjan seeds harvested from Gunung Putri experimental station (1,545 m asl) were treated with gammairradiation (0-5 krad) and germinated at Gunung Putri. Young seedlings were transplanted into small polybag (Ø 10 cm), anda month later they were moved into 10-kg medium of pot or polybag. Two months later, some of the young plants were moved to Cibadak experimental station (950 m asl) and Cicurug experimental station (550 m asl). All plants were maintained until flowered and produce seeds. The result shows that seeds from all of irradiation level treatments germinated and grew wellalthough the amount of seedlings decreased by the higher level of irradiation treatment. No phenotypic difference of plantsfrom irradiated seed compared with those from non irradiated ones (0 krad). Plants at Cibadak and Cicurug grew faster thanthose at Gunung Putri, and also flowered faster. On April 2008, seeds from 0, 1, 3 and 5 krad treated plant had germinatedat Cicurug, and those seedlings were the candidate genotypes for low-altitude tolerant of pruatjan.Keywords: induced mutation, low altitude tolerant, pruatjan, variability
PENGARUH POLA TANAM DAN DOSIS PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN TEMPUYUNG (Sonchus arvensis L.) Nurhayati, Hera; Darwati, Ireng; SMD, Rosita
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 24, No 1 (2013): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Balittro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSimplisia tempuyung (Sonchus arvensis) mengandung silika, kalium, flavonoid, taraksasterol, inositol, oe-laktuserol, p-laktuserol, manitol, dan inositol yang bermanfaat sebagai pelancar keluarnya air seni, antiurolitiosis, serta mempunyai daya melarutkan batu ginjal, kolesterol, Ca-Oxalat, dan asam urat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pola tanam dan dosis pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan produksi simplisia tempuyung. Kegiatan penelitian dilaksanakan di KP Cimanggu, Bogor, Jawa Barat dari sejak April sampai Juli 2012. Metode penelitian dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan ulangan sebanyak lima kali. Perlakuan pertama adalah pola tanam, yakni (K1) monokultur, (K2) tumpangsari dengan jagung, jarak tanam jagung satu meter, dan (K3) tumpangsari dengan jagung, jarak tanam jagung dua meter. Jarak tanam jagung dalam baris adalah 20 cm. Perlakuan kedua adalah dosis pemupukan, terdiri dari (P1) 50% SOP (50 kg Urea + 50 kg SP36 + 50 kg KCl ha-1); (P2) 100% SOP (100 kg Urea + 100 kg SP36 + 100 kg KCl ha-1); dan (P3) 150% SOP (150 kg Urea + 150 kg SP36 + 150 kg KCl ha-1). Pengamatan meliputi parameter pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan lebar daun) dan produksi. Panen dilakukan pada umur tiga bulan setelah tanam (BST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola tanam dan pemupukan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Penanaman secara monokultur, maupun dengan jagung pada jarak tanam antar baris dua meter, dapat dilakukan dalam budidaya tempuyung. Pemupukan sesuai SOP dapat dijadikan rekomendasi pemupukan mendukung teknologi budidaya tempuyung.Kata kunci: Sonchus arvensis, pola tanam, pupuk NPK, pertumbuhan, produksi
PENGARUH UMUR BATANG BAWAH TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH MENGKUDU TANPA BIJI HASIL GRAFTING Rahardjo, Mono; Djauhariya, Endjo; Darwati, Ireng; SMD, Rosita
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 24, No 1 (2013): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Balittro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKTanaman mengkudu tanpa biji merupakan tanaman langka sehingga untuk mengantisipasi kelangkaan tanaman ini perlu pengembangan teknologi perbanyakan. Pengembangan mengkudu tanpa biji tidak dapat melalui perbanyakan generatif, tetapi harus melalui perbanyakan vegetatif. Perbanyakan vegetatif yang prospektif adalah menggunakan metode penyambungan pucuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan umur bibit batang bawah yang dapat menghasilkan bibit mengkudu tanpa biji bervigor tinggi. Penyambungan pucuk mengkudu tanpa biji telah dilakukan di KP. Cimanggu sejak Januari sampai Desember 2012 menggunakan batang atas mengkudu tanpa biji yang entresnya disimpan selama satu hari. Batang bawah yang diuji adalah lima umur batang bawah, yaitu umur 3, 4, 5, 6, dan 7 bulan, diulang lima kali. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok. Parameter yang diamati adalah daya tumbuh, jumlah daun, dan panjang tunas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan penyambungan mencapai 68%. Berdasarkan jumlah daun dan panjang tunas, benih mengkudu tanpa biji optimal dipindah ke lapang dan produksi pada umur tiga bulan setelah penyambungan. Benih yang dihasilkan mempunyai vigor tinggi pada umur tiga bulan setelah penyambungan.Kata kunci: Morinda citrofolia, mengkudu tanpa biji, umur batang bawah, penyambungan, pertumbuhan
Genetic Variation of the First Generation of Rodent Tuber (Typhonium flagelliforme Lodd.) Mutants Based on RAPD Molecular Markers SIANIPAR, NESTI FRONIKA; LAURENT, DANNY; PURNAMANINGSIH, RAGAPADMI; DARWATI, IRENG
HAYATI Journal of Biosciences Vol 22, No 2 (2015): April 2015
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1930.619 KB)

Abstract

Rodent tuber (Typhonium flagelliforme Lodd.) is a herbal plant from the Araceae family. The plant has high medical potential and is effective to cure cancer. However, the low level of its genetic variation limits its exploration for desirable traits. The low level of genetic variation in Rodent tuber is mainly due to its asexual reproduction system. It usually reproduces vegetatively via tuber separation. Therefore, gamma irradiation had been applied to rodent tuber in vitro to increase its genetic diversity. The objective of this study was to analyze the genetic diversity of the first generation (MV1) of gamma irradiated rodent tuber mutant using random amplified polymorphic DNA (RAPD) markers. A total of 14 mutant DNA samples were analyzed with 14 RAPD primers. The result showed that 67 out of 123 DNA bands were polymorphic among mutant lines. Based on cluster analysis these mutants showed 0.78-0.97 genetic similarity. Cutting of dendogram at genetic distance of 0.89 produced four main clusters. Mutants with high genetic variation are now available. This increases the opportunity of obtaining mutant lines with high anti-cancer activity.
PENINGKATAN KERAGAMAN GENETIK PURWOCENG MELALUI IRADIASI SINAR GAMMA DAN SELEKSI IN VITRO ROOSTIKA, IKA; DARWATI, IRENG; YUDIWANTI, YUDIWANTI
853-8212
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.124 KB)

Abstract

ABSTRAKPeningkatkan keragaman genetik purwoceng memerlukan aplikasiteknologi alternatif yang mampu membentuk keragaman baru. Tujuanpenelitian adalah untuk meningkatkan keragaman genetik dan toleransipurwoceng terhadap cekaman suhu tinggi melalui iradiasi dan seleksi invitro. Tahapan penelitian meliputi induksi mutasi kalus embriogenikdengan sinar gamma, seleksi in vitro dengan cekaman suhu tinggi, induksiperakaran  somaklon  putatif,  analisis  keragaman  genetik  secaraflowcytometry, dan aklimatisasi somaklon putatif. Iradiasi dilakukan padadosis 0, 1, 2, 3, 4, dan 5 Krad sedangkan seleksi in vitro dilakukan padatiga level suhu (20, 25, dan 30 0 C). Induksi perakaran dilakukan dalam duatahap, dengan menggunakan media DKW atau MS yang mengandungsukrosa 3-6% dengan penambahan IBA atau NAA taraf 0,5-1,5 ppm. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa kalus purwoceng mampu bertahan hiduppada dosis iradiasi tertinggi (5 Krad). Meningkatnya dosis iradiasicenderung meningkatkan pendewasaan embrio somatik. Pada tahap seleksiin vitro, kalus purwoceng mampu tumbuh pada kondisi suhu tertinggi(30 0 C). Tingkat proliferasi kalus yang tinggi dan jumlah embrio somatikterbanyak diperoleh dari perlakuan suhu 25 0 C. Embrio somatik yangterbentuk dari perlakuan suhu tinggi tersebut merupakan kandidatsomaklon yang toleran suhu tinggi pada lingkungan dataran rendah.Diantara embrio somatik yang terbentuk, hanya embrio yang berasal dariperlakuan suhu 20 0 C saja yang berhasil membentuk planlet. Media yangterbaik untuk induksi perakaran adalah media MS yang mengandungsukrosa 4% dengan penambahan NAA 1,5 ppm. Analisis ploidi pada daunembrio somatik menunjukkan terbentuknya varian yang bersifat tetraploid(4x).Kata kunci: Pimpinella pruatjan, iradiasi sinar gamma, seleksi in vitro,keragaman genetik, suhu tinggiABSTRACTTo improve new pruatjan genetic variations, the alternativetechnology should be applied. The objective of the research was to increasepruatjan genetic variation and tolerance to the high temperature throughinduced mutation and in vitro selection. The steps of this study were inducedmutation of embryogenic callus by gamma irradiation, in vitro selection, rootinduction of putative somaclones, genetic variation analysis by flowcytometer,and putative somaclones acclimatization. The dosages of gamma irradiationwere 0, 1, 2, 3, 4, and 5 Krad. In vitro selection was conducted at threetemperatures (20, 25, and 30 0 C). The root induction was conducted in twosteps by using DKW or MS media containing of 3-6% sucrose withaddition of 0.5-1.5 ppm IBA or NAA. The result showed that embryogeniccalli could survive after treatment of the highest gamma irradiation dose. Ittends to increase the maturation of somatic embryos. During in vitroselection, embryogenic calli could grow at the highest temperature but thehighest callus proliferation and the number of somatic embryos wereobtained from 25 0 C. The somatic embryos survived and grew at the hightemperature are assumed as somaclones which considered as thecandidates of tolerant plants to high temperature that can be developed inthe of low altitude area. Among the regenerated somatic embryos, only the20 0 C-derived embryos were successfully form plantlets. The best mediumfor root induction was MS basal medium containing of 4% sucrosesupplemented with 1.5 ppm NAA. The ploidy analysis of somatic embryosleaf showed a tetraploid (4x) variant.Key words: Pimpinella pruatjan, gamma irradiation, in vitro selection,genetic variation, high temperature
OPTIMASI DAN EVALUASI METODE KRIOPRESERVASI PURWOCENG ROOSTIKA, IKA; DARWATI, IRENG; MEGIA, RITA
853-8212
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.258 KB)

Abstract

ABSTRAKOptimasi dan evaluasi metode kriopreservasi perlu dilakukan dalammenentukan protokol standar untuk penyimpanan jangka panjang biakanpurwoceng. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasiperlakuan pratumbuh, prakultur, dan formulasi media pemulih terhadapdaya tumbuh dan daya regenerasi tunas in vitro dan kalus embriogenikserta untuk mengevaluasi metode kriopreservasi melalui observasimorfologi, anatomi, dan sitologi. Penelitian dilakukan di LaboratoriumKultur Jaringan Kelompok Peneliti Biologi Sel dan Jaringan BB LitbangBiogen pada tahun 2008-2009. Teknik kriopreservasi yang digunakanadalah vitrifikasi (untuk apeks) dan enkapsulasi-vitrifikasi (untuk kalusembriogenik). Pada teknik vitrifikasi, tunas pucuk diberi perlakuanpratumbuh dengan sukrosa (3, 4, 5, dan 6%) selama 1 dan 2 minggu,perlakuan prakultur dilakukan pada media yang mengandung sukrosa 0,3M selama 1 dan 3 hari, perlakuan dehidrasi dengan PVS2 diberikan selama15 dan 30 menit, dan media pemulih yang diujikan adalah media dasar MSatau DKW dengan dan tanpa penambahan adenin sulfat 20 ppm. Padateknik enkapsulasi-vitrifikasi, kalus embriogenik dienkapsulasi terlebihdahulu dengan Na-alginat 3%, perlakuan dehidrasi dengan PVS2 diberikanselama 0, 30, dan 60 menit. Evaluasi metode teknik kriopreservasidilakukan melalui pengamatan morfologi secara visual, anatomi meristemdengan scanning electron microscope (SEM), pengujian viabilitas denganfluorescein diacetate (FDA), dan analisis ploidi secara flowcytometry.Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik enkapsulasi-vitrifikasi lebihbaik daripada teknik vitrifikasi untuk kriopreservasi purwoceng. Walaupunpersentase keberhasilan kriopreservasi rendah (10%), kalus embriogenikpurwoceng mampu berproliferasi dan beregenerasi menjadi ribuan embriosomatik dewasa. Evaluasi metode kriopreservasi dengan SEM dan FDAdapat diterapkan untuk memperkirakan keberhasilan teknik kriopreservasisecara dini sedangkan analisis flowcytometry dapat diterapkan untukmenguji stabilitas genetik bahan tanaman pasca-kriopreservasi.Kata kunci: Pimpinella pruatjan Molk., kriopreservasi, SEM, FDA,flowcytometryABSTRACTOptimization and evaluation of cryopreservation methods should beconducted to obtain standard protocol for long term conservation ofpruatjan. The objective of this study was to evaluate the effect ofcombined treatments of pregrowth, preculture, and recovery media to thesurvival and regeneration rate of in vitro shoots and embryogenic calli andto evaluate the cryopreservation methods by observing the morphological,anatomical, and cytological characters. The techniques of vitrification (forapex) and encapsulation-vitrification (for embryogenic calli) were appliedin this study. On vitrification technique, the apical shoots were pregrownon media containing of 3, 4, 5, and 6% sucrose for 1 and 2 weeks,precultured on media containing of 0,3 M sucrose for 1 and 3 days,dehydrated by PVS2 solution for 15 and 30 minutes, and planted onrecovery media (MS or DKW basal media supplemented with 20 ppmadenine sulphate). On encapsulation-vitrification technique, embryogeniccalli were encapsulated by 3% Na-alginate, dehydrated by PVS2 solutionfor 0, 30, and 60 minutes. The evaluation of cryopreservation methods wasdone through visual observation, SEM analysis, viability test, andflowcytometry determination. The result showed that encapsulation-vitrification was better than vitrification technique for cryopreservation ofpruatjan. The successful rate of this method was low (10%) but theembryogenic calli could proliferate and regenerate into thousands maturesomatic embryos. The evaluation by SEM and FDA can be applied asearly detection to estimate the successful of cryopreservation, whereasflowcytometry  analysis  may  determine  the  genetic  stability  ofcryopreserved materials.Key words: Pimpinella pruatjan Molk., cryopreservation, SEM, FDA,flowcytometry
IDENTIFIKASI KARAKTER MORFO-FISIOLOGI PENENTU PRODUKTIVITAS JAMBU METE (Anacardium occidentale) DARWATI, IRENG; S.M., ROSITA; SETIAWAN, SETIAWAN; NURHAYATI, HERA
853-8212
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.114 KB)

Abstract

ABSTRAKProduktivitas jambu mete di Indonesia masih rendah karenabudidayanya yang masih sederhana dan belum menggunakan bahantanaman unggul. Hasil tanaman ditentukan oleh beberapa karakter morfo-fisiologi seperti luas dan tebal daun, jumlah stomata, laju fotosintesis,kandungan klorofil, relative water content (RWC), dan potential osmotikdaun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter morfo-fisiologiyang menentukan hasil jambu mete. Penelitian dilaksanakan di KebunPercobaan Cikampek dan Laboratorium, Balittro, Bogor, Jawa Barat, padabulan Januari-Desember 2012. Bahan tanaman yang digunakan adalah duavarietas jambu mete produksi tinggi (B02 dan GG1) dan tiga varietasproduksi rendah (Laode Gani, Laode Kase, dan Laura). Tanamandibedakan dalam tiga kelompok umur (5, 8, dan 17 tahun). Parameter yangdiamati karakter morfologi seperti ketebalan daun (μm), luas daun (cm 2 ),produksi gelondong (kg/tanaman), berat kering daun (g/daun), anatomi(jumlah stomata), dan parameter fisiologi meliputi kandungan klorofil(a+b) (%), laju fotosintesis (μmol CO 2  m -2 s -1 ), karbohidrat daun (%),potensial air daun (bar), dan Relative Water Content (RWC) (%). Untukmengetahui parameter morfo-fisiologi yang berpengaruh nyata terhadapproduksi dilakukan uji komponen penentu hasil, yaitu peubah morfo-fisiologi terhadap produksi gelondong mete. Hasil penelitian menunjukkanpeubah klorofil tanaman jambu mete berpengaruh nyata antar aksesi. Hasilanalisis antar peubah morfo-fisiologi dan komponen hasil menunjukkanhanya peubah klorofil yang berkorelasi positif terhadap hasil gelondongaksesi jambu mete yang berproduktivitas tinggi. Fungsi hasil digambarkandalam formula ln hasil gelondong = 2,01 + 11,0 ln klorofil , sedangkan pada aksesiyang produktivitasnya rendah peubah klorofil tidak berpengaruh nyata.Fungsi ini mengindikasikan apabila kandungan klorofil meningkat 1%maka produksi gelondong akan meningkat 11%.Kata kunci: Anacardium occidentale, karakter morfo-fisiologi, produksiABSTRACTCashew productivity in Indonesia is still low, due to impropercultivation technique and the use of unimproved varieties. Crop yield isdetermined by several morpho-physiological characters such as leaf area,leaf thickness, the number of stomata, the rate of photosynthesis,chlorophyll content, relative water content (RWC), and leaf osmoticpotential. This study aimed to obtain morpho-physiological charactersaffecting cashew production. The research was conducted in the CikampekExperimental Station and in the Laboratory, ISMECRI, Bogor, West Java,from January to December 2012. The plant material used were twoselected high-yielding varieties (B02 and GG1) and three low-yieldingvarieties (Laode Gani, Laode Kase, and Laura). The plants were dividedinto three age groups (5, 8, and 17 years). Parameters measured weremorphological characteristics such as leaf thickness (µm), leaf area (cm 2 ),leaf dry weight (g/leaf), and nut yield (kg/tree), as well as anatomicalcharacteristic such as the number of stomata, and physiological parametersconsisted of chlorophyll content (a+b) (%), photosynthetic rate (µmol CO2m -2 s -1 ), leaf carbohydrate content (%), leaf water potential (bar) andrelative water content (RWC) (%). Data were analysed using componenttest to find morpho-physiological characteristics which was affecting nutyield. The result showed chlorophyll content was significantly affected nutyield among varieties as shown in the following function: ln nut yield = 2.01 +11.0 ln chlorophyll . The result indicated that when the chlorophyll contentincreased 1% the nut yield would increase 11%.Keywords: Anacardium occidentale, morpho-physiological characteris-tic, production
In Vitro Culture Manipulation on Pruatjan for Secondary Metabolite Production Roostika, Ika; Purnamaningsih, Ragapadmi; Darwati, Ireng; Mariska, Ika
Jurnal AgroBiogen Vol 3, No 2 (2007): Oktober
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.792 KB)

Abstract

Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk. atau Pimpinellaalpina KDS.) adalah tanaman obat langka yang dapat dimanfaatkansebagai bahan obat afrodisik, diuretik, dan tonik.Kultur in vitro tidak hanya dapat digunakan untuk konservasidan perbanyakan tanaman, melainkan dapat juga diterapkanuntuk produksi metabolit sekunder. Melalui teknik ini,produksi metabolit sekunder tidak bergantung kepada sumbertanaman di lapang. Penelitian ini dilakukan dengan tujuanuntuk meningkatkan kadar stigmasterol melalui kultur invitro dengan menggunakan prekursor asam mevalonat. Penelitiandibagi menjadi dua tahap, yaitu induksi kalus danmanipulasi kultur in vitro untuk meningkatkan kadar stigmasterol.Pada tahap induksi kalus, terdapat 16 perlakuan yangmerupakan kombinasi perlakuan 2,4-D dan piklorammasing-masing pada taraf 0,5; 1,0; 1,5; dan 2,0 ppm. Untukmeningkatkan kadar stigmasterol, digunakan asam mevalonatpada taraf 0, 250, 500, dan 750 ppm dengan masa inkubasiselama 4 dan 6 minggu. Kandungan stigmasterol dianalisismenggunakan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkanbahwa media P2 (DKW + 2,4-D 0,5 ppm + pikloram 1,0ppm) adalah media terbaik untuk induksi kalus. Eksplan daunlebih baik daripada eksplan petiol. Hasil analisis GC-MSmenunjukkan bahwa kandungan stigmasterol tertinggi(0,0356 ppm) diperoleh dari kalus dengan masa inkubasi 4minggu pada media dengan penambahan asam mevalonat250 ppm. Peningkatan taraf asam mevalonat tidak mampumeningkatkan kandungan stigmasterol. Kadar tersebut miripdengan kandungan stigmasterol pada planlet dari GunungPutri (0,0365 ppm) dan Dieng (0,0414 ppm). Dibandingkandengan kadarnya dalam akar tanaman dari lapang, kandungantersebut sekitar 10-100 kali lipat lebih tinggi.
Regeneration of Pruatjan (Pimpinella pruatjan Molk): Axillary Bud Proliferation and Encapsulation Roostika, Ika; Darwati, Ireng; Mariska, Ika
Jurnal AgroBiogen Vol 2, No 2 (2006): Oktober
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.195 KB)

Abstract

Purwoceng (Pimpinella alpina KDS atau Pimpinella pruatjan Molk.) merupakan tanaman obat asli Indonesia yang terancam punah. Akarnya dapat dimanfaatkan sebagai obat afrodisiak, diuretik, dan tonik. Teknik kultur in vitro merupakan teknologi alternatif yang dapat diterapkan untuk konservasi dan perbanyakan tanaman tersebut. Mikropropagasi telah dilakukan melalui jalur organogenesis dengan proliferasi tunas aksilar dan enkapsulasi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan BB-Biogen, Bogor mulai tahun 2004 hingga 2005. Penelitian ini terbagi atas empat percobaan, yaitu (1) optimasi lingkungan tumbuh kultur, (2) optimasi formulasi media untuk proliferasi tunas aksilar dan enkapsulasi tunas aksilar, (3) induksi perakaran, dan (4) aklimatisasi. Kondisi lingkungan kultur yang optimum adalah di growth chamber dengan suhu 9oC dan intensitas cahaya 1000 lux. Formulasi media terbaik untuk proliferasi tunas aksilar adalah media DKW dengan penambahan BA 4 ppm dengan eksplan berupa tunas tanpa daun. Penggunaan arginin 100 ppm lebih baik daripada glutamin 100 ppm dan modifikasi vitamin (mioinositol 100 ppm dan thiamine-HCl 1 ppm). Pada media yang sama, pertumbuhan tunas aksilar terenkapsulasi juga paling baik dan tunas tersebut dapat menembus kapsul alginat setelah 4 minggu dalam periode in vitro (85%). Penggunaan NAA 1,0 ppm menginduksi perakaran paling cepat (40 hari) dengan persentase perakaran paling tinggi (100%). Vermikulit bertekstur kasar paling baik untuk aklimatisasi tunas aksilar terenkapsulasi sedangkan arang sekam paling baik untuk aklimatisasi planlet.
IDENTIFIKASI KARAKTER MORFO-FISIOLOGI PENENTU PRODUKTIVITAS JAMBU METE (Anacardium occidentale) DARWATI, IRENG; S.M., ROSITA; SETIAWAN, SETIAWAN; NURHAYATI, HERA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.114 KB)

Abstract

ABSTRAKProduktivitas jambu mete di Indonesia masih rendah karenabudidayanya yang masih sederhana dan belum menggunakan bahantanaman unggul. Hasil tanaman ditentukan oleh beberapa karakter morfo-fisiologi seperti luas dan tebal daun, jumlah stomata, laju fotosintesis,kandungan klorofil, relative water content (RWC), dan potential osmotikdaun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter morfo-fisiologiyang menentukan hasil jambu mete. Penelitian dilaksanakan di KebunPercobaan Cikampek dan Laboratorium, Balittro, Bogor, Jawa Barat, padabulan Januari-Desember 2012. Bahan tanaman yang digunakan adalah duavarietas jambu mete produksi tinggi (B02 dan GG1) dan tiga varietasproduksi rendah (Laode Gani, Laode Kase, dan Laura). Tanamandibedakan dalam tiga kelompok umur (5, 8, dan 17 tahun). Parameter yangdiamati karakter morfologi seperti ketebalan daun (μm), luas daun (cm 2 ),produksi gelondong (kg/tanaman), berat kering daun (g/daun), anatomi(jumlah stomata), dan parameter fisiologi meliputi kandungan klorofil(a+b) (%), laju fotosintesis (μmol CO 2  m -2 s -1 ), karbohidrat daun (%),potensial air daun (bar), dan Relative Water Content (RWC) (%). Untukmengetahui parameter morfo-fisiologi yang berpengaruh nyata terhadapproduksi dilakukan uji komponen penentu hasil, yaitu peubah morfo-fisiologi terhadap produksi gelondong mete. Hasil penelitian menunjukkanpeubah klorofil tanaman jambu mete berpengaruh nyata antar aksesi. Hasilanalisis antar peubah morfo-fisiologi dan komponen hasil menunjukkanhanya peubah klorofil yang berkorelasi positif terhadap hasil gelondongaksesi jambu mete yang berproduktivitas tinggi. Fungsi hasil digambarkandalam formula ln hasil gelondong = 2,01 + 11,0 ln klorofil , sedangkan pada aksesiyang produktivitasnya rendah peubah klorofil tidak berpengaruh nyata.Fungsi ini mengindikasikan apabila kandungan klorofil meningkat 1%maka produksi gelondong akan meningkat 11%.Kata kunci: Anacardium occidentale, karakter morfo-fisiologi, produksiABSTRACTCashew productivity in Indonesia is still low, due to impropercultivation technique and the use of unimproved varieties. Crop yield isdetermined by several morpho-physiological characters such as leaf area,leaf thickness, the number of stomata, the rate of photosynthesis,chlorophyll content, relative water content (RWC), and leaf osmoticpotential. This study aimed to obtain morpho-physiological charactersaffecting cashew production. The research was conducted in the CikampekExperimental Station and in the Laboratory, ISMECRI, Bogor, West Java,from January to December 2012. The plant material used were twoselected high-yielding varieties (B02 and GG1) and three low-yieldingvarieties (Laode Gani, Laode Kase, and Laura). The plants were dividedinto three age groups (5, 8, and 17 years). Parameters measured weremorphological characteristics such as leaf thickness (µm), leaf area (cm 2 ),leaf dry weight (g/leaf), and nut yield (kg/tree), as well as anatomicalcharacteristic such as the number of stomata, and physiological parametersconsisted of chlorophyll content (a+b) (%), photosynthetic rate (µmol CO2m -2 s -1 ), leaf carbohydrate content (%), leaf water potential (bar) andrelative water content (RWC) (%). Data were analysed using componenttest to find morpho-physiological characteristics which was affecting nutyield. The result showed chlorophyll content was significantly affected nutyield among varieties as shown in the following function: ln nut yield = 2.01 +11.0 ln chlorophyll . The result indicated that when the chlorophyll contentincreased 1% the nut yield would increase 11%.Keywords: Anacardium occidentale, morpho-physiological characteris-tic, production