Sugiarto Danu
Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi – BATAN Jl. Lebak Bulus Raya No. 49, Jakarta-Selatan

Published : 12 Documents
Articles

Found 11 Documents
Search

DENSIFICATION OF KAPOK WOOD (CEIBA PENTANDRA L. GAERTN) AND ITS RADIATION CURING OF SURFACE COATINGS USING ULTRA-VIOLET Danu, Sugiarto; Razzak, Mirzan T.; Handono, Dhedy; ., Darsono; ., Marsongko
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 14, No 3 (2013): April 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.834 KB)

Abstract

Densification and surface coating of kapok wood (Ceiba pentandra L. Gaertn ) have been conducted by pressing and followed by radiation curing of surface coatings using Ultra Violet (UV) light. Pressing was performed to get thickness reduction level of 15, 30, 45, 60 and 75 %. Coating was conducted using unsaturated polyester resin after mixing with 2,2-dimethyl-2-hydroxy acetophenone photoinitiator at concentration level of 1, 2 and 3 %b.w and titanium dioxide pigment. Irradiation was carried out at conveyor speed of 1, 2 and 3 m/minute. Pressing of wood up to 75% thickness reduction resulted in increasing of density significantly and decreasing of thickness swelling. At variation of photoinitiator concentration and conveyor speed used, the coating had pendulum hardness of 23-37 seconds, color value (white) with L = 61-79 %, gloss (60o) = 16-56 %, adhesion met the ASTM standard and resistant to chemicals and solvents used except against 10 % sodium hydroxide solution.Keywords: Densification, Ceiba pentandra L. Gaertn wood, Surface coatings, Ultra Violet radiation
PREPARATION AND PIGMENTED POLYESTER COATING OF SAW DUST PARTICLE BOARD USING ULTRAVIOLET IRRADIATION ., Darsono; Danu, Sugiarto; Sunarni, Anik
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 11, No 3 (2010): Juni 2010
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.834 KB)

Abstract

Experiments on the preparation and pigmented polyester coating of saw dust particle board have been conducted using ultra-violet (UV) radiation curing. The adhesive used for preparation of particle board was the mixture of eugenol and isoeugenol residue as by product of clover oil distillation. Dry saw dust (20 – 40 mesh) was mixed with adhesive at concentration of 16% b.w. The mixture then was hot pressed at 160, 170, and 180 kg/cm2, temperature of 160 °C for 30 minutes. Particle boards obtained have the density of 0.85 - 92 g/cm3, water content of 5.4 – 6.8 % and thickness swelling 45 – 62% ( 2 hr immersion) and unmeasurable for 24 hr immersion due to brittle condition. It was found that particle boards have properties of modulus of rupture = 64 – 71 kgf/cm2, modulus of elasticity = 402 – 447 kgf/ cm2, and internal bond of 0.52 – 0.57 kgf/cm2. Cured coating made of the mixture of polyester resin, photoinitiator (2 and 3% b.w) and pigment (1 and 2% b.w) on particle board and irradiated at 1 – 4 m/min have pendulum hardness = 25.0 – 63.9 sec, pencil hardness = HB – 2H, % remaining = 92 – 100 %, glossy = 42.3 – 58.8 %, and color value of L = 54.3 – 73.9, a = -1.3 – 1.9, and b = 0.4 – 3.3. The cured coatings resist to chemical, solvent and stain, except against 10% NaOH solution and red permanent marker stain.Keywords: Particle board, Coating, Polyester, Ultra violet irradiation.
Sintesis dan Karakterisasi Kopolimer Cangkok Selulosa Bakteri (SB)-Poliakrilonitril Teramidoksimasi Menggunakan Teknik Pra-iradiasi Oktaviani, Oktaviani; Budianto, Emil; Danu, Sugiarto
Jurnal Aplikasi Isotop Radiasi Vol 11, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.638 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kopolimerisasi cangkok akrilonitril pada selulosa bakteri (SB) dengan inisiasi radiasi serta penambahan hidroksilamin untuk menghasilkan gugus amidoksim. Pencangkokan akrilonitril pada SB diharapkan dapat meningkatkan ketahanan termalSB. Selain itu, SB yang bersifat sebagai pengkelat ion-ion logam berat, diharapkan dapat dihasilkan melalui penambahan hidroksilamin. Film selulosa bakteri telah berhasil dibuat dari air kelapa yang diinokulasi dengan bakteri Acetobacter xylinum. Film selulosa bakteri (SB) selanjutnya diiradiasi dengan berkas elektron pada suhu ruang. Setelah diiradiasi, SB tersebut dikopolimerisasi cangkok dengan monomer akrilonitril. Kondisi optimum untuk kopolimerisasi cangkok akrilonitril pada SB adalah pada dosis 75 kGy, suhu 600C, waktu 3 jam, dan konsentrasi akrilonitril 30% b/b. Derajat pencangkokan tertinggi yang diperoleh adalah 56,03%. Selulosa bakteri tercangkok akrilonitril (SB tercangkok PAN) selanjutnya diamidoksimasi untuk mengubah gugus siano menjadi gugus amidoksim. Penentuan gugus fungsi dengan Fourier Transform Infrared (FTIR) menunjukkan adanya spektrum spesifik gugus siano setelah proses pencangkokan akrilonitril pada SB, dimana intensitasnya menurun setelah diamidoksimasi. Hal tersebut diperkuat dengan hasil uji Scanning Electron Microscopy (SEM) yang memperlihatkan adanya gugus siano yang menempel setelah pencangkokan, dan gugus tersebut tidak terlihat lagi setelah amidoksimasi. Dari hasil uji dengan X-ray Diffraction (XRD), indeks kristalinitas SB tercangkok PAN akan semakin rendah dengan meningkatnya derajat pencangkokan dan pengujian dengan Thermal Gravimetry Analysis (TGA) menunjukkan bahwa ketahanan panas SB tercangkok PAN meningkat.Kata kunci : Selulosa bakteri, kopolimerisasi cangkok, akrilonitril, amidoksimasi, pra-iradiasi ABSTRACT Synthesis and Characterization of Amidoxymated Bacterial Cellulose-Polyacrylonitrile Graff Copolymer Using Irradiation Technique. This research purpose was to study copolymerization of bacterial cellulose (BC) grafted polyacrylonitrile with the initiation of radiation, as well as the addition of hydroxylamine to produce amidoxime group. Grafting acrylonitrile on BC is expected to increase the thermal resistance of the BC. Futhermore, BC as chelate to heavy metal ions, is expected to be generated by addition of hydroxylamine. BC films have been successfully synthesized from coconut water inoculated by Acetobacter xylinum. BC film was irradiated using electron beam at room temperature. After irradiated, BC was grafted with acrylonitrile monomer. The optimum conditions for grafting of copolymerization condition were at the dose of 75 kGy, temperature 600C, 3 h time of reaction, and the with concentration of acrylonitrile 30 % w/w. The highest degree of grafting obtained was 56,03 %. Then, bacterial cellulose grafted acrylonitrile (BC grafted PAN) was amidoximated for conversion of cyano groups into amidoxime group. Characterization of functional groups using Fourier Transform Infrared (FTIR) indicates the presence of specific cyano group in BC-grafted-PAN while its intensity decreases after amidoximation. This was supported by Scanning Electron Microscopy (SEM) which showed a cyano group attached after grafting, and the group dissapear after amidoximation. From X-ray Diffraction (XRD) analysis, crystallinity index of BC grafted PAN would be lower if degree of grafting increase and Thermal Gravimetry Analysis (TGA) data showed that the thermal resistance of BC grafted PAN increased. Key words : Bacterial cellulose, graft copolymerization, acrylonitrile, amidoximation, pre-irradiation 
Pengaruh Radiasi Berkas Elektron dan Kimia Pada Pembuatan Glukosa dari Tandan Kosong Sawit Darsono, Darsono; Danu, Sugiarto; Kardha, Made Sumarti; Harsojo, Harsojo
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 35 No. 1 April 2013
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1010.905 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian pembuatan glukosa dari tandan kosong sawit (TKS) dengan 2 tahap, yaitu perlakuan pendahuluan iradiasi berkas elektron dilanjutkan dengan alkali dan asam, diikuti dengan proses sakarifikasi. Serat TKS kering diiradiasi menggunakan berkas elektron pada variasi dosis 0, 200, dan 400 kGy. Hasil iradiasi berkas elektron selanjutnya digiling dan diayak untuk mendapatkan butiran berukuran antara 40/60 mesh. Perlakuan pendahuluan dengan NaOH dilakukan pada suhu 1210C selama 30 dan 60 menit, sedangkan perlakuan dengan H2SO4 dilakukan pada suhu 1210C selama 30 menit dengan menggunakan otoklaf. Sakarifikasi dilakukan menggunakan enzim amilase dan selubiase. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pada dosis iradiasi 0, 200 dan 400 kGy dengan perlakuan NaOH 0, 4, 8, dan 16% telah menghasilkan glukosa maksimum 14,0-14,2%. Perlakuan H2SO4 dengan konsentrasi 1, 2, dan 4% menghasilkan glukosa sekitar 6 – 8,5%. 
PEMBUATAN KOMPOSIT SEKAM PADI-LATEKS DENGAN BAHAN PENGISI SEMEN DAN ABU TERBANG Marsongko, Marsongko; Danu, Sugiarto; K, Made Sumarti
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 9, No 3: JUNI 2008
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.233 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2008.9.3.4730

Abstract

PEMBUATAN KOMPOSIT SEKAM PADI-LATEKS DENGAN BAHAN PENGISI SEMEN DAN ABU TERBANG. Telah dilakukan penelitian pembuatan komposit sekam padi dan limbah lateks dari proses pemekatan lateks dengan lateks iradiasi sebagai perekat. Secara garis besar proses pembuatan komposit sekam padi-lateks dilakukan dengan mencampurkan sekampadi yang telah kering dengan ukuran lebih kecil yaitu 40 sampai dengan 80 mesh dengan tepung slugde (limbah lateks), abu terbang, lateks iradiasi, dan semen sehingga menjadi adonan. Masing-masing adonan dengan komposisi yang berbeda yaitu konsentrasi semen adalah 0%, 6%, 8%, 10%, 12%, lateks iradiasi dan abu terbang masing-masing adalah 15%dan 10%dari berat campuran. Adonan kemudian dimasukkan ke dalam cetakan, dan ditekan dengan mesin pres pada suhu 160 ºC, tekanan 60 kg/cm2 selama 15 menit. Sifat fisik dan mekanik komposit yang diukur meliputi kadar air, kerapatan, pengembangan tebal, kuat lentur (MOR), modulus elastisitas (MOE), kuat ikat internal (IB), dan kuat pegang sekrup (SW). Kadar air, kerapatan dan pengembangan tebal masing-masing 4,05% hingga 5,02%, 0,95 g/cm3 hingga 0,97 g/cm3 dan 6,50 % hingga 9,06 % (perendaman dalam air selama 2 jam), 9,32 % hingga 12,44 % (perendaman dalam air selama 24 jam). Standar Nasional Indonesia (SNI) mensyaratkan kadar air papan partikel maksimum 14 %, kerapatan 0,50 g/cm3 hingga 0,70 g/cm3, dan untuk pengembangan tebal pada perendaman dalam air 10 % hingga 20 %. Nilai kuat lentur 292,92 kg/cm2 hingga 349,54 kg/cm2 (SNI = minimum 100 kg/cm2), modulus elastisitas 14,819 kg/cm2 hingga 20,238 kg/cm2, IB = 4,88 kg/cm2 hingga 25,87 kg/cm2, SW= 70 kg hingga 88 kg. SW telah memenuhi standar SNI yaitu minimal 40 kg.
Manufacturing of Kapur Wood (Dryobalanops spp.) Particle Board and Its UV-Radiation Curing of Surface Coatings Danu, Sugiarto; ., Darsono; Sudradjat, Adjat
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 7, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.259 KB) | DOI: 10.17146/jair.2011.7.1.495

Abstract

Research on manufacturing the kapur (Dryobalanopsspp.) particle board has been conducted using the mixture of clover leaf oil by products andtannin after being mixed with phenol and formaldehyde as adhesives. Particle board was prepared by molding process while pressing and heating. Particle board measured by usingSNI 01-2105-1991 have physical properties i.e. density, water content, thickness swelling meet the standard whereas the mechanical properties i.e. modulus of elasticity, modulus of rupture, internal bond strength, and screw holding strength do not meet the standard. Ultra-violet cured polyester coatings on particle board have pencil hardness of 2B — 2H, medium gloss (36— 58 %), adhesion meet ASTM D 2571-71, and most failure patterns occur on particle board part. In general, polyester coats do not resist against 10 % sodium hydroxide solution
ELECTRON BEAM CURING OF EPOXY ACRYLATE COATINGS ON MEDIUM-DENSITY FIBERBOARD Danu, Sugiarto; Darsono, Darsono
Indonesian Journal of Chemistry Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.845 KB) | DOI: 10.22146/ijc.21624

Abstract

Most of the medium-density fiberboard (MDF) as an engineered woods need surface coating process before entering final products, such as furniture and building materials. The wood surface should be covered for surface protection from damage during service life as well as to enhance its appearance. Surface coating of MDF was conducted using epoxy acrylate resin either for clear and pigmented coatings. Titanium dioxide was used for white pigmented coatings. Coating was conducted at variation thickness level of 30 to 150 μm. Curing was carried out by using 350 kV electron beam accelerator at 1.35 mA current and 1.6 m/min conveyor speed to get the absorbed dose of 3 Mrad. Effect of coating thickness was evaluated by measuring the physical, mechanical and chemical properties of cured samples, i.e., hardness, gloss, transparency, adhesion, abrasion resistance, and chemical, solvent and stain resistance. Experimental results showed that pendulum hardness and abrasion resistance slightly increased whereas gloss, transparency and adhesion resistance decreased with increasing coating thickness, while chemical, solvent and stain resistance remains similar. In general, clear coating provides better properties than pigmented coating.   Keywords: electron-beam; coating; epoxy-acrylate; pigment; medium-density fiberboard
Sintesis dan Karakterisasi Selulosa Bakteri Tercangkok Poliakrilonitril dan Teramidoksimasi Menggunakan Teknik Pra-iradiasi Oktaviani, Oktaviani; Budianto, Emil; Danu, Sugiarto
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 11, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.05 KB) | DOI: 10.17146/jair.2015.11.1.2694

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kopolimerisasi cangkok akrilonitril pada selulosa bakteri (SB) dengan inisiasi radiasi serta penambahan hidroksilamin untuk menghasilkan gugus amidoksim. Pencangkokan akrilonitril pada SB diharapkan dapat meningkatkan ketahanan termal SB. Sedangkan SB yang bersifat sebagai pengkelat ion-ion logam berat, diharapkan dapat dihasilkan melalui penambahan hidroksilamin. Film selulosa bakteri telah berhasil dibuat dari air kelapa yang diinokulasi dengan bakteri Acetobacter xylinum. Film selulosa bakteri (SB) selanjutnya diiradiasi dengan berkas elektron pada rentang dosis 15-120 kGy, laju dosis 15 kGy/pass pada suhu 30 + 1 0C. Setelah diiradiasi, SB tersebut dikopolimerisasi cangkok dengan monomer akrilonitril. Kondisi optimum untuk kopolimerisasi cangkok akrilonitril pada SB adalah pada dosis 75 kGy, suhu 600C, waktu 3 jam, dan konsentrasi akrilonitril 30% b/b. Derajat pencangkokan tertinggi yang diperoleh adalah 56,03 %. Selulosa bakteri tercangkok akrilonitril (SB tercangkok PAN) selanjutnya diamidoksimasi. Amidoksimasi dilakukan dengan penambahan hidroksilamin hidroklorida 6 % b/v dalam pelarut metanol:air = 50:50 v/v pada pH 7, dan diperoleh waktu optimum selama 2 jam dengan densitas gugus amidoksim sebesar 5,425 mmol/ g. Hasil karakterisasi dengan Fourier Transform Infrared (FTIR) menunjukkan adanya spektrum spesifik gugus siano setelah proses pencangkokan akrilonitril pada SB dan intensitasnya menurun setelah diamidoksimasi. Hal tersebut diperkuat dengan hasil uji Scanning Electron Microscopy (SEM) yang memperlihatkan adanya gugus siano yang menempel setelah pencangkokan, dan gugus tersebut tidak terlihat lagi setelah amidoksimasi. Dari hasil uji dengan X-ray Diffraction (XRD), indeks kristalinitas SB tercangkok PAN akan semakin rendah dengan meningkatnya derajat pencangkokan dan pengujian dengan Thermal Gravimetry Analysis (TGA) menunjukkan bahwa ketahanan panas SB tercangkok PAN meningkat.
DENSIFIKASI KAYU RANDU (CEIBA PENTANDRA L. GAERTN) DAN PELAPISAN PERMUKAANNYA DENGAN PEMADATAN MENGGUNAKAN RADIASI ULTRA VIOLET Danu, Sugiarto; Razzak, Mirzan T.; Handono, Dhedy; Darsono, Darsono; Marsongko, Marsongko
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 14, No 3: APRIL 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.539 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2013.14.3.4413

Abstract

DENSIFIKASI KAYU RANDU (CEIBA PENTANDRA L. GAERTN) DAN PELAPISAN PERMUKAANNYA DENGAN PEMADATAN MENGGUNAKAN RADIASI ULTRA VIOLET. Proses densifikasi dan pelapisan permukaan kayu randu (Ceiba pentandra L. Gaertn) telah dilakukan dengan metode penekanan dilanjutkan proses pelapisan permukaan dengan pemadatan menggunakan radiasi sinar Ultra Violet (UV). Penekanan dilakukan secara bertahap pada suhu 100 oC untuk mendapatkan variasi pengurangan tebal 15%, 30 %, 45%, 60 %dan 75%dan parameter yang diukur meliputi densitas dan pengembangan tebal kayu. Proses pelapisan dilakukan menggunakan resin poliester tak jenuh setelah dicampur fotoinisiator 2,2-dimetil- 2-hidroksi asetofenon dengan konsentrasi 1 %berat, 2 %berat dan 3 %berat dan bahan pewarna titanium dioksida. Iradiasi dilakukan pada kecepatan konveyor 1 m/menit, 2 m/menit dan 3 m/menit. Penekanan sampai dengan pengurangan tebal 75% meningkatkan densitas secara signifikan danmenurunkan pengembangan tebal. Pada variasi konsentrasi fotoinisiator dan kecepatan konveyor yang dipakai, lapisan mempunyai kekerasan pendulum23 detik hingga 37 detik, nilaiwarna (putih) dengan L = 61%hingga 79%, kilap (60o) = 16%hingga 56%, adesi memenuhi standar ASTMdan tahan bahan kimia dan pelarut yang diujikan kecuali terhadap larutan NaOH 1 %.
PELAPISAN PERMUKAAN KAYU LAPIS DENGAN POLIMER AKRILAT MENGGUNAKAN RADIASI ULTRA VIOLET Danu, Sugiarto; Darsono, Darsono; Sunarni, Anik
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 7, No 3: JUNI 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.584 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2006.7.3.4841

Abstract

PELAPISAN PERMUKAAN KAYU LAPIS DENGAN POLIMER AKRILAT MENGGUNAKAN RADIASI ULTRA VIOLET. Penelitian pelapisan permukaan kayu lapis dari kayu kamper (Dryobalanops spp.) dengan bahan pelapis polimer akrilat telah dilakukan menggunakan bahan pelapis radiasi dengan nama komersial Overlon, yaitu, dua senyawa polimer epoksi akrilat dan satu senyawa uretan akrilat. Proses pengeringan/pemadatan (curing) dilakukan menggunakan sumber radiasi ultra violet dengan intensitas 80 Watt/cm pada beberapa variasi tebal lapisan dan kecepatan konveyor. Parameter sifat lapisan hasil iradiasi yang diukur meliputi fraksi-gel, weight-swelling ratio, laju nyala, kekerasan pendulum, adesi, kilap, dan ketahanan terhadap bahan kimia, pelarut dan noda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resin epoksi akrilat lebih reaktif dan lapisan yang dihasilkan mempunyai sifat fisik, mekanik, termal, dan kimia yang lebih baik dibanding uretan akrilat.Adesi antara lapisan polimer dengan permukaan kayu lapis yang diuji dengan metode cross-cut memenuhi standar pengujian. Pengujian adesimenggunakanmetode uji tarik menunjukkan tersebarnya data besarnya kuat tarik dan pola kerusakan.