I Made Damriyasa
Laboratory of Veterinary Clinical Pathology, Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University, Bali, Indonesia
Articles
39
Documents
ISOLASI TOXOPLASMA GONDII PADA AYAM BURAS

Buletin Veteriner Udayana Vol. 3 No.2 Agustus 2011
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study was conducted Toxoplasma gondii isolate from the brain and the heart of freerangechickens in Bali. The aim of this study to determine the seroprevalence andto isolate Toxoplasma gondii from free-range chicken heart and brain. To achieve of thisstudy observed 311 free-range chicken serum samples with ELISA method and examined225 free-range chicken brain and heart used digestion method. All of the samples takenfrom 9 districts in Bali. The results showed that the seroprevalence of Toxoplasma gondiiinfreerange chicken has 91.64%. Isolation of Toxoplasma godii from the heart and the brainfreerange chicken found the cyst on inoculate heart and brain, but by bioassay in mice for4 weeks observation failed to find tachyzoite form in peritonial exudat

STRATEGI PEMBERANTASAN PENYAKIT CACINGAN PADA ANJING DI SEKITAR OBYEK WISATA SANUR DALAM UPAYA PENCEGAHAN PENULARANNYA YANG BERSIFAT ZOONOSIS

Jurnal Udayana Mengabdi Volume 5 No.1 – April 2006
Publisher : Jurnal Udayana Mengabdi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT The role of the dog as a definitive host for a number of zoonotic parasites has been recognized as a significant public health problem especially strey dog population. In this population, poor levels of hygine and overcrowding, together with the lack of veterinary attention and zoonotic awareness, exacerbates the risk of disease infection. A public service was undertaken on Friday 16th September 2005 in Sanur beach to control the dog parasitic zoonoses. About 30 trey dogs and 31 domesticated dogs were treated with anthelmintic to control the helminth infections. All of strey dogs were clinically in poor condition.

SENSITIVITY AND SPECIFICITY OF ELISA TEST USING 30 KDA RECOMBINANT ANTIGEN TO DETECT Toxoplasma gondii INFECTION IN PIG WITH MICE BIOASSAY AS A GOLD STANDARD Nyoman Adi Suratma1????, I Made Bakta2, I Made Damriyasa3

INDONESIAN JOURNAL OF BIOMEDICAL SCIENCES Vol. 3, No. 1 Januari 2009
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Toxoplasmosis is a zoonotic disease caused by the protozoa Toxoplasma gondii.Primary infection in pregnant women can cause abortion, neonatal death or abnormalityof fetus. Accurate diagnosis is needed to prevent infection especially related to thepresence of cyst in the tissuesThe aim of this research was to study sensitivity and specificity of ELISAmethod with 30 kDa protein antigen to detect T.gondii infection in pig with micebioassay as gold standard.. Samples were 171 pigs slaughtered at pig slaughter house inDarmasaba BadungThe result showed that sensitivity of ELISA method was 100% and 90,7% inspecificity.Research about sensitivity using ELISA test to predict cysts presence in tissuewere needed in the future.

Experimental Infection of Taenia saginata eggs in Bali Cattle: Distribution and Density of Cysticercus bovis

Jurnal Veteriner Vol 10, No 4 (2009)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The objective of this study was to observe the development, distribution, and infection density ofTaenia saginata metacestodes in Bali cattle. Three Bali cattle were experimentally infected with T. saginataeggs which were collected from taeniasis patients. The experimental animal was inoculated with : i)1000,00 T. saginata; ii) 500,000 eggs; and iii) 1,000,000 eggs, respectivelly 100,000 (cattle 1), 500,000(cattle 2), and 1,000,000 (cattle 3) T. saginata eggs, respectively. To observe the development of cysticerci,all cattle were slaughtered at 24 weeks post infection. To observe their distribution and density, slicingwas done to the cattle?s tissues. The study results showed that cysts were found distributed to all muscletissues and some visceral organs such as heart, diaphragm, lungs, and kidney of the cattle infected with100,000 and 500,000 T. saginata eggs. Density of the cyst was in the range of 11 to 95 cysts per 100 gramsof tissue. The highest density was noted in the heart (58/100 grams) and in diaphragm (55/100 grams).This study has confirmed that T. saginata eggs derived from taeniasis patient in Bali, if infected to Balicattle can develop and spread to all muscle tissues and some visceral organs. From this study it wasconcluded that it is necessary to include the heart in the meat inspection at slaughter house for possibilityof T. saginata cyst infection.$?

Distribusi Cacing pada Berbagai Organ Ikan Tongkol

Indonesia Medicus Veterinus Vol.1 (1) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan intensitas infeksi cacing serta mengetahui distribusi cacing pada berbagai organ ikan tongkol (Auxis rochei) yang dipasarkan di Kedonganan, Badung. Telah dilakukan penelitian terhadap 35 ekor ikan tongkol (Auxis rochei) dengan pengamatan terhadap cacing yang ditemukan dengan menggunakan mikroskop, dan diidentifikasi berdasarkan morfologi umumnya (Nurhayati et al., (2007)), Rohde (2005), Yanong (2008)). Penelitian ini dilakukan di Laboratorium bersama Centre for Studies on Animal Diseases (CSAD) Bukit Jimbaran. Data yang berhasil dikumpulkan dianalisa secara deskriptif dan untuk mengetahui hubungan antara intensitas dengan panjang dan berat ikan digunakan uji Rank Spearman.Hasil penelitian didapatkan prevalensi infeksi cacing pada ikan tongkol (Auxis rochei) yang dipasarkan di Kedonganan, Badung adalah 100% dengan intensitas berkisar antara 4-339 ekor cacing dan rata-rata 31,4 serta distribusi infeksi cacing pada ikan tongkol (Auxis rochei) yang dipasarkan di Kedonganan, Badung terjadi pada berbagai organ diantaranya operculum, insang, rongga insang, lambung, usus, hati, sekum, gonad dan rongga tubuh ikan.

Seroprevalensi Infeksi Toxoplasma gondii pada Babi di Lembah Baliem dan Pegunungan Arfak Papua

Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the presence of Toxoplasma gondii in pigs at the Baliem Valley and at the Mountains of Arfak Papua. Using the Indirect test Haemaglutination Asay, Primary Cellognost * Toxoplasmosis ? H (IHA reagent Toxoplasmosis), Reagent Buffer, Buffer Serum, Toxoplasmosis Control Serum, positive (IgG), Toxoplasmosis Control Serum, negative, and Pig Serum. The results showed the presence of Toxoplasma gondii in pigs at the Baliem Valley is (75.9%) and at the Mountains of Papua Arfak amounts (25%),

Prevalensi dan Distribusi Cacing Pada Berbagai Organ Ikan Selar Bentong

Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan distribusi cacingpada berbagai organ ikan selar bentong (Selar crumenophthalmus) yangdipasarkan di Kedonganan, Badung. Sampel yang digunakan adalah 35 ekor ikan selar bentong (Selar crumenophthalmus) yang berasal dari pasar ikan Kedonganan. Ikan diperiksa di laboratorium secara kasat mata yang dilanjutkan dengan pemeriksaan dibawah mikroskop. Selanjutnya data mengenai distribusi cacing pada berbagai organ yang didapat dalam penelitian dapat digunakan rancangan penelitian Crosss Sectional Study yang dilaporkan secara deskriptif. Hasil pengamatan terhadap sampel adalah ditemukannya 4 jenis parasit cacing, yaitu dari filum cacing Nemathelminthes (Anisakis spp, Camallanus spp, dan Acanthocephala) dan Plathyhelminthes (Digenea). Cacing Anisakiss spp ditemukan pada organ rongga perut, usus, pylorik, perut, dan gonad. Hal ini diakibatkan karena Anisakis spp pada ikan selar bentong (Selar crumenophthalmus) masih berupa larva yang hidupnya motil sehingga bisa berpindah tempat. Sedangkan Anisakis spp dewasa terdapat pada mamalia laut (lumba-lumba dan paus), dimana cacingnya sudah bersifat dormant/ menetap pada jaringan otot. Organ alami Camallanus spp adalah pada organ usus, tetapi dalam penelitian ini cacing Camallanus spp ditemukan pada organ gonad. hal ini disebabkan karena adanya migrasi cacing. Acanthocephala merupakan cacing berkepala duri, karena kekhasan tubuhnya yang memiliki proboscis yang dilengkapi dengan kait. Dalam penelitianini Acanthocephala ditemukan pada organ usus. Serta cacing lainnya dari filum Plathyhelminthes yaitu Digenea. Dimana Digenea memiliki ciri yang khas yaitu mempunyai oral sucker dan ventralsucker. Anisakis spp merupakan cacing yang paling banyak ditemukan yaitu 83,8% dari total jumlah cacing yang ditemukan. Sedangkan cacing Camallanus spp dan Acanthocephala merupakan parasit cacing yang paling sedikit ditemukan yaitu sekitar 0,95%. Serta cacing lainnya adalah Digenea yaitu sekitar 14,3%.

Prevalensi Cacing Nematoda pada Babi

Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (5) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi dan mengetahui prevalensi cacing yang menginfeksi lambung babi yang berasal dari Lembah Baliem dan Pegunungan Arfak Papua. Lambung babi yang diperiksa berjumlah 30 sampel, 10 sampel berasal dari Lembah Baliem dan 20 sampel berasal dari Pegunungan Arfak. Pemeriksaan dilakukan secara Makroskopis dan Mikroskopis, identifikasi cacing berdasarkan acuan yang dimiliki. Untuk mengetahui perbedaan prevalensi antar tempat pengambilan sampel di analisis secara statistik menggunakan uji chi-square.Hasil pemeriksaan terhadap lambung babi yang berasal dari Lembah Baliem dan Pegunungan Arfak Papua, didapatkan infeksi cacing Nematoda dengan prevalensi 60%, prevalensi cacing nematoda di Lembah baliem sebesar 90% dan di Pegunungan Arfak sebesar 45%. Setelah dilakukan identifikasi cacing nematoda yang menginfeksi lambung babi di Lembah Baliem dan Pegunungan Arfak, teridentifikasi dua jenis cacing yaitu Prevalensi infeksi cacing Gnathostoma hispidum di Lembah Baliem sebesar 35%, dan di Pegunungan Arfak sebesar 80%. Sedangkan Prevalensi infeksi cacing Hyostrongylus rubidus di Lembah Baliem dan Pegunungan Arfak sama-sama sebesar 10%.Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa babi yang dipelihara di Lembah Baliem dan Pegunungan Arfak Papua pada lambungnya terinfeksi oleh dua jenis cacing nematoda yaitu : Gnathostoma hispidum. dan Hyostrongylus rubidus. Prevalensi infeksi cacing Gnathostoma hispidum lebih tinggi di Lembah Baliem dibandingkan dengan di Pegunungan Arfak.

AKURASI METODE RITCHIE DALAM MENDETEKSI INFEKSI CACING SALURAN PENCERNAAN PADA BABI

Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (5) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit cacing merupakan salah satu jenis penyakit parasit yang dapat menginfeksi. Cara mendiagnosa infeksi cacing selain dengan melalui gejala klinis dan pemeriksaan post mortem dapat juga dilakukan dengan pemeriksaan feses. Salah satu metode untuk pemeriksaan feses adalah dengan metode Ritchie. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui akurasi metode Ritchie pada pemeriksaan feses babi untuk mendeteksi infeksi cacing pada saluran pencernaan. Bahan-bahan yang dipakai dalam penelitian ini adalah sampel feses dan isi saluran gastrointestinal babi yang diambil dari Pegunungan Arfak dan Lembah Baliem dengan jumlah sebanyak 22 sampel. Pemeriksaan cacing dilakukan dengan pemeriksaan post mortem sedangkan pemeriksaan feses dilakukan dengan metode Ritchie kemudian dihitung nilai sensitifitas dan spesifisitas. Berdasarkan hasil yang diperoleh pada pemeriksaan post mortem dan pemeriksaan feses maka didapat nilai spesifisitas dan sensitifitas untuk masing-masing jenis cacing pada pemeriksaan feses dengan metode Ritchie secara keseluruhan nilai sensitifitas antara 0%-72% dan spesifisitas 9,09%-72%. Hasil pemeriksaan dengan metode Ritchie pada penelitian ini mempunyai tingkat sensitifitas yang tidak tinggi. Dari hasil yang didapatkan maka dapat disimpulkan untuk jenis cacing telur type Strongyl didapat sensitifitas 72,72% dan spesifisitas 9,09%, untuk cacing Macracanthorhyncus didapat sensitifitas 0% dan spesifisitas 75%, untuk cacing Strongyloides didapat sensitifitas 44,44 % dan spesifisitas 100%, Ascaris didapat sensitifitas 40% dan spesifisitas 64,71% untuk cacing Trichuris didapat sensitifitas 63,62% dan spesifisitas 63,63%.

Bioaktivitas Ekstrak Daun Tapak Dara (Catharanthus Roseus) Terhadap Periode Epitelisasi Dalam Proses Penyembuhan Luka Pada Tikus Wistar

Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (1) 2013
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman tapak dara merupakan salah satu sumber obat herbal yang mempunyai khasiat menyembuhkan luka. Secara empiris tanaman ini telah banyak digunakan sebagai obat luka di beberapa negara seperti India. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun tapak dara secara topikal pada tikus terhadap proses kesembuhan luka melalui pengukuran perubahan luas permukaan luka dan periode epitelisasi.Penelitian ini menggunakan tiga puluh dua ekor tikus Wistar jantan. Tikus tersebut dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Kelompok kontrol maupun perlakuan sebelumnya dibuat luka iris kemudian diberikan vaselin secara topikal pada kelompok kontrol dan ekstrak daun tapak dara 15% secara topikal pada kelompok perlakuan. Luas permukaan luka kemudian diukur pada hari pertama, kelima dan kelima belas. Periode epitelisasi diukur pada saat luka mulai menutup secara sempurna. Untuk mengetahui perbedaan luas luka dan periode epitelisasi, pada masing-masing kelompok diuji secara statistik dengan ujiT.Dari hasil penelitian yang diperoleh diketahui bahwa pada hari kelima luas permukaan luka tidak berbeda nyata antara tikus kontrol dan tikus perlakuan. Pada hari kelima belas luas permukaan luka tikus perlakuan sangat bermakna lebih kecil dibanding dengan tikus kontrol. Demikian juga periode epitelisasi pada tikus perlakuan sangat bermakna lebih pendek dibandingkan dengan tikus kontrol. Sehingga dapat disimpulkan ekstrak daun tapak dara dapat mempercepat proses periode epitelisasi pada jaringan luka tikus Wistar.