Dalmeri Dalmeri
Universitas Indraprasta PGRI

Published : 13 Documents
Articles

Found 13 Documents
Search

CONTEXTUALIZATION OF SCIENTIFIC AND RELIGIOUS VALUES IN MULTICULTURAL SOCIETY Dalmeri, Dalmeri
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.478 KB) | DOI: 10.21580/ws.23.2.285

Abstract

This paper is the result of research applying reflective philosophical approach that try to answer the the question about the integration of the values of science and the values of the Islamic religion to shape the character of college students and the contextualization of religious values in the development science and technology in the multicultural era such as Indonesia. The findings of this research is, that Islam as a religion has always advocated Muslims to always holds integration, because, religion and science are not contradictive. and controversial, but complementary. Such a perspective, factually was able to build positive character among students in Jakarta, because for them religion is seen as a driving force for the development of science and discovery in science and technology should be aligned with the values of Islam, so it is not pulled out from the roots of religious values sublime.***Tulisan hasil riset dengan pendekatan penelitian reflektif filosofis terhadap integrasi nilai-nilai sains dan nilai-nilai agama Islam ini, mencoba menjawab persoalan integrasi nilai-nilai sains dan nilai-nilai agama Islam untuk membentuk karakter mahasiswa perguruan tinggi dan kontekstulisasi nilai-nilai agama dalam perkembangan sains dan teknologi di era multikultural seperti Indonesia. Adapun temuan peneletian ini adalah, bahwa Islam sebagai sebuah agama selalu menganjurkan umatnya untuk selalu berpandangan integratif. Sebab, antara agama dan sains tidak bersifat kontradiktif dan berlawanan, melainkan saling melengkapi. Cara pandang seperti ini, ternyata mampu membentuk karakter positif di kalangan mahasiswa perguruan tinggi di Jakarta, sebab bagi mereka agama dipandang sebagai pendorong bagi perkembangan ilmu penge­tahuan dan penemuan sains dan teknologi harus diselaraskan dengan nilai-nilai Islam, sehingga tidak tercerabut dari akar nilai-nilai agama yang luhur.
MEMBANGUN MANAJEMEN MUTU DENGAN PRINSIP SIX SIGMA PADA LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBAL Dalmeri, Dalmeri; Supadi, Supadi
Al-Fikri: Jurnal Studi dan Penelitian Pendidikan Islam Vol 2, No 1 (2019): Februari
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jspi.v2i1.4017

Abstract

ABSTRAKPerguruan tinggi agama Islam (PTAI) sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional tidak bisa melepaskan diri dari perubahan paradigma baru perguruan tinggi yang saat ini sedang gencar terjadi. Ada paradigma baru ini, kebijakan pengelolaan perguruan tinggi harus lebih terbuka, transparan, dan akuntabel. Saat ini PTAI menghadapi dua permasalahan serius, yakni kualitas lulusan yang dihasilkan dan sumbangan PTAI pada pengembangan ilmu keislaman. Pada konteks kualitas lulusan, kapasitas intelektual dan keilmuan para lulusan PTAI menunjukkan bahwa banyak dari para lulusan PTAI yang belum sanggup menjawab setiap permasalahan keagamaan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Masalah kedua di atas disebabkan karena geliat yang ada di dalam kampus saat ini lebih banyak yang bersifat politis daripada ilmiah. Selain itu, tradisi menulis karya ilmiah atau penelitian di kalangan kampus PTAI juga terkesan dipaksakan. Tulisan ini berupaya menwarkan gagasan untuk membangun Managemen Penjaminan Mutu dengan Prinsip Six Sgima pada Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) untuk Merespon Tantangan Nasional dan Global. Mengacu pada semangat paradigma baru Perguruan Tinggi dan problem yang dihadapi oleh PTAI ini, maka keberadaan jaminan mutu (quality assurance) di PTAI penting dilakukan. Selama ini, mayoritas PTAI tidak memiliki lembaga atau unit penjaminan mutu karena dua alasan. Pertama, khusus bagi PTAIN sebagai lembaga yang selalu disubsidi pemerintah, selama ini merupakan “anak manja” yang keberadaannya terjamin APBN, bagaimanapun kualitasnya. Kedua, sebagai akibat dari alasan pertama, pada umumnya pimpinan PTAI melihat proses penjaminan mutu sebagai tugas manajemen dirinya. Kata Kunci: Six Sigma, Manajemen Mutu, Penjaminan Mutu, Total Quality
PENDIDIKAN UNTUK PENGEMBANGAN KARAKTER (Telaah terhadap Gagasan Thomas Lickona dalam Educating for Character) Dalmeri, Dalmeri
Al-Ulum Vol 14, No 1 (2014): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.555 KB)

Abstract

Tulisan ini akan membahas konsep pendidikan karakter dalam pemikiran Thomas Lickona sebagai upaya untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang berupa tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya. Tujuan pendidikan karakter adalah menanamkan kebiasaan yang baik, sehingga peserta didik paham, mampu merasakan, dan mau melakukan yang baik. Pendidikan karakter membawa misi yang sama dengan pendidikan akhlak atau pendidikan moral. Thomas Lickona mengatakan bahwa dasar hukum moralitas yang harus diterapkan dalam dunia pendidikan sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran agama dalam kitab suci, dan implikasi dari dasar hukum moralitas ini berlaku secara universal. ----------------------This paper discusses about Thomas Lickona’s idea on education character. It is mainly an attempt to shape ones personality through education which it results can be seen in action in the form of ones good behavior, honest, responsible, respect the rights of others, hard work, and so on. The main goal of educational character is to encourage good habits; so that, learners understand, able to feel, and want to do goods. Educational character has the same mission with behavior education or moral education. Thomas Lickona assert that the basic laws of morality should be applied in the educational sectors in accordance with the principles of religious teachings in the holy scriptures. Therefore, the implications of the basic laws of morality will be universally valid.
REVITALISASI FUNGSI MASJID SEBAGAI PUSAT EKONOMI DAN DAKWAH MULTIKULTURAL Dalmeri, Dalmeri
WALISONGO Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article had the purpose to analyze the functions of the mosque that is notonly as a center of activities of ibadah, but also as the center of da‘wa and Muslimsocial and economic activities. The orientation of da‘wa that emphasizedindividual improvement dealing with in the quality of faith have neglected oneimportant dimension of da‘wa, namely the development and empowerment of theMuslims as a whole. Through a qualitative descriptive approach and collectingdata through observation and interviews, it was founded that communities whichare empowered are not seen as passive recipient of the service, but a communitythat has a variety of potential and capabilities that can be empowered. Muslimcommunity empowerment activities can be done through mentoring by boastingmotivation, increasing awareness, developing knowledge and attitudes toenhance their capabilities, mobilizing productive resources and developingeconomic and da‘wa activity.***Artikel ini berupaya menganalisis bahwa fungsi masjid bukan hanya sebataspusat kegiatan ibadah, tetapi juga sebagai pusat dakwah dan aktivitas sosialmaupun ekonomi umat Islam. Orientasi dakwah yang lebih mengedepankanperbaikan kualitas keimanan individual telah mengabaikan satu dimensi pentingdalam dakwah yaitu pengembangan dan pemberdayaan umat Islam secaramenyeluruh. Melalui pendekatan deskriptif-kualitatif dengan proses penggaliandata melalui observasi dan wawancara, dapat ditemukan bahwa komunitas yangdiberdayakan tidak dipandang sebagai komunitas yang menjadi objek pasifpenerima pelayanan, melainkan sebuah komunitas yang memiliki beragampotensi dan kemampuan yang dapat diberdayakan. Kegiatan pemberdayaankomunitas umat Islam dapat dilakukan melalui pendampingan dengan memberikanmotivasi, meningkatkan kesadaran, membina aspek pengetahuan dansikap meningkatkan kemampuan, memobilisasi sumber produktif dan mengembangkankegiatan ekonomi maupun aktivitas dakwah.Keywords: pusat dakwah, pemberdayaan ekonomi, aktivitas sosial,kesejahteraan umat
WACANA PENDIDIKAN ISLAM MULTIKULTURAL UNTUK KEHARMONISAN HIDUP BERBANGSA Dalmeri, Dalmeri
Jurnal Kawistara Vol 5, No 1 (2015)
Publisher : Sekolah Pascasarjana UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia’s diversity of ethnic, culture, tradition, and religion have aroused the dynamics of culturaldiversity and positive civilization. If it is not managed wisely and comprehensively, it will cause conflictand disintegration. Multicultural education in Indonesia should not only become an academic discourse,but it also needs to be implemented in the concrete sphere in the educational realm. A conceptual framefor its implementation is neded, that is why, the problems caused by the effects of the diversity andreligious bias do not become a heavy burden for the country. As for the students, this paper explainsmulticultural education in Islamic education and process to cultivate values of beliefs and importanceof unique recognition for every ethnic, culture, and other social groups.
Toward Peace-Loving Attitude Trough Education Character Dalmeri, Dalmeri; Gea, Antonius Atosokhi
Al-Ulum Vol 15, No 2 (2015): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Efforts to solve violence had been faced by multi treatments. Violence in education is action over the standar of ethic and rule in education, either physically or disturbing the rights of ones. The actors can be anyone,  including the chief of school, teacher, staff , student, parents and even society. Violence in education is assumed as effect of certain condition. Externally or internally, and it might happen with any trigger. This paper aims to analyse the importance of character building through peace-loving attitude to revitalize the actors of education as evaluation of structure and culture in the educational world. Our educational world recently sometimes shows its arrogancy and even militaristic behavior. While the basic tenet of education is to appreciate the understanding of human behavior in order to be enlighted and free.-----Upaya untuk menyelesaikan kekerasan pun menemui tantangan yang semakin kompleks. Kekerasan dalam pendidikan merupakan perilaku melampaui batas kode etik dan aturan dalam pendidikan, baik dalam bentuk fisik maupun pelecehan atas hak seseorang. Pelakunya bisa siapa saja: pimpinan sekolah, guru, staf, murid, orang tua atau wali murid, bahkan masyarakat. Kekerasan dalam pendidikan diasumsikan terjadi sebagai akibat kondisi tertentu yang melatar-belakanginya, baik faktor internal dan eksternal, dan tidak timbul secara begitu saja, melainkan dipicu oleh suatu kejadian. Tulisan ini menganalisa topik yang sangat penting untuk digali kembali oleh para insan pemerhati pendidikan sebagai wadah refleksi dan evaluasi kinerja struktural-kultural terhadap praksis dunia pendidikan. Dunia pendidikan yang akhir-akhir ini cenderung bernuansa arogansi intelektual atau bahkan bergaya militeristik yang tidak mengindahkan norma-norma etis. Padahal pendidikan seyogyanya memanusiakan manusia menuju taraf pemahaman yang lebih mencerahkan dan memerdekakan.
REVITALISASI FUNGSI MASJID SEBAGAI PUSAT EKONOMI DAN DAKWAH MULTIKULTURAL Dalmeri, Dalmeri
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.445 KB) | DOI: 10.21580/ws.22.2.269

Abstract

This article had the purpose to analyze the functions of the mosque that  is not only as a center of activities of ibadah, but also as the center of da‘wa and Muslim social and economic activities. The orientation of da‘wa that emphasized individual improvement dealing with in the quality of faith have neglected one important dimension of da‘wa, namely the development and empowerment of the Muslims as a whole. Through a qualitative descriptive approach and collecting data through observation and interviews, it was founded that communities which are empowered are not seen as passive recipient of the service, but a community that has a variety of potential and capabilities that can be empowered. Muslim community empowerment activities can be done through mentoring by boasting motivation, increasing awareness, developing knowledge and attitudes to enhance their capabilities, mobilizing productive resources and developing economic and da‘wa activity.***Artikel ini berupaya menganalisis bahwa fungsi masjid bukan hanya sebatas pusat kegiatan ibadah, tetapi juga sebagai pusat dakwah dan aktivitas sosial maupun ekonomi umat Islam. Orientasi dakwah yang lebih mengedepankan perbaikan kualitas keimanan individual telah mengabaikan satu dimensi penting dalam dakwah yaitu pengembangan dan pemberdayaan umat Islam secara menyeluruh. Melalui pendekatan deskriptif-kualitatif dengan proses penggalian data melalui observasi dan wawancara, dapat ditemukan bahwa komunitas yang diberdayakan tidak dipandang sebagai komunitas yang menjadi objek pasif penerima pelayanan, melainkan sebuah komunitas yang memiliki beragam potensi dan kemampuan yang dapat diberdayakan. Kegiatan pemberdayaan komunitas umat Islam dapat dilakukan melalui pendampingan dengan mem­berikan motivasi, meningkatkan kesadaran, membina aspek pengetahuan dan sikap meningkatkan kemampuan, memobilisasi sumber produktif dan me­ngembangkan kegiatan ekonomi maupun aktivitas dakwah.
ISLAMIC CULTURAL APPROACH IN TEACHING ENGLISH Dalmeri, Dalmeri
BASIS (Bahasa dan Sastra Inggris) Vol 1 No 2 (2014): JURNAL BASIS UPB
Publisher : Universitas Putera Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.718 KB)

Abstract

This paper analyzes the cultural approach to language learning is taught in English. A foreign language teacher has a responsibility to implement most of approaches above mention in order to socialize the language learners into what members of the target language society consider being linguistically and socio culturally appropriate behavior. Consequently, a successful language learner must be adapted in the culture (acculturation) of the target language.
MENGGUGAT PERSATUAN ROH MANUSIA DENGAN TUHAN: DEKONSTRUKSI TERHADAP PAHAM ITTIHAD DALAM FILSAFAT ABU YAZID AL-BUSTAMI Dalmeri, Dalmeri
MADANIA: JURNAL KAJIAN KEISLAMAN Vol 20, No 2 (2016): DECEMBER
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.946 KB) | DOI: 10.29300/madania.v20i2.163

Abstract

To Sue the Union of Human Spirit with God: Deconstruction Toward the Concept of Ittihad in the Philosophy of Abu Yazid Al-Bustami. Sufism in Islam has religious and spiritual experience emphasizing more on te spiritual experience of Sufis. This ritual is considered as one way of purification of the spirit or the soul by emptying all atributes that are related to all aspects of earthly life, as well as its relationship with the creatures. This experience emphasizes more on the spiritual nature to juxtapose to God. This spiritual experience could create conflicts and even lead to a mutual misleading. This study seeks to describe the formulation of a union among human spirits based on Abu Yazid’s philosophical thinking. It uses a philosophical approach with the pattern of historical - critical research toward one of the famous sufi’s teachings known as ittihad
ISLAMIC CULTURAL APPROACH IN TEACHING ENGLISH Dalmeri, Dalmeri
Deiksis Vol 2, No 04 (2010): Deiksis
Publisher : Pusat Penelitian Bahasa dan Seni Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.276 KB) | DOI: 10.30998/deiksis.v2i04.406

Abstract

This paper analyzes the cultural approach in teaching English. A foreign language teacher has a responsibility to implement the cultural approaches in order to socialize the language to the learners through the culture. Consequently, students must learn culture when they learn language.In other words, the culture must be adapted by the students in order to get success in learning language.Key words: teaching English, reflects of culture, Islamic cultural approach