Articles

Found 11 Documents
Search

Deteksi Mutasi Titik Gen Natrium Voltage Gated Channel menggunakan Polymerase Chain Reaction pada Aedes aegypti Resisten Sintetik Piretroid di Palembang Ghiffari, Ahmad; Handayani, Dwi; Dalilah, Dalilah
Buletin Spirakel EDISI 2011
Publisher : Buletin Spirakel

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aedes aegypti is a vector of several dangerous disease, for example is the dengue virus. Hundreds of milion people are suffered with dengue fever every year in almost a hundred nations worldwide. One way to reduce the dissemination of the virus is to control the population of the mosquitoes. Insecticides was successful in eliminating in the past but unfortunately the resistance against this chemical has occured recently. Insecticides resistance was first discovered happen with DDT in 1955, followed by Temephos and last the synthetic pyrethroid. The synthetic pyrethrold resistance can be detected with two ways, which is the detection in enzyme and the mutation in natrium voltage gated channel. Detection in enzyme means to detect the raise of the detoxicifation quantity in neutralizing the insecticide effect, it can be done in biochemical assay and molecular assay. Detection in mutation of natrium voltage gated channel means to detect the receptor mutation of the insecticide site, It can only be done with molecular assay. This research is conducted to determine whether there is a mutation in Palembang Aedes aegypty mosqultoe. The population research has taken in three sub district of Palembang, with the number of sample approximately two hundred mosquitoes. The identification of larvae took place In Parasitology Laboratory Medical Faculty of Sriwijaya University and the identification of mutation took place in Balai Besar Laboratorium Kesehatan Palembang. The results showed that there is no mutation detected, the PCR methode. that been used showed there was no mutant band arise. It can be concluded that the resistance of synthetic pyrethroid has not been found. Following research should be attempt with another proven primers that would able to detect the insecticide resistance, or the following sophisticated research that could detect a new point of mutation.   Keywords:  Aedes aegypti, PCR, Point mutation
Identifikasi spesies nyamuk genus Mansonia dan deteksi molekuler terhadap mikrofilaria/larva cacing Brugia malayi pada nyamuk genus Mansonia Dalilah, Dalilah; Anwar, Chairil; Theodorus, Theodorus; Saleh, Irsan
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol 4, No 2 (2017): April 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Filariasis merupakan penyakit menular menahun dengan kecacatan seumur hidup yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria. Daerah endemis filariasis di Indonesia tersebar cukup luas.  Sebanyak 70% kasus ini disebabkan oleh Brugia malayi. Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan termasuk salah satu wilayah endemis filariasis malayi. Pemutusan transmisi vektor merupakan  unsur utama program eliminasi filariasis limfatik sehingga metode deteksi untuk mengetahui ada tidaknya infeksi larva pada nyamuk adalah sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis spesises nyamuk Mansonia sebagai vektor filaria di Banyuasin dan mendeteksi DNA mikrofilaria/larvafilaria Brugia malayi pada tubuh vektor. Penelitian ini merupakan uji laboratoris yang dilaksanakan pada  tiga Rukun Tetangga (RT) di Desa Sungai Rengit Murni yang lokasinya berdekatan dengan sungai/rawa dan pemukiman. Sampel adalah semua nyamuk genus Mansonia betina. Penangkapan dilakukan dengan umpan hewan/sapi yang dimasukkan di dalam kelambu. Identifikasi nyamuk dilakukan di Lokalitbang P2B2 Baturaja dan identifikasi molekuler dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi RSMH Palembang. Populasi nyamuk yang berhasil ditangkap dengan umpan sapi sebanyak 3085 ekor dengan populasi nyamuk dominan berasal dari genus Culex dan Mansonia.Sebanyak tujuh spesies nyamuk genus Mansoniaditemukan yakni : Ma. uniformis, Ma. africana, Ma. indiana, Ma. dives, Ma. annulifera, Ma. annulata dan Ma. Bonneae. Total jumlah nyamuk Mansonia yang didapat berjumlah 906 ekor yang dibagi dalam 50 pool. Pada hasil pemeriksaan laboratorium molekuler didapat hasil tidak munculnya pita di titik 322 bp atau 644 bp yang merupakan rantai DNA dari Brugia malayi. Pada penelitian ini disimpulkan bahwa ditemukan tujuh spesies nyamuk dari genus Mansonia. Pada uji molekuler tidak ditemukan larva/mikrofilaria. Sebagai saran dilakukan penelitian lebih lanjut dengan metode pemeriksaan molekuler yang lebih spesifik untuk mendeteksi keberadaan mikrofilaria dalam tubuh vektor, memperbanyak jumlah sampel sehingga peluang untuk ditemukannya akan semakin besar.
Investigasi resistensi Anopheles sp. terhadap insektisida piretroid dan kemungkinan terjadinya mutasi gen voltage gated sodium channel (VGSC) Haryanto, Didid; Dalilah, Dalilah; Anwar, Chairil; Prasasti, Gita Dwi; Handayani, Dwi; Ghiffari, Ahmad
Jurnal Entomologi Indonesia Vol 15, No 3 (2018): November
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1527.864 KB)

Abstract

Penggunaan insektisida golongan piretroid secara luas dan terus menerus dalam pencegahan penularan malaria dapat menimbulkan mutasi gen voltage gate sodium channel (VGSC) pada vektor nyamuk yang dikenal dengan mutasi knockdown resistance (kdr). Mutasi gen ini membuat sensitifitas ikatan protein VGSC dengan insektisida menurun sehingga menyebabkan resistensi. Timbulnya resistensi insektisida piretroid pada nyamuk vektor dapat menjadi penghambat keberhasilan pemutusan penularan penyakit malaria sehingga deteksi adanya mutasi mutlak diperlukan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui status resistensi insektisida piretroid dan mengidentifikasi mutasi pada gen VGSC kodon 1014 penanda resistensi nyamuk Anopheles sp. yang menjadi vektor malaria di Provinsi Sumatera Selatan. Sampel diambil di tiga Kabupaten, yaitu Muara Enim, Ogan  Komering Ulu (OKU), dan Lahat. Uji awal kerentanan terhadap insektisida piretroid (permetrin 0,75%) dilakukan sesuai standar WHO tahun 2016 pada spesies dominan, yaitu Anopheles vagus Dönitz. Selanjutnya, identifikasi mutasi gen VGSC pada kodon 1014 dilakukan pada An. vagus dan spesies Anopheles barbirostris van der Wulp yang tertangkap, dengan teknik seminested-PCR dan dilanjutkan dengan analisis sekuensing. Hasil uji kerentanan Anopheles sp. di Kabupaten Muara Enim menunjukkan resisten terhadap piretroid, sedangkan di Kabupaten Lahat dan OKU masih rentan terhadap insektisida piretroid. Sementara, analisis sekuensing PCR menunjukkan tidak terjadi perubahan basa alel kdr pada target site insektisida gen VGSC sehingga dapat disimpulkan secara molekuler belum ditemukan adanya mutasi pada gen VGSC kdr allel penanda resistensi insektisida piretroid. 
The Efficacy of Red Ginger Fraction (Zingiber officinale Roscoe var. rubrum) as Insecticidal Aedes aegypti Anwar, Chairil; Syukur, KM Yahya; Dalilah, Dalilah; Salni, Salni; Novrikasari, Novrikasari
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol 2 No 2 (2018): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine and Translational Research
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Faculty of Medicine, Universitas Sriwijaya) Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1037.341 KB)

Abstract

Aedes aegypti is a vector of Dengue Hemoragic Fever. The use of synthetic chemical insecticide is the most common way to control Ae. aegypti. However, since it can cause resistency if it is used in a wide scale with high frequency and continously, it requires an alternative way. Red ginger (Zingiber officinale Roscoe var. rubrum) is one of natural insecticide which is safe to be used to control Ae. aegypti. This research aims was to determine the activity of active fraction of red ginger to mortality of Ae. aegypti. It was a quasi-experiment research with post test only control design. Twenty Ae. aegypti Liverpool strain were the sample of this research with 5 concentration for each and 4 times repetition. The result showed that concentration 0.5%, 1.0%, 1.5%, 2.0% and 2.5% causing mortality percentage of 32.5%, 33.8%, 51.3%, 58.8% and 65.0% respectively. One way Anova test showed p-value < α (0.00 < 0.05). It was concluded that there was a significant difference of various concentration of active fraction n-heksan of red ginger extract to the mortality of Ae. aegypti. The lethal concentration (LC50) was 2.409%. It was suggested to continue this research with reppellant or bio-assay test method.   Key words: Toxicity, extract, fraction, Aedes aegypti, Insecticidal
The Relationship Between Soil Transmitted Helminthes (STH) Infection and Nutritional Status in Students of State Elementary School Number (SDN) 200 Palembang Indonesia Anwar, Chairil; Annisa, Saraswati; Dalilah, Dalilah; Novrikasari, Novrikasari
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol 2 No 2 (2018): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine and Translational Research
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Faculty of Medicine, Universitas Sriwijaya) Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1190.912 KB)

Abstract

Infection of Soil Transmitted Helminthes (STH) is caused by intestinal nematodes where as in its life cycle, soil is needed as the media for the eggs or larvae to mature into effective forms, most commonly happen to children of school age. This infection is still one of the main problems in public health, including Indonesia. STH infection are widely distributed in tropical and subtropical areas. Lack of personal hygiene, poor environmental sanitation and low socioeconomic status are some factors that plays role in increasing the occurrence of the infection. This infection is also one of the causes responsible for malnutrition in children by decreasing appetite and food intake thus ensued adverse consequences such as declining growth pace, impairment of physical health, and weakening cognitive function. This study was conducted to analyze the association of STH infection with nutritional status of SDN 200 students in  Kertapati District, Palembang. This study was an analytic observational research with a cross sectional research design. Samples consist of 107 students chosen using proportional stratified random sampling technique. Data was collected by direct interview using questionnaires, measuring body weight and height to obtain nutritional status which then classified using CDC 2000 growth curve while fecal contamination was examined using Kato Katz and modified Harada Mori methode in the Laboratory of Parasitology Medical Faculty of Universitas Sriwijaya. Data then analyzed using Chi-square test. From 107 students, 27.1% infection of STH was found on 29 students with 6 students (20.7%) infected by A. lumbricoides and 23 students (79.3%) infected by T. trichiura. Proportion of malnutrition status was found at 43.9%. Statistical test showed a significant association between STH infection and nutritional status (p=0.036; OR=3.167; Cl 95%: 1.163-15.237). There was a significant association between STH infection and nutritional status in students of SDN 200 Kelurahan Kemas Rindo Kertapati District Palembang City.
Papaya Leaf (Carica papaya L.) Active Fraction Effective as Bioinsectiside Against Anopheles species (Diptera: Culicidae) Larva Invitro Study Anwar, Chairil; Febriyanto, Febriyanto; Dalilah, Dalilah
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol 2 No 1 (2018): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine and Translational Research
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Faculty of Medicine, Universitas Sriwijaya) Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1082.097 KB)

Abstract

ABSTRACT   Malaria is one of the spread-disease that become a global public health problem included Indonesia. One of the controlling approach of vector-borne disease is by avoiding direct contact of human and mosquitoes. Natural insecticide is an alternative method that can be used. Carica papaya L. is one of the natural insecticide because contains of alkaloid, flavonoid and saponin. This research was aimed to determine the activity of active fraction. was a quasi-experiment research with post test only group design. This research was conducted in April – June 2017. Extraction and fractination was performed in laboratory of MIPA Biologi of Sriwijaya University. The experiment was performed in laboratory of Entomologi Baturaja. The sample of the research was Anopheles sp. larva instar III and IV. Larvacide test used 6 different concentrations which was 0,125%, 0,25%, 0,5%, 1,0% and 2,0% with aquadest as a control. Anova test and post hoc analysis with SPSS 22 software. The result of efficacy test to Anopheles sp. larva showed that N-hexan was the fraction with highest larvacide ability that kill 95% larva at 2% concentration level. Thin layer chromatography test showed a compound of Terpenoid. Activity test of active fraction N-heksan of papaya leaf with the highest mortality rate 92,5% and the lowest 46,25%. LC50 fraction N-heksan of papaya leaf was high toxicity at 24 hours of observation. Anova test showed there was significant influence and difference of various concentration of active fraction of papaya leaf to the mortality of Anopheles sp. larva with p value < α (0,00<0,05).   Key words             : Anopheles sp. larva, N-hexan fraction of papaya leaf, larvacide  
Prevalensi, Insidensi, dan Karakteristik Klinikohistopatologi Fibrocystic Change Cesariana, Vindy; Dewi, Citra; Dalilah, Dalilah

Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.127 KB)

Abstract

Fibrocystic change (FCC) meliputi suatu perubahan histologi payudara yang ditandai dengan kombinasi kista yang bervariasi, pertumbuhan fibrosa, dan proliferasi epitel. Kelainan ini berhubungan dengan dengan perubahan hormonal selama siklus menstruasi, sering terjadi pada usia 20-50 tahun dengan gejala klinis payudara terasa seperti benjolan saat diraba. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi, insidensi, dan karakteristik klinikohistopatologi FCC yang diperiksa secara histopatologi. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang dan pengumpulan data sekunder diperoleh dari rekam medik pasien. Subjek penelitian adalah seluruh pasien yang menjalani pemeriksaan histopatologi jaringan payudara dan memenuhi kriteria inklusi. Prevalensi FCC yaitu sebesar 24,29%. Rentang usia pasien berkisar antara 13-68 tahun. Perbandingan antara perempuan dan laki-laki yang menderita FCC adalah 46,2:1. Lokasi lesi terbanyak pada payudara kiri. Keberadaan FCC dengan lesi penyerta lebih sering ditemui daripada lesi FCC tunggal. Temuan lesi penyerta dikelompokkan menjadi satu hingga empat lesi penyerta yang ditemui bersamaan diagnosis FCC. Insidensi FCC terbanyak pada kelompok usia 26-45 tahun. Mayoritas penderita adalah perempuan. Keberadaan kelompok lesi penyerta tunggal terbanyak ditemui berupa ductal hyperplasia diikuti kelompok dua lesi penyerta terbanyak yaitu ductal hyperplasia dan FAM.
The Influence of Chlorine to The Egg Hatchability of Aedes Aegypti Irwinsyah, Fajri; Dalilah, Dalilah; Triwani, Triwani
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 50, No 4 (2018): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.127 KB)

Abstract

Aedesaegypti adalah nyamuk yang membawa virus serotip DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4, dimana semua serotype ini dapat menyebabkan Demam Berdarah (Lestari, 2007). Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh konsentrasi kaporit terhadap daya tetas telur Aedesaegypti. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh pada berbagai dosis kaporit terhadap persentase penetasan telur Aedesaegypti. Makin tinggi konsentrasi kaporit maka ada kecenderungan makin sedikit jumlah telur yang menetas. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan penelitian post test only group design dengan berbagai konsentrasi kaporit yaitu 0 mg/l ; 2 mg/l; 4 mg/l; 8 mg/l dan 10,0 mg/l; 12,5 mg/l; 15 mg/l. Data hasil eksperimen akan di analisis statistic yaitu ujinormalitas, uji kruskal wallis dan analisis probit LC 50. Hasil dari uji normlitas didapat bahwa nilai P<0,05 yang artinya nilai tidak normal. Karena nilai p tidak terdistribusi normal maka uji selanjutnya yang akan digunakan adalah krukal wallis. Hasil dari analisis kruskal wallis akan melihat nilai bermakna atau signifikan bermakna, didapatkan bahwa konsentrasi 10 mg/l; 12,5 mg/l; 15 mg/l, dimana pada konsentrasi ini daya tetas telur terhambat dan analisis probit menunjukkan bahwa daya hambat terhadap penetasan telur 50% pada konsentrasi kaporit 1,3880 mg/l. Berdasarkan hasil tersebut kaporit dapat  digunakan sebagai alternative pengendalian vector demam berdarah. 
Hubungan Infeksi Cacing Soil Transmitted Helminths (STH) dengan Status Gizi pada Siswa Sekolah Dasar Negeri 200 Kelurahan Kemasrindo Kecamatan Kertapati Kota Palembang Annisa, Saraswati; Dalilah, Dalilah; Anwar, Chairil
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 50, No 2 (2018): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.617 KB)

Abstract

Infeksi Soil Transmitted Helminths (STH) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di dunia, termasuk Indonesia. Infeksi ini disebabkan oleh cacing golongan nematoda usus yang dalam siklus hidupnya membutuhkan media tanah untuk proses pematangan telur atau larva menjadi bentuk yang infektif, terjadi terutama pada anak usia prasekolah dan anak usia sekolah. Infeksi ini adalah salah satu penyebab dari kekurangan gizi pada anak karena dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan dan asupan makanan sehingga dapat menyebabkan konsekuensi yang merugikan seperti penurunan kecepatan pertumbuhan, lemahnya kesehatan fisik, lemahnya fungsi kognitif, hingga malnutrisi pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan infeksi cacing STH dengan status gizi pada siswa Sekolah Dasar Negeri 200 Kelurahan Kemasrindo Kecamatan Kertapati Kota Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 107 siswa yang dipilih dengan teknik proportional stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung menggunakan kuesioner, pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk mendapatkan satus gizi yang kemudian diklasifikasikan dengan menggunakan kurva pertumbuhan CDC 2000, dan pemeriksaan feses menggunakan metode Kato Katz dan Harada Mori modifikasi yang dilakukan di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Hasil yang diperoleh dianalisis menggunakan uji statistik Chi-square. Hasil penelitian didapatkan dari 107 siswa, proporsi infeksi STH sebesar 27,1% (29 siswa) dengan rincian infeksi tunggal A. lumbricoides ditemukan pada 6 (20,7%) siswa dan infeksi tunggal T. trichiura pada 23 (79,3%) siswa. Proporsi status gizi kurang ditemukan sebesar 43,9%. Dari hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara infeksi STH dan status gizi (p=0,036; OR=3,167; CI 95%: 1,163-15,237). Terdapat hubungan antara infeksi Soil Transmitted Helminths (STH) dan status gizi pada siswa SDN 200 Kelurahan Kemasrindo Kecamatan Kertapati Kota Palembang.
Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat Tentang DBD dengan Jumlah Larva Nyamuk Ridho, M rasyid; Dalilah, Dalilah; Anwar, Chairil
Biomedical Journal of Indonesia: Jurnal Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (811.593 KB)

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD), penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus, secara endemis berada di Indonesia. Infeksi virus DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Tindak pencegahan adalah cara yang efektif untuk mengurangi kejadian DBD. Pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat memiliki peran penting dalam pemberantasan vektor. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tempat-tempat penampungan air yang menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk serta hubungannya dengan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat RT 50 tentang DBD di RT 50 Perumahan OPI. Penelitian ini menggunakan pendekatan analitik observasional. Sampel penelitian diambil berdasarkan Purposive Sampling, yaitu dilakukan pengambilan sampel dengan pertimbangan daerah tempat tinggal yang memiliki angka kejadian DBD yang tinggi. Pengumpulan sampel dilakukan dengan menginvestigasi TPA dan jentik nyamuk di tiap-tiap rumah serta wawancara kepada salah satu anggota keluarga dari masing-masing rumah. Larva ditangkap menggunakan gamadotik, pipet tetes dan cidukan. Data pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat didapatkan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Dari 24 rumah yang diperiksa, 62,5% rumah positif  larva nyamuk dan 37,5% rumah lainnya negatif. Indeks larva yang ditemukan Angka Bebas Jentik (ABJ) sebesar 37,5%, House Index (HI) 62,5%, Container Index (CI) 23,07%,Breteau Index (BI) sebesar 112,5% dan Density Figure (DF) 7. Genus nyamuk yang ditemukan adalah genus Aedes dengan spesies Aedes aegypti (25,43%)danAedes albopictus(69,63%)sertanyamuk genus Culex(4,93%). Sebanyak 62,5% masyarakat memiliki pengetahuan yang baik, 87,5% memiliki sikap baik tetapi hanya 25% yang memiliki perilaku baik. Dari analisis Chi-square antara pengetahuan, sikap dan perilaku dan keberadaan  jentik  didapatkan pengetahuan (p=0,80), sikap(p=1)  dan perilaku (p=2). Tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat dengan keberadaan larva nyamuk (p>0,05)