Articles

Found 20 Documents
Search

DESTRUCTIVE FISHERY AND FISHERY SUSTAINABILITY ASSESSING FISHERY SUSTAINABILITY USING A MULTICRITERIA PARTICIPATORY APPROACH : A Case Study of Small Islands in South Sulawesi Prasetiamartati, Budiati; Fauzi, Akhmad; Dahuri, Rokhmin; Fahrudin, Achmad; Lange, Hellmuth
JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT Vol 9, No 3 (2006): Volume 9, Number 3, Year 2006
Publisher : JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

The sustainability in the integrated human and nature systems or social–ecological systems(SES) of reef fishery needs attention, because the livelihood of many coastal communities is dependentupon it. Likewise, coral reef ecosystem is important marine resource as a source of biodiversity, aspawning aggregation for various reef fish and biota. However, coral reef ecosystem in South Sulawesihas been pressured by reef-related fishing activities, which include destructive practices of bomb andpoison fishing.This study assesses the condition of fishery sustainability in five selected small islands situated inTaka Bonerate Marine National Park and Spermonde Archipelago, South Sulawesi. Multi-criteriaanalysis (MCA) is used as a decision-making tool to analyze and evaluate multiple indicators under aparticipatory group decision-making environment (Mendoza and Prabhu 2004). Four variable criteriaof sustainability indicators are included, namely ecological-criterion indicators, economic-criterionindicators, social-criterion indicators, and institutional-criterion indicators. The result of theassessment is analyzed with the state of coral reef and the state of destructive fishery in the area. 
ANALISIS SIMULASI UPAYA MITIGASI GAS METAN PADA PADI SAWAH DI INDONESIASIMULATION ANALYSIS OF APPROACH ON MITIGATION OF METHANE GAS EMISSION RICE FIELDS IN INDONESIA Effendy, Sobri; Handoko, I.; Sutamihardja, RTM; Dahuri, Rokhmin
Jurnal Agromet Indonesia Vol 12, No 1 & 2 (1997): DECEMBER 1996/1997
Publisher : PERHIMPI (Indonesian Association of Agricultural Meteorology)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2048.797 KB)

Abstract

Abstract is available in the full text (pdf format)
PEMODELAN SISTEM DINAMIK PENILAIAN KESESUAIAN AGROKLIMAT BERDASAR HUBUNGAN RADIASI DAN CURAH HUJAN DENGAN FASE PERTUMBUHAN TANAMAN KELAPA SAWITDYNAMIC SYSTEM MODELLING OF AGROCLIMATE LAND SUITABILITY BASE ON RELATIONSHIP OF RADIATION AND ... Sibuea, Lukman H.; Pawitan, Hidayat; Baharsyah, Yustika S.; Koesmaryono, Yonny; Karama, Syarifuddin; Dahuri, Rokhmin
Jurnal Agromet Indonesia Vol 17, No 1 & 2 (2003): June 2003
Publisher : PERHIMPI (Indonesian Association of Agricultural Meteorology)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1616.497 KB)

Abstract

Abstract is available in the full text (pdf format)
COASTAL ZONE MANAGEMENT IN INDONESIA : ISSUE AND APPROCHES Dahuri, Rokhmin
JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT Vol 1, No 2 (1998): Volume 1, Number 2, Year 1998
Publisher : JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The coastal zones and their embodied natural resources are a frontier area that offers Indonesian nation opportunities and challenges to enhance its economic development on a sustainable basis. Being the largest Archipelago State in the world, Indonesia is endowed with abundant and diverse coastal and marine resources. As natural resources on land are becoming scarce or difficult to develop, marine and coastal resources will be an importance resource for sustaining Indonesian economic development in the twenty first centuries. Furthermore, the shift of the global economic center from Atlantic to Pacific Rim will inevitably increase the use of Indonesia’s marine and coastal areas for various development activities, especially sea communication and transportation, fisheries and aquaculture, tourism, mining and energy, maritime industry, and coastal and offshore engineering. However, experience in developing marine and coastal resources during First Long-term Development Period (1969-1994) have resulted not only in economic successes but also caused environmental degradation at a level which threatens the sustainable capacity of marine and coastal ecosystems to support further Indonesia’s economic development. Case like water pollution in highly populated or industrializes areas, overfishing of some fish stock, physical destruction of important coastal ecosystems (especially mangrove and coral reef), and coastal resource use conflict among coastal users indicate such a threatened condition. In addition, the majority of coastal communities are still lingering on absolute poverty. The paper critically identifies and analyses the root of the problems, which threatens the sustainable capacity of coastal ecosystems, and suggests an alternative development paradigm provides a framework for reorientation of Indonesia’s development policies and programs with respect to coastal and marine resources to achieve sustainable development for the utmost benefits of all Indonesian people.
Kualitas habitat populasi simping (Placuna placenta) di Perairan Teluk Kronjo, Tangerang ., Yonvitner; Dahuri, Rokhmin; Setyobudiandi, Isdradjad; Praptokardiyo, Kardiyo; Boer, Mennofatria
Aquahayati Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Aquahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.07 KB)

Abstract

Populasi simping dapat bertahan dan berkembang apabila memiliki kualitas lingkungan hidup yang baik. Penelitian inibertujuan untuk mengkaji karakter habitat dan lingkungan hidup simping di perairan Teluk Kronjo, Tanggerang. Penelitiandilaksanakan selama lima bulan, dari bulan Maret sampai September 2008. Penelitian dilakukan dengan interval satubulan pada enam stasiun dengan tiga kali ulangan. Analisis meliputi analisis deskriptif dan anova dua arah (antara stasiundan antar zona). Status habitat simping dari indikator suhu, kecerahan, pH, BOD, masih mendukung kehidupan simping,sedangkan kekeruhan, TSS, oksigen, redoks, dan COD, berpotensi menghambat pertumbuhan simping. Secara keseluruhankondisi habitat kurang baik namun masih dalam batas syarat minimal untuk mendukung kehidupan simping.Kata kunci: simping, Kronjo, kualitas air
Struktur Ikan Karang dan Interaksinya dengan Komponen Lifeform Karang Penyusun Terumbu Karang Pulau Hoga dan Karang Karedupa di Kepulauan Tukang Besi , Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi Tenggara Harim, Abdul; Dahuri, Rokhmin; Dahuri, Rokhmin; G Bengen, Dietriech; G Bengen, Dietriech; Hascaryo Iskandar, Budi; Hascaryo Iskandar, Budi
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 3, No 2 (1995): Desember 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas ikan karang dan interaksinya dengan lifeform karang pada terumbu karang Pulau Hoga dan Karang Kaledupa di Kepulauan Tukang Besi, Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi Tenggara.Metode transek garis sejajar dengan kontur kedalaman digunakan untuk mengamati persentase penutupan lifeform karang dan ikan-ikan karang asosiatif pada kedalaman 10m. Pencacahan ikan-ikan karang dilakukan secara visual pada batas pandang 3 meter ke kiri dan kanan transek. Untuk mengetahui interaksi antara ikan karang dengan lifeformkarang digunakan analisis faktorial koresponden. Dari hasil pengamatan ditemukan 142 spesies ikan karang yang tergolong ke dalam 30 famili. Selanjutnya komponen lifeform karang yang paling berperan terhadap distribusi spasial ikan-ikan karang secara berturul-turut adalah komponen karang balu, komponen karang lunak dan komponen abiotikKata-kata kunci: ikan karang, lifeform karang, struktur komunitas ikan karang, distribusi spasial, anal isis faktorial koresponden
Struktur Ikan Karang dan Interaksinya dengan Komponen Lifeform Karang Penyusun Terumbu Karang Pulau Hoga dan Karang Karedupa di Kepulauan Tukang Besi , Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi Tenggara Harim, Abdul; Dahuri, Rokhmin; Dahuri, Rokhmin; G Bengen, Dietriech; G Bengen, Dietriech; Hascaryo Iskandar, Budi; Hascaryo Iskandar, Budi
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 3, No 2 (1995): Desember 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas ikan karang dan interaksinya dengan lifeform karang pada terumbu karang Pulau Hoga dan Karang Kaledupa di Kepulauan Tukang Besi, Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi Tenggara.Metode transek garis sejajar dengan kontur kedalaman digunakan untuk mengamati persentase penutupan lifeform karang dan ikan-ikan karang asosiatif pada kedalaman 10m. Pencacahan ikan-ikan karang dilakukan secara visual pada batas pandang 3 meter ke kiri dan kanan transek. Untuk mengetahui interaksi antara ikan karang dengan lifeformkarang digunakan analisis faktorial koresponden. Dari hasil pengamatan ditemukan 142 spesies ikan karang yang tergolong ke dalam 30 famili. Selanjutnya komponen lifeform karang yang paling berperan terhadap distribusi spasial ikan-ikan karang secara berturul-turut adalah komponen karang balu, komponen karang lunak dan komponen abiotikKata-kata kunci: ikan karang, lifeform karang, struktur komunitas ikan karang, distribusi spasial, anal isis faktorial koresponden
MODAL SOSIAL DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN Prasetiamartati, Budiati; Fauzi, Akhmad; Dahuri, Rokhmin; Fakhrudin, Akhmad; Lange, Hellmuth
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 13, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Konsep modal sosial diartikan sebagai sebagai norma dan hubungan sosial yang menyatu dalam struktur masyarakat dan membuat orang dapat bekerjasama dalam bertindak untuk mencapai tujuan. Aksi bersama atau kerjasama dapat berlangsung ketika terdapat modal sosial dalam masyarakat. Tulisan ini menunjukkan bahwa modal sosial input dan modal sosial output atau aksi bersama terbukti dapat mendukung pengelolaan perikanan yang berkelanjutan melalui aksi bersama pelarangan kegiatan penangkapan ikan yang merusak, antara lain penggunaan bom, bius, atau penambangan karang.Kata kunci: pengelolaan perikanan, modal sosial.
Vulnerability of Miangas Island Baroleh, Maartianus S.; Fahrudin, Achmad; Dahuri, Rokhmin; Susilo, Setyo Budi; Monintja, Daniel
JURNAL ILMIAH PLATAX Vol 7, No 1 (2019): EDISI JANUARI-JUNI 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1322.867 KB) | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.21546

Abstract

There are several methods of analysis in knowing the vulnerability of a community. In the analysis to determine the vulnerability of Miangas island, the determinant vulnerability was used. Determinant vulnerability evaluation is very easy to use and simple. Therefore, the determinants of ordinary vulnerabilities use an assessment of resources that are carried out in full, so that results can be used as reference for management. One approach that is widely used in determining the index is the method of scaling parameters into certain values. These values are expressed as a score of a parameter. As done by (Tahir 2010) referred to in Doukakis (2005) and Rao et al. (2008), the Miangas Island analysis refers to the determination of the paramater scale and the weight of the vulnerability.          The vulnerability index model constructed in this study consists of a static model of environmental vulnerability index and dynamic model of small island environmental vulnerability index. The static model of the environmental vulnerability index is intended to calculate the current vulnerability index (momentary), while the dynamic model of the environmental vulnerability index is used to predict the vulnerability dynamics in the future. In general, the values of IK-PPK = IE x IS / IAC = 4.29 x 2.35 / 1.6 = 6.30 By using these maximum and minimum values, the scale of assessment of the vulnerability of small islands is divided into 4 categories of vulnerability (Doukakis 2005), Miangas Island is obtained as follows; 0.20-6.04 = Low vulnerability, 6.05 -18.18 = Moderate vulnerability, 18.19-40.48 = High vulnerability (high), 40.49-76.00 = Very high vulnerability (very high). That there is a vulnerability with a moderate position.Keywords:  vulnerability, index, determinant, MiangasABSTRAKAda beberapa metode analisis dalam mengetahui kerentanan suatu komunitas.  Dalam analisis untuk mengetahui kerentanan pulau Miangas maka digunakan kerentanan determinan. Evaluasi kerentanan determinan sangat mudah digunakan dan sederhana. Oleh karna itu, determinan kerentanan biasa menggunakan assessment terhadap sumberdaya yang dilakukan secara utuh, sehingga hasil dapat dijadikan bahan acuan terhadap pengelolaan.   Salah satu pendekatan yang banyak digunakan dalam penentuan indeks adalah metode penskalaan parameter ke dalam nilai-nilai tertentu.  Nilai-nilai tersebut dinyatakan sebagai nilai skor dari suatu parameter.  Sebagaimana yang dilakukan oleh (Tahir 2010) yang diacu dalam Doukakis (2005) dan Rao et al. (2008) maka pada analisis Pulau Miangas mengacu penentuan skala paramater dan bobot kerentanan tersebut.Model indeks kerentanan yang dikonstruksi dalam penelitian ini terdiri dari model statis indeks kerentanan lingkungan dan model dinamik indeks kerentanan lingkungan pulau-pulau kecil.  Model statis indeks kerentanan lingkungan dimaksudkan untuk menghitung indeks kerentanan saat ini (sesaat), sedangkan model dinamik indeks kerentanan lingkungan digunakan untuk melakukan prediksi dinamika kerentanan pada masa yang akan datang. Secara umum didapatkan nilai IK-PPK = IE x IS/IAC =  4,29 x 2,35 /1,6 = 6,30. Dengan menggunakan nilai maksimum dan minimum tersebut, skala penilaian tingkat kerentanan pulau-pulau kecil dibagi menjadi 4 kategori kerentanan (Doukakis 2005) maka Pulau Miangas didapatkan sebagai berikut; 0.20-6.04 = Kerentanan rendah (low), 6.05-18.18 = Kerentanan sedang (moderate), 18.19-40.48 = Kerentanan tinggi (high), 40.49-76.00 =         Kerentanan sangat tinggi (very high). bahwa ada kerentanan dengan posisi moderate.Kata kunci :  kerentanan, determinan, indeks, Miangas
STATUS PEMANFAATAN SUMBERDAYA UDANG OLEH PERIKANAN SKALA KECIL DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN CILACAP (Utilitization Status of Shrimp by Small Scale Fisheries in the Coastal Area of Cilacap District) Patria, Andreas D.; Adrianto, Luky; Kusumastanto, Tridoyo; Kamal, M. Mukhlis; Dahuri, Rokhmin
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol 5, No 1 (2014): Marine Fisheries - Mei 2014
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.42 KB) | DOI: 10.29244/jmf.5.1.49-55

Abstract

ABSTRACTFish stock in marine is dynamic due to fluctuation in the annual total catch. Consequently, the estimate number of fish stock changes yearly, without exception in the coastal of Cilacap District. This current study was intended to reassess the condition of fish stock utilization in the coastal water of Cilacap in 2012. Data of fish production, effort, fish price, and effort cost in 1999-2012 are taken from the Office of Fisheries Agency of Cilacap District. Analysis of fish stock condition is carried out using Gordon-Schaefer bioeconomic model. The results showed that utilization of marine fish resource in the coastal water of Cilacap District was in the condition of over fishing both in terms of MSY or MEY.Key words: fish stock assessment, Gordon-Schaefer model, small scale of fisheries-------ABSTRAKStok sumberdaya ikan di suatu perairan laut selalu dinamis karena jumlah penangkapan ikan berubah setiap tahunnya. Konsekuensinya adalah bahwa dugaan stok ikan di suatu lokasi perairan juga berubah setiap tahunnya, tidak terkecuali di perairan pantai selatan Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk menduga status tingkat pemanfaatan stok udang oleh nelayan skala kecil di perairan pesisir Kabupaten Cilacap dengan tahun acuan 2012. Data produksi udang, data upaya penangkapan, data harga udang, dan data biaya per upaya penangkapan tahun 1999-2012 bersumber dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Cilacap. Analisis kondisi tingkat pemanfaatan stok ikan dilakukan menggunakan model keseimbangan bioekonomi Gordon-Schaefer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan sumberdaya ikan laut di wilayah pesisir Kabupaten Cilacap telah berada pada kondisi lebih tangkap (overfishing) baik dari segi MSY maupun MEY.Kata kunci: pendugaan stok ikan, model Gordon-Schaefer, nelayan skala kecil