I Ketut Anom Dada
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

GERUSAN DAUN BINAHONG (ANREDERA CORDIFOLIA) MEMPERCEPAT KESEMBUHAN LUKA BAKAR PADA TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) Airlangga, Komang Sri Gilang; Gorda, I Wayan; Dada, I Ketut Anom; Sudimartini, Luh Made
Buletin Veteriner Udayana Vol. 11 No. 1 Pebruari 2019
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2019.v11.i01.p13

Abstract

Luka bakar merupakan kejadian dimana rusaknya jaringan kulit akibat kontak kulit dengan sumber panas seperti listrik, bahan kimiawi, dan api serta radiasi. Penelitian Efek Gerusan Daun Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steenis)   terhadap kecepatan kesembuhan luka bakar derajat II pada tikus putih (Rattus Norvegicus) dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian gerusan daun binahong terhadap kesembuhan luka bakar tikus putih (Rattus norvegicus) yang diukur berdasarkan lama peradangan, kecepatan epitelisasi dan kepadatan kolagenisasi yang dilihat dari gambaran makroskopis dan mikroskopis. Penelitian menggunakan  menggunakan hasil pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis dianalisis secara statistik dengan bantuan piranti SPSS for window 17 The Randomize Postest Control Only Group Design. Tiga puluh dua (32) ekor tikus putih betina dengan berat 150-200 gram dibagi menjadi 2 perlakuan. Hasil penelitian adalah pemberian daun binahong berpengaruh terhadap kesembuhan luka bakar pada tikus putih berdasarkan lama perdangan dan kecepatan epitelisasi. Pemberian gerusan daun binahong mempercepat penyembuhan luka bakar pada tikus putih. Saran, gerusan daun binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steenis) dapat dipergunakan pada penyembuhan luka bakar di daerah-daerah terpencil.
LAPORAN KASUS : PENANGANAN BEDAH TERHADAP KEJADIAN ENDOMETRITIS PADA KUCING LOKAL Sendana, Lois; Wandia, I Nengah; Dada, I Ketut Anom
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Endometritis merupakan suatu kondisi terjadinya radang pada dinding uterus. Penyebabnya dapat berupa mikroorganisme  yang masuk melalui organ reproduksi betina pada saat  perkawinan atau melahirkan. Seekor kucing datang ke Rumah Sakit Hewan Universitas Udayana dengan keluhan adanya leleran darah dan nanah  pada vulva, sudah beberapa kali kawin tetapi tidak bunting, dan nafsu makan baik. Hasil pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan adanya penebalan yang terjadi pada dinding uterus dan gambaran anechoic di dalam organ uterus yang mengindikasikan adanya cairan. Penanganannya adalah dengan melakukan pembedahan ovariohisterektomi, yaitu pengangkatan ovarium dan uterus. Premedikasi yang digunakan adalah atropin sulfat sebanyak 0,3 ml secara subkutan. Anestesi yang diberikan adalah kombinasi ketamin sebanyak 0,5 ml dan xylazin sebanyak 0,3 ml secara intravena. Pembedahan dilakukan dengan laparatomi mulai dari kulit hingga peritoneum. Ligasi dilakukan pada proksimal ovarium kanan dan kiri. Bifurkasio uteri ditelusuri untuk mendapatkan kornua uteri, bagian distal diligasi sebanyak dua kali dan pemotongan pada proksimal serviks lalu melakukan kontrol pendarahan. Perawatan pascaoperasi dengan antibiotik berupa amoxicillin sirup sdengan jumlah pemberian 1,5 ml sebanyak 3 kali sehari selama 7 hari dan antiinflamasi berupa dexamethasone tablet dengan jumlah pemberian 0,3 gram sebanyak 2 kali sehari selama 5 hari.  Pengobatan topikal, diberikan salep betamethasone valerat dan neomycin sulfate yang memiliki kandungan antiinflamasi dan antibiotik setiap 2 kali sehari selama 5 hari. Benang jahit dibuka pada hari ketujuh dengan kondisi luka yang sudah kering dan kucing mengalami kesembuhan.
BIOAKTIVITAS EKSTRAK DAUN TAPAKDARA (CATHARANTHUS ROSEUS) TERHADAP KADAR KREATININ DAN KADAR UREUM DARAH TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) Laksmi, Ni Luh Gede Merry Cintya; Dada, I Ketut Anom; Damriyasa, I Made
Buletin Veteriner Udayana Vol. 6 No. 2 Agustus 2014
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of the study was to evaluate the bioactivity of the Tapakdara leaf extract (Catharanthus roseus) on the creatinine and blood urea levels in rat (Rattus norvegicus). Tweenty four male rats (250-260 gram body weight) were devided into three goups, with 8 animals in each group. Group 1 as a control group that was geven placebo, the group 2 was treated with 100 mg/kg body weight of leaf extract orally and the group 3 was treated with 100 mg/kg body weight of leaf extract orally.   The animals were treated during 8 days after one week adaptation period. The examination of ceratinin and Blood Urea Nitrogen (BUN) were done in the last day of treatment. The result of the study indicated that the creatinin level of rats treated with 100 and 200 mg/kg BW was high significantly higher (p<0.01) than control group, however the creatinin level was in range of normal value. The level of Blood Urea Nitrogen of rats were treated with leaf extract of Tapakdara 100-200 mg/kg BW was significantly hihger (p<0.05) than control group, it was also in normal value.
STUDI KASUS : PENANGANAN HERNIA UMBILIKALIS PADA BABI DUROC Dada, I Ketut Anom; Ananta, Mohammad Gufron
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (2) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus hernia pada Babi sering terjadi pada peternak tradisional sehingga kurang mendapat perhatian karena kurang pengetahuan dan informasi tentang cara penanganan dan perawatannya. Babi yang menderita hernia tidak mempunyai nilai ekonomis kerena pertumbuhannya sangat terganggu.  Dengan Laparotomy yaitu operasi membuka rongga abdomen untuk mereposisi organ visceral yang keluar melalui cincin hernia dan selanjutnya menutup kembali luka yang dibuat saat membuka rongga abdomen dengan tiga lapis jahitan yaitu peritoneum dengan sederhana menerus, subcutan dengan putus sederhana dan kulit dengan putus sederhana pula. Setelah duapuluh satu hari jahitan dilepas Babi dinyatan sembuh lalu dipelihara seperti Babi yang lain yang sekelahiran. Lima bulan kemudian semua Babi di jual sesuai berat badannya masing masing. Ternyata berat babi yang mengalami hernia tidak berbeda jauh dengan yang normal. Pada kasus sebelum dilakukan operasi reposisi berat Babi yang mengalami hernia hanya sengah dari berat Babi yang normal setelah dipelihara selama lima bulan. Dapat disimpulkan bahwa operasi laparotomy untuk reposisi hernia pada Babi secara ekonomis sangat menguntungkan.
PERBANDINGAN TINGKAT KESEMBUHAN LUKA PADA KULIT KELINCI YANG DIJAHIT BENANG BEDAH ABSORBABLE (CATGUT) DAN NONABSORBABLE (SILK) (COMPARISON OF WOUND HEALING LEVELS ON RABBIT SKIN SUTURED WITH ABSORBABLE (CATGUT) AND NONABSORBABLE (SILK) SURGICAL THREAD) Sudira, I Wayan; Dada, I Ketut Anom; Gustara, I Wayan Mas Adi
Jurnal Veteriner Vol 20 No 3 (2019)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2019.20.3.378

Abstract

This research?s purpose was to compare the level of wound recovery between sewn rabbit skin with absorbable thread (monofilamen) and nonabsorbable (multifilamen) then observed macroscopicly. This research used 16 male rabbit in 2 ? 3 kg. Before surgery begins, the rabbits wtRe.anesthisad with ketamine-xylazine and then surgical action follows after that by making incision wound at left and right back with 3 cm long and the depth up to subcutan line. Right back is sewn by absorbable thread (catgut 3.0) and left back is sewn by nonabsorbable (silk 3.0). From the results of the study the using of absorbable threads (catgut) and nonabsorbable (silk) of the four parameters observation can be summarized that the: scab marks show better results on the use of catgut threads indicating that the process of wound healing is faster.
LAPORAN KASUS : PROLAPSUS BOLA MATA YANG DISERTAI MIASIS PADA ANJING SHIH-TZU Dada, I Ketut Anom; Erika, Erika; Sudisma, I Gusti Ngurah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prolapsus bola mata adalah keluarnya bola mata dari rongga mata. Prolapsus bola mata yang tidak mendapatkan penanganan segera dapat mengakibatkan komplikasi. Hewan kasus adalah seekor anjing rescue ras Shih-Tzu berjenis kelamin jantan, berumur kurang lebih dua tahun, berat badan 2,7 kg. Hewan kasus menujukkan adanya kelainan pada bagian mata dengan kondisi mata bagian kiri mengalami prolapsus disertai miasis yang parah. Hematologi rutin menunjukkan adanya anemia, leukositosis, limfositosis, dan trombositopenia. Anjing diperiksa dalam keadaan lemas, tidak mau makan dan minum, urinasi normal, tetapi terjadi konstipasi. Penanganan dilakukan dengan debridement dan penjahitan pada bagian palpebrae. Perawatan pascaoperasi dilakukan dengan pemberian antibiotika injeksi amoxicilin dan salep neomycin sulphate dan placental extract, pemberian multivitamin dan meloxicam per oral. Setelah empat hari penanganan, anjing kasus mati.
RESPON ANALGESIA, SEDASIA DAN RELAKSASI TIKUS PUTIH YANG DIBERI EKSTRAK BIJI KECUBUNG (DATURA METEL L.) INTRAPERITONEAL Samuel, Josia; Sudisma, I Gusti Ngurah; Dada, I Ketut Anom
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.16

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon analgesia, sedasia dan relaksasi tikus putih (Rattus norvegicus) yang diberi ekstrak biji kecubung (Datura metel L.). Penelitian dilakukan secara eksperimental di Laboratorium Bedah Veteriner dengan pemberian ekstrak biji kecubung dosis 100 mg/kg BB (P1), 150 mg/kg BB (P2), 200 mg/kg BB (P3), 250 mg/kg BB (P4) dan kelompok kontrol (P5) masing-masing diulang sebanyak enam kali untuk observasi adanya respon analgesia dengan penjepitan pada telinga, ekor dan interdigiti tikus putih. Untuk respon sedasia hilangnya koordinasi dan mengantuk/kelincahan menurun. Untuk respon relaksasi hilangnya tonus otot rahang, lidah dan spinkter ani. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap, dengan jumlah sampel 30 ekor tikus putih. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analisis Sidik Ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan Uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji kecubung berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap respon analgesia dan sedasia namun tidak memberikan respon relaksasi. Waktu rata-rata untuk induksi analgesia antara 5 menit sampai 10 menit dan waktu rata-rata durasi analgesia antara 98,33 menit sampai 179,17 menit. Untuk efek sedasia waktu rata-rata induksi 5 menit dan 20 menit dan durasi antara 14,16 menit dan 176,66 menit.
STUDI KASUS: FRAKTUR DIAFISIS TULANG FEMUR KANAN PADA KUCING PERSIA Rohmandhani, Roby; Wirata, I Wayan; Dada, I Ketut Anom; Sudimartini, Luh Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (1) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2019.8.1.62

Abstract

 Fraktur femur merupakan rusak atau hilangnya kontinunitas jaringan tulang femur. Fraktur femur bisa terjadi pada kepala, leher femur, trochanter, subtrochanter, diafisis, suprachondillus, condilus, dan bagian distal. Seekor kucing ras persia berumur 3 bulan, bobot badan 2,1 kg dan berjenis kelamin jantan diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedeokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan mengalami bengkak, pincang, dan tidak bisa menumpu saat berdiri pada kaki belakang kanan. Secara fisik dan klinis kucing sehat dengan napsu makan dan minum baik, namun kesulitan untuk defekasi dan urinasi. Hasil pemeriksaan radiografi, kucing mengalami fraktur diafisis pada femur kanan dengan bentuk garis patahan transversal dengan prognosis fausta. Kucing ditangani dengan fiksasi internal menggunakan pin intrameduller ukuran 2,0 mm dan pemberian antibiotik amoxicillin, analgesik ibuprofen dan terapi supportif kalsium laktat. Dua minggu pascaoperasi sudah terbentuk kalus pada bagian diaphysis femur yang patah dan kucing sudah bisa berjalan normal.
PERBANDINGAN KECEPATAN KESEMBUHAN LUKA INSISI YANG DIBERI AMOKSISILIN-DEKSAMETASON DAN AMOKSISILIN-ASAM MEFENAMAT PADA TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) Sastrawan, Ni Kadek Laura; Wardhita, Anak Agung Gde Jaya; Dada, I Ketut Anom; Sudimartini, Luh Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (2) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecepatan kesembuhan luka insisi pada tikus putih (Rattus norvegicus) yang diberikan obat deksametason dan asam mefenamat ditinjau dari gambaran makroskopik dan mikroskopik. Tiga puluh ekor tikus putih jantan dengan berat 150-200 gram dibagi menjadi tiga perlakuan, yang diinsisi pada daerah linea alba dengan panjang insisi dua cm dengan kedalaman hingga menembus peritoneum. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pengamatan makroskopik dilakukan setiap hari selama 14 hari. Pada hari ketujuh dan hari ke14, lima ekor tikus dari semua kelompok dieutanasi, kemudian kulit hingga peritoneum lokasi luka insisi dikoleksi untuk pemeriksaan histopatologis. Hasil pemeriksaan makroskopik dianalis secara deskriptif dan pemeriksaan histopatologis dianalisis menggunakan uji Non Parametrik. Hasil pemeriksaan makroskopik dan mikroskopik menunjukan bahwa tikus perlakuan III memberikan efek kesembuhan luka lebih cepat dibandingkan tikus perlakuan II dan tikus perlakuan I karena efek dari peradangan terjadi lebih sedikit (minimal) dan kerapatan kolagen yang lebih padat.
GERUSAN DAUN PEGAGAN MEMPERCEPAT KESEMBUHAN LUKA BAKAR PADA TIKUS PUTIH Darmalaksana, I Gusti Ngurah; Sudimantini, Luh Made; Jayawarditha, Anak Agung Gde; Dada, I Ketut Anom
Buletin Veteriner Udayana Vol. 10 No. 2 Agustus 2018
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2018.v10.i02.p06

Abstract

Luka bakar merupakan kejadian rusaknya jaringan kulit akibat kontak kulit dengan sumber panas seperti api, bahan kimiawi, listrik dan radiasi. Penanganan luka dilakukan agar luka lebih cepat sembuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecepatan kesembuhan luka bakar derajat II pada tikus putih (Rattus norvegicus) yang diberikan gerusan daun pegagan (Centella asiatica (L) Urban) dilihat dari gambaran makroskopis dan mikroskopis. Tiga puluh dua ekor tikus putih betina dengan berat 150-200 gram dibagi menjadi dua perlakuan, masing-masing perlakuan terdiri dari 16 ekor tikus,  daerah yang mendapat perlakuan luka bakar yaitu  pada daerah dorsal tikus dengan diameter 1 cm. Pemberian gerusan daun pegagan sebanyak tiga lembar dengan ukuran 2x1 cm. Pengamatan makroskopis dilakukan setiap hari selama 14 hari. Pada hari ke-7 dan hari ke-14, semua tikus dieutanasi, kemudian kulit lokasi luka bakar dikoleksi untuk pemeriksaan mikroskopis. Hasil pemeriksaan makroskopis dianalis dengan Chi-Square dan Analisis Varian, sedangkan pemeriksaan histopatologis dianalisis menggunakan Mann-Whitney. Hasil pemeriksaan makroskopis terhadap diameter luka, tanda radang, bengkak dan keropeng menunjukkan perbedaan yang nyata sehingga pemberian gerusan daun pegagan berpengaruh signifikan terhadap tikus kontrol. Pada pemeriksaan mikroskopis yang dianalisis dengan analisis Mann Whitney menunjukkan hasil berbeda nyata pada sel epitel pada hari ke tujuh. Pemberian gerusan daun pegagan mempercepat kesembuhan luka bakar derajat II pada tikus putih.