Chusnul Choliq
Bagian Klinik Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bali

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Penurunan Kadar Gula Darah pada Monyet Ekor Panjang Obes dengan Pemberian Nikotin Dosis Rendah (DECRESE IN BLOOD SUGAR LEVEL IN LONG TAILED OBESE MACAQUES GIVING WITH LOW DOSE NICOTINE)

Jurnal Veteriner Vol 14, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of the study was to evaluate the role of low dose nicotine on the profile of blood glucose and  â-cell of pancreatic islets.  Fourteen adult (aged 6 – 8 years) male cynomolgus monkeys grouped based ontheir Body Mass Index (BMI) into preobese (BMI=23.65 – 25.00) and obese (BMI e” 26.00) were used inthis study. Subsequently animals were grouped into four:  (i) preobese monkeys with nicotine (pOb+), (ii)obese monkeys with nicotine (Ob+), (iii) preobese monkeys without nicotine (pOb-), and (iv) obese monkeyswithout nicotine (Ob-). Animals in the nicotine groups were fed with high fat diet mixed with nicotine dose0.5–0.75mg/kg body weight/day for three months and the others were fed Monkey Chow® only as thecontrol group. Blood samples were collected every month for glucose analysis and necropsy was performedat the end of study. Pancreas tissues were processed histologically and stained using  immunohistochemicalmethod. The results showed that the blood glucose either preobese (28.37%) or  obese (33.72%) animals inthe nicotine groups significantly decrease (p<0.05) during the study period in comparison to the controlgroup.  Based on brown color intensity of granules cytoplasm of insulin producing cells or immunoreactiveâ-cells, it is shown that the cells of animals in the non nicotine group were more reactive than those in thenicotine groups. In conclusion, there was positive effect of low dose nicotine in maintaining the bloodglucose level in normal range by stimulation of islet cells proliferation to maintain the production ofinsulin in the pancreatic islet.

KIVP-5 Studi Kasus Dugaan Kejadian Ikterus pada Kuda G3

Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.683 KB)

Abstract

Ikterus (jaundice) seringkali didefinisikan sebagai hiperbilirubinemia dan deposisi pigmen empedu pada kulit, membran mukosa, dan sclera. Kuda memiliki warna rambut yang beragam dan pigmen kulit, sehingga ikterus tidak selalu terlihat pada kulit, kecuali pada kasus hiperbilirubinemia parah pada individu yang kekurangan pigmen kulit atau memiliki leukoderma pada sekitar vulva dan muzzle. Differensial diagnosa dari ikterus menjadi rumit karena kuda merupakan salah satu hewan unik diantara spesies umum lainnya yang mengakibatkan ikterus pada kondisi anoreksia. Ikterus yang ditemukan pada kasus anoreksia bersifat sementara dan ringan dan kembali normal dengan cepat ketika kuda kembali memiliki nafsu makan yang normal. Kondisi ikterus ringan yang mengiringi kondisi anoreksia secara biokimia disertai pula dengan adanya bilirubin yang tidak terkonjugasi. Ikterus yang tampak akan relevan secara patologis terhadap kasus hepatopathy dan penyakit hemolitik (Robinson 2009).Ikterus dapat terlihat secara klinis jika total bilirubin melebihi batas tertentu. Menurut Meyer (1992), kadar bilirubin normal adalah antara 0.19 mg/dL hingga 2mg/dL dengan catatan bahwa ikterus dan kolestasis tidak sama. Ikterus hanya berarti terdapat bilirubin yang cukup tinggi untuk dapat tampak pada membran mukosa dan dapat menyebabkan kolestasis atau sebab lain dari hiperbilirubinemia. Pada anemia hemolitik tentu saja hiperbilirubinemia dapat terjadi tanpa ada ikterus yang tampak. Pada kuda, ikterus bisa juga tampak sebagai hasil dari digesti normal pigmen karoten pada rumput dan hay, kondisi puasa, dan anoreksia baik partial maupun keseluruhan, gangguan hati, atau hemolisis (Eades 2009). 

KIVFA-8 Studi Kasus: Profil Mineral Makro Pada Sapi Perah Yang Mengalami Retensi Plasenta di Kunak Kabupaten Bogor

Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.494 KB)

Abstract

Susu merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya susu sebagai salah satu sumber gizi yang penting berefek terhadap kebutuhan susu nasional terus meningkat pula. Namun kebutuhan yang tinggi ini belum diimbangi dengan produksi susu nasional yang baru mencapai 3.29% per tahun, sehingga kekurangan akan kebutuhan susu ini masih harus diimport dari negara lain. Rata-rata produksi susu di Indonesia dari setiap sapi masih relatif rendah, sekitar 10-12 liter/ekor/hari (Deny 2014). Keterbatasan produksi susu dari dalam negeri ini disebabkan oleh masih belum maksimalnya produksi susu dari setiap sapi perah yang dimiliki oleh peternak di Indonesia.Manajemen pemeliharaan yang baik dalam usaha peternakan sapi perah sangat diperlukan untuk dapat meningkatkan produksi susu, salah satunya antara lain manajemen pakan. Pakan harus memenuhi unsur-unsur penting diantaranya mineral makro dan mikro dalam jumlah yang secukupnya.Masalah kesehatan yang sering ditemui pada sapi perah awal laktasi umumnya berupa gangguan metabolik, seperti milk fever dan ketosis (Divers & Peek 2008). Hipokalsemia adalah kelainan metabolik dimana mekanisme homeostasis gagal untuk mempertahankan konsentrasi Ca darah normal saat awal laktasi (Chamberlain et al. 2013). Kejadian ini sering didahului dengan kondisi hipokalsemia subklinis pada saat bunting dan kering kandang, tetapi tidak teramati oleh peternak (Goff 2008). Retensi Plasenta merupakan salah satu manifestasi dari gangguan metabolik akibat tidak cukupnya konsentrasi mineral pada hewan post partus. Sapi secara normal akan melepaskan plasenta dalam waktu 3 -6 jam post partus. Retensi atau tertahannya plasenta lebih dari 8 – 12 jam pada induk post partus dapat dipertimbangkan sebagai suatu kondisi yang abnormal (Diver & Peek 2008. Salah satu predisposisi adalah tidak adanya program manajemen pakan atau pemberian suplemen mineral yang tidak tepat, sebagaimana disajikan pada studi kasus berikut.

KIVP-3 Pengamatan Performa Pada Sapi FH Jantan yang Diberi Suplementasi Mineral Zinc

Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.391 KB)

Abstract

Permintaan dunia terhadap protein hewani sangat besar dan terus meningkat setiap tahunnya. Kebutuhan yang meningkat tidak dibarengi dengan kemampuan penyediaan protein hewani yang cukup sehingga sebagian besar dipenuhi melalui import. Pemenuhan protein dalam negeri diharapkan mampu meningkatkan kualitas maupun kuantitas daging melalui perbaikan mutu nutrisi sehingga mampu bersaing dengan pihak luar. Salah satu sumber protein hewani selain dari ternak potong, adalah memanfaatkan sapi jantan dari sapi perah FH. Oleh karena itu ternak jantan dapat digunakan sebagai alternatif sumber protein hewani dalam upaya untuk penyediaan pangan asal ternak.  Pembangunan peternakan diarahkan agar produk ternak dalam negeri mampu bersaing dengan produk ternak impor dalam rangka memantapkan ketahanan pangan nasional. Mineral Zn dilaporkan mampu memperbaiki skor marbling karkas [1].  Hal ini penting untuk memperbaiki kualitas karkas daging sebagai sumber protein hewani. Belum banyak informasi tentang efek suplementasi Zn terhadap pertambahan bobot badan terutama pada sapi FH jantan. Oleh karena itu pengamatan tentang suplementasi Zn terhadap performa (bobot badan) pada sapi FH jantan perlu dilakukan.