Articles

Found 15 Documents
Search

Identifikasi Kekritisan Komponen Pada Lini Produksi Pabrik Gula Tebu Menggunakan Metode Equipment Criticality Rating

Jurnal Keteknikan Pertanian Vol 25, No 1 (2011): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract ECR is one of Maintenance Performance Index (MPI)’s  criteria in The System of Eco Maintenance (SEM) proposed for sugarcane fabrication. The SEM is a maintenance system that concerns to energy conservation issue in sugarcane  fabrication. Reduction of energy consumption can affect the reduction of pollutant produced by sugarcane fabrication process. MPI and EPI (Environment Performance Index) are  Operational Performance Index (OPI)’s components that calculated by SEM. The OPI will be used for selecting a proper strategy for  revitalization of sugarcane factory. ECR uses  a pairwise comparison assesment  based on experts interview and judgement. Then, it will be calculated by Expert Choice software. The weight of  ECR’s criteria will be multiplied by criteria value from data processing  result in SEM software. The results show that the highest value of ECR is of 41.52 for Mill and Boiler station and the lowest result is of 8.83 for Drying and Packaging station. Finally the value of ECR will be classified into very critical (ECR1), critical (ECR2), less critical (ECR3) and non critical (ECR4), to determine the level of station’s criticality. keywords: ECR, eco maintenance, sugarcaneAbstrak ECR  adalah salah satu dari kriteria Indeks Kinerja Perawatan (MPI) dalam Sistem Eco Maintenance (SEM) yang diusulkan untuk pengolahan gula tebu. SEM adalah suatu sistem perawatan yang peduli terhadap isu konservasi energi dalam pengolahan gula tebu. Pengurangan konsumsi energi dapat berpengaruh terhadap pengurangan polutan yang dihasilkan oleh proses pengolahan gula tebu.  MPI dan EPI (Indeks Kinerja Lingkungan) adalah komponen-komponen dari Indeks Kinerja Operasional (OPI) yang dihitung oleh SEM. OPI akan digunakan untuk menyeleksi strategi yang tepat bagi revitalisasi pabrik pengolah gula tebu. ECR menggunakan penilaian pembandingan berpasangan berbasis pada wawancara dan penilaian pakar. Kemudian, penilaian tersebut  akan dihitung oleh piranti lunak  Expert Choice. Bobot dari kriteria ECR akan dikalikan dengan nilai kriteria dari hasil pemrosesan data dalam piranti lunak SEM. Hasilnya memperlihatkan bahwa nilai tertinggi dari ECR adalah  41.52 untuk stasiun Gilingan dan Ketel Uap dan hasil  terendah adalah 8.83 untuk stasiun Pengeringan dan Pengepakan. Pada akhirnya nilai ECR akan diklasifikasikan menjadi sangat kritis (ECR1), kritis (ECR2), kurang kritis (ECR3) dan tidak kritis (ECR4), untuk menggambarkan tingkat dari kekritisan stasiun. Kata Kunci: ECR, Eco Pemeliharaan, TebuDiterima:26 November 2010 ; Disetujui:30 Maret 2011   

RANCANG BANGUN SISTEM KODIFIKASI FLARE TIP MENGGUNAKAN PENDEKATAN GROUP TECHNOLOGY

SINERGI Vol 21, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.466 KB)

Abstract

Tren digitalisasi dalam industri manufaktur saat ini merupakan suatu kunci bagi terwujudnya proses manufaktur yang efektif dan efisien. Hal ini terutama menyangkut kualitas, waktu dan biaya produksi produk. Daya saing suatu produk akan meningkat jika ketiga hal tersebut dapat dioptimalkan. Permasalahannya adalah seringnya waktu yang terbuang karena harus melakukan proses perancangan dan perencanaan produk yang berulang pada produk–produk yang mempunyai kemiripan. Sistem kodifikasi merupakan konsep yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Sebagai langkah awal, pendekatan GT (group technology) akan digunakan dalam membangun sistem kodifikasi untuk produk-produk flare tip yang merupakan salah satu  komponen penting dari flare stack. Hasil yang diharapkan dari perancangan sistem kodifikasi adalah waktu yang diperlukan untuk membuat desain produk dan perencanaan proses untuk produk–produk yang serupa dapat dipersingkat dan lebih sistematis dibandingkan menggunakan cara-cara konvensional.

Identifikasi Kekritisan Komponen Pada Lini Produksi Pabrik Gula Tebu Menggunakan Metode Equipment Criticality Rating

Jurnal Keteknikan Pertanian Vol 25, No 1 (2011): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract ECR is one of Maintenance Performance Index (MPI)’s  criteria in The System of Eco Maintenance (SEM) proposed for sugarcane fabrication. The SEM is a maintenance system that concerns to energy conservation issue in sugarcane  fabrication. Reduction of energy consumption can affect the reduction of pollutant produced by sugarcane fabrication process. MPI and EPI (Environment Performance Index) are  Operational Performance Index (OPI)’s components that calculated by SEM. The OPI will be used for selecting a proper strategy for  revitalization of sugarcane factory. ECR uses  a pairwise comparison assesment  based on experts interview and judgement. Then, it will be calculated by Expert Choice software. The weight of  ECR’s criteria will be multiplied by criteria value from data processing  result in SEM software. The results show that the highest value of ECR is of 41.52 for Mill and Boiler station and the lowest result is of 8.83 for Drying and Packaging station. Finally the value of ECR will be classified into very critical (ECR1), critical (ECR2), less critical (ECR3) and non critical (ECR4), to determine the level of station’s criticality. keywords: ECR, eco maintenance, sugarcaneAbstrak ECR  adalah salah satu dari kriteria Indeks Kinerja Perawatan (MPI) dalam Sistem Eco Maintenance (SEM) yang diusulkan untuk pengolahan gula tebu. SEM adalah suatu sistem perawatan yang peduli terhadap isu konservasi energi dalam pengolahan gula tebu. Pengurangan konsumsi energi dapat berpengaruh terhadap pengurangan polutan yang dihasilkan oleh proses pengolahan gula tebu.  MPI dan EPI (Indeks Kinerja Lingkungan) adalah komponen-komponen dari Indeks Kinerja Operasional (OPI) yang dihitung oleh SEM. OPI akan digunakan untuk menyeleksi strategi yang tepat bagi revitalisasi pabrik pengolah gula tebu. ECR menggunakan penilaian pembandingan berpasangan berbasis pada wawancara dan penilaian pakar. Kemudian, penilaian tersebut  akan dihitung oleh piranti lunak  Expert Choice. Bobot dari kriteria ECR akan dikalikan dengan nilai kriteria dari hasil pemrosesan data dalam piranti lunak SEM. Hasilnya memperlihatkan bahwa nilai tertinggi dari ECR adalah  41.52 untuk stasiun Gilingan dan Ketel Uap dan hasil  terendah adalah 8.83 untuk stasiun Pengeringan dan Pengepakan. Pada akhirnya nilai ECR akan diklasifikasikan menjadi sangat kritis (ECR1), kritis (ECR2), kurang kritis (ECR3) dan tidak kritis (ECR4), untuk menggambarkan tingkat dari kekritisan stasiun. Kata Kunci: ECR, Eco Pemeliharaan, TebuDiterima:26 November 2010 ; Disetujui:30 Maret 2011   

PERKEMBANGAN SISTEM PERAWATAN MESIN DI INDUSTRI PROSES

Jurnal Keteknikan Pertanian Vol 21, No 1 (2007): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT For most companies, maintenance represents a very significant function within the overall production environment. The developments in automation, and the resulting complexity of the systems involved, have made the reliability of the machines even more important. This is especially true in the process industry, characterized by expensive specialized equipment and strict environmental considerations. Competition and the drive for profits are forcing companies to implement various productivity improvement efforts. Maintenance function, although is to serve to production, has a fundamental role since it has a direct effect over competition through its impact in productivity (global costs reduction).Diterima: 23 Agustus 2006; Disetujui:  20 Maret 2007

Pengaruh Strategi Lintasan Pahat; Raster Dan 3D Offset Terhadap Kerataan Dan Kesejajaran Produk

MESIN Vol 9, No 2 (2007): MEMINIMALKAN KERUGIAN KAMPUS AKIBAT BANJIR
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Trisakti

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Influence of Tool Path Strategies; Raster and 3D Offset to Flatness and Parallelismof Product. Parallelism of two surfaces is one of geometrical tolerance that can measure after theirtolerances offlatness are known. The parallelism andflatness are two geometrical characters thatusually require bystandardizedplates ofmould. Tool path ofmilling machine ona surface plateis one ofthing that influences their character. In this paper, geometrical character offlat plane surface that hadbeen machined by raster tool path strategy and 3D offset strategy will be analyzed. The result ofexperiment can beusefor refinement ofmachining strategies toachieve an optimized machining.

PEMANFAATAN METODA JARINGAN SYARAF TIRUAN BACK PROPAGATION?ADA ANALISIS PENGARUH PARAMETER PEMOTONGAN TERHADAP KEMIRINGAN SISI POTONG HASIL PEMOTONGAN DENGAN LASER CO2

MESIN Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Trisakti

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The weakness of a laser cutting edges product is tapering form. Sometime tapering is an unwantedperformance product and needfinishing processes to eliminate its. Setting ofparameters cutting can minimizetapering. Amodeling of process is needed to represent the relationship influence of each parameter cutting.But there are difficulties torepresent them tobemathematical models. The solutionfor this case is use one ofArtificial Neural Network (ANN) method what is called Back Propagation. This is an appropriate method toprocess input - output data to be a model process. The results show that the tapering is significantlyinfluenced by the parameters process, the nozzle speed andgas pressure, having the most significant effects.

RANCANG BANGUN SISTEM KODIFIKASI FLARE TIP MENGGUNAKAN PENDEKATAN GROUP TECHNOLOGY

SINERGI Vol 21, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tren digitalisasi dalam industri manufaktur saat ini merupakan suatu kunci bagi terwujudnya proses manufaktur yang efektif dan efisien. Hal ini terutama menyangkut kualitas, waktu dan biaya produksi produk. Daya saing suatu produk akan meningkat jika ketiga hal tersebut dapat dioptimalkan. Permasalahannya adalah seringnya waktu yang terbuang karena harus melakukan proses perancangan dan perencanaan produk yang berulang pada produk–produk yang mempunyai kemiripan. Sistem kodifikasi merupakan konsep yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Sebagai langkah awal, pendekatan GT (group technology) akan digunakan dalam membangun sistem kodifikasi untuk produk-produk flare tip yang merupakan salah satu  komponen penting dari flare stack. Hasil yang diharapkan dari perancangan sistem kodifikasi adalah waktu yang diperlukan untuk membuat desain produk dan perencanaan proses untuk produk–produk yang serupa dapat dipersingkat dan lebih sistematis dibandingkan menggunakan cara-cara konvensional.

PENGARUH DIAMETER PARTIKEL TERHADAP FENOMENA FLUIDISASI DI DALAM FLUIDIZED BED

PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN 2018 BUKU I
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.768 KB)

Abstract

Fluidisasi merupakan metoda mengontakan butiran-butiran padat dengan fluida baik cair maupun gas. Dengan metoda ini diharapkan butiran-butiran padat memiliki sifat seperti fluida dengan viskositas tinggi. Fenomena fluidisasi masih perlu di amati karena banyak faktor yang berpengaruh di dalamnya yang akan menentukan karakteristik proses fluidisasi tersebut, Penelitian ini memuat parameter seperti beberapa ukuran partikel dengan diameter 175, 275, 375 mm dan Distributor udara dengan jenis tuyure. Berikut ialah variasi distributor udara  yaitu atap datar dengan lubang dan badan tabung dengan kemiringan 10 dari dasar tabung, Geometri tungku fluidized bed yang digunakan berbentuk tabung dengan ketinggian 2 m dan diameter 164 mm. Untuk menerapkan benda kerja kedalam komputer proses selanjutnya ialah menggunakan aplikasi CATIA dalam pemodelan geometri tiga dimensi (3D), kemudian untuk tahap analisa aliran fluida dari beberapa parameter maka digunakan metoda rekayasa Computational Fluid Dynamics (CFD) pada perangkat lunak ANSYS dengan metoda multifasa Eularian-Eularian. Hasil penelitian ini menunjukan fenomena fluidisasi yang terjadi adalah bubbling, akan tetapi dengan bertambah besar diameter partikel maka ukuran dari volum bubbling akan mengecil, dan menyebabkan fluidisasi yang lebih lambat. Dan untuk perbandingan diameter partikel, yang paling paling baik dalam fluidisasi yaitu diameter partikel dengan ukuran paling kecil.

PENGARUH MASSA JENIS PARTIKEL DAN KETINGGIAN PARTIKEL TERHADAP FLUIDISASI DI DALAM FLUIDIZED BED

PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN 2018 BUKU I
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fluidisasi adalah pengontakan suatu partikel padat dengan fluida baik cair maupun gas yang terjadi didalam suatu reactor Fluidized Bed (FB). Pada fenomena fluidisasi partikel padat memiliki sifat seperti fluida dengan viskositas yang tinggi. Penelitian ini menggunakan partikel jenis Geldart B dengan massa jenis glass beads (ρ=2600 kg/m3), ground walnut shell (ρ=1200 kg/m3) dan ground corncob (ρ=800kg/m3). Menggunakan 4 buah distributor udara yang berbeda, dan rasio ketinggian partikel (H/D) yaitu 1 dan 1.5. Pemodelan geometri FB secara tiga dimensi (3D) dengan menggunakan aplikasi CATIA dan analisa aliran fluida menggunakan metoda rekayasa Computational fluid dynamics (CFD) menggunakan ANSYS Fluent. Metoda ANSYS yang digunakan adalah metoda multifasa eularian-eularian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa massa jenis partikel berbanding lurus dengan kecepatan minimum fluidisasi, ketinggian partikel tidak mempengaruhi kecepatan minimum fluidisasi namun mempengaruhi waktu untuk terjadinya fluidisasi. dan desain distributor udara mempengaruhi kecepatan minimum fluidisasi.

PERENCANAAN PROSES SHEET METAL FORMING UNTUK SMART DRAWER

PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN 2018 BUKU I
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.916 KB)

Abstract

Teknologi smart home mulai banyak dikembangkan dimana untuk melakukan sesuatu seperti menyalakan lampu, membuka gorden tidak perlu ke tempat saklar melainkan hanya perlu menggunakan remote. Namun hal tersebut masih belum menyentuh untuk bagian – bagian furniture seperti contohnya membuka laci yang masih menggunakan cara manual dengan menggunakan handle. Smart drawer ini menggunakan remote sebagai pembukanya, tidak hanya dapat digunakan untuk industri interior / arsitek namun bisa juga digunakan pada kompartemen pada workshop dimana kebanyakan menyimpan benda – benda logam yang berat dan otomatis untuk membuka secara manual juga memerlukan tenaga ekstra. Dalam pembuatan Smart drawer ini dilakukan beberapa tahap yaitu studi literature, Identifikasi kebutuhan komponen, perhitungan mekanisme penggerak, perancangan smart drawer, pembuatan prototype Smart Drawer, dan pengujian fungsi smart drawer. Apabila semua tahapan tersebut sudah selesai dilakukan maka smart drawer sudah jadi dan siap digunakan.