Mirni Ulfa Bustami
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

PENGGUNAAN 2,4-D UNTUK INDUKSI KALUS KACANG TANAH Bustami, Mirni Ulfa
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.589 KB)

Abstract

Induksi kalus merupakan salah satu metode kultur jaringan yang dilakukan dengan jalan memacu pembelahan sel secara terus menerus dari bagian tanaman tertentu seperti daun, akar, batang, dan sebagainya dengan menggunakan zat pengatur tumbuh hingga terbentuk massa sel. Massa sel (kalus) tersebut selanjutnya akan beregenerasi melalui organogenesis ataupun embriogenesis hingga menjadi tanaman baru. Salah satu zat pengatur tumbuh yang digunakan untuk induksi kalus adalah 2,4-D. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi 2,4-D yang paling efektif untuk menginduksi kalus pada eksplan daun kacang tanah yang berasal dari kecambah steril.  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Media dasar yang digunakan adalah media MS yang ditambahkan berbagai konsentrasi 2,4-D yaitu M1 = 1,0 mg/l, M2 = 1,5 mg/l, M3 = 2,0 mg/l, M4 = 2,5 mg/l, M5 = 3,0 mg/l, M6 = 3,5 mg/l.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian 2,4-D pada konsentrasi 1,0 mg/l sampai 3,5 mg/l dapat menginduksi kalus pada eksplan daun kacang tanah.  Semakin rendah konsentrasi 2,4-D maka pembentukan kalus semakin cepat, dan semakin tinggi konsentrasi 2,4-D maka pembentukan kalus semakin lambat.  Kalus yang terbentuk pada semua perlakuan memiliki tekstur yang sama (keras dan kompak) dengan warna putih kehijauan.  Konsentrasi 2,4-D yang efektif untuk induksi kalus dari daun kacang tanah adalah 1,5 mg/l dan 3,5 mg/l
ANALYSES OF RESPONSE FOR PRODUCTIVITY OF SMALLHOLDER COCOA PLANTATION IN CENTRAL SULAWESI INDONESIA: AN AGROECOSYSTEM APRROACH Yantu, M. R.; Yunus, Moh.; Sisfahyuni, Sisfahyuni; Bustami, Mirni Ulfa
Journal of Agroecology Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Journal of Agroecology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Central Sulawesi is the first rank of cocoa beans supplier in Indonesia. Almost 99% of cocoa plantations in this province are smallholder. Unfortunately, farmers have been converted their cocoa plantation to others plantation such as oil palm and coffee plantations. It was caused by continuous decreasing of productivity of the plantation since attack of pest and disease. Thus, productivity of cocoa plantation needs important intention. However, productivity is constrained by the environment capacities. The aim of this study is to analyze response of productivity for smallholders cocoa plantation based on the agro-ecosystem criteria, particularly productivity. Analyses method is descriptive and econometric model. Data were time series data from 2000 to 2011. The secondary data included production of cocoa beans, size area of cocoa plantation, price of cocoa and coffee beans, averages of fertilizers price, averages of pesticides price, and wages for agricultural labor in rural area. The study shows all of independent variables, except pesticide price significantly influence the dependent variable. Thus, all production factors prices, except pesticide price significantly influence the productivity. It means that the productivity of smallholder cocoa plantation is possibly to be elevated. The study recommends (i) tightening in controlling for policy of ceiling price of production factors; (ii) developing program of extensification for cocoa plantation; (iii) continuation of study in estimating for efficiency of production factors from an organic and organic; and (iv) analyzing for the other criteria of agro-ecosystem in performing of cocoa plantation.
Induksi Kalus Dua Klon Kakao (Theobroma cacao l.) Unggul Sulawesi Pada Berbagai Konsentrasi 2,4 dichlorophenoxy acetic acid secara in vitro D, Arianto; Basri, Zainuddin; Bustami, Mirni Ulfa
AGROTEKBIS Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : AGROTEKBIS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.199 KB)

Abstract

Di Indonesia, Sulawesi terkenal sebagai daerah penghasil kakao terbanyak dan telah memiliki klon kakao unggul yakni Sulawesi 1 dan Sulawesi 2, termasuk sebagai salah satu daerah penghasil kakao terbanyak, namun tingkat produktivitasnya masih sangat rendah bila dibanding dengan potensi produksi kakao unggul. Adapun faktor penyebab rendahnya produktivitas kakao di Sulawesi Tengah adalah penggunaan jenis (klon) tanaman yang memiliki potensi produksi rendah.  Guna mengatasi permasalahan tersebut, salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah melakukan perbanyakan dan pengembangan jenis (klon) kakao yang memiliki potensi genetik yang unggul. Metode Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terpisah (RPT). Perlakuan pada petak utama adalah klon kakao yang terdiri atas dua klon yaitu  Sulawesi 1 dan Sulawesi 2, perlakuan pada anak petak adalah konsentrasi 2,4-D yang terdiri dari lima taraf yaitu 0,5 ppm 2,4-D, 1 ppm 2,4-D, 1,5 ppm 2,4-D, 2 ppm 2,4-D, dan 2,5 ppm 2,4-D.  Terdapat 10 kombinasi perlakuan dan setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga terdapat 30 unit percobaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan induksi kalus pada berbagai konsentrasi 2,4-D  dari setiap klon kakao unggul Sulawesi yang dicobakan dan mengetahui konsentrasi 2,4-D dan klon kakao unggul Sulawesi yang lebih baik untuk induksi kalus.  Kesimpulan dari penelitian ini adalah kemampuan induksi kalus tidak berbeda pada berbagai konsentrasi 2,4-D untuk  setiap klon kakao unggul Sulawesi yang dicobakan. Saat muncul kalus paling cepat diperoleh pada konsentrasi 1 ppm 2,4-D baik pada klon unggul Sulawesi 1 maupun pada klon unggul Sulawesi 2. Persentase pembentukan kalus tertinggi diperoleh pada konsentrasi 1 ppm 2,4-D baik pada klon Sulawesi 1 maupun klon Sulawesi 2 dengan persentase pembentukan kalus mencapai 100%. Konsentrasi 1 ppm 2,4-D merupakan konsentrasi yang lebih baik untuk menginduksi kalus pada klon kakao unggul Sulawesi.
INISIASI TUNAS CENGKEH (Syzigium aromaticum L.) DENGAN BERBAGAI KONSENTRASI BAP SECARA IN VITRO Haris, Abdul; Basri, Zainuddin; Bustami, Mirni Ulfa
AGROTEKBIS Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : AGROTEKBIS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.912 KB)

Abstract

Clove tree is an annual plant that can grow to a height of 10-20 m, it has oval shaped leaves and flowering emerge in its shoots . Fruit stalk at first green, and become red if it is blooming. This study aims to determine the best concentration of BAP on shoot clove growth in in vitro. This research has been carried out in the Laboratory of Plant Biotechnology, Faculty of Agriculture, University of Tadulako, Palu, from August to September 2012. The material used was sterile shoots Cloves 1 month of age as much as 9 buds, study design using a Completely Randomized Design with 3 treatments, using 5 ppm BAP + 0.5 ppm NAA, 6 ppm BAP + 0.5 ppm NAA, 7 ppm BAP + 0.5 ppm NAA. Each treatment was repeated 3 times sothere were 9 experimental units. Data were analyzed by ANOVA followed by Duncans test. The results showed that treatment 6 ppm BAP + 0.5 ppm NAA showed a significant effect on the shoots and leaves of clove.
PENGARUH BAP DAN KASEIN HIDROLISAT TERHADAP PERTUMBUHAN TUNAS MELON (Cucumis melo L.) SECARA IN VITRO Istiningdyah, Andini; Tambing, Yohanis; Bustami, Mirni Ulfa
AGROTEKBIS Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : AGROTEKBIS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1381.688 KB)

Abstract

Melon (Cucumis melo L. ) is a horticultural crop that is quite popular in Indonesia . Good taste and nutritional content makes melon increasingly popular with the public . However , often the continuity of supply in the market is still limited. This is due partly because farmers in Indonesia are still planting using seeds imported melons which is quite expensive. Therefore, an effort that can be done to reduce dependence on imported seed is seed multiplication through tissue culture techniques . The growth in tissue culture plants  is controlled by the addition of plant growth regulators . This study aims to determine the effect of BAP and casein hydrolyzate  for better shoot growth in vitro melon . This research has been carried out in the Laboratory of Plant Biotechnology , Faculty of Agriculture , University Tadulako , Palu . Starting from August to November 2012 . The study design using completely randomized design ( CRD ) Factorial pattern of two factors . The first factor is the concentration of BAP ( 0.25 mg / l , 0,50 mg / l and 0.75 mg / l ) , the second factor is the concentration of casein hydrolyzate ( 150 mg / l , 200 mg / l and 250 mg / l ) . significant treatment effect , Further tests using the Test Honestly Significant Difference ( HSD ) at the 5% level . The results of this study indicate that the use of media with different compositions lead to different effects on the growth of shoots melons . Treatment of 0.50 mg / l BAP + 150 mg / l casein hydrolyzate gives a better effect on plant height, number of shoots and number of leaves
PERTUMBUHAN TANAMAN BUAH NAGA MERAH (Hylocerus polyrhizus) PADA BERBAGAI KONSENTRASI BENZILAMINO PURINE DAN UMUR KECAMBAH SECARA IN VITRO Wahyuni, Fadlia; Basri, Zainuddin; Bustami, Mirni Ulfa
AGROTEKBIS Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : AGROTEKBIS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.341 KB)

Abstract

Dragon fruit plants at beginning used as an ornamental plant because of its unique figure, exotic, as well as flowers and fruit look very beutiful. However, constrain encountered in the development of these plants is the availability of seedlingin large numbers with shorten time. To solve this problem, it can be done through tissue culture. This research was conducted at the Laboratory of Plant Biotechnology Faculty of Agriculture, University of Tadulako Palu, from August to October 2012. The purpose of this study was to determine the growth of dragon fruit plants at various ages germination and BAP concentrations in vitro. This study used a design Plots Separated ( RPT ) with treatment in the main plot was the age of germination 3, 4, 5 week after trasplanting, while the subplot treatment was the concentration of BAP: 1, 2, 3 ppm. Therefore, there are 9 combinations of treatment and repeated four times, so there are 36 experimental units. Each unit used three explants, so there are 108 explants were used. The results showed that germination ageeffectsignificant on plant height and number of shoots, while the concentration of BAP significantly effect on the number of shoots and number of roots. Media added with 2 ppm BAP (B2) average plant height 3.37, number of shoots 4.08per explant respectively, and media added with 1 ppm BAP (B1) Average number of roots per explant was  0.53.
STERILISASI DAN INDUKSI KALUS BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) LOKAL PALU SECARA IN VITRO P Armila, Ni Kadek; Bustami, Mirni Ulfa; Basri, Zainuddin
AGROTEKBIS Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : AGROTEKBIS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.355 KB)

Abstract

Sterilisasi eksplan merupakan salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan kultur jaringan, guna mengeliminir berbagai sumber kontaminan yang terbawa pada eksplan, termasuk untuk induksi kalus.  Salah satu zat pengatur tumbuh yang digunakan untuk induksi kalus adalah 2,4-D(2,4-Dichlorophenoxyacetic acid).  Penelitian dilakukan dalam dua tahap.Percobaan sterilisasi eksplan bertujuan untuk mengetahui bahan sterilan yang lebih baik untuk sterilisasi eksplan umbi bawang merah lokal Palu.Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan berbagai bahan kimia sterilan yaitu deterjen, fungisida, cloroxs, tween 80, bakterisida dengan atau tanpa pembakaran(perlakuan fisik) dengan 4 ulangan.Tahap induksi kalus bertujuan untuk menentukan konsentrasi zat pengatur tumbuh 2,4-D yang baik dalam menginduksi kalus dari eksplan bawang merah lokal Palu.  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan berbagai konsentrasi 2,4-D yaitu M1 = 1,0 ppm, M2 = 1,5 ppm, M3 = 2,0 ppm dan M4 = 2,5 ppm, yang diulang 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahan sterilan 1g bakterisida, 1g fungisida, 10% cloroxs dan 5% cloroxs disertai pembakaranmampu menekan kontaminan yang lebih baik dibandingkan perlakuan yang lain.  Penggunaan media yang ditambahkan 2 ppm 2,4-D menghasilkan induksi kalusbawang merah lokal Palu yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan yang lain.  Penggunaan media tersebut mempercepat pembentukan kalus (25,66 hari setelah kultur) dengan persentase pembentukan kalus mencapai 91,67%.