Ary Budiyanto
Mahasiswa Program Doktor di The Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

ROMANTIKA MANUSIA MELAYU DI BANDAR RAYA (IMAJI-IMAJI KEHIDUPAN KOTA DALAM KOMIK KARTUN MALAYSIA-INDONESIA) Budiyanto, Ary; Wicandra, Obed Bima
Nirmana Vol 10, No 1 (2008): JANUARY 2008
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1032.322 KB)

Abstract

A big city or a metropolitan is a symbol of modernization and globalization. What happens in a big city in this article is stories of ordinary people struggling for a decent living in the dusts of global modernity in a big Malay city. These people are often village migrants. The attraction of modern city lifestyle offers cultural addiction that is foreign for the migrants, even if sometimes it is considered a threat culturally from where they are from. Eventually, adaptation, adoption, and even apathy towards values, symbol, and the city’s global modernity create diverse lifestyles, romances, and identities of its citizens. This article observes how the citizens, the city, and its romance present in the reflections of some Malaysian and Indonesian cartoonists, like in the visualization of the comic “Mat Som” by Dato Lat, and the comic script Kee’s World (1989) of Malaysia and Benny and Mice of Indonesia. Cartoonists, as social observers, tell us how the city is recognized in the lives of the Malay people in two different countries. Abstract in Bahasa Indonesia: Kota Besar atau Bandar Raya modern adalah simbol dari modernisasi dan globalisasi. Apa yang terjadi di sebuah kota besar di artikel ini adalah cerita-cerita orang biasa yang mencari kehidupan yang layak dalam debu modernitas global di kota besar dunia melayu. Tak jarang mereka adalah orang yang datang dari kampung (atau luar daerah). Pikatan gaya hidup kota modern ini menawarkan candu budaya yang ‘asing’ bagi pendatang, meski tak jarang hal itu dianggap ‘ancaman’ bagi budaya ‘asal’. Akhirnya, adaptasi, adopsi, maupun, antipati pada nilai-nilai, simbol, modernitas global perkotaan itupun menciptakan keberagaman gaya hidup, romantika, dan identitas penghuni kota. Artikel ini akan melihat bagaimana penghuni kota, kota, dan romantikanya hadir dalam renungan-renungan para kartunis malasyia dan Indonesia seperti, di antaranya, dalam visualisasinya komik “Mat Som” karya Dato Lat dan komik Script Kee’s World (1989) Malaysia dan Benny & Mice Indonesia. Kartunis, sebagai pengamat sosial, menuturkan pada kita bagaimana kota dihayati dalam kehidupan bangsa melayu di dua negara yang berbeda. Kata kunci: romantika kota, narasi visual, komik, Malaysia, Indonesia.
Kudus and Its Sweet Soya Sauces Stories in Mediating Multiculturalism Learning Kewuel, Hipolitus Kristoforus; Efrizal, Efrizal; Nurmansyah, M. Andhy; Khasanah, Ismatul; Budiyanto, Ary
e-2477-1929
Publisher : Institute of Research and Community Service, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.671 KB)

Abstract

Multicultural reality of Indonesian society has encouraged many conflicts. Many people have tried to create a multicultural atmosphere. The scholars, politicians, and security forces attempted in their respective fields there are theoretical, ideal, and practical. This approach of simple ethnography research at Kudus reveals the unique role of these sweet soya sauces or ketchups. That is, it is not just being a condiment for flavoring the Kudus people dishes, but also already act as multicultural learning media. The good cooperation between the two ethnic groups, the Chinese as the owner of ketchup industries and their Javanese workers, clients, and customers have shown that these Ketchups has become one of the unifying elements that are commonly depicted always in a conflict; and  the latest event clashes between Chinese and pribumi at Kudus was in 1984. Thus, by looking at the Ketchups roles, this research shown that the ketchup industries in Kudus have melted the tongue and heart of Kudus people (China-Native) taste in a delicious thickened of ketchup liquid that always served at home, food-stalls, hotels, and restaurants.Keywords: Sweet Soya Sauces , Ketchup,  Media, Multiculturalism Learning, Kudus
AMBIGUITAS ARUNA DAN PARADOKS CITARASA LIDAHNYA POSKOLONIALITAS NOVEL KULINER LAKSMI PAMUNTJAK Budiyanto, Ary; Latifah, Latifah
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 18, No 2 (2018): OKTOBER 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.079 KB)

Abstract

Makanan bukan hanya kebutuhan biologis mendasar manusia, namun juga merupakan situs kebudayaan yang menjadi medan pertarungan kekuasaan, identitas, sosial, dan kelas. Dunia makanan dan kulinernya adalah sebuah diskursus dan metafora kuasa, terlebih di bangsa-bangsa koloni pasca-kolonial. Novel Aruna dan Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak merepresentasikan warisan poskolonial melalui mimikri, hibriditas, dan ambivalensi. Melalui close reading dan pendekatan poskolonial, tampak bahwa sastra kuliner ini menampilkan paradoksial, mengangkat khazanah kuliner lokal tradisional, namun memposisikannya di bawah masakan luar negeri di dalam ambiguitas pribadi Aruna dan ketiga kawannya. Hal ini membentuk citra kuliner lokal sebagai makanan kelas dua, yang berseberangan dengan citra makanan luar negeri yang sehat, bersih, dan berkelas. Sebagai bentuk revolusi mental, inferioritas konstruksi kolonial, terutama bidang kuliner, perlu terus dikritik sebagai bentuk apresiasi terhadap kekayaan keragaman budaya Nusantara.
Tradisi Seni Patrol dan Identitas Budaya Kampung Bandulan di Kota Malang Maftuchin, Annise Sri; Budiyanto, Ary
Studi Budaya Nusantara Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.205 KB)

Abstract

Tradisi lokal tidak selalu mengalami pelemahan budaya di ranah global. Tradisi seni patrol di Bandulan Malang adalah salah satunya, seni ini tumbuh dalam proses invented tradition yang diwadahi lewat aktivitas festival. Invented tradition dari konsep Hobsbawn (2000), menjelaskan bahwa pemunculan tradisi difungsikan agar tradisi tidak dipandang sebagai sesuatu yang tua atau identik dengan kuno. Penelitian mengenai tradisi seni patrol ini ditujukan untuk menjawab permasalahan mengenai bagaimana masayarakat Bandulan menciptakan identitas baru bernuansa lokal di ranah global? Untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan secara antropologis dimana observasi, observasi partisipasi dan wawancara mendalam dilakukan. Metode tersebut menjadi tumpuan dalam menguraikan fenomena di masyarakat Bandulan. Hasil penelitian ini menunjukan adanya proses invented tradidition secara berkesinambungan dan didukung penuh oleh proses globalisasi yang ada pada ranah festival. Tradisi seni patrol yang di-invented-kan merupakan pengembangan dari tradisi patrol sahur lokal. Dalam perkembangannya konsep culture contact Liep (2001) juga turut berperan mengaktifkan proses pembentukan identitas dari konsep Hall (1990). Kajian ini melibatkan unsur identity as being Bandulan yang dipertemukan dengan budaya luar Bandulan dan budaya global. Percampuran ini kemudian menyatu menjadi hasil akhir suatu kebudayaan utuh dimana cita rasa lokal masih terasa kuat disana. Tradisi seni patrol tampil menjadi suatu produk identity as becoming pada festival patrol di Bandulan. Seni patrol bandulan memiliki karakteristik yang berbeda dengan referensinya yaitu ul-daul meskipun sekilas sama, namun seni patrol Bandulan memiliki corak musik yang khas. Karakteristik campursari yang berkembang di Bandulan dan ritme ketukan yang lebih pelan dari pada ul-daul menjadi patokan bahwa penciptaan identitas seni patrol lewat referensi lokal berupa tradisi adalah benar adanya.    ABSTRACTLocal traditions are not always weakened traditional form of culture in the global area. Bandulan patrol art tradition in Malang is one of them, this art is growed by invented tradition process with festival mode. Invented tradition is Hobwbawn (2000) concept which describe of the appearance of a tradition that is not viewed as old. This patrol art traditions research is intended to answer a research problem about how Bandulan local society make create in a new identity on the global area? To answer these problems, researchers used anthropological methode where observation, participatory observation and in-depth interview are used by the research. The method form use to describing phenomena in the Bandulan society. These results indicate the existence of a process invented tradidition going on basis and is fully supported by the process of globalization that exist in the festival media. patrol Art tradition which processed by invented is development of a local patrol sahur tradition , that the development is processed by contact culture who concepted by Liep (2001) helped to describe for process of establishing the identity of of Hall concept (1990). The pattern is related identity as being Bandulan confronted with foreign cultures and global cultures. This mixed process form is fused into the end result of a culture intact where local taste of culture still feels strong up there. The tradition of the art patrol appear to be a identity product of the becoming on the art festival patrol in Bandulan. Bandulan art patrol have different characteristics with ul–daul music though near same , but the Bandulan art patrol has a different style of music that have identic character. Bandulan art patrol has a identic style of typical of art music patrol . Characteristics campursari music what growing up in Bandulan and the slowler rhythm beats than ul-daul be identic style from the creation of identity what have style of local culture which can survive in global area that is true.