Basuki Budiman
Kelompok Program Penelitian Sistem Kewaspadaan Gizi, Puslitbang Gizi, Bogor

Published : 49 Documents
Articles

Pola pengeluaran per-bulan pada rumah tangga . . . . Mulyati, Sri; Budiman, Basuki
Jurnal Kedokteran Yarsi Vol 10, No 3 (2002): Jurnal Kedokteran Yarsi
Publisher : Jurnal Kedokteran Yarsi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (26.185 KB)

Abstract

During the economic crisis in Indonesia. . . .
EFEKTIVITAS INTERVENSI GARAM IODIUM MELALUI RUMAHTANGGA TERHADAP PENURUNAN TGR PADA ANAK SEKOLAH Budiman, Basuki; Komari, .; Saidin, M.
Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan Vol 27, No 2 (2004)
Publisher : Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.817 KB)

Abstract

Background: The program to control iodine deficiency disorders (IDD) in Indonesia has been implemented for more than three decades. The total goiter rate (TGR) was decreased dramatically from 28.2% in 1982 to 9.8% in 1998. However national survey of iodine deficiency disorders in 2003 found that TGR at national level did not decrease in the period of 1998 to 2003. The number of severe endemic area was decreased, but the number of mild endemic area was increased. This raises the question on the effectivity of the program. The finding can lead to the conclusion that using high dose iodine capsule might very effective compared to iodized salts. This paper reports the effect of a three-months iodized salt intervention to the TGR in school children. Objectives: To study the effectivity of iodized salt intervention through households in reducing goiter by palpation to assess the size of the thyroid glands of the goiter in the school children. Methods: A number of 81 families of school children aged 7 – 12 years were supplied with 2400 grams of iodized salt contained 60 ppm for three months. The study was conducted in endemic iodine deficiency area in Kota Batu, East Java province. The goiter was measured by palpation, and iodine in the urine was analyzed using wet digestion method. The measurements were conducted before and after the intervention. Results: After three months intervention, the goiter rate was decreased by 64.8 percents. There was a significant elevation of iodine excretion in urine level, even in the subjects who had not decreased their goiter gland volume. Conclusions: The study found that the supplementation of iodized salt through the households was very effective in reducing the TGR in school children. [Penal Gizi Makan 2004,27(2):12.16].
TEMPAT PELAYANAN KESEHATAN DASAR UNTUK ANAK USIA 6-36 BULAN YANG DITUJU MASYARAKAT KOTA Budiman, Basuki
Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan JILID 16 (1993)
Publisher : Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam penelitian ini telah dipelajari pemanfaatan pelayanan kesehatan dasar terutama untuk anak usia 6-36 bulan. Penelitian dilaksanakan di dua kelurahan dari dua kecamatan di Kotamadya Semarang. Dari hasil analisis data penelitian ini dapat diungkapkan bahwa masyarakat kota mempunyai banyak pilihan tempat pelayanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dasar anaknya. Pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang merupakan upaya pemerintah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat ternyata masih lebih banyak digunakan terutama oleh kelompok ekonomi kurang mampu dan ibu rumahtangga yang berpendidikan tamat sekolah lanjutan pertama atau kurang.
DETERMINAN PERTUMBUHAN ANAK 6-8 TAHUN DI DAERAH ENDEMIK GAKI Budiman, Basuki
Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan JILID 16 (1993)
Publisher : Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan yang diukur dari tinggi badan pada anak usia 6-8 tahun di daerah endemik Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI) cenderung lebih buruk daripada di daerah non-endemik. Oleh karena pertumbuhan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik internal maupun eksternal, maka determinan pertumbuhan di setiap daerah akan berbeda. Penelitian ini mengungkapkan determinan pertumbuhan di daerah endemik GAKI. Rancangan penelitian kasus-kontrol dipilih dengan kasus ditentukan sebagai anak usia 6-8 tahun yang tumbuh di daerah endemik dan mengalami gangguan pertumbuhan; sedangkan kontrol adalah anak yang berjenis kelamin dan berusia relatif sama (toleransi tiga bulan) ang tumbuh di daerah yang sama pula serta tidak mengalami gangguan pertumbuhan. Determinan dianalisis dari regresi ganda logistik pada 52 pasang sampel. Penyusunan model regresi menggunakan paket analisis SPSS versi 3.1. Hasil analisis memberi petunjuk bahwa faktor tinggi badan ayah tidak memberikan resiko terhadap pertumbuhan anak; sedangkan faktor tinggi badan ibu memberikan resiko terhadap pertumbuhan anak sebesar 2.72 (1.08-6.83). Faktor-faktor lain tidak dapat disimpulkan dan masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
HIPERTIROIDI SUBKLINIK DI DAERAH REPLETE ENDEMIS DEFISIENSI IODIUM Budiman, Basuki; Widagdo, Dhuto
Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan Vol 30, No 1 (2007)
Publisher : Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Background. The evaluation of national program of iodine deficiency disorder (IDD) control in Indonesia revealed that people consumed excess of as measured by urine iodine concentration. The effect of excessive iodine consumption on hemotological features including the development of subclinical hypothyroidism has not been reported in scientific journals yet. Objective. This study aimed toevaluate the correlation of the excessive iodine consumption and hematological features of child bearing age mothers especially in replete iodine deficiency area. Design. Three districts of which formally known  as endemic iodine deficiency areas were identified.  A total 239 chlid bearing age mothers 17 to 35 years old with strictly inclution participated in this studies. Blood spicemen of eligible participants as much as 2-3 mL was drawn. Thyrotropin hormone (TSH) and free thyroxine (fT4) were performed using third generation of TSH assay (known as sensitive TSH assay) from ILSI certified labolatory.  Casual urine sample also collected from school age children (6-12 years of age) as many as 40 samples in each subdistrict to confirm the endemicity of iodine deficiency area based on urine iodine concentration. For analysis purposed, sub-clinical hypothyroidism defined as serum TSH concentration less than 0.4 mU/L. Result. The study found proportion of excess iodine consumption totally was 22.5 percent and varied among three studied area. Participants who developed overt hyperthyroidism found 1.7 percent and sub-clinical hyperthyroidism as much as 9.4 percent. Amongst the three districts, two districts very high in proportion of sub clinical hyperthyroidism.Conclution. Iodine consumption was excessed and lead to adverse effects.  Studies on the amount of salt consumption, the humidity, and the length of salt preservatioan at household every area  urgently need to do. [Penel Gizi Makan 2007, 30(1): 13-24]   Keywords : excess in iodium consumption, TSH, fT4, sub-clinical hypothyroidism, replete endemic deficiency area
EVALUASI MANAJEMEN PEMBERIAN MINYAK BERIODIUM: STUDI KASUS DI KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR Latinulu, Syarifudin; Budiman, Basuki; Saraswati, Edwi; Syafrudin, Syafrudin
Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan JILID 19 (1996)
Publisher : Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program Nasional penanggulangan masalah gondok endemik (sekarang GAKI) berupa pemberian suntikan lipiodol sejak 1974-1992 dan iodisasi/distribusi garam konsumsi bagi desa-desa gondok endemik (1976-sekarang). Sejak Oktober 1992 program pemberian Lipiodol diganti dengan pemberian kapsul minyak beriodium sementara pemasaran garam beriodium tetap dilaksanakan. Keterbatasan Lipiodol, sarana dan dana operasional merupakan kendala serius dalam upaya pencapaian cakupan desa dan penduduk secara luas. Penelitian manajemen distribusi minyak beriodium ini dilakukan agar kendala dan hal-hal negatif yang terjadi pada pemberian Lipiodol tidak terulang pada distribusi Kapsul Iodium. Penelitian dilakukan di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Di Kabupaten Malang terdapat 241 desa endemik berat (61.5%), 64 desa (16.3%) endemik ringan, 59 desa (15.1%) endemik sedang dan 28 desa (7.1%) non endemik dari 392 desa yang disurvei sejak tahun 1980-1993. Di daerah ini baru sekitar 20% sasaran yang sudah pernah disuntik Lipiodol yang mendapat suntikan ulang. Pelaksanaan penyuntukan Lipiodol didasarkan atas prinsip atau azas pemerataan. Demikian juga distribusi kapsul minyak beriodium masih menganut "azas pemerataan" karena keterbatasan kapsul, dan masih ada 21% penduduk sasaran di Kabupaten Malang yang belum terjangkau kapsul. Kapsul diperoleh melalui dana APBN dan APBD mengikuti mekanisme perencanaan dari bawah. Terdapat penajaman ibu hamil dan bayi guna mencapai bebas kretin baru dan prevalensi TGR<18% pada tahun 2000.
PERUBAHAN TOTAL GOITER RATE (TGR) ANAK SEKOLAH DI BEBERAPA KABUPATEN DI JAWA BARAT: Kaitannya dengan penggunaan garam beriodium di rumahtangga (THE TOTAL GOITER RATE CHANGES AMONG SCHOOL CHILDREN IN SOME DISTRICTS IN THE PROVINCE OF WEST JAVA: In relat Budiman, Basuki
Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan Vol 33, No 2 (2010)
Publisher : Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Background: Two national mapping on iodine deficiency problems were conducted in Indonesia in 1996/98 and 2003. The activities covered also iodized salt consumption by household. Universal salt Iodization (USI) is a long-term solution for iodine deficiency disorders, beside of high dose of iodine intervention for short-term solution. Objective: The aim of this article was to evaluate the changes of total goiter rate and the awareness of household using iodized salt, especially in the province of West Java. Methods: The results of the national mapping were evaluated, included the effect of program on the problem.  Results: The mapping found that the situations of the problems were not changed between 1996/98 to 2003. Salt consumption, the way household treated the salt, iodine content in iodized salt were discussed. Conclusions: Iodine status (TGR) of school children in some districts of West Java resulted from national survey were different to local survey due to the time of the survey be conducted. The awareness of people for iodine salt consumption was enough, but not for the dose. [Penel Gizi Makan 2010, 33(2): 117-124]   Keywords: Total Goiter Rate (TGR), school children, iodized salt
DETERMINAN STUNTING PADA ANAK USIA 2-3 TAHUN DI TINGKAT PROVINSI (DETERMINANTS OF STUNTING IN CHILDREN 2-3 YEARS OF AGE AT PROVINCE LEVEL) Mulyati, Sri; Triwinarto, Agus; Budiman, Basuki
Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan Vol 34, No 1 (2011)
Publisher : Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Prevalensi pendek (stunting) pada balita masih 36,6 persen. Tingginya prevalensi stunting pada anak balita merupakan refleksi masalah gizi ibu selama kehamilan dan erat kaitannya dengan kemiskinan. Secara agregat, IPKM (Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat) merupakan indikator kemajuan pembangunan kesehatan dan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) termasuk salah satu dari 24 indikator dalam IPKM. Tujuan analisis: mempelajari determinan faktor yang menjadi pembeda terhadap tinggi rendahnya prevalensi stunting pada anak usia 2-3 tahun di tingkat provinsi. Metode: analisis ini merupakan studi populasi. Data yang dianalisis adalah data agregat dari variabel IPKM, KEK pada ibu hamil dan rumah tangga defisit energi dari data Riskesdas 2007. Sementara variabel IPM dan kemiskinan tahun 2007 dari data BPS. Dalam analisis ini, stunting pada anak usia 2-3 tahun merupakan variabel terikat, sedangkan variabel lainnya merupakan variabel bebas. Uji statistik yang digunakan adalah uji korelasi dan uji diskriminan. Hasil Analisis: Secara bivariat tidak ditemukan korelasi antara KEK pada bumil dengan stunting pada anak usia 2-3 tahun, namun ditemukan korelasi antara stunting dengan IPKM (r=-0,67; p=0,000), IPM (r=-0,52; p=0,002) dan kemiskinan (r=0,58;p=0,003). Hasil uji diskriminan menunjukkan bahwa IPKM adalah faktor pembeda antara prevalensi stunting rendah dan stunting tinggi pada anak usia 2-3 tahun di tingkat provinsi. Kontribusi varian IPKM terhadap perbedaan kedua kelompok stunting sebesar 34 persen. Fungsi diskriminan yang dihasilkan Z = -6.491 + 17.853 *IPKM dengan kemampuan prediksi sebesar 78,8 persen. Kesimpulan: IPKM merupakan faktor pembeda antara prevalensi stunting tinggi dan rendah pada anak usia 2-3 tahun di tingkat provinsi.     ABSTRACT Background: Stunting prevalence in children 2-3 years of age is still 36.6 percent, the high stunting in the age group shows that nutrition problem in mother during pregnancy is highly related to poverty. Aggregately, PubIic Health Development Index (IPKM) is an indicator of Health Development Improvement and Human Development Index (IPM) is one of 24 IPKM´s indicators. Aim of Analysis: To study the determinants which differentiate the high of stunting prevalence in children 2-3 years of age in province level. Method: This analysis is a study of population data that are being analyzed is aggregate data from some variables (IPKM, KEK on pregnant mothers and household energy deficit) from Health Basic Survey (Riskesdas) 2007 data. Then IPM variable and poverty in 2007 from BPS’s data. On this analysis, stunting in children 2-3 years of age as variable is bonded, while others variables are free variables. Statistic test that used is correlation test and discriminant test. Result: Bivariately, there is no correlation between KEK in pregnant mothers and stunting in children 2-3 years of age, but there is correlation between stunting with IPKM. IPKM (r=-0.67; p=0.000), IPM (r=-0.52; p=0.002) and poverty (r=0.58; p=0.003). Discriminant result shows that IPKM is a differentiating factor between low- and high- stunting prevalence in children 2-3 years of age in province level. IPKM variance contribution on two different groups is 34 percent. Discriminant function that was resulted Z = -6.491 + 17.853 *IPKM, IPKM with prediction ability 78.8 percent. Conclusion: IPKM is a differentiate factor between high and low stunting prevalence in children 2-3 years of age in province level. [Penel Gizi Makan 2011, 34(1): 50-62]   Keywords: stunting, children 2-3 years of age, IPKM, IPM, poverty
PENILAIAN STATUS GIZI DENGAN PENYINARAN TELAPAK TANGAN DAN PERBANDINGAN DENGAN PENGUKURAN TINGGI BADAN Budiman, Basuki; Saraswati, Edwi; Latinulu, Syarifudin
Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan JILID 20 (1997)
Publisher : Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Radiografi telah lama digunakan untuk penilaian umur kronologis, pengukuran densitas tulang, penelitian genetika dan patologi osteoporosis. Perkembangan teknologi elektronika memungkinkan dibuat alat radiografi yang portable dan sangat aman dari efek radiasinya. Dengan menggunakan alat ini, dilakukan penilaian status energi protein dan membandingkannya dengan penelitian secara antropometris yang telah dikenal luas terutama tinggi badan. Penelitian ini melibatkan 161 anak usia 6-30 bulan yang bebas dari penyakit kronis dan telah dilapis menurut postur tubuhnya. Setelah mendapat persetujuan orangtua anak, telapak tangan dan pergelangan anak-anak itu diperiksa secara radiografis. Umur tulang (=umur biologis) dinilai mengikuti metode Tanner-Whitehouse-II (TW-2). Anak-anak yang mengalami retardasi (terlambat) menurut radiografis (sebesar 38,5%) hanya terdeteksi sebesar 15,5% menurut antropometri. Hal ini disebabkan perbedaan umur kronologis dan umur biologis (1; 0-2,5 bulan). Dengan penyinaran ini, dapat diketahui bahwa anak-anak yang berpostur pendek (terhambat pertumbuhannya), pertumbuhan tulangnya belum tumbuh secara optimum.
METODE KUALITATIF UNTUK PEMANTAUAN KONSUMSI PANGAN DALAM PWSPG Prihatini, Sri; Budiman, Basuki; Saraswati, Edwi; Syafrudin, Syafrudin
Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan JILID 18 (1995)
Publisher : Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh suatu metode kualitatif yang dapat menggambarkan perubahan konsumsi pangan secara kuantitatif. Penelitian dilakukan terhadap 100 rumah tangga miskin di dua desa miskin kecamatan Karang Gede Kabupaten Boyolali. Data yang dikumpulkan meliputi data konsumsi pangan dan sosial ekonomi pada dua musim yaitu musim panen dan musim paceklik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara kuantitatif ada perbedaan bermakna konsumsi energi dan protein per orang per hari. Jenis-jenis bahan makanan yang mengalami perubahan kuantitas konsumsinya dan bermakna perbedaannya adalah beras, tempe, sayuran daun dan sayuran buah muda. Sedangkan secara kualitatif, hanya beras dan tempe yang menunjukkan perbedaan bermakna frekuensi konsumsinya. Analisis hubungan antara perubahan konsumsi secara kuantitatif dengan kualitatif hanya terlihat pada beras (r = + 0,4) untuk perubahan konsumsi energi dan r = 0,57 untuk perubahan konsumsi protein, kemudian tempe (r = + 0,53) untuk perubahan konsumsi protein.