Asih Budiastuti
Staf pengajar bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang.

Published : 14 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search

Korelasi Kadar TNF-α dan Skor Psoriasis Area and Severity Index (PASI) pada Pasien Psoriasis Budiastuti, Asih
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2011:MMI Volume 45 Issue 2 Year 2011
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.837 KB)

Abstract

ABSTRACTCorrelation of serum TNF-α levels and psoriasis area and severity index (PASI) score in psoriatic patientsBackround: Psoriasis is a chronic inflammatory disease characterized by erythematous scaly patches. Psoriasis affects ±2.5% of world population, and 20-30% patients have moderate to severe psoriasis. Psoriatic patients have increased proinflammatory Th1 cytokines expression, including TNF-α, with relative deficiency of Th2 cytokines. Psoriasis area and severity index (PASI) is a subjective method which commonly used to measure disease severity. This study was aimed to determine the correlation betweenserum TNF-α level and PASI score, in order to obtain objective method for measuring disease severity.Method: This was an observational study performed psoriatic patients. Subjects underwent PASI score examination and serum TNF-α assay using ELISA.Result: Subjects were 16 patients (6 females and 10 males), with mean age of 51 years. Serum TNF-α levels ranged from 15,0-202,4 pg/mL. PASI score ranged from 0,3-55,8. The test showed no significant correlation between PASI score and serum TNF-α level. (ρ=-0,265; p=0,322)Conclusion: Serum TNF-α can not be used as clinical parameter of psoriasis severity.Keywords: Psoriasis, TNF-α, PASI scoreABSTRAKLatar belakang: Psoriasis adalah penyakit peradangan kronik dengan gambaran klinis berupa plakat bersisik berwarna merah terang. Penyakit ini mengenai ±2,5% dari populasi dunia, dimana 20-30% menderita psoriasis sedang sampai berat. Pada psoriasis terjadi peningkatan ekspresi sitokin pro inflamasi Th1, di antaranya TNF-α, dan defisiensi relatif sitokin Th2. Skor psoriasis area and severity index (PASI) adalah metode yang paling banyak digunakan untuk mengukur derajat keparahan psoriasis, namun metode ini bersifat subyektif. Penelitian ini bertujuan menentukan apakah terdapat korelasi antara kadar TNF-α serum dan skor PASI, guna mendapatkan parameter obyektif untuk mengukur derajat keparahan psoriasis.Metoda: Penelitian ini merupakan penelitian observasional pada pasien psoriasis. Subyek penelitian menjalani pemeriksaan skor PASI, lalu diperiksa kadar TNF-α serum menggunakan metode ELISA.Hasil: Subyek penelitian terdiri atas 16 penderita (6 wanita dan 10 laki-laki) dengan rerata usia 51 tahun. Rentang kadar TNF-α pada penderita 15,0 pg/mL -202,4 pg/mL. Rentang skor PASI penderita adalah 0,3-55,8. Uji korelasi menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna (ρ=-0,265; p=0,322) antara skor PASI dan kadar TNF-α, tanpa pengendalian berbagai faktor pengganggu.Simpulan: Kadar TNF-α serum belum dapat dipakai sebagai parameter keparahan psoriasis
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA VARISES VENA TUNGKAI BAWAH PADA WANITA USIA PRODUKTIF Adriana, Carina; Budiastuti, Asih; Hardian, Hardian
MEDIA MEDIKA MUDA 2012:MMM VOLUME 1 NUMBER 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Background : Varicose veins (VV) of lower extremity is superficial leg veins which are dilated and winding with abnormal valve function. Lower extremity VV may cause cosmetic problems that interfere with the appearance and decreased work productivity.Aim : The study aims to investigate the factors associated with the occurrence of lower extremity VV in women of productive age.Method : The study is an analytic observational using case control study design. The samples were taken with consecutive sampling. Subjects were women of productive age, comprising of 30 women with lower extremity VV (case) and 30 women without lower extremity VV (control). The data collected is characteristic of subjects and related factors to lower extremity VV. Data analysis were performed using SPSS Windows Ver 17.0.Results : The incidence of lower extremity VV in subjects with a family history was higher than in subjects with no family history (OR = 50,1; 95% CI=6,0 to 420,4). The occurrence of lower extremity VV was higher in subjects with a Body Mass Index (BMI)> 23 than subjects with BMI ≤ 23 (OR=8,5; 95% CI= 2,4 to 30,5). The incidence of lower extremity VV in the subject with a history of prolonged standing was higher than subjects with no history of prolonged standing (OR=36,0; 95% CI = 8,1 to 159,9). While the variables of age (OR = 1,6), multiparity pregnancy (OR = 4,3), and hormonal contraception (OR = 1,9) could not yet be concluded as a risk factor.Conclusion : Factors associated with the occurrence of lower extremities VV were a family history, overweight/obesity, and prolonged standingKeywords : Lower extremity varicose veins, family history, overweight/obesity, prolonged standing.
PREVALENSI DAN FAKTOR RESIKO TERJADINYA PITYRIASIS VERSICOLOR PADA POLISI LALU LINTAS KOTA SEMARANG Mustofa, Ahmad; Budiastuti, Asih; Farida, Helmia
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 3, No 1 (2014): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar belakang: Pitiriasis versikolor (PV) merupakan penyakit kulit dengan prevalensi yang tiggi di daerah tropis (40%). Profesi Polisi lalu lintas (Polantas) diperkirakan memiliki resiko tinggi terkena PV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian dan faktor resiko PV pada Polantas di Semarang.Metode: Penelitian ini bersifat belah lintang dengan subjek penelitian 57 Polantas di Semarang pada bulan Juni 2014. Diagnosis PV berdasarkan pemeriksaan klinis oleh residen penyakit kulit kelamin dan lampu wood. Data diambil dengan kuesioner meliputi durasi mengatur lalu lintas per hari, masa kerja di kepolisian lalu lintas, dan hygiene perorangan. Analisa data menggunakan uji regresi logistik dengan tingkat kemaknaan p < 0,05; Interval Kepercayaan 95%.Hasil: Angka kejadian PV pada Polantas di Semarang 17,5%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa hygiene perorangan yang buruk merupakan faktor resiko PV RP = 4,4 (C.I. = 1,05 - 18,19), p = 0,042. Masa kerja dan durasi mengatur lalu lintas bukan merupakan faktor resiko PV.Simpulan: Tingkat hygiene perorangan yang buruk merupakan faktor resiko terjadinya infeksi PV.
PREVALENSI DAN FAKTOR RESIKO TERJADINYA TINEA PEDIS PADA PEKERJA PABRIK TEKSTIL Hakim, Muhammad Baihaqi Ibnu; Budiastuti, Asih; Farida, Helmia
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 3, No 1 (2014): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar belakang: Tinea pedis merupakan dermatofitosis pada telapak kaki yang memiliki prevalensi 10% di seluruh dunia. Pekerja pabrik tekstil bagian pencelupan diperkirakan memiliki risiko lebih tinggi terkena Tinea pedis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian dan faktor risiko Tinea pedis pada pekerja pabrik tekstil.Metode: Penelitian yang bersifat belah lintang dilakukan pada 34 pekerja pabrik tekstil PT. Batamtex sebagai subjek penelitian pada bulan Juni 2014. Diagnosis Tinea pedis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis residen ilmu kesehatan kulit dan kelamin. Data diambil dengan kuesioner meliputi hygiene perorangan, durasi terpapar air per hari, dan masa kerja di bagian pencelupan. Analisa data menggunakan uji regresi logistik dengan tingkat kemaknaan p < 0,05 ; Interval Kepercayaan 95%.Hasil: Angka kejadian Tinea pedis pada pekerja pabrik tekstil 29,5%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa hygiene perorangan yang buruk RP = 32 (C.I. = 2 – 503) p = 0,001, dan masa kerja di bagian pencelupan yang lama merupakan faktor risiko Tinea pedis RP = 19 (C.I. = 1,4 – 255) p = 0,002.Simpulan: Tingkat hygiene perorangan buruk dan masa kerja di bagian pencelupan yang lama merupakan faktor risiko Tinea pedis.
FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA DERMATITIS KONTAK AKIBAT KERJA PADA PEKERJA BANGUNAN Putri, Ellisa; Budiastuti, Asih; Widodo, Aryoko
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 4, No 4 (2015): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Background: Occupational contact dermatitis is the largest part (90-95%) of occupational skin diseases. Construction workers are expected to have high risk of occupational contact dermatitis exposure.Aim: To determine the incidence and the causes of occupational contact dermatitis on construction workers in Semarang.Method: This research was cross sectional study with 46 research subjects of construction workers in Semarang at June 2015. Diagnosis due to occupational contact dermatitis based on clinical examination by a resident of skin and venereal diseases. Data were taken with a questionnaire covering the type of work and frequency of exposure. Data were analyzed using logistic regression test with significance level of p <0.05; Confidence intervals of 95%Result: The incidence of occupational contact dermatitis on construction workers in Semarang is 69.5%. Multivariate analysis shows that the type of work on the cement working section is 4.714 (C. I. =1.100-20.202), p=0.029 and wood working section is 0.517 (C. I. 0.039-0.630), p=0.006 and the frequency of exposure more than 8 times is 6.800 (C. I. 1.306-35.412), p=0.014 are factors that cause occupational contact dermatitis.Conclusion: The type of work and the frequency of exposure are factors of occupational contact dermatitis.
FAKTOR RESIKO TERJADINYA VARISES VENA TUNGKAI BAWAH (VVTB) PADA PRAMUNIAGA DI KOTA SEMARANG Pratiknyo, Kuncoro Adi; Budiastuti, Asih; Widodo, YL Aryoko
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.254 KB)

Abstract

Background : Lower Limb Varicose Vein (LLVV) is (a condition where) normal vein (in leg) is dilated because of venous pressure increment. LLVV can create cosmetic problem because of discomfort feeling and unattractive appearance of patient’s leg. (LLVV can create discomfort and cosmetic problem because of unattractive appearance of patient’s leg)Objective: To investigate the factors associated with the occurrence of LLVV in salesclerk in Semarang.Method: This study is an analytical observational using case control study design. The samples were taken with consecutive sampling. Subjects were female salesclerk, comprised of 33 female salesclerk with LLVV (case) and 33 female salesclerk without LLVV (control). The collected data were the characteristics of subjects and related factor to LLVV. Data analysis was performed using SPSS Windows Ver. 20.Result: There was significant correlation in subjects with family history (p=0,009) and overweight/obesity (p=0,032) to the occurrence of LLVV. Subjects with family history had 4.2 times greater risk to suffer LLVV (OR=4.2; 95% CI=1.3 to 12.9) while subjects with overweight/obesity had 3.3 times greater risk to suffer LLVV (OR=3.3; 95% CI=1.0 to 10.1). There was no significant correlation in subjects with history of prolonged standing (p=0,105) to the occurrence of VVTB (OR=7,1; 95% CI=0.8 to 62.7).Conclusion: Risk Factors associated with the occurrence of LLVV are family history and overweight/obesity.
PENGARUH PENDEKATAN BLENDED LEARNING TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWA SMA KESATRIAN 1 SEMARANG TENTANG AKNE VULGARIS Nugroho, Weni Kartika; Budiastuti, Asih; Pramono, Dodik
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.025 KB)

Abstract

Latar Belakang Akne vulgaris diderita oleh sebagian besar remaja. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran terhadap pencegahan dan penanganan untuk mengatasinya dengan cara memberikan pendidikan kesehatan. Metode ceramah sering menjadi pilihan tetapi metode ini memiliki banyak kelemahan. Oleh sebab itu, terdapat pengembangan metode yang lebih efektif yaitu blended learning.Tujuan Mengetahui pengaruh pendekatan blended learning terhadap pengetahuan dan sikap siswa SMA Kesatrian 1 Semarang tentang akne vulgaris.Metode Penelitian ini merupakan jenis penelitian quasi-expeimental dengan rancangan pretest-posttest control group design. Subjek penelitian adalah siswa kelas X SMA Kesatrian 1 Semarang. Kelompok perlakuan dibagi menjadi kelompok blended learning, kelompok ceramah, dan kelompok kontrol yang masing-masing terdiri dari 2 kelas dengan jumlah total 208 subjek. Data diperoleh dari kuesioner yang diisi oleh setiap subjek dan kemudian dianalisis menggunakan SPSS.Hasil Penelitian ini menunjukkan peningkatan pengetahuan dan sikap yang bermakna pada kelompok blended learning dan ceramah sebelum dan sesudah masing-masing diberikan penyuluhan dengan pendekatan blended learning dan ceramah (p=0,000) dan tidak terdapat perbedaan bermakna pada kelompok kontrol untuk pengetahuan (p=0,456) dan sikap (p=0,057). Penelitian ini juga menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dan ceramah untuk selisih pengetahuan (p=0,000) dan selisih sikap (p=0,001), terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dan blended learning untuk selisih pengetahuan (p=0,000) dan selisih sikap (p=0,000), dan tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok ceramah dan blended learning untuk selisih pengetahuan (p=0,894) dan selisih sikap (p=0,294).Kesimpulan Terdapat pengaruh pendekatan blended learning terhadap pengetahuan dan sikap siswa SMA Kesatrian 1 Semarang tentang akne vulgaris.
HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN BEDAK PADAT DENGAN DERAJAT KEPARAHAN AKNE VULGARIS Khansa, Adinda Luthfia; Budiastuti, Asih; Widodo, Aryoko
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.593 KB)

Abstract

Latar belakang : Penggunaan kosmetik, terutama bedak saat ini sudah menjadi hal yang umum tak terkecuali pada kalangan mahasiswi. Beberapa bahan yang digunakan dalam pembuatan bedak padat bersifat komedogenik dan aknegenik, dimana hal ini akan menyebabkan timbulnya akne vulgaris. Melalui penelitian ini akan dilakukan analisa hubungan antara penggunaan bedak padat dengan derajat keparahan akne vulgaris.  Metode : penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dengan sampel  48 mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang yang memenuhi kriteria inklusi (mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro yang menderita akne vulgaris, menggunakan bedak padat, berusia 17-22 tahun, serta bersedia menandatangani informed consent). Data yang dikumpulkan merupakan data primer dengan pengisian kuisioner dan pemeriksaan akne vulgaris. Analisis data menggunakan uji chi square dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil penelitian : tidak didapatkan adanya hubungan antara penggunaan bedak padat dengan derajat keparahan akne vulgaris (p=0,2), tidak didapatkan adanya hubungan antara frekuensi penggunaan bedak padat dengan derajat keparahan akne vulgaris (p=0,9), tidak didapatkan adanya hubungan antara durasi penggunaan bedak padat dengan derajat keparahan akne vulgaris (p=0,5).  Kesimpulan : tidak ada hubungan antara penggunaan, frekuensi penggunaan, dan durasi penggunaan bedak padat dengan derajat keparahan akne vulgaris.Kata kunci : akne vulgaris, bedak padat
BEBERAPA FAKTOR RESIKO TERJADINYA DERMATITIS SEBOROIK PADA KARYAWAN GO-JEK KOTA SEMARANG Kusuma, Rova Budi; Budiastuti, Asih; Widodo, Aryoko
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368 KB)

Abstract

Latar Belakang: Dermatitis Seboroik adalah penyakit kulit kronis berulang pada area yang didasari oleh faktor konstitusi dan bertempat predileksi yang memiliki banyak kelenjar sebasea. Karyawan GO-JEK Kota Semarang diperkirakan memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena Dermatitis Seboroik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa faktor resiko Dermatitis Seboroik pada Karyawan GO-JEK Kota Semarang. Tujuan: Mengetahui beberapa faktor resiko terjadinya Dermatitis Seboroik pada Karyawan GO-JEK Kota Semarang. Metode: Penelitian ini bersifat belah lintang dilakkan pada 22 Karyawan GO-JEK Kota Semarang sebagai subjek penelitian pada bulan Mei 2018. Diagnosis Dermatitis Seboroik ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis residen ilmu kesehatan kulit dan kelamin. Data diambil dengan kuesioner meliputi hygiene perorangan, durasi terpapar keringat dan lama kerja per hari. Data dianalisis dengan program komputer secara analitik dengan menggunakan uji chi-square atau fischer test dengan tingkat kemaknaan untuk variabel uji bivariat p<0,05. Kemudian dilakukan regresi logistik. Hasil: Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa lama kerja yang lama merupakan faktor resiko Dermatitis Seboroik RP= 20,158 (IK = 1,107-367,015) p = 0,042. Simpulan: Lama kerja yang lama merupakan faktor resiko Dermatitis Seboroik.Kata Kunci: Dermatitis Seboroik, faktor resiko, lama kerja.
PENGARUH PEMAKAIAN MASKER MADU TERHADAP DERAJAT KEPARAHAN AKNE VULGARIS Fitriani, Ulfah; Budiastuti, Asih; Widodo, Aryoko
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Akne vulgaris merupakan kelainan kulit kronik pada unit pilosebasea yang ditandai dengan seborrhea, formasi komedo terbuka dan tertutup, pustula dan papula yang erimatus, serta pada kasus yang berat dapat disertai pustul yang dalam dan pseudokista. Madu memiliki senyawa hidrogen peroksida (H2O2) yang efektif sebagai zat antibakteri. Sifat antibakteri madu membantu mengatasi infeksi pada luka sedangkan aksi anti inflamasinya dapat mengurangi nyeri yang berpengaruh pada proses penyembuhan. Tujuan: Mengetahui adanya pengaruh pemberian madu terhadap derajat keparahan Akne Vulgaris. Metode: Penelitian ini merupakan studi klinis dengan desain randomized pre and post test control group. Subjek penelitian adalah mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang yang memenuhi kriteria inklusi. Subyek penelitian diacak kedalam kelompok kontrol dan perlakuan, masing-masing kelompok terdiri dari 20 subyek dan lama penelitian selama 4 minggu atau. Data yang diperoleh merupakan data primer dengan mengisi kuisioner, menghitung jumlah lesi AV dan menentukan derajat keparahan AV. Hasil: Lesi total AV awal penelitian kedua kelompok tidak berbeda bermakna (p=0,301), begitu pula dengan lesi total AV akhir penelitian (p=0,229). Perbedaan total lesi AV awal (20,95±10,98) dan akhir (12,32±12,23) kelompok kontrol berbeda bermakna (p<0,005). Terdapat penurunan bermakna (p<0,001) dari lesi AV awal (25,11±13,32)  dan akhir (15,21±12,54) pada kelompok perlakuan. Delta lesi kelompok kontrol dan perlakuan juga tidak berbeda bermakna (p=0,698). Pada akhir penelitian, derajat keparahan AV antara kedua kelompok didapatkan hasil akhir tidak berbeda bermakna (p=1,000). Kesimpulan: Tidak didapatkan hubungan bermakna antara pemakaian masker madu dengan derajat keparahan AV selama 4 minggu.Kata kunci: Akne vulgaris, derajat keparahan, masker madu.