Lia Yulia Budiarti
Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Indonesia

Published : 38 Documents
Articles

Found 38 Documents
Search

ANALISIS KEYAKINAN DIRI DAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PEDAGANG DI PASAR TRADISIONAL DARAT DAN PASAR TERAPUNG LOK BAINTAN SUNGAI TABUK MARTAPURA Budiarti, Lia Yulia; Akbar, Sukma Noor; Rachmah, Dwi Nur
Sosio Konsepsia Vol 4, No 2 (2015): Sosio Konsepsia
Publisher : Puslitbangkesos

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keyakinan diri dan kesejahteraan psikologispada pedagang di pasar tradisional darat dan pasar terapung. Selain itu penelitian ini juga ingin mengetahuiperbedaan keyakinan diri dan kesejahteraan psikologis pada pedagang pasar tradisonal darat dan pedagangpasar terapung. Metode penelitian pada penelitian ini adalah menggunakan metode kuantitatif. Analisisdata yang digunakan adalah analisis korelasi product moment Pearson’s dan analisis independent samplet-test. Subjek penelitian ini adalah 30 orang pedagang di pasar tradisional darat dan 30 orang pedagang dipasar terapung Lok Baintan Sungai Tabuk Martapura Kalimantan Selatan dengan menggunakan tekhnikpurposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara keyakinan diri dankesejahteraan psikologis pada pedagang di pasar tradisional darat dan pedagang di pasar terapung, sertaterdapat perbedaan kesejahteraan psikologis pada pedagang di pasar tradisional darat dan pedagang di pasarterapung, tetapi tidak ada perbedaan keyakinan diri pada pedagang di pasar tradisional darat dan pedagangdi pasar terapung.Kata kunci: keyakinan diri, kesejahteraan psikologis, pedagang pasar tradisional darat, pedagang pasarterapung.
Pola Sensitivitas In Vitro Salmonella Typhi Terhadap Antibiotik Kloramfenikol, Amoksisilin, Dan Kotrimoksazol: Di Bagian Anak RSUD Ulin Banjarmasin Periode Mei-September 2012 Juwita, Silvan; Hartoyo, Edi; Budiarti, Lia Yulia
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Incidence of typhoid fever in children is still considered high, especially in the Paediatric Department of RSUD Ulin Banjarmasin, so the effective and efficient treatment was required. The sensitivity test of organisms which tends to be resistance like Salmonella typhi is very important because each region has different sensitivity pattern of Salmonella and change over time. The purpose of this research was to determine the in vitro sensitivity pattern of Salmonella typhi to antibiotics chloramphenicol, amoxicillin, and cotrimoxazole in patients of Paediatric Department of RSUD Ulin Banjarmasin. This research was laboratoric descriptive.Out of 37 blood samples of typhoid fever patients in Paediatric Department of RSUD Ulin Banjarmasin, 20 samples were positive of Salmonella typhi isolate and the samples had undergone sensitivity test to antibiotic chloramphenicol, amoxicillin, and cotrimoxazole. This research was carried out with Kirby-Bauer diffusion method. Result interpretation was based on the formation radical zone of bacteria growth around antibiotic disk and it was compared to the standards of sensitivity by Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI) 2011. The results of this research showed that Salmonella typhi was sensitive to chloramphenicol, (65%); amoxicillin, (15%); and cotrimoxazole, (80%); resistance to chloramphenicol, (10%); amoxicillin, (85%); and cotrimoxazole, (20%); and intermediat to chloramphenicol, (25%). The results of this research suggested that antibiotics chloramphenicol and cotrimoxazole were still sensitive to the bacteria Salmonella typhi, whereas amoxicillin was already resistant. Keywords: amoxicillin, chloramphenicol, cotrimoxazole, Salmonella typhi. ABSTRAK: Angka kejadian demam tifoid pada anak yang masih tinggi khususnya di Bagian Anak RSUD Ulin Banjarmasin, sehingga diperlukan pengobatan yang efektif dan efesien. Uji sensitivitas terhadap organisme yang cenderung mengalami resistensi seperti Salmonella typhi sangatlah penting karena pada masing-masing daerah mempunyai pola sensitivitas Salmonella yang berbeda dan berubah seiring waktu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola sensitivitas in vitro Salmonella typhi terhadap antibiotik kloramfenikol, amoksisilin, dan kotrimoksazol pada pasien yang berada di Bagian Anak RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini bersifat deskriptif laboratorik. Dari 37 sampel darah penderita demam tifoid di Bagian Anak RSUD Ulin Banjarmasin didapatkan 20 isolat positif Salmonella typhi dan telah dilakukan uji sensitivitas terhadap 3 jenis antibiotik yaitu kloramfenikol, amoksisilin, dan kotrimoksazol. Penelitian ini dilakukan dengan metode difusi Kirby-Bauer. Interpretasi hasil berdasarkan pada terbentuknya zona radikal pertumbuhan bakteri di sekitar disk antibiotik dan dibandingkan dengan standar sensitivitas menurut Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI) tahun 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Salmonella typhi sensitif terhadap kloramfenikol, (65%); amoksisilin, (15%); dan kotrimoksazol, (80%); resisten terhadap kloramfenikol, (10%); amoksisilin, (85%); dan kotrimoksazol, (20%); dan intermediat terhadap kloramfenikol, (25%). Hasil penelitian ini menunjukkan antibiotik kloramfenikol dan kotrimoksazol masih sensitif terhadap kuman Salmonella typhi, sedangkan amoksisilin sudah resisten. Kata-kata kunci: amoksisilin, kloramfenikol, kotrimoksazol, Salmonella typhi.
Perbandingan Daya Hambat Ekstrak Etanol Dengan Sediaan Sirup Herbal Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Terhadap Pertumbuhan Shigella dysenteriae In Vitro Dewi, Intan Kusuma; Joharman, Joharman; Budiarti, Lia Yulia
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Sour carambola (Averrhoa bilimbi, L) fruit has antibacterial effect to Shigella dysenteriae. Shigella dysentriae is Gram-negative bacteria caused shigellosis and bloody diarrhea in human. Sour carambola can be used as extract and herbal syrup. This research aims to compare the inhibitory effect between ethanol extract and herbal syrup of sour carambola fruit to against Shigella dysenteriae in vitro. The concentration of ethanol extract and herbal syrup were 60 %,70%, 80% and 90%. Antibacterial effect was tested by Kirby- Bauer diffusion method on Mueller Hinton media and measure the inhibitory zone of  Shigella dysenteriae. The result of inhibitory zone was tested by Kruskal-Wallis and Mann-Whitney post hoc tests with 95% significance level showed  that ethanol extract and herbal syrup of sour carambola showed the differences in concentration of 60% (p < 0,05). The phytochemical screening result showed that ethanol extract of sour carambola contains  flavonoid, saponin, alkaloid and steroid. Keywords: Averrhoa bilimbi, L., ethanol extract, herbal syrup, Shigella dysenteriae ABSTRAK: Buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi, L.) terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap Shigella dysenteriae. Shigella dysenteriae merupakan bakteri penyebab shigellosis atau disentri basiler. Buah belimbing wuluh dapat digunakan dalam bentuk ekstrak dan sirup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan daya hambat antara ekstrak etanol dengan sediaan sirup herbal buah belimbing wuluh dalam menghambat pertumbuhan Shigella dysenteriae in vitro. Konsenterasi ekstrak etanol dan sirup herbal buah belimbing wuluh yang digunakan adalah 60%, 70%, 80% dan 90%. Uji antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi Kirby-Bauer dengan media Mueller- Hinton dan dilakukan pengukuran zona hambat Shigella dysenteriae. Hasil zona hambat yang terbentuk diuji menggunakan Kruskal Wallis dan post hoc Mann Whitney dengan tingkat kepercayaan 95% dan menunjukkan bahwa ekstrak etanol dan sediaan sirup herbal buah belimbing wuluh memiliki perbedaan bermakna dalam menghambat Shigella dysenteriae pada konsenterasi 60% (p<0,05). Hasil skrining fitokimia ekstrak etanol buah belimbing wuluh menunjukkan adanya kandungan flavonoid, saponin, alkaloid dan steroid.  Kata-kata kunci: Averrhoa bilimbi, L., ekstrak etanol, Shigella dysenteriae, sirup herbal
IDENTIFIKASI JENIS BAKTERI KONTAMINAN PADA TANGAN PERAWAT DI BANGSAL PENYAKIT DALAM RSUD ULIN BANJARMASIN PERIODE JUNI-AGUSTUS 2014 L., Ikhwanda Angga; Prenggono, Muhammad Darwin; Budiarti, Lia Yulia
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 11, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nosocomial infection is an infection by viruses , bacterias, and fungal pathogens that attack a patient undergoing treatment at a hospital. The source of nosocomial infections can be derived from ones body own endogenous flora and cross-infection through the hands of health care workers. The aim of this study was to identify the types of contaminants bacterias on the hands of the nurses of Disease Ward at RSUD Ulin Banjarmasin from June to August 2014. This is a descriptive study with cross sectional approach. A total of 26 samples were selected using total sampling method. The results of the nurses hand swab which had been cultured in an isolation media were viewed using a microscope. Descriptive analysis showed that there were four types of bacteria on the hands of nurses hand swab results: Staphylococcus aureus (53,85%), Staphylococcus epidermidis (34,62%), Escherichia coli (7,69%), and Bacillus sp.(3,84%). Therefore it can be concluded that bacterial contaminants found on the hands of nurses were Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Escherichia coli, and Bacillus sp. Keywords: nosocomial infection, contaminant bacterias, nurses hand
Uji Sensitivitas Isolat Bakteri Pasien Urolithiasis di Ruang Perawatan Bedah Rsud Ulin Banjarmasin terhadap Antibiotik Terpilih Pertiwi, Strata; Rahman, Eka Yudha; Budiarti, Lia Yulia
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 10, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Urinary tract infection (UTI) is defined as the presence of microorganisms in urine which is marked with significants bacteriuria. Urinary tract infection is very common condition that occurs in both women and men in all ages. Urinary tract stone (Urolithiasis) can lead to the development of bacteriuria. Bacterial resistance to antibiotics has long recovery from UTI. The aim of this research was to find out bacterial sensitivity urinary tract infection in patients urolithiasis to selected antibiotic in Surgical Treatment Ulin General Hospital Banjarmasin period Juni-Agustus 2013. The selected antibiotics were ceftriaxone, levofloxaxin and gentamicin. The research was a descriptional research. The subject of this research is all patients urolithiasis with complication urinary tract infection in Surgical Treatment Ulin General Hospital Banjarmasin period Juni-Agustus 2013. The sampling technique in this research was consecutive method. The sensitivity test to antibiotic test in the research used Kirby-Bauer method and analyzed according to CLSI 2011 standard. Based of the research can be concluded that bacteria that sensitive to selected antibiotics in succession is levofloxaxin 61,54%, seftriaxone 15,38% and gentamicin 15,38%. Percentage of bacteria that resisten to antibiotic seftriaxone 23,8%. Keywords: bacteriuria, gentamicin, urinary tract infection (UTI), in vitro, levofloxaxin, seftriaxone, urolithiasis ABSTRAK: Infeksi saluran kemih (ISK) didefinisikan sebagai adanya mikroorganisme dalam urin yang ditandai dengan bakteriuria bermakna. Infeksi saluran kemih merupakan kondisi yang sangat umum terjadi baik pada wanita maupun pria pada semua usia. Batu saluran kemih (urolithiasis) dapat menyebabkan perkembangan bakteriuria. Resistensi bakteri terhadap antibiotik menyebabkan lamanya penyembuhan dari ISK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sensitivitas bakteri penyebab ISK pada pasien urolithiasis terhadap antibiotik terpilih di Bagian Perawatan Bedah RSUD Ulin Banjarmasin periode Juni-Agustus 2013. Antibiotik terpilih yaitu seftriakson, levofloksasin dan gentamisin. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif murni sensitivitas isolat bakteri Escheriachia coli, pseudomonas sp., dan proteus sp. dari pasien urolithiasis dengan ISK terhadap antibiotik uji terpilih. Subjek penelitian ini adalah seluruh pasien urolithiasis dengan komplikasi infeksi saluran kemih di ruang perawatan bedah RSUD Ulin Banjarmasin periode Juni-Agustus 2013. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah consecutive method. Uji sensitivitas antibiotik pada penelitian ini menggunakan metode Kirby-Bauer dan dianalisa sesuai dengan standar CLSI 2011. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bakteri yang sensitif terhadap antibiotik terpilih secara berturut-turut adalah levofloksasin 61,54%, seftriakson 15,38%, dan gentamisin 15,38%. Persentase bakteri yang resisten terhadap antibiotik seftriakson 23,8%. Kata-kata kunci: bakteriuria, infeksi saluran kemih (ISK), in vitro, levofloksasin, gentamisin, seftriakson, urolithiasis
Perbandingan Sensitivitas Bakteri Aerob Penyebab Otitis Media Supuratif Kronik Tipe Benigna Aktif Tahun 2008 Dan 2012 Hafizah, Hafizah; Qamariah, Nur; Budiarti, Lia Yulia
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Active benign chronic suppurative otitis media (ABCSOM) was a chronic infection of middle ear with the perforation of tympanic membrane and history of  drainage (otorrhea) for more than 2 months. The aim of this research is to compare the bacteria sensitivity to the antibiotic between 2008 and 2012. The antibiotics used for this research are ciprofloxacin, gentamicin, chlorampenicol and polymixyn B. This is an observational analytic research. The bacteria sensitivity was examined with Kirby-Bauer diffusion method and were converted using the standard of CLSI. The data were analyzed with Kolmogorov smirnov and Fisher test. The results has showed that in 2012 ciprofloxacin has 100% sensitivity, gentamicin has 98.2%,  chloramphenicol has 81,9% and polymyxin B has 30,8%, while the result in 2008 showed chloramphenicol has 86,1% sensitivity, gentamicin has 40,3% and polymyxin B has 13,8%. Data analysis using Kolmogorov smirnov and Fisher test with 95% confidence level showed that there is significant difference between the sensitivity of Pseudomonas aureginosa and Staphylococcus aureus to gentamicin and there is no significant difference in the other comparisons. It has been concluded that the most sensitive antibiotics in 2012 is ciprofloxacin and there is a significant difference in sensitivity of Staphylococcus aureus and Pseudomonas aureginosa to gentamicine in 2008 and 2012. Keywords : CSOMBA,  sensitivity of antibiotics, resistence of antibotics, sensitivity test of bacteria ABSTRAK: Otitis Media Supuratif Kronik tipe Benigna Aktif (OMSKBA) adalah infeksi kronis pada telinga dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya otorea lebih dari 2 bulan. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan sensitivitas bakteri penyebab OMSKBA terhadap beberapa antibiotik pada tahun 2008 dan 2012. Antibiotik yang digunakan adalah siprofloksasin, gentamisin, kloramfenikol dan polimiksin B. Penelitian ini bersifat observasional analitik. Sensitivitas bakteri diuji dengan metode Kirby Bauer dan hasilnya dikonversikan dengan standar CLSI. Hasil penelitian pada tahun 2012 didapatkan sensitivitas dari siprofloksasin 100%; gentamisin 98,2%; kloramfenikol 81,9%; dan Polimiksin B 30,8%. Hasil Penelitian pada tahun 2008 didapatkan sensitivitas dari kloramfenikol 86,1%; gentamisin 40,3%; dan polimiksin B 13,8%. Hasil analisis data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan Fisher dengan tingkat kepercayaan 95% memperlihatkan adanya perbedaan pada sensitivitas bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aureginosa terhadap gentamisin, sedangkan pada hasil lainnya tidak didapatkan adanya perbedaan. Dapat simpulkan bahwa antibiotik yang paling sensitif pada tahun 2012 adalah siprofloksasin dan pada uji analisis terdapat perbedaan sensitivitas yang bermakna pada bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aureginosa terhadap antibiotik gentamisin pada tahun 2008 dan 2012. Kata-kata Kunci : OMSKBA, resistensi antibiotik, sensitivitas antibiotik, uji sensitivitas bakteri
Jumlah Bakteriuri Pada Pasien Dengan Kateterisasi Uretra: Di Bagian Bedah Rsud Ulin Banjarmasin Periode Mei-Agustus 2012 Tinjauan Terhadap Jumlah Bakteriuri Sebelum Dan Dengan Pemasangan Kateter Uretra Menetap Selama 1 X 24 Jam Dan 2 X 24 Jam Syella, Nafilah; Rahman, Eka Yudha; Budiarti, Lia Yulia
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Procedure of urethral catheterization caused damage of mucosal lining that disturbed normal barrier and caused colonization of bacteria. The aim is to determine the ratio of bacteriuria before and during indwelling urethral catheter in Department of Surgery RSUD Ulin Banjarmasin. The method uses an observational analytic cross-sectional approach with 30 people as sample. The population of this study were all hospitalized patients with catheterization in Department of Surgery RSUD Ulin Banjarmasin. Sample of this study was urine of patient before and during indwelling urethral catheter which has been selected in the culture media in Microbiology Laboratory of UNLAM Medical Faculty Banjarbaru. The instruments used include data obtained from urine cultures of patients with urethral catheterization. The collected data were analyzed using a Wilcoxon test then compared with a 95% confidence interval. The results of Wilcoxon test showed that there were significant difference in the number of bacteriuria. This study proved that there was a change of bacteriuria number before and during indwelling urethral catheter.Listen                                          Read phoneticallyKeywords: urinary tract infection, urethral catheter,surgery patientABSTRAK: Pemasangan kateter bisa menyebabkan kerusakan lapisan mukosa yang mengganggu barier alami dan menyebabkan kolonisasi bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan jumlah bakteriuri sebelum dan dengan pemasangan kateter uretra pada pasien di Bagian Bedah RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 30 orang. Populasi dari penelitian adalah seluruh pasien dengan kateterisasi di Bagian Bedah RSUD Ulin Banjarmasin. Sampel penelitian adalah urin pasien sebelum dan dengan pemasangan kateter urin di Bagian Bedah RSUD Ulin Banjarmasin yang telah dikultur pada media terpilih di Laboratorium Mikrobiologi FK UNLAM Banjarbaru. Instrument yang digunakan meliputi data yang diperoleh dari kultur urin pasien dengan kateterisasi. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon kemudian dibandingkan dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil uji Wolcoxon menunjukkan bahwa terdapat perbedaan jumlah bakteriuri yang bermakna. Penelitian ini membuktikan bahwa terdapat perubahan gambaran jumlah bakteriuri sebelum dan dengan pemasangan kateter menetap. Kata-kata kunci: bakteriuri, kateter urin, pasien bedah
HUBUNGAN ANTARA USIA IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN ABORTUS HABITUALIS DI RSUD ULIN BANJARMASIN PERIODE TAHUN 2010-2013 Kismiliansari, Desy Elisa; Nizomy, Ihya Ridlo; Budiarti, Lia Yulia
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 11, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Recurrent miscarriage is an abortion that occurs two or more times in a row before 20 weeks of gestation. Mother’s age is a cause of recurrent miscarriage. The aim of this study is to determine the relation between mother’s age and the incidence of recurrent miscarriage on outpatient clinic and delivery room patients at Obstetric and Gynecologic Department of Ulin General Hospital Banjarmasin from 2010 to 2013. This study used analytic observational method with retrospective approach, the mother’s age was divided into <20 years, 20-35 years, >35 years age group, with Chi-square test at 95% confidence level used to analyze the data. The results showed that from 1.266 patients diagnosed with abortion at Ulin General Hospital Banjarmasin, a total of 37 patients were diagnosed with recurrent miscarriage. We found that the number of women who suffered recurrent miscarriage at <20 years of age was    1 (2.70%) patient, at 20-35 years of age were 21 (56.76%) patients, and at >35 years of age were 15 (40.54%) patients. Overall, a total of 16 (43,24%) patients were within the recurrent miscarriage risk factor age group while 21 (56,76%) patients were outside the risk factor age group. There was a statistically significant relation between mother’s age with  the incidence of recurrent miscarriage (χ2 = 10,6, P = 0.05).                                      Keywords: recurrent miscarriage incidence, mother’s age, Obstetric and GynecologicDepartment of Ulin General Hospital Banjarmasin
Perbandingan Perubahan Kepekaan Staphylococcus aureus ATCC 25923 Pada Pemaparan Amoksisilin-Asam Klavulanat Dan Eritromisin Kadar Subinhibisi In Vitro Rifasanti, Diah Puspita; Budiarti, Lia Yulia; Yasmina, Alfi
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Staphylococcus aureus is an organism that causes infections that can spread widely in the human body. The therapy for infection by S. aureus is amoxicillin-clavulanic acid or erythromycin, but resistance has been reported to both of them, and one of the causes was exposure to subinhibitory level of antibiotic. This study was aimed to determine whether there were any changes in the sensitivity of S. aureus ATCC 25923 caused by the exposure to subinhibitory level of amoxicillin-clavulanic acid and erythromycin and to compare the time needed to cause changes in sensitivity between the two antibiotics. It was an experimental study, using a completely randomized design, which consisted of 14 treatments based on duration of exposure, with three repetitions. Kirby Bauer disk diffusion method was used to evaluate the inhibitory effect. The result showed that there were changes in the sensitivity of S. aureus ATCC 25923 after being exposed to subinhibitory level of both antibiotics, and exposure to amoxicillin-clavulanic acid caused faster changes in sensitivity compared with exposure to erythromycin. Data analysis using the Mann-Whitney test indicated that there was a significant difference between the exposure to subinhibitory level of the two antibiotics (p = 0.025). It was concluded that there was a significant difference in changes in sensitivity of S. aureus ATCC 25923 caused by in vitro exposure to subinhibitory level of amoxicillin-clavulanic acid and erythromycin.                                          ListenRead phoneticallyKeywords: amoxicillin-clavulanic acid, erythromycin, sensitivity, Staphylococcus aureus, subinhibitory level ABSTRAK: Staphylococcus aureus merupakan organisme penyebab infeksi yang dapat menyebar luas. Terapi untuk infeksi oleh S. aureus diantaranya adalah antibiotik amoksisilin-asam klavulanat atau eritromisin. Telah dilaporkan adanya resistensi pada kedua antibiotik tersebut dan salah satu penyebabnya adalah akibat pengaruh antibiotik kadar subinhibisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perubahan kepekaan pada S. aureus ATCC 25923 pada pemaparan amoksisilin-asam klavulanat dan eritromisin kadar subinhibisi dan membandingkan waktu yang diperlukan yang dapat menimbulkan perubahan kepekaan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, menggunakan rancangan acak lengkap, terdiri dari 14 perlakuan antibiotik berdasarkan lama pemaparan dan pengulangan sebanyak 3 kali. Metode ujinya adalah metode difusi Kirby Bauer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perubahan kepekaan pada S. aureus ATCC 25923 setelah dipaparkan pada antibiotik kadar subinhibisi, dan pada pemaparan antibiotik amoksisilin-asam klavulanat memerlukan waktu lebih cepat untuk menimbulkan perubahan kepekaan dibandingkan dengan pemaparan kadar subinhibisi eritromisin. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara pemaparan amoksisilin-asam klavulanat dan eritromisin kadar subinhibisi in vitro (p = 0,025). Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan perubahan kepekaan S. aureus ATCC 25923 pada pemaparan amoksisilin-asam klavulanat dan eritromisin kadar subinhibisi in vitro. Kata kunci: amoksisilin-asam klavulanat, eritromisin, kadar subinhibisi, kepekaan, Staphylococcus aureus
Peran Alkohol 70%, Povidon-Iodine 10% dan Kasa Kering Steril dalam Pencegahan Infeksi pada Perawatan Tali Pusat Yunanto, Ari; Hartoyo, Edi; Budiarti, Lia Yulia
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: tali pusat merupakan tempat yang sangat ideal untuk tumbuhnyabakteri, oleh karena itu pencegahan infeksi bakteri merupakan tindakan utama yangharus dilaksanakan dalam perawatan tali pusat. Menjaga agar tali pusat selalu keringdan bersih merupakan prinsip utama. Tujuan penelitian: Mengetahui peran alkohol70%, povidon-iodine 10% dan kasa kering steril dalam pencegahan infeksi padaperawatan tali pusat.Metoda: telah dilakukan penelitian pemberian alkohol 70 %, povidon-iodin 10 %, sertakasa kering steril, dalam perawatan tali pusat pasca pemotongan untuk mencegahterjadinya infeksi, serta membandingkan lama lepasnya tali pusat. Penelitian dilaksanakandi Ruang Neonatalogi Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD Ulin/FK UNLAMBanjarmasin. Masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan 12 kali atau sampai talipusat lepas.Hasil: dari tiga jenis perlakuan tidak didapatkan tanda-tanda adanya infeksi tali pusatdemikian pula lama lepasnya tali pusat tidak terdapat perbedaan yang bermakna (alkohol70 %: 7,33 hari, povidon-iodine: 10 %: 7,25 hari, dan kasa kering steril: 6,42 hari).Kesimpulan: dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa perawatan tali pusat denganmenggunakan alkohol 70%, povidone-iodine 10% dan kasa kering steril dapat mencegahterjadinya infeksi tali pusat dan tidak berpengaruh terhadap lama lepasnya tali pusat.Namun bila dipandang dari segi ekonomi perawatan tali pusat dengan kasa kering sterildinilai lebih ekonomis dibandingkan perawatan tali pusat dengan menggunakan alkohol70% dan povidone-iodine 10%.