cover
1.671
P-Index
Gayuh Prasetyo Budi
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Purwokerto Jl. Raya dukuh waluh PO BOX 202 Purwokerto 53182
Articles
14
Documents
KOMPETISI GULMA DENGAN TANAMAN BUDIDAYA DALAM SISTEM PERTANAMAN MULTIPLE CROPPING

SAINTEKS Vol 7, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Multiple cropping is a way of expanding various plants in an area.. This multiple cropping system will give a various agriculture products or various yields, so it can reduce the disadvantageous risk because of the harvest failures in one of the commodity. Besides, the multiple cropping system is based on natural ecosystem where the biodiversity level is higher so it can guarantee the natural equilibrium. One of the obstacles for the farmers in this multiple cropping system is the weed as a growth factor competitor in particular nutrition. It happens especially when the canopy in multiple cropping system does not cover perfectly, so that the weeds problem can be more complex. To reduce the disadvantages are to give the nutrition in an exact dosage, to choose the various plants which can make canopy fast, to arrange the planting distance exactly and multiple cropping system with legume. Keywords: weed competition, plant, multiple cropping.

THE GROWTH RESPONSE CAUSED BY ARBUSCULAR MYCORRHIZAL FUNGI ON CORN WITH MEDIA POLLUTED BY HEAVY METAL Cd, Pb and Zn

BIOMATH Vol 9, No 1 (2008)
Publisher : BIOMATH

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.859 KB)

Abstract

This study is aimed to know the most optimal arbuscular mycorrhizal fungi mikoriza dosage for corn to control the absorption of Cd, Pb, Zn, and to know the impact of heavy metal Cd, Pb and Zn treatment toward the growth and harvest of corn. This research was a factorial experiment arranged on randomized  block design (RBD)  and each treatment was conducted three times in which each treatment had two factors: the dosage factor of arbuscular mycorrhizal fungi  (D), consisting of D0 = without arbuscular mycorrhizal fungia, D1=100 g/poly bag, D2=200 g/poly bag; the factor of heavy metal (L), consisting of L1=Cd, L2=Pb, L3=Zn. There were some observed variables: the weight of corn ear  per plant (gr), the dry weight of plant root (gr), the dry weight of upper part of the plant (gr), the number of corn ears, the growth response caused arbuscular mycorrhizal fungi (TPAM). Based on the result and analysis, it could be concluded that providing 200 gr mikoriza per plant showed an effective inokulan with TPAM 25,971%. Moreover, the result gained from the criterion of the ability to improve plant growth signed by the indicator of kation absorption of heavy metal showed that the characteristics of arbuscular mycorrhizal fungi used in the experiment were able to support the improvement of adaptation level of plants toward biotic and abiotic condition. As result, it is recommended to conduct field tests on the land polluted by heavy metals for each species of arbuscular mycorrhizal fungi. This is to find out the potentials of each arbuscular mycorrhizal fungi species used as bio-accumulator of heavy metals so that arbuscular mycorrhizal fungi  would be employed to improve the bio-remedial for polluted land. Key word: Arbuscular mycorrhizal fungi, the heavy metal Cd, Pb, Zn, the growth response caused arbuscular mycorrhizal fungi

PENERAPAN HERBISIDA ORGANIK EKSTRAK ALANG-ALANG UNTUK MENGENDALIKAN GULMA PADA MENTIMUN

AGRITECH Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.67 KB)

Abstract

This research was conducted to study the application of thatch grass extract to weed control, to study the growth and yield of cucumber.  The experiment was carried out from January 2013 to April 2013 and was conducted in Dukuhwaluh village, Kembaran District in Banyumas Regency.  The research was arranged in a Complete Randomized Design with 1 factor and 5 replications. The factor was application concentration of thatch grass extract consisted of: without application, 100 g/l, 200 g/l, 300 g/l and clean weeding. The results showed that the application concentration of thatch grass extract (200 g/l) can reduce weed population in cucumber crops. Concentration’s application of thatch grass extract (200 g/l) effective to increase fruit number/plant and fruit weight/plant of cucumber. Key words: thatch grass extract, weed populatio and cucumber.

PENGARUH JENIS BAHAN PEMBENAH TANAH TERHADAP KUANTITAS DAN KUALITAS TANAMAN KUMIS KUCING (Orthosiphon arisatus (BI.) Miq.) DENGAN BUDIDAYA ORGANIK

AGRITECH Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.637 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis bahan pembenah tanah terhadap kuantitas dan kualitas produksi tanaman kumis kucing dengan budidaya organik. Selain itu juga untuk memperoleh jenis bahan pembenah tanah yang paling optimum bagi kuantitas dan kualitas produksi tanaman kumis kucing dengan budidaya organik.Percobaan pot dilaksanakan di Desa Karangsoka, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, dengan ketinggian tempat 68 m dpl, selama ±  8 bulan.  Penelitian ini menggunakan faktor tunggal, yaitu empat taraf perlakuan pemupukan : M0 = tanpa pemupukan, M1  = pemupukan mikoriza, M2  = pemupukan arang sekam, dan M3  = pemupukan arang sekam dan mikoriza.  Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 ulangan.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jenis bahan pembenah tanah tidak berpengaruh nyata terhadap kuantitas produksi tanaman kumis kucing dengan budidaya organik, yaitu bobot basah daun tanaman. Selain itu jenis bahan pembenah tanah juga tidak berpengaruh nyata pada kadar abu dan kadar air daun tanaman kumis kucing dengan budidaya organik. Penambahan bahan pembenah tanah arang sekam dan mikoriza mampu menghasilkan daun tanaman kumis kucing dengan kandungan Kalium 1,984 % yang termasuk dalam kisaran memenuhi syarat sebagai bahan obat. Oleh karena itu disarankan adanya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui lebih dalam tentang budidaya tanaman kumis kucing secara organik, terutama yang mengkaji penggunaan bahan pembenah tanah arang sekam dan mikoriza. Selain itu perlu dilakukan pula tinjauan kualitas kandungan  senyawa bioaktif selain Kalium.

BEBERAPA ASPEK PERBAIKAN PENYEMPROTAN PESTISIDA UNTUK MENGENDALIKAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN

AGRITECH Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.164 KB)

Abstract

Penggunaan pestisida dengan volume tinggi dan interval aplikasi penyemprotan yang pendek berakibat meningkatkan biaya produksi usahatani, meningkatkan pencemaran terhadap lingkungan, mempercepat terjadinya resistensi organisme pengganggu tanaman (opt) terhadap pestisida, kematian pada musuh-musuh alami dan residu pestisida pada tanaman dan lingkungan. Program pengendalian opt secara terpadu (PHT) dan falsafah penggunaan pestisida sebagai alternatif terakhir dan memilih pestisida yang lebih selektif, efektif tetapi kurang persisten, efisien dan aman bagi lingkungan. Selektivitas pestisida dapat diciptakan antara lain dengan perbaikan teknik penyemprotan, yaitu menurunkan volume larutan pestisida yang digunakan.  Flat spray nozzle atau spuyer kipas dapat digunakan untuk menekan volume larutan pestisida yang digunakan minimal 30%, sehingga biaya produksi usahatani dapat ditekan, pendapatan petani dapat ditingkatkan dan kepedulian terhadap lingkungan hidup dapat dipelihara lebih baik.

PENGARUH DOSIS LIMBAH MEDIA TANAM JAMUR TIRAM DAN PUPUK UREA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TOMAT (Lycopersicum esculentum Mill.)

AGRITECH Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.83 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis limbah media tanam jamur tiram dan pupuk urea terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tomat (Lycopersicum esculentum). Penelitian dilaksanakan di lahan pertanian di Desa Semampir, Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara dengan ketinggian  kurang lebih 290 meter di atas permukaan laut dengan jenis tanah latosol.Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 12 kombinasi perlakuan yang masing-masing diulang tiga kali. Faktor yang dicoba adalah 4 taraf dosis limbah media tanam jamur tiram yaitu tanpa diberi dosis limbah media tanam jamur tiram (L0), diberi limbah media tanam jamur tiram 2 ton/ha (L1), diberi limbah media tanam jamur tiram 4 ton/ha (L2) dan diberi limbah media tanam jamur tiram 6 ton/ha (L3) dan 3 dosis pupuk urea yaitu, tanpa diberi pupuk urea (U0), diberi pupuk urea 175 kg/ha (U1) dan diberi pupuk urea 250 kg/ha (U2).Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis limbah media tanam jamur tiram berpengaruh tidak nyata terhadap komponen pertumbuhan vegetatif seperti tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, bobot kering tanaman dan berpengaruh tidak nyata terhadap komponen pertumbuhan generatif yang meliputi : jumlah tandan tiap tanaman, jumlah buah tiap tanaman, berat buah tiap tanaman, berat buah  tiap buah,   dan volume buah. Sedangkan dosis pupuk urea berpengaruh nyata pada jumlah daun dan jumlah cabang dan berpengaruh tidak nyata pada tinggi tanaman dan bobot kering tanaman.. Terhadap pertumbuhan generatif dosis pupuk urea berpengaruh nyata pada  jumlah tandan  tiap tanaman, berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah buah tiap tanaman dan berpengaruh tidak nyata terhadap berat buah tiap tanaman, berat buah tiap buah, volume buah. Berdasarkan analisis data statistik interaksi antara dosis limbah media tanam jamur tiram dan pupuk urea berpengaruh tidak nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tomat.

KAJIAN PENGEMBANGAN BAWANG MERAH PADA LAHAN BERKADAR LIAT TINGGI (VERTISOL) DENGAN PENAMBAHAN PUPUK ORGANIK

AGRITECH Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.065 KB)

Abstract

The aim of this research was to study of onion development at land with high clay content by organic fertilizer aplication.  The research was conducted in Dukuhwaluh village, Kembarang Sub-District, Banyumas District on February until September 2006.  The research was arranged by Randomized Completely Block Design with four replications.  The first factor of treatment was kind of soil (T) consist of Alfisol dan Vertisol soil; the second factor was dosage of organic fertilizer (P) consist of four levels i.e. P0 = without organic fertilizer , P1 = aplicated 5 tons /hectare organic fertilizer, P2 = aplicated 10 tons/hectare organic fertilizer and P3 = aplicated 15 tons/hectare organic fertilizer. Results of the study  showed that there are possibility of using of vertisol soil by organic fertilizer aplication for onion development location.  The dosage of organic fertilizer that can to support onion development was 15 tons/hectare minimal. Using of Alfisol soil with 15 tons/hectare organic fertilizer aplicated can give higher of yield than the treatment other.

SPESIES UNGGUL Trichoderma Spp INDIGENUS RIZOZFIR PISANG SEBAGAI PENGENDALI PENYAKIT LAYU Fussarium PADA BIBIT TANAMAN PISANG MAS HASIL KULTUR IN VITRO

AGRITECH Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.21 KB)

Abstract

This research will be attempts to obtain strain superior Trichoderma that had ability to colonize roots in mas cultivar banana seedlings so that expected can induce resistant plants to the attack fungi Fusarium oxysporum f.sp . the cause of the disease wither in banana crop result in vitro cultures.Research carried out in the Green House Agricultural Faculty, University of  Muhammadiyah  Purwokerto, time or carried out 8 months. A design that is a Random Block Design treatment which were examined consists of 2 factor of treatment that is for biological agent antagonist Trichoderma sp, consisting of 2 species that is Trichorderma harzianum (T1), and Trichorderma viride (T2 processor).  The second treatment is a way to Trichoderma application that consists of two that is, by immersion banana into the suspension Trichoderma (P1) and the sprinkling planting medium to isolate Trichoderma spp (P2).  All organised in factorial with three replications, and each unit treatment uses 10 plants that will use 40 polybags. The result showed that application biological agent Trichoderma (T. Harzianum and T viride) during the research proved an emphasis on the attack disease Fussarium in seed, was shown to the low disease severity attacks. For biologist agenues and biodiversity Trichoderma ( T. Harzianum and T. Viride) which is applied by immersion and the sprinkling can have an influence on the increase of leaves in seeds during the research, and have no effect on than plants and diameter in each stem treatment. However, it is a gift Trichoderma growth able to give a better than without treatment Trichoderma (control) and proved to be able to colonize banana seedlings root is endofit in banana mas seedling result in vitro culture.Keywords: Fusarium, Trichoderma, Biological control Technology

UPAYA PENGEMBANGAN TANAMAN PISANG MAS (Musa paradisiaca L) BEBAS PATOGEN MELALUI METODE KULTUR MERISTEM

AGRITECH Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.891 KB)

Abstract

Pisang mas (Musa paradisiaca L) merupakan salah satu tanaman pisang unggul lokal yang banyak dikembangkan di Kabupaten Banyumas khususnya di Kecamatan Baturraden. Namun petani pisang mas di Kecamatan Baturraden mengalami permasalah dalam hal penyediaan bibit yang berkualitas. Permasalahan tersebut disebabkan masih kurang tersedianya bahan tanam yang berasal dari indukan bebas penyakit busuk Fusarium oxisphorum serta kemampuan anakan yang diperoleh melalui metode konvensional memiliki produksi yang kurang baik akibat produktifitas bibit yang mengalami penurunan. Alternatif  yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan pengadaan bibit pisang bermutu, bebas bibit penyakit  dan berproduksi tinggi  adalah dengan kultur meristem, yaitu kultur dengan menggunakan meristem apikal sebagai eksplan. Kelebihan kultur meristem adalah mampu menghasilkan bibit tanaman bebas virus, penyakit yang disebabkan oleh jamur dan bakteri serta identik dengan induknya.Tujuan  khusus dari penelitian ini adalah Menginduksi dan memperbanyak tunas tanaman pisang mas dari ekplan berupa jaringan meristem pisang serta memperoleh planlet tanaman pisang mas bebas patogen melalui kultur meristem.Penelitian ini menggunakan metode percobaan di laboratorium, dengan menggunakan  beberapa perlakuan diantaranya  induksi tunas, multiplikasi tunas dan induksi akar yang terdiri atas dua faktor yaitu konsentrasi BAP dan NAA. Kombinasi perlakuan untuk induksi tunas yaitu BAP dengan taraf 2,4 dan 6 ppm serta NAA 0,1 ppm; ,  kombinasi perlakuan untuk multiplikasi tunas yaitu BAP dengan taraf 2,4,6 ppm serta NAA  dengan taraf 0,1; 0,2 dan 0,3 ppm dan kombinasi perlakuan untuk induksi akar dengan kombinasi perlakuan NAA dengan taraf 0; 0,1; 0,2; 0,3; 0,4 dan 0,5 ppm dengan tanpa penambahan BAP ( 0 ppm). Semuanya disusun secara faktorial dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan, dan setiap unit perlakuan menggunakan 5 botol kultur.   Pemberian kombinasi NAA dan BAP berpengaruh pada peningkatan keberhasilan perkembangbiakan eksplan tanaman pisang mas dengan metode kultur meristem, diantaranya pada peningkatan kecepatan waktu yang diperlukan untuk induksi tunas, jumlah tunas yang terbentuk dari eksplan jaringan meristem yang digunakan dan peningkatan jumlah tunas yang terbentuk pada berbagai media yang digunakan serta mampu terbentukan akar pada medium induksi akar. Perlakuan BAP 4 ppm yang diberikan pada medium induksi tunas memberikan hasil terbaik hampir pada semua variabel pengamatan diantaranya waktu induksi tunas selama 4.67 minggu, jumlah tunas dari jaringan meristem sebanyak 2,0 tunas. Sedangkan pada medium multiplikasi tunas kombinasi perlakuan NAA dan BAP  yang ditambahkan tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas dan  panjang . Sedangkan untuk jumlah akar terbanyak terdapat pada kombinasi perlakuan NAA 0.4 ppm dan NAA 0,5  ppm yaitu sebanyak 3,2 akar. Dalam penelitian ini penggunaan eksplan meristem pisang mas pada perbanyakan secara in vitro  diperoleh bibit pisang mas  yang bebas patogen , hal ini dapat dilihat dari persentase eksplan yang dapat tumbuh  cukup tinggi yaitu rata-rata diatas 80 %.

Keragaan Tanaman Jagung (Zea Mays L.) Lokal Srowot Banyumas Karena Pengaruh Selfing Pada Generasi F2 Selfing

Proceeding Seminar LPPM UMP Tahun 2014 2014: Proceeding Seminar Hasil Penelitian LPPM 2014, 6 September 2014
Publisher : Proceeding Seminar LPPM UMP Tahun 2014

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.3 KB)

Abstract

Penelitian dengan judul: “Keragaan Tanaman Jagung (Zea Mays L.) Lokal Srowot Banyumas Karena Pengaruh Selfing Pada Generasi F2” bertujuan melihat penampilan progeni F2 selfing varietas jagung lokal Srowot Banyumas. Penelitian dilaksanakan di Lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Purwokerto.  Tempat penelitian terletak pada ketinggian kurang lebih 146 m dpl.  berlangsung selama 8 bulan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal yang terdiri atas 9 genotip dengan empat ulangan. Hasil penelitian diuji dengan uji t (uji progenitas). Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Terjadi depresi tangkar pada generasi F2 varietas lokal Srowot terhadap komponen pertumbuhan vegetatif tanaman, berupa penurunan tinggi tanaman sebesar 25,47 cm (10,47 %). (2) Depresi tangkar terhadap komponen hasil terjadi pada semua komponen hasil yaitu pada jumlah biji per tongkol sebesar 81,45 biji (27,17 %), pada bobot biji per tongkol sebesar 35,99 g  (32,17 %), dan produksi biji kering per tanaman 31, 63 g  (36,86 %) Kata kunci:       keragaan progeni kedua (F2), selfing, varietas jagung lokal srowot banyumas