Articles

STRUKTUR KOMUNITAS IKAN TARGET DI TERUMBU KARANG PULAU HOGOW DAN PUTUS-PUTUS SULAWESI UTARA Rembet, Unstain NWJ; Boer, Mennofatria; Bengen, Dietriech G; Fahrudin, Achmad
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 7, No 2 (2011)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.978 KB)

Abstract

ABSTRACTCommunity structure of target fishes was analyzed to understand their response to different conditions of coral reefs in several places of Hugow and Putus-Putus islands. This study focused on species abundance and diversity including Shannon-Wiener’s species diversity (H’), species richness (SR), species evenness (J’) and dominance (d) indices, respectively. A multivariate analysis was used for the classification or correspondence factorial analyses. The result recorded 4,501 individuals belonging to 52 species of target fishes. Both cluster and correspondence analyses clearly recognized 3 groups of target fish with 2 major controlling factors for the development of these 3 ecological groups, i.e. coral reef conditions and geographic position to the hydrodynamic condition.ABSTRAKStruktur komunitas ikan target dianalisis untuk melihat respon ikan target terhadap perbedaan kondisi terumbu karang di beberapa lokasi Pulau Hogow dan Putus-Putus. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2010 dengan pengambilan data di 6 stasiun. Dalam penelitian ini telah dikaji variabel komunitas seperti kelimpahan dan keanekaragaman spesies termasuk indeks keanekaragaman spesies Shannon-Wiener (H’), indeks kekayaan spesies (SR), indeks kemerataan spesies (J’) dan indeks dominasi (d). Untuk melihat assemblage ikan target dilakukan analisis multivariat baik analisis klasifikasi maupun analisis faktorial koresponden. Dalam penelitian ini diperoleh 4501 indidu yang termasuk dalam 52 spesies ikan target. Analisis multivariat baik analisis cluster maupun analisis koresponden telah memisahkan dengan jelas 3 grup ikan target, dimana terdapat dua faktor utama pengendali pembentukan 3 grup ekologis ini yakni faktor kondisi terumbu karang dan faktor posisi lokasi terhadap kondisi hidrodinamika perairan.
STATUS KEBERLANJUTANPENGELOLAAN TERUMBU KARANG DI PULAU HOGOW DAN PUTUS-PUTUS SULAWESI UTARA Rembet, Unstain NWJ; Boer, Mennofatria; Bengen, Dietriech G; Fahrudin, Achmad
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 7, No 3 (2011)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.019 KB)

Abstract

ABSTRACTA study aimed to examine the status of sustainable management of coral reef in Pulau Hogow and Pulau Putus-Putus in Southeast Minahasa regency, North Sulawesi Province, was conducted in from July to September 2011. Diagnosis on the status of sustainable management of coral reef was presented in a sequence covering the ecological, economic, social, institutional and technological dimensions. In ecological dimension, the attribute of percentage of coral cover provided the largest contribution. In economical dimension, the largest contribution was provided by tourism guide, time used for coral reefs exploitation, dependency on the resource as a source of income and foreign tourists attributes. In social dimension, similar indications shown by the attributes of the number of locations which were potential for exploitation conflicts, level of education and efforts to repair the damage of coral reef ecosystems. On the institutional dimension, the contributions made by all attributes were almost even, with the highest is the tradition/culture and cooperation attributes. Similarly, in the technological dimension the contributions made attributes were almost even, with the highest contributions were from boat technology and technology post-harvest technology attributes. For overall dimensions of sustainability management of coral reefs, a map created in RAPFISH ordinate showed recommendation on the status of the sustainability.Keywords: sustainability, management, coral reef, dimension.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menelaah status keberlanjutan pengelolaan te-rumbu karang di Pulau Hogow dan Putus-Putus Kabupaten Minahasa Tenggara Provinsi Sulawesi Utara, dilakukan pada bulan Juli-September 2011. Diagnosis status keberlanjutan pengelolaan terumbu karang dikemukakan secara berurutan mencakup dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial, dimensi kelembagaan dan dimensi teknologi. Dalam dimensi ekologi atribut persentase penutupan karang memberikan kontribusi terbesar. Untuk dimensi ekonomi kontribusi terbesar diberikan atribut pe-mandu wisata, waktu yang digunakan untuk pemanfaatan terumbu karang, ketergan-tungan kepada sumberdaya sebagai sumber nafkah dan wisatawan mancanegara. Di-mensi sosial indikasi serupa ditunjukkan oleh atribut-atribut jumlah lokasi potensi kon-flik pemanfaatan, tingkat pendidikan dan upaya perbaikan kerusakan ekosistem terum-bu karang. Pada dimensi kelembagaan kontribusi yang diberikan atribut-atribut merata, tetapi yang tertinggi adalah tradisi/budaya dan koperasi. Demikian juga pada dimensi teknologi, kontribusi yang diberikan atribut-atribut merata, dengan kontribusi tertinggi adalah atribut teknologi perahu dan teknologi pasca panen. Untuk semua dimensi keberlanjutan pengelolaan terumbu karang, hasil pemetaan yang dilakukan dalam ordinasi RAPFISH menunjukkan status keberlanjutan yang baik untuk dilakukan.Kata kunci: keberlanjutan, pengelolaan, terumbu karang, dimensi.
Indeks Kerentanan Pulau-Pulau Kecil : Kasus Pulau Barrang Lompo-Makasar Tahir, Amiruddin; Boer, Mennofatria; Susilo, Setyo Budi; Jaya, Indra
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia adalah negara kepulauan yang diperkirakan akan mengalami ancaman dampak pemanasan global dan kenaikan muka laut.  Pemanasan global juga akan meningkatkan kerentanan pulau-pulau kecil.  Kajian kerentanan pulau-pulau kecil merupakan bagian dari pengelolaan pulau-pulau kecil berkelanjutan.  Penelitian ini bertujuan untuk menghitung serta memproyeksikan kerentanan pulau-pulau kecil,  dan menyusun strategi adaptasi pulau-pulau kecil.  Penelitian dilakukan di Pulau Barrang Lompo-Makasar pada Bulan Nopember 2009. Prinsip dasar analisis data adalah mentransformasikan data lapang (kuantitatif dan kualitatif) ke dalam nilai skor untuk menghitung indeks kerentanan pulau. Indeks kerentanan Pulau Barrang Lompo adalah 8,33 (kategori sedang) dengan perubahan parameter kenaikan muka laut dan perendaman pada 2 tahun ke depan.  Elevasi dan kemiringan Pulau Barrang Lompo sangat rendah, dan pada tahun 2100 diperkirakan lebih dari 80 % daratan pulau ini terendam.  Strategi adaptasi yang diusulkan adalah pengembangan konservasi laut sekitar 50 % dari habitat pesisir, pembangunan bangunan pelindung pantai dan relokasi pemukiman penduduk. Kata kunci: pulau-pulau kecil, kerentanan, indeks.  Indonesia consist of many islands, especially small islands. Small islands are vulnerable to the impact of global warming and sea level rise. Small islands vulnerability assessment is part of the sustainability small island management.  The research aims to formulate the small islands vulnerability index, to simulate and to predict the vulnerability dynamic of small islands, to develop adaptation strategies of small islands. The research conducted on Barrang Lompo Island located in Makasar on Nopember 2009.  Data collection through observation, measurement, and depth interview.  The principle of data analysis is by means of transformation of quantitative and qualitative data into scoring value to produce the small island vulnerability index.  The results showed that vulnerability index for Barrang Lompo Island is 8.33 (moderate), coastal inundation until 2100 reach 80 % of the land area.  The suggested adaptation strategies are conservation of 50 % of coastal habitat, sea wall construction and resettlement. Key words: Small island, vulnerability, index.  
Participatory Prospective Analysis in Coastal Zone Management of Lampung Bay Damai, A. Aman; Boer, Mennofatria; ., Marimin; Damar, Aria; Rustiadi, Ernan
Forum Pasca Sarjana Vol 34, No 4 (2011): Forum Pascasarjana
Publisher : Forum Pasca Sarjana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

In order to achieve planning consensus, involvement of stakeholders in coastal zone management, have to be concerned.   The participatory prospective analysis (PPA) is a comprehensive and quickly operational framework designed to fulfill the demand for a well-structured effort of anticipation and exploration, that also focuses on interactions and consensus building among stakeholders. PPA was carried out through an expert meeting for coastal zone management planning, as a part of developing system of coastal zone spatial planning, in Lampung Bay. The PPA was aimed to involve stakeholders to generate identification and definition of key variables, definition of the states of variables in the future, building scenarios, and formulation of strategic implications and anticipated actions for coastal zone management. A number of 27 participants from various representative backgrounds, i.e.: local government, fisherman and aqua culturist, local people and entrepreneurs, and local university, was involved in experts meeting. As a result was obtained 6 variables that have the largest influence in coastal zone management of Lampung Bay, they are: quality of human resource, law enforcement, population growth, regional infrastructure, local economic activities, and regional zoning. Consensually, participants was  invented strategic implications and anticipated actions, that have to be accommodated in  coastal zone  management, they are: (1) accomplish requirement of infrastructure and facilities of health and education; (2) develop of micro, small, and medium business (MSMB)  centers  that associated with marine and fisheries; (3) accomplish requirement of housing that comprise proper infrastructure and sanitation facilities; (4) assembly synergy on spatial arrangement among cities  and regencies; (5) assembly spatial arrangement which able to drive development of MSMB in coastal zone; (6) assembly spatial arrangement which able to drive proportional distribution of population in coastal zone, and also proportionally secure the management of conservation and production areas.  Finally, it is concluded that: (1) the PPA could accomplish  direct interactions among  stakeholders intensively and generate consensus opinions; (2) the PPA could be a platform for stakeholders involvement in order to  establish keys variable of planning, define  future states of variables, scenarios building, and strategic implications and anticipated actions for integrated planning of coastal zone of Lampung Bay; (3) stakeholders involvement is the key of  simplification  of policies formulation for  integrated planning of coastal zone of Lampung Bay, in which various of interest could be accommodated.   Key words:  participatory prospective analysis, stakeholders, consensus, coastal zone management, Lampung Bay
Analysis of Feasibility and Carrying Capacity of Marine Fishery Tourism Governance in Spermonde Islands of Pangkajene and Islands Regency Kasnir, Muhammad; Fahrudin, Achmad; Bengen, Dietriech G.; Boer, Mennofatria
Forum Pasca Sarjana Vol 32, No 4 (2009): Forum Pascasarjana
Publisher : Forum Pasca Sarjana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Diverse activities in Spermonde Islands cause serious damage of coral reef and seagrass ecosystem.  This research is aimed to assess appropriateness and carrying capacity of gavernance of marine fishery tourism in Spermonde Islands.  The research was conducted from March to July 2008 in several islands within Spermonde Archipelago i.e. Sapuli, Satando, Saugi, Cambang-Cambang, Salemo, Sakoala, Sabangko, Sagara, Sabutung and Gusung Torajae.  The research stations were determined based on result of satellite images.  Date collected were water quality, interview data, and secondary data.  Analysis method of ecosystem condition used line intercept transects, environmental characteristics used principal component analysis, relationship between environmental characteristics and ecosystem potency applied correspondence analysis. feasibility analysis was continued with analysis of carrying capacity.  Results of the research showed that condition of live coral and seagrass were categorized as bad to good.  Based on feasibility analysis, it is known that carrying capacity of floating fish cage is 380 units, seaweed culture is 326 units, scuba diving tourism is 41.58 people/day, snorkeling is 17.82 people/day, coastal tourism is 11.754 people/day, and potency of coral fish is 71.21 tones/year   Keywords: potency, carrying capacity, Spermonde Islands
The Application of Carrying Capacity Concept for Sustainable Development in Small Island (Case Study Kaledupa Islands, Distict Wakatobi) Rasman Manafi, Muh.; Fahrudin, Achmad; G. Bengen, Dietriech; Boer, Mennofatria
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 16, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

The Challenge for small islands planners and managers in Indonesia right now is to develop resources and environment service of small islands for the maximum benefit and, at the same time, to maintain the sustainable capacity of ecosystems (meaning does not exceed the carrying capacity of the ecosystems). This paper applied carrying capacity concept for sustainable development of small islands. To determine carrying capacity of utility space of small islands through two aspects: (1) freshwater, and (2) spaces. Analysis result of carrying capacity for directing utility land area (settlements and agricultures), the freshwater aspects would be fullness, if annual absorption to rainy stayed at 50%. The space area of aquatic which could be utilized for marine culture, shore and marine ecotourism there were around 70%. It was 30% recommended for marine protected zone.Keywords: sustainable development, small islands, carrying capacity .
MODEL SURSHING: MODEL HYBRID ANTARA MODEL PRODUKSI SURPLUS DAN MODEL CUSHING DALAM PENDUGAAN STOK IKAN (STUDI KASUS: PERIKANAN LEMURU DI SELAT BALI) Tinungki, Georgina M.; Boer, Mennofatria; Monintja, Daniel R.; Widodo, Johanes; Fauzi, Akhmad
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 11, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Kajian terhadap pendugaan stok ikan, khususnya perikanan lemuru di Selat Bali, telah banyak dilakukan oleh para peneliti melalui penggunaan model poduksi surplus. Dalam penelitian ini dilakukan penggabungan antara model produksi surplus dan model Cushing atau disebut model Surshing yang digunakan untuk menduga stok ikan lemuru di Selat Bali. Adapun hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa model Surshing lebih memuaskan dalam menduga stok ikan lemuru di Selat Bali, terlihat dari tampilan indikator statistiknya.Kata Kunci: model Cushing, model hybrid, model produksi surplus, pendugaan stok ikan.
EVALUASI PENEBARAN UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) DI WADUK DARMA, JAWA BARAT Tjahjo, Didik Wahju Hendro; Boer, Mennofatria; Affandi, Ridwan; Muchsin, Ismudi; Soedarma, Dedi
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 11, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Evaluasi keberhasilan penebaran udang galah (Macrobrachium rosenbergii) di Waduk Darma yang memiliki luas genangan 400 ha telah dilaksanakan berdasarkan penebaran dari April 2002 sampai Maret 2003. Udang galah yang ditangkap dengan jaring lempar mencapai 57 - 624 ind/bulan atau sama dengan 1.3 - 35.0 kg/bulan. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan penarikan contoh acak berlapis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas perairan di Waduk Darma baik fisika maupun kimia mendukung pertumbuhan udang galah. Pada kondisi tersebut laju pertumbuhan udang galah cukup tinggi dengan koefisien pertumbuhan K antara 0.88 - 1.59 dan L∞ sama dengan 36.2 cm untuk jantan, K antara 0.87 - 1.55 dan L∞ sama dengan 25.9 cm untuk betina. Kondisi makanan yang tersedia cukup untuk pertumbuhan. Interaksi dengan komunitas ikan lainnya relatif rendah. Keberhasilan penebaran mencapai 10.5% dengan laju eksploitasi antara 0.06 sampai 0.80.Kata kunci: Macrobrachium rosenbergii, penebaran, pertumbuhan, penangkapan, waduk.
AFINITAS SPESIES PADA KOMUNITAS ENDOPSAMMON DI ZONE INTERTIDAL DALAM KAWASAN TAMAN NASIONAL BALI BARAT Bagus Jelantik Swasta, Ida; Soedharma, Dedi; Boer, Mennofatria; Wardiatno, Yusli
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 13, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Sebagai benthos hewani yang berukuran kecil dan menghuni ruang-ruang interstisial, endopsammon memiliki peranan ekologis yang amat penting dalam ekosistem laut. Karena itu, mengkaji aspek ekologi endopsammon sangat menarik. Afinitas spesies merupakan salah satu aspek ekologi yang amat penting untuk dipelajari. Dua aspek afinitas spesies yang sangat penting untuk dikaji adalah tumpang tindih relung dan asosiasi spesies khususnya dalam kaitannya dengan tingkat kekerabatan spesies dalam komunitas endopsammon.Dua tujuan yang ingin dicapai penelitian ini adalah: 1) untuk mengetahui secara pasti apakah tumpang tindih relung dan asosiasi spesies terjadi dalam komunitas endopsammon dan 2) untuk mengetahui secara pasti apakah tingkat tumpang tindih relung dan tingkat asosiasi spesies dipengaruhi oleh tingkat kekerabatan di antara spesies endopsammon. Beberapa lokasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pantai Teluk Terima, pantai Labuhan Lalang, dan pantai Teluk Banyuwedang yang berada dalam kawasan Taman Nasional BaliBarat. Di semua lokasi ini dibuat 25 stasiun penelitian, dan di setiap stasiun contoh substrat diambil pada tiga tingkat kedalaman yaitu 0-5 cm, 5-10 cm, dan 10-15 cm. Contoh substrat diambil dengan menggunakan core, sedangkan ekstraksi contoh dilakukan dengan metode Uhlig, metode pembasuhan dan metode pengapungan. Spesimen yang didapat diawetkan dengan menggunakan larutan formalin 10 %, dan diwarnai dengan larutan Rose Bengal. Pengamatan dan identifikasi specimen dilakukan dengan menggunakan mikroskop. Data yang didapat dianalisis dengan pendekatan statistik. Beberapa hasil dari penelitian ini adalah: 1) secara umum, diantara spesies endopsammon terjadi tumpang tindih relung dan asosiasi, dan 2) tingkat tumpang tindih relung dan tingkat asosiasi spesies dipengaruhi oleh tingkat kekerabatan diantara spesies endopsammon.Kata kunci: endopsammon, tumpang tindih relung, asosiasi spesies.
MODEL SEA RANCHING IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus Fuscoguttatus) DI PERAIRAN SEMAK DAUN, KEPULAUAN SERIBU ((Sea Ranching Model of Brown-Marbled Grouper (Epinephelus Fuscoguttatus) in Semak Daun Island, Seribu Islands)) Kurnia, Rahmat; Suwardi, Kadarwan; Muchsin, Ismudi; Boer, Mennofatria
Jurnal Marine Fisheries Vol 4, No 1 (2013): Marine Fisheries
Publisher : Jurnal Marine Fisheries

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.23 KB)

Abstract

Sea ranching merupakan pelepasan ikan ke laut untuk ditangkap setelah mencapai ukuran konsumsi. Sea ranching biasanya diterapkan ketika rekrutmen alami rendah atau bahkan tidak ada dikarenakan sangat intensifnya penangkapan atau rusaknya habitat yang mendukung hal tersebut. Penelitian ini mengkaji daya dukung berdasarkan produktivitas primer. Selain itu juga mengkaji model restocking dalam sistem sea ranching.  Kajian ini menemukan bahwa perairan Semak Daun sudah mengalami tangkap lebih rekrutmen (recruitment overfishing).  Untuk itu perlu dilakukan restocking dengan sistem sea ranching. Daya dukung perairan bagi ikan kerapu macan, yaitu antara 0,703-1,06 ton/th dengan rata-rata 0,88 ton/th. Tebar sebaiknya diterapkan setiap bulan dan penangkapan pun dilakukan setiap hari sepanjang bulan. Pola tebar yang optimal adalah panjang benih 11 cm dengan  padat tebar 14.000 ekor pada mortalitas tangkapan 0,5 atau panjang benih 13 cm dengan padat tebar 13000 pada mortalitas tangkapan 0,4. Kata kunci: daya dukung, Epinephelus fuscoguttatus,restocking, sea ranching
Co-Authors . Khairunnisa, . . Theresia, . . Yonvitner, . . Zairion ., Desniarti A. Aman Damai Abubakar, Salma Achmad Fahrudin ACHMAD FARAJALLAH Airlangga, Angga Akhmad Fauzi Akmal, Surya Genta Ali Mashar Ali Suman Amiruddin Tahir Andi Irwan Nur, Andi Irwan Andin H Taryoto, Andin ANI MARDIASTUTI Ardelia, Vera Aria Damar Ario Damar Awal Subandar, Awal Daniel R Monintja, Daniel Daniel R. Monintja Dedi Soedarma DEDI SOEDHARMA Dewayani Sutrisno Didik Wahju Hendro Tjahjo Dietriech G Bengen Dietriech G. Bengen Dietriech G. Bengen Edy Supriyono Efin Muttaqin, Efin Ernan Rustiadi Ernawati, Tri Ernik Yuliana Eviasta, Inggrid Wahyuni Faiza, Riana Fredinan Yulianda Georgina M. Tinungki H Eidman, H Haeruddin . Harpasis S . Sanusi, Harpasis Hasibuan, Julia Syahriani Hermawan, David I Made Dwi Ismawan, I I Nyoman Suyasa, I Nyoman I Wayan Nurjaya Ida Bagus Jelantik Swasta Indra ., Indra Indra Jaya Isdradjad Setyobudiandi Islamiati, Zenty Ismudi Muchsin Jabbar, Meuthia Aula Johanes Widodo John Haluan Kadarwan Soewardi Kadarwan Suwardi Kardiyo Praptokardiyo Kartini, Nidya Kiagus Abdul Aziz, Kiagus Luky Adrianto M Mukhlis Kamal, M Mukhlis M. Mukhlis Kamal, M. Mukhlis Marimin . Martini Djamhur, Martini Mohammad Mukhlis Kamal Muarif, Muarif Muh. Rasman Manafi Muhammad Kasnir Muliawan, Irwan N . Wiadnyana, Ngurah najmi, nurul Niken T.M Pratiwi, Niken T.M Nurlisa A Butet, Nurlisa A Nurlisa A. Butet Nurul Khakhim Oktaviyani, Selvi Oktaviyani, Selvia Omega Raya Simarangkir, Omega Raya Parwinia ., Parwinia Prahadina, Viska Donita Prapto Kardiyo, Kardiyo Puspita, Riska R . Monintja, Daniel Rahmat Kurnia Ridwan Affandi Rokhmin Dahuri Sadewi, Sapda Putri Sarasati, Wulandari Setyo Budi Susilo Sharfina, Maizan SIGID HARIYADI Simarmata, Rodearni Sudirman Adibrata, Sudirman Sugeng Budiharsono Sulistiono Sulistiono Suradi Wijaya Saputra Sutrisno Sukimin Suwandi, Kadarwan Tridoyo Kusumastanto Tuli, Munirah Unstain NWJ Rembet Vincentius P. Siregar Wahyudin, Iman Yon Vitner, Yon Yonvitner . Yonvitner Yonvitner Yunizar Ernawati Yusli Wardianto Yusli Wardiatno Zairion, Zairion