Satria Bijaksana
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

IDENTIFIKASI MINERAL MAGNETIK PADA TINTA KERING (TONER)

EKSAKTA Vol 2 (2010)
Publisher : FMIPA UNP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.675 KB)

Abstract

Magnetite (Fe3O4) is one of the most important magnetic mineral for scientific and industrial purpose. The magnetic characterization from each mineral is depend on the  grain size. In this research, we have done a series of analysis to identify the presence of magnetite as Pigment or filler in industrial materials, this industrial materials were the toner from cartridge of Canon photocopy Type NP-1010 and Laser Printer’s of Hewlett Packard Type C3906F. We have done some characterization, the magnetic characterization and non-magnetic characterization.  In magnetic method, we measure anisotropy magnetic susceptibility (AMS), anisotropy of anhysteric susceptibility (AAS) and isothermal remanent magnetization (IRM). In non-magnetic method, we use scanning electron microscopy (SEM). The result of this analyze showed that the two materials contain of magnetite mineral with the grain size smaller than 0,1µm for toner from printer laser and 0,1µm - 0,2µm for toner from Canon photocopy. The results from SEM method showed the presence of iron oxide that we predicted as magnetite. The role of magnetite as pigment is fairly obvious provides the coloring (black, in a monochrome printer) that fills in the text and images, this pigment is blended into other material that is domination of carbon.   Keywords: magnetization, magnetic method, SEM, toner

SINTESIS NANOPARTIKEL MAGNETIT,MAGHEMIT DAN HEMATIT DARI BAHAN LOKAL

Jurnal Sains Materi Indonesia Edisi Khusus Oktober 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Material - National Nuclear Energy Agency of

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SINTESIS NANOPARTIKEL MAGNETIT,MAGHEMIT DAN HEMATIT DARI BAHAN LOKAL. Mineral oksida besi ditemukan pada beberapa bahan lokal, di antaranya mill scale sebagai produk sisa pembuatan baja serta bahan alam pasir besi. Kedua bahan tersebut keberadaannya sangat melimpah dan hingga kini belum termanfaatkan secara optimal. Dalam penelitian ini dikaji sintesis nano partikel bahan oksida besi berupa magnetit (Fe3O4), maghemit (γ-Fe2O3) dan hematit (α-Fe2O3). Proses sintesis dilakukan dengan metode presipitasi basa. Untuk pembuatan precursor digunakan asam klorida (HCl), sedangkan untuk presipitasi digunakan larutan amoniak (NH4OH). Serbuk endapan hasil presipitasi diidentifikasi dengan metode XRD dan ukurannya dikarakterisasimelalui pengukuran magnetik. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa endapan tersebut teridentifikasi sebagai magnetit dengan bulir-bulir magnetik berdomain tunggal (berukuran orde nano). Maghemit diperoleh melalui oksidasi serbuk endapan tersebut pada suhu 300 °C dan hematit diperoleh melalui oksidasi pada suhu 800 °C.

PRODUKSI HEMATIT (α-Fe2O3) DARI PASIR BESI: PEMANFAATAN POTENSI ALAM SEBAGAI BAHAN INDUSTRI BERBASIS SIFAT KEMAGNETAN

Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 5, No 1: Oktober 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Material - National Nuclear Energy Agency of

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PRODUKSI HEMATIT (α-Fe2O3) DARI PASIR BESI: PEMANFAATAN POTENSI ALAM SEBAGAI BAHAN INDUSTRI BERBASIS SIFAT KEMAGNETAN. Dalam rangka meningkatkan nilai ekonomis pasir besi, kami telah melakukan pengolahan mineral magnetit (Fe3O4) yang diambil dari pasir besi menjadi mineral hematit (α-Fe2O3) melalui proses oksidasi. Mineral magnetit dipisahkan dari pasir besi yang diambil dari suatu lokasi di pesisir utara Jawa Tengah melalui proses ekstraksi, penghalusan dan pemisahan sehingga diperoleh dengan kemurnian yang tinggi. Magnetit yang dimurnikan tersebut kemudian dioksidasi pada suhu 500°C, 600°C dan 700°C, masing-masing selama 15 jam. Hasil oksidasi mempunyai penampakan fisika yang berbeda dan nilai susceptibility magnetik yang lebih kecil dibanding mineral magnetit asalnya. Semakin tinggi suhu oksidasi semakin mirip warnanya dengan diperoleh dengan mineral hematit yang dihasilkan oleh industri. Nilai susceptibility magnetik juga menurun dengan semakin tingginya suhu oksidasi. Analisis fotomineralogi menunjukkan bahwa kandungan hematit meningkat dari ll% pada suhu oksidasi 500°C, menjadi sekitar 99% pada 700°C. Analisis dengan metode difraksi sinar-X memperlihatkan bahwa puncak-puncak intensitas magnetit yang semula mendominasi pada bahan awal secara bertahap diganti dengan puncak-puncak hematit pada sampel-sampel hasil oksidasi

PENGUKURAN ANISOTROPI MAGNETIK SUSCEPTIBILITY BATUAN VULKANIK GUNUNG MERAPI DI JAWA TENGAH

Jurnal Sains Materi Indonesia VOL 3, NO 2: FEBRUARI 2002
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Material - National Nuclear Energy Agency of

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGUKURAN ANISOTROPI MAGNETIK SUSCEPTIBILITY BATUAN VULKANIK GUNUNG MERAPI DI JAWA TENGAH. Anisotropy Magnetic Susceptibility (AMS) adalah gambaran perbedaan harga susceptibility magnetik pada suatu sampel yang bergantung pada arah atau orientasi medan yang mempengaruhinya. Dua puluh dua sampel dari empat daerah gunung merapi, di Jawa Tengah telah diukur anisotropi susceptibility magnetiknya dengan menggunakan MSZ Bartington. Kedua puluh dua sampel tersebut menunujukkan susceptibility yang tinggi sampai dengan 8037,5 x 10-5 (SI unit). Sebelas sampel sangat anisotropik (dengan derajat anisotropi mencapai 16%). Sampel lainnya memiliki derajat anisotropi kurang dari 6% (dari daerah pasar bubar, Kali Kuning, Kali Gendong, Kali Gendol Utara), hal ini menunjukkan bahwa sebagian sampel dapat digunakan dalam paleomagnetik.

FABRIKASI DAN KARAKTERISASI MAGNET KOMPOSIT BARIUM HEKSAFERIT DENGAN BINDER SEMEN PORTLAND

Jurnal Sains Materi Indonesia Edisi Khusus Oktober 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Material - National Nuclear Energy Agency of

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

FABRIKASI DAN KARAKTERISASI MAGNET KOMPOSIT BARIUM HEKSAFERIT DENGAN BINDER SEMEN PORTLAND. Pembuatan dan karakterisasi magnet komposit telah dilakukan dengan menggunakan serbuk bahan magnet barium heksaferit (BaO.6Fe2O3) serta bahan pengikat berupa semen portland. Campuran serbuk magnet dan semen portland dibuat dengan porsi serbukmagnet sebesar 86%, 88%, 90%dan 92%. Pencetakan magnet komposit dilakukan dengan teknik cetak dingin (tanpa pemanasan) dengan tambahan bahan perekat berupa larutan Poly Vinyl Alcohol (PVA). Setelah kering dan dihaluskan permukaannya, magnet komposit selanjutnya diuji sifat kemagnetan dan sifat mekaniknya (kuat tekan). Berdasarkan hasil pengukuran dengan permagraph, diketahui bahwa sifat magnetik yang terbaik diperoleh pada komposisi serbuk magnetik sebanyak 90% dengan nilai induksi remanen (Br) sebesar 0,655 kG, medan koersiv (Hc) = 0,553 kOe, dan produk energi maksimum (BH)maks : 95 kGOe. Sementara itu dari hasil uji kuat tekan dengan alat California Bearing Ratio diperoleh sifat mekanik yang terbaik pada komposisi sengan porsi serbuk magnet sebanyak 92 % dengan nilai kuat tekan sebesar 22,152 kg/cm2. Magnet komposit yang dihasilkan dapat menempel pada permukaan logam besi dan dapat digunakan sebagai aksesoris.

PENGUKURAN STABILITAS NATURAL REMANENT MAGNETIZATION (NRM) BATUAN VULKANIK GUNUNG MERAPI DI JAWA TENGAH

Jurnal Sains Materi Indonesia VOL 3, NO 2: FEBRUARI 2002
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Material - National Nuclear Energy Agency of

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGUKURAN STABILITAS NATURAL REMANENT MAGNETIZATION (NRM) BATUAN VULKANIK GUNUNG MERAPI DI JAWA TENGAH. Telah dilakukan kajian kemagnetan batuan pada daerah sekitar puncak Gunung Merapi. Penelitian ini berupa uji kestabilan Natural Remanent Magnetization (NRM) yang menggunakan l6 specimen yang diambil dari Pasar Bubar, Kali Gendol dan Kali Gendong. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran intensitas dan arah NRM,dan proses demagnetisasi dengan menggunakan metoda Alternating Field Demagnetization. Hasil Pengukuran menunjukkan bahwa Pasar Bubar mempunyai intensitas rata-rata 2255,468 mA/meter dengan range deklinasi 32,8° - 6,5° dan inklinasinya -37,4° - 3,9°, Kali Gendol mempunyai intensitas rata-rata 2469,387 mA/meter dengan range deklinasi 356,1°- 11° dan inklinasinya -4,9°  - -0,1°, dan Kali Gendong mempunyai intensitas rata-rata 4139,062 mA/meter dengan range deklinasi 62,1° - 125,4° dan inkinasinya -0,8°- 35,2°. Uji kestabilan NRM ini melalui kurva intensitas, Plot stereonet, diagram Zijderveld dan Analisis Komponen Utama (MAD). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sampel Kali Gendol cukup stabil dan memenuhi syarat untuk digunakan dalam studi Paleomagnetik.

MENENTUKAN NILAI SUSCEPTIBILITY BATUAN BEKU PULAU JAWA

Jurnal Sains Materi Indonesia VOL 3, NO 2: FEBRUARI 2002
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Material - National Nuclear Energy Agency of

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

MENENTUKAN NILAI SUSCEPTIBILITY BATUAN BEKU PULAU JAWA. Telah dilakukan sebuah penelitian tentang kerentanan magnetik yang lebih dikenal degan susceptibility pada beberapa material alam khusus pada batuan beku lava dan intrusi yang bertujuan untuk mengetahui kandungan mineral magnetiknya. Metoda yang digunakan adalah separasi magnetik sederhana yaitu memisahkan material yang mengandung magnetik tinggi dengan magnetik rendah. Disamping itu dilakukan pengukuran susceptibility, intensitas magnetik dan difraksi sinar-x. Hasil penelitian menunjukkan tiap material mempunyai mineral magnetik walaupun kadarnya berbeda- beda. Batuan lava lebih banyak mengandung mineral magnetik dibandingkan dengan batuan intrusi.